A/N : ara...mohon maaf ya untuk semuanya yang menunggu chapter baru, saya baru aja turun lapangan untuk penelitian dan ada event yang mewajibkan saya keluar pulau Jawa sehingga...semua tulisan terbengkalai, Insya Allah sekarang diusahakan untuk kembali update chapter secara cepat.

Gak usah banyak A/N, sekarang silahkan menikmati next chapter... happy reading..


SALING BERHADAPAN

.

.

.

Seorang gadis berjalan, tak mempedulikan kemana ia melangkah. Pikiran gadis itu sedang melayang, memikirkan berbagai macam kejadian yang terjadi dan bermacam rencana yang sedang disusun. Sesaat langkah gadis itu terhenti, ia menaikkan pandangannya dan memandang seorang pemuda yang berdiri tepat dihadapannya. Seorang pemuda berambut kuning berdiri menantang, tatapan matanya tajam akan tetapi seolah meremehkan gadis yang sedang ditatapnya.

Gadis itu berhenti melangkah sesaat sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya, berusaha tidak mempedulikan pemuda berambut kuning itu. Gadis itu terus melangkah hingga melewati pemuda itu.

"Haruskah kuucapkan 'senang berjumpa lagi denganmu?' atau 'halo!'" ujar pemuda itu.

Gadis itu berhenti melangkah, tetapi pandangannya matanya tetap lurus di depan.

"Kau sudah sempurna," gumam gadis itu kecil,

"Senang berjumpa lagi denganmu," ujar pemuda itu seakan tak mendengarkan.

Pemuda itu memutar badannya sehingga ia memandangi punggung gadis tersebut. Gadis tersebut juga memutar badannya sehingga posisi mereka berdua saling berhadapan.

"Kau sudah bisa menggunakan kekuatanmu?" pancing gadis itu, pemuda itu hanya mengangkat bahunya.

"Belum sepenuhnya, sebagian masih tersegel," jelasnya lambat.

"Semuanya, terima kasih karenamu," ujar pemuda itu sambil menunjuk sang gadis.

Sang gadis hanya tersenyum lemah, "baguslah kalau begitu," ujarnya. Gadis itu membalikkan badannya dan kembali melangkah. Baru beberapa langkah, kembali gadis itu berhenti dan menoleh.

"Kenapa engkau menyerang Len-kun?" tanyanya dengan nada tajam.

"Ah, 'Knight' tampanmu itu?" tanya pemuda itu dengan nada meremehkan, sang gadis hanya bisa mengepalkan tangannya.

"Hanya salam perkenalan, apa kau keberatan?" tantang pemuda itu yang dijawab tatapan membunuh dari sang gadis.

Pemuda itu tersenyum meremehkan dan membalikkan tubuhnya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan sang gadis.


~000~


Dunia heboh.

Masyarakat dunia panik.

Pemerintah dunia was-was.

Kagamine Len sewot.

Semua ini karena kejadian heboh dan spektakuler yang terjadi di sekolahnya baru-baru ini. Sekolahnya hancur berat. Kabar baiknya, pemerintah dunia yang akan memperbaiki bangunan sekolah tersebut. Kabar baiknya lagi, ujian nasional minggu depan yang harusnya di tempuh oleh siswa-siswa sekolah tersebut tidak akan bisa dilaksanakan di sekolah tersebut.

Kabar buruknya?

Ujian nasional akan dilaksanakan di halaman sekolah.

Kabar lebih buruk lagi?

Pemerintah dunia makin cerewet dan mengeluarkan segala omong kosong mereka, memaksa Len untuk segera – yang artinya benar-benar segera – menemukan High Summoner. Berbagai macam desas-desus beredar seiring dengan kejadian serangan yang terjadi di sekolah. Mulai dari spekulasi teroris hingga spekulasi bahwa kekuatan gelap monster Bahamut sudah mulai muncul.

Well, sebenarnya kabar yang terakhir lebih tepat sih. Walaupun baik Len dan Mikuo tidak menyebarkan kabar yang mengerikan itu.

Tapi, masyarakat dunia sudah mulai berspekulasi macam-macam. Panik dimana-mana dan surat wasiat sudah mulai berseliweran kesana kemari, membuat dunia menjadi panik dan pemerintah dunia semakin sewot dengan sifat bebal Len dan Mikuo.

