A/N: Terima kasih buat para pembaca setia yang sudah menunggu sejak tahun 2012 buat cerita ini diupdate kembali. Lima tahun berlalu dan cerita ini selalu mengendap di kepala. Karena kayaknya gak bakal bisa move on kalau enggak diselesaikan akhirnya saya mencoba untuk publish kembali lanjutan fanfic ini. Terima kasih atas review kalian yang penuh semangat - dan beberapa penuh dengan rasa frustasi dan kemarahan bahkan teror - untuk saya kembali update cerita ini.

Lima tahun berlalu dan gaya penulisan saya mungkin sudah berubah. Apa mau dikata, lima tahun bukan waktu yang sebentar apalagi selama jangka waktu itu saya selalu berusaha memperbaiki kualitas penulisan saya. Jikalau pembaca merasa gaya penulisan chapter kali ini berbeda dengan yang terdahulu saya mohon maaf.

Untuk kalian yang gak nungguin? Gak masalah. Baca saja fic ini, nikmati dan jangan lupa berikan review terbaik kalian untuk saya.

Disclaimer: Saya kembalikan kepada yang emang punya lisensi Vocaloid.

Sekali lagi. Selamat Menikmati.


Di Kota Fudo, di salah satu gedung yang hancur berantakan karena ulah kekuatan bayangan Bahamut. Seorang pria tua marah-marah sambil menunjuk kesana kemari. Pria tua itu tidak terlalu memikirkan bahwa pada usianya yang setua itu harusnya ia bersantai-santai dan membiarkan yang lebih muda mengurus pekerjaannya. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku pada salah satu perwakilan pemimpin dunia cabang negara Jepang. Terbukti pria itu masih marah-marah, sesekali menunjuk dengan semangat, menyalahkan siapapun yang bisa disalahkan.

"Dan aku mau kalian mencari dimana keberadaan gadis summoner itu! Kalau perlu seret dia ketempatku!"

"Ck ck ck, aku pikir anda seorang gentleman, tak kusangka anda galak juga."

Pria tua itu beserta anak buahnya menoleh ke arah sumber suara. Mikuo dan Len berada di sisi lantai jendela yang sudah hancur lebur, gedung-gedung pencakar langit menjadi background tempat mereka berada. Mikuo berjongkok malas sementara Len berdiri santai sambil melambaikan tangannya.

"Yo!"

Para anak buah perwakilan dunia itu langsung merogoh senjata mereka tapi Len keburu mengangkat kedua tangannya ke udara. "Hei, hei, gak perlu galak begitu, kan? Kami datang dengan sopan kok. Dengan sopan!"

"Gentleman yang sopan kukira akan mengetuk terlebih dahulu dan masuk dari pintu depan," balas Sang Pria tua dengan geram.

"Yah, masalahnya kami sudah melakukan itu," Mikuo bangkit dari posisinya sambil menepuk-nepuk celana panjangnya, mengepulkan debu yang tipis. Penampilannya kali ini normal, tanpa membawa blade besar yang selalu dibawa di punggungnya.

Len keburu menanggapi perkataan Mikuo. "Yah, lagipula bukankah kedatangan kami seperti ini lebih dramatis?" Diam-diam Len jadi teringat dengan pengalamannya memasuki kamar Rin, lewat jendelanya, di tengah malam.

"Ini lantai 23," Pria tua itu mengisyaratkan agar anak buahnya menyimpan kembali senjatanya. Perintah itu diikuti dengan ragu sementara Len ikut menurunkan tangannya.

"Justru disitu letak serunya, kan?" Mikuo menanggapi sambil melihat sekeliling ruangan yang hancur lebur.

"Jadi, mau apa kalian kesini? Belum puas menghancurkan-"

"Jangan lihat aku. Yang punya urusan adalah anak ini," Mikuo menyela sambil mengacak puncak kepala Len sementara pemuda itu terlihat sebal.

"Heh. Anak muda macam kau masih terlalu cepat seratus tahun untuk berurusan denganku,"

"Yah, mungkin begitu. Tapi faktanya aku adalah pelindung summoner kali ini. Jadi bisa dibilang ini adalah urusanku," Len memperbaiki rambutnya yang berantakan dan mengibaskan sedikit debu yang ada di kedua bahunya.

"Kebetulan sekali, katakan dimana summoner itu?"

