A/N: Terima kasih kepada para reader yang membaca dan meninggalkan jejak berupa review: Kitarikarin7121 dan CHYMERA Hemoglobine. Terima kasih kepada pembaca yang sudah setia menunggu dan memberikan dukungan: Mai Kamano dan ChiiMiyako-chan. Review kalian memberi saya semangat untuk menulis chapter selanjutnya. Silahkan dinikmati.

Warning: Mungkin banyak typo yang tersebar dan tidak sesuai EBI. Entahlah.

Disclaimer: Vocaloid tetaplah bukan punya saya.


"Beberapa hari ini terjadi gempa terus menerus. Apa kau tahu sesuatu mengenai hal ini, Mikuo?"

Saat ini Kaito, Mikuo, Len dan Hiyama sedang berkumpul di satu ruangan. Beberapa hari telah lewat sejak pertama kali terjadinya gempa yang kuat dan mengagetkan semua orang. Memang dalam gempa itu tidak ada korban jiwa. Masalahnya adalah setelah gempa yang pertama itu gempa lain menyusul seakan Bumi digetarkan dengan getaran yang kuat. Dan gempa yang terjadi setelahnya banyak menimbulkan kerugian materil di desa ksatria. Untung tidak ada korban jiwa karena bangsa ksatria memang bangsa yang handal dalam bertahan dan mempertahankan diri.

Selain itu gempa yang terjadi bukan seperti gempa yang biasanya. Durasi terjadinya gempa sangat lama bahkan dengan kekuatan yang hebat. Walaupun mereka berusaha mencari berita dunia luar dari televisi tapi entah kenapa tidak ada satupun saluran televisi yang tersambung. Semula Len menduga tv atau kabel atau antena mereka yang rusak. Tapi setelah diperiksa tidak ada yang aneh. Bahkan Radio pun tidak menyiarkan apapun selain bunyi kresek-kresek yang mengganggu.

Kaito juga berusaha menghubungi istrinya, Meiko, melalui telepon kabel atau handphone. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Dengan semua usaha mereka yang gagal menghubungi dunia luar Kaito menyimpulkan pastinya situasi dunia luar sangat parah. Mungkin bukan hal yang aneh kalau situasi dunia luar benar-benar dalam keadaan berantakan.

"Aku tidak yakin," Mikuo berpikir keras.

"Apa ini bukan pertanda kekuatan Bahamut mulai terlepas?"

Semua orang melemparkan pandangan cemas mendengar pertanyaan Hiyama.

"Aku masih tidak yakin. Masih ada beberapa waktu sebelum segel diperbarui. Tapi entahlah-" Mikuo menjawab dengan menggantung, menyebabkan tatapan tidak puas dari mereka semua.

Kaito menggeleng dan menatap Hiyama, "Bagaimana situasi di desa kita?"

"Tidak buruk, hanya beberapa rumah yang perlu diperbaiki dan tidak ada yang luka serius."
Kaito mengangguk, "Keadaan para ksatria?"

"Mereka hanya merasa kaget. Tapi saat ini mereka sudah siap dan waspada jika terjadi sesuatu."

"Bagaimana keadaan logistik untuk desa?"

"Masih dalam proses pengumpulan. Kami akan terus mengumpulkan logistik yang diperlukan kalau-kalau terjadi sesuatu."

Kaito mengangguk, "Baiknya seperti itu. Kita harus bersiap. Mungkin saja semua gempa itu adalah perbuatan Bahamut."

Kaito mengalihkan perhatiannya kepada Len, "Bagaimana keadaan nona summoner?"

Len tidak menjawab tapi menggelengkan kepala.

"Apa kau masih belum merasakan apapun?" Mikuo ikut nimbrung.

"Sejak gempa pertama itu aku tak merasakan apapun lagi," Len jelas berusaha menyembunyikan nada getir dalam suaranya. Tapi sayangnya semua orang menyadarinya.

"Kuasumsikan ini adalah situasi yang gawat," Hiyama memperbaiki letak kacamatanya.

"Yah, santai sajalah. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan saat ini. Tidak perlu stress," Mikuo memposisikan dirinya berbaring. Agak tidak sopan karena yang lainnya masih duduk melipat kaki tapi tak ada yang protes dengan kelakuan Mikuo.

"Ini membuatku frustasi," Len bergumam pelan. Mikuo menepuk puncak kepala Len. Biasanya pemuda itu akan sebal kalau Mikuo melakukan hal itu. Tapi kali ini Len tidak protes yang berarti saat ini Len benar-benar sedang stress.

"Kalau dia bangun akan kumarahi dia,"

Kaito menatap Len dengan tajam. Masih teringat saat beberapa hari lalu ketika Len berteriak murka karena Rin masih tertidur padahal gempa yang besar baru saja terjadi. Mau tidak mau Kaito merasa simpati juga terhadap anaknya itu. Terlihat jelas walau Len berusaha bersikap tidak terjadi apapun tapi dalam hatinya ia menyesali perbuatannya yang telah memojokkan Rin.

"Saat ini kita akan fokus untuk melindungi desa ini. Mikuo, aku mau kau melatih para knight di desa ini bersama Hiyama-"

"Tunggu dulu, kenapa harus aku? Bocah disana bukannya lebih OK?" Mikuo membantah malas.

Beberapa hari setelah Len menunjukkan kemampuan bertarungnya Len harus rela dikejar-kejar oleh para ksatria - baik yang masih bocah maupun remaja seumurannya - dan latihan sparring bersama. Atau lebih tepatnya, mereka menyeret Len untuk sparring.

"Itu karena pada saat gempa kau masih bisa tidur dengan pulas. Aku malahan heran kau tidak sekalian saja mati saat gempa itu," Kaito menjawab dengan penuh sarkas.

Mikuo bangkit dari posisi tidurnya, "Itu jahat banget," keluhnya.

"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kerja sedikit dan tugasmu adalah melatih para knight desa ini,"

Mikuo menggumam tidak jelas tapi Kaito jelas pura-pura tidak mendengar.

"Len, aku mau kau terus berlatih dengan para knight desa ini-"

Len mengeluh pelan. Rasanya capek sekali menerima tantangan sparring dari semua knight desa ini.

"-dan jika terjadi sesuatu yang gawat aku ingin kau melindungi Kamine-san dari apapun. Apa itu jelas?"

Len mengangguk paham.

"Saat ini tidak ada gunanya merenung. Kita akan lakukan apapun yang bisa kita lakukan," ujar Kaito.

"Aku khawatir dengan Ibu. Dia masih diluar sana," keluh Len.

