Marriage.
Disclemmar Naruto Masashi Kishimoto.
Hatake Kakashi & Narashi Kana.
Family Hurt Romance
05. Saling Membutuhkan: part02.
(Update : Seminggu sekali tiap hari Rabu/Kamis/Jum'at)
.
.
Kakashi memandangi atap langit kamarnya. Di bibirnya seulas senyum tipis hadir. Entah kenapa rasa bahagia memenuhi hidupnya.
Ia mengalihkan matanya, melihat sebuah buku di atas meja samping tempat tidurnya.
Itu novel. Dan milk Kana. Untuknya.
"Kurasa ini untukmu saja, Kakashi." Ucap Kana sambil menyerahkan sebuah buku.
"Untukku?" Kakashi mengangkat kedua alisnya bingung.
Kana tergagap. "Hadiah untuk sebuah pertemanan?" ujarnya.
Teman? Kakashi tersesenyum mengangguk lalu mengambil buku yang disodorkan Kana. "Tapi ini bukan mlik perpustakaan Konoha, kan?"
Kening Kana berkedut. "Aku bukan pencuri, Hatake."
Kakashi tertawa terkikik mendengar ucapan Kana itu.
"Apa kau sudah puas tertawa, Hatake?" tanya Kana tak suka.
Segera Kakashi menghentikan tawanya dan mengusap lehernya. "Maaf." Ujarnya sesal.
Kini giliran Kana yang tertawa melihat Kakashi seperti itu. Setelah puas, ia mendesah dan memutar matanya bosan. "Ayolah, Kakashi. Itu hanya lelucon."
Kakashi cemberut. "Tidak lucu."
"Kurasa kau tak perlu marah." Ucapnya tak peduli. Kemudian berjalan mendahului Kakashi.
"Terimakasih."
Kana berhenti dan memutar badannya menghadap Kakashi. Ia kemudian mengangguk. "Sebenarnya aku menunggu kau mengucapkan itu, Kakashi." Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Tentu." Kakashi menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal dengan jari manisnya.
""Maaf, ya."
Kakashi terdiam. "Kenapa maaf?"
"Mungkin karena aku begitu sombong ingin mendengar kau berterimakasih padaku."
Kening Kakashi berkerut. "Kau aneh, Kana."
"Hei!" protes Kana tak terima dikatai seperti itu.
Kakashi tertawa puas. Ia ingat dalam perjalan kembali ke pusat desa ia dan Kana saling bercengkrama satu sama lain. Berbagi kekonyolan dan tawa bersama. Tapi yang akan selalu ia ingat adalah perasaan yang baru saja didapatkan dan mungkin akan sulit dilupakan.
Ia kemudian mengambil novel itu dan tak sengaja atas ujung novel itu menyentuh bingkai photo hingga terjatuh membuat Kakashi tersentak kaget dan melepaskan novel itu.
Dengan segera ia mengambil bingkai photo yang terjatuh itu dan mengenggamnya. Kemudian tatapannya berubah menjdi sendu. Ada binar kesedihan di ruang mata Kakashi. Sebuah bayangan nostalgia yang menghampirinya.
"Aku merindukan kalian, Rin, Obito." Ungkapnya pada 2 orang refleksi yang tertangkap di dalam photo itu.
Dan ia lupa tentang novelnya.
~O~
Tidak bisa tidur. Kana benar-benar tak bisa tidur padahal jam terus berputar menandakan hari akan segera berganti.
Ia kemudian merubah posisi menyamping ke arah kanan. Berusaha mencari posisi yang nyaman untuk segera tertidur.
Ia melempar selimutnya ke sembarang arah dan bangkit. "Kenapa aku tidak bisa tertidur, ukhh!" keluhnya kesal pada dirinya sendiri. Kemudian ingatannya membawanya pada Kakashi.
"Aku tidak percaya ini!" dengusnya sebal sambil merebahkan dirinya. Pikirannya kini melayang kemana-mana. Berbagai kilasan hidupnya melintas di pikirannya. Ia mendesah dan kemudian menunjuk langit atap kamarnya.
