Marriage.
Disclemmar Naruto Masashi Kishimoto.
Hatake Kakashi & Narashi Kana.
Family Hurt Romance
06. Saling Membutuhkan: part03.
(Update : Sabtu/Minggu)
.
.
Kana tidak mengerti mengapa sekarang ia duduk di ruangan yang begitu asing. Ia memijat kepalanya karena terlalu pusing memikirkan kenapa ia bisa berada di sini. Ia mendesah lelah, berpikir untuk hal yang tidak jelas hanya akan membuat otaknya berasap jadi ia memilih untuk mengamati ruangan itu.
"Sederhana namun cocok." Ungkapnya bagaimana ia mengagumi dekorasi ruangan yang sekarang di tempatinya.
Ia kemudian beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya tepat ke hadapan sebuah lukisan yang menggantung di dinding. Tangannya mencoba untuk menyentuh lukisan itu. Ada sensasi aneh yang dirasakannya.
"Kau suka lukisan itu, nona?"
Ia terlonjak kaget dan dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada orang yang memasuki ruangan itu.
"Maaf, tuan. Saya tidak bermaksud untuk menyentuhnya." Pekik Kana merasa bersalah karena ia sudah lancang menyentuh milik orang lain.
Orang itu hanya tersenyum lebar. "Apa kau menyukai lukisan itu, nona?"
Kana memandangi orang didepannya yang tampaknya seusia dengan mendiang kakeknya lalu ia mengalihkan perhatiaannya pada lukisan yang dimaksud.
"Entahlah, saya hanya merasa lukisan ini begitu menakjubkan. Rasanya ketika saya melihat lukisan ini ada begitu banyak perasaan yang tercampur aduk tapi begitu sulit untuk dijelaskan. Dan saya rasa yang melukis lukisan ini begitu hebat."
Orang itu mengangguk setuju. "Teryata anda suka karya seni juga, nona."
"Sedikitnya saya punya ketertarikan khusus dalam menilai sebuah karya seni dalam bentuk apapun." Aku Kana. "Tapi maaf tuan, apakah anda pemilik tempat ini?" taya Kana pada orang itu.
"Kazuro. Kau bisa memanggilku dengan nama itu. Yah, dan benar aku pemilik tempat ini dan aku pulalah yang memanggilmu kemari, nona Kana? Benar?" jelas Kazuro.
"Ah.. ya, nama saya Kana. Bagaimana anda bisa mengetahui nama saya dan mengapa saya dipanggil kemari, errr...tuan Kazuro?"
Kazuro memilih untuk duduk di sofa. "Aku memiliki keperluan denganmu, nona Kana."
Kana mengernyit tak mengerti. Ia berpikir mengapa kakek yang tak dikenalnya yang sedang duduk manis di sofa memiliki keperluan dengannya.
"keperluan apa jika saya boleh tahu, tuan? " tanya Kana langsung. Seingatnya ia bukan orang penting ataupun orang hebat.
Kazuro menatap Kana dari atas kepala hingga kaki. Lalu tampak senyum tipis muncul di wajahnya.
"Cinta tak pernah memandang apapun."
"Hah? Cinta, tuan?" Kana tak mengerti mengapa setelah Kazuro menilai dirinya dari atas hingga bawah tubuhnya tiba-tiba orang tua itu mengatakan sebuah filosofi cinta yang begitu romantis di telinganya dan itu membuat ia sedikit merinding.
Entah darimana datangnya sebuah kepahaman masuk ke otaknya. Ditatapnya orang tua di depannya dengan perasaan ketakutan yang coba di sembunyikan baik-baik di dalam ketenangan yang sedang dia usahakan.
"Sebenarnya ada keperluan apa saya dipanggil kemari, tuan?" tanyanya setenang mungkin.
"Bagaimana kalau kita sedikit berbincang-bincang, nona?" tawar Kazuro ramah.
Kana memandangi orang tua di depannya tak mengerti. Seulas senyum paksa ia tampilkan di hadapan Kazuro.
