A/N:
maaf banget untuk para reader yang menunggu chap terbaru. Kemarin saya semangat banget nulis OS "Tanabata", saking semangatnya mencapai 9000-an words. Tolong dibaca juga ya...^^a (promosi...). Anyway, this is the newest chapter. Happy reading...


HIDUP BERSAMA

.

.

Mikuo berlari menghampiri Len, dalam sekejap saja ia sudah berdiri di belakang pemuda itu. Sekilas Mikuo menatap gadis yang ada dihadapan Len, dan sesaat kemudian Mikuo terpana.

"Miku?" gumam Mikuo tak percaya.

Len menoleh kearah Mikuo, wajahnya bingung. Ia kembali menatap Rin yang wajahnya tampak datar. Len yakin bahwa gadis yang berdiri di depannya adalah Kamine Rin, High Summoner yang sangat menyebalkan yang pasti sudah ia tampar jika Mikuo tidak mengganggu moment tersebut.

Lain halnya dengan Rin, gadis itu hanya terdiam berwajah datar saat disapa dengan nama "Miku" oleh Mikuo.

"Apakah saya semirip itu dengan Miku-nee sama?" suara maupun tatapan Rin masih tetap datar. Len sebal melihatnya, kalau saja bukan karena Len segan pada Mikuo, pastilah Len sudah menampar gadis itu.

Sesaat Mikuo terkesiap, tersadar dari lamunannya.

"Maafkan saya, High Summoner," Mikuo langsung berlutut, menghormati Rin sebagai seorang ksatria terhadap high summoner.

Rin ikut berlutut, menyamakan tingginya sejajar dengan mata Mikuo.

"Tidak perlu seperti ini, Mikuo-sama," ujarnya dengan nada yang masih sama, datar.

"Anda tahu nama hamba?"

"Saya mewarisi ingatan Miku-nee sama," jelas Rin seakan semua adalah hal yang sederhana. Mikuo hanya terdiam, mengamati secara seksama wajah Rin. Tak lama kemudian Mikuo tersadar dan menoleh kepada Len. Dengan paksa, ia menarik Len sehingga pemuda itu jatuh berlutut hormat disamping Mikuo-sama dan di hadapan Rin.

"Kau harus berlutut hormat pada High Summoner," tegur Mikuo jengkel. Len juga merasa jengkel dan dongkol. Rin berdiri, wajahnya berubah dari datar menjadi dingin.

"Aku tidak butuh Knight pecundang seperti dia," desis Rin. Gadis itu melangkah menjauhi kedua sosok laki-laki tersebut.

"APA KAU BILANG?" Len naik pitam tapi langsung ditarik kembali oleh Mikuo.

"Jangan tidak sopan pada High Summoner!"

Tapi Len tidak mendegarkan teguran Mikuo, pemuda itu terus berteriak, memanggil-manggil Rin agar menghentikan langkanya dan berkonfrontasi langsung dengan dirinya. Sayangnya Rin hanya terus melangkah, sama sekali tidak mempedulikan teriakan amarah pemuda itu. Mikuo juga menahan tubuh Len agar tidak mengejar gadis tersebut. Mikuo terus menahan Len hingga pemuda itu sedikit lebih tenang dan duduk menahan emosi.

"Gadis menyebalkan, tak tahu diuntung, sumber semua masalah-"

"Len, jaga bicaramu, gadis itu adalah High Summoner," tegur Mikuo.

"Gadis itu menyebalkan, pertemuan pertama kami selalu dihiasi dengan perdebatan-,"

"Kau mengenal gadis itu?" Mikuo mengangkat alisnya, bertanya.

"Dia teman sekelasku, namanya Kamine Rin," ketus Len.

"Dan kau tidak sadar selama ini bahwa ia High Summoner?" Mikuo memastikan. Len masih jengkel sehingga ia tidak menjawab pertanyaan Mikuo.

