A/N: Sudah lama ya... apa masih ada yang nungguin kelanjutan fic saya ini? Mohon maaf atas keterlambatan saya. Silahkan dibaca dan berikan review anda.
Disclaimer: VOCALOID bukan punya saya, tapi milik pengembang mereka masing-masing.
Happy Reading ^_^
"Seakan... Rin... sudah tidak ada lagi di dunia ini...,"
.
.
Dia Yang Kucinta
.
.
Mikuo melepaskan kedua tangannya dari bahu Len. Knight senior itu hanya mampu membulatkan matanya, mulutnya terbuka. Wajahnya tampak gelisah sebelum akhirnya keluar ruangan, memanggil Kaito. Len berlari mengejar Mikuo.
"Mikuo-sama, apa maksudnya ini? Apa anda tahu sesuatu?"
Tetapi Mikuo mengabaikan pertanyaan Len. Pria baya itu tampak berbicara serius dengan Kaito. Kaito juga menampakkan wajah bingung, tetapi melihat wajah Miko yang serius dan cemas, pria biru itu hanya mampu menggangguk pelan. Len dan Meiko menghampiri kedua pria tersebut.
"Mikuo-sama, ada apa? Apa anda tahu sesuatu?"
Mikuo hanya menatap Len dengan pandangan yang tidak pasti. Tak lama hembusan napas terdengar dari mulutnya.
"Aku punya perasaan yang tidak enak," gumamnya.
"Apakah itu berkaitan dengan Rin-chan?" gumam Meiko.
"Aku tidak pasti. Hanya saja, terputusnya hubungan hati antara Len dan Rin-sama bukanlah suatu hal yang baik. Aku harap kita dapat segera menemukan keberadaan Rin-sama dan membawanya pulang kembali bersama kita,"
Sesaat ekspresi wajah Len berubah.
"Dan kita harus membawanya kembali pulang, Len. Tak peduli kau membenci gadis itu atau Rin-sama yang telah melakukan pembakaran laboratorium fasilitas dunia. Semua itu tidak mengubah fakta bahwa Rin-sama adalah High Summoner,"
Semua mata memandang pada Len. Pemuda itu hanya mengangkat bahu, tanda menyerah.
"Aku serius Len,"
"Baiklah, baiklah," gumam Len menyerah. Mikuo masih memandang pemuda itu dengan tajam sebelum akhirnya kembali berbicara serius dengan Kaito.
"Aku istirahat dulu,"pamit pemuda itu.
~000~
Seorang pemuda berambut kuning cerah sedang duduk di puncak salah satu gedung pencakar langit Tokyo, Akita Nero. Angin dingin yang kencang memainkan anak rambutnya. Sesaat ekspresi wajahnya menegang sebelum akhirnya seringai licik tampak di wajahnya yang tampan.
"Heh, melemahkan kekuatanmu? Apakah itu berarti engkau membolehkanku untuk membunuhmu?" seringainya pelan.
Pemuda itu menaikkan wajahnya, memandang langit yang diterangi oleh cahaya kota.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan pulih sepenuhnya," bisik pemuda itu bersemangat.
"Jadi, dimana kau sekarang gadis manis?"
~000~
Len melangkah bermaksud menuju kamarnya. Saat pemuda itu telah menyentuh kenoop pintu kamarnya, sesaat gerakan pemuda itu terhenti. Mata pemuda itu menatap pintu kamar yang ada di belakang tubuhnya. Kamar itu adalah kamar yang sementara ini ditempati oleh Rin. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak datar. Sesaat ia kembali teringat renungannya saat senja. Sebuah fakta bahwa pemuda itu sama sekali tidak mengenal Rin.
Setelah terdiam dan ragu-ragu barang sejenak, Len melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamar Rin secara perlahan. Tak banyak yang berubah saat pemuda itu terakhir kalinya memasuki kamar ini saat ia membawa Rin yang pingsan karena diserang oleh Nero. Kamar ini sangat rapi, khas kamar anak perempuan. Tidak banyak hiasan yang ada di kamar tersebut. Hanya ada perabotan standar dan buku serta alat tulis yang berjejer. Mungkin juga karena Rin pindah ke rumahnya untuk dilindungi makanya gadis itu tidak membawa banyak barang.
