A/N: Terima kasih kepada reader (baik silent maupun non silent) yang telah membaca fic saya. Tak perlu berpanjang lebar, silahkan menikmati chapter terbaru. Silahkan mereview untuk membuat saya semakin bersemangat untuk menyelsaikan fic ini.

Disclaimer: Vocaloid bukan punya saya. Mereka milik provider mereka masing-masing.

Warning: Mungkin agak lebay dan alay dan menyedihkan? Siapa yang tahu, tapi anda bisa menilai.

Happy Reading ^_^


BERPISAH

.

.

"Jadi, apa kata kalian, eh?" tantang pria tua itu.

Len dan Mikuo tidak bisa mengatakan apapun. Mata mereka masih menatap wajah yang terlihat di layar laptop tersebut.

Sosok berjubah hitam itu adalah Kamine Rin, sang High Summoner. Video itu menunjukkan saat-saat gedung fasilitas itu terbakar. Pelakunya tak lain adalah Kamine Rin. Len dan Mikuo perlahan memandang Rin. Akan tetapi gadis itu hanya menatap datar layar laptop yang menampilkan wajahnya.

"Kalian tidak tahu apa-apa? Kalau begitu aku bisa simpulkan kalau kalian tidak bisa menjaga High Summoner dengan baik," ujar pria tua itu dengan bangga. Nada suaranya terasa menang.

"Rin... apa maksudnya?"

"Tolong jelaskan kepada kami, Rin-sama,"

Len, Mikuo, Kaito dan Meiko hanya mampu menatap Rin, menunggu gadis itu menjawab semua pertanyaan mereka. Akan tetapi gadis itu masih terdiam.

"Jawab aku Rin! Kenapa kau yang seharusnya ada di rumah ini ada di lab itu? Kau tidak membakar semua lab itu bukan?!" Len mengguncangkan bahu Rin.

Rin menatap Len dengan pandangan yang tajam. Gadis itu menepis kedua tangan Len dari bahunya.

"Benar! Itu adalah aku! Akulah yang membakar semua laboratorium itu," tegas Rin. Nada suaranya menantang, pandangan matanya tertuju kesemua arah.

"Kenapa...? Bagaimana...?" Len masih belum mampu menerima kebenaran tersebut.

Rin mendengus, nampak geli dengan pertanyaan Len.

"Kenapa? Kau tanya kenapa?" Rin terdengar geli.

"Karena semua orang yang ada di laboratorium itu memang pantas untuk mati. Karena itulah aku membunuh mereka semua," jelas Rin.

Len merasakan tubuhnya bergetar. Pemuda itu menahan amarahnya.

"Bagaimana...?" tanyanya lagi masih sambil menahan amarah.

Rin lagi-lagi mendengus geli. Merasa lucu dengan semua pertanyaan Len.

"Bagaimana? Tentu saja seperti ini,"

Rin melepaskan energinya, cahaya berwarna hijau dan ungu terang terlihat dengan jelas dari tubuhnya. Tiba-tiba terasa angin yang sangat kencang dan tekanan yang sangat berat, menyebabkan semua orang yang ada disana kecuali Rin langsung tiarap. Tidak ada yang mampu menahan tekanan yang sangat berat tersebut. Tak lama kemudian tekanan berat itu menghilang. Semua orang yang ada disana kembali bangkit dengan perasaan was was.

Kring Kring

Nada suara telepon. Semua orang saling memandang. Saling bertanya, siapa kira-kira yang menelepon saat suasana sedang memanas.

Tak lama kemudian pria pemimpin pemerintah dunia cabang Jepang merogoh sakunya dan mengeluarkan telepon genggam yang ia miliki.

"Aku sedang sibuk-,"

Kata-kata pria itu terhenti. Sesaat ia serius mendengarkan kabar yang disampaikan oleh pihak seberang sana. Pria tua itu membulatkan matanya sebelum akhirnya memandang Rin. Pria itu gugup sesaat sebelum akhirnya menjawab sekedarnya dan menutup teleponnya.

Rin mendengus. Senyum yang kejam terhias di wajahnya yang cantik.

"Katakan, apa yang disampaikan oleh teman-temanmu lewat kabar telepon tadi," tantang Rin.

