New chapter... Happy Reading ^_^

Disclaimer: Vocaloid dan UTAU bukan punya saya


PENYELAMATAN

.

.

"Sebenarnya kita hendak pergi kemana?"

Len memandang ayahnya dan Mikuo-sama yang saat ini bersama-sama sedang duduk di kereta kecepatan tinggi jurusan daerah Fudo. Setelah persiapan yang terburu-buru dan memesan tiket kereta yang mahal karena mendadak, akhirnya mereka bertiga duduk dengan gelisah dalam kereta tersebut.

"Kita hendak menuju daerah Fudo, tepatnya kota Ritsu," ujar Kaito tenang. Akan tetapi nada suaranya terdengar gugup.

"Apakah kita akan menuju kantor pusat pemerintah dunia yang ada di daerah tersebut?" Mikuo angkat bicara. Kaito mengangguk.

"Bangsa Ksatria yang kutempatkan mengatakan bahwa pihak pemerintah menempatkan High Summoner dalam gedung tersebut,"

"Beliau baik-baik saja, kan?"

"Itulah yang aku tidak mengerti,"

Len dan Mikuo memperhatikan Kaito dengan lebih serius.

"Dari berita yang bangsa kita sampaikan, saat ini High Summoner sedang tertidur dan tidak peduli apapun yang pemerintah lakukan mereka tidak bisa membangunkannya,"

"Tertidur? Apa maksudnya?" Len bergumam penasaran.

"Aku tidak tahu, salah satu bangsa ksatria yang berkesempatan menyusup mengatakan bahwa High Summoner berada dalam keadaan koma," Kaito mengangkat bahunya.

"Mikuo, apa kau mengetahui sesuatu?" kali ini Kaito mengalihkan pandangannya pada Mikuo.

"Entahlah, aku tidak begitu tahu mengenai masalah itu. Hanya saja...,"

"Hanya saja?"

"Dulu sekali Miku-sama pernah memberitahuku sesuatu mengenai sihir tidur seperti itu,"

"Hoo, sihir semacam apa?"

Mikuo menatap Kaito dan Len dengan serius.

"Miku-sama dulu pernah sekali menceritakan padaku mengenai salah satu High Summoner yang pernah melakukan sihir tidur seperti itu, aku tidak yakin Summoner yang mana. Waktu itu pernah sekali Knight yang seharusnya melindungi Summoner berkhianat dan menjual sang gadis Summoner kepada pihak-pihak yang menginginkan kekuatannya,"

Len dan Kaito membulatkan matanya, merasa terkejut.

"Berkhianat? Tidak mungkin?!" Kaito merasa tercoreng harga dirinya sebagai bagian dari bangsa Knight

"Hei.. hei.. jangan marah dulu, aku hanya menceritakan ulang apa yang diceritakan oleh Miku-sama," Mikuo mencoba menurunkan emosi Kaito dan Len.

"Saat itu Summoner itu memiliki kekuatan yang lemah jika dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Miku-sama dan Rin-sama saat ini, tentu saja. Fisik Summoner tersebut juga tidak terlalu sehat sementara waktu penyegelan monster Bahamut masih terlalu lama. Akhirnya sang Summoner membuat dirinya tertidur dalam sebuah kristal dan baru terbangun... kira-kira tiga hari sebelum waktu penyegelan Bahamut," Mikuo mengingat-ingat.

"Berapa lama sang Summoner tertidur?" Kaito bertanya, merasa tertarik.

"Aku tidak begitu yakin, Miku-sama hanya menyiratkan setidaknya dalam jangka waktu yang panjang. Mungkin bertahun-tahun," Mikuo mengangkat bahunya dan menghempaskan punggungnya pada kursi keretanya.

"Apa yang terjadi saat sang Summoner tertidur dalam jangka waktu panjang seperti itu?" kali ini Len merasa tertarik.

"Entahlah, Miku-sama tidak menceritakan hal itu. Namun kurasa dunia mengalami kekacauan karena High Summoner tidak meredam kekuatan bayangan Bahamut. Ah... benar juga,"

"Kau mengingat sesuatu?" seru Kaito bersemangat.