Apa daya, Kagamine Len, seorang pemuda berusia 17 tahun harus memikul tanggung jawab yang amat sangat besar, berhubungan dengan nasib dunia dan hidup mati penduduk dunia. Pemuda mana yang tidak stress kalau dijatuhi beban seperti itu.

"Saya tidak mau dengar lagi, Kagamine Len dibantu oleh Hatsune Mikuo, kalian harus mencari High Summoner itu secepatnya!" seorang pria dewasa yang jelas tidak tampak berwibawa tetapi memiliki banyak uang menggebrak meja.

Len hanya memutar bola matanya, Mikuo mendesah napas sebal.

"Anda pikir kami ini sedang apa?" Len bergumam dengan sebal.

"Kalian tidak mendapatkan hasil yang berarti!" murka pria berkuasa itu.

"Anda kan pemimpin pemerintah dunia. Kalau anda merasa hebat cari saja sendiri High Summoner itu," tantang Len. Pria berkuasa itu hanya bisa diam. Geram.

"Bahkan kalau anda masih ingat, saya baru bisa menemukan Miku-sama 10 bulan sebelum penyegelan," ujar Mikuo jengkel.

Mikuo menarik lengan Len dan berlalu meninggalkan gedung pemerintahan dunia cabang Jepang tersebut. Merasa jengkel dan bosan, mereka melompati atap-atap gedung untuk segera sampai di rumah mereka yang tenang.

"Kau tahu Len, apa yang dikatakan oleh pria tua itu memang benar," gumam Mikuo pelan. Len hanya bisa terdiam.


~000~


"Hancurnya gedung sekolah Yamaha High School diduga disebabkan oleh kekuatan bayangan monster Bahamut...,"

Gadis itu mematikan televisi yang menyiarkan berita kejadian tersebut. Ia memeluk erat boneka kelinci putih manis miliknya.

"Aku merasa bersalah kepada Len-kun, ia harus menanggung semuanya sendirian," gumam gadis itu sambil memandangi boneka kelinci putihnya.

"Tapi, ia tidak boleh tahu identitasku,"

"Tidak, sampai tiba waktunya," gumamnya pelan, kembali memeluk bonekanya erat.


~000~


"Masih hangat dengan berita kecelakaan di gedung sekolah Yamaha Gakuen, dunia kembali dikejutkan dengan ledakan kebakaran yang terjadi di gedung penelitian milik pemerintah dunia cabang negeri Jepang. Sampai saat ini penyebab kebakaran masih belum diketahui, akan tetapi beberapa saksi mata melihat seseorang yang mencurigakan. Diduga seseorang inilah yang memicu kecelakaan...,"

Len menonton berita televisi dengan tertarik, akan tetapi juga dengan perasaan malas.

"Mikuo-sama, kita tidak akan dipanggil gara-gara masalah ini kan?" Len menunjuk berita televisi.

Mikuo yang sedang memakan sarapan paginya hanya mengangkat bahu, tanda tidak tahu. Len hanya mendecak sebal.


~000~


Di tempat yang lain, gadis itu juga sedang menonton berita yang sama. Wajahnya terlihat sedih tetapi sinar matanya menunjukkan tekad.

"Ini adalah sebuah awal,"


~000~


Banyak yang telah terjadi dalam kehidupan seorang Kagamine Len. Awalnya ia hanyalah seorang pemuda biasa.

Ok, mungkin memang bukan pemuda biasa juga karena ia memiliki kekuatan yang tidak biasa.

Ia mampu merealisasikan pedang yang awalnya hanya ada di imaginasinya menjadi bentuk yang solid. Akan tetapi kekuatan inilah yang mengantarkannya menjadi seorang "Knight" bagi High Summoner. Dan kekuatan serta title ini pulalah yang menjadikan kehidupan normalnya menjadi kehidupan yang tidak normal.

Tetapi, Len boleh bersyukur. Walaupun kehidupannya dikatakan tidak normal, setidaknya ia dapat menikmati pendidikannya secara normal. Ia telah lulus ujian nasional sekolah tingkat akhirnya, meski harus rela belajar mati-matian untuk mengejar ketinggalannya gara-gara semua kejadian spektakuler yang terjadi di sekitarnya.

Selain itu, Len juga diterima masuk ke sebuah universitas negeri yang bergengsi.