Len melihat-lihat buku yang berderet dan berjejer rapi di rak buku, memandangi judul yang tertera dengan rapi. Tak ada yang aneh dari buku-buku tersebut, hanya menandakan bahwa Rin gemar membaca buku bertopik sejarah dan fantasi. Len mengalihkan pandangannya ke meja belajar Rin, hanya ada seperangkat laptop yang terlipat rapi disertai buku dan alat tulis yang berjejer. Len memandang laptop milik gadis itu dengan penuh minat, sebuah laptop berwarna kuning cerah. Sesaat Len ragu-ragu, tetapi pemuda itu akhirnya menghidupkan laptop tersebut.
Setelah beberapa saat, laptop tersebut menampilkan layar yang meminta untuk memasukkan password. Ragu-ragu Len mengetikkan 'Kamine Rin' tetapi laptop itu menolak password tersebut. Len mengarahkan kursor laptopnya menuju bantuan untuk mengingat password. Saat mengarahkan kursornya, tampillah dua kata yang membantu password, 'Dia Yang Kucinta'.
Len mengangkat alisnya, memandang bingung kata bantu password tersebut. Dia Yang Kucinta? Apa maksudnya? Apakah selama ini Rin telah mencintai seseorang?
Len memandang layar laptop tersebut. Wajar saja jika Len tidak mengetahuinya. Len memang belum lama mengenal Rin. Lagipula disetiap interaksi mereka berdua, mereka selalu saja bertengkar. Wajar jika Len tidak terlalu mengenal dan mengetahui kehidupan Rin.
Pemuda itu masih serius memandang layar laptop tersebut, mencoba menerka password yang benar.
"Apa yang kau lakukan di sini Len?"
Len menolehkan kepalanya, memandang sumber suara. Meiko, ibunya telah berdiri di ambang pintu, menyalakan lampu kamar Rin. Wanita keibuan itu membulatkan matanya saat melihat laptop Rin yang menyala di hadapan Len, tetapi wanita itu tidak mengatakan apapun. Len tampak gugup dan salah tingkah, Meiko hanya menunggu jawaban dari Len.
"Eh, aku...,"
Meiko memasuki kamar Rin. Wajahnya melembut dan senyum keibuan terpasang di bibirnya.
"Seorang wanita memiliki banyak rahasia di kamarnya. Karena itu, sangat tidak sopan jika orang lain, terutama seorang pria memasuki kamar seorang gadis tanpa seizin gadis itu,"
Meiko meletakkan satu tangannya di bahu Len sementara tangannya yang satu lagi menutup layar laptop milik Rin.
"Apakah kau masih membenci Rin-chan?" Meiko memeluk anaknya dari belakang. Len tampak rileks dengan pelukan itu, tetapi ia belum menjawab pertanyaan Meiko.
"Rin-chan, dia hanya merasa kesepian," gumam Meiko seakan tanpa interupsi. Len hanya terdiam, membiarkan ibunya terus berbicara.
"Aku rasa, meskipun Rin-chan telah melakukan hal yang buruk dan menjelekkan dirimu, sebenarnya gadis itu sangat peduli padamu,"
Len mengangkat alisnya.
"Apa maksud Ibu?"
Meiko menatap bola mata Len yang berwarna sapphire indah.
"Setiap Rin-chan memandangmu, Ibu bisa melihat bahwa tatapan mata gadis itu padamu sangat lembut," gumamnya pelan.
"Itu tidak mungkin," Len membuang pandangannya. Meiko hanya tersenyum geli.
"Kau harus tahu Len. Saat seorang gadis memandang seorang pria dengan lembut, itu berarti gadis itu peduli pada pemuda itu atau...," Meiko menggantung ucapannya.
"Atau...?" kejar Len.
"Atau... gadis itu mencintaimu," Meiko menyentuh hidung Len dengan sentuhan yang lembut.
Awalnya wajah Len tampak biasa, tetapi semakin lama wajah pemuda itu semakin memerah. Meiko hanya bisa tertawa pelan menyaksikan perubahan warna pada wajah Len.
"Ayo keluar. Kita harus menghargai privacy Rin," Meiko memeluk Len dan membawa pemuda itu keluar.
