A/N:
sekia lama~ akhirnya saya menulis lagi. Saya lagi suntuk, inget deh ada hutang...adu kok jadi curcol~ ya udah deh, baca aja ya...

Alert: Typo bertebaran dimana-mana...harap maklum dan di review tolong kasih tahu dimana posisi typonya, kalau ada waktu saya coba perbaikin.

Disclaimer: Ciyus? Miapa Vocaloid punya saya?


KEDAMAIAN SESAAT

.

.

Meiko mengamati wajah Rin dengan serius, sesekali tangan wanita itu meraba dahi, pipi dan leher Rin berulang kali. Akhirnya ia melepaskan tangannya dari tubuh Rin sebelum akhirnya mengangguk puas.

"Demammu sudah turun, tapi tetap harus beristirahat," Meiko tersenyum lega disusul helaan napas lega Kaito.

"Apa tidak perlu kita panggil dokter untuk lebih yakin?" Mikuo memastikan, gelengan kepala Meiko yang meyakinkan cukup membungkam Mikuo.

"Cuma terlalu lelah, tidak masalah. Lebih baik sekarang Rin-chan makan, lalu minum obat dan tidur lagi," ujar Meiko dengan nada yang tak bisa dibantah. Rin hanya mengangguk setuju. Tak lama Kaito dan Meiko meninggalkan kamar Rin. Mikuo masih berada di kamar gadis itu, menyebabkan Rin menatapnya dengan pandangan heran.

"Bolehkah saya menanyakan sesuatu?" tanya Mikuo dengan rasa hormat, Rin mengangkat alis tapi mengangguk untuk membolehkan.

"Bagaimana anda tahu mengenai pesan terakhir Miku?" Mikuo menatap Rin langsung. Rin sesaat terdiam, wajahnya tampak heran. Sesaat ia mengarahkan bola matanya ke atas, seakan sedang berpikir.

"Ah benar juga, Miku-nee sama memang tidak pernah menceritakannya pada anda," bisik Rin. Mikuo hanya memandang dengan heran.

"Anda tentu tahu, bahwa kami para High Summoner merupakan keturunan bangsa dewa,"

Mikuo mengangguk, ia sudah tahu fakta itu.

"Apakah anda tahu, bahwa semakin lama kekuatan kami semakin berkurang dikarenakan darah bangsa dewa kami bercampur dengan darah manusia, menyebabkan kekuatan kami melemah?"

Mikuo mengangguk lagi.

"Tak pernahkah anda bertanya, mengapa kami yang istilahnya 'berdarah campuran' masih memiliki kemampuan bangsa dewa? Kami bahkan masih mampu menaklukkan dan masih berusaha membunuh Bahamut,"

Mikuo memandang lantai, sebenarnya sejak ia diangkat sebagai Knight bahkan sampai sekarang ia masih mempertanyakan hal itu. Kenapa High Summoner masih memiliki kemampuan dewa padahal darah mereka sudah tercampur dengan manusia?

"Itu karena leluhur awal kami, High Summoner pertama yang telah menciptakan semacam 'kutukan' bagi kami, High Summoner selanjutnya," Rin seakan menjawab pertanyaan dalam benak Mikuo.

Mikuo mengangkat alisnya, tanda tak paham.

"Setiap High Summoner meninggal setelah selesai menyegel Bahamut, pada hari dan waktu yang sama High Summoner yang baru akan lahir,"Rin berusaha menjelaskan.

"Saya lahir tepat saat Miku-neesama selesai menyegel Bahamut pada 18 tahun 2 bulan yang lalu," jelas Rin.

"Apakah itu berarti, anda adalah reinkarnasi Miku?" Mikuo tampak tidak yakin. Tapi ia mengingat pertemuan pertama antara Mikuo dengan Rin, untuk sesaat memang Mikuo melihat sosok Miku dalam diri Rin.

"Tidak tepat begitu. Saya memang mewarisi ingatan dan kekuatan dari Miku-neesama, tetapi saya adalah individu yang berbeda dari beliau," ujar Rin. Gadis itu juga bingung bagaimana menjelaskan hal ini pada Mikuo.

Mikuo masih menatap Rin dengan pandangan bingung dan tidak yakin.

