Marriage.

Disclemmar Naruto Masashi Kishimoto.

Hatake Kakashi & Narashi Kana.

Family Hurt Romance

.

.

.

CHAP 2 : Perjodohan Kakashi.

.

Bukankah di dunia ini tidak ada satupun kebetulan?

Hei, lihat. Bahkan hari inipun penuh keajaiban, bukan?

.

Kakashi menyandarkan bahunya pada kusen jendela di kantor Hokage. Pandangannya teralih pada novel di tangannya. Sebuah senyuman tampak di wajahnya, teringat dengan peristiwa sehari sebelumnya.

"Kau tidak membaca Icha-icha lagi, Kakashi?"

Dengan cepat Kakashi menatap wajah Tsunade dan ia begitu terkejut mendapati pandangan dari yang lainnya.

"Ah, aku masih membacanya, Tsunade-sama." ucap Kakashi gugup.

Kushina menaikkan sebelah alisnya lalu berseru riang. "Akh, syukurlah. Akhirnya Kakashi bisa benar-benar terlepas dari novel meseum itu."

Kakashi dan Minato sweatdrop mendengar perkataan Kushina.

"Yah, syukurlah." –ini yang berbicara Sandaime dengan nada mencemooh.

"TIDAK!"

Semua orang yang ada di ruangan itu agak terlonjak mendengar Jirraiya yang berteriak –sepertinya histeris- tiba-tiba dan Tsunade bersumpah ia benar-benar ingin mencekik sanin meseum itu.

"Jiraiya! Kau ingin buat kerusuhan di sini, hah!?" ancam Tsunade yang sedang naik darah.

Jiraiya tidak peduli dengan ancaman Tsunade. Ia mendekati Kakashi, memegang kedua bahu Kakashi dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.

"Teganya kau, Kakashi." Ucap Jiraiya berulang-ulang dengan ekspresi sedih.

Kakashi yang tak terima diperlakukan seperti itu, melepaskan pegangan Jiraiya dengan agak kasar. "Apa yang kau lakukan, Jiraiya-san!?" protes Kakashi yang tak terima diperlakukan seperti itu.

"Kenapa kau tidak membaca lagi novel icha-icha ciptaanku, Kakashi?" tanya Jiraiya tak percaya. Kakashi memutar bola matanya bosan melihat Jiraiya bertingkah seperti orang yang patah hati(?) –oh, lupakan.

"Memangnya dia tidak boleh membaca novel selain ciptaanmu, Jiraiya?" tanya Nandaime aneh sambil melihat Jiraiya tak percaya. "Konyol! Aku pikir dengan berjalannya waktu, sedikitnya kau berubah. Tapi nyatanya kau tidak berubah sedikitpun, hmmm."

"Oh, jangan lupakan ia sangat bodoh sekali, Nandaime-san." Tambah Orochimaru.

Jiraiya yang sudah tepojok dengan penilaian singkat Hokage kedua harus merelakan hatinya semakin berdarah mengingat ucapan dari teman satu teamnya itu. Terkutuklah Orochimaru! Harapnya. Tapi Jiraiya tidak peduli. Ia kembali fokus kepada Kakashi.

"Apa yang salah dengan novelku kali ini hingga kau tidak membacanya lagi, Kakashi?" tanya Jiaiya dengan tatapan nanar.

"Dengan segala hormat, Jiraiya-san, untuk saat ini aku memang tidak membacanya tapi kau tenang saja aku masih menyimpan semua novel icha-icha ciptaanmu dan tetap menjadikannya novel favoritku. Dan kau tidak perlu bersikap seperti ini!"

Kakashi mendengus kesal dan memilih untuk memijat pelipisnya yang mulai pusing melihat tingkah Jiraiya. Dari ekor matanya, ia melihat Minato, gurunya, tersenyum senang melihat dirinya diganggu oleh Jiraiya. Ia berjalan melewati Jiraiya yang sedang terpuruk setelah rasa pusing di kepalanya mulai berkurang.

"Kau mau kemana, Kakashi-sensei?" tanya Sakura melihat Kakashi yang sepertinya ingin meninggalkan ruangan Hokage ini. Kakashi berhenti dan menatap murid perempuan satu-satunya itu. Kakashi sudah akan bicara -

"Tidak lewat jendela seperti biasanya, Kakashi-sensei?" tanya Sasuke yang sedikit heran.