"Tidak perlu khawatir, Meiko pasti baik-baik saja diluar sana," Kaito menatap Len. Len balik menatap ayahnya dengan harap dan cemas.

"Percayalah, ibumu baik-baik saja. Dia juga bangsa ksatria ibumu itu. Dia jauh lebih kuat dari yang kau sangka,"

Len mengangguk pelan.

"Percayalah. Kita bangsa ksatria akan bertahan menghadapi masa-masa sulit ini," Kaito mengucapkan kalimat itu berusaha untuk menenangkan Len, Mikuo dan Hiyama. Walau sebenarnya kalimat itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.


.

.

.


Di suatu tempat yang tidak ada di dunia ini. Di mana terdapat pemandangan hijau yang indah disertai aliran sungai yang berkilau bagai permata. Beberapa akan mengatakan ini adalah surga.

Diantara pepohonan yang hijau terdapat sebuah kuil batu yang besar. Kuil itu dihiasi kaca berwarna-warni yang indah. Sinar matahari menembus kaca tersebut, mengakibatkan pendar warna warni yang menakjubkan. Meskipun kuil itu tercipta dari tumpukan batu berwarna hitam dan abu-abu tapi tetap tercipta nuansa religius yang menentramkan hati.

Di dalam kuil itu tidak ada apapun, tidak kursi maupun altar. Hanya sebuah ruang kosong yang dilapisi karpet lembut berwarna marun. Seorang gadis sedang berlutut, menangkupkan tangannya dan menutup matanya. Gadis itu sedang khusu berdoa.

Seorang gadis lain datang mendekat, kali ini gadis dengan rambut berwarna teal. Matanya menatap serius. "Dia sudah bangkit, Rin-chan,"

Rin yang sedang berdoa membuka matanya meski masih bertahan dalam posisi berlututnya.

"Tepatnya cuma kekuatannya. Tubuhnya yang asli masih tertidur,"

Rin terdiam tapi kali ini mengangkat wajahnya, memandang pendar warna warni kaca yamg disinari cahaya matahari.

"Jika tidak dicegah dunia ini akan hancur,"

Rin berdiri dan menghadap kearah Miku, menghasilkan background warna warni yang indah bagi Rin.

"Dramatis," Miku menyeringai. Saat ini ia sedang bersender di pintu kuil.

"Pertanyaannya adalah apa kau mau mencegahnya atau tidak?"

Rin membuang muka, "Menyelamatkan dunia dan semacamnya. Itu terlalu berat bagiku,"

"Dengan kata lain kau tidak mau melakukannya?"

Rin menatap Miku, "Apa aku harus melakukannya?"

Miku mengangkat bahunya, "Aku tidak keberatan kalau dunia ini hancur."

"Baguslah, karena aku juga tidak keberatan kalau dunia ini hancur," Rin membalas jawaban Miku. Kedua gadis itu saling bertatapan sebelum akhirnya saling tertawa lepas.

"Aku masih mau disini," Rin melangkah mendekati Miku dan melangkah keluar dari kuil batu.

Miku hanya mengangkat bahu dan mengibaskan rambutnya yang panjang, "Kau sudah ada disini, bersenang-senanglah."

Rin tersenyum.


.

.

.


Len capek sekali. Sejak kapan ia punya banyak fans, batin Len. Ia baru saja meladeni tantangan sparring setidaknya sepuluh tantangan dan itu juga pertempuran satu melawan banyak orang. Len curiga apakah ia sedang dibully atau memang mereka penasaran dengan kekuatan Len. Kalau memang dirinya sedang dibully awas saja, sparring berikutnya minimal dirinya akan merontokkan satu gigi dari semua gigi yang mereka miliki.

Len baru saja akan kabur dari semua fansnya itu akan tetapi telinganya mendengar suara sayup-sayup yang dikenalnya. Len segera melangkahkan kakinya ke sumber suara, ia kenal suara itu. Ibunya, Meiko akhirnya tiba juga di desa ini. Len segera menggeser pintu menuju ruagan yang sering dijadikan ruang pertemuan kecil antara dirinya, ayahnya, Mikuo dan Hiyama.

Semua orang memandang kearah Len yang berada tepat di depan pintu geser. Meiko memandangnya dan tersenyum lembut. Len segera melangkah mendekati ibunya dan duduk disampingnya, tak lupa pemuda itu membungkuk hormat.

"Kapan ibu sampai di desa ini?"

"Baru saja," suara Meiko terdengar lelah tapi ia merasa senang bisa bertemu putranya.

"Kau tepat waktu Len. Aku baru saja mau memanggilmu," Mikuo ikut nimbrung.

"Sekarang tolong ceritakan semua yang kau tahu mengenai dunia luar, sayang. Kami benar-benar terputus dari dunia luar," titah Kaito.

"Keadaan di luar sangat mengerikan. Aku hanya bisa bilang diluar adalah neraka. Bangunan dan gedung hancur berantakan. Mayat bergelimpangan."

Meiko memandang Len, "Oh iya, aku tidak bisa mendaftarkan cuti kuliahmu Len karena gedung kuliahmu- yah,begitulah,"

Len mengangguk paham. Tidak perlu dijelaskan Len sudah mengerti. Yah, setidaknya dia bisa libur sampai waktu yang tak terbatas.

Mikuo kembali memandang semua orang, "Berita buruknya, ada seorang pemuda. Ia mengaku bernama Akita Nero dan ia menyebarkan teror ke seluruh dunia,"

Semua orang waspada mendengar hal itu. "Teror apa yang ia lakukan?"

Meiko menggeleng, "Macam-macam. Aku lebih memilih untuk tidak mengatakannya kepada kalian. Benar-benar mengerikan. Kehancuran yang dilakukan Bahamut justru masih lebih baik dibandingkan pemuda ini,"

Mikuo, Hiyama dan Kaito bisa merasakan bulu kuduk mereka merinding. Mereka tahu, setiap kekuatan Bahamut datang dipastikan keadaan dunia porak-poranda. Bangunan hancur, mayat bergelimpangan, bahan pangan menjadi langka dan populasi dunia menurun sebesar 53%. Dalam keadaan seperti itu biasanya masyarakat dunia justru lebih memilih untuk mati dibandingkan harus hidup dan mengalami mimpi buruk seperti itu. Bisa dikatakan kekutan Bahamut merupakan penghancuran peradaban manusia secara besar-besaran.

Tapi semua itu bisa dicegah sejak generasi Summoner ke 25. Sejak saat itu meskipun kekuatan Bahamut datang summoner masih bisa mencegah jatuhnya banyaknya korban jiwa dan korban materi dengan menggunakan kekuatan mereka. Memang masih ada korban tapi setidaknya peradaban kehidupan tidak hancur total.