"Jangan main-main denganku." Tuduhnya sendu entah pada siapa. "Tolong jangan permainkanku. Ini sama sekali tidak lucu!" ujarnya frustasi.
Ada begitu banyak ketakutan dari dalam dirinya yang begitu besar. Hubungan 'teman' yang baru saja ia ikrarkan pada Hatake Kakashi membuatnya rapuh. Ini semuanya diluar kendalinya dan terjadi begitu itu sangat menakutkan.
"Kenapa harus aku?"
Ia mengusap wajahnya lelah. Dan menangis dari balik tangannya yang menutup wajahnya.
"Tolong jangan seperti ini."
~O~
"Maaf, Kazuro-sama. Kurasa aku tak bisa menerima semua ini." Sesal Kakashi sambil menyerahkan amplop coklat berisi biodata perempuan pada tetua desa yang sudah menanti kehadirannya semenjak tadi di ruangan Hokage.
"Aku rasa aku sudah sangat yakin kau akan menolaknya."
Ng? Pikir Kakashi heran.
"Kau sudah memilih pasanganmu sendirikan, Hatake?"
Kakashi membulatkan matanya lebar. "Hah? Apa maksudnya?"
"Jadi siapa nama perempuan yang memikat hatimu, Hatake?"
"APA!?"
Kakashi benar-benar terkejut mendengar apa yang barusan di katakan oleh tetua desa itu padanya.
Kazuro tersenyum simpul. "Tak perlu malu, Hatake."
"Sebentar" Kakashi menarik nafas perlahan. "Apa yang sedang anda bicarakan, Kazuro-sama?"
"Aku begitu sangat ingin bertemu dengan perempuan milikmu, Hatake. Kapan kau akan memperkenalkannya pada kami?"
Wajah Kazuro berbinar bahagia. "Aku tahu kalau aku ini memang sedikit ikut campur dalam kehidupanmu, Hatake" ujar Kazuro lembut.
Sedikit? Menjodohkanku tanpa sepengetahuanku dan itu 'hanya' sedikit ikut campur? Jangan bercanda! Rutuknya sebal dalam hati.
"Tapi itu semua karena aku sangat peduli padamu, Hatake."
"Tunggu, Kazuro-sama. Rasanya ada sesuatu hal yang aneh pada ucapan anda sebelumnya." Kakashi menatap Kazuro intens. "Anda tadi mengatakan kalau ada perempuan yang memikat hatiku?"
Kazuro mengangguk.
"Atas dasar apa anda mengatakan hal itu, Kazuro-sama!?"tanya Kakashi sangsi.
"Bukankah itu benar jika ada perempuan yang memikat hatimu, Hatake?"
"Anda dengar dari siapa?"
"Itu benar?"
Kakashi membuang wajahnya ke samping kirinya. Rona merah samar menghiasi telinganya. "Tidak." Ucap Kakashi sambil melihat kembali Kazuro.
"Bukan seperti itu, Kazuro-sama."
Perlahan tubuh Kakashi merileks dengan sendirinya.
"Lalu seperti apa, Hatake?" tanya Kazuro.
Kakashi terdiam. Bukankah yang seharusnya mengajukan pertanyaan dan mendapatkan penjelasan itu aku? Pikir Kakashi heran.
"Bukan seperti apapun, Kazuro-sama." Jawab Kakashi.
"Dengar, Hatake. Aku akan memberimu waktu selama satu bulan ini untuk meresmikan hubunganmu dengan perempuan yang sudah kau pilih. Setelah waktu yang kuberikan padamu berakhir, maka yang hanya akan ada hanyalah pesta pernikahanmu."
Kakashi mengangga tak percaya. "A..apa? Me... ?"
"Benar. Tapi aku ingin kau tahu satu hal, Hatake." Kazuro menatap Kakashi yang tampaknya terkejut atas pernyataannya. "Jika selama satu bulan ini kau juga tak meresmikan hubungan dengan perempuan yang sudah kau pilih maka jangan salahkan aku jika yang ada dalam upacara pernikahanmu nanti bukan seseorang yang kau kenal."
