Marriage.

Disclemmar Naruto Masashi Kishimoto.

Hatake Kakashi & Narashi Kana.

Family Hurt Romance

04. Saling Membutuhkan: part01.

.

.

"Kana."

"Hm?"

"Kapan kamu akan membangun keluarga yang kau impikan?"

Kana menoleh ke arah Mayumi yang sedang menatapnya serius.

"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu?"

"Aku malah ingin mengatakan hal ini sejak lama."

Kana memandangi bukunya sendu. "Dan selama ini kau merasa sungkan bertanya seperti itu kepadaku?"

" begitu." Mayumi sedikit memajukan bibirnya kesal.

"Aku bercanda." Kana hanya tersenyum simpul. "Sebenarnya terkadang aku berpikir kenapa kau dan yang lainnya begitu sungkan kepadaku untuk membicarakan hal-hal serius seperti masalah ini. Kadang aku berpikir apa kalian peduli padaku atau tidak."

"Bukan begitu, Kana."

"Aku tahu dan mengerti. Kalian sangat peduli padaku makanya kalian tidak ingin membuatku merasa sedih. Kalian menyimpan pertanyaan kalian untukku agar aku merasa bahagia dan tidak tertekan. Aku paham itu."

Mayumi hanya memandangi pemandangan di depannya. "Sampai kapan kamu akan mengingatnya?"

Kana menaikkan sebelah alis matanya dan tersenyum. "Aku justru sudah melupakannya. Lama sekali. Bukannya aku tidak ingin membangun keluarga yang kuimpikan. Hanya saja yang ada dipikiranku sampai saat ini adalah aku tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun."

"Kenapa?"

"Entahlah. Mungkin karena aku tidak ingin berusaha untuk mencari pasangan hidupku."

"Konyol." Mayumi mendengus kesal. Kana tertawa puas melihat ekspresi Mayumi.

"Lalu kenapa kau tidak membuka hatimu kalau kau tidak ingin mencari pasanganmu?"

"Apa aku tampak intovert?" tanya Kana heran.

"Tidak. Kau bukan introvert tapi hampir mendekati."

"Mayumi! Teganya kau!" Kana menggelembungkan pipinya sebal. Sedangkan Mayumi tertawa puas.

"Kau tahu, Kana." Ucap Mayumi setelah ia selesai tertawa dengan puas.

"Tahu apa?" Kana menutup bukunya dan menyimpannya di sampingnya mencoba untuk serius berbicara dengan salah satu sahabatnya itu.

"Sebenarnya banyak yang menyukaimu."

"Benarkah?" tanya Kana sangsi sambil memutar kedua matanya boosan.

"Ya, bodoh! Tapi kau saja yang tidak peka!"

"Aku peka!"

"Lalu kenapa?"

Kana diam seribu bahasa. Kemudian tak lama ia mendesah pasrah. "itu karena..." ucapnya sambil melihat langit dengan sendu.

"Mama!"

Kana dan Mayumi tersentak dan langsung mengalihkan pandangan mereka kepada anak kecil yang sedang berlari riang ke arah mereka.

"Semangat seperti biasanya ya, Anata." Ucap Kana setelah anak kecil itu sampai di pelukan Mayumi yang merupakan ibunya.

Anata, anak kecil itu tersenyum lebar ke arah Kana. "Hari ini aku sangat senang, Kana ba-san."

"Coba ceritakan bagaimana kau bisa sesenang ini, Anata-can."

Anata mengangguk-angguk semangat. Ia lalu membuka mulut kecilnya itu dan akan memulai cerita sampai Mayumi menghentikannya.

"Kenapa mama menghentikan Anata bercerita pada Kana ba-san?" renggutnya kesal.

"Karena kamu sudah memotong cerita Kana pada mama. Jadi tolong biarkan Kana menyelesaikan ceritanya ya? Mama janji jika cerita dari Kana selesai akan mama ijinkan anak mama yang cantik ini untuk menceritakan harimu pada Kana, ya?" pinta paksa Mayumi.

Kana sweatdrop. "Ya ampun, Mayumi. Biarkan saja jika Anata ingin bercerita."

Mayumi melebarkan matanya yang tajam membuat Kana memilih untuk bungkam.

"Kau pikir aku tidak tahu kebiasaanmu itu?"

"Kebiasaan apa?" tanya Kana pada dirinya sendiri.