"Kebetulan, kami juga mau menjawab pertanyaan itu. Kamine Ren ada bersama kami. Karena itu jangan pernah berani untuk mencarinya lagi," Lebih baik langsung menjawab jujur karena melayani ocehan emosi sang pemimpin dunia hanya bikin kesal saja.

"Anak muda, kau pasti tak tahu situasi saat ini, kan?" Pria itu merasa geram sekarang. Tak ada yang berani membantahnya di saat ia berbicara dan dua orang yang tidak berharga yang ada di hadapannya ini seenaknya saja menunjukkan sikap tidak hormat.

"Justru karena kami sangat paham situasi saat ini makanya kami terpaksa – ah apa itu, ah iya – mengambil kembali Rin-sama dari perlindungan kalian yang sangat aman." Mikuo menekankan kata perlindungan dan aman sambil memandang satu lantai yang hancur lebur. "Ngomong-ngomong desain yang bagus, jendelanya besar sekali."

Tentu saja Mikuo tidak bermaksud memuji karena sudah tidak ada jendela di lantai itu. Yang ada hanyalah bekas ledakan dikarenakan penyerangan Akita Nero di hari sebelumnya. Len menahan tawanya sementara sang pria tua wajahnya memerah, geram sambil menahan sumpah serapah.

"Kurasa urusan kita sudah beres kan? Len?" Mikuo menoleh, saat ini ia berdiri di tepi lantai yang telah hancur dan mengarah langsung ke bawah.

"Belum. Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Dan mungkin Mr. Gentleman bisa menjawabnya dengan baik." Len mendekati pria tua itu, akan tetapi anak buahnya langsung kembali mengacungkan pistol mereka. Len berhenti di depan sang pemimpin, menyisakan jarak sekitar lima meter.

"Siapa sebenarnya Akita Nero itu?" Len menatap sang pemimpin dengan pandangan yang dingin. Bola matanya berkilat tajam.

"Kurasa aku tidak berhutang penjelasan apapun padamu," Sang pemimpin mendecih. Len menatap pria tua itu dengan dingin sebelum akhirnya mendesah napas.

"Yah, apapun rencana kalian itu, sepertinya Kamine-san sudah mengagalkannya, kan?"

Sang pemimpin tidak menjawab, Len juga tidak mengharapkan jawaban. Ia membalikkan badannya dan melangkah mendekati Mikuo, menuju tepi lantai yang hancur.

"Manusia yang berusaha memanfaatkan kekuatan dewa," Len bergumam pelan. Meskipun begitu sang pemimpin tua itu masih bisa mendengarnya.

"Itu adalah hal yang mustahil, kan?" Len menoleh dari balik bahunya, menatap ekspresi sang pemimpin yang dengan hebatnya berusaha memasang wajah datar yang meyakinkan. Mikuo terjun ke bawah, menyisakan Len seorang diri di lantai itu.

"Selamat tinggal dan sekali lagi, tidak perlu mengkhawatirkan Kamine-san. Karena ia aman bersamaku," Len terjun dan menghilang dari pandangan mereka semua.

"Kejar mereka!"

"Tidak perlu!" sang pemimpin berteriak, beberapa bawahan yang hendak turun kebawah berhenti mendadak. Beberapa bawahan menghampiri tepi lantai tempat Len dan Mikuo terjun, akan tetapi saat mereka melongok ke bawah sudah tidak ada lagi sosok Len dan Mikuo.

"Mereka menghilang,"

Semua orang menatap sang pemimpin yang masih terdiam. Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya, "Apa yang harus kami lakukan sekarang?"

Sang pemimpin menutup matanya dan membukanya kembali dengan perlahan, "Ini akan menjadi sangat merepotkan."


.

.

.


Len dan Mikuo berlari kencang, menyelinap diantara para pejalan kaki yang ramai. Pemandangan di mata mereka terlihat sebagai garis buram berwarna-warni yang tidak jelas. Mereka berlari menggunakan kekuatan sehingga dalam waktu sebentar jarak lari yang mereka tempuh sangat jauh. Mikuo memberi tanda berhenti berlari yang dipahami oleh Len. Kedua orang itu berhenti berlari dengan napas memburu, peluh membasahi dahi mereka.

"Kurasa kita sudah cukup jauh dari mereka," Mikuo terengah.

"Cukup? Kita sudah jauh! Dalam sepuluh menit kita sudah berlari sejauh sepuluh kilometer!" Len terengah, terlihat lebih lelah dibanding Mikuo.