-dan terlewat begitu saja. Kakashi menatap Sasuke datar, mendengus kesal. "Tidak, Sasuke." Jawab Kakashi sebal. Sakura menatap Sasuke yang meringis kesakitan karena dihadiahi oleh Yamato sebuah pukulan halus yang mendarat di kepalanya. Karena sudah tidak mood untuk membalas pertanyaan Sakura, Kakashi berbalik dan mulai memutar kenop pintu sampai salah satu tetua desa terlihat di pandangannya dan memberikan salam.

"Halo, Hatake-san."

"Kazuro-sama?"

Tetua itu tersenyum. "Aku ada perlu dengan Hokage..." ia menatap siluet Tsunade di balik tubuh Kakashi dan kembali menatap Kakashi dengan senyum bahagia. "...juga denganmu, Hatake-san. Jika kau tak kebeatan?" lanjutnya.

~OO~

"Tidak jadi pergi, Hatake-san?" tanya Tobimaru menatap Kakashi setengah menyindir.

"Tidak, Nandaime-san. Mungkin anda mendengar jika Kazuro-sama ingin saya berada disini karena beliau ada perlu dengan saya." Jelas Kakashi.

"Pintar." Puji Tobimaru.

"Terimakasih."

Tobimarru memutar matanya. 'Dia tidak terkecoh.' Pikirnya tentang Kakashi. 'Lumayan.'

"Nah, Hatake-san."

Kakashi menoleh ke arah Kazuro yang mendekat ke arahnya.

"Syukurlah kau tidak jadi pergi, Hatake-san." Ucap tetua itu senang karena Kakashi tidak jadi meninggalkan ruangan Hokage itu. Sebenarnya mungkin saat ini Kakashi bisa saja bersantai ria dengan bacaan novel barunya andai ia memilih meninggalkan ruangan ini lewat jendela sedari tadi sesuai saran dari Sasuke.

"Ah,ya, Kazuro-san. Ngomong-ngomong, maaf jika saya lancang dan terlihat tidak sabar, tapi kalau boleh saya tahu anda ada perlu apa dengan saya, Kazuro-sama?" tanya Kakashi sesopan mungkin.

Kazuro memandang Kakashi, lalu tersenyum hangat. Kipas yang sedai tadi terlipat ditangan kanannya dipindahkan dan ia mulai mengacak-acak rambut Kakashi. Membuat Kakashi sedikit –sebenarnya sangat terkejut- panik melihat salah seorang tetua memperlakukannya seperti anak-anak dan jujur ia sangat tak suka apalagi, hei, bukankah ia terlalu dewasa untuk diperlakukan seperti itu?

"Kau sangat lucu, Hatake-san."

"Hah?" Kakashi hanya bisa menatap takjub tetua desa di depannya. Ia tak menyangka dan ia yakin semua orang yang melihat dan mendengar apa yang baru saja dilakukan seorang tetua desa kepadanya, tidak akan ada yang menyangkanya. Kakashi schok.

"Ah, ya. Ini." Kazuro menyerahkan sebuah amplop besar bewarna coklat kepadanya setelah dengan tidak berdosanya ia mengacak-acak rambut Kakashi dan mengatainya lucu.

"Apa ini, Kazuro-sama?"

"Buka dan baca isinya." Perintah Kazuro.

Kakashi menurutinya, mengabaikan banyak pasang mata yang penasaran dengan isi amplop besar yang dipegangnya.

Dengan cepat ia membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Beberapa –yang menurutnya- dokumen sudah ditangannya. Dan ia mulai mengamati apa yang tertulis di dalam dokumen itu. Di dalam dokumen itu ada sebuah photo seorang perempuan yang cantik, sangat cantik tengah tersenyum. Di bawah photo itu ada beberapa tulisan, seperti kelengkapan identitas dari pemilik photo itu.

"Namanya Ayukawa Kahyo."

Kakashi mendongak ke arah Kazuro. Keningnya mengerut tidak mengerti dan entah mengapa ia merasakan firasat buruk akan segera menghampirinya.

"Ia terlihat sangat cantik di photonya, bukan, Hatake-san?" tanya Kazuro. Kakashi menatap photo di dalam dokumen itu dan menatap lagi ke arah Kazuro. "Benar. Kazuro-sama. Amat. Sangat. Cantik."

Kazuro tersenyum senang. "Aslinya jauh lebih cantik loh, Hatake-san."

"Lalu?"

"Dia juga berasal dari keluarga terpandang di Konoha. Sangat cocok denganmu, Hatake-san."

Seluruh tubuhnya bagai disengat aliran listrik. "Maksud anda, Kazuro-sama?" tanya Kakashi hati-hati.