"Aku rasa tidak penting, hanya saja kalian ingat kan, aku baru bisa menemukan Miku-sama 10 bulan sebelum penyegelan?"

Kaito dan Len mengangguk singkat.

"Miku-sama memang tidak pernah menceritakannya padaku, tapi kurasa Miku-sama menutup koneksi hatinya denganku begitu lama mungkin karena takut dengan alasan itu?"

"Takut bahwa kau akan menjualnya kepada pihak pemerintah?" Kaito langsung memahami alur cerita Mikuo.

"Miku-sama memang tidak pernah menceritakannya, tapi aku bisa merasakannya selama satu bulan awal pertemuan kami,"

"Apa yang kau ketahui?"

"Tatapan matanya menunjukkan waspada tinggi dan rasa tidak percaya, bahkan ia menjaga jarak dariku. Yah, itu terjadi pada satu bulan awal pertemuan kami, tapi setelah itu Miku-sama mulai mempercayaiku sedikit demi sedikit sehingga akhirnya kami-," cerita Mikuo terpotong.

"Kalian?" Len mengejar, Kaito memperhatikan dengan tertarik.

"Tidak penting. Yang pasti akhirnya Miku-sama mempercayaiku untuk menjadi pelindungnya," Mikuo menutup ceritanya.

'Mungkin itu juga yang dirasakan Kamine-san kepadaku, ia hanya bersikap waspada sehingga tidak ingin bertemu denganku secara langsung,' batin Len dalam hati, mengingat apa yang telah ia baca dari laptop gadis tersebut.

Suasana menjadi sepi setelah Mikuo bercerita.

"Kalau...,"

Mikuo dan Kaito mengarahkan pandangan mereka pada Len, menunggu reaksi pemuda tersebut.

"Kalau Kamine-san baru terbangun tiga hari sebelum penyegelan Bahamut, apa yang akan kita lakukan?"

"Yah, apa yang sebaiknya kita lakukan?" Mikuo menyenderkan kembali tubuhnya.

"Tak ada yang bisa kita lakukan kurasa, selain menunggu Summoner terbangun," Kaito mengalihkan pandangannya pada jendela berpemandangan indah.

"Tapi satu hal sudah jelas, Len. Sebagai Knight dari Rin-sama, jangan pernah kau mengkhianati dirinya dan menjualnya kepada pihak-pihak yang menginginkan kekuatannya," Mikuo menatap Len dengan serius. Len merasa terintimidasi dengan tatapan tersebut tapi berusaha tidak menunjukkannya.

"Yah, aku bisa lihat tampaknya kau dan High Summoner tidak terlalu akrab dan lebih sering bertengkar," timpal Kaito.

"Tapi bersabarlah, toh tugasmu menjaga dirinya hanya tersisa 1 tahun 6 bulan lagi. Setelah semua ini selesai kau... dan... Kamine-san... bisa hidup dengan jalan kalian masing-masing," Kaito berujar dengan tercekat pada tengah kalimat, terdengar tidak begitu yakin.

Len menatap ayahnya dengan serius sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya pada kursi kereta yang empuk. Matanya diarahkan pada pemandangan yang tampak di luar jendela.

'Dirinya dan Kamine-san yang akan hidup dengan jalan mereka masing-masing?' ulang Len dalam benaknya. Tanpa sadar dirinya mendengus geli.

'Tak akan ada lagi jalan yang akan ditempuh oleh Kamine-san. Takdir High Summoner adalah mati setiap ia menjalankan tugasnya,'

Kembali benak pemuda itu melayang pada beberapa fakta kecil yang ia dapatkan dari laptop gadis tersebut. Mengenai masa kecil gadis itu, mengenai kekuatan yang didapatkannya pada masa kecil hingga mengenai orang tuanya yang juga menjauhinya karena Rin mendapatkan kekuatan High Summoner.

Akan tetapi hal yang paling menganggu pikirannya adalah mengenai perasaan gadis itu terhadap dirinya.