"Gawat juga ya, kita berhasil menemukan High Summoner," bisik Mikuo, tetapi dapat didengar oleh Len. Len menaikkan alisnya.

"Kenapa gawat?"

"Apa kau mau melaporkan pada pemerintah bahwa temanmu itu adalah High Summoner?" pancing Mikuo.

"Tentu saja, telingaku panas kalau harus mendengarkan ocehan pemerintah dunia," tandas Len.

Mikuo memasang wajah tidak suka, tetapi Len tidak memperhatikan.


~000~


"Kau berhasil menemukan High Summoner?" teriak pemimpin pemerintah dunia cabang Jepang. Wajahnya merasa berpuas diri.

Saat ini Len berada di kantor pemerintah dunia cabang Jepang. Ia melaporkan mengenai High Summoner seorang diri, Mikuo tidak mau ikut campur dengan pemerintah dunia.

"Siapa namanya? Siapa gadis itu?" teriak pemimpin kelewat semangat.

"Namanya Kamine Rin," bisik Len yakin.


~000~


"Gadis High Summoner yang ditemukan di Jepang..,"

"Knight Kagamine Len menyatakan bahwa High Summoner..,"

"Kamine Rin sebagai High Summoner...,"

Rin menghembuskan napasnya pelan sambil memeluk boneka kelinci putihnya yang manis. Semua saluran televisi dunia mengumumkan namanya sebagai High Summoner. Tidak tahan, Rin mematikan televisinya.

"Len mengumumkannya pada pemerintah," bisiknya pelan.

"Bagaimana menurutmu?" Rin bertanya sambil memandangi boneka putihnya. Boneka itu hanya terdiam.

"Len...telah menjualku pada pemerintah," gumam Rin dengan nada sedih. Airmata telah menggenang dan mengalir dari pelupuk matanya.

"Itu berarti ia membenciku 'kan?" Rin berusaha tersenyum pada boneka kelincinya.

Segera Rin menghapus airmatanya. Rin mencapai pintu apartemennya. Sesaat sebelum Rin memutar kenop pintu apartemennya, ia terhenti. Gadis itu paham, setelah ia membuka pintu itu, dunianya tidak akan pernah sama lagi.

Rin menghembuskan napas, mencoba mencari kekuatan sebelum akhirnya membuka pintu itu. Dunia yang berbeda baginya.


~000~


Rin membuka pintu apartemennya, di luar sudah banyak warga sipil biasa maupun agen pemerintahan yang mengerumuni kawasan apartemen. Pemerintah dunia sudah memasang barikade agar tak seorangpun yang dapat mendekati pintu apartemen Rin selain Len dan Mikuo. Di luar pintunya, Len dan Mikuo berdiri menantinya. Wajah Mikuo penuh dengan perhatian sementara wajah Len terlihat malas.

"Apa kau sudah membawa semua pakaianmu?" Mikuo bertanya penuh hormat, Rin mengangguk datar.

"Kenapa sih gadis merepotkan ini harus tinggal di rumah kita! Memangnya mana orangtuamu!"

Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan.

Mikuo melotot pada Len tetapi tidak dihiraukan oleh pemuda itu. Rin juga memilih tidak menanggapi pernyataan sadis Len. Gadis itu memilih menarik koper-koper bajunya dan berjalan keluar. Tangannya memluk bonekanya dengan erat.

"Hei! Kau bisu ya!" teriak Len. Tetapi Rin tetap memilih menutup mulutnya.

Len sudah tidak sabar lagi. Sebelum Mikuo sempat mencegahnya, Len telah menarik kasar lengan gadis itu. Pemuda itu memaksa Rin menghadap kearahnya.

"Jawab pertanyaanku!" perintah Len, tetapi Rin tetap terdiam.

Mikuo hendak melepas cengkaraman Len dari Rin sebelum akhirnya berhenti. Mikuo merasakan aura kemarahan yang sangat kuat dari Len dan aura yang dingin dari Rin.

