A/N: Slow update...yah, tak perlu berpanjang lebar lah, yang penting saya update. Paling cuma minta review aja.
Disclaimer: Vocaloid sampai kapapun bukan punya saya.

Happy Reading ^_^


TERUNGKAP

.

.

Rin membuka matanya perlahan, kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Matanya meneliti keadaan sekitar dan menyadari bahwa dirinya sekarang berada di kamarnya. Suasana kamarnya masih gelap, menandakan saat ini masih malam.

"Kau sudah bangun,"

Rin mengarahkan pandangannya menuju sumber suara. Di bagian kaki tempat tidurnya, seorang pemuda berambut blonde duduk di lantai, bersandar membelakangi tempat tidurnya.

Rin hanya bergumam kecil, masih merasa lelah untuk menjawab dengan benar.

Len menolehkan kepalanya ke arah Rin, mengamati gadis itu dengan pandangan datar akan tetapi Rin dapat melihat rasa khawatir terpancar dari pandangan tersebut.

"Kenapa kau ke tempat itu tadi?" tanya Len penasaran.

"Berapa lama aku tertidur?" Rin tidak mempedulikan pertanyaan Len.

Len mengernyit, alisnya seakan menjadi satu.

"Kau tertidur cukup lama, sekarang pukul 2 malam. Kenapa kau ke tempat itu tadi?" tuntut Len dengan sabar.

Rin hanya mendesahkan napas, menatap langit-langit kamarnya. Len masih menunggu. Setelah beberapa menit Rin tidak menjawab, Len kembali membuka suaranya.

"Aku tahu kalau kau memang tidak mempercayaiku sebagai Knightmu. Tetapi itu tidak akan menghapus fakta bahwa aku adalah Knightmu saat ini dan tugasku adalah melindungimu," ujar Len dengan sangat sabar.

Rin kembali memandang Len, pandangan matanya tampak lemah.

"Aku mendengar suara," jawab Rin lambat. Len masih terdiam, membiarkan Rin untuk berbicara. Akan tetapi Rin tidak meneruskan jawabannya.

"Suara apa?"

"Suara Akita Nero, sang Bahamut," jawab Rin pelan, Len membulatkan matanya, tampak bingung.

"Aku mendengar suaranya yang kesakitan dan membutuhkan pertolonganku," tambah Rin.

"Apa maksudmu?" Len mengejar akan tetapi Rin hanya menjawab dengan gelengan.

"Aku juga tidak mengerti,"

Sesaat Len memperhatikan Rin, mencari celah kebohongan yang ada. Akan tetapi Len hanya dapat melihat kejujuran dari pancaran mata Rin, Len mendesahkan napas kecewa.

"Kau butuh istirahat," gumam Len dan membalikkan tubuhnya.

Tangan Rin menahan kemeja Len, menghentikan langkah pemuda itu.

"Jangan beritahu siapapun mengenai semua ini,"

Len memperhatikan Rin dengan cermat. Gadis itu berada dalam kondisi yang tidak prima.

"Pihak pemerintah pasti mengetahui hal ini," gumam Len.

"Setidaknya mereka tidak perlu tahu langsung dari lisanmu," ujar Rin, sorot matanya penuh harap.

Len memandangi Rin sesaat sebelum akhirnya mengangguk menyanggupi. Rin melepaskan pegangannya pada kemeja Len, membiarkan pemuda itu berjalan menuju jendela dan memanjat bingkai jendela.

"Lewat jendela?" gumam Rin, wajahnya memancarkan kebingungan.

"Kau pikir apa yang akan dikatakan orang rumah ini kalau melihat aku yang seorang laki-laki keluar dari kamar anak perempuan pada pukul 2 malam?!" ujar Len ketus, tetapi Rin dapat melihat wajah Len memerah hingga telinganya. Gadis itu sendiri juga tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang saat ini mulai memerah.

"Istirahatlah, besok banyak yang ingin kutanyakan padamu," perintah Len sebelum menutup jendela kamar gadis itu.

Len melompat ke atap lantai dua, pemuda itu belum hendak tidur. Angin malam yang dingin menerbangkan anak rambutnya, bintang bersinar dengan indah.

"Sayang, malam ini tidak sedamai keadaannya," gumam Len. Matanya menelusuri langit malam yang kelam.