"Heh, kau kurang latihan. Harusnya kita bisa mencapai lima belas kilometer," Mikuo merenggangkan punggungnya.

"Memangnya kita mau apa sih? Lomba lari?" Len berkomentar sinis yang hanya dijawab dengan dengusan Mikuo.

Orang yang berjalan disekitar mereka menatap Len dan Mikuo dengan pandangan aneh. Dengan cepat Mikuo menyeka keringatnya dan kembali berjalan santai yang diikuti Len. Kali ini mereka membelok ke arah stasiun bawah tanah terdekat untuk kembali ke desa. Len dan Mikuo membaur dengan santai diantara para penumpang kereta. Kalau mereka berada di tempat seramai ini, seharusnya pihak pemerintah tidak bisa mengejar mereka.

"Tadi apa yang kau tanyakan kepada pria tua itu?" Mikuo melirik Len dari balik majalah yang ia beli di stasiun. Saat ini mereka berdua sudah duduk nyaman dalam kereta cepat bawah tanah.

Len meneguk jus kalengnya dan hanya mengangkat bahu, "Aku cuma bertanya siapa sebenarnya Akito Nero itu,"

"Kutebak pria tua itu cuma diam,"

"Sebenarnya dia menjawab kalau dia tidak berhutang penjelasan apapun padaku."

Mikuo mendengus, "Sungguh jawaban yang sangat membantu,"

"Yeah, pria tua itu memang keren." Len mendengus jengkel, membuang muka ke jendela yang sekarang menampilkan pemandangan sawah.

"Mungkin Rin tahu sesuatu tentang hal ini," gumam Len pelan.

"Hmm, kau bilang apa?" Mikuo kembali mengangkat wajahnya dari majalah.

"Ingat saat Mr. Gentleman itu membawa Rin dari rumah? Bukankah Rin telah melakukan sesuatu yang membuat mereka marah?"

Mikuo berpikir keras, "Yah, kalau tidak salah Rin-sama melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan ledakan-"

"-ledakan laboratorium!" Len memotong dengan cepat.

"Yah, kau harus tanya pada ayahmu. Seingatku ayahmu sedang menyelidiki hal itu sebelum kita meninggalkan rumah," Mikuo kembali membaca majalah membosankan itu sementara Len kembali menyenderkan punggungnya di kursi kereta yang empuk.

Keheningan menyelimuti mereka berdua yang sesekali disela oleh bunyi lembar majalah yang dibalik.

"Sebenarnya ada satu hal lagi yang membuatku penasaran," Len bergumam pelan.

"Hmm," Mikuo merespon bahwa ia mendengar perkataan Len.

"Sebenarnya ada hubungan apa antara anda dengan High Summoner Miku," Len memandang Mikuo dengan tatapan tajam.

Mikuo sedetik merasa kaku mendengar pertanyaan itu - yang sayangnya tidak luput dari mata Len yang waspada – sebelum akhirnya membalik lembar majalahnya. "Aku pelindungnya dan dia adalah seorang summoner. Cuma itu."

Len menatap Mikuo tidak percaya. Mau rasanya Len bilang bohong kepada Mikuo yang jelas-jelas sekarang ini salah tingkah dan berusaha membaca majalah untuk menghindari tatapan Len. Tapi melihat Mikuo yang menghindar seperti ini rasanya tidak mungkin akan mendapat jawaban yang jujur. Jadi Len memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

"Sejak kapan ada peraturan yang melarang pelindung mencintai summonernya?" Len kembali bersandar pada kursinya, bertanya dengan nada yang ringan.

"Entahlah, kurasa sudah lama sekali. Aku juga tidak tahu," Mikuo mulai nampak rileks tapi masih berlindung dibalik majalah.

"Apa ada yang pernah melanggar peraturan itu?"

Mikuo kembali terdiam – yang kembali disadari oleh Len. Pembimbingnya itu meletakkan majalah yang dibacanya dan menatap Len dengan serius.

"Kenapa kau bertanya begitu?"

Len mengangkat bahu. "Cuma penasaran. Summoner perempuan dan pelindung laki-laki. Aku bertaruh banyak terjadi romansa diantara mereka,"

Mikuo menatap Len dengan serius sebelum akhirnya menyenderkan punggungnya. "Apa kau mencintai Rin-sama?"

