Marriage.
Disclemmar Naruto Masashi Kishimoto.
Hatake Kakashi & Narashi Kana.
Family Hurt Romance
.
.
.
CHAP 3 : Kebahagian akan menghampiri.
.
Bukankah di dunia ini tidak ada satupun kebetulan?
Hei, lihat. Bahkan hari inipun penuh keajaiban, bukan?
Dan semakin hari kenangan yang tersimpan bermunculan kembali, benar?
.
Kana memandang wajahnya di cermin. Diusap pipinya dengan lembut. Namun tak berapa lama gerakan usapannya terhenti. Lalu ia tersenyum mengejek ke arah dirinya yang terpantul di cermin. Tak lama ia mendesah dan tak sengaja matanya menatap kertas yang berada di meja dari pantulan cermin.
Ia menggeleng dengan keras. Mengacak-ngacak rambutnya. Dan setetes air mata jatuh dari air matanya. Dengan cepat ia menghapus air matanya.
Tidak! Aku tidak boleh menangis! Dan.. dan untuk apa aku menangis!?
Ia berpaling dan memilih untuk merebahkan dirinya diatas tempat tidurnya. Ditatapnya langit-langit kamarnya, mencoba membawa pikirannya saat-saat dimana ia bertemu Kakashi. Seulas senyum terpatri dibibirnya.
Sebenarnya mengapa aku harus bertemu dan mengenalnya secara pribadi?
Ia tak mengerti. Sungguh ia tidak mengerti. Dan ia takut. Ya, ia sangat ketakutan. Bukan karena Kakashi yang membuatnya merasa ketakutan seperti ini. Tapi disebabkan karena takdir. Hitsuzen. Dan itu yang membuatnya merinding ketakutan sampai ia tertidur tanpa sadar.
~OO~
Hari ini Kakashi beruntung karena ia tidak perlu untuk bertemu dengan Kahyo –tunangan paksanya- sekedar berjalan-jalan. Mungkin Kakashi harus bersyukur karena Kahyo sedang ada urusan yang tak mungkin untuk ditinggalkannya. Tapi mungkin yang ia sayangkan adalah betapa ia harus memberi masukan kepada Kozuro, tetua desa yang berlaku sebagai perantara, yang penasaran dengan pendapatnya tentang Kahyo setelah ia bertemu dan sekedar berjalan-jalan secara langsung.
"Jadi bagaimana kesanmu terhadap Kahyo-san, Hatake-san?" tanya Kazuro dengan mata berbinar. Tak sadar bahwa Kakashi sudah lelah untuk menjawab.
Demi Kami-sama! Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali pendapatku tentang Kahyo!? Tapi kenapa tetua desa ini terus bertanya hal yang sama berulang-ulang!.
Jujur Kakashi frustasi dengan keadaannya yang serasa dirinya harus mengatakan bahwa Kahyo cocok dengannya dan setuju menjadikan Kahyo menjadi pendamping seumur hidupnya.
"Hm, mungkin jika hanya sehari bersama-sama saja tidak membuatmu cukup berkesan, ya?" tanya Kazuro yang sepertinya merasa kecewa dengan kesan tentang perempuan yang dikenalkan pada pewaris Hatake tunggal itu.
"Bukan begitu, Kazuro-sama." Kakashi mencoba memberi pengertian. "Kahyo, perempuan yang cantik dan baik. Sungguh. Dan ia juga pintar. Bukan hanya itu saja, ia sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya." Kakashi ingat saat ia dan Kahyo berada di perpustakaan dan dengan cekatannya ia membantu seorang perempuan yang terjatuh.
Kazuro menatap Kakashi cermat. Dengan lamat, ia mendesah. "Kesanmu hanya seperti itu?"
"Huh?"
"Kau tidak menyukai dia, Hatake. Aku merasakannya." Ucap Kazuro to the point. Kakashi akan membuka mulutnya tapi terpotong oleh ucapan Kazuro selanjutnya.
"Aku kecewa."
Kakashi terdiam. Ia tak dapat berbuat atau berkata apapun. Jadi ia hanya mengamati wajah Kazuro yang menyiratkan rasa sedih atas keputusan sepihak.
"Kahyo-san menyukaimu. Aku merasakannya bahwa Kahyo sangat senang bersamamu."
"Maaf." Hanya sepatah kata itu yang dapat Kakashi katakan sebagai wujud penyesalannya.
"Kau harus meminta maaf padanya, bukan padaku. Sebenarnya Kahyo-san sangat berharap kau dapat menyukainya. Tapi ketika kumerasakan kesanmu padanya seperti ini, kukira aku terlalu terburu-buru memutuskan."
Kakashi memandang tetua desa itu setuju. Ia mengangguk. Kazuro mengangkat alisnya.
"Makanya aku pikir meskipun kau tdak bisa cocok dengan Kahyo, tapi mungkin dengan perempuan yang akan kukenalkan padamu lagi tidak akan membuatmu kecewa dan mungkin kau bisa merasa cocok dengannya."
"Apa?" cecar Kakashi tak percaya.