Dan mendengar Akita Nero menimbulkan horor yang lebih besar membuat semua orang merasa lega Meiko tidak menceritakan kengerian itu kepada mereka.

"Tapi tunggu dulu. Di desa ini sepertinya tidak terjadi kerusakan apapun?" Meiko mendang penuh tanya pada Kaito dan Hiyama bergantian.

"Kami memerintahkan kepada semua ksatria untuk menggunakan kekuatan untuk merealisasikan senjata dan menancapkannya di tiap sudut desa ini. Walau bukan berarti tidak ada gempa tapi setidaknya efeknya bisa diminimalisir," Hiyama memberbaiki letak kacamatanya. Meiko mengangguk.

"Kenapa lama sekali baru bisa sampai kesini? Seharusnya kau sudah disini seminggu yang lalu," Kaito mendesak.

"Maafkan aku. Keadaan di luar benar-benar kacau. Sehari setelah kepergian kalian sepasukan tentara anti huru-hara mendatangi rumah kita dan mereka mengejarku."

Len, Mikuo dan Hiyama membulatkan mata kaget. Kaito langsung mengenggam pergelangan tangan istrinya, "Kau tidak terluka, kan? Mereka tidak melakukan hal yang kasar padamu, kan? Kenapa kau tidak mengatakan padaku tadi?"

Meiko tersenyum lembut, "Aku tidak apa-apa. Tapi aku dikejar oleh semua pasukan militer. Karena itu aku berpindah-pindah sebelum akhirnya bisa kesini. Sangat riskan kalau aku langsung kabur ke desa ini,"

"Kenapa mereka mengejarmu?"

"Sebenarnya mereka mengejar kalian. Berita kalau kalian menyerbu masuk ke gedung pemerintah dan menculik Rin-chan sudah tersebar luas."

"Menculik? Apa maksudnya menculik?" Kali ini Len angkat suara.

"Kalian tidak tahu? Kalian-" Mikuo memandang satu per satu semua orang yang ada dihadapannya, "-serta satu orang pemuda lagi. Kalian dinyatakan sebagai penjahat kelas internasional karena sudah menganggu ketentraman dunia karena menculik Rin-chan dari pemerintah."

Situasi langsung hening. Len yang pertama kali membuka suara, "Aku tahu Mr. Gentleman itu pasti akan melakukan suatu hal yang gila. Tapi tak kusangka ia segila itu,"

"Pengumumannya sudah cukup lama tersebar. Sekitar dua minggu yang lalu,"

Mikuo dan Len salin berpandangan. Kurang lebih satu hari setelah mereka melakukan kunjungan kepada si Mr. Gentleman.

"Sebenarnya apa yang telah kalian lakukan?" Meiko menuntut penjelasan. Wajar saja, semua orang yang ia sayangi tiba-tiba saja jadi buronan internasional.

Mereka semua saling berpandangan sebelum akhirnya Mikuo berdehem keras. "Ehm, aku tidak tahu harus mulai darimana tapi yang pasti, nona summoner saat ini dalam keadaan koma."

"Rin-chan? Koma? Kenapa?" Meiko memandang Len.

"Kami tidak yakin pasti. Tapi kami bisa menarik kesimpulan-" Mikuo berbaik hati menjelaskan dan Meiko menatap Mikuo dengan campuran panik dan penasaran.

"-kemungkinan Kamine-san sengaja membuat dirinya koma dengan kekuatannya," lanjut Mikuo.

"Tapi kenapa?"

Mikuo mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi aku menebak pihak pemerintah memaksa Kamine-san untuk melakukan apa yang mereka inginkan dengan kekuatan summoner. Tapi Kamine-san menolak dan membuat dirinya koma."

"Pantas saja keadaan dunia sangat buruk sekarang. Rin-chan tidak bisa menahan kekuatan pemuda itu,"

"Sejak dulu memang begitu, selalu mengincar kekuatan summoner untuk diri mereka sendiri. Orang-orang pemerintah itu tamak akan kekuatan," Mikuo melanjutkan tapi tidak membuat siapapun merasa lebih baik.

"Apa tidak ada cara untuk membangunkan Rin-chan?"

Len menggeleng, "Dia menggunakan kekuatannya sendiri untuk membuatnya koma. Hanya Kamine-san dan Tuhan saja yang tahu kapan ia akan bangun,"

Suasana kembali hening.

"Kita harus bersiap-siap. Hanya masalah waktu pihak militer dunia tahu keberadaan desa ini." Kaito memandang Hiyama. Hiyama mengangguk paham dan keluar dari ruangan itu. Melakukan entah apa yang Len yakin berhubungan mengenai masalah keamanan desa.

"Meiko lebih baik kau istirahat. Kau telah mengalami hal yang mengerikan," Kaito mengulurkan tangannya yang disambut oleh Meiko.

"Ah tunggu. Ibu, pesananku?"

Meiko memandang Len dengan tatapan menyesal. "Maafkan aku Len. Aku terlalu sibuk memikirkan untuk menghindari dari kejaran pasukan pemerintah."

Len mengangguk paham. "Tak masalah," gumamnya.

"Sekali lagi, aku minta maaf," Meiko merasa menyesal tapi Len melambaikan tangannya seakan bukan masalah besar. Kaito memandang bingung tapi segera menarik tangan istrinya dan keluar dari ruangan itu.

Len menghela napas kecewa. Tapi setidaknya ibunya bisa ke desa ini dalam keadaan baik-baik saja. Len tahu ia harusnya tidak mengeluh.

"Pesanan apa?"

Len hampir lupa masih ada Mikuo disana. "Bukan apa-apa," gumam Len. Pemuda itu melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan, meninggalkan Mikuo yang saat ini mulai merebahkan dirinya.

Sekarang bagaimana caranya agar Len bisa memperoleh informasi lebih mendalam?


.

.

.


Beberapa hari telah lewat sejak kedatangan Meiko di desa ksatria. Hari-hari masih berlalu seperti biasa walau ada tambahan gempa besar yang sudah terjadi beberapa kali dalam durasi waktu yang cukup lama. Untunglah sepertinya kekuatan para ksatria cukup untuk meminimalisir kerusakan. Terbukti tidak ada kerusakan yang berarti, palingan hanya sedikit genteng yang jatuh atau tiang rumah yang tiba-tiba roboh karena memang sudah tidak kuat menopang rumah atau pohon besar yang tiba-tiba roboh.