"Kau tidak menjawab pertanyaanku Mikuo-san,"

Mikuo mendesah napas kecil, "Menurutmu kenapa peraturan itu ada? Itu untuk dipatuhi-"

"Peraturan ada untuk dilanggar,"

"Ho ho, berarti tepat dugaanku. Diam-diam kau mulai naksir Rin-sama?" Mikuo menyeringai licik.

"Kalau iya memangnya kenapa?" Len tak kalah mengeluarkan seringai liciknya.

Mikuo kembali mengangkat majalahnya, "Well, bersiaplah untuk patah hati anak muda."

Len menatap Mikuo dengan tatapan yang sulit diartikan dan kembali merilekskan tubuhnya. Mikuo masih menatap tajam kearah Len sebelum akhirnya kembali membaca majalahnya, "Yah, itu urusan kalian. Aku tidak mau ikut campur,"

Len menopangkan dagunya di tangannya, menatap Mikuo dan kembali menatap pemandangan melalui jendela."Memang ada sesuatu diantara mereka," benak Len dalam hati. Ia berencana akan mencari informasi lebih lanjut di dalam laptop Rin kalau ibunya sudah datang nanti.

Laptop milik Rin.

Len kembali teringat pernyataan cinta Rin melalui laptopnya. Gadis itu begitu menyedihkan dan begitu terluka. Len tak bisa membayangkan sedalam apa luka gadis itu yang kini sedang koma dalam tidurnya.


.

.

.


"Sudah pulang? Bagaimana kabar tugas kalian?" Kaito menyapa Mikuo dan Len yang baru saja kembali ke rumah utama di desa ksatria. Kaito menggunakan yukata bermotif santai, duduk di lantai kayu sambil memakan cemilan kue dan teh hijau yang disediakan oleh pelayan.

"Bocah ini melakukan semuanya. Tanya saja dia," Mikuo merenggangkan punggungnya sambil menggerakkan lehernya, terdengar bunyi samar tulang yang bergeser. Len merasa ngilu mendengarnya.

"Ahh, capek sekali. Aku tidur dulu," Mikuo mengambil sepotong kue dari piring Kaito dan berjalan pergi. Kaito kali ini memandang Len, menaikkan kedua alisnya dan mengulang pertanyaannya dalam diam.

"Bukan hal besar, tapi aku yakin mereka tidak suka dengan berita kita melindungi Kamine-san." Len mengambil sepotong kue dari piring Kaito yang setelah itu kosong. Kaito menghela napas.

"Aku tidak akan kaget kalau tiba-tiba saja mereka sembrono melakukan apapun untuk mengambil kembali Kamine-san," ucap Len disela kunyahan kuenya itu.

"Yah, aku juga sudah memperkirakan kemungkinan itu. Untuk saat ini lebih baik kita semua fokus melindungi desa ini-"

"Oh iya, ada satu hal yang ingin kutanyakan," Len memotong ucapan Kaito. Tangannya melemparkan potongan terakhir kue ke dalam mulutnya. Kaito menatap anaknya itu dengan pandangan bertanya.

"Bukankah sebelum kita keluar dari rumah ayah sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki mengenai lab yang dihancurkan oleh Kamine-san? Sebenarnya laboratorium apa itu?"

Kaito hanya mengangkat bahu. "Kita tidak punya informasi mengenai hal itu,"

"Tidak punya atau belum punya?" Len menatap tajam kearah ayahnya tapi Kaito tidak memperhatikan.

"Tepatnya, kita tidak punya informasi apapun mengenai hal itu. Seluruh data mengenai hal yang berkaitan dengan kegiatan laboratorium itu menghilang secara misterius atau terbakar dalam ledakan. Tak ada yang tersisa."

Len merentangkan lengannnya dan merebahkan diri di lantai kayu yang dingin. Samar-samar terik matahari menembus kumpulan awan.

"Hei, daripada malas-malasan begini lebih baik-"

"Kaito-sama, semua sudah siap. Saya pamit dulu," sebuah suara lagi-lagi memotong ucapan Kaito. Kaito dan Len – yang bangkit dari posisi tidurnya memandang arah suara tersebut. Fuwa Gumiya sedang berjalan terburu-buru.

"Hei, tunggu dulu." Spontan Gumiya menghentikan larinya dan menatap heran. Len memperhatikan bahwa pemuda itu menggunakan baju kaos beserta celana training. Sepatu yang digunakan juga sepatu olahraga.