Kazuro tersenyum senang. "Kau.." tetua desa itu menunjuk ke arah Kakashi. "..dengan nona Ayukawa, hm, yah, kau tahu apa maksudnya, Hatake-san."

Kakashi menurunkan jakunnya dengan berat. Tatapannya nanar.

"Maksudnya perjodohan? Kakashi akan di jodohkan dengan perempuan bernama Ayukawa Kahyo?" tanya Jiraiya tak percaya. Kazuro menatap Jiraiya tak senang. "Begitulah." Ucapnya mengabaikan Jiraiya dan memilih memandang Kakashi dengan perasaan bahagia.

Semua yang ada di ruangan itu terperanjat, kaget, setengah tak percaya.

"Apa?" bisik Kakashi parau.

"Aku ingin kau ada di sini besok sekitar jam 8 pagi."

"Besok?"

"Oh, tentu saja, Hatake-san. Bagaimanapun kau harus betemu dengan calon tunanganmukan? Sebelum memutuskan apakah kau cocok dengannya atau tidak."

"Jadi besok perempuan itu akan datang kemari untuk memperkenalkan dirinya?" tanya Tsunade masih dalam keadaan setengah sadar dari shocknya.

"A, apa yang akan anda putuskan ji..jika aku dan dia cocok?" tanya Kakashi cemas.

"Tentu saja sebuah acara pesta pernikahanmukan, Hatake-san."

BLAAARRRR! Tubuh Kakashi tidak dapat bergerak. Matanya membelalak kaget. Wajahnya yang pucat tambah memucat. Jika wajahnya tidak menggunakan masker, sudah tentu mulutnya menggangga lebar.

"Nah, selebihnya akan aku katakan nanti jika kau sudah bertemu dengannya, Hatake-san. Aku benar-benar berharap kau akan datang tepat waktu, Hatake-san. Kau tidak ingin membuat perempuan yang kau katakan 'Amat. Sangat. Cantik.' Itu menunggumukan? Oh, kuharap kau tidak mengecewakanku." Jelas Kazuro. Ia lalu menatap sekelilingnya dan tersenyum simpul. "Aku permisi dulu." Lanjutnya kemudian melangkahkan kakinya, membuka pintu ruangan Hokage dan suara 'bruuk' kecil mengakhiri keberadaan sang tetua desa itu.

"Astaga. Baru pertama kalinya aku melihat kejadian luar biasa seperti ini." Pekik tak percaya Hashirama Senju.

"Luar biasa? Hebat." Ucap Madara dongkol. Ia mendengus kesal. Izuna hanya tersenyum melihat kakaknya yang seperti itu.

"Hei, Kakashi. Kau baik-baik saja?" tanya Minato khawatir melihat Kakashi yang mematung.

"Tidak apa-apakan, Kakashi. Ini bagus untukmu." Ucap Kushina sambil tersenyum senang.

Kakashi melotot –pada akhirnya- pada Kushina. Kushina hanya mengangkat bahunya masa bodoh.

"Kalau berjodoh, setidaknya kau bisa mempaktekkan isi dari novel icha-icha favoritmukan, Kakashi."

Kakashi melotot ke arah Asuma. Lalu ia mendengus kesal. Wajahnya memerah mengingat apa yang di ucapkan Asuma. Dengan cepat, Kakashi meninggalkan mereka semua.

"Akh, pada akhirnya ia memilih untuk keluar lewat jendela juga." Ucap Sasuke sewot yang di hadiahi jitakan halus oleh Yamato untuk kedua kalinya.

~OO~

Kakashi melemparkan amplop itu ke lantai secara sembarang. Ia lalu mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur miliknya.

Ini gila! Rutuknya.

Ia tak percaya bahwa ia tengah dijodohkan oleh tetua desa yang kolot itu.

"Apa hak mereka untuk mengatur hidupku?" tanyanya sarkas.

Ia mengusap wajahnya lelah. Perlahan ia mengatur nafasnya secara perlahan. Tiba-tiba ia teringat dengan novel yang ingin di bacanya. Diambilnya novel itu dengan cepat. Sebuah perasaan nyaman mengalir dalam hatinya ketika melihat novel itu, entah mengapa. Ia menyandarkan tubuhnya pada ranjang dan mulai membaca buku itu secara perlahan-lahan.

'Masa bodoh dengan perjodohan itu." Ucapnya tak percaya.

~OO~

Disinilah ia berada. Diruangan Hokage penuh tatapan 'ajaib' dan tak lupa seorang perempuan yang terlihat asing serta cantik tersenyum sopan ke arahnya.