"Kalau kau memulai cerita, pasti ceritanya berakhir dengan penuh misteri. Yang artinya kalau kau bercerita selalu setengah-setengah! Kau tau aku kesal!"

Kana double sweatdrop.

"Jadi tuntaskan pembicaraanmu yang barusan terpotong gara-gara Anata memotong pembicaraan kita."

"Penting?"

Mayumi menyipitkan matanya, tanda dia sudah menahan kesabarannya.

"Aku sangat ingin, tetapi sepertinya kau sudah dijemput oleh suami tercintamu." Kana tersenyum simpul sambil menatap seorang pria yang sudah berdiri di belakang Mayumi.

"Aku pergi duluan. Aku baru ingat kalau ada janji penting." Kana beringsut berdiri kemudian mulai melangkah pergi.

"pen..ting?" ucap Mayumi terbengong-bengong. Ia lalu menatap Kana yang sedang melangkah meninggalkan tempat mereka bersantai. "Janji macam apa yang begitu penting bagimu, Kana?" teriak Mayumi agar Kana mendengarnya.

Kana berhenti berjalan dan menengok kebelakang menatap Mayumi yang memanggilnya. Ia mengangkat buku yang dipegangnya. "Membaca mungkin?" ucapnya ragu sambil menggerakan bahunya. Kemudian ia tersenyum senang. "Sampai jumpa, Mayumi, Anata, Ryuji. Sampai berjumpa lain waktu lagi." Pamitnya sambil berbalik lagi dan memulai melangkah kembali.

Mayumi hanya diam seribu bahasa membuat Ryuji sang suami khawatir. "kau kenapa, Mayumi-can?"

Mayumi menatap garang Ryuji membuat ciut nyali sang suami. Ryuji dengan gugup melihat ke arah putrinya yang tampaknya sedang kesal. "Putri cantik toucan kenapa?"

Anata menatap Ryuji galak. "Berisik, toucan."

Ryuji hanya bisa mendesah pasrah mendapati perlakuan seperti itu. Apa salahku, Kami-sama? Pikirnya sedih.

~O~

"Bagaimana dengan biodata 'calon'mu itu, Kakashi?" tanya Jiraiya antusias.

Kakashi mendesah. "Untuk apa kau bertanya tentang hal itu, Jiraiya-san?"

"Tentu saja aku ingin tahu dengan siapa selanjutnya kau berkencan, Kakashi." Jawab Jiraiya riang.

Urat-urat nadi Kakashi mulai tampak. "Itu niatmu, Jiraiya-san?"

"Oh, tentu saja tidak. Sebenarnya setelah kau selesai berkencan aku ingin tahu pendapatmu bagaimana rasanya berkencan itu." Jelas Jiraiya sambil membayangkan adegan dimana dia sedang berkencan dengan banyak wanita di sekitarnya. "Dan setelah aku tahu seperti apa pendapatmu tentang berkencan, aku akan membuat buku serial Icha-icha edisi terbaru." Jawab Jiraiya sambil tak lupa ia memberi senyuman lebar kepada Kakashi.

Kakashi tersenyum manis –ralat- sangat manis hingga rasanya orang yang melihat senyuman Kakashi itu dibuat merinding. Dan sebelum Kakashi mengeluarkan ultimatumnya, mirisnya Jiraiya sudah terkapar tak berdaya karena Tsunade melemparkan kursi kesayangannya ke arah Jiraiya dengan kekuatan penuh dan kecepatan maksimal. Tapi sayangnya itu hanya klon Jiraiya yang terkapar.

"Jahat sekali kau, Tsunade. Jika yang tadi itu bukan klonku mungkin aku sekarang sedang sekarat." Jawab Jiraiya miris. "kecuali jika kau yang menjadi dokter sekaligus yang merawatku tentunya dengan 'pelayanan ekstra' aku sangat bersedia dibuat sekarat olehmu." Jawabnya sambil memikirkan pelayanan ekstra versinya yang akan diberikan oleh Tsunade. Oh betapa bahagianya dirinya.

"Baiklah jika kau ingin kubuat sekarat, Jiraiya. Tapi sayangnya setelah kau sekarat aku justru akan membuangmu..."

"...kepelukanmu, Tsunade? Oh itu akan menjadi kenangan indah seumur hidupku." Pekik Jiraiya senang setelah dengan tidak berdosanya memotong ucapan Tsunade.