'Apa yang harus kulakukan jika aku bertemu dengan Kamine-san lagi?'

Pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya.


~000~


Akita Nero berdiri melayang di atas hamparan gedung-gedung pencakar langit kota Ritsu daerah Fudo. Matanya menikmati kesibukan yang terjadi di kota tersebut. Anak rambutnya yang berwarna kuning bermain ditiup angin kencang. Seringai kejamnya terhias pada wajahnya yang tampan.

"Kota yang indah ya," seringainya kecil.

Mata pemuda itu menatap salah satu gedung pencakar langit yang ada. Sekilas gedung tersebut tampak tidak berbeda dengan gedung yang lain.

"Tapi, kurasa saat-saat kehancuran jauh lebih indah,"

Pemuda itu mengarahkan telapak tangannya ke arah gedung yang sedang ditatapnya. Gumpalan energi yang besar dan berwarna pekat terkumpul pada telapak tangannya. Seringai kejamnya kembali menghias wajahnya.

Dan sesaat kemudian, gedung tersebut meledak diiringi api yang dahsyat.


~000~


Len meregangkan tubuhnya, mencoba membebaskan sendi tubuhnya yang kaku. Kaito, Mikuo dan Len baru saja menginjakkan kaki mereka di Stasiun Ritsu. Perjalanan selama dua jam secara mendadak memang membuat tubuh terasa kaku. Baru saja mereka tiba, telepon genggam Kaito telah berdering dengan ribut.

"Aku baru saja sampai- APA?!"

Len dan Mikuo menatap Kaito dengan bingung. Beberapa warga yang sedang melintas dekat dengan mereka menoleh sesaat sebelum akhirnya sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

"Baik! Lindungi dia apapun yang terjadi, bahkan meski harus mempertaruhkan nyawa kalian!" perintah Kaito tegas.

Pria itu langsung menutup telepon dengan kasar dan menatap Len dan Mikuo denga serius.

"Teleportasi," ujarnya pendek. Len dan Mikuo langsung memahami situasi yang terjadi.

Mereka bertiga serentak berlari mencari temat yang dirasakan sepi. Setelah mereka mendapatkan tempat yang sesuai, mereka bertiga berteleportasi bersama-sama dengan dipandu arah oleh Kaito. Tidak sampai sedetik mereka bertiga telah muncul di halaman gedung pencakar langit yang sedang terbakar hebat. Tak ada yang memperhatikan kedatangan tiga sosok tersebut secara tiba-tiba, masing-masing sibuk dengan rasa paniknya sendiri dan keinginan untuk menjauh dari gedung tersebut.

Ketiga sosok itu menatap terpana pada gedung yang terbakar hebat tersebut.

"Apa yang terjadi?" gumam Len bingung.

"Mikuo, coba kau rasakan energi yang mungkin saja terpancar dari bangsa Knight yang ada dalam gedung ini. Seharusnya mereka semua ada di dalam sana untuk melindungi Summoner. Kau juga Len," perintah Kaito.

Belum ada sedetik Mikuo berlari sambil menyahut.

"Lantai 23!"

Serentak Len dan Kaito mengikuti arah lari Mikuo. Mereka berusaha memasuki gedung yang terbakar hebat itu.


~000~


"Aku heran dengan kalian, kenapa sih kalian berusaha melindungi gadis itu?"

Nero mengeluarkan seringainya yang kejam, bahunya memanggul pedang panjang. Darah mengalir pelan dari setiap inchi panjangnya pedang tersebut. Sinar matahari menimpa ujung pedang panjang tersebut.

Api dahsyat yang membakar lantai bagian bawah perlahan mulai merambat ke lantai tersebut. Asap pekat berwarna kegelapan sedikit demi sedikit mulai menutupi pandangan. Kabel listrik yang terputus dengan paksa mengeluarkan percikan listriknya. Sesekali kabel-kabel itu terbawa kemana arah angin bertiup, menjadikannya jauh lebih berbahaya.