"Wah, bagaimana kalau kalian memperkenalkan diri kalian terlebih dahulu?" saran Kazuro.

Perempuan itu mengangguk sopan ke arah Kazuro lalu mengalihkan tatapannya pada Kakashi.

"Perkenalkan namaku Ayukawa Kahyo." Ucap perempuan itu memperkenalkan dirinya.

"Hatake Kakashi. Panggil saja aku Kakashi."

Kahyo mengangguk senang. "Salam kenal, Kakashi." Salamnya formal.

Kakashi berpikir bahwa perempuan baik-baik seperti Kahyo tidak cocok dengannya. Tentu saja Kahyo bisa mendapatkan calon yang lebih daripada dirinya. Kakashi tahu perempuan dari keluarga hormat dan terpandang sepertinya biasanya menginginkan calon yang lebih sesuai dengan latar belakangnya juga. Sedangkan Kakashi? Seingatnya ia adalah anak dari Hatake Sakumo yang dianggap mengkhianati desa karena gagal melaksanakan misi dan membuat korban yang seharusnya hidup. Jangan lupakan bahwa ia guru dari Uchiha Sasuke yang berambisi untuk menghancurkan desa dan sahabat yang menyebabkan Uchiha Obito melakukan permainan konyol dengan membuat teror di lima desa shinobi dengan menggunakan nama samaran Uchiha Madara dan dalang pembuat perang shinobi ke-4.

Ia mendesah sedikit tak mengerti dengan keadaannya saat ini.

"Maaf, apakah ada sesuatu yang mengganggumu, Kakashi?" tanya Kahyo.

Kakashi mengangkat ke dua alisnya dan tersenyum samar. "Oh? Sama sekali tidak, hmm, Ayukawa-san."

"Panggil saja aku Kahyo, Kakashi. Tidak usah terlalu formal padaku."

"Baiklah jika itu kemauanmu, Kahyo."

Kahyo tersenyum lalu mengangguk senang karena ia merasa suasananya tidak canggung lagi.

"Nah, cukup perkenalan singkatnya. Jadi bagaimana kalau Hatake-san mengantarkanmu kediaman keluarga Hyuuga?"

"Ah." Kahyo menatap malu-malu pada Kakashi.

"Bagaimana Hatake-san?" tanya Kazuro penasaran.

Kakashi memilih untuk menggaruk-garuk belakang lehernya yang tak gatal. "Hm, baiklah."

"Tidak merepotkan?"

Kakashi menggeleng-gelengkan kepalanya. Kahyo menatap Kakashi senang. Ia kemudian merapikan rambutnya yang tergerai menutupi penglihatannya. "Bagaimana kalau kita segera berangkat, Kakashi?"

"Oh..ah.. tentu saja." Kakashi merasa jadi orang terbodoh karena sempat-sempatnya ia berpikir hal-hal meseum di saat seperti ini.

Hinata yang merasa sadar akan sesuatu segera menghentikan langkah Kahyo dan Kakashi yang hampir meninggalkan ruangan.

"Ada apa, Hinata?" tanya Kiba penasaran.

"Hm, anu, saat ini ayah dan yang lainnya sedang tidak berada di kediaman Hyuuga. Jadi jika anda pergi ke kediaman Hyuugapun hanya ada beberapa anggota Hyuuga yang bertugas untuk menjaga kediaman Hyuuga." Jelas Hinata sedikit gagap.

Kahyo mengerjap-ngerjap matanya sedikit putus asa. "Begitu ya."

"Tapi jika anda berkenan, silahkan datang pada sore hari." Lanjut Neji.

"Oh?"

"ah, ya, sepertinya ayah dan yang lainnya akan pulang sore harinya."

Kana tersenyum maklum.

"Sebenarnya ada urusan apa sampai kau harus pergi dan menemui ketua Hyuuga?" tanya Kakashi. Kahyo, Hinata dan Neji menatap Kakashi instens. Tapi kemudian tatapan Hinata dan Neji beralih pada Kahyo.

"Ayahku berpesan padaku saat akan kemari jikalau urusanku dengan Kakashi selesai aku harus mengantarkan surat ini." Katanya sambil menunjukkan surat itu kehadapan Kakashi.

"Mengapa tidak memberinya pada Hinata saja?"

Neji melotot ke arah Kakashi sedangkan Hinata sedikit pias.

"Aku tidak bisa, Kakashi. Ayahku bilang kalau aku harus menyerahkan surat ini langsung pada ketua klan Hyuuga, Hiashi-sama."