Selain itu desa ksatria benar-benar terisolasi dari dunia luar. Tidak ada berita dari luar atau apapun yang bisa masuk ke desa ksatria. Tapi mereka menganggap semua itu bukan masalah. Mereka percaya pada keputusan atasan mereka, menjadikan beban yang harus ditanggung Kaito sangat berat. Selain itu desa mereka yang terletak di pegunungan juga memudahkan mereka untuk terus menambah suplai makanan dan air minum. Jadi intinya memang tidak ada masalah yang serius.

Len masih seperti biasa, kabur dari para penggemarnya yang sekarang makin gila-gilaan mengajaknya untuk sparring. Sebenarnya bukan mengajak tapi memaksa. Apalagi ditambah dengan Gumiya dan Hiyama yang jelas-jelas tidak berada di pihaknya dan justru memaksanya untuk latihan dengan mereka semua. Rasanya begitu melelahkan, Len merasa seakan tulang-tulang di tubuhnya akan copot semua.

Bukannya Len mau mengeluh, eh dia memang mengeluh sih, tapi ayolah. Dalam kehidupan nyata situasi yang Len alami ini sama dengan perang, bukan pertempuran biasa. Dan kalau mereka akan berperang Len tidak akan menghadapi semua musuh sendirian kan? Sialnya Mikuo malah mendukung Len dibully habis-habisan seperti itu dengan alasan menjaga ketahanan dan kemampuan tubuh. Hell! Lihat saja nanti, Len pasti akan membalas semua bullyan Mikuo itu!

Saat ini Len sedang berhadapan dengan Hiyama dan Gumiya, dua orang ksatria yang memang spesialis bertarung jarak dekat. Len harus mengakui sparring dengan mereka memang lumayan menyenangkan. Hiyama memiliki stamina tubuh yang cukup kuat sementara Gumiya selalu memiliki kejutan dan tipuan di setiap pertarungan. Berlatih dengan mereka setidaknya memberi manfaat untuk Len. Ia dipaksa untuk bertahan lebih lama, melewati batas kekuatan tubuhnya dan harus cerdik dan licik disetiap saat.

Len berkelit dari sabetan pedang, blade atau apapun yang digunakan oleh Hiyama dan Gumiya. Cukup tricky untuk setidaknya menghentikan gerakan mereka. Mungkin karena Hiyama dan Gumiya sering melakukan misi bersama-sama makanya mereka seperti bisa membaca pikiran kawannya masing-masing. Kali ini Hiyama bertugas untuk menyerang sementara Gumiya menyudutkan gerakan dan serangan Len. Hiyama menebas Len dengan sebuah blade dari atas akan tetapi Len bersalto kebelakang. Sayangnya Gumiya sudah melesat kearah belakang Len dan menendang lengannya yang sedang dijadikan tumpuan. Lengan Len goyah dan tubuhnya terjatuh ke tanah yang dimana Gumiya sudah siap untuk menghujamkan pedangnya ke tubuh Len. Akan tetapi Len menendang pedang Gumiya hingga terlepas sekaligus memanfaatkan daya putar tubuhnya untuk bangkit dan meloncat menjauh. Sayangnya lagi-lagi Hiyama telah menunggu dibelakang Len dan menghujam pedangnya. Keseimbangan Len belum mantap sehingga ia hanya bisa bergeser untuk menghindar tapi sayang pedang itu menyerempet sisi tubuh Len, membuat tubuhnya tergores dan mengeluarkan sedikit darah.

Len berusaha berlari menjauh dari kedua lawannya tapi Gumiya dan Hiyama tidak menyerah dan mengejar Len. Len berlari lalu mendadak berhenti sementara Gumiya dan Hiyama masih melaju kencang dengan lari mereka. Saat Hiyama dan Gumiya siap menghujam senjata mereka Len meloncati mereka berdua dan melemparkan pisau dalam jumlah banyak yang diciptakan dengan kekuatannya. Gumiya berkelit sementara Hiyama menebas semua pisau yang melaju dari angkasa. Len baru saja mendarat di tanah tetapi Gumiya sambil berkelit dari pisau ternyata berusaha mendekati tempat Len mendarat. Gumiya mengayunkan tinjunya kearah wajah Len tapi Len menjauhkan wajahnya dari wilayah tinju Gumiya. Akan tetapi tiba-tiba darah memancar dari pipi Len dan terpaksa membuat pemuda itu melompat beberapa langkah ke belakang. Len menyeka darah di wajahnya dengan terkejut dan memandang tinju Gumiya yang ternyata menyembunyikan pisau kecil yang tak terlihat.

Len meringis sementara Gumiya tersenyum puas.

"Ya! Cukup!"

Mikuo menatap penuh semangat dengan sparring yang baru saja mereka lakukan sementara Hiyama menghilangkan senjatanya dan Gumiya merenggangkan tubuhnya. Len terduduk di tanah tidak memedulikan problema higienis tubuhnya karena sejak awalnya tubuh dan pakaiannya sudah kotor karena sparring.

"Sparring yang cukup menarik, kan?" Mikuo mendekati mereka semua.

"Kami banyak belajar dari anda dan Kagamine-san," Gumiya berterima kasih dengan nada formal.

"Capek sekali," keluh Len. Pemuda itu merebahkan tubuhnya di tanah. Lagi-lagi tidak peduli dengan semua tanah, debu dan kotoran yang menempel.

"Tapi kau bertahan selama sepuluh menit melawan mereka berdua. Aku cukup bangga ternyata kau bisa bertahan," Mikuo menyodorkan sebotol air minum kepada Len yang langsung disambut pemuda itu.

"Melawan mereka sungguh mengerikan," keluh Len. Gumiya menyeringai sementara Hiyama tersenyum sambil membereskan kacamatanya.

"Aku benar-benar dituntut untuk cerdik, licik dan berpikir lebih cepat untuk melumpuhkan mereka," sambung Len. "Sayang aku belum bisa mengalahkan mereka berdua,"

Gumiya dan Hiyama menyeringai. "Kami anggap itu adalah pujian,"

Mikuo menoyor kepala Len, "Mereka berdua adalah ksatria andalan di desa ini. Tentu saja mereka tidak mudah dikalahkan," Len cuma bisa melotot sebal pada Mikuo yang sudah kurang ajar pada kepalanya ini.

"Hiyama-san! Situasi gawat!"

Seorang ksatria berlari dengan panik. Semua orang memandangi ksatria malang yang baru saja tiba. "Kami tidak tahu bagaimana tapi ini gawat. Pasukan militer sedang mengarah kesini!"