"Bawa bocah ini bersamamu," Kaito menunjuk Len. Yang ditunjuk menatap Kaito dengan heran sementara Gumiya membulatkan matanya.

"Hah? Ikut apaan?" Len gagal paham.

"Tadi aku mau bilang daripada malas-malasan begini lebih baik kau ikut latihan dengan para ksatria di desa ini."

Len membulatkan matanya sedangkan Gumiya berbinar penuh semangat. "Ide bagus. Setidaknya kalau sparring melawan Kagamine-san kami tidak perlu khawatir melukai teman sendiri,"

"Hei..hei..hei...maksudmu tidak apa kala aku yang cedera?" Len mencibir tidak senang.

"Sudah. Pergi sana!" Kaito mendorong Len yang langsung ditarik dengan penuh semangat oleh Gumiya.


.

.

.


Semua orang, tepatnya semua ksatria yang sedang berlatih membulatkan mata mereka melihat kehadiran Len yang ditarik oleh Gumiya. Kasak-kusuk penuh semangat sekaligus iri terdengar jelas ditelinga Len, tapi pemuda itu berusaha tidak menanggapinya.

"Tunggu dulu, aku masih gagal paham apa yang harus kulakukan disini?" Len berbisik di telinga Gumiya sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"Tenang saja, anda cukup sparring dengan kami sambil memberi contoh,"

"Meski kau bilang begitu-"

"Ah, Kagamine-san. Senang sekali anda bisa bergabung pada latihan kali ini,"

Hiyama mendekati Gumiya dan Len, sebelum memberikan tepukan hangat di pundak Gumiya. Hiyama berbalik dan memandang para ksatria yang sedang berlatih hari ini. Len perkirakan ada sekitar dua puluh orang yang hadir dalam latihan insentif kali ini. Sisanya mungkin mereka sedang berjaga atau melaksanakan tugas lain. "Nah, karena Kagamine-san datang dalam latihan kali ini, dia bisa memberi kalian contoh yang bagus untuk bertarung di pertarungan yang sebenarnya,"

Len mengangkat alisnya, masih belum paham.

"Nah, Kagamine-san. Bisakah anda memberi kami contoh dalam pertarungan yang sebenarnya?" Hiyama menatap Len dengan harap.

"Err, aku tidak yakin-"

"Cukup mudah sebenarnya. Beberapa ksatria disini akan berusaha mengalahkan anda. Intinya pertarungan satu orang melawan banyak orang,"

Len memasang wajah paham sebelum akhirnya memberi seringai yang cukup menyebalkan. "Menarik," gumam Len yang dapat didengar jelas oleh Hiyama dan Gumiya.

"Benar kan?" Hiyama memperbaiki posisi kacamatanya, cukup senang juga melihat Len merasa tertantang.

"Baiklah, siapa yang mau-"

"Apa anda yakin Hiyama-san? Kami melawan satu orang itu, yang mulia Kagamine-san."

Lima orang pemuda, yang Len tebak sepertinya seumuran dengan dirinya, menatap Len dengan sinis dan merendahkan. Seorang pemuda yang sepertinya pemimpin merekalah yang menyela kata-kata Hiyama.

"Anda tahu sendiri kan? Kami di desa ini berusaha keras untuk menjadi knight yang bisa diandalkan, sementara dia-" Pemuda itu menatap Len dari atas kebawah, terkesan merendahkan, "-cuma kebetulan saja ditunjuk jadi knight oleh Mikuo-san,"

Hiyama baru saja akan menegur pemuda tidak sopan itu tapi Len memberi isyarat kepada Hiyama untuk membiarkannya. Wajah Len tenang tetapi cukup menyebalkan menyebabkan pemuda menyebalkan itu justru semakin nyinyir.

"Lagipula apa hebatnya sih dia? Sudah lama menemukan gadis summoner, memaki kalau gadis itu tidak berguna bahkan disaat akhir menyebabkan gadis itu koma sampai sekarang. Dia hanyalah kegagalan dalam bangsa knight!"

"Hei! Jangan-"

"Tenang Hiyama-san," Len masih memberi isyarat agar Hiyama mundur. Hiyama merasa tidak yakin tapi dia menurut juga. Len tersenyum sekilas dan memberi tatapan percaya diri kepada lima orang yang telah menghinanya itu.

"Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk mengajari knight gagal sepertiku dengan kemampuan kalian?" Len tersenyum percaya diri. Hiyama hanya bisa ternganga tidak elit.