"Orangtuaku telah meninggal dalam insiden bukit 10 tahun yang lalu," jelas Rin sambil melepaskan dirinya dari cengkeraman Len. Len sendiri terdiam mendengar insiden bukit 10 tahun yang lalu kembali diungkit.

"Lagipula, kau memang harus bertanggung jawab padaku," desis Rin.

"Bukankah kau sudah menjualku pada pemerintah?"

Len terdiam, tidak memiliki kata-kata untuk membalas. Rin terus berjalan diikuti oleh Mikuo dan Len yang masih terdiam. Mereka bertiga terus berjalan hingga akhirnya keluar dari gedung apartemen. Ricuhnya gerombolan masyarakat, lampu blits yang bersinar bergantian dan ocehan wartawan yang menginginkan jawaban terus berseliweran. Agen pemerintah dunia sedikit kesulitan untuk menahan kumpulan masyarakat tersebut, walau begitu mereka semua berusaha untuk mencegah agar tidak mendekati baik Len, Rin maupun Mikuo.

"Nona Kamine Rin, anda High Summoner selanjutnya bukan?"

"Kenapa anda menyembunyikan diri anda selama ini?"

"Bagaimana menurut anda mengenai kekuatan gelap Bahamut yang telah muncul?"

"Tolong berikan komentar anda!"

Kamine Rin berhenti, mengamati sosok para wartawan yang menuntut jawaban dari dirinya. Rin tersenyum, entah kenapa Len malah merasa bergidik melihat senyum Rin. Rin membuka mulutnya, hendak menjawab.

"Tenang saja, satu tahun dan delapan bulan lagi hingga segel itu terlepas. Pada saat itu SESUAI KEINGINAN KALIAN SEMUA, saya akan MATI demi melindungi kalian,"

Len bersumpah, Rin meliriknya dengan tatapan yang tak dapat diartikan pada saat gadis itu menekankan kata 'mati'.


~000~


"Insiden bukit ya," hembus Mikuo. Len hanya mengangkat alis, tanda tak paham.

Saat ini baik Mikuo maupun Len telah berada di rumah Kagamine, sebuah rumah yang luas bergaya Jepang kuno.

"Apa kau tahu insiden apa itu?" Mikuo memancing Len.

"Bukankah itu kecelakaan yang disebabkan oleh jatuhnya batuan dari bukit, tanah longsor biasa bukan?" Len memastikan, tetapi Mikuo menggelengkan kepalanya.

"Insiden itu terjadi akibat kekuatan gelap Bahamut," jelas Mikuo singkat.

"Apa maksudnya? Kenapa kekuatan gelap sudah ada sejak 8 tahun yang lalu? Bukankah sudah tersegel?" Len menuntut tetapi Mikuo hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.

"Entahlah, mungkin ada sesuatu yang salah pada saat Miku menyegel Bahamut," Mikuo mengakhiri topik tersebut.

"Tapi...apa kau yakin?" lanjut Mikuo. Len memandang Mikuo, belum paham dengan topik yang baru.

"Kenapa kau melaporkan mengenai keberadaan Rin-sama sebagai High Summoner kepada pemerintah?"

"Apa itu salah?"

"Yah, aku tidak bisa bilang salah, karena saat ini adalah waktumu untuk melindunginya. Kau bebas mengambil keputusan yang menurutmu akan melindungi keberadaan High Summoner. Tapi jujur saja, aku tidak begitu suka keputusanmu," Mikuo berdiri dan merenggangkan tubuhnya.

"Kenapa?"

"Kau lupa Len? High Summoner memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa, pemerintah juga pasti mengincar kekuatan itu untuk diri mereka sendiri,"

Len membulatkan matanya, ia melupakan satu fakta penting itu.

"Yah, tapi itu semua keputusanmu. Berjuanglah untuk melindunginya," Mikuo melangkahkan kakinya, hendak memasuki rumah.