Kazuro menatap Kakashi setengah hati. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan membuka pintu. Namun sebelum ia keluar, ia menatap Kakashi sekali lagi.
"Biodata 'calon'mu yang selanjutnya akan kuminta kurir untuk mengirimkannya padamu. Segera." Ucapnya.
Ia mendesah. "Sepertinya aku harus mengunjungi keluarga Ayukawa-san untuk mengabarkan bahwa putri mereka telah ditolak." Lanjutnya sambil menutup pintu.
Kakashi hanya mengerjap-ngerjap ajaib. Ia tak menyangka bahwa meskipun ia merasa terbebas dari perjodohannya dengan Kahyo, tetua desa itu akan menjodohkannya dengan yang lain!
Tepukan hangat di pundaknya menyadarkannya.
"Bagaimana kalau hari ini kita berdua makan ramen di kedai Ichiraku?" tanya Minato setelah Kakashi melihat dirinya.
"Sepertinya akan ada pembicaraan yang panjang ya, sensei?" tanya Kakashi sedikit heran. Seingat Kakashi, jika Minato, gurunya itu, sudah dalam mode seriusnya seperti ini pasti akan ada pembicaraan yang menurut Kakashi tidak diperlukan. Oh, ayolah! Ia bukan anak yang tidak sensitif atau tidak peka dan ia juga tidak bodoh sampai-sampai perlu untuk diceramahi. Lagipula ia bukan tipe orang yang ingin menyangkal kesalahan dalam dirinya. Maksudnya ia tidak pernah –seingatnya- melarikan diri dari permasalahan apapun dan seharusnya Minato sudah mengetahuinya sejak dulu.
"Kenapa kau berpikir begitu, Kakashi?" Minato mengernyitkan dahinya. "Aku benar-benar ingin makan ramen berdua denganmu. Seingatku, terakhir kali kita berdua makan ramen bersama-sama.." Minato mencoba mengingat-ngingat kapan tepatnya ia dan Kakashi makan ramen berduaan, sebelum ia dan istri tercintanya mati pada hari kelahiran Naruto, putra tunggalnya.
"Ah, ya." Sepertinya Minato sudah mengingatnya. "Aku ingat. Terakhir kali kita makan berdua bersama-sama itu tiga minggu sebelum Aku dan Kushina mati. Itu artinya sudah hampir 16 tahun kita tidak makan bersama-sama. Kau keberatan, Kakashi?"
Kakashi mendesah. "Apa sensei bercanda!? Tentu saja selama 16 tahun inikan sensei sudah mati. Jadi mana mungkin kita makan bersama-sama. Lagipula aku sangsi jika sensei hanya ingin makan ramen saja."
"Jadi kau tidak ingin makan ramen berdua dengan senseimu ini, Kakashi? Kau keberatan?"
Minato menyilangkan tangannya di dadanya sambil menatap Kakashi tajam. Kakashi hanya mendesah.
"Bukan begitu, sensei. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Hah." Lagi, Kakashi mendesah. Minatopun akhirnya ikut mendesah. Mungkin ia harus mengeluarkan jurus terhebatnya agar Kakashi luluh mengikuti ajakannya.
"Baiklah."
"Ng?" Kakashi hanya mengerjap-ngerjap heran ke arah Minato yang sedang melihat ke arah lain. Namun seperkian detik Minato melihat ke arahnya dengan tatapan yang –hm, menurut Kakashi sulit ditolak.
"Oh ayolah, sensei!"
Kakashi kembali menghela nafas panjang, kali ini diiringi relaksasi tubuhnya. Kakashi tidak menjawab, namun Minato tahu bahwa ia tidak pernah bisa menolak setelah menerima ekspresi mematikan tadi.
"Baiklah." Ucap Kakashi akhirnya. Setelah itu hanya ada senyuman lebar diwajah Minato lalu ia dengan cekatan mengacak-acak rambut Kakashi yang memang selalu berantakan.
"Aku bukan anak kecil lagi, sensei!" ucap Kakashi jengkel. Minato hanya mengangkat bahunya. "Bagiku kau masih kecil, Kakashi." Seulas senyum miring kembail terpatri diwajahnya. Beberapa detik setelahnya, ia dan Kakashi meningkalkan ruangan Hokage dengan kepulan asap tipis sebagai pengantar kepergian mereka.
"Aku baru tahu kalau Minato bisa berekspresi seperti itu." Ungkap Inoichi jujur sedikit speechless.
"Kau baru tahu?" tanya Chojuro.
Inoichi mengangguk. "Kalau kalian?" tanyanya pada teman-temannya.
Chojuro dan Shikaku saling berpandangan. Fugaku dan Mikoto hanya mendesah.
"Aku juga baru tahu." Ungkap jujur Chojuro, Shikaku, Mikoto, dan Fugaku berbarengan. Kushina yang mendengarnya hanya sweatdrop ria. "Kalau kau, Kushina?" tanya Mikoto penasaran.
"Hah, tidak –amat sangat jarang - sesering Kakashi." Ucap Kushina sambil mendesah. Cemburu mungkin kepada Kakashi? Siapa tahu.