Seorang pria berdiri dengan agak limbung, napasnya tersengal-sengal sementara darah mengalir dari keningnya. Akan tetapi pria itu tetap teguh mengacungkan pedang bladenya dengan kedua tangannya. Di belakang pria itu berdiri seorang pemuda berambut hijau gelap, dirinya sedang menggendong Kamine Rin yang sedang tertidur.

"Hiyama-san," desis pemuda itu.

"Tak perlu pedulikan aku, Gumiya-kun. Pergilah dan temui Kaito-sama,"

"Kalian tidak berpikir bahwa aku akan membiarkan kalian pergi, kan?" kekeh Nero. Tangannya menyapu seluruh ruangan yang ada.

"Teman-teman kalian yang terkapar disini telah menjadi buktinya," lanjut Nero.

Hiyama Kiyoteru mendecih pelan sementara Fuwa Gumiya masih berusaha mencari jalur meloloskan diri yang tersedia.

Nero mengacungkan pedangnya. Ujung pedangnya menunjuk Kamine Rin yang saat ini terlelap dalam gendongan Fuwa Gumiya.

"Serahkan padaku gadis itu dan kalian akan kubiarkan selamat,"

Hiyama sudah mendaratkan bladenya ke arah kepala Nero, akan tetapi pemuda Bahamut itu sudah menahannya dengan pedang panjangnya.

"Maaf saja, tapi kami tak bisa melakukan itu," desis Hiyama. Nero hanya mendengus geli.

"Eits, cukup sampai sana saja, bocah!" Nero mengeluarkan gumpalan energinya dan mendaratkannya di tempat yang hampir saja dipijak oleh Gumiya.

Fuwa Gumiya mendadak berhenti berlari, mendecih sebal. Padahal Hiyama sudah membuka peluang baginya untuk lari, tetapi pemuda Bahamut itu dapat menahannya dengan mudah. Pemuda itu dengan tatapan serius memandang Nero yang berdiri angkuh, dilatar belakangi dinding yang hancur dikarenakan serangan, menampilkan pemandangan berbagai macam gedung pencakar langit.

'Kalau begini hanya ada satu jalan saja,' batin Gumiya.

Gumiya mengeratkan pelukannya pada Kamine Rin yang sedang tertidur. Tanpa ragu Fuwa Gumiya berlari menerjang ke arah Nero. Beberapa kali gumpalan energi mengarah kepadanya, tetapi dengan gesit dan lincah Gumiya mampu menghindari semua itu.

Sesaat Nero mengira Gumiya hendak menyerangnya, tetapi sekejap ia terkejut saat Gumiya terus berlari melewatinya.

"Apa-"

Nero menoleh, Gumiya meloncat tanpa ragu-ragu dari dinding yang hancur. Meloncat bebas dari lantai berketinggian 23.

"Apa?!" gumam Nero tidak percaya.

Hiyama melihat peluang, sekali lagi pria itu mencoba mendaratkan serangannya pada bahu pemuda itu. Akan tetapi, Nero mampu menahan serangan gesit Hiyama. Disaat Nero hendak mempersiapkan serangan lain dari Hiyama, pria itu telah berlari melesat melewatinya dan ikut meloncat dari lantai 23.

Kembali Nero terperangah, tidak menyangka bahwa Hiyama juga ikut kabur dengan meloncat dari lantai 23.

Saat Hiyama merasa tubuhnya melambung sebelum ditarik gravitasi, saat itulah dirinya berpapasan dengan Mikuo dan Len yang sepertinya baru saja melesat naik ke lantai 23 dari bawah. Hiyama menatap Mikuo dengan terkejut sementara Mikuo menatap Hiyama dengan tenang.

"Kaito di bawah,"

Itulah yang didengar oleh Hiyama, sebelum akhirnya tubuh pria itu tertarik searah dengan gravitasi. Hiyama menoleh sekilas, akan tetapi Len dan Mikuo telah menjejakkan kaki mereka dengan mantap pada tepi lantai yang hancur. Hiyama berteleportasi di tengah udara menuju halaman gedung. Karena adalah sebuah pikiran gila jika kalian berpikir Hiyama terus jatuh mengikuti gravitasi bumi.