"Malahan, aku mempersilahkan sepuluh orang dari kalian untuk maju dan mengajariku. Dengan keras."

Hiyama dan Gumiya cuma bisa bengong. Sepuluh orang? Bahkan untuk mereka berdua yang termasuk dalam spesialis bertarung jarak dekat melawan delapan orang sekali serang saja sudah menyusahkan, apalagi ditambah sepuluh orang? Dan lagi mereka semua adalah knight yang terlatih. Jelas-jelas Len memberi kesempatan untuk dihajar dengan keras sesuai keinginannya.

Awalnya lima orang pemuda itu kaget, tapi mereka langsung menyeringai puas. Dalam sekejap mereka berlima langsung berdiri melingkar mengelilingi Len. Kentara sekali Hiyama ingin menghentikan mereka. Tapi wajah Len yang terlihat percaya dirinya membuat dirinya mundur. Lagipula ia juga penasaran dengan kemampuan Len.

"Cuma berlima? Aku yakin tadi bilang sepuluh," Len menyeringai menyebalkan.

"Tidak perlu malu untuk menangis kalau kau merasa dipecundangi," Pemuda itu memberi isyarat kepada knight lain untuk ikut dalam keroyokan mereka. Awalnya para ksatria lain yang ada disana merasa ragu, tapi setelah Hiyama memberi anggukan posisi lima orang yang tersisa segera dipenuhi.

"Oh, aku malah berharap kalian bisa membuat aku merasa dipecundangi," Len masih memasang wajah percaya diri yang dimata orang lain terlihat seperti seringai menyebalkan. "Hiyama-san. Aba-abamu," Len menatap Hiyama.

Hiyama meneguk ludahnya, "Pertarungan dimulai!"

Sepuluh orang knight yang mengelilingi Len serentak mengeluarkan pedang dengan kemampuan mereka. Len langsung berlari menyerbu kearah kelima orang yang menghinanya sambil menghitung waktu yang dibutuhkan oleh lawannya untuk merealisasikan pedang mereka, antara satu sampai dua detik dan itu tidak bagus. Saat lima orang itu baru saja menggenggam pedang mereka, Len sudah berada dihadapan lawannya dan memberi tendangan yang bagus untuk melumpuhkan lima orang tersebut. Otomatis pedang yang baru saja terealisasi hancur menjadi serpihan.

Len mengalihkan larinya dan melumpuhkan lima orang yang tersisa. Karena lawannya kali ini memiliki waktu yang cukup untuk berkonsentrasi makanya senjata yang terealisasi lebih solid daripada kelompok yang pertama. Len berkelit diantara sabetan senjata dan serbuan lima orang yang tersisa. Len melumpuhkan tiga orang dengan menendang kaki mereka, membuat mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Belum selesai sampai disana lima orang dari kelompok awal pulih dari rasa terkejut mereka dan merealisasikan senjata mereka dengan lebih solid. Dua orang berusaha melawan Len dengan pedang mereka tetapi dengan mudah Len membuat mereka tidak berkutik dan merebut pedang mereka. Dengan pedang yang ia rebut Len berusaha membuat semua lawannya tidak berkutik, walau tidak sampai terluka parah.

Disini Hiyama dan Gumiya terkejut sekaligus kagum. Pasalnya kekuatan senjata yang terealisasi adalah milik masing-masing knight yang melakukan proses realisasi tersebut. Teknisnya saat seorang knight terganggu konsentrasinya maka senjata yang ia genggam akan hancur menjadi serpihan dan tidak mungkin bisa digunakan meskipun oleh knight yang lain. Akan tetapi Len mampu merebut pedang yang direalisasikan oleh knight lain dan menggunakannya dalam pertarungan. Kemampuan merebut pedang milik Knight lain bukanlah kemampuan yang bisa disepelekan. Setidaknya Knight tersebut harus memiliki daya konsentrasi yang cepat disaat ia merebut pedang tersebut dan daya ingat yang cukup detil untuk mempertahankan sifat solid senjata yang direbut.

Len baru saja melumpuhkan semua lawannya dan mengunci lengan baju dua orang knight dengan pedang yang ia rebut dan ia tancapkan di tanah. Kedelapan orang lainnya baru saja akan bangkit untuk kembali melawan Len akan tetapi masing-masing lengan baju atau salah satu bagian pakaian mereka terhujam ke tanah dengan pedang yang padahal sedetik lalu tidak ada disana. Meskipun mereka ingin bangkit tapi percuma saja, semua lawan Len telah terkunci di tanah.