"Anda akan membantuku 'kan?" Len memastikan. Mikuo menolehkan kepalanya dan tersenyum kecil.

"Jika umurku masih panjang," gumamnya sebelum melanjutkan langkahnya.


~000~


Suasana makan malam saat itu sangat canggung. Aura pertengkaran yang berkobar hebat antara Rin dan Len telah mempengaruhi suasana makan malam saat itu. Padahal Kaito telah mencoba untuk mencairkan suasana, tetapi pria itu harus menyerah menghadapi atmosfer yang berat itu. Makan malam berjalan dalam suasana diam sehingga event itu selesai dalam waktu 20 menit.

"Mulai sekarang ini adalah kamarmu, tidak perlu sungkan kepada kami Rin-chan," Meiko menepuk tempat tidur yang baru diganti spreinya, memandang Rin dengan lembut.

"Terima kasih, maaf merepotkan," lirih Rin, merasa tidak enak.

"Tidak perlu begitu, kami malah senang. Seperti punya anak kembar, betul 'kan Meiko?" Kaito yang berdiri di samping Rin mengelus kepala Rin dengan sayang. Meiko dan Kaito telah menganggap Rin seperti anak mereka sendiri.

"Saya mohon maaf telah merepotkan," Rin semakin menundukkan kepalanya. Meiko dan Kaito mendesahkan napas, tersenyum.

"Baiklah kami pergi dulu, perubahan suasana yang mendadak ini pasti membuatmu lelah,"

"Selamat tidur, Rin-chan,"

Pintu kamar Rin menutup, gadis itu langsung merebahkan dirinya di kasur.

"Seatap dengan Len-kun,"


~000~


Sesosok gelap berjalan di jalan yang gelap. Langkahnya mantap tetapi tidak menimbulkan suara. Saat sosok itu telah sampai di depan sebuah gedung sederhana berwarna putih, ia berhenti. Ia mengamati keadaan gedung itu, memperhatikannya dengan seksama. Sosok itu terus mengamati gedung sederhana itu hingga mendadak muncul percikan api besar yang langsung melalap gedung itu.

"Tinggal 90 lagi," gumam sosok itu.

Sosok itu perlahan menipis, menghilang dari pandangan.


~000~


Rin duduk di tempat tidurnya. Napasnya memburu, peluh mengalir dari keningnya.

"Rin-chan ada apa?" Meiko menghambur masuk ke kamar Rin dan menghampiri Rin yang ada di tempat tidur. Rin langsung memeluk perut Meiko, tubuh gadis itu gemetar. Awalnya Meiko terkejut, tetapi wanita itu balas memeluk tubuh gemetar Rin.

"Maafkan aku, maafkan aku, mafkan aku," bisik Rin terus menerus.

Meiko tidak paham, tetapi ia hanya terdiam. Membiarkan dirinya dipeluk oleh Rin dan kembali membalas pelukan gadis kecil itu. Tangannya mengelus kepala Rin, berusaha menenangkan gadis itu. Rin masih membisikkan kalimat yang sama, Meiko hanya mampu berusaha menenangkannya.

"Maafkan aku, Ibu," lirih Rin. Air mata meleleh dari matanya.

Meiko memandang Rin dengan tatapan lembut, rupanya Rin mengigau. Sepertinya gadis kecil malang itu baru saja bermimpi buruk. Meiko kembali menidurkan Rin dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rin, tetapi gadis itu tidak melepaskan tangannya.

"Ibu, jangan marah," gumam Rin. Meiko tersenyum lembut sekaligus merasa kasihan.

"Ibu tidak marah, sayang," bisik Meiko lembut. Sepertinya Rin mendengarkan gumaman kecil Meiko karena setelah itu wajah gadis itu terlhat tenang dan melepaskan tangan Meiko. Wanita lembut itu memperbaiki selimut Rin dan kemudian meninggalkan kamar itu.