Pria tua itu menelan ludahnya dengan gugup, tampak takut. Semua mata tertuju padanya, menunggu kabar yang akan disampaikan.

"Laboratorium... sisa 40 laboratorium baru saja dihancurkan... 190 laboratorium milik pemerintah dunia sudah hancur semua. Tidak ada yang tersisa," ujarnya gugup, tampak takut terhadap Rin.

Semua yang ada disana kembali mengarahkan pandangan mereka kepada Rin.

"Benar... aku baru saja menghancurkan sisa 40 laboratorium itu di depan kalian semua," ujarnya sambil tertawa kecil.

"Kekuatan yang hebat, bukan? Dengan kekuatan ini aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan," jelas Rin. Nada suaranya terdengar meremehkan. Pandangan matanya tertuju pada Len, pandangan mata yang merendahkan.

PLAKKK

Rin dapat merasakan pipinya perih, untuk sesaat gadis itu tidak bereaksi apapun. Tak lama gadis itu kembali memandang Len, matanya menatap dingin pemuda itu.

"Kau bukanlah High Summoner. Kau hanyalah monster. Monster dengan kemampuan untuk membunuh secara keji. Kau tak ada bedanya dengan Bahamut!"

Rin tertawa keras.

"Apa kau lupa? Aku adalah keturunan bangsa dewa. Kami adalah bangsa yang bengis dan kejam. Membunuh manusia adalah permainan yang amat mudah bagi kami,"

"Kau...,"

Saat Len hendak mengangkat tangannya Kaito menahan pergelangan tangan Len. Menahan pemuda itu untuk tidak menumpahkan amarahnya.

"Cukup Len," timpal Kaito.

"Tapi... ayah juga dengar kan?"

"Aku bilang cukup,"

Len tidak lagi berkata-kata. Tetapi pemuda itu mengeraskan kepalan tangannya, merasa tidak puas.

"Rin-sama, katakan pada saya bahwa semua yang anda katakan itu tidak benar," Mikuo akhirnya angkat suara.

"Rin-chan...," gumam Meiko tidak percaya.

Rin memandang mereka semua dengan tatapan yang dingin.

"Perlukah aku ulangi lagi? Akulah yang membunuh semua manusia bodoh itu dan membakar semua laboratorium itu. Bukankah video itu telah menjelaskan semuanya? Bukankah telepon tadi sudah menjelaskan semuanya?"

Kaito, Meiko dan Mikuo hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa.

"Kamine Rin, mulai saat ini dengan terpaksa anda harus kami tahan atas perbuatan menghancurkan fasilitas pemerintah dunia dan membunuh semua orang," pria itu mulai menyela.

Rin kembali tertawa keras.

"Membunuh? Dibandingkan denganku bukankah kalian juga telah banyak membunuh orang? Kalian pikir aku tidak tahu mengenai penelitian kalian di laboratorium itu?" ujar Rin dengan lantang.

Suasana hening, hanya terdengar tawa Rin yang keras. Gadis itu merasa geli dengan semua argumen yang dilontarkan.

"Tapi, jika kau memang menginginkan aku untuk ikut denganmu, aku akan ikut,"

Rin berjalan menghampiri pria itu, menatapnya dengan tajam. Pria itu tampak gugup sesaat sebelum akhirnya membuka jalan kepada Rin dan memerintahkan anak buahnya untuk mendampingi Rin menuju kendaraan yang ada. Para pengawal itu hendak memegang bahu Rin tetapi Rin langsung menepis tangan mereka.

"Aku bisa jalan sendiri," ujarnya dingin.

"Tunggu dulu! Kamine Rin!" Len kembali memanggil Rin. Gadis itu menghentikan langkahnya tetapi tidak memandang Len.

"Apa kau tidak merasa berdosa telah membunuh mereka semua?"

"Mereka... pantas untuk mati,"

Len kembali mengeraskan genggaman tangannya.

"Kau monster! Kau bukanlah High Summoner! Kau tidak pantas menjadi High Summoner!" maki Len.

Rin kembali tertawa keras.

"Bukankah dari awal sudah kukatakan? Kau memang tidak pantas menjadi seorang Knight. Karena kau hanyalah... seorang Knight pecundang," Rin menekankan pada kata pecundang.