~000~


Rin membuka matanya, seberkas sinar matahari menyelusup masuk melalui jendelanya. Saat ini belum pagi tetapi juga sudah bukan subuh hari, Rin bangkit dari tempat tidurnya dan membuka jendela. Rin membulatkan matanya, tidak terlihat sosok Len yang biasanya di subuh hari berlatih menggunakan kekuatannya. Rin tidak begitu mempedulikan, mungkin pemuda itu terlalu lelah saat menolongnya tadi malam.

Gadis itu mempersiapkan dirinya. Karena gedung kampus hancur saat serangan Bahamut, maka untuk sementara ini kuliah diliburkan selama satu semester. Rin menghembuskan napas, merasa kecewa karena kehilangan kesempatannya untuk menikmati masa kuliah selama satu semester.

"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik aku menikmati saat-saat hidupku yang sebentar lagi," pikir Rin sedih.

Rin segera bersiap-siap dan turun ke bawah.


~000~


"Hachih!"

Len terbangun berkat bersinnya sendiri. Ia menegakkan tubuhnya dan mendudukkan dirinya, matanya menyapu sekeliling. Ia tertidur di atap, pantas saja terasa dingin. Tubuhnya terasa pegal. Len memaksakan diri untuk bangkit dan kembali ke kamarnya. Ia meloncat turun menuju atap lantai satu dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Pemuda itu membuka jendelanya dan meloncat masuk ke kamarnya sebelum akhirnya merebahkan diri ke tempat tidur.

Rasanya baru sesaat pemuda itu menutup matanya saat ia mendengar suara ketukan di pintu.

"Len-kun, sarapan pagi sudah siap!" teriak ibunya dari balik pintu.

Len menggeliat sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Wajahnya kusut dan penampilannya berantakan tetapi pemuda itu turun ke ruang makan untuk menyantap sarapannya.

"Len, kenapa tampangmu berantakan sekali?" itulah sapa pertama Kaito kepada putranya saat melihat penampilan Len. Mikuo, Meiko dan Rin memandangi penampilan Len yang berantakan.

"Hmm, tadi malam habis latihan jadinya beginilah penampilanku," ujar Len sambil mendudukkan dirnya. Tanpa basa-basi pemuda itu langsung meminum supnya. Melalui celah pandangannya, Len menatap Rin yang duduk tepat dihadapannya. Akan tetapi obyek tatapannya tidak meyadari sama sekali dan terus menikmati sarapannya.

"Rin-chan memang manis sekali ya," bisik Meiko, Len hanya bisa tersedak gugup.


~000~


Rin melangkahkan kakinya ke suatu arah dan akhirnya berhenti di depan pintu suatu ruangan. Tangannya terjulur ke arah kenop pintu, sesaat gadis itu terdiam. Setelah menebalkan tekadnya, gadis itu akhirnya memutar kenop pintu dan akhirnya memasuki ruangan tersebut, ruangan perpustakaan. Rin mengedarkan pandangannya sesaat, seakan mencari sesuatu. Tak lama pandangan matanya jatuh kearah meja dimana diatasnya terletak globe bumi.

Rin melangkahkan kakinya, menghampiri globe tersebut. Gadis itu mengangkat tangannya, memposisikan globe tersebut diantara kedua telapak tangannya. Rin menarik napas dalam, seakan bersiap untuk menghadapi sesuatu. Gadis itu perlahan menutup matanya, tangannya secara perlahan memutar globe tersebut. Setelah beberapa memutar globe tersebut, kembali gadis itu memposisikan kedua telapak tangannya di kedua sisi globe.

Rin berkonsentrasi menutup matanya, kekuatannya sebagai seorang High Summoner muncul, menyebabkan gadis itu diselimuti cahaya berwarna hijau dan ungu yang lembut. Rambut dan pakaian gadis itu bergerak seakan ditiup oleh angin yang lembut.

Tak lama kemudian gadis itu membuka kedua matanya, kembali beberapa lidah api kecil muncul dari globe tersebut, menyebabkan Rin mundur karena kaget. Akan tetapi lidah api itu tidak bertahan lama. Sama dengan kemunculannya yang mendadak, lidah api itu langsung menghilang dalam sekejap, meninggalkan beberapa titik kecil hangus. Globe itu kini memiliki beberapa titik hangus baru yang menghiasi permukaanya.

Rin kembali mendekati globe tersebut, matanya serius memperhatikan beberapa titik hangus yang baru. Dalam hati, gadis itu menghitung jumlah titik tersebut.