"Maaf, tuan. Bukan maksud saya menolak tawaran anda. Hanya saja sebenarnya saya memiliki janji dengan seseorang yang harus saya laksanakan. Maka dari itu, jika anda tidak memiliki keperluan apapun lagi dengan saya, saya berharap anda mengijinkan saya untuk melaksanakan janji saya yang tertunda itu."
Kazuro menaikkan sebelah alis matanya. "Ah, ternyata anda sudah memiliki janji sebelumnya. Rupanya aku sudah menganggu kesibukan anda, nona."
"Ah.. ini sama sekali tidak menganggu."
"Kau boleh meninggalkan tempat ini. Kurasa mungkin aku akan memanggilmu lain waktu untuk berbincang-bincang, nona?"
Kana memandang Kazuro tak nyaman, namun ia mengangguk setuju. "Terimakasih atas hari ini."
Kazuro mengernyit heran. Seingatnya ia tak melakukan apapun yang sampai harus mendapatkan ucapan terima kasih.
"Dan saya permisi, tuan. Selamat sore." Salam Kana. Tak lupa ia membungkuk singkat di hadapan orang tua itu dan dengan langkah cepat ia membuka pintu dan menutupnya sepelan mungkin.
Kazuro menatap ocha yang dipengangnya. Kemudian setelah itu ia dengan tenang memimumnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya pada entah siapa.
Sesosok bayangan yang sedari tadi mengawasi Kana keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum. "Saya rasa tidak ada masalah, Kazuro-sama."
Kazuro tersenyum puas. "Kau benar." Ucapnya.
' ia gadis pintar.'
~O~
Kana berlari dengan kekuatan ekstra. Tak peduli keringat sudah membanjiri tubuhnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah ia ingin segera menjauh dari rumah yang baru saja ia kunjungi. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
Setelah dirasa sudah cukup jauh dari rumah itu, ia berhenti berlari. Ia mengelap keringatnya yang menghalangi penglihatannya. Ia tak peduli meski orang yang lalu lalang melihatnya heran.
"Kupikir kalau sekarang aku masih berada di tempat itu mungkin saja aku akan jadi gila! Oh...syukurlah!" leganya.
Ia mengusap wajahnya lelah mengingat seberapa cepat ia berlari. "Kurasa ini akan menjadi lari dengan rekor super tercepat yang bisa kuraih." Pekiknya geli.
Ia mendesah, kemudian ia menoleh dan mendapati sebuah kedai masuk di pandangannya. "Ichiraku ramen? Ramen?" pikirnya menimbang-nimbang apa perlu ia masuk kedai itu atau tidak.
"Kurasa Kujo sudah makan siang mengingat aku dan dia sudah berpisah sejak sejam yang lalu. Walaupun belum untuk apa aku peduli? Toh, dia bisa mengurusi dirinya sendiri."
Ia menatap kedai itu sekali lagi. "Sesekali makan ramen tidak masalah." ucapnya sambil memasuki kedai itu dan duduk di bangku yang sudah disediakan.
"Ah, selamat datang nona di kedai Ichiraku ramen." Sapa salah satu pegawai kedai padanya. Kana mengangguk sopan mendapati sapaan ramah itu. Ia kemudian menatap tampilan menu yang sengaja dipampang.
"Aku ingin satu porsi ramen dengan kuah miso." Pintanya.
Pegawai kedai mengangguk mengerti. Dengan cekatan pegawai itu mempersiapkan pesanannya. Sambil menunggu, ia melihat pegawai kedai itu yang tampak sangat menikmati menyediakan pesanan pelanggannya.
"Apa kalian ayah dan anak?" tanya Kana spontan. Ia hanya berpikir pegawai perempuan muda kedai itu terlhat memiliki kemiripan dengan pegawai kedai satunya lagi yang ia taksir seusia ayahnya. Ah, ia jadi teringat dengan kejadian sebelumnya.
Pegawai kedai itu saling bertatap satu sama lain. "Benar, nona. Kami adalah ayah dan anak. Namaku ichiraku Ayame. Panggil saja Ayame karena pengunjung yang lain memanggilku seperti itu." Ucap pegawai perempuan muda kedai itu dengan senyuman manis.
"Ichiraku Teuchi." Kenal sang ayah.