Aura hitam mulai menyelimuti Tsunade dan semua orang yang berada dekat dengan Jiraiya menjauh dengan cepat karena tak ingin menjadi korban tak bersalah.

"MAMPUS SAJA KAU, JIRAIYA DUNGU!" tinju super plus-plus Tsunade membuat dinding ruangan Hokage hancur dan Jiraiya melayang entah kemana.

Beberapa orang diruangan itu hanya bisa pasrah melihat nasib Jiraiya karena ulahnya sendiri dan sisanya? Masa bodoh!

Sandaime hanya bisa meratapi nasib Jiraiya dengan memilih untuk bersiul sok tak peduli. Dan mungkin yang dimalangkan dalam kasus ini adalah para tukang yang harus dengan telaten memperbaiki dinding yang berlubang karena tinju Tsunade. (Dikejauhan para tukang bersin-bersin. Mereka berpikir mengapa mereka bisa bersin padahal saat ini bukan musim semi dimana serbuk bungalah yang menyebabkan bersin. Dan anehnya disaat yang bersamaan mereka bersinnya. Yah, entahlah. Masa bodoh!)

"Kakashi."

"Ya, Tsunade-sama?"

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Maksudku apa kau sudah memutuskan?"

"Hah?"

Tsunade menatap Kakashi intens. "Apa kau itu menjadi bodoh ketularan Naruto, Kakashi?"

"Hei, Tsunade-bacan!" protes Naruto tak terima.

Semua orang yang ada di ruangan Hokage sweatdrop akut termasuk Jiraiya yang baru muncul lagi –dengan penampilan menyedihkan-. Minato dan Kushina jawdrop mendengar kenyataan bahwa anak mereka dikatai bodoh dengan begitu jelas.

"Jika maksud anda bagaimana dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan menjawab dengan tegas kalau aku "Sangat Tidak Peduli!'. Lagipula ini semua bukan kemauanku, Tsunade-sama."

"Tapi bukankah Kazuro-sama akan membutuhkan keputusanmu itu, Kakashi?"

Kakashi mengusap wajahnya lelah. Ia menatap Tsunade. Sedetik kemudian hanya kepulan asap mengantarkan kepergian Kakashi yang sudah tak berminat untuk berlama-lama berada di ruangan Hokage.

"Kurang ajar! Beraninya dia pergi tanpa menjawab pertanyaanku! Dan oh, dia juga tidak permisi?" Tsunade menghela nafas perlahan dan kemudian dia melemparkan pena dan lagi-lagi Jiraiya yang mendapatkan bonus terakhir dari sisa pelemparan itu. Walau pada kasus ini, Kakashi masalahnya.

~O~

"Hah!" desah Kakashi di kursi taman yang sangat jarang dikunjungi orang-orang itu.

Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi taman dan menatap awan putih yang bergerak perlahan diatas langit biru yang begitu cerah. Rasanya sangat nyaman.

Kalau kupikir lagi, sejak kapan aku menyukai memperhatikan langit? Tanyanya heran pada dirinya sendiri.

Apa aku menyukai hal ini sejak dulu?

Ia teringat dengan Hanare, mata-mata yang dikirim dari desa Kunci untuk mematai-matai Konoha beberapa tahun yang lalu saat ketiga muridnya masih bersatu. Ia tak percaya bahwa ia pernah menolong Hanare saat mereka sama-sama masih kecil walau ia masih ingat dengan jelas dan dengan lugunya ia mengatakan hal-hal konyol tentang awan di atas langit pada Hanare saat itu?

Apa yang begitu sangat menarik dengan menatap langit? Dan mengapa aku bisa dengan mudahnya mengatakan hal yang bukan diriku? Atau saat ini bukan aku?

Kakashi mendengus sebal. Bertanya-tanya pada dirinya bagaimana ia bisa menjadi dramatis dengan kehidupannya saat ini.

"Aku tidak peduli!" pekiknya sesak mengingat apa yang dipesankan oleh Kazuro-sama yang disampaikan oleh kurir kepada Kakashi. Tanpa ia sadari ia tertidur.

~O~

"Menyebalkan!" pekik Kana tak percaya. Bagaimana bisa tempat favoritnya yang tak pernah tersentuh oleh manusia selain dirinya itu kini menjadi tempat sampah-sampah tak bertanggungjawab orang-orang yang piknik?

"Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganku hari ini?" tanyanya tak percaya dengan perubahan emosinya yang tak bisa ia kontrol.