Hiyama, Gumiya beserta Knight lain yang tersisa di lapangan cuma bisa ternganga, campuran antara kagum dan tidak percaya. Hiyama merasakan Len memandang dirinya dan buru-buru memperbaiki wajahnya yang terlihat konyol, "Pemenangnya Kagamine-san!"

Decakan dan bisik-bisik kagum terdengar jelas di lapangan.

"Kau curang! Kau menyerbu kami disaat kami belum siap dengan senjata kami!"

Len menatap pemuda yang mencemoohnya diawal tadi, wajahnya memerah campuran antara malu dan kesal.

"Musuh tidak akan menunggu kau sudah siap atau belum dengan senjatamu," Len membalas dengan kalem.

"Bagaimana dengan pedang yang kau rebut tadi? Kau jelas-jelas melakukan hal yang curang!"

Len baru saja akan menjelaskan tapi keburu dipotong oleh Hiyama. "Kagamine-san tidak curang. Jelas ia menyerbu setelah aku menyelesaikan aba-abaku,"

Para knight lain yang menonton juga mengangguk membenarkan, dalam hal ini Len memang tidak curang atau apapun.

"Mengenai kemampuan merebut pedang milik Knight lain sebenarnya itu memang bisa dilakukan." Hiyama melanjutkan penjelasannya.

"Tapi bagaimana caranya?" Gumiya menatap heran.

"Kau perlu daya konsentrasi yang cepat untuk merealisasikan kembali senjata yang telah kau rebut dari knight lain. Selain itu kau juga harus memiliki daya ingat yang tajam untuk mempertahankan sifat solid senjata tersebut." Hiyama mendekati dua orang yang dikunci dengan dua pedang yang direbut oleh Len dan menelitinya. "Tapi sepertinya ini agak berbeda saat anda merebut pedang ini," gumam Hiyama.

"Yah, sebenarnya aku juga gak terlalu ingat. Makanya kumasukkan beberapa detil pedang dariku sendiri dan memasukkannya di kedua pedang itu. Yang penting mereka bersifat solid," Len menjawab sambil tertawa renyah dan menggaruk lehernya yang tidak gatal. Hiyama bergumam tertarik atas penjelasan Len.

Len kembali menatap kelompok yang mencemoohnya diawal, wajah mereka memerah karena marah dan malu. "Seperti yang kalian katakan, memang salahkulah aku terlambat menemukan Kamine-san dan melindunginya, malahan aku menyebabkan ia koma saat ini,"

"Akan tetapi aku sudah bertekad untuk melindunginya, meski aku harus mengorbankan nyawaku." Len menatap dengan penuh tekad. Hiyama, Gumiya beserta Knight yang lain cuma bisa menonton.

"Kuakui, aku memang bukan apa-apa dibanding kalian. Kalian menganggap menjadi knight gadis itu adalah suatu kehormatan, sementara aku menyepelekan tugas itu. Tapi justru karena aku menyepelekan tugas itu aku bisa memandang Kamine Rin sebagai gadis biasa, bukan sekedar seorang summoner yang harus dilindungi,"

Len menutup matanya, entah kenapa bayangan Rin selama ini berkelibat dalam pikirannya. Sikap sinisnya, senyumnya, wajahnya yang memerah bahkan disaat mereka menghadapai Akita Nero bersama-sama.

"Dia adalah gadis yang berharga bagiku." Len mengeratkan gengamannya. Entah kenapa sekarang Len merasa kata-kata itu begitu mudah diucapkan, padahal sebelumnya untuk mengakui ia sebagai knight bagi Rin saja sangat sulit.

"Dan aku akan melindunginya. Meski aku harus melawan dunia ini," Len mengikrarkan sumpah itu tidak hanya dikata-katanya, melainkan juga di dalam hati dan jiwanya. Sumpah yang berat, Len tahu, tapi itulah perasaannya yang sebenarnya.

Cring

Len tersentak, ada perasaan tertentu yang merasuk ke dalam hatinya.

"Kagamine-san ada apa?" Gumiya memandang Len yang tiba-tiba saja terdiam dan bersikap aneh.