Kana menopang dagunya oleh kedua tangannya. Ia kemudian tersenyum. "Anda memiliki putri yang cantik, Teuchi-san. Kurasa banyak yang merayunya."
Wajah Ayame memerah mendengar ucapan itu sedangkan Teuchi tertawa keras, bahagia sekaligus bangga.
"Seandainya aku seorang lelaki, aku pasti sudah merayunya dan mengajaknya berkencan."
"Nona!" wajah Ayame semakin memerah sedangkan Teuchi semakin terbahak mendengar rayuan gombal untuk putrinya itu.
Ayame mendengus sebal. Dengan wajah yang masih memerah, ia menyajikan pesanan yang dipesan oleh pengunjungnya yang sukses berhasil menggodanya itu.
"Silahkan dinikmati ramennya, nona."
Kana tersenyum simpul melihat reaksi dari Ayame. Tapi kemudian fokusnya berubah kepada ramen yang baru saja disajikan di depannya itu. Aroma yang dikeluarkan dari kuah dan tampilan ramen yang menarik itu membuat perutnya semakin melilit kelaparan.
Ia pun memegang sumpit untuk segera memakannya tak sabar. Belum sampai ramen menuju mulutnya -
"Teuchi-jiisan!" Teriak seseorang penuh semangat.
- ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang dan akibat kecerobohan tanpa disengaja membuat satu mangkuk ramen plus yang akan dimakannya tumpah ruah ke atas tanah.
"Ah.." ia hanya bisa menatap sedih ramen yang bahkan belum sempat dicicpinya itu kini bersatu bersama dengan tanah.
"NARUTO!" ucap seseorang lain penuh intimidasi.
Ia memilih untuk meihat siapa yang sudah berhasil mengejutkannya. Di hadapanya ada tiga orang remaja.
"Anu... maaf." Salah satu remaja berambut orange penuh dengan rasa bersalah menatap padanya takut-takut. Jelas Kana tahu siapa remaja yang sedang berada di hadapannya.
Ia memandangi wajah pahlawan dunia shinobi itu dengan datar. Ia kemudian melihat ke arah Ayame yang sedikit cemas.
"Aku ingin memesan satu porsi ramen dengan kuah miso-lagi, Ayame-san, Teuchi-san. Maaf merepotkan."
"Oh.. hahahaha. Tidak apa-apa." Jawab Teuchi sambil mulai membuat ramen kembali dengan sedikit sedih.
"Anu...maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk membuat anda sampai sebegitu terkejutnya."
Remaja laki-laki satunya lagi hanya mendengus kecil. "Dasar Naruto-dobe!" ejeknya.
Naruto hanya mendengus sebal ke arah rekannya itu. "Berisik, Sasuke-teme!"
TAKKK!
Sebuah pukulan mendarat di kepala Naruto. Pemuda itu langsung meringis kesakitan –dan jelas saja kesakitan.
"Sakura! Sakit tau!" protes Naruto tak terima.
Sakura, remaja putri dengan warna rambut yang mirip dengan namanya menatap horor Naruto, membuat Naruto tidak berkutik.
Sakura menatap Kana. "Ah.. Onee-can, maafkan atas apa yang dilakukan oleh Naruto. Sebagai gantinya biar Naruto yang membayar semua pesanan, onee-can."
Naruto mendesah dan mengangguk. "Benar apa yang dikatakan Sakura, onee-can."
Kana masih menatap ke tiga remaja dihadapannya dengan datar sebelum senyum tipis hadir di wajahnya. "Terimakasih atas penawarannya, tapi tidak perlu repot-repot. Lagipula ini terjadi juga akibat kecerobahanku sendiri."
Mangkuk ramennya masih tergeleak tak berdaya di atas meja walau isinya sudah tidak ada lagi. Kana berinisiatif mengambil mangkuk itu untuk memindahkannya ke pojok meja. Ia menatap Ayame yang masih terdiam. "Bolehkah aku meminjam sesuatu untuk membersihkan tumpahan ramennya, Ayame-san?"
"Oh.. tidak perlu repot-repot, nona." Ucap Ayame gugup sambil segera membersihkannya.