"Empat puluh lagi, ya?" gumam Rin kecil.

Gadis itu menaikkan pandangannya. Meskipun matanya tampak seperti memandangi rak-rak yang penuh terisi dengan buku, sebenarnya gadis itu memandang jauh dari apa yang ada di hadapannya.

"Sebaiknya apa yang harus kulakukan?" terdengar kembali gumaman kecil Rin kepada dirinya sendiri.


~000~


Len dan Mikuo saling berhadapan, wajah mereka berdua menunjukkan rasa waspada dan serius. Kedua tangan mereka kosong, tak menggenggam senjata apapun. Angin bertiup dengan lembut menambah kesan tegang yang terjadi pada suasana tersebut. Kaito dan Meiko duduk memperhatikan mereka berdua, masing-masing sibuk memakan kue ataupun menyesap teh hangat. Mereka berdua tidak berkata apapun.

Sekejap terdengar bunyi besi beradu, Mikuo dan Len telah saling mengadu pedang mereka masing-masing. Len menyerang dengan satu pedangnya sementara Mikuo menahan serangan Len dengan blade dua tangannya. Len tersenyum kecil sebelum akhirnya membentuk pedang kedua di tangan kirinya dan kembali menyerang Mikuo.

Mikuo yang sudah menduga serangan tersebut merendahkan tubuhnya dan menjegal kaki pemuda tersebut. Len cukup waspada sehingga ia melompat kearah belakang, tidak termakan trik tipuan Mikuo, pria itu hanya berdecak kesal. Len menjaga jarak dari Mikuo, sesaat pemuda itu berkonsentrasi memunculkan berbagai macam pedang yang muncul dari udara kosong. Tanpa diberi aba-aba, pedang-pedang itu langsung terbang melesat menuju Mikuo. Tak terhitung berapa banyak pedang yang melesat, mungkin ratusan atau ribuan, entahlah. Tapi bagi Mikuo, ini bukanlah saat yang tepat untuk menghitung pedang-pedang tersebut.

Mikuo bergerak dengan gesit, tubuhnya menghindari semua pedang yang melesat tersebut, sesekali bladenya juga ikut bermain. Meskipun serangan pedang itu cukup hebat, tetapi belum nampak peluh yang mengalir dari tubuh Mikuo. Pria itu bahkan belum kehabisan napas.

Len menyeringai kecil sebelum berlari menyerang Mikuo. Mikuo memang Knight yang hebat.

Pedang dan blade milik mereka berdua kembali bertemu, menghasilkan bunyi dentang besi beradu dan percikan api sekejap. Tendangan dan sayatan berusaha disarangkan oleh masing-masing pihak. Mereka tidak segan-segan untuk melukai dan melumpuhkan lawan mereka masing-masing meskipun mereka masih menghindari titik vital lawan.

Kaito dan Meiko masih menonton pertarungan yang terjadi. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka berdua akan menghentikan pertarungan tersebut. Kedua sosok itu masih dengan tenang memakan kue yang ada disertai menyeruput teh yang hangat. Meskipun begitu, ekspresi Meiko tampak khawatir dan cemas sedangkan Kaito hanya menunjukkan rasa tertarik.

"Ah, Rin-chan, ayo kemari,"

Meiko menyadari kehadiran Rin yang sedang melintas dan menarik tangan gadis itu, memaksanya untuk duduk bersamanya. Semula Rin tidak tertarik untuk menganggu suasana kekeluargaan tersebut, tetapi tak urung gadis itu penasaran dengan pertarungan yang terjadi. Gadis itu tidak dapat melihat gerakan apapun karena pertarungan Len dan Mikuo memang berjalan dengan sangat cepat, meskipun begitu gadis itu sesaat dapat melihat sekelabat bayangan yang ada. Sesekali gadis itu juga dapat merasakan sabetan angin dan bunyi besi beradu.

Sekejap kemudian pertarungan terhenti. Sosok Len yang sedang jatuh berjongkok dengan lututnya menyangga tubuhnya dan Mikuo yang berdiri tegak sambil menenteng blade miliknyanya di bahu pria itu. Mikuo tampak baik-baik saja meskipun kini wajahnya nampak dipenuhi oleh peluh dan kotor karena beberapa serangan yang baru saja terjadi. Sementara Len berlutut dengan kondisi wajah dipenuhi beberapa luka gores yang berdarah dan darah mengalir deras dari lengan dan dahinya.