Len memandang laptop Rin untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya memandang Meiko. Meiko memandang Len dan tersenyum lembut. Senyum keibuan.
~000~
Seorang pria baya berambut putih berjalan menyusuri lorong. Langkahnya bergaung sementara wajahnya tampak gusar. Dialah sang pemimpin pemerintah dunia cabang Jepang.
"Tuan akhirnya anda datang. Kami tidak-,"
"DIAM" raung pria baya itu. Semua aktifitas terhenti. Semua orang yang ada disana berhenti dari kegiatannya masing-masing, menatap individu mana yang sial menerima kemarahan sang pemimpin.
"Semua kembali bekerja!" raungnya. Tak lama kemudian semua orang yang ada di lokasi tersebut langsung sibuk pada kegiatan mereka masing-masing. Mereka semua terlalu takut untuk mencari tahu bahkan hanya sekedar untuk menguping pembicaraan.
"Apa saja kerja kalian, hah? Kenapa gadis itu bisa dalam keadaan seperti itu?" raung pemimpin itu pada anak buah yang menyambutnya.
"Kami mohon maaf. Awalnya gadis summoner itu hanya ingin sendiri, saat kami keluar ruangan gadis itu mengunci ruangan dengan kekuatannya. Saat kami memaksa memasuki kamar ternyata gadis itu sudah berada dalam kondisi koma,"
"Cih, apa kalian sudah memanggil dokter?"
"Dokter sudah memeriksa gadis summoner, tetapi bahkan dokter sendiri tidak tahu kapan gadis itu akan terbangun,"
"Sial!" rutuk sang pemimpin sambil memukul dinding yang ada disampingnya.
"Bangunkan gadis itu dengan segala cara, suruh dokter untuk melakukan apapun! Aku tak mau tahu caranya yang penting gadis itu bangun!"
"Akan kami coba, tapi bagaimana jika gadis itu tidak terbangun dengan cara apapun?" gumam bawahan itu dengan tidak pasti.
"Lakukan cara apapun! Aku tak ingin gadis summoner itu kembali pada bangsa Ksatria!"
~000~
Malam telah larut, suasana juga mulai sepi. Tentu saja, saat ini adalah tengah malam. Saat dimana para insan manusia terlelap dalam tidurnya. Akan tetapi, seseorang mengendap-endap memasuki suatu ruangan. Langkahnya sangat pelan, berusaha agar tidak terdengar oleh siapapun. Sosok itu membuka pintu, memasuki kamar dan langsung menutup pintu tersebut tanpa bersuara. Langkahnya pelan tetapi cepat. Sosok itu menyentuh laptop yang terlipat rapi di meja belajar. Tanpa bersuara, sosok itu langsung membuka laptop tersebut dan meyalakannya.
Laptop tersebut bersinar cerah, menerangi sosok gelap tersebut, Kagamine Len. Pandangan pemuda itu serius menatap layar laptop, hingga akhirnya layar meminta password pembuka. Sesaat Len merasa ingung, jarinya perlahan mengetikkan kalimat.
Ayah.
Kembali laptop itu menolak password yang dimasukkan. Tak menyerah, Len langsung mengetikkan perkiraan password yang lain.
Ibu.
Lagi-lagi laptop itu menolak password yang dimasukkan. Len masih belum mau menyerah. Berkali-kali pemuda itu memasukkan banyak kata yang memungkinkan menjadi kata kunci.
~000~
"Tuan-,"
"Kuharap ini merupakan kabar baik," ujar pemimpin pemerintah dunia cabang Jepang.
"Jadi, bagaimana keadaan gadis itu?" lanjut pria itu.
"Kami sudah mencoba semua hal, tetapi kami tak bisa membangunkan gadis itu. Setiap kami akan mendekati gadis itu kami tak bisa mendekat, seakan ada dinding penghalang anatara kami dan gadis itu," jelas pembawa kabar tersebut.
"Cih," decih sang pemimpin dengan tidak senang.