Kakashi membulatkan matanya lebar. Sangat lebar. "Jadi pernikahan akan tetap dilakukan dengan perempuan siapa saja tanpa perlu aku harus mengenalnya atau tidak setelah satu bulan ini berlalu."
Kazuro mengagguk mantap.
Seandainya Kakashi memiliki seragan jantung, kali ini ia akan mati langsung di tempat. Tapi sayangnya tidak.
"Ini sudah sangat keterlaluan, Kazuro-sama! Atas dasar hak apa anda mengatur tentang kehidupanku!?" tanya Kakashi histeris dan frustasi. Ia juga tak peduli bahwa ia sudah mengeraskan suaranya di depan tetua desa.
"Ini keputusanku, Hatake." Jawab Kazuro datar. "Dan ini bukan hal yang keterlaluan, Hatake. Ini kulakukan demi kebaikanmu." Jelas Kazuro.\
"Kebaikanku!?"
"Ya."
"Yang mana yang untuk kebaikanku, Kazuro-sama!?" Kakashi benar-benar sudah tidak peduli kalau ia sudah membentak tetua Hokage di depannya itu.
Kazuro hanya mengangkat sebelah alisnya. Kemudian ia bangkit dan berlalu meninggalkan Kakashi.
"Satu bulan dari sekarang, Hatake. Satu bulan." Ucap Kazuro mengingatkan sambil menutup pintu ruangan Hokage meninggalkan Kakashi yang sepertinya terkena serangan jantung mendadak.
Semua orang yang menyaksikan hanya diam, bungkam. Dengan cepat Kakashi menghilang dari ruangan itu.
Minato hanya mendesah lelah. Ini akan sedikit sulit.
~O~
Kana memandang langit biru yang cerah. Ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya sekarang.
"Kana-san."
Dengan cepat Kana menoleh. Ia tersenyum simpul dan mengangguk pelan, memberi salam pada orang yang baru saja memanggilnya.
"Hai, Kujo-san."
Kujo sedikit melebarkan matanya dan tersenyum canggung. "Oh.. hai."
"Ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?" tawar Kana.
"Ah.. tidak." Kujo menggeleng lalu ia menatap Kana yang sedang kebingungan. "Kupikir kau melupakan namaku." Ujarnya.
Kana hanya tertawa tertahan. "Hampir. Tapi aku ingatkan pada akhirnya?"
Kujo menampilkan wajah datar.
"Hei. Kenapa kau berwajah seperti itu, Kujo!" protes Kana.
Kujo hanya tersenyum simpul kemudian menggeleng-geleng pelan. "Apa setelah ini kau tidak memiliki acara, Kana?"
"Tidak ada. Aku sama sekali tidak memiliki jadwal. Yah, aku bukan perempuan sibuk, kurasa."
"Tidak ke perpustakaan?"
"Tidak sekarang." Jawab Kana.
"Kenapa?"
Kana memutar bola matanya bosan. "Memang kenapa juga?"
Kujo mendesah pasrah.
"Bagaimana kalau kita makan Sashimi di kedai langgananku?" tawar Kana.
Kujo tersentak, terkejut mendapat tawaran seperti itu.
"Bagaimana, Kujo?" Kana menatap Kujo. Menunggu kepastian.
"Mengapa tidak?" jawab Kujo. Kana mengangguk senang. "Ayo. Kurasa Sashiminya sudah menunggu kita."
"Atau perutmu, Kana-san?"
Kana menggelembungkan pipinya kesal. "Uuuh. Berisik!" rengeknya setengah malu.
Kujo hanya tertawa senang. Mereka pun berjalan sebelum sebuah sosok tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Nah, akhirnya kutemukan juga setelah hampir satu hari ini aku mencari. Ya yaya, inilah kekuatan semangat dan tak kenal pantang menyerah." Ujar orang itu berapi-api.