"Lumayan juga," ujar Mikuo sambil memperhatikan keadaan Len yang babak belur.

Meiko terpekik sejenak sebelum akhirnya dengan panik mengambil kotak P3K dan menghampiri putranya tersebut.

"Kau terlalu keras, dia putraku!" ujar Kaito.

"Kalau tidak dilatih serius dia tidak akan menjadi kuat," Mikuo berjalan menghampiri Kaito yang sedang duduk.

"Bukankah begitu, Rin-sama?" Mikuo menoleh pada Rin.

Gadis itu tersentak, ia terlalu berkonsentrasi dengan keadaan Len yang dipenuhi luka. Tetapi gadis itu tidak langsung menjawab Mikuo, perlahan gadis itu melantunkan untaian nada yang indah. Nada yang sama yang dinyanyikan oleh Rin semalam saat Len menghadapi Nero.

Mikuo, Kaito, Meiko dan Len memandang sesaat kepada Rin, melupakan kegiatan apapun yang mereka lakukan. Untaian nada yang indah itu terus dilagukan, tak lama muncullah berkas sinar yang lembut yang mengelilingi mereka. Seakan diperintah, sinar-sinar itu beterbangan dengan lambat menuju Len, menutupi luka-luka yang diderita oleh pemuda itu.

Mata Meiko terbelalak, wanita itu menjadi saksi bahwa semua luka-luka putranya tertutup dengan sempurna. Wanita itu seakan tidak percaya dengan keajaiban yang dilihatnya, dengan segera ia menarik Len, memaksa pemuda itu untuk memperlihatkan semua lukanya. Ajaib, semua luka yang diterima Len sembuh secara sempurna, tak ada satupun luka yang tersisa meskipun hanya luka gores.

Len tidak terlalu terkejut. Pemuda itu sudah mengetahui kemampuan penyembuhan Rin sejak semalam. Awalnya memang ia bereaksi seperti ibunya, tetapi kali ini pemuda itu tidak terlalu terkejut lagi. Pemuda itu justru merasa bingung, kenapa Rin yang awalnya bersikap amat sinis kepada dirinya tiba-tiba saja bersedia menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan dirinya? Tetapi Len tidak berpikir terlalu jauh, setidaknya gadis itu telah menyembuhkan luka-lukanya.

Mikuo tersenyum mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Rin. Pria itu menutup matanya, terlihat sekali bahwa ia amat menikmati lagu tersebut. Bernostalgia dengan perasaan damai yang ada. Alam seakan ikut menikmati nyanyian merdu yang disenandungkan oleh Rin. Seakan angin berhembus dengan lembut dan matahari bersinar dengan hangat. Padahal saat itu adalah penghujung musim gugur, tetapi terasa bagaikan musim semi.

Para penghuni rumah itu sedang menikmati suasana yang damai itu, hingga-

BRAKK

"Kagamine Len dan Hatsune Mikuo!"

Semua penghuni rumah itu tersentak, terlalu terkejut dengan gangguan yang mendadak.

"Kagamine Len dan Hatsune Mikuo!"

"Kamine Rin!"

Rin tersentak kaget, tak menyangka namanya juga akan dipanggil. Wajah gadis itu tampak ragu, tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah sentuhan lembut di bahunya. Gadis itu terdiam tetapi tidak mengarahkan pandangannya kepada Len. Gadis itu dapat merasakan Len meremas bahunya sedikit sebelum akhirnya menarik tubuh gadis itu ke belakang Len. Pemuda itu berusaha menutupi sosok Rin dibalik tubuhnya.

Rin bisa mendengar suara ribut-ribut yang menghampiri posisi mereka saat ini. Semakin terdengar keras suara itu, genggaman Len di pergelangan tangannya semakin mengeras. Rin menahan keinginannya untuk memekik kesakitan. Mata gadis itu terarah pada punggung tegap Len. Gadis itu merasakan jantungnya berdetak kencang dan wajahnya memanas.

"Dimana mereka berdua?"

"Anda pikir karena anda pemimpin pemerintahan dunia cabang Jepang anda bisa seenaknya?"

"Aku tidak bicara padamu! Dimana mereka? Dimana bocah sombong dan High Summoner itu berada?"