"Intinya, saya dan Miku-neesama adalah satu keluarga, karena kami sama-sama keturunan keluarga bangsa dewa. Hanya saja saya mewarisi ingatan dan kekuatan dari para High Summoner sebelumnya. Karena itulah, saya mengingat semua kenangan, tidak hanya kenangan Miku-neesama, tetapi juga kenangan Miki-sama, Haku-sama dan para High Summoner sebelumnya," jelas Rin singkat, berharap Mikuo paham maksud gadis itu.

"Kenapa bisa begitu?" Mikuo masih belum paham.

"Yah, High Summoner pertama berharap jika High Summoner selanjutnya mewarisi ingatan maupun kekuatan High Summoner sebelumnya, maka High Summoner yang berikutnya mampu membunuh Bahamut untuk selamanya,"

"Jadi selama ini, High Summoner hanya mampu menyegel-,"

"Karena kami belum memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh Bahamut," potong Rin.

"Tapi, anda juga melihatnya kan? Miku-neesama memiliki kekuatan yang seimbang dengan Bahamut," Rin memastikan, Mikuo mengangguk.

"Karena itulah, saya berharap saya memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh Bahamut," bisik Rin penuh harap.

"Lalu, apakah anda juga akan kehilangan nyawa anda?" Mikuo juga ikut berbisik. Rin menatap Mikuo dan mengangkat bahu, tanda tak tahu.

"Siapa yang tahu? Bagi saya, matipun tak masalah," gumam Rin lirih. Mikuo memasang wajah tak suka, tetapi tidak protes.

"Lalu pesan terakhir Miku itu...," ujar Mikuo lambat-lambat. Rin memasang wajah meminta maaf.

"Maaf, waktu itu sesaat sebelum Miku-neesama menghilang. Ia menitipkan pesan terakhirnya kepada High Summoner berikutnya dan berharap agar pesan itu disampaikan kepada anda," Rin memasang wajah meminta maaf.

Mikuo memasang wajah datar tetapi pandangan matanya begitu sedih. Rin tak berani berbicara apa-apa, ia membiarkan suasan senyap dan hening. Tak lama kemudian Meiko membawakan Rin makanan dan memaksa Rin untuk makan. Meiko juga bersikeras menunggu Rin menyelesaikan makannya dan mengawasinya untuk minum obat sebelum akhirnya meninggalkan kamar Rin.

"Seperti ibuku," lirih Rin, tapi Mikuo dapat menangkap bisik lirih Rin.

"Maafkan saya, saya tak mampu mencegah insiden bukit," Mikuo meminta maaf dengan suara tersendat.

"Tidak apa-apa Mikuo-sama. Itu sudah lama berlalu," Rin tersenyum menenangkan.

"Apakah itu perbuatan kekuatan gelap bayangan Bahamut?" Mikuo bertanya dengan ragu-ragu.

"Bukan, itu adalah perbuatan Bahamut," ujar Rin tegas.

"Tapi, bagaimana? Ia baru disegel 8 tahun saat insiden bukit itu terjadi," Mikuo seakan kehabisan kata-kata.

Rin sudah membuka mulutnya hendak menjelaskan, tetapi gadis itu ragu-ragu dan menutup kembali mulutnya.

"Jika sudah waktunya, saya akan menjelaskannya pada anda," ujar Rin dengan tidak yakin. Wajahnya terpaling ke arah lain, tidak ingin menatap mata Mikuo.

Mikuo paham, Rin telah menyuruhnya keluar dari kamarnya secara tidak langsung. Saat Mikuo hendak mencapai kenop pintu, Rin memanggilnya kembali.

"Mikuo-sama, apapun yang terjadi maukah anda berjanji pada saya untuk tidak menceritakan segala hal yang anda ketahui dan anda dengar dari saya kepada Len-kun?"

Mikuo bimbang sejenak sebelum akhirya menjawab,

"Maaf Rin-sama, tapi tugas Knight adalah melindungi High Summoner. Apapun yang terjadi, kami harus mengetahui semua tentang High Summoner sehingga kami mampu melindunginya. Begitu pula Len, ia harus tahu semuanya tentang anda," Mikuo menolak.

