Alert:
Masih sama, mungkin penuh dengan typo. Anda membaca? Reviewnya ya...
KNIGHT SELANJUTNYA
~27 Desember XXXX~
.
.
"Selamat nyonya Kamine, anak anda perempuan," riang seorang suster sambil menggendong bayi merah yang baru dilahirkan. Wanita yang baru melahirkan tersbut terlihat lelah, tapi ia sangat bahagia.
"Bolehkah...saya memeluknya," pinta wanita berambut blonde tersebut.
"Tentu saja, tapi setelah kami memandikan bayi ini, 15 menit lagi dan anda akan memeluknya," ujar suster berpakaian putih dengan riang sambil membawa bayi perempuan itu keluar ruangan.
Seorang pria berambut blonde memasuki ruang persalinan dengan wajah bahagia, ia langsung menghampiri wanita tersebut.
"Lily, kau baik-baik saja kan?" tanya sang pria dengan lemas, tetapi langsung lega setelah mendapat anggukan dari istrinya.
"Anak perempuan kita...," ujar Lily lemah.
Wajah pria itu sangat bahagia, matanya berlinang, "anak perempuan kita...," ulang pria itu dengan gembira.
Tak lama kemudian, suster yang sama kembali sambil membawa bayi perempuan yang baru dilahirkan. Selimut berwarna merah muda lembut menghangatkan bayi lemah tersebut.
"Anda sangat bahagia Tuan dan Nyonya Kamine, bayi perempuan anda dilahirkan pada waktu yang berdekatan dengan monster Bahamut dikalahkan. Bayi perempuan ini akan hidup penuh dengan cinta dan kedamaian dunia," ujar suster tersebut dengan riang. Dengan perlahan, suster itu menyerahkan bayi perempuan mungil itu ke dalam pelukan Lily.
Pasangan Kamine memandangi dengan takjub putri mungil mereka. Suster tersebut menghilang tak lama kemudian untuk memberi waktu luang bagi keluarga bahagia itu.
"Kau tahu Lily, dalam perjalananku ke sini, tak pernah aku melihat hari ini begitu indah. Mendengar kau ada di rumah sakit, aku langsung berlari ke sini. Aku begitu panik dan khawatir. Anehnya seakan alam menghiburku, bunga bermekaran dan cahaya bulan begitu indah, membuatku yakin bahwa engkau dan anak kita akan baik-baik saja," ujar suami yang berbahagia tersebut.
Lily mendengarkan penjelasan suaminya dengan mata berbinar, tapi tiba-tiba wajahnya berubah muram.
"Ada apa Lily? Kau merasa sakit? Perlu kupanggilkan dokter?" panik suaminya. Lily hanya menggeleng.
"Aku...bermimpi aneh, Leon," bisik Lily khawatir.
"Kau bermimpi apa?" tanya Leon dengan hati-hati. Lily memandangi wajah teduh Leon, berusaha mencari kekuatan untuk menceritakan mimpinya.
"Selama sebulan sebelum melahirkan aku selalu bermimpi aneh," aku Lily, Leon terkejut.
"Kau tidak pernah menceritakannya padaku," Leon berteriak terkejut.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas," Lily berbisik sambil menggendong putri mereka yang tertidur lelap.
"Baiklah, apa mimpimu?" kejar Leon.
"Aku...bertemu...dengan...Hatsune Miku-sama," aku Lily dengan tidak yakin.
"Hatsune Miku-sama? Sang High Summoner itu?" ujar Leon dengan nada bingung. Lily hanya mengangguk.
"Miku-sama datang kepadaku sambil menggendong putri kita. Ia berpesan kepadaku untuk menjaga putri kita baik-baik," cerita Lily.
"Tapi tentu saja kita akan menjaga putri kita baik-baik," gumam Leon dengan tegas. Pria itu bingung dengan maksud mimpi tersebut. Lily hanya menggeleng.
"Aku juga tidak mengerti," gumam Lily sambil memeluk putrinya erat.
Leon menghela napas.
"Jangan khawatir, tanpa mimpi itu, kita tentu saja akan melindungi putri kecil kita dengan baik," ujar Leon meyakinkan.