Len semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Rin. Pemuda itu juga semakin merapatkan tubuh Rin ke punggung pemuda itu.

"Kau! Bocah sombong! Jelaskan semuanya sekarang!" Pria itu menuding dengan kasar.

Len tampak tenang meskipun napasnya berat, tanda ia emosi.

"Hei, jaga bicaramu orang tua! Tidak perlu sombong dan sok berkuasa!" Mikuo angkat bicara.

"Aku tidak bicara padamu, mantan Knight!"

"Tuan Pemimpin, jika anda sekali lagi memaki bangsa Knight, saya sebagai tetua bangsa Knight terpaksa mengambil kesimpulan bahwa anda telah mengumumkan perang pada bangsa ksatria," Kaito angkat bicara.

Pria itu terdiam sesaat. Matanya kembali memandang Mikuo.

"Huh, kau beruntung. Aku tidak perlu bertindak tegas padamu,"

"Hoo, apakah itu sebuah tantangan?"

"Cukup Mikuo," nada suara Kaito penuh dengan ketegasan.

Mikuo mendecih tidak puas sementara pria itu kembali mengarahkan pandangan matanya pada Len.

"Jadi?" pria itu menggantung ucapannya.

Len mengangkat alisnya. "Jadi?"

"Jangan bersikap bodoh anak muda. Aku ingin engkau menjelaskan semuanya!" perintah pria itu.

"Apa maksud anda? Saya bahkan tidak mengerti dengan semua yang anda ocehkan," ujar Len dengan masih berusaha tenang.

Pria itu menoleh sesaat ke arah anak buahnya. Salah satu pengawal pria itu mengangguk kemudian menghampiri Len dan Rin, di tangannya terdapat sebuah laptop yang telah terbuka. Pengawal itu mengarahkan laptop itu kepada Rin dan Len, memperlihatkan video yang sedang diputar.

Len dan Rin menatap layar laptop tersebut. Dahi keduanya mengernyit. Video yang diputar adalah video yang terjadi tadi malam, video pertarungan Len dengan Nero.

"Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?" pria itu bertanya dengan nada memerintah.

"Anda tidak menonton video yang anda miliki? Rin diserang dan saya hanya berusaha melindunginya,"

"Bukan itu anak bodoh! Maksudku pemuda Bahamut ini-," ucapan pria itu terhenti. Mendadak pria itu merasa gugup dan ragu-ragu untuk meneruskan ucapannya.

Len mengangkat alisnya, merasa curiga. Perlahan Len melirik ke arah Mikuo. Mikuo juga memandang pria itu dengan penuh curiga.

"Pemuda Bahamut?" Mikuo mencoba mengambil alih.

Sungguh suatu fakta yang aneh bahwa pria tua ini mengetahui sesuatu tentang Akita Nero, penjelmaan Bahamut. Memang selama ini Mikuo dan Len menjelaskan kepada pria tua ini jika terjadi suatu kekacauan yang berhubungan dengan kekuatan gelap Bahamut, mereka berdua akan mengatakannya sebagai hasil perbuatan Bahamut. Tetapi baik Mikuo dan Len tidak pernah mengatakan pada pria tua ini bahwa Bahamut memiliki sosok manusia yang bernama Akita Nero.

"Mengapa anda tahu sosok pemuda ini?"

Pria tua itu tidak menjawab. Wajahnya tampak begitu kesal dan marah.

"Itu bukan urusanmu mantan ksatria. Aku adalah pemimpin pemerintah dunia cabang Jepang, tentu saja aku tahu apa yang kalian sembunyikan!" ujar pria itu tegas.

Len dan Mikuo menatap pria tua itu dengan tatapan penuh curiga. Mereka berdua merasa yakin bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu.

"Dengar orang tua! Kau mengetahui sesuatu mengenai pemuda ini. Apapun yang kau ketahui tentang 'Pemuda Bahamut' ini berarti semua itu berhubungan dengan kami. Karena kami akan selalu melindungi Rin-sama dari serangan apapun. Karena itu, beritahu kami apa yang kau tahu!" tuntut Mikuo.

"Huh, haruskah aku mematuhi seseorang yang rendah sepertimu?" hina pria itu.

"Tuan pemimpin, kuingatkan sekali lagi. Pemilihan kata anda sangat menentukan apakah anda ingin terjadi perang atau tidak!" Kaito kembali menegur.