Sambil ia melangkah menelusuri jalan, mencari tempat yang pantas untuk membaca. Tentunya tempat sepi yang nyaman dan aman. Tempat yang bisa menjadi tempat menyenangkan. Tentunya tidak menganggu orang-orang yang lalu lalang pula.

Hei, bagaimana jika ada orang yang melihat aku tertawa karena apa yang ku baca? Dan mungkin mereka berpikir bacaanku ini sama vulgarnya dengan milik Kakashi Hatake, Jounin elite itu. Aku tidak mau itu terjadi!.

Kana tersentak. Tunggu. Kenapa nama Kakashi Hatake bisa masuk ke dalam pikiranku saat ini? Dan kenapa juga aku memikirkannya hingga menyamakan diriku dengannya? Hallo, Kana. Apa kamu masih waras?

Ia mendesah, di saat itulah ia melihat sebuah kursi taman yang walaupun dari jauh tampak sudah diisi dengan seseorang.

Tapi kursi taman itu terlalu luas untuk orang entah siapa itu. Pikir Kana sambil menimbang-nimbang apakah ia perlu untuk menempati kursi itu atau tidak.

Apa aku akan menganggu orang itu kalau aku membaca di sana? Maksudku, aku kan kalau sudah membaca dan apa yang kubaca sangat asik atau lucu aku akan...

Sekali lagi Kana mendesah bingung mendengar perdebatan di dalam pikirannya sendiri.

"Masa bodoh dengan orang lain. Yah, mengingat apa yang kubaca bukan sesuatu yang lucu, kurasa tidak apa. Asal aku jangan berisik dan menganggunya. Lagipula itu tempat yang terlihat begitu sepi dan jarang dilewati banyak orang serta ini masih dekat dengan dalam desa. Jadi mengapa tidak?" putusnya kemudian dengan cepat ia duduk di kursi itu, mengabaikan orang yang sudah mengisi kursi itu terlebih dahulu.

"Tampaknya orang itu sedang tertidur. Yah, selama aku tak berisik kurasa aku takkan membangunkannya. Setidaknya aku berusaha mencoba." Bisiknya pada dirinya sendiri super pelan.

Kemudian ia pun fokus membaca sampai ia tak sengaja tertidur.

~O~

"..na-san. Kana-san. Bangunlah!" pinta seorang remaja putri sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kana.

"Hah!"

Ia kemudian menoleh pada orang di samping Kana. Bagaimana bisa mereka berdua tidur di sini? Pikirnya heran.

Ia pun mencoba membangunkan orang yang berada di samping Kana.

"Hatake-san. Eh..maksudku Hatake-sensei. Salah. Kakashi-sensei. Bangunlah!" karena frustasi dengan panggilan yang membingungkan dan teriakan di akhir kalimat, membuat orang yang dibangunkan terkejut lalu bangkit sambil menggenggam tangannya.

"Ka.. ." ucap remaja putri itu sedikit kesakitan melihat tangannya di genggam sangat erat.

"ADA APA!?" teriak histeris Kana saat bangun dan masih setengah sadar dari tidurnya. Sampai bisa melihat pemandangan di depannya dengan jelas yang dirasa.. aneh?

"Kakashi? Sora? Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Kana bingung.

~O~

"Apa tanganmu masih terasa sakit,Sora?" tanya Kakashi sopan.

"Tidak. Kurasa sudah mulai membaik, Kakashi-sensei."

Kakashi mengangguk lega.

"Sensei?" tanya Kana heran dengan dahi yang berkerut. Benar-benar heran dan ia sangat butuh penjelasan karena setahunya Kakashi adalah guru dari Uzumaki Naruto, Sasuke Uchiha, dan Haruno Sakura. Dan kurasa yang wajib memanggil Kakashi dengan sebutan 'Sensei' adalah mereka.

"Oh.. ah..." Sora panik karena tidak sengaja mengatakan 'sensei' kepada Kakashi di depan Kana.

"Sora adalah salah satu muridku, Kana." Jawab Kakashi tenang.

Sora melebarkan matanya terkejut mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Kakashi. Ia sungguh tidak menyangka bahwa Kakashi mengakui dirinya sebagai salah satu dari muridnya. Perasaan haru dan bahagia menyelimuti perasaan Sora saat ini.