Benar-benar kehidupan yang sangat normal bagi pemuda yang tidak normal seperti dirinya.

Pemuda berumur 18 tahun itu melangkahkan kakinya memasuki lingkungan kampus. Ia membawa perlengkapan kuliahnya. Tahun ajaran perkuliahan akan segera dimulai, Len tidak mau terlambat dan terlihat sangat antusias. Ia melangkahkan kakinya ke gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Len memandangi gedung baru tempat ia akan menuntut ilmu. Senyum bangga terukir di bibirnya.

"Hei, kau dengar ada kasus peledakan gedung penelitian lagi,"

"Ya, kali ini di negara Amerika, selanjutnya di mana lagi ya?"

"Sejauh ini sudah ada 50 gedung penelitian dari berbagai negara yang sudah diledakkan,"

Senyum Len langsung menghilang setelah mendengar bisik-bisik kasus tersebut. Pagi ini ia telah mendengar bahwa gedung penelitian dunia cabang Amerika sudah diledakkan. Total 50 gedung penelitian di dunia dari 190 gedung penelitian dunia yang sudah diledakkan. Len bersyukur bahwa kasus peledakan gedung penelitian ini bukanlah kasus yang harus ditangani olehnya dan Mikuo-sama. Tetapi tetap saja, Len merasa khawatir juga. Entah kenapa ia merasa kasus peledakan dan High Summoner yang dicarinya memiliki hubungan dengan semua peristiwa yang terjadi.

Selain itu, Len juga masih mempunyai misi yang penting, menemukan High Summoner. Sudah genap 18 tahun semenjak Miku-sama, High Summoner terdahulu menyegel monster Bahamut. Dua tahun lagi dan segel itu akan terlepas, jika Len tidak segera menemukan High Summoner maka kemungkinan terjadinya bencana akan semakin besar.

Len menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran negatif. Yang ada di pikirannya sekarang adalah berusaha menikmati masa kuliahnya sambil mencari High Summoner.


~000~


"Baiklah, selamat datang di gedung fakultas kalian. Saya adalah kepala fakultas kalian-,"

Len mendengarkan pidato penyambutan kepala fakultasnya dengan kepala terkantuk-kantuk. Pidato penyambutan selalu membosankan bagi Len. Tak lama kemudian tepuk tangan membahana dari aula fakultas. Tidak jelas apakah para mahasiswa itu bertepuk tangan karena pidato kepala fakultas yang menyentuh ataukah akhirnya pidato membosankan itu selesai juga. Para mahasiswa bergerak menuju bagian jurusannya masing-masing. Len mengikuti seseorang yang memegang papan "Agrometeorologi" dan berjalan mengikuti pemegang papan itu bersama dengan sekumpulan mahasiswa lain yang berjurusan sama.

Sekumpulan mahasiswa tersebut dibawa ke ruang kelas yang besar yang mampu memuat sekitar 100 mahasiswa. Di ruangan tersebut telah menunggu para dosen yang akan membagikan ilmu mereka kepada mahasiswa jurusan tersebut.

"Selamat datang para mahasiswa baru," sapa seorang ibu yang menyenangkan. Ia tampak berwibawa dan bijaksana.

Para mahasiswa baru mendudukkan diri mereka di kuris yang telah disediakan.

"Baiklah, ini adalah salah satu ruangan-," Len tidak mendengarkan ocehan ibu tersebut. Matanya menjelajahi para mahasiswa dan dosen yang duduk di ruangan tersebut. Sesaat mata Len terhenti pada sosok seorang gadis manis berambut honey blonde. Gadis itu mengenakan bando putih yang bergoyang seperti telinga kelinci dan poninya dijepit dengan jepit rambut. Tanpa sadar wajah Len memerah, gadis itu terlihat sangat manis.

"Baiklah, kita akan memulai perkenalan diri. Harap diingat, karena kawan-kawan kalian disini akan menjadi sahabat kalian yang akan sama-sama berjuang untuk 4 tahun kedepan," seru Ibu yang masih berbicara.

Satu per satu para mahasiswa memperkenalkan diri, Len hanya mendengakan sepintas. Ia tidak sabar untuk mengetahui nama gadis manis yang telah menyita perhatiannya tersebut. Tak lama kemudian, akhirnya gadis itu memperkenalkan diri.