"Kau!" Len berusaha menahan emosinya, tetapi tubuhnya bergetar.

Rin kembali tertawa keras dan melanjutkan langkahnya. Keluar dari rumah itu.


~000~


Tak ada seorang pun yang sadar. Kamine Rin pun berharap tidak ada seorang pun yang sadar. Setitik air mata meluncur dari mata sapphirenya yang indah.

Air mata itu meluncur dengan cepat. Keluar dari manik matanya yang indah, meluncur dari pipinya yang memerah sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Tak ada yang menyadari setitik air mata itu. Itulah harapan Rin.

Tetapi sayang sekali. Meiko menyadari setitik air mata itu.

Setitik air mata itu, telah menjelaskan semuanya pada Meiko.


~000~


Rin sedang ada di dalam mobil, disebelahnya duduk pria pemimpin cabang Jepang. Gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada, pandangan matanya terarah pada pemandangan di luar jendela mobil tetapi pikirannya melayang entah kemana.

"Baiklah Rin-sama, sekarang anda berada dalam tanggung jawab kami Pemerintah Dunia. Kami berharap anda sudi untuk bekerja sama-,"

"Jika yang anda maksudkan adalah pihak anda menginginkan kekuatan saya untuk kepentingan anda maka lupakan saja," tolak Rin dengan dingin.

"High Summoner, jika anda tidak bekerja sama-,"

Pria itu tidak menyelesaikan kata-katanya. Pria itu memegang lehernya, seperti kesulitan untuk bernapas. Mobil yang mereka naiki mendadak berhenti. Supir maupun pengawal yang duduk di bangku depan menoleh, mereka hendak meraih senjata mereka di balik kantung jas mereka. Tetapi sia-sia, mereka tidak mampu bergerak seakan ditahan oleh kekuatan yang tak terlihat. Tubuh Rin mengeluarkan cahaya berwarna hijau dan ungu.

"Jangan pernah memerintahkanku untuk mematuhi kalian. Aku paling benci itu," ujar Rin dengan nada dingin.

"Aku bisa saja membunuh kalian saat ini," ujar Rin lambat-lambat. Pria pemimpin cabang beserta anak buahnya berusaha melepaskan diri dari kekuatan Rin.

"Aku tidak seperti High Summoner yang sebelumnya. Mungkin Miku-neesama memang lembut kepada kalian. Tapi aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian," gumam Rin dengan aura yang menakutkan.

Pria pemimpin cabang beserta anak buahnya mulai pucat. Keringat dingin mulai mengalir. Tiba-tiba saja mereka mampu menggerakkan tubuh mereka. Pria pemimpin cabang itu terengah-engah, berusaha bernapas dengan baik.

"Dasar orang bodoh," Rin kembali mengarahkan pandangan matanya keluar jendela. Meneruskan pikirannya yang terganggu.


~000~


"Sial... sial... sial...,"

"Sudahlah Len, percuma kau terus memaki," tegur Mikuo.

"Aku tahu kalau gadis itu selalu sinis padaku. Tapi tak kusangka dia bisa sekejam itu!" rutuk Len.

"Hentikan Len!" Kaito angkat suara.

Len menoleh kepada ayahnya.

"Pikiranmu kacau saat ini. Pergi dan tenangkan dirimu!" perintah Kaito.

Len ingin protes tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia mendecih sebelum akhirnya pergi dari tempat itu. Kaito, Meiko dan Mikuo memandangi kepergian Len. Setelah Len pergi, mereka bertiga masih terdiam untuk beberapa saat.

"Ada yang mengganjal pikiranku," gumam Mikuo setelah suasana hening dalam waktu lama.

"Maksudmu mengenai pemimpin cabang Jepang ini yang mengetahui identitas 'Pemuda Bahamut' itu?" timpal Kaito.

Mikuo mengangguk.

"Kaito, bisakah-,"

"Tenang saja. Aku sudah menggerakkan seluruh bangsa Ksatria yang ada di dunia ini untuk menyelidiki hal itu,"

"Heh, kau memang selalu bertindak cepat," puji Mikuo. Kaito hanya tersenyum bangga.

Suasana kembali hening.