"Bagaimana bisa?" tanya Kana super heran. Ia berkali-kali melihat Sora-Kakashi-Sora menuntut sebuah penjelasan.

Sora yang mengerti kebingungan Kana akan menjelaskan secara detail sebelum Kakashi berbicara terlebih dahulu.

"Tim Sora adalah murid asuhku yang pertama kalinya saat Sandaime-sama memutuskan aku untuk menjadi Jounin-sensei. Akan tetapi karena saat itu aku belum terbiasa dengan anak-anak dan memiliki rasa benci pada anak-anak, lalu aku membuat sebuah ujian lagi dalam bentuk latihan. Bedanya latihan ini dibuat berdasarkan keputusanku dan jika gagal mereka akan kukembalikan ke akademi."

Kana menatap Sora. Mengerti apa yang di maksud oleh Kakashi. "Jadi kalian gagal melalui ujian yang di buat Kakashi, Sora?"

Dengan malu Sora menganggguk memberi pembenaran mengingat kejadian itu.

"Jadi murid-muridmu saat ini, maksudku Uzumaki-san, Uchiha-san, dan Haruno-san itu adalah murid asuh sesudah tim Sora gagal?"

Kakashi menggeleng. "Maksudmu setelah tim Sora gagal, kemudian muncul tim lain yang tak juga kau luluskan, Kakashi?" tanya Kana.

Kakashi mengangguk.

"Oh..."

Kana tidak tahu lagi mau berkata apalagi. "Tim Nakaba adalah tim yang gagal setelah tim kami, Kana." Lanjut Sora.

Kana mengerjap-ngerjapkan matanya. "Maksudmu Sho dan kakak beradik Minazuki, Kanzaki dan Kinzaki?"

"Benar." Jawab Sora datar.

Kana menatap ubin di lantai, memikirkan hal yang saat ini mengganjalnya.

"Lalu bagaimana timmu, Sora dan tim Sho bisa saling mengenal?"

"Jawaban yang sederhana, Kana. Karena kami sama-sama tak diluluskan dan hanya kami yang tak diluluskan di antara teman-teman kami di akademi yang membuat kami bisa mengenal satu sama lainnya."

"Bagaimana caranya kalian saling kenal?" tanya Kakashi penasaran.

"Karena jounin-sensei semuanya sudah memiliki muridnya masing-masing dan itu artinya hanya timku yang tak punya jounin-sensei maka saat itu ditambahlah satu jounin-sensei yang dipilih kepala Akademi untuk melatih dan mengajari kami. Di tahun berikutnya, tim Sho gagal juga dan Yumezuru-sensei bersedia menjadi jounin-sensei untuk tim Sho juga."

"Maksudnya satu jounin-sensei memegang 2 tim genin?"

"Benar, Kakashi-sensei. Tapi itu semua karena kami mulai bisa mandiri dan tampaknya Yumezuru-sensei kesepian makanya Yumezuru-sensei memilih untuk mengajari tim Sho. Lagipula Yumezuru-sensei pun terlanjur menjadi jounin-sensei sekaligus perintah dari kepala Akademi juga."

Kana mengangguk paham.

"Nah, sekarang giliran kalian menjelaskan padaku, Kakashi-sensei, Kana-san." Pinta Sora sambil duduk menghadap Kakashi dan Kana.

Kana menaikkan sebelah alisnya. "Menjelaskan apa, Sora?" tanyanya heran.

Kakashi memilih untuk diam setuju dengan apa yang dikatakan Kana.

"Ayolah, jelaskan padaku sejak kapan kalian saling kenal? Habis sepertinya kalian begitu akrab sampai-sampai kalian berdua tertidur di bangku taman yang sama pula."

Kana diam dan Kakashi mendehem pelan.

"Aku tidak tahu kalau yang sedang tidur di kursi taman itu adalah Kakashi." Jelas Kana pada akhirnya melihat Hatake Kakashi tidak berusaha untuk menjelaskan situasi yang terjadi. Sora menaikkan alisnya sedkit tak mengerti.

"Hah." Desah Kana. "Tadinya aku bermaksud membaca di tempat biasa aku membaca. Tapi entah karena apa tempat yang biasanya sepi mendadak ramai di tempati orang-orang yang sepertinya sedang mencari tempat untuk piknik."

Ia teringat ketika sampai di tempat ia biasa membaca, betapa terkejutnya ia melihat sekumpulan orang memakai tempatnya itu. Sehingga ia memutuskan untuk mencari tempat lain dimana ia bisa membaca dengan puas.