~000~


"Wah.. wah, kabur dua tapi datang dua ya,"

Len dan Mikuo memasang kuda-kuda bertarung mereka, dalam sekejap Len telah mewujudkan dua pedang miliknya di masing-masing tangan sementara Mikuo mewujudkan blade besar miliknya.

"Kita berjumpa lagi, bocah kecil," Nero mengacungkan pedang panjang miliknya ke arah Len. Len hanya mendecih sebal.

"Siapa kau?" Mikuo angkat bicara.

Nero memandang ke arah Mikuo, kepalanya miring.

"Hmm, aku tidak kenal siapa kau. Tapi sepertinya kau juga bangsa ksatria," Nero tersenyum miring. Mikuo masih memandang Nero dengan tatapan waspada.

"Namaku Bahamut, aku adalah wujud kekuatan bayangan dari monster Bahamut yang asli,"

Mikuo membulatkan matanya, menyembunyikan rasa terkejut dan tak menduga. Selama ini memang dirinya selalu mendengar dari Len mengenai Pemuda Bahamut bernama Akita Nero, akan tetapi Mikuo tidak pernah bertemu secara langsung. Lagipula Mikuo tidak pernah tahu bahwa terdapat wujud dari kekuatan bayangan monster Bahamut.

Pemuda Bahamut itu, Akita Nero, setahu Mikuo tidak pernah ada ketika dirinya menjadi Knight bagi Miku. Selain itu, Mikuo juga tidak pernah mendengar mengenai pemuda ini dari mentor Knightnya yang terdahulu.

"Siapa kau sebenarnya?" gumam Mikuo bingung.

"Hee, apakah kau Knight dari gadis sial Summoner terdahulu?" ujar Nero sambil memainkan ujung pedangnya. Bertukar menunjuk dari Len menuju Mikuo kembali kepada Len. Begitu berulang kali.

"Yah, wajar saja kau tidak tahu. Aku baru diciptakan ketika gadis sial Summoner yang sebelumnya sudah mati," Nero kembali memanggul pedang panjangnya.

"Diciptakan?"

"Yah... aku berterima kasih pada para orang tua pemerintahan dunia itu," ujar Nero enteng.

"Apa maksudmu?" desis Len, pemuda itu ikut bersuara.

"Mereka menciptakan aku supaya bisa mengontrol kekuatan Bahamut. Manusia bodoh, mereka pikir mereka bisa mengontrol kekuatan dewa?!" kekeh Nero.

Len dan Mikuo sesaat berpandangan, terkejut.

"Hmm, tapi sayangnya, aku tak ada waktu untuk bermain dengan kalian!"

Nero menebaskan pedang panjangnya ke seluruh arah, menyebabkan Mikuo dan Len harus menghindari serangan acak tersebut. Pemuda Bahamut itu terus menebaskan pedangnya ke segala arah dan berlari menerjang tembok dan meloncat kebawah. Mikuo yang menyadari hal tersebut juga langsung meloncat ke bawah dan mendaratkan pedangnya pada kepala Nero. Akan tetapi sayang, Nero mampu menahan serangan tersebut. Saat ini mereka berdua saling mengayunkan pedang, mencoba mendaratkan serangan pada tubuh lawan mereka masing-masing di tengah angkasa sambil melesat jatuh, mengikuti tarikan gravitasi.

Len berdiri di tepi lantai, memandang Mikuo dan Nero yang sedang melayang jatuh. Pemuda itu mendecih sebal sebelum akhirnya berteleportasi.