"Nama saya Kamine Rin, salam kenal semua," gadis itu membungkuk hormat.

"Kamine Rin," bisik Len tanpa sadar.

Len terus menatap gadis bernama Rin itu hingga,

"Hei, perkenalkan dirimu," senggol teman sebangku Len, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. Len yang tersadar segera memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya. Bisik-bisik langsung terdengar setelah ia menyebutkan namanya.

"Hee, jadi dia Knight High Summoner,"

"Kita satu jurusan dengan Knight High Summoner,"

"Lumayan ganteng, mau jadi pacarnya,"

Bisik-bisik terus berlanjut hingga-

"Kenapa harus ribut sih? Dia kan Cuma Knight pecundang!"

Len menolehkan kepalanya ke asal suara.


~000~


Len menolehkan kepalanya kearah asal suara. Siapa makhluk yang dengan beraninya menghina dirinya sebagai "Knight Pecundang"!

"Siapa yang mengatakan itu?" Len bertanya sambil berusaha menahan emosinya.

Tanpa disangka, seorang gadis berambut honey blonde mengangkat tangannya. Len membulatkan matanya dan terpaku, masih belum percaya dengan penglihatannya.

"Aku yang bilang kalau kamu itu pecundang, ada masalah?" tantang gadis itu.

"Kenapa kau berkata begitu?"

"Wajar 'kan? Knight High Summoner tapi belum menemukan High Summoner. Kalau bukan pecundang apalagi sebutan untuk dirimu?"

"Nona, tidak gampang menemukan High Summoner. Gadis itu-,"

"Bandel dan keras kepala. Ya, memang itu yang selalu kau ucapkan kalau kau diinterview oleh berita dan gosip-gosip,"

Len hanya bisa terdiam dan menahan emosi.

"Jujur sekali Tuan Knight, tampaknya anda menikmati publisitas anda," sindir Rin.

"CUKUP! Kamine Rin-san, temui saya setelah acara ini selesai. Kagamine Len-san, silahkan duduk dan saya mohon maaf," ujar ibu pembawa acara tersebut.

Len mendudukkan dirinya dengan emosi, gadis itu hanya memasang wajah yang datar dan cuek.

Ok, mungkin Len perlu menarik penilaiannya. Gadis itu sama sekali tidak manis! Malahan, gadis itu menyebalkan dan menjengkelkan. Len menyesal sempat tertarik dengan gadis itu.


~000~


Hari-hari berjalan dengan tenang dan damai, bagi beberapa orang. Jika anda bersedia memberikan perhatian anda sedikit saja, anda akan selalu menemukan kehebohan dan keramaian yang terjadi di gedung fakultas MIPA. Jika anda ingin sedikit berkonsentrasi, maka anda akan menemukan nuansa pertengkaran dan perdebatan yang tidak ada habisnya antara pasangan Kagamine Len dan Kamine Rin.

Yup, Kagamine Len dan Kamine Rin, pasangan paling terkenal di fakultas MIPA sebagai pasangan bertengkar abadi sepanjang masa. Ada-ada saja bahan yang mereka perdebatkan hingga memicu pertengkaran dan pertukaran sumpah serapah, mulai dari perbedaan jawaban soal mata kuliah hingga status Len yang merupakan seorang Knight High Summoner.

Akan tetapi, jangan sekali-sekali anda berpikir bahwa pertengkaran macam itu akan mengantarkan mereka berdua pada hubungan yang romantis. Jika anda selalu berada di TKP pertukaran sumpah serapah, anda tidak akan menemukan atmosfer romantisme di tempat itu. Anda hanya akan menemukan nuansa yang penuh dengan emosi, ketidaksabaran, kebencian dan kemarahan yang berkilat-kilat. Para mahasiswa MIPA sudah tahu, jika mereka tidak ingin ikut sial lebih baik menjauh dari TKP pertukaran sumpah serapah mereka.

Seperti biasa, hari ini mereka kembali bertengkar dan berdebat dengan topik favorit Rin, Kagamine Len sang "Knight Pecundang".

"Well,well, tuan 'Knight Pecundang', kita sudah tahu kok kamu itu benar-benar pecundang,"

"Baiklah, kamu mau ngomong apa sih Kamine?"