"Lagipula kau juga harusnya merasa senang, Miku-sama bahkan berbahagia dengan kelahiran putri kecil kita," lanjut Leon menenangkan istrinya. Lily hanya bisa tersenyum lembut mendengar ucapan suaminya.
"Baiklah..," teriak Leon bersemangat, berusaha memperbaiki mood. Lily hanya terkikik dengan tingkah suaminya.
"Kita namakan siapa putri kecil kita?" tanya Leon bersemangat.
Lily termenung sesat sebelum akhirnya berbicara,
"Bagaimana kalau Rin?"
~000~
~16 Tahun kemudian~
Seorang pemuda berambut teal berdiri di depan sebuah gerbang bertuliskan,
YAMAHA HIGH SCHOOL
Sebuah sekolah swasta terkenal bagi anak laki-laki. Sekolah tingkat nasional yang memiliki murid-murid jenius baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
Waktu sudah sore dan sekarang adalah saatnya pulang. Murid-murid pria berjalan keluar dari gerbang sekolah sambil berbisik-bisik membicarakan pemuda berambut teal tersebut. Pedang besar yang diletakkan di belakang punggungnya telah menjadi sumber pembicaraan para siswa pria sekolah itu.
Pemuda itu menutup matanya, berusaha berkonsentrasi pada sesuatu. Tak lama kemudian ia meraih pedang yang ada di punggungnya dan berlari secepat kilat. Para siswa merasa heboh, karena pria itu tiba-tiba saja menghilang secepat kilat.
Pemuda teal itu terus berlari, berlari, dan berlari hingga ia menemukan apa yang dicarinya. Matanya menangkap sosok pemuda berambut honey blonde dan bermata sapphire yang sedang berjalan santai menenteng tas sekolahnya. Tanpa peringatan, dengan secepat kilat pemuda teal itu mengayunkan pedangnya, berusaha menebas pemuda itu.
TRAKKK!
Sebuah bunyi besi yang keras dan memekakan telinga terdengar. Pemuda berambut teal tersebut hanya tersenyum. Pasalnya, pemuda honey blonde itu telah menahan serangannya dengan sebuah pedang yang muncul entah dari mana. Pemuda teal itu melompat mundur, masih memposisikan pedangnay untuk menyerang. Pemuda honey blonde itu juga memasang kuda-kuda bertahan dan pedang yang siap untuk menyambut serangan lawan.
Suasana menjadi tegang, para siswa dan guru-guru yang ada di sekolah tersebut hanya bisa terdiam. Atmosfer yang terasa begitu menegangkan, membuat semua orang yang ada di sana tidak berani bergerak apalagi bersuara.
"Siapa kau?" ujar pemuda bermata sapphire itu.
Pemuda berambut teal itu hanya tersenyum dan kembali menyarungkan pedangnya di punggungnya. Akan tetapi, pemuda honey blonde itu tidak langsung menurunkan pedangnya.
"Namaku Mikuo, Hatsune Mikuo," ujarnya memperkenalkan diri.
Sesaat genggaman pedang pemuda honey blonde itu melemah, tampak kaget dan tak percaya.
"Hatsune Mikuo? Apakah anda benar-benar-" ucapan pemuda itu terpotong.
"Benar, aku Hatsune Mikuo yang itu, sang Knight bagi The High Summoner yang sebelumnya," jelasnya dengan nada jelas bahwa satu ditambah satu sama dengan dua.
Pemuda blonde itu merasa gugup dan perlahan melemahkan genggaman pedangnya. Ia mendirikan pedangnya di tanah dan berlutut sambil bersender pada pedang itu, tanda penghormatan.
"Apa yang dilakukan Knight Hatsune Mikuo di tempat seperti ini?" gugup pemuda itu.
Mikuo memperhatikan pemuda yang berlutut itu dengan pandangan saksama,
"Saatnya kau melaksanakan tugasmu, Kagamine Len," perintah Mikuo.
~000~
"Mikuo, selamat datang, sudah lama kita tidak berjumpa," sambut Kagamine Kaito dengan hangat.