Kakashi mengangguk mengerti. Masalah tradisi dan peraturan dalam sebuah klan bukan hal aneh yang baru Kakashi temui. Dan tentu saja Kahyo adalah anak dari pemegang tradisi dan peraturan yang ditetapkan keluarganya pada dirinya. Meski untuk beberapa orang dan anak-anak seukuran Naruto yang merasa aneh dengan tradisi seperti itu terdengar mengekang kebebasan.

Ah, kebebasan. Entah mengapa Kakashi merasa teringat dengan perempuan yang baru dikenalnya dua hari lalu. Dan ia teringat dengan novel yang harus dikembalikannya langsung kepada petugas perpustakaan hari ini juga. Oh, bagus. Ia hampir saja lupa.

"Kalau begitu, bagaimana jika aku mengajakmu ke perpustakaan, Kahyo?"

Semua orang yang ada diruangan sweatdrop mendengar ajakan Kakashi.

"Kakashi! Teganya-teganya kau mengajak perempuan secantik Ayukawa-san hanya untuk pergi ke perpustakaan! Setidaknya ajak Ayukawa-san ke tempat yang romantis!" cecar Kushina tak terima. Minato secara refleks menghentikan cercaan Kushina. Tahulah semua teman Naruto kalau sikap hiperaktif bocah jinchuriki Kyuubi itu berasal dari ibunya.

"Benar, Kakashi! Kau simpan dimana semua pengetahuan yang kau dapatkan dari Icha-icha, hah!"

Bisa dipastikan kalau Jiraiya akan mendapatkan perlakuan serendah-serendahnya dari Tsunade. Mungkin tragisnya ia akan mendapati dirinya sudah mati –lagi- karena dihajar Tsunade yang kalau marah, hm, bisa sangat fatal akibatnya.

Yah, bukan hanya Tsunade saja, tapi perempuan-perempuan yang merasa terhina kalau harus disamakan dengan perempuan yang digambarkan dalam buku nista icha-icha itu, pasti Jiraiya akan mendapatkan bonus lebih selain yang akan didapatkannya dari Tsunade.

Wajah Kakashi memerah andai saja ia tidak menggunakan maskernya.

"Ah, tidak apa-apa. Justru aku senang karena untuk pertama kalinya Kakashi mengajakku." Ucap Kahyo menenangkan suasana yang riuh. Beberapa orang menatap Kahyo sedih. Kahyo yang merasa baru pertama kalinya mendapatkan tatapan itu, menjadi gugup.

"Setahuku Kakashi sangat suka sekali membaca dan karena itulah aku merasa senang dan tersanjung karena Kakashi mengajakku ke tempat dimana disukainya. Lagipula aku juga suka membaca." Jelas Kahyo.

Kakashi berpikir kalau Kahyo sudah salah paham. Tapi untuk beberapa hal Kahyo memang benar.

~OO~

Ketika untuk pertamakalinya ia menginjakkan kakinya ke perpustakaan setelah perang shinobi ke-4 berakhir, beberapa pasang mata yang sedang berada di perpustakaan melihat ke arahnya dengan tatapan sorot mata tak percaya. Mungkin bukan dia yang menjadi sorotan utamanya, melainkan perempuan yang berjalan disampingnya. Kakashi merasa yakin bahwa sebentar lagi akan ada banyak gosip yang meluas. Atau mungkin gosipnya sudah meluas semenjak ia dan Kahyo meninggalkan ruangan Hokage? Sepertinya begitu.

Jadi Kakashi hanya berjalan dengan gayanya yang seperti biasanya dan mendatangi penjaga perpustakaan.

"Aku ingin mengembalikan buku ini." Kata Kakashi sambil menyerahkan buku pada penjaga perpustakaan.

Penjaga perpustakaan itu mengernyit heran menatap buku yang diserahkan oleh Kakashi padanya. "Bukankah ini salah satu novel yang dipinjam oleh Kana?".

Penjaga perpustakaan itu menatap Kakashi seolah-olah bertanya 'darimana anda mendapatkan buku ini?'

Kakashi yang mengerti arti tatapan itu menjelaskannya. "Aku menemukan buku itu tergeletak di jalan. Dan karena ada stempel perpustakaan jadi aku berpikir untuk mengembalikannya langsung ke perpustakaan daripada harus mencari peminjam buku itu."

Kahyo menatap Kakashi takjub. "Jadi karena itu kau mengajakku kemari, Kakashi?"

Kakashi hanya menghela nafas. "Maaf."

"Ah, tidak. Justru kau sangat hebat dan akh, kau memang hebat, Kakashi."