Kana dan Kujo sweatdrop di tempat. Mereka saling memandangi satu sama lain. Kana mengangkat bahunya bingung, begitupun sebaliknya dengan Kujo. Kemudian mereka memutuskan untuk berjalan melewati orang yang muncul di hadapan mereka itu.
"Tunggu!"
Kana dan Kujo dengan sangat berhenti mendadak di tempat. Kana memijat pelipisnya. Ia lalu berbalik menghadap orang yang memerintahkannya untuk menunggu.
"Anu, maaf. Jika boleh tahu ada perlu apa dengan kami, tuan?" tanya Kana sopan. Orang itu tersenyum lebar hingga menyilaukan. "Namaku Maito Gai. Panggil saja aku Gai. Salam kenal."
Kana semakin tak paham. Ia bertanya-tanya untuk apa orang di depannya itu memperkenalkan diri kepadanya. Lagipula ia juga sudah tahu kalau orang di depannya bernama Gai –salah satu shinobi hebat teraneh seKonoha, mungkin?-
"Ah.. ya. Salam kenal juga, tuan...Maito-san." Balas Kana sopan sekaligus luar biasa bingung. Kujo hanya mengangguk penuh sopan –walau gosip orang di depannya sangat aneh, ia harus tetap menghormatinya. Karena bagaimanapun juga orang di depannya adalah shinobi sangat hebat-
"Kalau boleh tahu, ada apa anda menyempatkan memperkenalkan diri pada kami, tuan Maito-san?" tanya Kana lanjut.
Gai masih tersenyum lebar. Bagus, ternyata dia sopan.
"Tuan?" panggil Kana karena yang dipanggil hanya tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk sendiri.
"Tuan?" panggil Kana sekali lagi.
"Oh..ah ya. Maaf mengganggu." Ucap Gai sambil memamerkan gigi Clingnya.
"Kalau boleh tahu ada keperluan apa dengan kami?"
Gai mengerjap-ngerjapkan matanya datar. Ia dengan cepat mengalihkan tatapannya pada laki-laki disamping perempuan yang diincarnya dan ia terkejut.
"Apa kalian sedang berkencan?"
Kana melotot tak percaya sedangkan wajah Kujo memerah.
"Tuan!"
Kana tak percaya. SA-NGAT TI-DAK PER-CA-YA! Bagaimana coba orang di depannya mengatakan hal yang...aneh? pikirnya frustasi.
"Oh.. ahahahahahahahaha. Maaf aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu." Ucap Gai sok tak bersalah.
Kujo mendengus kesal. Sekarang seluruh wajahnya memerah sempurna. Sedangkan Kana mendesah heran.
"Maaf, tuan Maito-san. Sebenarnya ada perlu apa tuan dengan kami!?" tanya Kana tak sabar.
"Sebenarnya aku hanya ada perlu denganmu, nona." Jawab Gai.
Kana mengerjap-ngerjapkan matanya. "Saya, tuan?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
Gai mengangguk mantap. Dan entah mengapa tatapan Kana berubah kosong. Aku? Tanyanya.
~O~
"Kazu."
"Apa, Sora? Tidak bisakah kau membiarkan aku merasa santai?"
Dahi Sora berkedut. "Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan sesuatu! Aku hanya ingin kau mendengarkanku!"
"Sama saja." Ucap Kazu acuh tak acuh sambil menatap televisi di depannya.
Sora bersumpah ingin menyumpah serapahi Kazu saat ini. Tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Kemarin aku bertemu dan mengajak Kakashi-sensei dan Kana-san kemari."
"Oh.." ujar Kazu masih fokus dengan televisi di depannya.
Dengan cekatan Sora mengambil remote dan memencet tombol off.
"Ayolah, Sora! Biarkan aku menyelesaikan apa yang sedang kutunton saat ini!" protes Kazu tak terima dengan kelakuan Sora yang mematikan televisi yang sedang di tontonnya. "Lagipula ini rumahku!" lanjutnya sambil mencoba merajuk.
Sora melemparkan remote ke sembarang tempat.