Kana kemudian bergeser lebih ke ujung, memberi tempat kosong. "Silahkan duduk. Kurasa kalian kemari karena ingin menikmati ramen bukan?"
Naruto, Sasuke, Sakura tersentak, kemudian mereka mengangguk bersamaan. Dengan perasaan yang masih diliputi kecanggungan, merekapun duduk.
"Ayame-neesan, aku pesan ramen yang biasanya." Pinta Naruto pada Ayame dengan lemah lembut –sangat bukan khas Naruto.
"A..aku juga, Ayame-neesan. Ramen yang seperti biasanya." Pinta Sakura sedikit gugup.
Sasuke menatap Ayame yang sedang menunggu pesanan darinya. "kurasa aku juga ramen yang biasanya." Pinta Sasuke. Ayame mengangguk mengerti ramen seperti apa yang selalu disukai walau bocah Uchiha itu sudah lama tidak memakannya. Tampaknya hanya ia yang tak terlalu menjaga sikap.
Kana menatap Teuchi dan ia sama sekali tak perlu peduli apa yang sedang di perbincangkan oleh ketiga remaja yang duduk di sampingnya itu.
~O~
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan ramennya tiba di hadapannya dan begitu pula dengan ramen pesanan ketiga remaja itu. Ia pun mulai memakan ramennya dengan tenang dan santai. Mencoba menkmati sensasi rasa ramen yang lezat.
"Ini ramen yang sangat mengagumkan, Teuchi-san." Puji Kana.
Teuchi hanya tersenyum senang melihat pelanggannya begitu menikmati ramen yang di buatnya.
"Tentu saja! Ramen buatan Teuchi-jiisan tidak ada yang bisa mengalahkannya." Ungkap Naruto berapi-api. Kana tersenyum mengangguk.
"Apakah ini pertama kalinya anda kemari, onee-can?" tanya Sakura gugup.
"Benar. Ini pertama kalinya aku kemari." Jawab Kana.
Naruto menatap Kana tak percaya. "Yang benar, onee-can?"
"Benar. Ini pertama kalinya aku kemari. Kalau aku tahu ada ramen seenak ini pasti sudah lama aku menjadikannya favoritku."
Naruto cemberut.
"Apa aku telah mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Kana heran.
"Oyolah, oneecan. Jangan bercanda!"
Kana tak mengerti. "Hah?"
"Ramen buatan Teuchi-jiisan ini sudah terkenal sangat enak seKonoha, onee-can! Huh... memang onee-can selama ini tinggal dimana!?" sebal Naruto. Dan kemudian sebuah pukulan mengenai kepala Naruto.
"Sakura! Sakit tahu!" rengek Naruto. Sakura melotot ke arah Naruto dan kemudian tersenyum ke arah Kana.
"Tolong maafkan Naruto, onee-san." Pinta Sakura sopan.
"Tidak masalah, lagipula apa yang dikatakannya benar." Ucap Kana.
Sakura mendesah lega.
Merekapun melanjutkan acara memakan ramen yang sempat tertunda.
Teuchi dan Ayame yang sedari tadi melihat adegan itu hanya tersenyum senang karena semuanya kembali normal.
"Ng..dimana Kakashi-san, Naruto?" tanya Ayame.
Naruto menatap Ayame kemudian memajukan bibirnya sebal. "Kakashi-sensei sedang sangat sibuk, Ayame-neesan! Padahal kami sudah mengajaknya untuk makan ramen bersama."
"Benar, Ayame-san! Kakashi-sensei sungguh luar biasa sibuk!" ucap Sakura super kesal.
Sasuke hanya memutar bola matanya bosan.
Ayame mengangguk paham. "Tapi kudengar Kakashi-sensei menolak pertunangannya dengan nona Ayukawa."
"Begitulah." Jawab Naruto dan Sakura kompak.
Untuk beberapa detik. Kana berhenti mengunyah ramen di mulutnya.
"Sayang sekali. Padahal kupikir akhirnya Kakashi-san akan memiliki sebuah keluarga." Ujar Ayame sedikit sedih.