Rin melebarkan koran pagi. Headline berjudul "TOTAL 80 GEDUNG PENELITIAN DUNIA DIHANCURKAN!" mewarnai lembar koran pagi itu.

"Itu bukan urusanku," elak Len.

"Well, tentu saja itu bukan urusanmu. Urusanmu 'kan cuma wawancara sana sini, tinggal bilang 'Gadis itu bandel dan keras kepala," sindir Rin.

"Dengar ya Kamine, bisa tidak sih kau tidak menyindirku sebagai 'Knight Pecundang'?"

"Lalu? Kau maunya apa? 'Knight Pengecut? Aku tidak begitu setuju sebenarnya, tapi kalau kau memaksa-,"

"Kenapa 'sih kau menyindirku terus!"

"Karena kau memang pecundang,"

.

.

.

Kita tinggalkan saja TKP pertukaran sumpah serapah yang tidak ada habisnya tersebut.


~000~


Len melangkah ke kelas jurusan dengan langkah sebal. Ia tidak habis pikir, kenapa Kamine Rin selalu saja berdebat dan bertengkar dengan dirinya. Hubungan romanisme? Jelas tidak. Dari tatapan mata yang dilemparkan oleh Rin kepadanya, Len dapat melihat sorot mata kemarahan dan kebencian. Masalahnya apa yang membuat Rin begitu membenci dan marah padanya?

"Kau baru berantem lagi dengan Kamine?" sapa seorang teman satu jurusan. Len hanya mengangkat bahu dan mendesah, tanda lelah.

"Dari berantem bisa jadi cinta loh,"

"Tidak mungkin, aku tidak akan pernah menyukai gadis yang bebal dan keras kepala, terutama gadis seperti Kamine Rin," lontar Len.

"Wah, bisa kau ucapkan lagi kata-kata itu di depanku?"

Len terkesiap, tak menyangka Rin telah berdiri di belakangnya. Wajah Rin terlihat dingin dan sinis. Tanpa perasaan bersalah Len menghampiri Rin dan berteriak di hadapan Rin.

"Aku tidak akan pernah menyukai kau, Kamine Rin," tunjuk Len emosi.

"Bagus kalau begitu," Rin melangkah meninggalkan Len sambil tersenyum puas. Ia duduk di salah satu kursi yang telah disediakan di ruang kelas.

Len mengangkat alisnya, tidak biasanya Rin tidak membalas kata-katanya dengan sindiran yang pedas.


~000~


Hari-hari berjalan dengan normal bagi Kagamine Len kecuali beberapa berita peledakan gedung penelitian dan sindiran Kamine Rin mengenai 'Knight Pecundang'. Jujur Len sudah hampir mencapai batas sabarnya, rasanya ia ingin menampar mulut pedas Rin dan menyuruh gadis itu untuk diam. Bisu selamanya kalau perlu. Belum lagi tekanan dari pihak pemerintah untuk segera menemukan High Summoner. Hell, kalau Kamine Rin tahu Len dipanggil oleh pemerintah dunia, lengkaplah sudah penderitaan Len.

Bukannya Len tidak berusaha mencari, tetapi pertahanan High Summoner itu memang sangat tangguh. Tidak cukup hanya memutuskan kontak batin diantara mereka, High Summoner juga menyembunyikan aura bangsa dewanya sehingga ia tidak mudah dilacak oleh bangsa ksatria. Kasihan Len, kalau sudah buntu begini apa yang bisa dilakukan?

Untunglah Mikuo-sama serta kedua orang tuanya tidak membebani Len dengan perasaan tertekan yang sama. Mereka memang memahami bahwa menemukan High Summoner tidak mudah. Lihat saja kasus Mikuo-sama yang baru meneukan Miku-sama 10 bulan sebelum penyegelan. Bahkan menurut Mikuo-sama, Utatane Piko-sama baru menemukan High Summoner Yukimura Miki dua bulan sebelum penyegelan. Sungguh mengerikan jika High Summoner menginginkan agar mereka tidak ditemukan oleh Knight mereka.

Masalahnya, jika ia tidak segera menemukan High Summoner, pemerintah dunia akan semakin bawel dan Rin akan semakin mencemoohnya. Dunia sudah cukup panik sekarang, Len tidak butuh tambahan lagi dari pihak pemerintah dunia ataupun dari Rin.