Mereka hanya ber-oh-ria, merasa sedikit iba.
~OO~
"Sebenarnya buku apa yang sedang kau cari, Kana?" tanya Sota heran melihat kelakuan Kana yang hanya mengacak-acak buku perpustakaan.
Kana menoleh dan tersenyum. "Kau mau membantu mencarinya, Sota?"
"TIDAK!" tegas Sota. Ia lalu mengarahkan kembali matanya ke atas tumpukan kertas yang harus dikerjakannya, mengabaikan Kana yang tengah kebingungan.
Kana mendesah lelah. Buku yang dicarinya sedari tadi sedang tidak ada ditempatnya dan itu artinya seseorang telah meminjamnya terlebih dulu.
"Sial!" makinya dalam hati. Ia lalu memilih untuk mencari buku yang lain yang bisa membuatnya tertarik dan penasaran.
"Kana."
Sebuah panggilan membuatnya menoleh ke arah kiri kanan. Siapa yang memanggilnya dan memangnya ada yang dikenalnya?
"Aku dibelakangmu."
Ia sedikit terlonjak dan menatap heran ke arah orang yang memanggilnya. "Oh?"
"Hm, hai." Orang itu hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum. "Ha..hai..juga. Hm, maaf apa aku mengenalmu?" tanyanya kikuk.
Orang yang bertanya kepadanya hanya mendesah sedih. "Kau kejam, Kana. Kitakan satu kantor. Dan kita juga sudah saling kenal sebelumnya."
Kana mengerjap-ngerjap matanya canggung. "Ng, maaf aku kurang baik dalam mengingat nama orang yang baru beberapa kali aku jumpai."
Orang itu hanya mendesah. Seingatnya ia dan Kana sering berpapasan di kantor sekedar untuk menyapa. Sepertinya gosip tentang Kana memang benar.
Ia menatap Kana dan tersenyum tipis. "Tidak apa. Baiklah aku akan memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku Kureta Kujo. Panggil saja aku Kujo."
"Ha'ik. Kupikir karena kau sudah tahu namaku, aku tidak perlu memperkanalkan diriku, ok. Jadi ada apa kau memanggilku, Kujo?"
Kujo menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Sedikit gugup. "Hm, aku hanya kebetulan melihatmu berada di perpus dan kau terlihat kebingungan. Kalau kau butuh bantuan bilang saja."
Kana menaikkan sebelah alisnya. Lalu tersenyum simpul. "Terimakasih atas penawaran bantuannya. Sebenarnya aku hanya sedang kebingungan mencari buku yang ingin kupinjam tetapi sepertinya sudah dipinjam orang lain."
"Begitu?"
Kana mengangguk mantap. "Tapi kalau kau mau, kau bisa membantuku dengan senang hati, munkin?" Ia melihat Kujo yang sedang menatapnya penuh tanya. "Bantuan seperti apakah?"
"Bagaimana kalau kita mencari buku yang menarik untuk kita baca sambil duduk di bangku yang sudah disediakan perpus. Yah, sambil sedikit berbincang-bincang?" tawar Kana yang di balas anggukan kecil dari Kujo.
Setelah beberapa menit memutuskan untuk mencari buku yang menarik perhatian masing-masing, mereka akhirnya duduk di bangku perpus dekat jendela sambil berhadapan. Mata Kana menangkap judul buku yang dibawa oleh Kujo.
"'Desa Konoha : Kehebatan Kepemimpinan Nindaime.'? Sepertinya kau penyuka buku-buku klasik, ya?"
"Huh?" kujo menatap buku yang dibawanya. Lalu ia terkekeh. "Tidak. Hanya ingin membacanya saja. Habis aku penasaran seperti apa kepemipinan pada masa Nindaime Hokage. Pada masanya, kita kan belum lahir."
Kana mengangguk setuju. Ia lalu mulai membuka buku yang sedari tadi sudah berada di dalam gengamannya. Kujo melihat ke arah tumpukan buku yang di tumpuk di sebelah Kana. "Buku sebanyak itu akan kau baca sampai habis?"
Kana mengalikan tatapannya ke arah Kujo lalu mengarahkannya pada buku yang sengaja di tumpuk sebelahnya.
"Tentu saja tidak, Kujo. Bagaimana bisa aku membacanya sampai habis? Hm, mungkin butuh seharian penuh untuk membacanya dan aku tidak memiliki cukup waktu untuk membaca."
"Lalu untuk apa kau membawa sebanyak itu?"
"Oh. Buku-buku ini akan kubawa ke rumah. Kalau tidak kukumpulkan sepeti ini pasti akan ada yang meminjamnya sebelum aku. Untuk sekarang ini aku hanya ingin membaca buku ini saja. Sepertinya aku bisa menyelesaikan buku ini tepat sebelum perpustakaan tutup." Ujar Kana sambil mengacungkan buku ditangannya dan memulai kembali aktifitas membacanya.
Kujo menatap buku yang sedang dibaca Kana ia lalu mengalihkan tatapannya pada jam yang menggantung di atas tembok yang terlihat dari tempatnya duduk saat ini.