"Apa maksudmu pasukan militer kesini?"

"Bukankah aku sudah menyuruh kalian berjaga hingga batas sepuluh kilometer batas desa?" Hiyama berusaha tenang.

"Itulah. Kami tidak tahu. Satu menit yang lalu tiba-tiba saja mereka hampir mendekati perbatasan sepuluh kilometer-" akan tetapi penjelasan ksatria itu langsung dipotong dengan isyarat tangan Hiyama.

Hiyama menutup mata seakan berkonsentrasi.

"Uh oh. Lebih baik kalian tutup telinga sekarang," ujar Gumiya pada semua orang disana, ia sendiri sudah menutup telinganya. Len tidak mengerti tapi ia juga mengikuti nasehat Gumiya menutup telinga.

"Pasukan baris ketiga! Siapkan medan pelindung sekarang!" Hiyama berteriak membahana. Dan tidak ekedar keras, perintah itu seakan bergaung diseluruh pegunungan desa ksatria. Dalam sekejap tiba-tiba saja medan pelindung tercipta, melindungi desa ksatria.

"Pasukan baris kedua! Medang pelindung!" Hiyama kembali berteriak dan tak lama medan pelindung kedua yang ada di dalam medan pelindung pertama dengan ruang lingkup lebih kecil tercipta.

"Pasukan baris pertama! Medan pelindung!" dan hal yang sama kembali terulang. Kali ini medan pelindung yang lebih kecil dan melindungi persis area desa ksatria.

Gumiya membuka telinganya yang diikuti oleh semua orang. "Apa itu tadi?"

"Perintah sihir. Memastikan agar kami tidak kehilangan waktu jika diserang mendadak seperti ini." Gumiya menatap Len, "Ini adalah kemampuan yang dilakukan hanya dalam keadaan terdesak."

"Gumiya, kau laporkan semua ini pada Kaito-sama. Mikuo-san kau bisa ikut aku ke garis depan?"

Gumiya dan Mikuo mengangguk. Len telah bangkit dan berdiri sekarang, "Aku juga ikut ke garis depan."

"Tidak boleh," Mikuo langsung menjawab. "Tugasmu saat ini melindungi nona summoner."

Len berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan berlari menyusul Gumiya yang sudah terlebih dulu kembali ke rumah utama. Len berhasil berlari cepat dan sejajar dengan Gumiya, "Mereka akhirnya berhasil mengetahui letak desa ini," ujar Gumiya yang sebenarnya lebih ke diri sendiri.

"Sejak awal mereka memang tidak suka kita, bangsa ksatria." Ujar Len secara gamblang.

Rumah utama sudah ada di depan mata mereka dan mereka bisa melihat Kaito dan Meiko berdiri siaga di depan rumah. Len dan Gumiya berhenti tepat di depan mereka. Kaito memasang wajah menuntut untuk tahu.

"Pasukan militer menyerbu kemari." Gumiya menjelaskan singkat.

"Aku akan melihat Kamine," Len melanjutkan larinya. Kaito mengangguk. Len kembali berlari melesat tapi dari sudut matanya ia bisa melihat Kaito dan Gumiya lari melesat entah kemana meninggalkan Meiko sendirian.

Cring~

Len merasakan kembali hubungan antara dirinya dengan Rin. Pemuda itu semakin mempercepat larinya. Firasatnya tidak enak. Pertama kali hubungan mereka kembali terasa adalah beberapa hari yang lalu saat terjadi gempa besar. Entah kenapa Len merasa kali ini akan terjadi sesuatu yang lebih besar, lebih gawat.

Pintu geser dibuka secara kasar dan Len langsung berhenti berlari, berlutut di sebelah Rin yang sedang terbaring diatas futon. Tanpa membuang waktu ia langsung merealisasikan empat pedang yang menancap di empat sudut kamar tersebut. Len memang tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi akan lebih baik jaga-jaga daripada menyesal.

Cring~ Cring~ Cring~ Cring~ Cring~

Len merasakan jantungnya berdegup kencang. Apa-apaan ini? Kenapa hubungan antara dirinya dan Rin terasa begitu menguat? Perasaan Len menjadi semakin tidak enak. Tidak pernah Len rasakan hubungan diantara mereka sekuat sekarang, bahkan tidak saat Rin masih tersadar dan berada di dekatnya.

Cring~ Cring~ Cring~ Cring~ Cring~

Hubungan mereka bagaikan bunyi lonceng kecil di telinga Len, terus bergerincing membuat dirinya merasakan beban mental yang begitu kuat. Len berusaha waspada, menajamkan semua panca inderanya. Napasnya dipaksa untuk tenang, memasukkan oksigen ke paru-parunya agar bisa berpikir jenih. Akan tetapi suara lonceng yang bergerincing di telinganya benar-benar menganggu.

Cring~ Cring~ Cring~ Cring~ Cring~

Cring~ Cring~ Cring~ Cring~ Cring~

Cring~ Cring~ Cring~ Cring~ Cring~

Rasanya Len mau gila mendengar bunyi bergerincing di telinganya itu. Ada apa sebenarnya sampai-

Len~

Len membelalakkan matanya dan menatap Rin yang masih tertidur. Tadi ia mendengarnya, ia kembali mendengar suara Rin.

"Kami-"

Gempa besar kembali terjadi, akan tetapi Len merasa gempa kali ini berbeda. Gempa kali ini begitu dashyat. Len melihat kayu pondasi rumah berderik-derik dengan bunyi mengerikan. Segera saja Len kembali meraup tubuh Rin dan berlari keluar rumah. Akan tetapi saat Len berhasil keluar rumah semua hal yang ada di luar berderik mengerikan, pohon, atap rumah atau apapun. Len tidak berpikir apapun dan berusaha berlari ke lapangan latihan, disana adalah ruang terbuka kosong yang cukup luas. Setidaknya kalau kesana baik Len dan Rin bisa terlindungi dari apapun yang berpotensi roboh.

Sewaktu Len tiba di lapangan ternyata bukan hanya Len yang berpikir seperti itu, banyak warga desa ksatria yang berkumpul di lapangan untuk berlindung. Len perkirakan tidak semua warga desa ada di sana, mungkin ada yang ke lapangan lain atau berada di garis depan. Semua orang yang ada di lapangan menggunakan kekuatannya, menancapkan senjata yang mereka realisasikan di tanah untuk membantu keseimbangan mereka. Anak-anak berpegangan erat pada orang tuanya. Terlihat jelas mereka semua dalam keadaan panik dan ketakutan. Sewaktu Len tiba disana Meiko segera memberi isyarat untuk menghampirinya.