Saat ini Hatsune Mikuo dan Kagamine Len berdiri di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Kagamine Len hanya bisa bingung melihat keakraban ayahnya dengan Knight Mikuo.
"Ayah kenal dengan Mikuo-sama?" konfirmasi Len pada ayahnya.
Kaito mengangguk mantap dan melingkarkan lengannya di bahu Mikuo, "Kami teman sejak kecil dan sama-sama anggota dewan keputusan keluarga dalam suku bangsa kita," ujar Kaito menjelaskan, wajah Mikuo hanya datar saja.
"Suku bangsa kita?" ulang Len dengan tidak yakin. Kaito mengangguk membenarkan.
"Suku bangsa kita, bangsa Ksatria, memang sudah waktunya untuk dijelaskan padamu," angguk Kaito seakan tersadar.
"Hei Mikuo, bantu jelaskan ya," lirik Kaito, tapi Mikuo hanya berwajah datar.
"Sudah, ayo masuk dan istirahat, Mikuo-kun pasti lelah dan lapar," sapa Ibunya, Kagamine Meiko dari dalam rumah.
Kaito menarik Mikuo memasuki rumah dan melirik Len untuk segera menghampiri meja makan. Makan malam saat itu terasa lezat dengan suasana yang ramai.
~000~
Saat itu makan malam sudah selesai, Meiko menuangkan teh untuk semuanya yang masih duduk di meja makan dan menyediakan seloyang biskuit coklat yang nikmat.
"Jadi, apakah sudah watunya bagi Len mengerjakan tugasmu?" ucap Kaito membuka percakapan.
Merasa namanya disebut, Len urung meminum tehnya yang sudah setengah jalan menuju mulutnya. Mikuo hanya mengangguk dengan ucapan Kaito.
"Kau tahu, aku sudah terlalu tua," gumam Mikuo. Kaito sesekali melirik Mikuo, Len dan bertukar pandangan dengan Meiko. Sesaat, Kaito mngangguk tanda paham dan mulai mengalihkan pandangannya kepada Len.
"Len, kau punya kemampuan membayangkan senjata secara mendetil dan merealisasikan bayanganmu itu bukan?" Kaito menatap Len dengan serius.
Len mengangguk pelan, masih belum paham.
"Tapi ayah dan ibu memang sudah tahu tentang kemampuanku 'kan?" Len memiringkan kepalanya, tidak paham. Kaito hanya menghela napas.
"Saatmu menjelaskan Mikuo!" perintah Kaito.
Mikuo memalingkan kepalanya kepada Len dan memperhatikan pemuda itu.
"Ini akan menjadi cerita yang panjang, apakah engkau siap?" Mikuo memandangi Len dengan pandangan intimidasi. Menerima pandangan seperti itu, Len merasa terntantang untuk menunjukkan kemampuannya. Dengan mantap, Len mengangguk siap.
Mikuo menghela napas.
"Baiklah, cerita ini bermula saat bumi masih dihuni oleh manusia zaman dahulu, dimana keberadaan mereka masih sangat sedikit dan teknologi yang dimiliki sangat sederhana, intinya mereka adalah manusia purba," jelas Mikuo saat memperhatikan Len telah memasang wajah bingung.
"Kamu, aku, dan kedua orangtuamu, kita adalah keturunan bangsa Ksatria. Bangsa Ksatria adalah manusia yang tinggal di planet lain dan akhirnya pindah ke planet Bumi ini untuk hidup," jelas Mikuo.
Len hanya bisa mendengus tak percaya, "Bercanda 'kan?" ujarnya meremehkan saat mendengar cerita tidak masuk akal Mikuo. Mikuo hanya memandang Len dengan serius. Len menoleh kepada orangtuanya, berharap mereka tertawa dan berteriak 'kau tertipu' pada Len. Akan tetapi wajah mereka berdua sama seriusnya dengan Mikuo.
"Serius?" tanya Len tak percaya, Mikuo dan kedua orangtuanya mengangguk bahwa semua itu adalah benar.