Tiga jam lagi perpustakaan akan tutup dan Kana bilang akan selesai membaca buku itu tepat sebelum perpustakaan tutup. Buku setebal itu akan dibacanya sampai tamat hanya dalam tiga jam?
"Sepertinya kau sangat suka membaca ya, Kana?"
Lagi Kana mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang di bacanya. Ia lalu mengangguk dan memutuskan untuk menutup buku yang tengah dibacanya.
"Maaf, kau pasti terganggu." Sesal Kujo.
Kana menggeleng dengan cepat. "Tidak. Justru aku yang salah karena –sepertinya- aku lupa kalau kita akan berbincang-bincang."
"Sambil membaca, bukan?" tambah Kujo.
"Awalnya kupikir lebih baik seperti itu. Tapi aku ingat kalau aku sudah membaca aku suka tidak mempedulikan orang yang tengah berbicara padaku."
"Begitu rupanya."
"Hm. Nah, memangnya kau tidak suka membaca, Kujo?" tanya Kana. Untuk sesaat Kujo hanya bisa menahan nafas tertahan. Bola mata hitam dengan sedikit iris coklat, bibir yang tengah tersenyum, rambut hitam terikat. Oh. Namun segera saja ia sadar.
Kujo mendesah. "Jujur saja ini baru pertama kalinya aku pergi ke perpustakaan. Dan tak kusangka perpustakaan ternyata sangat luas dan besar padahal terlihat dari luar begitu kecil dan sempit."
"Maaf saja kalau perpustakaannya terlihat seperti itu dimatamu."
Kujo terlonjak kaget. Dengan cepat ia berdiri dan berbalik menatap orang yang tengah berkacak pinggang.
"Penjaga perpus?" Kujo melihat kartu identitas tergantung di rompi shinobinya. "Oh? Ah. Maaf bukan maksudku untuk berkata seperti itu." Ia sadar bahwa ia tengah menyindir perpustakaan yang sedang dijaga oleh staff-nya itu.
"Sudahlah, Sota. Siapapun yang belum pernah kemari dan melihat bangunan ini dari luar pasti berpikiran hal yang sama. Jadi kau tidak perlu merasa tersinggung seperti itu." Kana memutar bola matanya bosan menatap penjaga perpustakaannya yang amat sangat dikenalnya itu.
"hn."
"Jadi apa tujuanmu mengganggu acara perbincangan kami, Sota?"
"Oh, ya. Namamu Kujo?" Sota kembali menatap laki-laki yang tadi menyindir perpustakaan tercintanya. Kujo mengangguk. "Begini, di depan perpus ada seseorang yang sedang mencarimu. Tadi kusuruh dia masuk untuk menghampirimu tapi dia bilang dia tidak mau. Jadinya aku yang bertugas memanggilmu."
"Be.. , ya? Kalau begitu terimakasih karena sudah merepotkan dan menyampaikannya padaku." Kujo membungkukkan setengah badannya pada Sota. Ia menatap Kana. "Pergilah. Tidak baik menunggu orang lain." Ucap Kana penuh pengertian.
Kujo mengangguk cepat. "Lain kali kita teruskan perbincangan kita, bagaimana?" tawar Kujo sebelum ia meninggalkan Kana. "Baiklah. Lain kali." Janji Kana.
"Sepertinya dia menyukaimu." Ujar Sota berpendapat.
"Kujo suka aku? Atas dasar apa kau menyimpulkan seperti itu?"
"Hanya berpendapat, Nona Narashi." Ucap Sota sambil tersenyum mengejek sedetik kemudian ia meninggalkan Kana sendirian yang tengah asik mulai membaca buku yang tak sempat dibacanya tadi.
~OO~
Kakashi benar-benar tidak mood untuk untuk mendengar petuah cinta sensei berambut pirangnya itu. Ayolah, ia sudah berada di kedai Ichiraku hampir satu jam lebih dan itu sangat membosankan.
"Apa sensei sudah selesai berbicaranya?"
Minato melirik mudrinya itu. "Kau bosan, Kakashi?"
"Tidak." Jawab Kakashi ketus yang diasumsikan oleh Minato sebagai 'ya'.
"Dengarkan aku, Kakashi. Kazuro-sama itu berniat baik padamu."
Kakashi menepuk wajahnya. Kembali ke cerita awal. Baiklah, Kakashi akan mendengarkannya lagi.
"Hei, Kakashi. Kau mendengarkankukan?" tanya Minato memastikan.
Kakashi menoleh ke arah Minato. "Aku mendengarkannya sampai aku bosan, sensei." Ungkap Kakashi jujur.
Minato mendesah mendengar perkataan Kakashi. Ia menatap intens Kakashi dari atas sampai bawah. Dan mendesah lagi.
"Maafkan aku, Kakashi. Bukannya aku ingin memberimu nasehat atau apa, tapi aku hanya merasa senang karena kita bisa makan ramen bersama lagi."
"Aku tahu. Tapi aku bukan anak kecil seperti dulu lagi. Aku sudah dewasa. Dan aku sudah tahu apa yang harus kuputuskan tentang kehidupanku sendiri dan sensei kurasa sudah cukup paham tentang diriku sedari dulu."