"Syukurlah, kupikir-"

Akan tetapi ucapan Meiko terpotong karena bumi berguncang lebih dashyat daripada biasanya. Anak-anak mulai menangis meraung ketakutan sementara para ksatria dewasa juga mulai panik. Tubuh mereka semua jatuh tertelungkup diatas tanah karena selain bumi bergetar begitu keras entah kenapa tubuh mereka terasa berat. Pohon-pohon dan rumah-rumah mulai rubuh karena mengalami tekanan yang berat.

Len menempatkan tubuh Rin dibawa tubuhnya, lengannya memeluk Rin sementara tangannya yang lain memegang erat pedang yang ia jadikan tumpuan. Getaran itu terus terasa semakin mengeras hingga-

DHUARR!

Terdengar suara ledakan raksasa yang memekakan telinga. Entah darimana sumber ledakan itu tapi ledakan itu tidak hanya satu, melainkan berderet.

DHUARR! DHUARR! DHUARR!

"Apa itu?!"

"Ada apa ini?"

Semua orang panik dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Anak-anak menangis meraung ketakutan dan semua orang memucat. Len menatap angkasa yang entah kenapa tiba-tiba saja menggelap. Getaran bumi semakin menguat dan langit menggelap, di satu titik di cakrawala terlihat warna merah yang membara. Len tidak berani membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Pikirannya begitu panik dan kakinya lumpuh karena tekanan yang berat sekaligus rasa takut. Len hanya mampu memeluk tubuh Rin dengan erat.

Semua orang berteriak panik akan tetapi tak ada satupun yang bisa pergi dari tempat itu. Getaran yang kuat, langit yang gelap, tekanan yang berat dan rasa takut yang melumpuhkan, sungguh kombinasi yang membangkitkan kelemahan dan ketakutan manusia. Len tak mampu melakukan apapun kecuali memluk erat tubuh Rin. Len mengkhawatirkan ayahnya, Mikuo dan semua ksatria yang berada di garis depan. Len mengkhawatirkan situasi saat ini. Wajahnya pucat dan pikirannya buntu. Ia benar-benar merasa takut sekarang. Bahkan ikatan yang dirasakannya bersama Rin semakin menguat, membuat telinganya berdenging tidak hanya karena suara lonceng yang bergerincing tetapi juga teriakan panik semua orang.

Tanpa sadar Len meletakkan dahinya di dahi Rin. Wajahnya putus asa, "Apa yang harus kulakukan, Rin?"

Tapi tidak ada jawaban apapun.

"HAHAHAHA!"

Suara tawa yang keji terdengar membahana.

"Kalian lihat itu semua?! Inilah kekuatanku!"

Len kenal dengan suara itu, dengan susah payah pemuda itu mendongak memandang angkasa. Agak sulit karena tekanan berat masih terasa tapi Len berhasil menemukan sosok mengerikan yang saat ini dipenuhi rasa puas. Akita Nero sedang melayang di angkasa, memandang rendah pada semua yang ada di permukaan bumi. Len mengeratkan genggaman pada pedangnya, merasa bingung apakah ia harus menghadapi Nero atau tetap disamping Rin dan melindunginya.

Jujur saja tubuh Len saat ini benar-benar berat dan rasa takut menggelayut dalam hatinya. Sudut matanya menangkap sosok semua orang yang ada di desanya. Orang tuanya, kawan latihan, anak-anak. Tapi kalau begini terus-

Tubuh Rin yang saat ini dipeluk oleh Len tiba-tiba bersinar dengan terang, seakan-akan Rin adalah pusat cahaya di kegelapan saat itu. Cahaya itu sangat membutakan mata sehingga Len dan semua orang menutup mata mereka. Len menutup erat matanya tapi masih memeluk erat tubuh Rin. Ia menunggu apapun yang mungkin akan terjadi, akan tetapi tidak terjadi apapun.

Len membuka matanya dan menatap tubuh Rin yang barusan bersinar terang, tentu itu bukan sekedar mimpi kan? Cahaya tadi benar-benar terang dan Len masih merasakan matanya memanas. Len kembali menatap angkasa dimana Nero berada tapi sekarang monster itu tidak sendirian. Seseorang sedang bertempur dengan Nero. Len menyipitkan mata dan mengenali sosok yang melawan Nero, itu adalah Lumiere, salah satu spirit yang dimiliki oleh Rin.

Len kembali menatap Rin tapi gadis itu masih tertidur, jadi bagaimana?

Len merasakan bumi mendadak berhenti bergetar dan tidak ada lagi tekanan berat yang menghalangi tubuh. Tidak jauh di depan mereka terdapat sosok asing bagaikan monster yang tercipta dari tanah. Itu adalah Gnome, salah satu spirit milik Rin. Len belum pernah bertemu dengan spirit itu sebelumnya tapi Len bisa merasakan sosok itu tidak bermaksud jahat. Malahan Gnome saat ini menghujamkan kedua tangannya di tanah, berusaha menghentikan getaran bumi.

Len kembali menatap Nero yang sedang bertarung dengan Lumiere. Pertarungan mereka begitu cepat sehingga yang terlihat hanyalah kibasan cahaya dan warna. Len memandang sekelilingnya, semua orang tampak terpana dengan Gnome maupun sosok Lumiere yang sedang bertarung. Anak-anak masih menangis dan sedang ditenangkan oleh orang tua masing-masing. Len melirik Meiko, "Ibu, bisa aku serahkan Rin kepadamu?"

Meiko membulatkan matanya, "Len, kau mau apa?"

Len menatap tajam ibunya dan kembali menatap Nero, "Aku harus melawannya!"

"Tidak boleh! Kau-"

"Ibu! Ini adalah tugasku! Aku harus melindungi Kamine dari monster itu!" Len berkeras dan menatap ibunya dengan tajam.

Ada rasa berat di hati Meiko. Tentu saja, Ibu mana yang tidak cemas ketika keluarganya semuanya sedang menghadapi bahaya secara langsung. Tapi Meiko paham bahwa Len sedang berusaha melaksanakan tanggung jawabnya. Dengan berat hati Meiko mengangguk yang langsung diserahi tubuh Rin oleh Len untuk dijaga.

Len telah berdiri, tangannya siap menggenggam pedang dan matanya menatap gerakan Nero yang berkelit dari serangan Lumiere, bersiap maju ke medan tempur saat Meiko berteriak memanggilnya, "Hati-hati, Len." Meiko memasang wajah cemas.

Len menatap ibunya dan menatap Rin yang saat ini sedang dipeluk oleh Meiko, ia tersenyum dan mengangguk. "Aku akan hati-hati."