"Lalu saat mencari tempat lain itulah aku menemukan sebuah kursi taman dimana kurasa tempat itu cocok untukku membaca apalagi kursi taman itu luas. Akan tetapi ada orang lain yang sudah menempati kursi taman itu dan yang kutahu orang itu tengah teridur."

"Dan kau tidak tahu yang ada di kursi taman itu adalah aku, Kana?" tanya Kakashi.

Kana mengangguk. "Aku tak menyangkanya." Sambil mengendikkan bahu "Lebih tepatnya aku tidak harus tahu siapa yang menempati kursi taman itu sebelum akukan? Lagipula tujuanku adalah membaca dan kurasa selama aku tak mengganggu apa masalahnya."

"Tapi kau tertidur, Kana-san." Lanjut Sora.

Kana mengangguk lagi. "Kurasa aku kelelahan akibat membereskan sebagian masalah di tempat aku biasa membaca."

"Tapi itu bukan inti pembicaraannya, Kana-san." Ungkap Sora sambil mendesah pelan.

"Inti pembicaraanmu adalah mengapa aku dan Kakashi saling mengenal satu sama lain?"

"Bukankah memang itu yang paling aku ingin ketahui, Kana-san!" jelas Sora sambil menggelembungkan pipinya kesal.

"Ng... bagaimana ya..." ucap Kana kikuk sambil mencuri pandang ke arah Kakashi berharap semoga ia berbicara untuk menjelaskan apa yang ingin diketahui oleh Sora.

"Hah, sudahlah. Kurasa iu sudah tidak perlu." Nyerah Sora melihat Kana yang tampakya tidak ingin mengatakan apa-apa.

Semudah itu? Pikir Kana heran. "Terimakasih karena kau sudah mau mengerti, Sora."

Sora mendesah dan mengangguk.

~O~

Gai bosan. Sangat bosan. Ia sudah begitu rindu ingin bertemu dan mengajak bertarung rival abadinya itu. Akan tetapi saat ia pergi ke ruangan Hokage untuk menjemput sang Hatake tunggal itu, Kakashi sudah tidak berada disana. Meskipun ia juga sudah mencari Kakashi di tempat yang sering dikunjungi rival abadinya itu, tetap saja keberadaan mantan Copy-nin itu tak di temukan.

Tapi ia tak menyerah. Tentu bukan Gai jika dengan cepat ia menyerah. Dengan semangat apinya ia tidak menyerah untuk menemukan rival abadinya. Dengan cepat ia ber-shunpo dari satu atap ke atap lainnya untuk mencari Kakashi sampai ketika ia merasa orang yang dicarinya berada di dekatnya dan masuk jarak penglihatannya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan hal yang tak biasanya.

Ia berhenti sekitar beberapa ratus meter dari tempat saat ini Kakashi berada dan tampaknya kehadirannya tidak terasa oleh Kakashi.

Seulas senyum terlukis di bibir Gai. "Kurasa untuk sekarang lebih baik aku tidak mengganggunya."ucapnya dan kemudian segera pergi sebelum keberadaannya diketahui Kakashi dan menganggu kegiatan Kakashi saat ini.

~O~

"Kupikir Hatake-san sedang berada di sini." Ucap tetua Kazuro melihat orang yang dicarinya tak berada di tempat yang diharapkannya.

"Sudah beberapa jam yang lalu ia meninggalkan ruangan Hokage ini, Kazuro-sama." dan memangnya ruangan Hokage ini tempat berkumpul apa!? Pikir Tsunade tak habis pikir melihat beberapa orang yang sangat dikenalnya tidak beranjak dari ruangan Hokage sedari beberapa jam yang lalu.

Kazuro mengangguk. Ia kemudian menatap pada orang-orang yang berada di ruangan itu. "Maaf tapi apakah kalian tidak memiliki hal-hal yang harus di lakukan?"

"Tidak ada." Jawab tegas Tobimaru. Mewakili orang-orang yang memilih untuk menjadikan ruangan Hokage sebagai tempat berkumpul.

"Baiklah." Kazuro paham apa arti ketegasan dari Nindaime itu. Bahwa Nindaime –dan beberapa orang lainnya tidak membutuhkan perintah dari dirinya yang merupakan tetua desa itu untuk melakukan hal lainnya.