Cring

Len meraba dadanya dimana jantungnya berada. Perasaan ini-

Cring

Len

Tiba-tiba saja tanah bergetar dengan keras, menyebabkan semua orang kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di tanah. Len berusaha berlari kembali ke rumah utama.

"Kagamine-san ada apa?"

Len tidak menjawab dan fokus berlari, berusaha menjaga keseimbangannya sementara tanah masih terus bergetar bahkan semakin kencang. Pohon bergerisik sementara orang-orang mulai panik karena gempa yang lumayan kuat. Beberapa knight merealisasikan senjatanya dan menancapkannya di tanah, berusaha untuk membantu keseimbangan mereka. Yang lain memeluk erat pohon atau apapun yang bisa membantu keseimbangan mereka.

-ikatan antara dirinya dan Rin samar-sama kembali terasa.

Rumah utama sudah terlihat dan Len kembali mempercepat larinya yang oleng. Bisa dilihat Kaito yang sudah mengeluarkan kekuatannya dan berlutut sambil menggenggam pedangnya. Aneh juga melihat kaito yang mengenakan yukata sambil menggenggam pedang barat ala Eropa, tapi Len memutuskan untuk memikirkan hal itu nanti.

"Hei, hei Len. Kenapa-"

Len masih melanjutkan larinya dan meneruskannya hingga ke kamar tempat tubuh Rin sedang koma. Dengan kasar Len membuka pintu geser, berlari menghampiri Rin dan langsung meraup tubuh gadis itu dikedua lengannya. Berikutnya Len kembali berlari keluar, berusaha menjauhi lokasi yang berpotensi jatuhnya genting atau apapun yang bisa melukai dan meraih pedang yang sudah ia coba untuk realisasikan menancap di tanah saat Len sedang berlari tadi.

Entah kenapa gempa makin lama semakin menguat, Len menundukkan dirinya menempatkan Rin dibawah tubuhnya. Len bisa merasakan napasnya mengenai wajah Rin. Dalam situasi biasa Len mungkin akan merasa gugup dan memerah wajahnya, tapi sayangnya saat ini bukanlah keadaan yang biasa. Len bisa merasakan serpihan batu atau kerikil yang asalnya entah darimana memukul punggungnya, tapi ia memutuskan untuk tetap dalam posisi itu. Tanpa sadar dahi Len dan dahi Rin saling bersentuhan.

Gempa perlahan melemah hingga akhirnya berhenti sama sekali. Len segera menegakkan tubuhnya dan meneliti situasi sekitar. Genting rumah dan pintu geser kayu berjatuhan dari tempatnya yang seharusnya. Situasi sekitar sangat kacau tapi Len tidak begitu peduli, matanya kembali meneliti keadaan Rin yang masih dalam pelukannya. Gadis itu tidak terluka sama sekali. Meskipun gempa barusan sangat hebat tapi Rin masih tertidur seakan tidak terjadi apapun.

Len merasa geram.

"Len! Apa kau-"

"Kenapa kau masih saja tidur!"

Kaito ingin memastikan keadaan anaknya tapi malah disambut dengan suara bentakan penuh amarah. Belum pernah Kaito melihat anaknya semarah dan sefrustasi ini.

"Kau hampir saja mati! Dasar bodoh! Kenapa kau masih saja tidur!"

Kaito menghampiri Len, "Len, apa yang kau-"

Len menempelkan dahinya di dahi Rin dan bergumam frustasi "Lebih baik kau terbangun dan membenciku, berkata sinis padaku. Daripada kau tertidur seperti ini membuatku semakin menyesal,"

Kaito tidak mampu mengatakan apapun, cuma bisa melihat anaknya putus asa.


.

.

.


Akita Nero sedang berdiri di sebuah gedung pencakar yang telah hancur. Ia menatap kebawah dimana banyak bangunan kecil maupun hal-hal lain hancur berantakan karena gempa yang kuat. Ia menatap tangannya sebelum akhirnya tertawa keras dan lebar. Wajahnya tampak puas.

"Aku bisa menggunakan kekuatanku bahkan sebelum waktunya penyegelan." Akita Nero terus tertawa puas, wajahnya menunjukkan perasaan bahagia yang keji dan kejam.

"Ternyata para manusia itu tidak sebodoh yang kukira,"

Angin bertiup di langit biru yang cerah. Jejeran awan ikut terbawa oleh angin.

"Berikutnya, bencana macam apa yang harus kujatuhkan ke manusia-manusia rendah ini?"

.

.

.

to be continued