Rin memandang lantai, menggigit bibirnya. Mikuo kembali mencapai kenop pintu.

"Apakah-,"

"Tenang saja, saya tidak akan memberitahukan semuanya. Saya hanya akan memberitahu kepada Len apa saja yang ia perlu tahu. Selain itu, saya tidak akan memberitahu apa-apa," Mikuo membuka pintu kamar Rin. Wajah Rin terlihat tidak yakin walaupun sudah lebih tenang. Mikuo melangkah dan menutup pintu kamar Rin. Sebelum pergi, ia bersender sebentar di pintu.

"Harusnya cukup kami berdua saja, tetapi kenapa Rin-sama saja juga harus mengalami ini," lirih Mikuo.


~000~


Len berkonsentrasi pada kekuatannya, tak lama kemudian muncul cahaya di kedua tangannya dan terbentuklah dua pasang pedang berukuran sedang.

"Hmm, muncul tiga detik," gumam Len.

"Tidak bagus, tiga detik masih terlalu lama dalam sebuah pertarungan," Len masih bergumam sendiri.

Len mengeratkan genggamannya dan kembali mengenang semua kejadian yang telah terjadi setelah ia diangkat menjadi seorang Knight. Len merasa sebal dengan dirinya sendiri. Dalam hati ia mengakui kata-kata Rin, ia masih terlalu lemah sebagai seorang Knight. Walaupun enggan mengakui, Len juga memahami bahwa Rin lebih dari mampu untuk melindungi dirinya sendiri berkat kekuatan bangsa dewa milik gadis itu. Len bertanya-tanya sendiri, kenapa High Summoner membutuhkan seorang Knight jika mereka sangat kuat.

Len terdiam, memikirkan apa yang harus dilakukan agar dirinya menjadi semakin kuat. Jujur saja, pemuda itu merasa muak dengan tatapan meremehkan dari gadis summoner itu. Saat Len sedang berkonsentrasi berpikir tiba-tiba,

PRAKKKK

Bunyi besi beradu, Len menahan serangan dengan pedang yang telah ia siapkan. Namun karena Len agak lengah, luka tipis memanjang telah berada di pipinya. Dengan sekuat tenaga Len meloncat ke belakang, berusaha memperbesar jaraknya dengan sang penyerang. Saat Len kembali memperhatikan, ternyata yang menyerangnya adalah Lumiere, sang Light Spirit milik Rin.

"Kau lengah,"

Len paling sebal mendengar suara itu. Tak salah lagi itu adalah suara Rin. Len mengarahkan pandangannya ke arah atas, arah jendela kamar Rin berada. Di jendela itu, Rin memperhatikan Len dengan pandangan malas sambil bertopang dagu.

"Kamine!" Len bergumam dengan nada geram sekaligus malas.

Gadis yang dipanggil namanya hanya memutar bola matanya, seakan malas.

"Sudah kukatakan 'kan? Kau itu lemah," sindir Rin. Len hanya menggeram marah. Dengan sekuat tenaga Len menyerang Lumiere, akan tetapi spirit itu dapat menahan semua serangan Len.

Lumiere menyarangkan sebuah serangan. Serangan itu begitu kuat sehingga memecahkan pedang imajinasi milik Len. Saat pemuda itu hendak berkonsentrasi kembali untuk membentuk pedangnya, pedang Lumiere telah berhenti di lehernya. Bersiap untuk menebas.

"Cukup Lumiere,"

Spirit itu mematuhi perintah Rin dan menghilang dari pandangan. Len masih terpaku di posisinya.

"Sudah kukatakan bukan? Kau itu lemah,"

Rin menghilang dari jendelanya, meninggalkan Len yang masih terdiam. Dengan perasaan murka, pemuda itu memukul tanah yang ia pijak dengan tinjunya.

"Sial," rutuk Len.


~000~


Rin meninggalkan kamarnya. Gadis itu hendak berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Lagipula ia sudah terkurung selama gadis itu sakit, jadi rasanya tidak begitu berbahaya untuk berjalan-jalan di lingkungan rumah yang sekarang ia tinggali. Gadis itu terus berjalan hingga menemukan sebuah pintu bertuliskan perpustakaan. Dengan perasaan penasaran dan tertarik, gadis itu memasuki ruangan tersebut. Ruangan itu cukup luas dengan berderet-deret rak buku. Rin merasa terpesona, gadis itu memang hobi membaca.