Minato mengangguk lemah. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Teuchi –pemilik kedai ramen yang panjang umur- yang sepertinya sedang konsentrasi mencoba membuat menu baru ramen.
"Sebenarnya aku hanya ingin mendengar banyak cerita tentangmu setelah kematianku, Kakashi."
Akhirnya! Kakashi mendesah dan menatap Minato yang sedang tidak menatapnya. Ia akan berbicara namun ia menutup mulutnya dan menatap pemandangan yang sama dengan yang dilihat oleh Minato.
Aku selalu bercerita tentang kehidupanku setelah sensei mati di depan makam sensei. Apa sensei tidak tahu? Bukankah orang-orang selalu mengatakan bahwa orang mati selalu menjaga, dan mendengar orang terkasih yang masih hidup!?
Kakashi mendengus kesal. Sepertinya ia sudah termakan besar omongan yang seperti menghibur orang hidup yang ditinggal mati orang yang sangat dikasihi itu.
Minato merasa heran karena Kakashi tiba-tiba terlihat kesal. "Ada apa, Kakashi?" tanya Minato penasaran kenapa Kakashi bisa terlihat kesal secara tiba-tiba. Kakashi menggeleng pelan. "Bukan apa-apa."
Minato hanya menghembus nafas pelan. Selalu saja seperti seolah-olah tidak ada hal buruk terjadi. Benar-benar pintar.
"Sensei tidak perlu khawatir."
Minato mengernyit heran ke arah Kakashi yang sedang menatapnya juga. "Aku akan baik-baik saja, sensei. Aku akan selalu menjaga diriku sendiri." Ujar Kakashi.
"Tapi aku ingin tahu hal-hal istimewa yang terjadi padamu waktu aku tidak ada, Kakashi." Rajuk Minato.
"Hal yang istimewa? Hal-hal yang kulewati, hari-hari yang berlalu semuanya berjalan seperti biasanya. Yah, mungkin ada satu atau dua hal yang istimewa tapi aku sedikit melupakannya."
Minato menggeleng-geleng tak percaya. "Bagaimana bisa kau melupakan hal-hal istimewa dalam hidupmu, Kakashi? Aku heran denganmu, Kakashi." Ucapnya bercanda. Tapi sebenarnya dalam pikiran Minato hari-hari biasa yang dijalani Kakashi mungkin tak jauh berbeda dengan kegiatannya dulu. Pergi misi, pulang ke desa, masuk rumah sakit, setelah sembuh pergi misi lagi. Atau paling tidak hanya membaca buku Icha-icha berulang-ulang. Huft, rumit.
"Sensei." Panggil Kakashi.
"Hm?"
"Aku merindukan Rin dan Obito."
Tubuh Minato kaku. Lalu menghela nafas panjang. Ia lalu menghadapkan dirinya ke arah Kakashi. "Kakashi.."
"...Apapun yang terjadi, ralat, telah terjadi aku selalu memaafkannya dan memaafkan diriku sendiri. Jika itu yang sebenarnya sangat sensei cemaskan." Lanjut Kakashi memotong pembicaraan Minato.
Ada satu kelegaan terpancar dari Kakashi dan mungkin itu yang membuat ia pun merasa lega –walau masih berat hati. Ia tahu semua keraguan ketidakbahagiaan yang pernah dijumpai Kakashi, membuatnya menjadi semakin dewasa bahkan terlalu cepat. Minato tahu itu bahkan sejak pertama kali ia bertemu dengan Kakashi.
Kakashi selalu memaafkan tapi bukan berarti dengan memaafkan luka akan menghilang. Kakashipun tahu hal itu. Dan konsekuensi dari memaafkannya itu, Kakashi semakin menutup hatinya walau tidak sampai menutup dirinya pada sekitarnya.
Minato memegang pipi Kakashi yang tertutup masker dengan gemas. Ia lalu mencubit halus pipi Kakashi itu membuat sang pemilik pipi kesakitan. "Kau memang sudah dewasa, ya." Ujar Minato senang.
Kakashi memutar bola matanya bosan sambil melepaskan pegangan Minato pada pipinya dengan halus.
"Tentu saja, sensei!" Kakashi cemberut membuat Minato tertawa. Ketika mendengar tawa gurunya yang sudah lama tak didengarnya itu mau tak mau Kakashi ikut tersenyum senang.
Hari itu Kakashi melewatinya dengan menyenangkan. Berbicara dengan guru yang sudah –dan hampir mustahil untuk dijumpai lagi- sepertinya akan menjadi hari istimewa Kakashi dan tentunya tidak akan begitu mudah untuk dilupakan.
Kakashi dan Minato berpisah di depan kedai ramen. Minato beranjak pergi ke tempat istri dan putranya berada. Dan Kakashi tidak ingin mengganggu momen-momen Naruto dengan orang tuanya yang mungkin akan segera meninggalkannya lagi walau Minato mengajaknya lagi untuk berkumpul bersama –untungnya tanpa tatapan mematikan. Kakashi sudah merasa cukup dengan atau tanpa kehadiran Minato disisinya. Sudah saatnya membiarkan Naruto bahagia untuk sementara, bukan? Yah, karena ia udah mendapatkan kompensasi yang sudah diterimanya dengan layak. Sangat layak.