~000~


Mikuo mendaratkan serangannya kembali ke arah bahu Nero, akan tetapi pedang panjang milik Nero memberikan pertahanan yang cukup merepotkan. Tampak sebal karena terus diserang, akhirnya Nero mulai memainkan pedang panjang miliknya. Sabetan pedangnya membelah udara, menimbulkan bunyi yang menegakkan bulu roma. Meskipun begitu, Nero tampak tidak kesulitan memainkan pedangnya. Dengan lincah Nero menyabetkan pedangnya dengan kecepatan yang tinggi. Kecepatan menebas Nero sangat tinggi, yang terlihat hanyalah kilatan pedang dan bunyi udara yang terpotong.

Mikuo kesulitan menerima sabetan pedang berkelanjutan tersebut. Posisinya yang saat ini sedang melayang jatuh bukanlah posisi yang menguntungkan untuk bertarung. Selain itu Mikuo dapat melihat permukaan tanah yang semakin lama semakin mendekat. Pria itu juga melihat Kaito, Hiyama Kiyoteru dan seorang pemuda lain yang sedang mendekap Kamine Rin, memandang dirinya yang saat ini sedang terjatuh bebas.

Tidak punya pilihan lain, Mikuo berteleport untuk menghindari benturan dengan permukaan tanah. Dengan sebal Mikuo memandang murka pada Nero yang saat ini sedang menyeringai kejam.


~000~


Melihat pengganggu sudah menghilang, Nero memposisikan dirinya untuk bersiap menebas para bangsa ksatria yang saat ini masih terpaku dibawah. Lagipula gadis summoner itu ada bersama mereka. Lebih baik empat orang tersebut dihabisi saja. Nero mendaratkan tebasan pedangnya.

Saat pemuda Bahamut itu berpikir bahwa dirinya telah menang, saat itu jugalah dirinya merasa shock

Pemuda blonde, Kagamine Len, telah muncul dan menahan tebasan pedang miliknya.

"Cih, kupikir kau sudah lari ketakutan,"

"Melindungi gadis itu adalah tugasku," ujar Len dingin.

Nero meloncat mudur. Memandangi Len, Kaito, Gumiya, Hiyama dan Mikuo yang telah berteleport ke tanah.

"Aku hanya mau gadis itu dan akan kubebaskan nyawa kalian,"

Akan tetapi ucapan itu sama sekali tidak melonggarkan rasa waspada para bangsa ksatria. Mereka semakin memperkuat rasa waspada dan bersiap untuk bertarung, hingga mati jika perlu.

Melihat sikap keras kepala mereka yang tidak juga hendak menyerah, Nero menghembuskan napasnya, pura-pura kecewa.

"Itulah sebabnya aku tidak suka gadis summoner dan bangsa ksatria," ujarnya lambat-lambat.

Para bangsa ksatria masih menampilkan sikap waspada mereka, memikirkan jalur untuk meloloskan diri.

"Kalian selalu mengganggu kesenanganku," lanjutnya lagi dengan lambat.

"Kubunuh saja kalian semua!"

Nero mendaratkan tebasan ke arah mereka semua. Akan tetapi terlambat, pemuda Bahamut itu hanya menebas angin. Keempat bangsa ksatria dan gadis summoner itu telah menghilang entah kemana.

"Teleportasi," gumam Nero sebal.


~000~


Sebuah bola selubung berwarna biru transparan muncul di tengah hutan. Bola itu berisi Kaito, Mikuo, Len, Hiyama dan Gumiya yang sedang menggendong Rin. Saat selubung bola itu menghilang tubuh Kaito langsung terjatuh ke tanah. Wajahnya dipenuhi oleh peluh.

"Ayah, kau baik-baik saja?" Len mengguncang tubuh ayahnya, Kaito.

"Aku baik-baik saja, hanya lelah," sengal Kaito disela sesi pengambilan napasnya.

"Dia kelelahan karena harus melakukan teleporasi pada kita semua," ujar Mikuo sambil memapah Kaito.

"Tenang saja, ayahmu akan baik-baik saja," lanjut Mikuo menenangkan Len. Pemuda itu hanya mengangguk pelan.

"Lebih baik kita segera bergerak, disini adalah hutan dekat desa ksatria. Jika kita keluar dari hutan ini kita bisa beristirahat di desa," Hiyama menyarankan, yang lain hanya mampu mengangguk menyetujui. Mereka mulai berjalan keluar hutan.