Rin mendekati rak buku terdekat dan membaca semua judul yang terpampang di buku-buku tersebut. Beberapa buku memiliki judul, beberapa buku berukuran seperti kitab hingga sebesar buku saku. Rin belum tertarik untuk membaca salah satu buku, tetapi gadis itu meneliti semua judul yang ada di rak-rak buku tersebut. Rin terus berjalan hingga ia tiba di sebuah meja panjang yang dikelilingi beberapa kursi. Diatas meja terdapat sebuh globe.

Rin menjangkau globe tersebut dan menariknya ke arah gadis itu. Dengan ragu-ragu gadis itu memutar globe itu dengan kecepatan lemah. Gadis itu terus memutar globe itu hingga berputar dengan kecepatan yang kencang sebelum akhirnya memposisikan kedua tangannya diantara globe tesebut – tangan Rin tidak menyentuh globe tersebut. Gadis itu menutup matanya seakan berkonsentrasi terhadap sesuatu. Rin terdiam dalam posisi tersebut meskipun globe yang berada di antara kedua tangannya telah berhenti berputar.

Seketika Rin membuka matanya saat itu juga beberapa titik di seluruh permukaan globe mengeluarkan percikan api kecil. Rin kaget sehingga mundur beberapa langkah tetapi gadis itu dapat menguasai dirinya. Seperti kemunculannya, api itu dalam sekejap langsung menghilang, hanya menyisakan bekas terbakar yang tipis di permukaan globe. Rin memperhatikan sejenak bekas terbakar yang ada sebelum akhirnya menghela napas.

"Membenciku, mungkin itu akan lebih mudah bagi kalian, juga baginya," gumam gadis itu pelan.

Rin menghela napas. Gadis itu melepaskan pandangannya dari globe sebelum akhirnya melangkah pergi dari ruangan tersebut.

Mikuo keluar dari persembunyiannya di salah satu sudut rak buku yang gelap. Pria itu menghampiri globe yang terletak diatas meja, jarinya menyentuh titik hangus pada globe tersebut. Matanya memandang dengan penuh perhatian, sesaat ia memutar globe tersebut dengan perlahan, memperhatikan bekas hangus yang ada.

"Apa ini?" gumam pria itu tidak mengerti.


~000~


Rin melangkahkan kakinya menuju taman samping rumah, matanya menatap sosok Kagamine Len yang sedang terengah. Rin segera menyembunyikan dirinya, tak ingin terlihat. Ia mengamati pemuda itu dengan seksama, sorot matanya berubah menjadi sendu.

Len sedang berkonsentrasi, ia kembali merealisasikan senjatanya. Rin menatap dengan sedikit kagum, gadis itu menghitung bahwa Len mampu menciptakan senjata dalam satu detik. Rin memuji kemampuan Len dalam hati, tetapi gadis itu tidak akan mengakui kekagumannya melalui ucapannya. Dalam hatinya gadis itu mengakui sebenarnya Len memang sangat hebat, tetapi ia tidak ingin Len terlibat semua masalah ini. Sudah cukup para Knight terdahulu yang mengalami penderitaan dan kesedihan karena High Summoner, ia tidak ingin Len juga mengalami kepedihan tersebut. Karena itulah Rin selalu menyakiti harga diri Len.

Rin kembali memperhatikan sosok Len yang masih berkonsentrasi. Perlahan gadis itu melangkah menjauhi tempat itu, tidak ingin menganggu konsentrasi pemuda itu. Atau yang gadis itu pikir.

Len menegakkan tubuhnya dan menghembuskan napas. Ia mengarahkan pandangannya ke arah dimana Rin berada sebelumnya. Matanya menyipit sedikit sebelum akhirnya kembali berlatih. Tidak berusaha memikirkan lebih jauh lagi.


~000~


Rin melangkahkan kakinya menuju dapur, dimana Meiko sedang menyiapkan makan malam. Meiko yang menyadari kehadiran Rin langsung membalikkan tubuhnya, mengelap tangannya yang basah dengan celemek putihnya.