"Apakah kalian percaya bahwa High Summoner yang menghancurkan semua laboratorium itu?" Kaito menggumam rendah.

"Entahlah, tapi video itu telah menjelaskan semuanya," jawab Mikuo.

"Aku juga sudah memerintahkan bangsa kita untuk menyelidikinya. Tapi aku tidak berharap banyak, mengingat video itu hanya satu-satunya bukti yang ada," timpal Mikuo.

"Tapi tolong selidiki, siapa tahu kita bisa menemukan informasi yang penting,"

"Tenang saja, sedang diusahakan,"

"Menurutku, Rin-chan tidak mungkin melakukan semua itu,"

Kaito dan Mikuo menoleh kepada Meiko yang selama ini hanya terdiam.

"Hmm, kenapa kau begitu yakin, Meiko-chan?" tanya Mikuo.

Sesaat Meiko terlihat ragu-ragu. Mikuo dan Kaito menunggu jawaban Meiko dengan sabar.

"Aku melihat... Rin-chan menangis saat mengatakannya," ujar Meiko mantap.


~000~


Len mengedarkan pandangannya pada hamparan pemandangan yang ada dihadapannya. Pemuda itu saat ini sedang duduk bersila di atap rumahnya, berusaha menenangkan pikiran. Angin dingin berhembus kencang, memainkan anak-anak rambut pemuda itu. Langit senja kali ini berwarna jingga kemerahan.

'Warna yang mengerikan,' pikir Len, mengingatkan pemuda itu akan warna darah.

Len kembali menghembuskan napasnya, berusaha meredam amarah akibat kejadian tadi siang. Angin yang berhembus membantunya menjernihkan pikiran meskipun hanya sedikit. Mata sapphirenya beredar, menikmati pemandangan berupa atap rumah. Yah, setidaknya pemandangan atap rumah juga sudah cukup menenangkan hatinya.

Len kembali berusaha memikirkan semua kejadian dengan perlahan dan tenang, sesekali ia berusaha menahan emosinya yang bergejolak. Semakin dipikirkan, semua kejadian siang tadi sangat aneh. Bermula dari pemimpin pemerintah dunia cabang Jepang yang mengetahui keberadaan pemuda Bahamut yang bernama Akita Nero, hingga alasan mengapa Rin menghancurkan semua fasilitas laboratorium itu.

"Membunuh? Dibandingkan denganku bukankah kalian juga telah banyak membunuh orang? Kalian pikir aku tidak tahu mengenai penelitian kalian di laboratorium itu?"

Len kembali mengingat ucapan yang dilontarkan oleh Rin, seakan gadis itu mengetahui sesuatu mengenai semua laboratorium tersebut. Selain itu, Len juga merasa penasaran. Jika gadis itu memang menghancurkan semua fasilitas laboratorium milik pemerintahan dunia, mengapa gadis itu langsung menyerahkan diri setelah semua fakta diketahui?

Len tersentak kaget. Fakta, itulah yang menerangi pikiran pemuda itu. Fakta apa yang tersembunyi dari semua aksi penghancuran laboratorium tersebut oleh Rin? Jika gadis itu mengetahui sesuatu mengapa gadis itu lebih memilih menyerahkan diri dibandingkan membeberkan semua fakta itu kepada semua orang? Jika Rin memang tidak mempercayai dirinya yang dianggap gadis itu sangat tidak berkompeten sebagai seorang Knight, bukankah gadis itu bisa memberitahu semua yang ia ketahui kepada Mikuo atau kepada orang tuanya?

Semakin Len berpikir terhadap semua kemungkinan, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya hingga pemuda itu mencapai suatu kesimpulan. Ia sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai Kamine Rin, sang High Summoner. Kehidupan gadis itu dipenuhi dengan misteri. Kabut gelap yang menyelimuti gadis itu terlalu tebal sehingga tak mampu disingkap oleh Len. Jikalau Len mampu menyingkap kabut misteri itu, Rin telah menyiapkan jalur yang berliku bagaikan labirin agar tak seorangpun memahami dirinya.