Naruto dan Sakura mendesah lelah dan mengangguk setuju atas apa yang dikatakan oleh Ayame.
"Ketika melihat Kurenai-sensei dan Asuma-sensei sudah memiliki anak, kadang aku juga merasa tak sabar untuk melihat Kakashi-sensei memiliki anak juga. Tapi mengingat sikap Kakashi-sensei yang seolah-olah tak peduli membuat kami kadang-kadang merasa kesal." Ungkap Sakura jujur.
"Kenapa harus kesal, Sakura?" tanya Sasuke.
"Tentu saja kesal, teme! Coba kau lihat Ino, Shikamaru, Couji, Kiba, Shino dan Hinata bagaimana mereka begitu sangat antusias untuk membicarakan anak sensei mereka, Mirai. Ughhh." Pekik Naruto sebal.
"Kau hanya ingin bersaing, Naruto-dobe!"
Naruto melotot ke arah Sasuke dan kemudian melanjutkan makan ramennya sebelum ia mendapat tatapan horor dari Sakura.
"Tapi setidaknya sekarang aku tidak terlalu khawatir dengan Kakashi-sensei." Ucap Sakura senang.
Ayame menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau tidak khawatir lagi, Sakura?"
"Dari yang kami dengar, tetua Kazuro mengatakan pada Kakashi-sensei untuk memperkenalkan calon istrinya."
Ayame melebarkan matanya. "Calon istri?"
Kana tersedak hebat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sakura membuat semuanya menoleh khawatir padanya. Dengan cepat Kana meminum minuman yang telah disediakan di depannya.
"Onee-can, kau baik saja?" tanya Sakura cemas.
Kana mendesah berkali-kali dan tersenyum ke arah Sakura. "Aku baik, terimakasih sudah bertanya."
Setelah itu Kana hanya menatap ke arah poster yang menggantung di dinding dalam kedai.
"Onee-can, kau benar baik-baik saja?" tanya Sakura bertambah cemas. Namun Kana tak merespon pertanyaan Sakura.
Kemudian Kana bangkit dan menyerahkan beberapa lembar uang yen pada Ayame. "Terimakasih ramennya, Teuchi-san, Ayame-san." Ia lalu menatap ke arah ketiga remaja yang menatapnya tak mengerti. "Dan sampai jumpa." Pamitnya kemudian meninggalkan kedai ichiraku.
"Kembaliannya, nona." Teriak Ayame karena melihat Kana menjauh. Kana menoleh dan tersenyum simpul. "Ambil saja, Ayame-san." Balas Kana sambil kemudian segera melangkah pergi kembali.
"Sebenarnya onee-can itu kenapa?" tanya Naruto heran.
"Apa onee-can itu kaget dengan apa yang kukatakan ya?" tanya Sakura pada dirinyya sendiri.
Sasuke hanya memutar bola matanya bosan.
"Jadi... calon istri?" tanya Ayame kembali melanjutkan berbica setelah terpotong.
"Benar, Ayame-san. Semuanya dimulai saat Gai-sensei bercerita bahwa ia tak sengaja melihat Kakashi-sensei tengah berjalan bersama seorang perempuan disamping Kakashi-sensei. Yah, intinya Gai-sensei melihat bahwa Kakash-sensei tampak begitu sangat bahagia saat bersama perempuan itu. Tampak seperti bukan Kakashi-sensei, itu cerita Gai-sensei pada kami tentunya dengan semangat luar biasa."
"Benarkah!?" tanya histeris Ayame.
Sasuke dan Naruto mengangguk.
Ayame yang melihat respon positif merasa senang. "Aku tak sabar untuk segera mengetahui perempuan seperti apa yang sudah memikat hati Kakashi-san."
"Aku?"
Ayame, Naruto, Sakura, Sasuke terkejut melihat seseorang yang baru saja datang yang tak lain orang yang tengah dibicarakan.
Kakashi memilih duduk di samping Naruto dan menatap Ayame. "Satu porsi ramen dengan kuah miso, Ayame-san?"
Ayame terlonjak kaget dan mengangguk mengerti. "Akan siap dalam beberapa menit, Kakashi-san."