Kakashi mengalihkan tatapanya pada pemilik kedai ramen. "Teuchi-jiisan, terimakasih. Ramennya sangat enak. Sampai jumpa lagi." Pamit Kakashi sambil berjalan jauh dari kedai ramen.
Teuchi memandang Kakashi sendu. Jujur ada banyak kabahagiaan yang mengalir tiap kali melihat Minato dan Kakashi berbicara. Sejak dulu. Setitik air mata muncul di permukaan tepat ketika Kakashi pamit meninggalkan kedai.
"Saputangan, ayah?" tanya Ayame sambil memawarkan saputangan di depan ayahnya. Teuchi mengambilnya. "Apa yang sedang ayah pikirkan sama seperti yang sedang Ayame pkirkan juga."ujar anak pemilik kedai ramen itu kemudian
"Saputangan, Ayame?" tawar Teuchi. Ayame mengambil saputangan dari ayahnya dan mengelap ujung matanya yang basah. Lalu pasangan ayah anak pemilik kedai ramen Ichiraku yang terkenal itu saling bertatapan dan tersenyum. Sudah saatnya bagi mereka untuk beraktifitas kembali. Tentunya dengan pancaran kebahagiaan yang lain dari yang lain.
~OO~
Kakashi berjalan menelusuri gang-gang di desanya itu. Setelah ia pamit kepada pemilik kedai Ichiraku, ia tidak tahu harus kemana lagi ia harus melangkahkan kakinya. Jadi jika kakinya memilihnya unuk melihat daerah-daerah pertokoan di sisi kanan kirinya yang sepertinya baru selesai dibangun dan beberapa sedang dibangun –fokus pembangunan desa yang dulu dihancurkan saat invasi pain ke desa Konoha baru dilaksanakan setelah perang dunia shinobi ke-4 benar-benar berakhir 4 bulan yang lalu. Selama itu para shinobi baik itu Chunin, Jounin bahkan Anbupun terlibat dalam pembangunan desa dan baru sebulan terakhir ini, masalah pembangunan diserahkan Hokage kepada para tim perancang yang dibuat khusus menangani proses pembangunan tapi tetap Hokage menjadi penanggung jawab dari tim itu.-
Kakashi tak sengaja melihat bayangan yang mengarah padanya dari atas di tanah. Saat ia mendongak ke atas untuk tahu benda apa yang menghalangi pemandangannya untuk melihat langit, sebuah benda terekem dimatanya. Dan sayangnya benda itu menabrak wajahnya yang tak berdosa dan sedikit rasa sakit mulai terasa manakala benda itu sudah terjatuh ke tanah.
Setelah rasa sakitnya perlahan memudar. Ia memungut benda yang menabrak wajahnya itu. Sebuah kotak kayu dengan ukiran indah dan cincin yang bersinar di tempa matahari di dalam kotak yang terbuka itu. Kakashi mulai mengernyit tak suka. Bukan karena kotak kayu dan isinya yang berharga itu dilemparkan ke arahnya. Tapi karena ia lengah dan itu tak baik untuknya.
Jangan karena kamu bahagia, kamu jadi lengah, Kakashi. Peringatannya pada dirinya sendiri.
"Hah." Sesalnya karena bisa-bisanya ia lengah. "Tapi kotak dan cincin ini dilemparkan oleh siapa?" tanya Kakashi tak mengerti.
"Anu, itu kami yang melemparkannya."
Kakashi mendongak dengan cepat. Sekumpulan remaja yang mengaku dalang pelemparan kotak kayu beserta isinya yang tak bedosa itu muncul di depan Kakashi. Sikap mereka canggung dan mungkin mereka sedikit gugup karena benda yang mereka lemparkan malah ke arahnya dan mengenai dirinya.
"Jadi ini milik kalian?" tanya Kakashi heran dan sekumpulan remaja di depannya menganguk secara bersamaan. Setelah dianalisa secara singkat, mungkin usia para remaja di depannya itu berkisar satu atau dua tahun dia atas muridnya. Tapi yang lebih mengherankan, bagaimana bisa kotak kayu indah dengan cincin didalamnya bisa menjadi milik sekumpulan para remaja yang kebanyakan laki-laki?
Seakan bisa mengerti jalan pikiran Kakashi, remaja perempuan satu-satunya itu menjelaskan secara mendetail kepada Kakashi.
"Itu hadiah yang akan kami beli untuk diberikan pada guru atau sebut saja kakak. Di pertengahan jalan tadi kami sedang memperebutkan cincin itu karena mereka penasaran ingin melihatnya." Jelas remaja perempuan itu sambil memberi pengertian siapa yang dimaksud dengan 'mereka' oleh remaja perempuan itu.
"Oh?"
"Dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, akibat kecerobohan kami membuat anda merasakan sakit akibat kotak kayu yang menabrak, hm, sebagian anggota tubuh anda."