~000~


Untuk kesekian kalinya Len berusaha menyambungkan koneksi hati antara dirinya dengan High Summoner. Tapi semua itu nihil, sia-sia saja. Len sedang menutup mata, berkonsentrasi saat tiba-tiba ia merasakan suatu aura yang mengerikan. Aura itu mendekat dengan kecepatan yang hebat, mendekati dirinya.

PRANGGG!

DUARRRR!

KYAAA!

Kembali Len merasakan sensasi yang sama yang dialaminya di sekolah SMAnya terdahulu. Bedanya, nuansa ini jauh lebih mengerikan dan lebih berbahaya dibandingkan kejadian terdahulu. Len masih dalam posisi tiarap dan bangkit setelah ia merasa tidak ada guncangan lagi. Saat Len dapat melihat dengan jelas, kembali ia melihat mimpi buruk. Gedung fakultasnya hancur lebur, reruntuhan menimpa mahasiswa, rintihan terdengar dimana-mana.

Len meloncat keluar reuntuhan, mencoba memastikan keadaan. Kali ini tak ada tentara api seperti satu tahun yang lalu. Jadi apa yang menyebabkan kekacauan ini terjadi?

"Akhirnya kita bertemu juga, Knigh High Summoner, Kagamine Len,"


~000~


Len mengarahkan pandangan matanya keatas, sosok pemuda berambut kuning cerah melayang sambil meletakkan pedangnya yang panjang di bahunya.

"Siapa kau!"

"Wah...wah...pemuda yang semangat, aku suka itu!" ujarnya sambil menebaskan pedangnya ke arah Len yang ada di bawahnya.

Len mengeluarkan pedangnya dan bertahan. Pedang itu memang tidak mengenai Len, tetapi tekanan kekuatan pedang tersebut menahan Len, membuat pemuda itu merasa kesulitan walau hanya untuk bernapas. Len berhasil menangkis angin yang dihasilkan dari sabetan pedang tersebut, namun pipinya tergores dan mengalirkan sedikit darah.

"Pemuda yang tangguh, memang pantas menjadi Knight bagi gadis itu," kekeh pemuda itu.

"Siapa kau!" Len mengulang pertanyaannya.

"Benar juga, kau memang tidak mengenalku. Aku adalah Akita Nero, tetapi orang-orang memanggilku 'Bahamut'," ujarnya dramatis.

Len membulatkan matanya.

"Segelmu...sudah lepas?" gumam Len tak pecaya. Akita Nero tertawa meremehkan.

"Ini bukanlah tubuh asliku. Ini hanyalah tubuh yang mereka ciptakan untuk memanfaatkanku. Sayangnya, mereka tak akan pernah bisa memanfaatkanku," jelasnya sambil mengayunkan pedang berkali-kali, menciptakan sabetan angin yang cukup tajam dan menyakitkan. Len bertahan dengan pedang yang ia realisasikan, ia masih belum tahu bagaimana menghadapi pemuda itu.

"Siapa kau sebenarnya?" Len masih berusaha memastikan.

"Sudah kukatakan, aku ini Bahamut!"

Nero menyabet pedangnya berkali-kali kepada Len dengan kecepatan yang luar biasa. Len tak dapat melakukan apapun kecuali bertahan. Napasnya tersengal-sengal, setiap serangan dari Nero terasa luar biasa, tekanan serangan itu begitu berat, menjadikan Len cepat merasa lelah dan kekuatannya terkuras hanya untuk mempertahankan diri.

Di saat Len merasa tidak mampu lagi mempertahankan diri, sesosok ksatria bercahaya putih menahan sabetan pedang Nero. Len hanya bisa diam, terlalu takjub dengan keberuntungan dirinya lolos dari maut.

"Cukup Nero, lawanmu adalah aku,"

Len seakan tak percaya, ia kenal suara itu. Len menoleh untuk memastikan sumber suara tersebut. Rambut honey blonde miliknya berkibar, pita putihnya memang tidak ada lagi tapi poninya masih dijepit dengan jepit rambut. Mata berwarna sapphirenya menantang dan wajahnya terlihat tegas. Gadis itu adalah Kamine Rin.

"Halo High Summonerku sayang, lama tak bertemu,"seringai Nero. Rin hanya memasang wajah muak.

"Kenapa engkau menyerangnya?" tanya Rin dingin.