Len teringat sesuatu sebelum akhirnya ia menghampiri Gumiya yang masih menggendong Rin.

"Dia berat kan? Biar aku yang menggendongnya," Len mempersiapkan lengannya agar Gumiya menyerahkan Rin kepada dirinya.

Gumiya memandang Len dengan heran, "Tidak masalah, gadis ini sangat ringan sekali,"

Len mengerutkan alisnya, "Tapi kau sudah dari tadi menggendongnya, pasti kau lelah," ujar Len tidak mau kalah.

"Tidak masalah, saya sudah biasa-"

"Aku Knight gadis itu, biarkan aku yang menggendongnya," bantah Len.

Gumiya yang menyadari sifat keras kepala Len langsung menyerahkan Rin ke gendongan pemuda itu.

"Tenang saja, saya tidak jatuh cinta pada gadis itu," ujar Gumiya sambil menahan tawanya.

Len mengerutkan alisnya, tanda tidak suka. Tapi tak dapat dipungkiri, wajahnya memerah meskipun hanya sedikit. Lagipula dirinya tidak berniat membantah, jadi pemuda itu mendiamkan saja olokan pemuda berambut hijau tersebut.

Len memandang wajah Rin yang sedang tertidur. Wajah gadis itu begitu tenang, tak menyadari bahwa dirinya baru saja lolos dari bahaya kematian.

"Bagaimana bisa kau tidur tenang seperti ini?" gumam Len sambil memandangi wajah sang gadis.


~000~


Len baru saja meletakkan Rin di futon pada kamar yang tersedia, pemuda itu merapikan selimut futon gadis itu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Setelah memastikan bahwa Rin telah terselimuti dengan baik, Len memandang wajah gadis itu.

"Sampai kapan kau mau tidur?" gumam Len.

Len mengulurkan tangannya, jemarinya mengusap helai rambut Rin dengan lembut. Jemarinya juga berhenti pada pipi Rin, merasakan kehangatan kulit gadis itu.

"Apa kau memang benar mencintaiku?" gumam pemuda itu lagi.

"Jika kau memang mencintaiku, apakah kau tidak mau bangun untuk bertemu denganku lagi?"

Suasana hening, hanya bunyi daun yang saling bergesekan yang terdengar. Setelah memandang wajah Rin untuk sesaat, pemuda itu memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan yang lainnya.

Pohon sakura yang sudah tua tepat berada di hadapannya. Pohon sakura itu sudah tua tetapi masih terus berbunga. Meskipun begitu, bunga sakura telah berakhir karena saat ini merupakan musim panas. Akan tetapi hijau daun pohon Sakura juga merupakan hal yang indah untuk dinikmati.

Len melangkahkan kakinya menuju ruangan yang cukup besar, disana semua penduduk desa telah duduk bersimpuh berhadapan. Pada ujung barisan tersebut duduklah Kaito, salah satu tetua bangsa Knight, yang sedang menatap dengan serius.

"Bagaimana keadaan gadis summoner?" Kaito langsung bertanya pada Len yang baru masuk.

"Dia sudah dibaringkan di kamarnya,"

"Begitu. Baiklah semuanya, mulai saat ini kita akan meningkatkan kewaspadaan kita. High Summoner saat ini berada dalam kondisi tidak sadarkan diri dan mungkin baru akan tersadar saat waktu penyegelan mulai dekat. Karena itulah, para penduduk yang mampu menggunakan kekuatan mereka, harap melindungi desa ini dari berbagai serangan dan ancaman yang ada," perintah Kaito.

"Ancaman? Apakah Bahamut akan menyerang kemari?" salah satu penduduk desa kelihatan resah.

Kaito mengangguk, "Kemungkinan itu ada karena itulah aku ingin kita semua bersiaga,"

Penduduk desa mengangguk patuh.

"Pihak wanita yang memiliki kekuatan penyembuh dan pertahanan juga akan diberdayakan, sampaikan mereka harus siap dan waspada jika kita membutuhkan kemampuan mereka," Kaito memberi perintah pada penduduk wanita.