"Apa tidak sebaiknya kita mengabarkan pada bangsa ksatria-"
"Aku menghabiskan 18 tahun dan 6 bulan dari hidupku untuk mengejar gadis ini dan memanfaatkan kekuatannya. Saat gadis ini ada di tanganku dia dengan sombong menolak memberikan kekuatannya untukku. Aku tak mau gadis ini kembali jatuh ke tangan ksatria!"
"Tapi Tuan, jika terus seperti ini bangsa Ksatria-,"
"Cukup! Aku tidak punya waktu untuk mendengar semua ocehanmu! Bangunkan gadis itu atau aku akan membunuh kalian!" ancam sang pemimpin.
Sang pembawa berita merasakan kakinya gemetar ketakutan. Tanpa banyak bicara ia langsung keluar untuk memenuhi perintah tersebut, apapun caranya.
~000~
Akita Nero membuka matanya, anak rambutnya yang berwarna kuning cerah beterbangan ditiup angin.
"Jadi kau disitu rupanya?" gumam Nero.
"Jadi, apa yang harus kulakukan? Langsung membunuhmu? Tidak... kekuatanku masih belum cukup kuat meskipun saat ini kau sedang tidak sadar," gumam Nero.
Pemuda itu terdiam, mengamati pemandangan lampu kota yang indah.
"Membiarkanmu hidup? Dan kau akan menyegelku, kurasa tidak," kekeh Nero.
Pemuda itu bangkit dari duduknya. Tubuhnya direnggangkan, seakan hendak menghilangkan kaku di seluruh persendian tubuhnya.
"Baiklah, mungkin aku akan bermain-main dulu denganmu. Sekuat apa kekuatanmu meskipun saat ini kau sedang tertidur,"
Nero memandang langit yang gelap. Meskipun begitu, beberapa sinar bintang dan rembulan penuh berwarna perah menghiasi gelapnya malam.
"Besok, aku akan bermain denganmu,"
~000~
Semburat jingga mulai tampak di ufuk cakrawala, pertanda matahari terbit. Meskipun begitu, terdapat seseorang yang tidak tiur sama sekali, Len. Matanya tampak lelah dan disekeliling matanya terdapat lingkar hitam, tanda kurang istirahat. Akan tetapi pemuda itu menolak untuk tidur. Pikirannya masih terpaut pada password yang akan membuka layar laptop tersebut. Pemuda itu merasa frustasi. Pasalnya selama lima jam Len berusaha menebak password tersebut tetapi hasilnya nihil. Semua nama yang kira-kira Len ketahui sudah ia masukkan. Mulai dari nama kawan-kawan mereka berdua di jurusan kuliah yang sama hingga nama orang tua Len, nama Mikuo-sama serta nama High Summoner dan Knight terdahulu telah ia masukkan. Hasinya tetap saja nihil.
Len memandang sekeliling kamar dengan lelah, berusaha mencari inspirasi password.
"...sebenarnya gadis itu sangat peduli padamu,"
Len mengangkat alisnya, teringat percakapannya dengan Ibunya di kamar ini.
"Saat seorang gadis memandang seorang pria dengan lembut, itu berarti gadis itu peduli pada pemuda itu atau..."
"Atau...?"
"Atau... gadis itu mencintaimu,"
Kata-kata ibunya masih tergiang di telinga Len.
"Rin mencintaiku?" gumam Len tidak percaya, dan sesungguhnya memang pemuda itu tidak percaya.
Len terkekeh lemah sembari menggelengkan kepalanya, berusaha menolak asumsi ibunya yang terngiang.
"Mana mungkin gadis itu mencintaiku? Kami selalu bertengkar. Menatapku dengan lembut? Pastinya Ibuku salah lihat. Hanya mengada-ada saja," gumam Len menolak.
Mata pemuda itu kembali menatap layar password. Kursor komputer berkelap-kelip, menunggu kalimat passwor yang akan diketik. Len tampak ragu. Memang sejak awal pemuda itu mencoba, ia belum memasukkan namanya menjadi password.
Sesaat pemuda itu bimbang.
Masukkan...? Tidak...? Masukkan...? Tidak...?
Tapi, hanya mencoba mengetik saja tidak ada salahnya, kan?
Len mengetikkan namanya ke dalam kolom password sebelum akhirnya mengarahkan kursornya di tombol Enter.
Len.