Kakashi melebarkan matanya tak percaya. Ia agak gugup mendengar pujian yang dilontarkan oleh Kahyo.

'Seandainya ia tahu.' Pikir Kakashi sangsi.

"Akh, terimakasih atas pujiannya, Kahyo. Tapi aku merasa tak sehebat itu."

"Jangan merasa sungkan, Kakashi. Aku..."

Brukk!

Kakashi, Kahyo, petugas perpustakaan dan beberapa orang lainnya mengalihkan tatapannya ke arah seorang perempuan yang tidak elitnya terjatuh di depan pintu masuk perpustakaan. Untuk sesaat Kakashi merasa terkejut karena ia mengenal orang yang terjatuh itu. Dengan segera Kakashi menuju ke arahnya. Namun di susul oleh Kahyo yang dengan cekatan membantu orang itu bangkit.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Kahyo cemas.

Perempuan yang terjatuh itu menatap penolongnya dan dibuat agak merinding. Perempuan yang sedang berdiri di hadapannya ini sangat cantik. Baenar-benar Sa-Ngat Can-Tik! Itu pikirnya.

"Halo. Apa kau baik-baik saja?" tanya Kahyo sekali lagi karena orang yang ditolongnya tak menjawab.

"Oh..ah..,ya. Aku baik-baik saja. Terimakasih atas bantuannya." Ungkapnya sambil membungkukkan badan.

"Sama-sama." Ucap Kahyo tersenyum.

Merasa ada sosok lain di samping perempuan yang menolongnya, ia mengalihkan perhatiaannya. Untuk sesaat ia melebarkan matanya tak percaya dengan sosok itu sebelum dengan cepat kembali ke semula.

"Kakashi, bolehkah aku mencari buku-buku yang menarik untuk kupinjam?"

Kakashi mengangguk. Kahyo tersenyum senang dan ia pamit untuk mencari buku-buku yang menurutnya menarik.

Kakashi menatap kearah perempuan yang ditolong oleh Kahyo.

"Apa ada yang perlu kubantu, nona?"

"Oh? Tidak. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi."

Perempuan itu segera berlalu dari hadapan Kakashi. Dengan langkah tergesa ia menghampiri petugas perpustakaan yang sepertinya sedang menceramahinya. Kakashi dengan cepat mengalihkan perhatiannya dan mulai sibuk membenahi buku-buku yang menarik di matanya untuk di bawa pulang.

Ketika akhirnya ia menemukan buku yang menarik hatinya dan akan mengambil buku tersebut, sebuah tangan mendahuluinya.

""Ah?"" ucap Kakashi dan orang itu berbarengan karena tanpa sengaja tangan untuk mengambil buku tersebut saling bersentuhan. Dan yang lebih mengejutkan lagi bagi Kakashi adalah tangan yang sedang dipegangnya tanpa sengaja itu adalah milik tangan perempuan yang ditolong oleh Kahyo. Beberapa detik hanya ada keheningan sebelum perempuan itu segera melepaskan tangan yang sedang di pegang oleh Kakashi. Namun yang lebih terkejut tangannya di tahan oleh Kakashi.

"Temui aku di tempat pertama kali kita bertemu." Bisik Kakashi di telinga perempuan itu dengan sangat perlahan. Setelah itu Kakashi melepaskan uluran tangannya dan memilih untuk meninggalkannya.

Ia memegang tangan kanannya yang dipegang paksa. Rona merah muncul dipipinya. Ia lalu menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kirinya memastikan apa yang terjadi tidak terlihat orang lain, kalau tidak akan banyak gosip beredar. Dan itu tidak baik untuknya.

Ia lalu menatap buku itu dan mengambilnya. Namun belum sempat buku itu terambil sepenuhnya, buku itu sudah tersimpan lagi di tempatnya. Ia memilih memegang telinga kirinya -yang menurut perkiraannya- memerah menambah rona merah pada pipinya. Ia masih ingat desahan nafas dari suara sang mantan Copy-nin itu. Astaga! Bahkan buku yang menarik minatnya sudah tak berarti lagi.

~OO~

Hari itu Kakashi mengajak jalan-jalan Kahyo ke tempat yang belum di kenal wanita sekelasnya sebelum akhirnya ia mengantarkan Kahyo ke kediaman ketua klan Hyuuga. Sesuai yang di katakan oleh Neji dan Hinata bahwa ketua klan akan berada di kediamannya pada sore harinya.

"Ne, Kakashi. Terimakasih untuk hari ini. Dan kau tidak perlu menungguku, Kakashi."