"Jika Hatake-san kemari, perintahkan ia untuk menghadapku, Tsunade." Pinta Kazuro setelah ia tidak mendapatkan hal yang ingin ia dapatkan.

"Tentu, Kazuro-sama."

Gai sudah berdiri dengan senyum silaunya ketika tetua desa itu membukakan pintu ruangan Hokage untuk pergi.

Kazuro sedikit speecheles melihat ekspresi dari "Konoha Green Beast" yang 'terkenal' dalam artian tertentu itu.

Tsunade dan yang lainnya hanya mengerjap-ngerjap takjub melihat Gai yang tampak sangat-sangat bahagia.

"Apa ada sesuatu yang menggembirakan, Gai?" tanya Asuma penasaran.

Gai mengangguk berulang-ulang dengan super cepat. "Aku melihat Kakashi!" ujarnya semangat.

Semua orang yang mendengarnya super sweatdrop.

"Lalu?" tanya Asuma yang masih heran dengan kebahagiaan Gai yang melihat Kakashi yang setiap hari dijumpainya.

"Aku melihat hal yang sangat luar biasa!" ujarnya semangat.

"Apanya yang kaulihat dari Kakashi yang luar biasa, Gai?" tanya Kurenai yang masih dalam keadaan sweatdrop.

Gai hanya tertawa terkekeh membuat semua orang semakin drop melihat tingkahnya.

"Kalau kau ingin megatakannya cepat katakan!"titah Tsnade yang sudah drop melihat kelakuan Gai.

"Aku melihat Kakashi sedang bersama dengan seorang perempuan dan kelihatannya mereka tampak begitu akrab." Umumnya kemudian sambil mengngat ekspresi Kakashi.

Ng?

Kali ini beberapa orang menatap Gai dengan serius. Bahkan Kazuro yang sedari tak berminat dengan Gai dan akan melangkahkan kakinya untuk pergi, mendadak berhenti dan mulai ikut mendengarkan perkataan Gai dengan seksama.

"Kakashi dengan seorang perempuan?" tanya Kushina heran. "Dan Kakashi tampak begitu sangat akrab?"

Kushina menatap Gai sangsi. "Siapa perempuan yang sedang bersamanya itu, Gai?" tanya Kushina antusias.

Gai menggeleng. "Aku tak tahu siapa perempuan itu. Tapi yang pasti Kakashi tampak begitu sangat berbeda. Maksudku dia tampak begitu bahagia bersama dengan perempuan itu."

Kushina dan Minato saling berpandangan. "Kau tidak bohongkan, Gai?"

"Tentu saja tidak! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri." Yakin Gai bahwa yang dilihatnya bukan kebohongan belaka.

"Tidakkah perempuan itu tunangan Kakashi? Maksudku Ayukawa-san?" tanya Kurenai.

Gai menggerakan kepalanya ke kiri ke kanan, berusaha berpikir. "Kurasa bukan. Itu sama sekali bukan Ayukawa-san. Benar-benar bukan" Ucap Gai mantap karena ia ingat seperti apa wajah Ayukawa Kahyo calon tunangan Kakashi yang di tolak rival abadinya itu.

"Maito-san." Panggil Kazuro. Seketika Gai menoleh. "Ya? Ada apa?"

Kazuro tersenyum senang. Di pikirannya terbesit beberapa rencana licik. "Ini sesuatu hal yang menggembirakan." Ucapnya sambil mengangguk-ngangguk senang. Ia lalu menatap Gai. "Aku ingin mint tolong satu hal padamu, Maito-san. Bolehkah?"

Gai mengernyit. "Hal apa yang harus kulakukan untuk menolong anda, tetua?"

Kazuro tersenyum. "Bukan untukku. Tapi untuk Hatake Kakashi, rival abadimu, Maito-san."

"Aku ingin kau..."

.

.

.

.

TBC

Hallo apa kabar, minna semuanya? Maaf kalau aku baru bisa update lagi sekarang :P.

Maaf untuk yang sudah menunggu dengan saaaaaaaaaaangat sabar kemunculan lanjutan Fic ini.

Terimakasih yang sudah mau membaca Ficku ini dan tentunya akan sangat menyenangkan kalau minna mau meninggalkan reviws untuk perbaikan kedepannya

Oh, unuk update lagi rencanya seminggu sekali antara hari Rabu, Kamis atau Jum'at :p

See you next in chapter.