Entah kenapa jantung pemuda itu berdetak dengan cepat. Jika namanya yang diketikkan menjadi password memang benar, kira-kira apa yang harus ia lakukan?
Pemuda itu menekan tombol Enter.
Layar laptop menolak password tersebut. Sesaat wajah Len campur aduk antara lega dan kecewa.
"Sudah kuduga," gumamnya sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah langit-langit kamar. Len terdiam untuk beberapa saat hingga ia kembali meletakkan jari-jarinya diantara tuts keyboard. Jari jemarinya mengetik dengan lancar di kolom password.
Kagamine Len.
Entah kenapa Len mengetikkan nama lengkap pemuda itu. Len tidak dapat menjelaskannya tetapi seakan pemuda itu merasa ia harus mengetikkan nama lengkapnya di kolom password. Pemuda itu mengamati kolom tersebut, tampak tidak yakin dan ragu-ragu. Tapi sekali lagi, tak ada salahnya mencoba, kan? Dengan mantap – karena merasa tidak mungkin – Len menekan tombol Enter password.
CRIING
Layar laptop menerima password yang baru saja dimasukkan. Len langsung jatuh dari kursi, kepalanya menghantam lantai kayu dengan keras. Pemuda itu buru-buru memperbaiki kursi dan duduk dengan benar, tampak kaget dan tidak percaya.
"Namaku... passwordnya?" gumam pemuda itu tak percaya.
Sesaat pemuda itu kembali mengingat hint password milik Rin. Dia Yang Kucinta. Gadis itu mencintai dirinya?
Len hanya mampu terdiam, akan tetapi wajahnya merah dengan sempurna. Pemuda itu menutup mulutnya dengan tangannya.
"Dia... mencintai... aku?" gumam Len masih dengan nada tidak percaya.
Pemuda itu mencoba menjelajah isi laptop tersebut. Sebagian besar isinya tidak terlalu aneh, sama dengan isi laptop secara normal, berisi data-data penting, tugas essay dan makalah. Tak ada yang aneh. Len hendak menutup laptop tersebut saat matanya tidak sengaja memandang pada sebuah folder berjudulkan "The High Summoner x Knight".
Len mengklik folder tersebut dan mendapati dua folder yang terpisah. Satu folder berjudulkan "High Summoner" sementara folder yang lain berjudulkan "Knight". Len tampak ragu sesaat sebelum akhirnya memilih folder Knight. Tak banyak yang bisa dilihat disana kecuali beberapa foto dan biodata mengenai para Knight terdahulu. Bahkan Len dapat menemukan biodata lengkap mengenai Mikuo-sama, mantan Knight terdahulu dan mentornya sekarang. Mata Len terus menelusuri isi folder tersebut hingga ia menemukan sebuah folder yang berjudulkan namanya, Kagamine Len.
Penasaran, pemuda itu mengklik folder tersebut. Saat itulah mata Len membulat. Folder itu terisi beberapa foto dirinya dan beberapa artikel. Len meneliti fotonya yang diambil pada saat dirinya sedang beraktivitas dan tidak menyadari adanya kamera. Selain itu artikel yang ada dalam folder tersebut juga hanya menjelaskan mengenai beberapa peristiwa yang terjadi dan bagaimana Len – sang Knight – menyelesaikan masalah tersebut. Salah satu artikel menjelaskan mengenai pertempuran Len untuk mengalahkan bayangan kegelapan Bahamut di SMAnya yang terdahulu. Salah satu kejadian yang terjadi tak lama setelah dirinya diangkat menjadi seorang Knight.
Dengan pikiran yang bingung Len terus menjelajah isi folder yang berjudulkan namanya. Isinya tidak terlalu penting, ataukah karena yang dibahas dalam folder tersebut adalah dirinya? Karena folder tersebut hanya menceritakan mengenai berbagai kejadian yang dirinya alami sebagai seorang Knight makanya pemuda itu tidak mengganggap isi file tersebut penting. Toh dirinya yang mengalami semua kejadian itu, pemuda itu hafal petualangan serta berbagai kejadian yang dialami oleh dirinya. Hanya saja Len berdecak kagum, tampaknya Rin benar-benar mengetahui semua yang telah terjadi pada Len, dari awal pemuda itu diangkat sebagai seorang knight hingga saat mereka berdua tinggal seatap.