"Lalu?"
Naruto, Sakura dan Sasuke mengernyit heran. "Lalu apa, Kakashi-sensei?" tanya Naruto kebingungan.
Kakashi mendesah. "Bukankah kalian sedang membicarakan diriku?"
"Kau menguping, Kakashi-sensei!" rajuk Sakura.
"Tidak, aku hanya mendengarkan saja." Jelas Kakashi.
"Sama saja!" sewot Sasuke.
Kakashi memutar bola matanya, lalu "Bagaimana jika kalian melanjutkan pembicaraan kalian yang terpotong itu?" tawarnya.
Sakura cemberut. "Darimana datangnya rasa percaya diri itu, Kakashi-sensei!?"
Kakashi memilih untuk mengabaikan pernyataan Sakura.
"Sensei." Panggil Naruto.
"Hem?"
"Kapan sensei akan memperkenalkan calon istri sensei kepada kami?" tanya Naruto penasaran. Ayame dan Teuchi langsung menoleh ke Naruto.
"Tidak ada siapapun." Jawab Kakashi malas.
"Ayolah, sensei. Kami hanya ingin mengenalnya sebelum kau memperkenalkannya pada yang lain!" rajuk Naruto kesal.
Kakashi menatap Naruto intens, sebuah senyum simpul terpatri di wajahnya. "Tidak ada siapapun. Titik." Jelas Kakashi dengan penuh ketegasan. Dan setelah itu ramen pesanannya tiba.
~O~
Kana memijit kepalanya yang mulai berdenyut sejak ia meninggalkan ramen Ichiraku yang baru dijumpainya pertama kali.
Dengan duduk di taman terbuka, dilindungi oleh pepohonan hijau dari panasnya terik matahari serta semilir angin yang menyejukkan tidak membuat Kana merasa ingin membaca atau melanjutkan bacaannya.
Hanya satu yang sedari tadi dipikirkan olehnya. Sesuatu yang tak sengaja telah meluncur dari mulut pahlawan dunia shinobi.
"Rasanya tadi aku mendengar kalau Uzumaki Naruto menyebutkan nama 'Kazuro' dalam ucapannya. Dan juga ia menyebutkan 'tetua' sebalum nama itu terdengar olehku. Apa yang dimaksud dengan 'tetua Kazuro' itu adalah kakek yang kutemui di kediamannya yang entah kenapa tiba-tiba mengatakan filosofi cinta yang menakutkan itu!?" pikir Kana sedikit histeris.
Ia mendesah lelah dan diam dengan masih memijat kepalanya.
"Apa benar 'Kazuro' yang diucapkan Uzumaki Naruto itu adalah 'Kazuro' yang baru kutemui itu?" pikir Kana ragu.
"Jika seandainya benar, untuk apa aku dipanggil mengahadap tetua desa yang kolot itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia memijit kepalanya makin keras. "Apa aku melakukan sesuatu hal yang menyangkut keamanan atau lainnya yang menyangkut kepentingan desa tanpa aku sadari?" Kana mengerjap-ngerjapkan matanya. Sedetik kemudian ia tertawa puas. "Aku? Melakukan sesuatu untuk desa ini? Jangan bercanda! Memang siapa aku!? Aku bukanlah orang hebat di desa ini!" seenyumnya sarkas kemudian.
Ia menyandarkan tubuhnya ke bangku taman. Perlahan ia merasakan sebuah ketenangan mengaliri nafasnya. Ditatapnya langit yang kebiruan, awan yang bergerak perlahan menyatu dengan awan lainnya sangat menakjukan dan itu sangat damai.
Sebuah senyum samar terbentuk di wajahnya. "Aku adalah aku. Dan yah, aku hanyalah salah satu manusia yang memiliki takdir dan nasib seperti orang kebanyakan. Aku bukanlah manusia yang hebat." Ucapnya.
.
.
.
TBC
Maaf kalau aku baru updatenya sekarang, minna :D
Maklum banyak masalah yang harus didahulukan untuk ditemukan solusinya wkwkwkwkwk.
Dan oh ya, jadwal publisnya diganti ke Weekend :D