"Rin-chan, bagaimana keadaanmu?"

"Sudah lebih baik,"

Meiko seakan tidak mendengarkan dan langsung menempelkan tangannya di dahi Rin, memeriksa suhu tubuh gadis tersebut. Tak lama kemudian Meiko mengangguk kecil, tanda berkenan dengan keadaan Rin.

"Tapi tetap saja, kau tidak boleh terlalu lelah, nona muda," ujar Meiko dengan suara yang kalem. Rin hanya bisa tersenyum lembut dan mengangguk patuh.

Meiko kembali berkonsentrasi pada masakannya. Rin yang tadinya hanya diam memandang akhirnya ikut membantu. Semula Meiko menolak dengan alasan gadis itu harus lebih banya beristirahat, tapi tentu saja Rin bukanlah gadis yang menyerah dengan mudah. Dengan berat hati Meiko membiarkan Rin membantunya memasak, bereksperimen dengan berbagai macam bahan masakan.

"Kehidupan yang begitu damai," gumam Rin dalam hati.


~000~


"Berita selanjutnya, pemerintah Jepang-,"

Mikuo, Kaito dan Len sedang duduk dengan tenang di meja makan, menunggu makan malam sambil menonton televisi. Tak ada berita yang menarik kecuali kembali terjadi kebakaran gedung penelitian milik pemerintah dunia. Total 150 gedung dari 190 gedung penelitian yang telah dimusnahkan dalam api. Beberapa pihak berspekulasi bahwa peristiwa ini merupakan konspirasi non-pemerintah untuk membuat dunia merasa panik.

"Seperti Bahamut tidak cukup saja untuk membuat panik," desah Mikuo. Tak ada yang menanggapi dan Mikuo pun tidak mengharapkan respon balik.

"Ayo, waktunya makan malam," ujar Meiko sambil membawa panci yang masih berasap sambil diikuti Rin.

Setelah beberapa saat menata meja, akhirnya mereka semua duduk berkumpul untuk menikmati makan malam. Rin mengamati suasana makan malam. Percakapan ringan mengalir dengan normal di meja makan, mereka saling berbincang dan mengomentari berbagai macam masalah. Gadis itu sendiri lebih memilih untuk menikmati suasana makan malam tersebut dalam diam. Sudah lama sekali gadis itu tidak mengalami suasana seperti ini, suasana damai penuh kekeluargaan. Terakhir kali gadis itu menikmati makan malam yang menyenangkan adalah sehari sebelum terjadinya insiden bukit 10 tahun yang lalu. Diam-diam Rin mersa bersyukur sempat menikmati suasana damai seperti ini.

"Walaupun hanya sebentar tapi ini sudah cukup bagiku," gumam Rin dalam hati, menikmati sup buatan Meiko.

"..in-sama,"

Rin tersentak sebelum akhirnya menyadari bahwa ia melamun.

"Bagaimana keadaan anda?" tanya Kaito dengan penuh perhatian.

Sesaat Rin terdiam sebelum akhirnya menunjukkan senyumnya yang manis, "Saya baik-baik saja."


~000~


Sesaat Len terpana, tak menyangka bahwa ia akan melihat senyum Rin. Jujur saja, ini pertama kalinya bagi pemuda itu untuk melihat sisi manis dari gadis itu. Selama ini interaksi mereka dipenuhi dengan kata-kata sinis dan sindiran, serta pertengkaran yang tak pernah berhenti, jadi wajar saja hanya sikap sinis gadis itu yang berkesan bagi Len.

Saat ini, setelah Len melihat sisi manis gadis itu, mau tak mau Len terpana. Matanya masih melekat pada Rin yang saat ini tengah memasang ekspresi kikuk disertai godaan dari ayahnya, Kaito.

"Rin memang sanagt manis ya," bisik Meiko tepat di telinga Len.

Len hanya bisa kikuk dan pura-pura meminum supnya.


~000~


Malam ini begitu tenang, bintang bersinar terang sementara bulan bersembunyi di balik bayangan bumi. Sesekali angin dingin bertiup, menciptakan rasa kantuk yang begitu hebat. Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Rin telah terlelap di tempat tidurnya. Perlahan kesadarannya timbul dan gadis itu membuka matanya. Dengan pelan ia bangkit dari tempat tidur menuju jendelanya. Gadis itu memanjat jendela sehingga berdiri di atap lantai satu, selendang tipis berwarna bening muncul melilit lengan gadis tersebut. Tubuh gadis itu melayang dengan ringan menuju satu arah.