"Kau pikir manusia biasa punya kemampuan sepertimu?" timpal Mikuo mengingatkan pada kekuatan yang dimiliki oleh Len.
"Jadi, apakah anda juga memiliki kemampuan itu?" Len memastikan.
"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa menjadi Knight, lagipula kekuatan itu memang ciri khas bangsa Ksatria," jelas Mikuo.
"Ayah dan Ibu juga?" Len berusaha memastikan.
"Aku memiliki kemampuan itu, tapi Ibumu tidak," jelas Kaito.
"Kenapa?" kejar Len.
"Kemampuan ini hanya mengalir pada pihak laki-laki," timpal Mikuo dengan singkat. Len hanya memandang Mikuo dengan pandangan setengah percaya.
"Jadi, aku lanjutkan?" pancing Mikuo, Kaito menngangguk dan Len memandang penasaran.
"Pada waktu bangsa Ksatria pindah ke Bumi, ternyata ada bangsa lain pula yang pindah ke planet bumi, mereka menamakan diri mereka Bangsa Dewa," lanjut Mikuo.
"Dewa?" sela Len.
"Dikatakan dewa karena mereka memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa dan jangka umur mereka lebih panjang dari manusia biasa. Leluhur bangsa kita yang berinteraksi dengan mereka menceritakan bahwa untuk bangsa dewa membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun bagi anak-anak mereka untuk tumbuh dewasa secara fisik,"
Len semakin pusing dengan cerita Mikuo. Semakin lama cerita ini semakin tidak wajar.
"Nah untuk beberapa lama, di bumi hidup tiga bangsa yang berbeda. Bangsa manusia bumi, bangsa ksatria dan bangsa dewa. Tiga bangsa itu hidup secara tentram dan berdampingan. Bangsa dewa dan bangsa ksatria yang memiliki teknologi yang lebh maju mengajarkan kepada manusia berbagai macam hal. Kami mengajarkan kepada manusia cara membuat api, bertani, bahasa dan yang lainnya. Lambat laun, tiga bangsa tersebut sering sekali berinteraksi dan berkomunikasi," ujar Mikuo.
Len berusah mencerna kisah yang tidak masuk akal itu. Mengangguk paham padahal masih bingung juga.
"Perlu kau ingat Len, bangsa Dewa merupakan bangsa yang bengis dan kejam, mereka suka menyiksa dan menindas baik manusia bumi maupun sesama bangsa dewa. Mereka memanggil diri mereka sendiri dewa dan mulai bermain dengan nyawa manusia. Dengan kekuatan yang mereka miliki, mereka mengahncurkan manusia bumi dan menyebutnya sebagai 'hukuman dewa'," Kaito menambahkan penjelasan, Mikuo mengangguk membenarkan.
Len mulai tertarik dengan cerita yang disampaikan oleh Mikuo dan ayahnya.
"Lalu pada suatu hari, bangsa dewa terpecah menjadi dua golongan. Bangsa dewa yang memilih hidup sebagai manusia dan bangsa dewa yang memilih hidup sebagai dewa," Mikuo meminum tehnya yang mulai mendingin.
"Kenapa mereka memilih hidup sebagai manusia?" tanya Len tertarik. Mikuo hanya mengangkat bahunya, menandakan tidak tahu.
"Tidak ada catatan apapun dalam bangsa ksatria yang menjelaskan kenapa bangsa dewa mau hidup sebagai manusia biasa," jelas Mikuo. Len hanya terdiam tidak puas.
"Nah, tak lama setelah terjadi perpecahan itu bangsa dewa yang hidup sebagai dewa merasa marah. Mereka menuduh bahwa karena keberadaan bangsa manusia dan ksatria makanya bangsa dewa terpecah menjadi dua," lanjutnya lagi.
"Tapi mereka ingin menjadi manusia bukan kesalahan kita 'kan" Len terpekik tak percaya.
"Leluhur kita menceritakan bahwa pilihan itu memang keinginan mereka sendiri, tapi golongan yang mejadi dewa tidak mau peduli," tambah Kaito. Meiko hanya terdiam sambil sesekali menyeruput teh di cangkirnya dan menuangkan teh di cangkir yang telah kosong.