Len memandang angkasa yang semakin menggelap, mengingat awal mula pertemuannya dengan Rin. Awal pertemuan yang tidak menyenangkan, pertemuan dan interaksi mereka lebih didominasi oleh pertengkaran dan caci maki. Bahkan Len teringat bagaimana kawan-kawan satu jurusan mereka menggodanya dan mengatakan bahwa mereka akan saling mencintai.

Len mendengus pelan, sungguh konyol. Mana mungkin ia akan mencintai gadis yang ucapannya kejam seperti Rin?

"Satu peraturan yang harus kau ketahui, Len. Pihak yang dilindungi dan pihak yang melindungi tidak boleh bersatu,"

.

.

"Aku tidak akan pernah menyukai kau, Kamine Rin,"

"Bagus kalau begitu,"

.

.

"Pihak yang dilindungi dan pihak yang melindungi tidak boleh bersatu,"

.

.

Len mengangkat alisnya, merasa heran dengan kenangan yang pemuda itu ingat. Saat itu kawannya menggodanya dan Len secara spontan menjawab seperti itu. Saat Rin kembali menantangnya Len kembali menegaskan bahwa ia tidak akan pernah mencintai Rin. Akan tetapi gadis itu hanya bereaksi datar, jika diingat-ingat seakan gadis itu merasa lega bahwa ia tidak akan mencintai gadis itu.

.

.

"Jika engkau tidak mau mengalami penderitaan, jangan pernah jatuh cinta kepada High Summoner,"

Len kembali menatap matahari senja yang berwarna merah, hampir tenggelam sempurna. Benaknya berpikir keras. Apakah Rin mengetahui peraturan itu?


~000~


Rin meringkuk di tempat tidur. Suasana ruangan tempat gadis itu dikurung saat ini sangat berbeda dengan suasana hangat rumah keluarga Kagamine. Tidak ada canda tawa, tidak ada kasih sayang. Padahal gadis itu baru saja menikmati suasana hangat dan kekeluargaan di rumah itu. Akan tetapi semua itu sudah direbut darinya, kembali ia menikmati suasana dingin, sepi dan kesendirian. Semua agen pemerintah dunia memandang gadis itu dengan tatapan penuh rasa takut dan waspada.

Rin menegakkan tubuhnya, mendudukkan diri dan mengarahkan pandangannya ke jendela. Bulan bersinar dengan pucat. Sesekali awan berwarna abu menutupi wajah rembulan, menahan sinarnya sehingga bumi menjadi gelap gulita.

Brakk.

Pintu ruangan dimana Rin dikurung terbuka, akan tetapi Rin tidak menoleh. Gadis itu masih setia menatap rembulan berwarna pucat.

"High Summoner Rin, sekali lagi-,"

"Percuma saja," Rin memotong ucapan pihak pemerintah dunia yang entah siapa.

"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian memanfaatkan kekuatanku," lanjut Rin.

"High Summoner, jika anda terus bersikap seperti ini-,"

Sebelum pihak pemerintah dunia itu menyelesaikan ucapannya, Rin mengerahkan kekuatannya untuk mengusir petugas pemerintah dunia tersebut dari kamarnya. Pihak pemerintah dunia itu terpental keluar dari kamar Rin. Pintu ruangan tersebut juga langsung menjeblak tertutup dengan suara yang keras. Rin mengerahkan kekuatannya untuk menutup dan menyegel pintu tersebut, mencegah siapapun memasuki ruangannya. Suara gedoran dan dobrakan terdengar keras dari pintu itu. Suasana juga semakin ricuh, tampaknya pemerintah dunia berusaha memasuki ruangan tempat gadis itu dikurung dengan paksa.

Rin menundukkan kepalanya, kedua tangannya ia katupkan di telinganya. Gadis itu tidak ingin mendengar semua keributan itu. Sejak Rin tiba di salah satu gedung milik pemerintah dunia, gadis itu terus dipaksa untuk menyerahkan dirinya dan membiarkan pihak pemerintah memanfaatkan kekuatannya. Gadis itu sudah lelah dengan semua tekanan yang ia terima.

Rin kembali menidurkan dirinya, meringkuk di tempat tidurnya. Air mata mengalir dari mata sapphirenya yang indah. Ia tertawa terpaksa. Apa yang sudah terjadi maka terjadilah. Bukankah semua kejadian ini adalah akibat dari pilihan gadis itu juga? Bukankah terungkapnya identitasnya sebagai High Summoner adalah pilihan gadis itu juga?