Para penduduk wanita mengangguk siap.

"Sampai waktu penyegalan tiba, aku, Mikuo dan Len akan tinggal di desa ini. Kami akan melindungi desa ini dan High Summoner,"

Penduduk desa mulai saling menoleh dan memandang Mikuo dan Len.

"Akan tetapi, prioritas utama kami adalah menjaga High Summoner, mengenai keamanan desa saya akan memerintahkan Hiyama Kiyoteru untuk mengorganisir semua hal," perintah Kaito sambil memandang Hiyama. Hiyama mengangguk siap.

"Baiklah semuanya, mulai saat ini bersiaplah!"

"Siap!" seru para penduduk desa.


~000~


Pertemuan telah selesai, akan tetapi di ruangan itu tersisa Kaito, Mikuo, Len dan Hiyama.

"Mulai saat ini kita akan tinggal di desa ini dan bersiaga. Aku sudah menelepon ibumu dan memintanya untuk megurus segala hal yang perlu diurus, termasuk permohonan cuti untuk kuliahmu selama satu tahun enam bulan kedepan. Kurasa Meiko akan datang dalam beberapa hari mendatang," Kaito menjelaskan, Len hanya mengangguk paham.

"Lalu Mikuo dan Len, aku memerintahkan kalian untuk mendatangi pemimpin dunia cabang Jepang. Jelaskan keadaan yang terjadi dan katakan pada mereka bahwa High Summoner berada dalam pengawasan kita. Katakan pula bahwa kita tak akan menyerahkan gadis itu hingga saat terakhir,"

Len dan Mikuo mengangguk paham.

"Lalu Hiyama, perintahkan semua penduduk untuk mulai bersiaga. Katakan jika terjadi hal yang mencurigakan maka mereka boleh menggunakan kekuatan mereka. Kita tidak tahu kapan pemuda Bahamut itu akan menyerang kemari. Perintahkan pula kepada para wanita untuk memasang dinding pelindung desa sebanyak dua lapis,"

Hiyama mengangguk paham.

"Mulai saat ini, akan menjadi masa-masa yang penuh ketegangan untuk kita semua," ujar Kaito dengan pelan. Akan tetapi Len, Mikuo dan Hiyama dapat mendengarnya.


~000~


Len berdiri menghadap meja telepon yang ada di hadapannya, gagang telepn masih menempel di telinganya.

"Ya, kemungkinan Ibu akan datang ke Desa Ksatria pada hari Sabtu nanti, banyak sekali yang harus diurus termasuk cuti kuliahmu,"

"Begitu, lalu bagaimana dengan kuliah Kamine-san?"

Meiko terdiam sesa

at, "Ayahmu mengatakan untuk diurus permohonan cutinya bersama denganmu,"

"Begitu,"

"Apa kau ingin menitip sesuatu sebelum aku pergi ke Desa Ksatria, Len?"

Pmuda itu terdiam sesaat, "Di kamar Kamine-san ada laptop miliknya, tolong bawakan laptop itu kesini,"

"Eh, buat apa? Bukankah kau punya laptop sendiri?"

"Ini penting Bu, disaat Kamine-san tidak tsadar aku ingin mengumpulkan banyak informasi dan laptopnya mungkin menyimpan banyak informasi yang kita butuhkan,"

"... baiklah, aku akan membawa laptop itu bersamaku hari Sabtu nanti,"

Len menghela napas, "Terima kasih banyak, Ibu,"

"Tidak masalah, jagalah diri kalian baik-baik hingga aku tiba disana,"

Len melatakkan gagang teleponnya. Pemuda itu menghembuskan napasnya sebelum akhirnya melangkah pergi. Pada situasi seperti in, yang bisa dirinya lakukan hanyalah mengumpulkan informasi.

Ya, hanya itu.


~000~


Yah..begitulah, seperti biasa tolong berikan komentar anda mengenai chapter ini di review ya ^_^