"Ah..." keluh Kazu tak berdaya menatap remote yang masuk ke bawah laci lemari buku.
"Dengarkan aku, Kazu. Kemarin aku bertemu dengan Kakashi-sensei dan Kana-san lalu mengajak mereka kemari." Ujar Sora.
Kazu hanya cemberut. "Lalu?" tanyanya sarkas.
Sora menggebrak meja dengan kuat membuat Kazu terlonjak kaget. "Apa kau tidak menyadari bahwa ucapanku ada yang aneh?"
Kazu mengernyit kemudian menggeleng.
"Pikirkan lagi!" teriak Sora tak sabar.
Kazu hanya terdiam melihat Sora yang sudah dalam mode siap untuk merusak barang-barang di rumahnya dan itu artinya sudah waktu baginya untuk mendengarkan secara fokus dan serius apa yang akan dikatakan oleh Sora.
"Kau bilang 'Kemarin aku bertemu dengan Kakashi-sensei dan Kana-san lalu mengajak mereka kemari' benar bukan, Sora?"
Sora mengangguk cepat.
"lalu..." Kazu akan melanjutkan ucapannya sampai sebuah kepahaman masuk ke pikirannya. Dan Sora yang melihat ekspresi Kazu yang mulai tampak paham merasa senang.
"Eh...APA? Kakashi-sensei kemari?" pekik tak percaya Kazu. "Ah.. Kakashi-sensei datang ke rumah ini yang masih dalam keadaan berantakan!?"
Sora memukul wajahnya sendiri. "Bukan itu maksudnya, TOLOL! Dan..oh. tenang saja aku sudah membereskannya!"
Sora berpikir untuk mengatakan apa yang dipikirkannya daripada ia harus merasa emosi.
"Dengar!" Sora menatap Kazu yang sudah mulai patuh lagi. "Inti dari pembicaraanku ini adalah Kakashi-sensei dan Kana-san! Bukan isi rumahmu!"
Kazu mengangguk takut.
"Kemarin saat aku pulang belanja aku memilih untuk melewati jalan setapak yang dekat taman dan tak sengaja aku menemukan Kakashi-sensei dan Kana-san."
"Bertemu mereka berdua di waktu yang bersamaan? Bagaimana bisa?" tanya Kazu mulai mengerti.
"Ya. Aku bertemu mereka saat mereka tertidur di bangku yang sama."
"puft...Apa?"
"Untungnya saat itu keadaan sepi dari biasanya sehingga aku bisa dengan cepat membangunkan mereka dan mengajak mereka kemari untuk sekedar bertanya mengapa mereka bisa tertidur... berduan, maksudku."
"Lalu apa yang mereka katakan?"
"yah mereka tak sengaja tertidur ketika mencari tempat yang tenang."
"Maksudku bagaimana mereka bisa berada di bangku yang sama saat tertidur di waktu yang sama?"
"Entahlah." Jawab Sora. Kazu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Sora memilih untuk melihat pemandangan luar dari jendela di sampingnya.
"Ini hanya pikiranku, Kazu."
"Apa?"
"Aku hanya merasa Kakashi-sensei dan Kana..."
"Hentikan." Potong Kazu cepat. Ia menatap Sora tajam. "Jangan katakan lebih lanjut jika sebenarnya itu membuatmu gelisah."
Sora memutar bola matanya. "Ternyata kau mengerti maksudku."
Kazu mendesah. "Kau mengenal Kana-san seperti apa."
"Justru karena aku mengenalnya aku memikirkannya!"
"Kurasa kau tahu kehidupan Kakashi-sensei seperti apa."
Sora mendelik kesal. "Status? Perbedaan kedudukan?"
"Kau tahu."
"Apa kau tidak memikirkan kebahagiaan Kana-san? Maksudku, aku tahu kalau kita tidak terlalu dekat dengannya. Tapi apa kau tidak memikirkannya kadang-kadang?"
Kazu menatap Sora tak senang. "Sesekali aku memikirkannya."