Tak ada yang penting di dalam folder tersebut, Len mulai mengarahkan rasa ingin tahunya pada folder berjudul High Summoner. Sama seperti folder sebelumnya, file ini juga berisi berbagai foto dan biodata para High Summoner terdahulu. Sama seperti pemuda itu yang menemukan folder berjudulkan namanya, kali ini pemuda honey blonde itu juga menemukan folder berjudulkan nama Kamine Rin. Dengan rasa ingin tahu yang kuat pemuda itu langsung mengarahkan pointer laptop ke arah folder tersebut.
Tak ada foto ataupun biodata dalam folder tersebut, dapat dimaklumi sebenarnya. Akan tetapi folder itu penuh dengan file Ms. Wordyang berjudulkan tanggal, bulan dan tahun. Len mengklik file Word yang berjudulkan tanggal, bulan dan tahun sekitar 9 tahun yang lalu, mengabaikan nasihat ibunya yang entah kenapa berulang dalam benaknya.
6 November xxxx
Bulan Desember akan tiba, saat aku menulis ini, umurku belum memasuki usia 10 tahun.
Len mengernyitkan dahinya, berpikir dengan serius. Haruskah ia membaca file ini? Tampaknya file ini semacam diary milik Rin. Nasihat yang dilontarkan oleh ibunya kembali terngiang di telinganya. Sejenak pemuda itu ragu-ragu. Akan tetapi jika ia membaca semua ini, mungkin pemuda itu dapat lebih mengenal mengenai Rin dan juga High Summoner.
Pemuda itu tampak ragu.
Akan tetapi, sudah terlanjur membuka dan mengetahui password laptop tersebut, lebih baik dilanjutkan saja, kan? Lagipula sudah terlanjur setengah jalan.
Len menarik napas kemudian membuangnya perlahan, kembali melanjutkan membaca diary tersebut.
-umurku belum memasuki usia 10 tahun. Akan tetapi aku sadar kalau aku adalah seorang High Summoner, penerus High Summoner Miku. Sudah lama sekali aku terus bermimpi yang indah. Dalam mimpiku aku adalah seorang perempuan dewasa, memiliki kekuatan sihir yang hebat, mengalahkan monster yang akan menghancurkan dunia dengan ditemani pelindungku yang hebat dan tampan. Bahkan aku bisa merasakan bahwa aku menyukai pelindungku tersebut.
Aku merasa senang dengan semua mimpiku itu. Beranggapan bahwa diriku adalah seorang heroine hebat, yang akan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran. Hingga aku menyadari, bahwa semua itu bukanlah mimpi.
Pada suatu hari, aku bisa menggunakan kemampuanku sebagai seorang High Summoner. Aku dapat membuat bunga-bunga di sekelilingku mekar meskipun bukan musimnya. Setelah itu aku dapat memanggil para spirit bahkan menciptakan pedang dan pelindung dengan kekuatan sihirku. Mimpiku tidak lagi hanya seorang perempuan dewasa berambut teal panjang yang dipanggil dengan nama Miku. Akan tetapi dalam mimpiku terkadang aku dipanggil dengan nama yang berbeda. Yowane Haku-san, Yukimura Miki-san adalah beberapa nama yang sering disebut dalam mimpiku, seakan-akan aku adalah mereka meskipun aku tidak mengenal mereka.
Kedua orang tuaku tidak mempercayai ceritaku begitu aku menjelaskannya pada mereka. Bahkan aku pernah dibawa ke psikolog untuk diperiksa, apakah aku memiliki kelainan mental. Saat itulah aku berhenti menceritakan semua mimpiku dan kekuatan sihir yang kumiliki. Aku merasakan kekuatanku semakin hari semakin bertambah kuat. Mimpiku juga semakin menjelaskan banyak hal. Dan pada akhirnya aku tersadar bahwa aku adalah High Summoner ke 53 yang bertugas untuk menyegel monster Bahamut, untuk selamanya.