"Sepertinya percakapan panjang, ya?" tanya Kakashi.

Kahyo mengangguk dan tersenyum simpul. "Benar."

"Baiklah. Aku juga ada beberapa hal yang harus aku lakukan. Sampai jumpa." Pamit Kakashi setelah ia memastikan bahwa Kahyo sudah aman.

Ia lalu dengan cepat ber-shunpo dari satu atap ke atap lainnya. Ia harus segera sampai ke satu tempat yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Hanya butuh beberapa menit, Kakashi akhirnya sampai di tempat yang di tujunya.

Sambil mengatur nafasnya yang kelelahan, ia menatap ke arah perempuan yang sudah duduk tenang sambil membaca, tidak menyadari kehadirannya.

"Kana."

Buku yang dipegang Kana terjatuh. Dengan cepat ia menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

"Kau mengejutkanku, Kakashi."

Kakashi mengangkat bahunya dan berjalan mendekati Kana untuk mengambil buku bacaan perempuan itu yang terjatuh tadi.

"Kau sudah menunggu lama?"

"Aku rasa sepertinya iya."

"Maaf." Sesal Kakashi. Ia lalu duduk di sebelah Kana yang masih kosong. Kemudian menyerahkan buku yang dipungutnya itu.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Ucapnya sambil mengambil buku yang sudah dipungut oleh Kakashi.

"Hah." Hanya suara desahan yang bisa di keluarkan oleh Kakashi. Ia tak pernah merasa sangat lelah seperti ini daripada hari-hari yang dijalaninya saat misi solo yang pernah dijalaninya.

"Jadi ada perlu apa kau menyuruhku datang kemari saat di perpustakaan, Kakashi?"

Kakashi mendelik tajam ke arah Kana. Lalu ia mengalihkan perhatiannya. "Terimakasih."

Kana menatap Kakashi heran. "Apanya? Kau berterimakasih karena apa, Kakashi?"

"Maksudku novelnya. Itu sangat membantu."

"Oh?"

"Sepertinya kau tak senang."

"Hah?"

Kakashi merasa jengkel karena pernyataannya hanya di balas dengan 'oh' atau 'hah'.

"Apa kau tak punya kosa kata yang lain?"

Kana menaikkan sebelah alisnya. "Kau marah?"

"Tidak. Tapi aku kesal!"

"Begitu, ya?"

".."

"Kakashi?"

"Hm?"

"Apa kau tak punya kosa kata yang lain?"

Kakashi mendengus kesal pertanyaannya di tanya balik. "Kana, jangan bercanda!". Ia bersumpah bahwa hari ini ia akan banyak mengeluarkan kata makian yang tidak pernah diucapkannya seumur hidup.

"Jangan marah, Hatake. Kau lucu jika marah."

"Panggil aku Kakashi."

"Ok, baiklah. Terimakasih kembali, Kakashi."

"Apa maksudnya dengan ucapanmu itu, Kana?"

"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku benar-benar berterimakasih karena kau sudah mengembalikan novel yang kupinjamkan padamu dari perpustakaan tepat pada waktunya. Kupikir kau lupa dan jika kau tidak mengembalikannya hari ini juga, maka aku yang akan kerepotan."

"Aku hampir lupa." Jujur Kakashi.

"Oh? Benarkah?" tanya Kana tak percaya.

"Hm. Ngomong-ngomong hari ini kau diceramahi panjang lebar oleh penjaga perpustakaan gara-gara novel yang kau pinjam padakukan?"

"Begitulah. Tapi tidak apa-apa. Itu lebih baik karena kau sudah membantuku membuat alasan yang hebat daripada harus memperlama jangka pinjamnya."

"Kenapa kau memilih untuk membuat alasan daripada memperlama jangka waktu meminjam?" tanya Kakashi tak mengerti.

"Karena buku yang kau pinjam sudah dua kali aku perpanjang waktu kembalinya. Artinya sudah hampir tiga minggu buku itu dipinjam sebelummu oleh orang lain. Dan kalau aku perpanjang lagi waktu kembalinya, Sota pasti akan memperpendek jangka pinjamku."

Kakashi sweatdrop mendengarnya. "Tapi menyuruhku untuk membuat alasan seperti itu pada penjaga perpustakaan juga sama saja kau tidak bisa dipercaya untuk menjaga buku perpustakaankan?"

"Bisa jadi."

Kakashi double sweatdrop. "Aku tidak mengerti."