"Pihak yang menjadi dewa semakin marah, mereka berusaha menyiksa manusia bumi yang tidak berdosa dan bangsa ksatria yang tidak mengerti apa-apa. Bangsa ksatria dengan kemampuan yang kita miliki berusaha melawan, tapi kekuatan mereka begitu hebat sehingga kita tidak dapat melakukan apapun," Mikuo kembali menyesap tehnya.
"Pihak dewa yang menjadi manusia juga tidak hanya diam. Dengan kemampuan dewa yang masih mereka miliki, mereka berusaha menghentikan 'hukuman dewa' dan mengucilkan pihak yang menjadi dewa," ujar Mikuo.
Len terhanyut dengan cerita Mikuo. Semakin lama ia semakin menikmati dan mempercayai cerita yang awalnya dianggap omong kosong.
"Salah satu leluhur bangsa dewa yang menjadi manusia memiliki kekuatan yang paling hebat diantara semua bangsa dewa. Dengan kemampuan terakhirnya, ia berusaha menyegel pihak keluarga dewa dan mengunci mereka di suatu tempat," jelas Mikuo dengan nada datar.
"Lalu?" kejar Len, menuntut cerita lanjutan dari Mikuo.
"Pihak keluarga dewa yang menjadi manusia telah memastikan bahwa segel pengunci keluarga dewa telah terkunci dengan sempurna. Mereka akan mengurusnya sendiri untuk mencegah segel tersebut rusak. Mereka tidak pernah menceritakan caranya kepada leluhur bangsa ksatria, dan kita juga tidak mau tahu yang penting pihak dewa tidak perlu lagi menyerang semua makhluk hidup yang ada di bumi," lanjut Mikuo.
Len mengerutkan kening, tanda tidak puas.
"Intinya, kita tidak perlu memikirkan segel keluarga dewa itu, biarlah bangsa dewa yang mengurusnya," Kaito mengacak rambut Len dengan perasaan gemas.
"Jadi apa masalahnya kalau semuanya berakhir happy end?" gumam Len sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Masalahnya adalah sesaat sebelum segel kunci terutup, seekor makhluk penghancur yang diciptakan oleh pihak dewa meloloskan diri dari segel dan berkeliaran di muka bumi, mengancurkan kehidupan yang ada di muka bumi," jelas Mikuo dengan lelah.
"Apakah itu adalah monster Bahamut?" Len mulai menangkap inti cerita. Mikuo mengangguk sambil menyesap tehnya, Kaito dan Meiko mengangguk membenarkan.
"Tapi buku sejarah tidak menceritakan-,"
"Buku sejarah memang tidak menyebutkan bangsa ksatria dan bangsa dewa, semua ini demi keamanan bangsa tersebut masing-masing. Kami menciptakan sejarah yang berbeda untuk saling melindungi bahkan untuk bangsa manusia. Akan ada banyak kepanikan jika mereka mengetahui bangsa kita dan bangsa dewa. Monster Bahamut saja sudah membuat panik dunia, tolong jangan ditambahkan lagi dengan fakta bangsa ksatria dan dewa," jelas Mikuo cepat.
Len hanya terdiam.
"Kau tahu bagaimana menaklukkan monster Bahamut?" pancing Kaito. Mikuo hanya menyesap teh dan memakan biskuit yang ada, Meiko hanya terdiam saja sepanjang percakapan.
"Setiap 20 tahun sekali The High Summoner akan muncul untuk membunuh monster Bahamut-,"
"Koreksi, bukan membunuh tapi menaklukkan, itu dua kata yang berbeda makna," potong Mikuo.
"Saya tidak paham-," kembali ucapan Len terpotong.
"Kekuatan keturunan bangsa dewa semakin melemah, dapat dimaklumi karena darah mereka semakin bercampur dengan manusia biasa, menyebabkan kekuatan dewa mereka melemah. Lagipula monster Bahamut memang makhluk yang tercipta dari kumpulan kekuatan pihak dewa. Karena itulah bangsa dewa hanya mampu menaklukkan, tidak membunuh," tutur Mikuo dengan keruh.