Meskipun aku tersadar aku mempunyai kekuatan sihir yang hebat, akan tetapi aku berusaha untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut selain untuk menghadapi monster Bahamut itu suatu hari nanti. Akan tetapi apa yang kulakukan saat ini pun bukan berarti tidak menghasilkan apapun. Aku menyadari saat aku tidak menggunakan kekuatanku, sihir itu menciptakan semacam penghalang bagi diriku dan diri orang lain. Selain itu semua mimpi yang kualami yang menceritakan mengenai para High Summoner terdahulu juga memberikanku berbagai macam pengetahuan. Umurku belum sepuluh tahun, akan tetapi aku terlalu mengerti mengenai dunia. Karena itulah semua orang tanpa sadar takut denganku. Bahkan dapat kurasakan, kedua orangtuaku juga menjauhiku.
Len menyenderkan punggungnya pada kursi yang ia duduki, pointernya mengklik tanda keluar dari file tersebut. Mousenya kembali bermain hingga menunjuk sebuah file yang berjudulkan saat dirinya dan mungkin Rin juga masih SMA. Len kembali mengingat tanggal tersebut, kalau tidak salah tanggal pada file tersebut adalah tanggal dimana dirinya pertama kali bertempur melawan kekuatan bayangan Bahamut. Dengan segera Len langsung membuka file tersebut.
10 Oktober xxxx
Hari ini adalah pertama kalinya kekuatan Bahamut mulai menampakkan diri. Terdapat banyak tempat, akan tetapi kekuatan itu langsung menyerang Kagamine Len-san, pemuda yang ditunjuk oleh Knight Miku nee-sama, Hatsune Mikuo-sama, untuk menjadi Knight pelindungku. Kekuatan Bahamut itu terlalu kuat, dapat kurasakan waktu penyegelan semakin mendekat, dan mungkin juga tugasku untuk menyegel Bahamut akan semakin sulit. Aku tidak ingin menunjukkan diriku dihadapan Kagamine-san dan Mikuo-sama, karena itulah aku mengirimkan Diva dan Undine, sang Song Spirit dan Water Spirit. Meskipun begitu aku ingin bertemu dengan Kagamine-san meskipun hanya sesaat.
Aku bisa melihatnya, aku bisa memandangi Knight pelindungku meskipun hanya sesaat. Dan dapat kurasakan bahwa aku semakin mencintainya.
Bahamut sengaja mengirimkna kekuatan bayangannya pada Kagamine-san. Meskipun begitu aku akan terus menghalanginya. Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi melindungi Kagamine-san.
Len mengerutkan alisnya, mencoba meresapi tulisan tersebut. Matanya diarahkan kepada jendela yang ada di hadapannya. Ufuk langit mulai dipenuhi oleh semburat kemerahan, pertanda bahwa matahari akan segera terbit. Saat pemuda itu keluar dari file sebelumnya dan hendak membuka file yang lain suasana sunyi rumah itu telah diganggu oleh suara deringan telepon.
Len mendecak dengan sebal. Pemuda itu terpaksa mengalihkan pandangannya dari laptop tersebut dan bangkit dari kursi yang ia duduki. Suasana ruangan masih sepi dengan perlahan pemuda itu menuruni tangga. Sebelum ia sempat meraih gagang telepon ternyata ayahnya telah terlebih dahulu mengangkat telepon tersebut. Melihat yahnya sudah mengangkat telepon yang mengganggu itu, Len bermaksud kembali untuk memuaskan rasa penasarannya. Akan tetapi belum sempat Len melangkah jauh, ayahnya telah mengeluarkan suara pekikan yang keras.
"Kau menemukan High Summoner?!"
Len langsung setengah berlari menghampiri ayahnya. Kaito melirik sekilas ke arah Len, menandakan bahwa pria itu menyadari kehadiran Len.
"Baiklah! Sekarang juga aku akan langsung mengirimkan Mikuo dan anakku. Kalian tetap disana, waspadalah dan jaga High Summoner hingga Miko dan ankku datang!?"
Kaito angsung membanting gagang telepn tersebut. Tak disangka ternyata Meiko dan Mikuo telah bergabung dengan Len, memandangi Kaito dengan penuh tanda tanya.
"Kita bertiga langsung berangkat. Keberadaan High Summoner telah diketahui," perintah Kaito.
~000~
AN: Review anda?