Dan tubuh Len mengeluarkan pendar cahaya biru sebelum akhirnya menghilang. Len melakukan teleportasi.


.

.

.


PRAKK!

Len menyarangkan serangan kepada Nero. Bisa Len rasakan saat ini tubuhnya mulai tertarik gravitasi Bumi. Pertempuran di angkasa seperti ini memang tidak pernah jadi keuntungannya karena itu Len berusaha memaksa Nero turun ke permukaan tanah.

Nero menyabetkan pedangnya berganti-gantian kearah Len atau kearah Lumiere. Sesekali Len terpaksa berteleportasi ke atas Nero supaya lebih mudah menyerang. Tapi ia menyadari ia tidak bisa terus menerus teleportasi atau kekuatannya akan terkuras lebih cepat. Dari sudut matanya Len bisa melihat Lumiere juga berusaha menarik pertarungan ini ke permukaan tanah. Meskipun light spirit itu bisa bertarung di langit secara bebas tapi saat ini ia berusaha agar Len bisa memperoleh keuntungan bertarung.

Sayangnya Akita Nero mengetahui hal itu dan tidak mudah terjebak ke arah pancingan Len dan Lumiere. Terpaksa Len harus melakukan teleportasi berkali-kali untuk perlahan menarik Nero ke permukaan tanah.

Len baru saja berteleportasi ke cabang pohon yang cukup dekat dengan posisi Nero. Pemuda monster itu meletakkan pedang panjang miliknya di bahu dan menatap Len dengan meremehkan.

"Kita bertemu lagi bocah!"

Len berusaha menangkan napasnya yang memburu, "Sebenarnya aku tidak mau bertemu lagi denganmu,"

"Kalau begitu mati saja!" Nero mengayunkan pedangnya ke arah Len yang langsung dihindari dengan teleportasi. Pertarungan terjadi dengan begitu cepat sehingga yang terlihat hanyalah sabetan cahaya dan warna. Sesekali bunyi udara yang terpotong membuat bulu kuduk merinding.

Semua orang yang berada di permukaan hanya mampu melihat sabetan pedang dan warna yang tak beraturan. Semua orang masih merasa lelah dan cemas atas peristiwa yang baru saja mereka alami.

Len juga merasakan tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Kekuatannya berkurang dengan cepat karena kemampuan teleportasi yang digunakan berkali-kali. Nero hampir saja menyarangkan pedangnya di perut Len ketika Lumiere berhasil menebas jalur sabetan Nero dan seseorang menebas bagian belakang tubuh Nero.

Len menggapai dahan pohon terdekat, bersalto dan berlutut di salah satu cabang pohon yang tebal dan mampu menahan berat tubuhnya. Mikuo telah masuk dalam pertempuran. Len memanfaatkan kesempatan ini untuk menstabilkan napasnya dan beristirahat sebentar untuk mengembalikan kekuatannya. Mata Len mengikuti gerakan Mikuo, Lumiere dan Akita Nero. Jelas Lumiere dan Nero tidak menunjukkan rasa lelah karena mereka bukan manusia. Akan tetapi Len bisa melihat gerakan Mikuo tidak segesit biasanya, pastinya karena tekanan berat akibat gempa dashyat yang terjadi.

Len kembali memasuki pertarungan dimana posisi Nero menghadapi tiga orang. Len bisa melihat Nero mulai sedikit kewalahan menghadapi mereka. Kalau mereka bertiga bisa bertahan lebih lama mungkin-

Tubuh Nero memendarkan warna ungu yang gelap.

DHUARR! DHUARR! DHUARR!

Len dan Mikuo berteleportasi ke cabang pohon terdekat, mata Len memandang ke bawah dimana tubuh Rin, Meiko dan semua orang berada. Gnome masih ada di dekat mereka dan berusaha mencegah getaran bumi kembali terjadi, tapi dari cabang pohon yang sedang didudukinya Len bisa merasakan bumi bergetar cukup kuat.

Len kembali menatap Nero dan kembali berteleportasi untuk menyerang pemuda monster itu. Mikuo juga melakukan hal yang sama tapi Nero berhasil menyarangkan sabetan pedang yang cukup dalam ke tubuh mereka berdua. Len dan Mikuo terpental jatuh bebas dari ketinggian yang cukup tinggi dan berbahaya. Sebelum tubuhnya membentur tanah Len memaksakan dirinya untuk berteleportasi langsung ke permukaan tanah. Usahanya berhasil tapi kali ini kekuatannya benar-benar habis. Darah merembes keluar dari luka parah yang ada di perutnya, kepalanya terasa pusing dan lemah. Luka-luka kecil yang berada di sekujur tubuhnya terasa perih.

Len kembali menatap angkasa dan melihat sosok Lumiere yang semakin lama semakin menghilang. Bumi kembali bergetar dengan kencang dan sayup-sayup Len bisa mendengar suara teriakan panik. Len berusaha tenang walaupun sangat sulit, kalau Lumiere menghilang dan bumi kembali berguncang ada kemungkinan semua spirit milik Rin telah menghilang. Len menatap Nero yang masih berada di angkasa, suara tawa kejinya terdengar membahana.

Ia harus segera kembali ke tempat Rin berada!


.

.

.


Gnome dan Lumiere telah menghilang. Meiko memandang angkasa dimana anakanya dan Mikuo baru saja bertarung. Meiko benar-benar ingin menangis sekarang. Ia yakin melihat dengan jelas bagaimana pedang pemuda monster itu menebas Len dan Mikuo di daerah yang vital. Mikuo dan Len terpental ke arah yang berlawanan. Meiko ingin sekali menangis dan mencari anaknya tapi ia berusaha tenang. Rin saat ini sedang dalam pelukannya dan semua orang kembali panik dan ketakutan. Meiko sudah tidak bisa berpikir apapun. Apa yang seharusnya ia lakukan sekarang?

"HAHAHAHAHA!" Nero tertawa dengan keji.

"Akhirnya kekuatanku bangkit! Dan bangsa dewa bisa kembali menguasai dunia ini!" Suara Nero bergema dengan kencang. Meiko merasakan rasa takut yang melumpuhkan. Ia tidak bisa berpikir maupun bergerak, bahkan untuk bernapas saja terasa sulit. Apa? Apa yang seharusnya ia lakukan?

Tubuh Rin kembali mengeluarkan cahaya yang kuat, Meiko dan semua orang terpaksa harus menatap mata. Cahaya itu menarik perhatian Nero dan memandang kearah mereka semua. Meiko merasa panik dan memeluk erat Rin. Ia tidak yakin bagaimana harus melindungi tubuh Rin.