Rin kembali merenungi semua kejadian dalam hidupnya. Jika saja gadis itu lebih memilih untuk hidup damai dan tidak menonjolkan kekuatannya sebagai High Summoner, tentu sampai saat ini Rin masih hidup dengan tenang tanpa ada seorangpun yang mengetahui identitas dirinya. Masyarakat dunia baru akan tahu bahwa dirinya adalah High Summoner ketika waktu penyegelan Bahamut telah tiba.

Akan tetapi, tidak. Rin membuang pilihan hidup damai yang dapat ia miliki dan lebih memilih mengejar sosok seorang Kagamine Len.

Ya, Rin memilih untuk mengejar Kagamine Len.

Saat pertama kali Rin merasakan koneksi hatinya dengan Len, Rin berusaha membatasi koneksi itu sehingga Len tidak mengetahui lokasi keberadaannya. Tapi tak dapat dipungkiri, Rin juga merasa penasaran, siapakah sosok pemuda yang mengemban tanggung jawab untuk melindunginya hingga akhir hayat gadis itu?

Rin mengerahkan kekuatannya, berusaha melihat seperti apa sosok Knightnya. Seseorang yang akan melindunginya hingga akhir hayat gadis itu. Seseorang yang akan membantunya menjalani kehidupan yang tenang sebagai manusia biasa. Saat melihat sosok Len, Rin hampir kehilangan niatnya untuk hidup damai. Gadis itu hampir saja memperkenalkan identitasnya kepada Len.

Tetapi melihat Len yang hidup dengan tenang dan damai, tanpa beban apapun kecuali beban seorang Knight, Rin mengurungkan diri untuk memperkenalkan dirinya. Gadis itu tidak ingin menyeret Len kedalam kehidupan Rin yang rumit dan tidak pasti. Keluarga yang hangat, sahabat yang baik dan kehidupan yang tenang. Rin tidak ingin mengambil semua kebahagiaan itu dari Len. Karena itulah Rin kembali menarik diri, memperhatikan sosok Len dari jauh, berdoa untuk kebahagiaan pemuda itu meskipun Rin sangat kesepian.

Akan tetapi Rin tidak dapat menahan dirinya. Sesekali gadis itu mencoba mengamati Len dari dekat. Berpura-pura sebagai sosok yang berpapasan jalan, agar Rin dapat memperhatikan wajah pemuda itu dari dekat.

Belum lagi media yang selalu memberitakan keberadaan Len sebagai seorang Knight, mempermudah akses bagi gadis itu untuk mengamati sosok seorang Kagamine Len. Perlahan tetapi pasti, gadis itu mulai mencintai Kagamine Len, Knightnya. Rin tidak peduli jika perasaan cinta ini adalah salah, jika perasaan cinta ini telah melanggar aturan.

Tidak puas dengan itu saja, Rin secara nekat berusaha masuk kuliah dan mengambil jurusan yang sama dengan pilihan Len. Gadis itu ingin mengamati Len lebih dekat lagi, mengenal pemuda itu lebih jauh, mengabaikan rasa sakit dan luka yang telah tertoreh dalam lubuk hatinya. Rin tidak peduli meskipun ia harus terluka begitu dalam. Meskipun Len akan membencinya suatu saat nanti, tetapi Rin ingin dirinya menjadi bagian kenangan dalam ingatan Len. Menjadi bagian dalam kenangan Len, bahwa Kamine Rin pernah ada dalam kehidupan pemuda itu meskipun hanya sebentar.

Gadis itu mengidahkan larangan dan aturan yang paling utama dalam kehidupannya sebagai High Summoner. Seorang High Summoner dilarang mencintai, baik pria lain maupun Knightnya. Karena, jika High Summoner telah mencintai seorang pria, maka hanya rasa sakit yang tersisa.

Akan tetapi apa peduli Rin? Gadis itu hanya akan hidup hingga usianya berumur 20 tahun, waktu yang singkat. Bagi Rin, lebih baik ia melanggar peraturan itu daripada ia hidup tanpa pernah mengetahui seperti apa perasaan cinta. Setidaknya, perasaan cinta yang tak terbalas bagi dirinya akan terbawa hingga ajal menjemput gadis itu.