Untuk sesaat Kakashi hanya bengong mendengar kata 'sebagian anggota tubuh anda' yang dilontarkan oleh remaja laki-laki yang sepertinya lebih muda diantara yang lainnya.
"hm, maksudnya wajah anda. Tolong anda tak usah mempedulikan kata-kata terakhirnya yang terdengar absurd untuk dicerna." Jelas salah satu remaja laki-laki lainnya. "Hei, absurd apanya!" Remaja laki-laki yang terlihat muda di matanya sepertinya tidak menerima bahwa pernyataannya benar-benar absurd.
Kakashi mendesah. "Tidak. Tidak apa. Tapi lain kali jangan melemparkan sesuatu benda atau akan ada yang bakal menjadi korban selanjutnya." Ujar Kakashi melerai sambil menyerahkan kotak kayu itu kepada satu-satunya remaja perempuan yang ada di sekumpulan remaja laki-laki.
"Terimakasih sarannya dan maaf merepotkan. Dan tentu saja kami tidak akan mengulanginya lagi." Ucap remaja perempuan itu mewakili semuanya untuk meminta maaf dan berterimakasih.
Kakashi hanya mengangguk mafhum. Setelah kotak kayu beserta isinya di serahkan pada sekumpulan remaja yang sedang berjalan menjauh darinya ke arah yang sebaliknya. Sekelebat kenangan hinggap di otakknya.
Rasanya aku seperti mengenal anak-anak itu. Tapi dimana, ya? Seingatku untuk urusan yang berhubungan dengan anak-anak hanya pada saat Sandaime-sama memutuskankan untuk menjadikanku Jounin-sensei dan mencarikan murid-murid untuk kulatih sebelum akhirnya aku mendapatkan murid yang sesuai dengan kriteriaku.
Kakashi dengan cepat berhenti berjalan. Ya, benar. Tentu saja mereka adalah anak-anak yang tak sempat berada di bawah pengawasannya. Para remaja itu adalah murid-muridnya sebelum Naruto, Sakura, Sasuke yang itu artinya mereka adalah murid tim pertama dan tim keduanya! Murid-murid yang membuat Kakashi sedikit berpikir mungkin tidak ada salahnya untuk menjadi Jounin-sensei walau mereka tak bisa menjadi muridnya karena ia tidak meluluskan mereka. Demi, Kami-sama! Mereka sudah dewasa. Dan bagaimana bisa mereka terlihat bersama-sama? ***
Kakashi segera berbalik dan menghentikan langkah sekumpulan remaja itu. Sekumpulan remaja itu berhenti dan menatap Kakashi yang menghentikan mereka. "Apa ada sesuatu yang salah lagi, tuan?"
"Akh, tidak." Kakashi menggeleng dengan cepat membuat para remaja itu betanya-tanya kebingungan. "Tapi sepertinya kalian baik-baik saja, ya?"
"HAH!?" sekumpulan remaja itu sekarang benar-benar kebingungan.
"Maksudku kalian..."Kakashi menghela nafas pasrah. Bingung untuk menjelaskannya.
"Maksudnya kami sudah tumbuh besar dari yang terakhir kali anda ingat, benarkan, Hatake-sensei?"
Kakashi menatap salah satu anak remaja laki-laki yang tengah mengangkat bahu. Ia lalu tersenyum. "Benar. Kalian masih ingat, ya?"
Beberapa dari sekumpulan remaja itu saling memandang satu sama lain. "Justru kami yang harusnya bertanya seperti itukan, Hatake-sensei?"
Kakashi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Gugup dan apa yang dikatakan salah satu remaja itu membuatnya malu dan jengah dengan dirinya sendiri.
"Mengapa tiba-tiba anda ingat kepada kami, Hatake-sensei? Maksudku kupikir anda benar-benar melupakan murid tim pertama..."
"..dan tim kedua."
Remaja perempuan itu menatap tajam pada salah satu rekannya dan melanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong. "...yah, seperti itulah. Dan apa yang membuat anda teringat kembali dengan kami?"
Bingung. Kakashi benar-benar bingung. Belum pernah seumur-umur Kakashi dibuat bingung oleh pertanyaan semacam itu.
"Kami tidak memaksa anda kalau anda bingung untuk menjawabnya, Hatake-sensei. Hm, tapi tidak apa-apakan jika kami menyebutmu, Hatake-sensei. Apa anda tidak kebertan?"
Ada rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Kakashi. Rasa yang mirip dengan yang diingatnya saat Obito memberikan bantuan terakhirnya. Saat-saat yang menyenangkan sekaligus membawa rindu yang mendalam. Tentu saja Kakashi seharusnya berterimaksih pada mereka karena merekalah yang membuat ia pertama-tama merasa nyaman dengan namanya anak-anak yang selalu dibencinya. Mungkin karena merekalah yang membuatnya tetap bertahan menjadi seorang Jounin-sensei walaupun mereka tidak pernah benar-benar menjadi murid asuhnya.