"Rin-chan mimpi buruk?" Kaito menunggu di depan kamar Rin.

"Sudah kembali tertidur," jawab Meiko lembut.

"Baguslah," Kaito merasa lega.

"Gadis itu..," Meiko menggantung ucapannya, Kaito menatap dengan penasaran.

"Hanya perasaanku, tapi gadis itu, tampaknya sudah melewati banyak kesulitan dalam hidupnya," Meiko menghela napasnya.

"Gadis itu adalah High Summoner, pasti ada banyak kejadian yang membuatnya menderita," jelas Kaito.

"Bukankah itu sebabnya, kita akan menganggap gadis itu sebagai anak kita sendiri. Gadis itu membutuhkan dukungan, dengan hubungan Len dan gadis itu yang selalu bertengkar, aku rasa Len tidak akan bisa mensupport gadis itu," lanjut Kaito.

Meiko mengamati Kaito.

"Kau tidak sadar ya, Kaito?" Meiko bertanya.

"Aku tidak sadar apa?" Kaito balik bertanya. Meiko hanya terkikik geli.

"Tidak apa, nanti kau dan Len juga akan sadar," Meiko meninggalkan Kaito.

"Hei, aku dan Len tidak sadar apa?" Kaito mengejar langkah istrinya.


~000~


Rin membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya saat membuka matanya adalah wajah Meiko.

"Meiko-sama, kenapa-?"

"Hushh, Rin-chan. Kamu demam," Meiko menempelkan tangannya di dahi Rin, merasakan suhu tubuh gadis itu.

"Lebih baik hari ini kamu beristirahat. Lagipula kuliah diliburkan selama satu semester untuk memperbaiki bangunan yang rusak 'kan?" ujar Meiko lembut.

Rin menutup matanya, menikmati sentuhan dari Meiko. Tanpa sadar, air mata Rin mengalir.

"Rin-chan, kenapa?" lirih Meiko khawatir.

"Sudah lama sekali, sejak terakhir ibuku menyentuh dahiku," gumam Rin kecil.

Meiko hanya terdiam, tidak yakin harus mengucapkan apa. Akan tetapi Meiko memperbanyak sentuhan lembutnya, meyakinkan bahwa Rin juga mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari dirinya.

"Tidurlah Rin-chan," bisik Meiko lembut.

Rin kembali tenang. Gadis itu telah terlelap dalam tidurnya. Meiko keluar dari kamar, hendak mengganti air kompresan.

"Dia sakit, Bu?"

Len berdiri di depan kamar Rin. Wajah pemuda itu seolah tidak peduli, tetapi Meiko tidak dapat ditipu. Sorot mata anaknya itu menunjukkan kekhawatiran.

"Bagaimana kalau kamu lihat sendiri?" Meiko menyarankan, tetapi Len membuang mukanya.

"Aku tidak mau," gumamnya sambil melangkah pergi.

Meiko hanya menghela napas.


~000~


"Total telah terjadi 100 kasus kebakaran pada gedung penelitian pemerintah dunia-,"

"Wah...wah, lagi-lagi kebakaran?" Mikuo menimpali sambil memasuk ruang makan. Tak ada yang menjawab, walaupun Mikuo juga tidak mengharapkan jawaban.

"Kira-kira apa sebabnya, ya?" timpal Kaito yang lagi-lagi tidak ada yang menanggapi.

"Pelakunya pasti orang yang hebat, mampu lolos dari pemerintah dunia," Len menimpali sambil mengunyah roti bakarnya.

"Len, jangan bicara jika mulut penuh," Meiko menegur.

Suasana sarapan pagi yang damai.

"Bagaimana keadaan Rin-sama?" Mikuo memandang Meiko.

"Sepertinya hanya kelelahan, kita akan lihat dulu sebentar. Jika malam ini demamnya belum turun maka akan kita panggilkan dokter," lapor Meiko.

"Apa tidak lebih baik sekarang saja dipanggil dokter?" Kaito menimpali.