"Dunia tidak akan pernah merasa aman jika monster itu berkeliaran!" pekik Len ngeri.
"Karena itulah keturunan bangsa dewa atau yang biasa dipanggil High Summoner harus siap menaklukkan monter Bahamut itu. Lagipula 20 tahun kedamaian masih lebih baik dibandingkan kepanikan setiap saat," Kali ini Kaito yang menyahut.
"Dan sebagai bangsa Ksatria, kita harus membantu agar kedamaian itu terlaksana," tambah Mikuo. Len hanya menatap ayahnya dan Mikuo dengan tatapan tak mengerti.
"Keturunan pihak dewa memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa. Banyak pihak yang menginginkan kekuatan dewa demi kepentingan pribadi, padahal kita membutuhkan kemampuan kekuatan dewa untuk menaklukkan Bahamut. Karena itu leluhur kita menunjuk seseorang dari bangsa ksatria untuk terus mengikuti dan melindungi High Summoner hingga ia telah menyelesaikan tugasnya,"
"Menyelesaikan tugasnya?" Len tidak mengerti.
"Setelah High Summoner menaklukkan Bahamut, gadis itu akan mati karena telah kehilangan banyak kekuatan. High Summoner yang baru akan terpilih dan bangsa ksatria yang menemani High Summoner sebelumnya harus memberikan kekuasaan kepada keturunan ksatria selanjutnya. Ksatria yang baru harus mencari dan mendampingi High Summoner yang baru hingga gadis itu menyelesaikan tugasnya," jelas Mikuo dengan nada yang gelap.
"Menyelesaikan tugas sama dengan mati?," gumam Len tidak percaya. Mikuo hanya measang wajah yang gelap.
"Apakah High Summoner itu selalu perempuan?" tanya Len.
"Selalu perempuan, baca ini kalau kau mau tahu," ujar Mikuo sambil menyerahkan buku disampul kain, tampaknya sudah lama sekali. Buku itu ditulis dengan huruf berukir yang kelihatannya sudah sangat tua.
High Summoner x Knight
.
.
.
Yowane Haku x Honne Dell
Yukimura Miki x Utatane Piko
Hatsune Miku x Hatsune Mikuo
"Banyak sekali nama-namanya," gumam Len.
"Tentu saja, nama-nama yang tertulis disitu adalah para pahlawan yang berani mempertaruhkan nyawa mereka demi kedamaian dunia ini. Kita bisa hidup damai seperti ini, terima kasih pada perjuangan mereka semua," Meiko akhirnya membuka suara.
Len melirik kepada ibunya dan kembali membaca daftar nama yang paling akhir dan terletak di bagian tengah buku.
"Mikuo-sama dan Miku-sama punya nama keluarga yang sama-,"
"Itu hanya kebetulan," jawab Mikuo cepat.
Len memandang sekilas kepada Mikuo tapi kembali memperhatikan daftar nama tersebut. Len hendak menyerahkan kembali buku itu kepada Mikuo tetapi ditahan.
"Simpan saja buku itu, karena yang selanjutnya harus memegang buku itu adalah dirimu," jelas Mikuo gamblang.
Len hanya mampu membulatkan matanya.
"Aku tidak mempunyai keturunan, dan aku percaya dengan kemampuan imajinasi dan realisasi senjatamu. Kemampuanmu sama hebatnya dengan ayahmu," Mikuo melirik Kaito dan Meiko, mengharapkan dukungan.
"Mulai saat ini, aku memberimu title "Knight" dan berkuasa untuk mencari dan mendampingi High Summoner," lanjut Mikuo.
Len hanya bisa terkejut, tak tahu harus mengatakan apa.
~000~
"Aku bisa merasakanmu Len-kun. Tapi maaf ya, kau tidak akan pernah bisa menangkapku,"
~000~
a/n:
Thanks for:
1. Allah SWT atas terselesaikannya chapter 1 ini,
2. Waktu luang,
3. dll.
Review Anda?