"Hah. Maksudku Kakashi jika aku perpanjang waktu mengembalikannya Sota akan curiga terjadi apa-apa pada buku perpustakaannya. Dan itu tak bagus. Yah, sebenarnya kejadianmu kali ini memang tidak bagus juga tapi masih lebih baik. Setidaknya aku bisa bilang pada Sota kalau aku menjatuhkan buku itu secara tak sengaja dan untung sudah ditemukan dan dikembalikan jadi dia hanya menceramahiku hal-hal yang sudah aku tahu harus menjawabnya seperti apa."

"Oh. Sota? Penjaga perpustakaan itu?"

Kana mengangguk.

"Sepertinya ia tidak suka denganmu."

"Oh? Aku rasa tidak juga."

"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"

"Habis aku hanya merasa Sota kesal karena hampir tiap hari aku merepotkannya. Tapi dia senang kalau aku tidak pergi ke perpustakaan sepertinya. Soalnya dia yang palingg rajin menyapaku."

"Sepertinya dia suka kamu."

Kana tertawa terpingkal-pingkal. "Sota itu sudah menikah."

Kakashi sepertinya merasa malu karena sudah sok tahu. "Lalu?"

"Lalu?"

"Yah, dengan penjaga perpustakaan lainnya?"

"Oh. Mereka sudah tua-tua. Lagipula saat ini kebanyakan penjaga perpustakaannya perempuan."

"Aku curiga kau mengenal mereka satu persatu."

"Iya sih. Soalnya aku pelanggan tetap perpustakaan yang datang hampir seminggu 4 kali."

Kakashi jawdrop mendengarnya. "Apa kau tidak melakukan hal lain daripada mengunjungi perpustakaan?"

"Pekerjaan kantor."

"Lainnya?"

"Yah bersenda gurau dengan teman-temanku dan rekanku di akhir bulan minggu ke tiga."

Kakashi merasa bersalah pada dirinya sendiri karena telah menanyakan hal yang sudah dipikirkannya.

"O ya, Kakashi."

"Hm?"

"Apakah perempuan yang datang bersamamu ke perpustakaan itu adalah tunanganmu?"

"Kau mendengarnya dari gosip?"

Kana mengangguk dengan cepat.

"Bukan tunangan tapi calon tunangan." Ungkap Kakashi kesal.

"Calon?"

"Hm. Tapi aku merasa tidak seperti itu. Apa kau mau meralat gosip murahan itu?"

"Hah? Tidak mau. Mana ada yang percaya padaku bahwa perempuan yang bersamamu hari ini masih 'calon' tunanganmu. Mereka tidak akan mendengarkanku. Lagipula nanti mereka bertanya-tanya padaku darimana aku mendapatkan info tersebut. Tidak mungkin kan kalau aku mnegatakannya kalau aku mendapatkan info tersebut dari sang mempelai pria yang di gosipkan."

"Tapi kau pintar mencari alasan."

"Tidak kugunakan untuk yang seperti itu."

"Orang yang pintar mencari alasan sama saja dengan pembohong."

"Memang masalah buatmu? Maaf saja yah, tapi aku hanya berbohong untuk hal-hal yang tak bisa kau pahami." Ucap Kana kesal.

Kakashi mengangkat alisnya. 'sepertinya aku sudah keterlaluan.' Rutuknya. Ia mengelurkan tangannya.

"Maaf. Kau memaafkankukan?"

Kana memutar matanya bosan. "Tentu saja, Kakashi. Tidak akan ada manfaat yang didapat dari permusuhan." Ia lalu menjabat tangan Kakashi.

Kakashi menatap Kana takjub. Ia tersenyum mengingat apa yang terjadi di masa lalunya. "Kau benar."

"Sudah hampir malam. Sebaiknya hari ini sampai disini dulu. Sampai jumpa, Kakashi."

Kana bangkit dan berjalan membelakangi Kakashi.

"Hati-hati." Saran Kakashi.

Yang dibalas gumaman konyol dari mulut Kana.

"Tentu saja aku tahu!"

.

.

.

.

TBC or End?

Aku rasa TBC :P

Ditunggu reviwsnya ya, minna.

Mikazuki Ryuuko iya, minna. Kakashi dan OC . Makasih BANGET mau reviws fic ku ini. Hehehe. Yah, sebenernya tokoh utama wanitanya aku refleksikan sebaagai diriku sendiri. Jadi intinya ini cerita aku sama Kakashi gitu :P hehehe anggap ajah kayak gitu ok. Siplah! Terus dukung dan minta sarannya ya, minna.

Aku akan membalas pertanyaan kalian di Chap selanjutnya.

Ne, mohon dukungannya ya, minna readers.