"Tidak apa-apa, kita akan lihat keadaan Rin-chan sebentar lagi," Meiko menenangkan. Mikuo dan Kaito hanya mengangguk menyetujui.

Len hanya terdiam, walau dalam hatinya ia juga mengkhawatirkan keadaan Rin. Akan tetapi gengsinya menguat, kenapa ia harus khawatir kepada gadis yang menyebalkan seperti Kamine Rin?

"Len, kau tidak khawatir dengan keadaan Rin-chan?" Kaito mengoda Len.

"Aku sudah selesai," Len bangkit dari kursinya dan keluar dari ruang makan.

Len melangkahkan kakinya ke luar rumah. Ia ingin melatih kekuatan imaginasinya sebentar sambil berolahraga dan menghirup udara segar. Baru saja Len melangkahkan kakinya di halaman rumah, ia mendnegar suara nyanyian yang begitu merdu. Penasaran ia mencoba melihat sekelilingnya, tak ada tanda-tanda siapapun.

Len menutup telinganya, mencoba berkonsentrasi. Ia mengarahkan pandangannya ke atas, suara nyanyian itu berasal dari atas. Tepatnya dari kamar yang sekarang sedang ditempati oleh Rin. Len ragu-ragu, ia penasaran dengan suara nyanyian tersebut tetapi merasa gengsi untuk mengintip ke kamar gadis menyebalkan itu. Akhirnya, rasa gengsi pemuda itu kalah dan ia meloncat ke atas dan mendarat di atap, tepatnya di luar jendela kamar gadis tersebut.

Dengan cepat Len mengintip ke dalam kamar gadis itu, tak mau disebut sebagai tukang ngintip. Itupun masih bagus. Dengan mulut cerewet dan sadis gadis itu, Len tak yakin gadis itu akan menyebutnya apa selain dengan sebutan tukang ngintip. Saat Len mampu melihat ke dalam kamar, pemuda itu melihat bahwa Rin masih tertidur. Akan tetapi, kepala gadis itu berbaring di pangkuan sebuah atau seorang - Len tidak yakin - nature spirit yang kalau tidak salah adalah sang song sprit, Diva. Gadis itu tampak tidur dengan tenang, tangan spirit itu mengelus rambut Rin dengan lembut. Len terduduk di atap dan bersender di dinding luar jendela, mencoba menikmati nyanyian lagu tersebut.

"Sudah lama sekali aku tak mendengar lagu ini,"

Len hampir jatuh saking kagetnya. Tak disangka, ternyata Mikuo sedang duduk disebelahnya.

"Kapan anda datang?"

"Hmm, baru saja," jawab Mikuo dengan wajah Innocence.

"Saya tak merasakan aura anda," keluh Len.

"Berarti kau harus berlatih lebih keras lagi," ujar Mikuo gamblang, Len hanya mendesah napas.

"Tadi anda bilang sudah lama tak mendengar lagu ini?"

"Hmm? Ah, iya...Dulu Miku serinh sekali menyanyikan lagu ini. Lagu ini juga lagu yang kudengar pertama kali saat bertemu dengannya," jelas Mikuo sambil menutup mata. Len juga ikut menyenderkan kepalanya ke dinding, menutup matanya.

"Lagu yang tenang kan?"

Len hanya mengangguk lemah. Lagu itu terasa menenangkan, membuat malas.

"Lagu ini adalah lagu penyembuhan juga lagu yang tenang untuk mengantarkan kepergian korban yang terbunuh akibat kekuatan Bahamut. Yah, begitulah yang dijelaskan Miku," Mikuo menjelaskan dengan suara lirih, tapi Len tidak menyadarinya.

Tak lama kemudian, mereka berdua malah terlelap di atap sambil mendengarkan lagu yang tenang tersebut.


~000~


Len membuka matanya, merasakan silau terik matahari. Ia melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 11 siang.