"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu," ujar pria tua itu.

"Kau...,"

Mikuo mencengkram kerah pria itu dengan keras, menyebabkan pria itu terangkat sedikit dari permukaan tanah. Beberapa anak buahnya yang mengikuti pria itu langsung merogoh kedalam saku mereka, berusaha mengambil senjata yang mereka miliki. Tetapi pria itu memberi isyarat untuk tidak bergerak lebih jauh lagi.

"Lepaskan tanganmu dari kerahku. Asal kau tahu saja, pakaianku ini jauh lebih mahal dibandingkan harga rumah yang sedang kau tempati ini," bisik pria itu dengan nada angkuh.

Mikuo ingin sekali meninju pria tua sombong ini.

"Mikuo sudah cukup," Kaito menghentikan Mikuo.

Mikuo menoleh sesaat kepada Kaito sebelum akhirnya menoleh kembali kepada pria tua itu. Knight itu masih belum puas dan rasanya ingin sekali mendaratkan tinjunya di wajah pria sombong ini. Perlahan Mikuo melepaskan cengkeramannya dari kerah pria itu. Ia mendecih sebal tanda tidak puas.

Pria itu merapikan penampilan dirinya akibat cengkeraman Mikuo sebelum akhirnya menoleh kepada Len.

"Kehadiranku disini adalah untuk mempertanyakan kemampuan pemuda itu untuk melindungi High Summoner. Sebenarnya bagaimana caramu melindungi sang High Summoner?!" tuding pria itu.

Len memutar bola matanya.

"Anda berbicara berputar-putar. Aku bahkan tak tahu apa yang anda bicarakan," ujar Len datar.

Pria itu kembali memandang anak buahnya yang memegang laptop. Anak buah itu mengangguk paham. Sesaat tangannya bergerak dengan lincah sebelum akhirnya kembali memperlihatkan sebuah video kepada Rin dan Len.

"Jangan katakan padaku bahwa kalian tidak tahu tentang ini," terselip nada senang pada suara pria itu.

Len mendecih. Ingin sekali rasanya memukul wajah pria tua itu hingga hidungnya patah dan berdarah.

"Ini adalah video kebakaran yang terjadi beberapa hari yang lalu pada fasilitas laboratorium milik pemerintah dunia. Terdapat 150 laboratorium tetapi hanya video bukti ini saja yang kami miliki," ujar pria tua itu.

Len menonton video itu. Ia dapat merasakan Rin menempel dekat dengan punggungnya.

Video memperlihatkan suasana yang tenang. Tiba-tiba saja terlihat sebuah ledakan besar api yang membakar kompleks labotarorium. Sampai saat ini Len belum melihat sesuatu yang aneh.

"Matikan disini!" perintah pria tua itu yang langsung dipatuhi oleh anak buahnya.

"Kau lihat bayangan ini?" tunjuknya pada sebuah titik bayangan hitam yang menipis. Len harus menyipitkan matanya untuk melihat gambar tersebut.

Len dapat merasakan Rin terpekik kecil.

"Perbesar gambar itu!"

Pria tua itu tampak menikmati momen-momen yang penuh dengan kebingungan ini. Anak buah itu masih saja memasang wajah yang datar. Tangannya dengan lincah mencoba melakukan sesuatu pada video itu. Setelah selesai, anak buah itu kembali memperlihatkan layar laptop itu kepada Rin dan Len.

Len membulatkan matanya, tampak tidak percaya. Rin hanya diam, wajahnya datar. Len melirik Mikuo, mencoba meminta bantuan dalam diam. Mikuo kemudian menghampiri laptop tersebut dan nampak terkejut. Wajahnya bingung dan tak mampu berkata apapun. Meiko dan Kaito yang penasaran dengan apa yang terjadi kemudian menghampiri laptop tersebut. Kaito kaget sementara Meiko memekik kecil, mereka berdua tidak percaya tetapi video itu telah membuktikan semuanya.

Dalam video itu, terlihat sesosok berjubah hitam. Meskipun begitu, tudungnya tidak mampu menutupi secara sempurna helaian rambut berwana blonde cerah dan bola mata indahnya yang berwarna Sapphire.

Sosok berjubah hitam itu adalah Kamine Rin yang dikelilingi api besar yang dashyat.

"Jadi, apa kata kalian, eh?" tantang pria tua itu.


~000~


A/N: Review please...