Dan sialnya, ternyata gadis itu mencintai Kagamine Len, Knightnya.

Rin tersenyum kecil. Ia tahu, cintanya tak akan pernah terbalas. Karena bagi para bangsa ksatria yang terpilih untuk melindungi para High Summoner juga terdapat sebuah aturan. Aturan yang melarang seorang Knight mencintai High Summoner yang dilindunginya.

Karena itulah, Rin berusaha bersikap sinis dan kejam kepada Len. Gadis itu ingin melindungi hati Len, agar pemuda itu tidak perlu merasakan cinta pada dirinya.

Lagipula apa yang bisa Rin berikan kepada Len?

Gadis itu akan mati sebentar lagi. Jika Len mencintainya maka saat gadis itu meninggal hanya rasa sakit yang tersisa di hati pemuda itu. Tak ada yang bisa diberikan Rin kepada Len selain rasa sakit yang menyiksa. Karena itulah, lebih baik Rin yang merasakan semua sakit itu. Ia tidak ingin pemuda yang Rin cintai juga merasakan rasa sakit yang sama.

Rin meraba pipinya yang ditampar oleh Len. Tak ada lagi memar, tak ada lagi rasa perih panas, tetapi hati Rin masih merasa sakit setiap mengingat tamparan yang telah diberikan oleh pemuda itu. Rin masih mengingat caci maki yang diteriakkan oleh Len. Gadis itu berusaha tidak memikirkan semua itu. Rin paham, Len hanya merasa terkejut dan mungkin terkhianati?

Rin menghela napasnya. Tubuh dan hatinya terasa lelah. Gadis itu dapat merasakan rasa kantuk yang mendera hebat.

"Mungkin, tidur akan lebih baik untukku," gumam Rin pelan.

Gadis itu mengubah posisi tidurnya sehingga pandangannya mengarah ke langit-langit ruangannya. Tak ada lagi suasana ribut dari luar. Mungkin mereka semua sudah menyerah.

"Selamat tinggal... Len," gumam Rin.

Perlahan gadis itu menutup matanya. Sekarang, Kamine Rin telah tertidur.


~000~


Len tersentak. Pemuda itu tidak mengerti mengapa tubuhnya sesaat seakan dialiri letupan listrik tegangan kecil. Seakan ada sesuatu yang menghilang, ada sesuatu yang terputus dari dirinya. Perlahan air mata mengalir dari matanya yang berwarna sapphire. Len menengadahkan tangannya, memperhatikan air matanya yang terjatuh di telapak tangannya.

"Len... kenapa tiba-tiba...?" Meiko memperhatikan Len dengan cemas.

Len terdiam, matanya memperhatikan ibunya yang cemas tersebut. Tetapi Len juga tidak paham, mengapa tiba-tiba saja air matanya mengalir tiada henti.

"Aku tidak tahu... kenapa aku menangis? Rasanya... ada sesuatu, sesuatu yang menghilang dari diriku," jawab Len terbata.

"Apa maksudmu-,"

"Len, apa kau masih bisa merasakan keberadaan Rin-sama?" Mikuo memotong pertanyaan Kaito.

Len menatap Mikuo dengan heran tetapi akhirnya pemuda itu menutup matanya, berusaha berkonsentrasi. Cukup lama Len menutup matanya, saat pemuda itu kembali membuka matanya sorot matanya dipenuhi kebingungan.

"Perasaan ini begitu berbeda. Berbeda pada saat awal, meskipun Rin membatasi koneksi hati kami berdua, aku masih bisa merasakan keberadaan Rin meskipun aku tidak tahu dimana posisinya," gumam Len.

"Lalu sekarang? Apa yang kau rasakan?" kejar Mikuo.

Len merasa ragu-ragu dan bingung.

"Apa yang kau rasakan?" Mikuo mengguncang bahu Len, memaksa pemuda itu menjawab.

"Seakan...," Len merasa ragu.

"Apa? Apa yang kau rasakan?!" desak Mikuo.

"Seakan... Rin... sudah tidak ada lagi di dunia ini...,"


~000~


A/N: Yes, begitulah. Review?