"Kalian sedang apa di depan jendelaku?"

Len tersentak dan hampir terjatuh kembali. Saat Len memandang ke arah jendela, Rin sudah bersender di jendela sambil menopang dagu, memperhatikan Len dan Mikuo.

"Sedang duduk," ujar Len asal, Rin menaikkan alisnya.

"Di depan jendela kamarku? Memangnya tidak ada tempat lain untuk duduk?"

"Maaf, tadi kami mendegar suara nyanyian Diva dan tiba-tiba saja kami tertidur," ujar Mikuo. Entah sejak kapan ex-knight itu terbangun.

"Bagaimana keadaan anda?" Mikuo kembali bertanya.

"Sudah lebih baik," jawab Rin lirih.

"Tentu saja, nyanyian Diva telah membuat anda sembuh, kan?"

Rin hanya mengangguk pelan. Len berdiri dari atap tetapi tidak memandangi Rin.

"Lebih baik kau makan sekarang, orangtuaku khawatir padamu," ujarnya sebelum akhirnya meloncat turun ke tanah. Rin hanya terdiam memperhatikan Len yang meloncat turun.

"Anda tahu Rin-sama? Len sebenarnya sangat peduli pada anda," Mikuo agak geli dengan sikap Len yang sebenarnya peduli tapi tidak mau kelihatan peduli pada Rin.

Rin hanya tersenyum geli pada Mikuo. Itu adalah senyum pertama kali yang Rin tunjukkan pada orang-orang yang memiliki takdir terkait dengan dirinya.

"Sepertinya saya tidak bisa membohongi anda," ujarnya masih tersenyum.

"Yah, anda bisa membohongi Len tapi tidak bisa membohongi saya maupun orangtua Len. Oh, mungkin tepatnya anda tak bisa membohongi saya dan Meiko-chan,"

Rin sedikit tersentak mendengar penjelasan Mikuo.

"Kenapa?"

"Yah, anda tahu. Kami semua pernah muda kan?" Mikuo tersenyum misterius, tetapi seakan Rin memahami maksud Mikuo.

"Tolong, jangan katakan pada Len-kun,"

"Tenang saja, saya tidak ada niat untuk mengatakannya pada Len," Mikuo tersenyum pada Rin, Rin sendiri membalas senyum Mikuo.

Mikuo berdiri dari atap dan hendak meloncat turun sebelum akhirnya mengurungkan niatnya.

"Rin-sama, apakah anda...," Mikuo menggantungkan kalimatnya, Rin hanya tersenyum tak mengerti.

"Tidak, selama saya masih hidup saya akan berusaha melindungi anda," ujarnya.

"Ah, Mikuo-sama," Rin refleks berteriak, membuat Mikuo hampir terjatuh dari atap.

"Maaf, tapi Miku-neesama mempunyai pesan terakhir untuk anda mengenai hal ini," Rin merasa tidak nyaman.

"Nee-sama berharap agar anda hidup bahagia, jauh dari semua takdir ini," Rin berbisik lirih.

Mikuo mengejapkan matanya sebentar sebelum akhirnya tersenyum.

"Inilah kebahagiaanku sekarang. Aku tak akan pernah merasa menyesal telah bertemu dengan anda dan membantu Len," ujar Mikuo sambil mengelus lembut kepala Rin. Rin hanya terdiam.

"Lebih baik anda turun untuk makan sekarang," ujar Mikuo sambil melompat turun.

Rin mendesahkan napas dan memandang langit diatasnya. Matanya menerawang jauh.


~000~


Sosok gelap itu berdiri, memandangi gedung yang sedang dilalap api di depannya. Api yang melalap gedung itu terlalu besar sehingga hanya mampu memperlihatkan siluet sosok gelap tersebut.

"Maafkan aku, maafkan aku,"


~000~


A/N:
jadi...bagaimana? maaf kalau misstypo bertebaran dan apakah alurnya cepat/lambat? Review ya...