Gadis itu terus terbang dengan ringan hingga akhirnya sampai di perbatasan kota yang dibatasi dengan sungai yang lebar. Gadis itu menejakkan kakinya dengan anggun dan mantap di permukaan tanah. Sesaat gadis itu menghela napas dan terdiam, seakan menunggu sesuatu. Angi dingin kembali bertiup.

"Kekuatanmu sangat menyebalkan, kau tahu itu," sinis sebuah suara.

Perlahan Rin membalikkan tubuhnya untuk menghadapi sumber suara tersebut, di belakangnya berdiri seorang pemuda berambut kuning cerah.

"Akita Nero, sang Bahamut," gumam Rin pelan.

"Mauku sih selama aku berada dalam sosok ini aku ingin menghancurkan kalian semua, mempermalukan Knightmu serta membunuh dirimu," kembali Bahamut mendesis sinis.

Rin hanya menghela napas, kelihatan bosan.

"Percuma saja, kekuatanmu disegel dengan kuat, kau tidak akan pernah bisa menggunakan kekuatanmu," Rin membalikkan tubuhnya, memperlihatkan punggungnya kepada Bahamut, untuk kembali menatap sungai yang tenang.

"Lagipula, sebentar lagi aku akan membunuhmu," gumam Rin dengan tenang.

Bahamut mengernyit sebelum akhirnya lima bola api raksasa melesat menuju Rin. Bola api itu saling bertumbukan dengan suara ledakan yang dashyat dan mengeluarkan asap hitam yang pekat. Saat asap tersebut menipis, sosok Rin masih berdiri dengan tegak. Selain itu terdapat sosok Len yang juga berdiri tegak di depan Rin. Kedua pedangnya sambil menyilang, sisa pertahanan Len untuk menghadapi serangan bola api tersebut.

"Cih, rupanya sang Ksatria selalu mengikuti sang Putri," cemooh Bahamut.

Len kembali bersiap, memasang kuda-kuda bertahan.

"Apa kau tidak lelah menjadi budak gadis kecil itu!" Bahamut kembali melemparkan serangan bola api, tidak hanya satu-dua, tetapi lusinan sekaligus.

Len bersiap menerima serangan tersebut, berusaha melindungi Rin. Rin menyedekapkan tangannya di depan dada, mulutnya menggumamkan doa. Lusinan bola api meledak, menghasilkan asap pekat menghalangi pandangan. Bahamut tak mampu melihat apapun tetapi berikutnya ia merasakan angin kencang bertiup, menghilangkan asap yang menganggu. Tidak sempat melakukan reaksi, Bahamut merasakan dua buah pedang yang telah bersilang di lehernya.

Saat Len hendak menyerang leher pemuda tersebut, tiba-tiba sang Knight tersebut terpental beberapa meter dari Bahamut. Saat Len hendak memposisikan dirinya untuk kembali menyerang, tiba-tiba-

"Len, hentikan!"

Rin berteriak, menghentukan aksi menyerang Len. Len memandang sesaat kepada Rin, tetapi wajah gadis itu sangat serius. Gadis itu menggeleng sedikit, mencegah Len untuk menyerang. Len tidak mengerti, pemuda itu kembali memandang kepada Bahamut. Saat itulah Len paham kenapa Rin mencegahnya untuk menyerang. Tubuh Bahamut diselimuti oleh aura gelap yang menekan dan menakutkan. Untuk sesaat Len tidak mampu bergerak, perasaan takut mendera tubuh Len.

"Kau pikir kau mampu membunuhku, bocah kecil," suara dingin Bahamut tidak kalah dingin dengan suhu malam itu.

Bahamut mengangkat tangannya, memusatkan tenaganya hingga terbentuk gumpalan bola berwarna hitam yang berpusar kuat di tangan pemuda itu. Bahamut memposisikan dirinya untuk melemparkan bola tersebut ke arah Len, tetapi mendadak tubuhnya tidak mampu bergerak.