"Kau summoner-" Nero menunjuk Rin dengan pedang panjangnya.

Meiko dan semua orang merasa takut akan tetapi mereka tidak punya kekuatan untuk lari.

"-matilah kau!" Nero melesat kearah Rin dan Meiko. Meiko memeluk erat tubuh Rin.

"Cukup Bahamut!"


.

.

.


Cring~

Mikuo memaksa tubuhnya untuk bergerak. Sebelum tubuhnya membentur tanah ia berhasil melakukan teleportasi. Akan tetapi luka di tubuhnya dan kekuatannya yang habis benar-benar membuat tubuhnya tidak bisa bergerak. Mikuo ingin istirahat sebentar akan tetapi ia bisa merasakan adanya ikatan aneh yang tiba-tiba mengalir dalam dirinya. Sudah lama sekali sejak ia merasakan ikatan ini.


.

.

.


Kamine Rin membuka matanya dan melepaskan diri dari pelukan Meiko.

"Rin-chan," Meiko berusaha memanggil Rin tapi gadis itu tidak mempedulikannya. Ia berdiri dan menatap Nero yang melaju kearahnya. Tubuh Rin berdiri seimbang dan stabil padahal bumi masih bergetar dengan keras. Meiko berusaha meraih Rin tapi tubuhnya tidak kuat menahan beban berat yang kembali menghadang tubuhnya. Wajah Rin tampak tenang, di tangan kanannya berkumpul cahaya yang semakin lama semakin terang dan membentuk sebuah tongkat.

Nero yang melihat itu langsung berhenti melesat dan bertahan di angkasa, matanya memandang Rin dengan waspada. Tangan Rin menggenggam sebuah tongkat panjang dimana pada ujung tongkat itu terdapat ukiran yang rumit membentuk lingkaran. Di sisi kanan dan kiri ukiran lingkaran tersebut terdapat gelang-gelang emas yang digantung sebanyak lima gelang masing-masing sisi. Rin menghentakkan tongkatnya ke tanah, gelang-gelang emas itu bergerincing bagaikan bunyi bel. Hentakan tongkat itu menghentikan getaran bumi yang dashyat.

"Kau tidak bisa menyegelku sekarang!" Nero meraung keji.

"Dan masih belum saatnya bagimu untuk menghancurkan dunia ini," balas Rin dengan suara yang tenang.

"Kau tidak diharapkan disini!" Nero bersiap menebaskan pedangnya pada Rin.


.

.

.


Di lain tempat, Len melihat Nero yang menggila dan melesat kesatu arah ke bawah. Benaknya berpacu dan memaksa tubuhnya untuk berlari lebih cepat. Ia benar-benar khawatir dengan tubuh Rin. "Ada apa sebenarnya?" gumamnya.

Rin melihat Nero yang menggila dan melesat kearahnya tapi tetap terlihat tenang. Gadis itu mengangkat tongkatnya ke angkasa dan mengayunkannya, hiasan yang tadinya berada di atas tongkat kini bertemu dengan tanah. Bunyi bergerincing memenuhi angkasa.

"Pergilah dari tempat ini dan jangan pernah kembali lagi,"

Sebuah diagram sihir muncul di permukaan tanah, dari titik tongkat meluas hingga melewati pegunungan. Diagram sihir itu sangat luas sehingga Len tidak bisa melihat dimana ujungnya, "Siapa? Kekuatan siapa?" Len bergumam dengan bingung.

Belum selesai sampai disana, diagram sihir itu mengeluarkan cahaya dari tanah menuju angkasa. Cahaya putih yang sangat benderang bahkan sangat silau.

"Sialan kau summoner!" Hanya itu makian terakhir Nero sebelum sosoknya menghilang tersiram cahaya yang kuat.

Pilar cahaya antara bumi dan langit masih tercipta untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghilang sama sekali. Langit kembali menjadi terang dan tidak ada tanda-tanda merah membara di titik cakrawala langit. Akan tetapi kekuatan sihir dari diagram sihir masih terasa begitu kuat. Saking kuatnya semua bangsa ksatria bahkan para tentara dunia tidak sanggup berdiri atau bergerak. Mereka bagaikan ditekan oleh kekuatan yang tak terlihat. Meskipun begitu mereka semua tidak merasa takut. Ada rasa yang menenangkan walaupun mereka masih belum bisa menggerakkan tubuh mereka.

Berbeda dengan mereka, Mikuo dan Len justru pergi ke arah sumber kekuatan sihir itu. Walaupun mereka juga merasa tertekan oleh atmosfer sihir yang begitu kuat tapi entah kenapa mereka setidaknya masih sanggup bergerak, bahkan berlari. Kedua benak mereka dipenuhi pertanyaan mengenai siapa yang memiliki kekuatan begitu hebat.

Pertanyaan itu terjawab saat mereka melihat Diva sang song spirit yang melesat ke angkasa dan melatunkan sebuah lagu. Lagu penyembuhan dan pengembalian kembali apa yang telah hilang. Len dan Mikuo bisa merasakan luka-luka mereka perlahan menghilang. Mereka kembali memacu tubuh mereka untuk segera tiba di tempat tujuan.

Len akhirnya tiba di pusat kekuatan tersebut dan tidak mampu mempercayai matanya. Rin, Kamine Rin telah bangkit dari tidurnya. Pemuda itu melangkah perlahan, tidak ingin mengagetkan Rin.

"Kamine?" Bisik Len. Rin yang sedang memandang angkasa menurunkan pandangannya dan menatap Len. Gadis itu menatap Len dengan senyum lembut.

Bola mata Rin yang berwarna biru terlihat begitu indah. Len lupa kapan terakhir kalinya ia benar-benar memandang ke dalam bola mata Rin yang indah.

"Rin?" Len memberanikan diri memanggil nama kecil Rin.

Suara daun kering diinjak diarah yang berseberangan dari posisi Len. Mikuo akhirnya tiba di tempat itu dengan napas tersengal. Sedetik kemudian ia terjatuh dengan punggung mencium tanah. Tak menyangka seseorang langsung menubruk tubuhnya dan memeluknya.

"Mikuo-kun!

Suara yang riang bahkan terkesan manja dan suara itu berasal dari Rin. Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Mikuo yang masih kebingungan sementara Rin menggelayut manja.

"Aku kangen sama kamu!"

"Tunggu dulu! Apa-apaan ini?!"

Semua orang yang ada di sana cuma bisa memandang bingung.

.

.

.

to be continued