"Kadang aku merasa sangat marah pada Kakashi-sensei tiap kali aku ingat kalau kita hanyalah murid percobaannya."
"Kenapa tiba-tiba kau membicarakan itu?"
"Apa kau tidak marah, Kazu?" tanya Sora lemah.
Kazu bangkit dan memilih untuk mengambil air minum. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat haus.
"Kau hanya merasa cemburu karena kita tidak pernah menjadi murid asuhnya." Ucapnya setelah ia merasa lega dan segar kembali.
"Tidak!"
"Benarkah?" tanya Kazu sangsi.
"YA! Aku hanya merasa marah karena Kakashi-sensei memilih untuk mengajari pahlawan kita, Naruto Uzumaki, Sasuke Uchiha dan Haruno Sakura. Itu saja."
"Intinya kau cemburu." Ujar Kazu santai. "Naruto Uzumaki adalah putra dari guru Kakashi-sensei yang tak lain adalah putraYondaime Hokage kita dan juga seorang Jinchuriki Kyubi. Sasuke Uchiha..." Kazu sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan seperti apa pewaris Uchiha terakhir itu. "... dia mengalami hidup yang sangat menyedihkan. Seluruh klannya yang merupakan keluarganya dibantai oleh kakaknya dan kini hanya dia satu-satunya pewaris Uchiha tunggal dan kurasa Kakashi-sensei sedikitnya ia memiliki tanggung jawab karena jauh sebelumnya Kakashi-sensei memiliki sharingan, yah, walau saat ini Kakashi-sensei tidak memilikinya lagi. Dan yang terakhir Haruno Sakura, seorang fansgirl yang tergila-gila pada Sasuke Uchiha."
"Lalu apa maksudmu menjelaskan hal itu padaku, Kazu? Kau pikir aku tidak tahu siapa mereka!?"
"Tidakkah kau berpikir murid Kakashi-sensei luar biasa fantastis?"
"Hah?" Sora hanya bingung mendengar kata 'fantastis' meluncur dari mulut Kazu.
"Kau kebanyakan menonton televisi."
"Mungkin." Kazu menaikkan kedua bahunya. "Tapi mungkin karena mereka seperti itu, Kakashi-sensei lah yang mengajari mereka. Anggap saja kita hanya batu lompatan yang dipersiapkan agar Kakashi-sensei bisa lebih siap menjadi guru mereka."
"Kau sangat senang karena kita adalah batu lompatan Kakashi-sensei?" Sora sweatdrop.
"Lupakan." Jawab Kazu praktis.
Sora menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Karena mereka fantastis maka guru yang mengajari merekapun harus lebih fantastis dan karena tim kita maupun tim Nakaba tidak fantastis?"
Kazu mengangguk. Sesungguhnya Sora sudah tahu dari awal alasan mengapa timnya dan tim Nakaba tidak diluluskan. Mereka sanggup jikalau Kakashi meluluskan mereka. Tapi... tidak.
"Kita takkan mengerti pikiran orang fantastis." Simpul Sora dan Kazu membenarkan.
Sora menatap Kazu yang mulai sibuk mengeluarkan cemilan yang disimpan dalam lemari es. "Bukan status maupun kedudukan. Melainkan perbedaan dalam menjalani kehidupan."
Pikiran Sora mengawang-awang pada sosok Kana yang seorang sipil yang hanya dikenal sebatas lingkungan yang dibuat oleh Kana sendiri. Perempuan tegar yang sudah bisa dijumpai di mana saja.
"Tapi Kana sedikit 'fantastis' menurutku." Ujar Sora spontan mengingat siapa Kana.
Kazu tersenyum miring. "Taruhan?"
.
.
.
TBC
Ok, makasih untuk yang galau menunggu update fanfic ini.
Dan maaf karena ternyata telat mem-publish sehari dari jadwal yang di rencanakan :P (maklum sok sibuk)
Di tunggu reviws fic ini, karena reviws dari reader akan membantu untuk menambah daya maotivasi bagi penulis.
See you ini next Chapter.