"Cukup Nero, akulah lawanmu, dia tidak ada hubungannya," Rin mencegah aksi Bahamut, tangannya masih bersedekap di depan dada, tubuhnya bersinar terang.

Tetapi Bahamut tidak mendengarkan, pemuda itu berusaha menggerakkan tubuhnya dari entah apa yang mengikatnya. Semakin kuat usaha Nero untuk melepaskan dirinya, semakin terdengar gumaman doa dari mulut Rin sang High Summoner. Melihat kesempatan ini Rin mempersiapkan pedangnya dan berlari menuju Nero.

Tiga belas kali, itulah jumlah sabetan pedang Len yang bersarang di tubuh Nero.

Darah mengalir dari mulut Nero. Len berdiri dari posisi mendaratnya setelah menyerang. Pemuda itu memposisikan dirinya di depan Rin, melindungi gadis itu dibalik tubuhnya. Nero memandang Len dan Rin dengan pandangan murka.

"Ini belum berakhir!" teriaknya sebelum akhirnya menghilang.

Len dan Rin berdiri sesaat, masih merasa waspada terhadap kemungkinan serangan yang tiba. Setelah sesaat menungggu tetapi tak kunjung ada serangan apapun, Len dan Rin mendesahkan napas lega. Len menolehkan kepalanya kepada Rin, bermaksud memeriksa apakah gadis itu baik-baik saja. Saat pemuda itu menoleh, mata gadis itu masih terpejam, tangannya masih bersedekap di depan dada, perlahan terdengar untaian lagu yang indah.

Len terdiam memandang sosok Rin yang sedang menyanyi, perlahan tubuh gadis itu mengeluarkan sinar yang menenangkan. Len mundur beberapa langkah dan duduk di rerumputan yang rimbun, mendengarkan lagu yang didendangkan oleh gadis itu. Lagu tersebut berbeda dengan lagu yang Len dengar saat Rin sedang demam, tetapi efeknya sama-sama menenangkan.

Len kembali memandang kepada Rin, sekarang gadis itu mulai menari. Tarian yang indah sekaligus bernuansa spiritual, bola cahaya yang indah mulai muncul dan bergerak, seakan mengiringi tarian dan nyanyian Rin. Len merasakan hatinya penuh dengan kedamaian dan perasaan tenang. Sekilas Len melihat sinar dari bagian tubuhnya. Pemuda itu mengamati bahwa cahaya dari tubuhnya itu berasal dari luka-lukanya, saat ini semua lukanya sudah sembuh.

Len terbelalak kaget, pemuda itu mencoba mengamati kadaan sekitarnya. Pemuda itu yakin sekeliling mereka sudah porak-poranda akibat pertarungan yang baru saja terjadi. Tapi saat ini keadaan lingkungan sudah kembali normal, memang tidak seratus persen kembali normal, tetapi setidaknya tidak akan menimbulkan kehebohan di kalangan masyarakat. Saat it Len memahami, lagu ini adalah lagu penyembuhan.

Bola cahaya berhenti bersinar, luka yang diderita oleh Len juga sembuh sepenuhnya. Len memandangi Rin, gadis itu telah berhenti bernyanyi dan menari, gadis itu sedang mengambil napas. Tak lama kemudian tubuh gadis itu sempoyongan dan akhirnya terjatuh mengikuti gravitasi bumi. Sebelum tubuh gadis itu membentur tanah yang keras, Len telah menangkap tubuh Rin, menahannya dalam dekapan pemuda itu.

"Hei, bangun," guncang Len, tetapi Rin tetap menutup matanya.

Len meletakkan tangannya di depan hidung Rin untuk memeriksa napas gadis tersebut. Pemuda itu juga memeriksa detak jantungnya. Len mengamati tubuh Rin, gadis itu tidak mengalami luka apapun. Len mendesahkan napas lega, setidaknya pemuda itu paham bahwa Rin berada dalam kondisi yang baik-baik saja, mungkin Rin hanya merasa lelah. Len mengangkat tubuh Rin, menggendongnya ala pengantin.

Len melangkahkan kakinya perlahan, berjalan kembali menuju rumah.


~000~


A/N: sekian lama~ saya minta review nya?