"Jangan panggil aku seperti itu." Ucap Kakashi tegas membuat beberapa sekumpulan remaja itu merengut malu karena sudah lancang. "Tolong panggil aku Kakashi-sensei dan tidak ada sebutan formal lainnya. Mengerti, anak-anak?"
Sekumpulan remaja itu saling berpandangan satu sama lain. Melebarkan matanya tak percaya dengan ucapan Kakashi. "Benarkah kami boleh memanggil.."
"Boleh. Tentu saja boleh." Kakashi tersenyum hangat kepada mereka. Ia lalu menggosok-gosokkan hidungya dengan jarinya. "Bagaimanapun kalian adalah murid dari tim pertama dan tim keduakukan?"
Salah satu remaja laki-laki itu terharu. Lalu dengan sigap dan badan yang ditegakkan. Ia mengangguk takzim layaknya seperti baru mendapatkan sebuah kehormatan yang amat sangat jarang terjadi dan diterimanya itu.
"Mulai hari aku siap menerima dan akan melaksanakannya, Ha, eh salah, maksudnya, Kakashi-sensei."
Jika ia tak ingat dengan sifatnya mungkin saat ini Kakashi sudah tertawa terjungkal-jungkal melihat (mantan) muridnya yang baru dijumpainya lagi bertingkah seperti itu. Sebagai reaksi yang tidak bisa dilakukannya, Kakashi memilih untuk geleng-geleng kepala sambil mendekati dan mengacak-ngacak rambut salah satu remaja laki-laki itu yang mangut tidak terima diperlakukan seperti itu. Baginya, ini pelampiasan karena ia tidak pernah melakukan hal yang...
""Konyol."" Ucap Kakashi dan rekan remaja yang rambutnya sedang diberantakan olehnya secara bersama-sama.
Dan Kakashi melihat remaja laki-laki ini menggelembungkan pipinya, dan wajahnya merah. Mungkin sebal akibat dijadikan bahan olokan.
.
.
.
Sory kalo ada typos.
TBC or End?
Aku rasa TBC :P
Ditunggu reviwsnya ya, minna.
*** (Keterangan lanjutnya)→ mungkin para penggemar Naruto khususnya Kakashi, mungkin sudah pernah ada yang melihat video animenya di saat Kakashi pertama kali menjadi Jounin-sensei dan membimbing satu tim yang terdiri dari satu anak perempuan dan dua anak laki-laki yang tak diluluskan oleh Kakashi. Merekalah murid tim pertama Kakashi yang dimaksud dan murid tim kedua Kakashi yang terdiri dari tiga orang anak laki-laki yang sama nasibnya seperti tim pertama alias tidak diluluskan. Tapi salah satu anak dari tim kedua ini mengucapkan 'terima kasih' kepada Kakashi karena tidak meluluskan mereka dan membuat mereka sadar kalau mereka masih belum layak untuk menjadi murid di bawah pengasuhannya. Setelah itu, barulah Naruto, Sasuke dan Sakura yang benar-benar menjadi murid Kakashi dan itu artinya Naruto and kawan-kawan merupakan murid tim ketiga Kakashi –yang muncul di anime- dan satu-satunya yang diluluskan untuk menjadi murid dibawah asuhan da tanggung jawabnya. Tapi aku lebih sreg, kalau Kakashi lebih bersama dengan murid tim pertama dan tim keduanya. Kenapa? Soalnya dengan bersama mereka, Kakashi akan lebih funny karena anak-anak itu bukan anak yang masalalu kelam. Mereka termasuk anak yang bahagia jadi jika Kakashi yang notabane-nya selalu ditinggalkan (Naruto lebih banyak berada dalam asuhan Jiraiya. Sasuke memilih pergi ke Orochimaru dan Sakura lebih banyak berada di bawah bimbingan Tsunade untuk bisa menjadi medic-nin handal. Aku tidak pernah melihat murid tim kakashi itu selalu bersama seperti tim-tim lainnya yang selalu terlihat kompak bersama Jounin-sensei pembimbing setiap kali aku melihat animenya. Lihatkan?) Semoga mengerti maksudku. See you.
Di Chap 1 ::: Mikazuki Ryuuko iya, minna. Kakashi dan OC . Makasih BANGET mau reviws fic ku ini. Hehehe. Yah, sebenernya tokoh utama wanitanya aku refleksikan sebaagai diriku sendiri. Jadi intinya ini cerita aku sama Kakashi gitu :P hehehe anggap ajah kayak gitu ok. Siplah! Terus dukung dan minta sarannya ya, minna.
Di Chap 2 :: iya nama Kahyo itu aku ambil dari Kakashi hiden. Tapi di fic ini Kahyo jadi sampingan doang (kasian kamu, Kahyo). Ok, seperti permintaanmu, aku mulai memasukan karakteristik dari Kana. Yah, dimulai ciri fisik tapi lengkapnya dan mulai masuk babak serunya sepertinya di chap 4. Hehehe. Terus dukung dan minta sarannya –reviwsnya, maksudku- ya, minna.
Aku akan membalas pertanyaan kalian di Chap selanjutnya.
Ne, mohon dukungannya ya, minna readers.
Sorry, kalo ada typos.