"Ah, aku hanya ingin memberi salam perkenalan saja pada 'Knight' mu itu,"

Rin menatap Nero dengan pandangan membunuh, akan teteapi gadis itu masih berusaha meredam emosinya. Rin menatap Len dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis itu bergantian menatap kedua sosok pemuda itu secara bergantian.

"Bingung memilih antara aku atau ksatriamu itu?" sindir Nero. Rin memfokuskan pandangannya pada Nero. Gadis itu melangkahkan kakinya hingga berdiri diantara Len dan Nero walaupun tidak cukup dekat dengan posisi Nero.

"Menyingkirlah dari sini," bisik Rin.

"Apa kau... benar-benar High Summoner?" bisik Len tak percaya.

Rin menolehkan pandangannya sekilas pada Len dan kembali mengulang, "Aku bilang, pergilah dari sini,"

"Tidak, aku akan melindungimu sebagai Knight High Summoner," tegas Len, "yah..walaupun aku juga tidak suka ternyata kaulah yang harus aku lindungi," dongkol Len.

Rin hanya tersenyum meremehkan. "Aku tidak butuh bantuan dari Knight pecundang sepertimu,"

"Apa kau-,"

Sabetan pedang Nero kembali berbicara. Akan tetapi dengan kekuatan dewa yang dimiliki Rin, gadis itu mampu menangkis semua serangan dari Nero. Nero terus menebas dan menebas, akan tetapi Rin selalu menangkis setiap serangan Nero. Tidak tampak wajah letih pada Rin, yang ada hanyalah wajah serius dan berkonsentrasi.

"KAU!" Nero berseru emosi.

Rin melihat kesempatan itu,

"Lumiere, sekarang!"

Ksatria putih itu mengeluarkan cahaya dari pedangnya, membutakan pandangan semua orang yang ada disana, tak terkecuali Nero dan Len. Saat cahaya menyilaukan itu menghilang, Nero telah terjatuh duduk di permukaan tanah dengan penampilan compang-camping dan luka diseluruh tubuhnya. Ia terbatuk mengeluarkan darah. Nero memandang Rin dan Len dengan pandangan benci dan membunuh, akan tetapi Rin hanya balas menatap datar sementara Len menatap Rin dengan takjub.

"Saat aku sempurna, tunggu saja-," sosok Nero perlahan menghilang dari pandangan. Hanya menyisakan dua sosok yang masih berdiri dikelilingi reruntuhan bangunan, Kagamine Len dan Kamine Rin.

Len terdiam, memandangi punggung Rin yang berdiri di hadapannya. Ada banyak pertanyaa yang ingin ia tanyakan, ada bermacam keluh kesah yang ingin ia lontarkan, tetapi semua itu tak bisa keluar dari mulutnya. Untuk sesaat Len maupun Rin hanya terdiam.

"Kau...High Summoner?" Akhirnya Len membuka suaranya.

Rin perlahan menolehkan kepalanya memandangi Len. Ia memandangi pemuda itu dengaan tatapan yang tak dapat diartikan.

"Aku tak butuh Knight pecundang sepertimu," bisik Rin.

Emosi Len memuncak.

"KAU! KAU YANG TELAH MEMBUATKU MENGALAMI SEMUA KESULITAN INI!" tuding Len kasar, tetapi gadis itu masih terdiam tenang.

"Kau tidak punya kekuatan, dan kau tidak pantas menjadi knight untukku," sinis Rin.

Len sudah tak dapat lagi menahan kesabarannya. Harusnya semua ini menjadi pertemuan yang sederhana, kenapa gadis itu malah membuat dirinya emosi? Len berjalan mendekati Rin, dengan gelap mata ia mengangkat tangannya, bersiap menampar gadis dari semua sumber kesulitannya itu, hingga-

"Len, kau baik-baik saja?"

Mikuo berlari menghampiri Len, dalam sekejap saja ia sudah berdiri di belakang pemuda itu. Sekilas Mikuo menatap gadis yang ada dihadapan Len, dan sesaat kemudian Mikuo terpana.

"Miku?" gumam Mikuo tak percaya.


~000~


A/N: Menurut kalian alur ceritanya kecepatan enggak? Habis kayaknya saya ngerasa alur cerita dari chapter sebelumnya sangat lamban... reviewnya ya... :)