Namaku Pendosa
Summary : Dazai dan Chuuya yang jahat telah mempermainkan takdir Kyouka, dan Kyouka hanya memohon satu permohonan. Apakah Keinginan Kyouka? Apakah Kyouka dapat terlepas dari takdir Dazai dan Chuuya? Chapter 2 update!
Warning : jika tidak suka, jangan baca FF ini, terimakasih #plak
Pagi itu Kyouka izin keluar rumah untuk bermain. Ya, bermain, dari pada terus berada dirumah membuat Kyouka bosan. Dengan segenap hati,dia pun mendekati Ryunosuke yang sedang duduk disofa dengan segelas kopi sambil kerkutat dengan pensil dan kertasnya.
"Ryu-nii, aku ingin bermain" ujar Kyouka sambil menunduk. Ryunosuke langsung melirik adiknya sebentar dengan dingin. "Main apa?" Ryunosuke kembali menatap kertasnya dan meminum kopinya "main diluar" jawaban Kyouka membuat Ryunosuke menghentikan acara minum kopinya dan meletakan kembali cangkir tersebut.
Ryunosuke menatap Kyouka dalam dalam "kau tahu diluar sangat tidak cocok denganmu, bagaimana jika kamu dikerjai oleh anak anak itu lagi? Kau akan aman bila terus dirumah" Ryunosuke menatap Kyouka tajam.
Hari ini Ryunosuke banyak pekerjaan, jadi dia tidak bisa mengawasi Kyouka diluar sana "tidak apa apa, aku bisa menjaga diriku, aku akan bermain dirumah kosong itu" jawab Kyouka tak mau kalah dari kakaknya.
Mereka yang sama sama memiliki wajah datar benar-benar tidak ingin terlihat lemah dihadapan mereka masing masing. 'Kenapa anak ini suka sekali main disana? Dikira mba kunti apa main disana' Ryunosuke pun memasang wajah `ini anak gila ya?` , tak lama kemudian Ryunosuke kembali pada kertas, pensil, dan kopinya yang sempat diabaikan oleh Ryunosuke "hati-hati"
Kalimat itu adalah kalimat penuh arti yang dikeluarkan oleh Ryunosuke untuk Kyouka, Kyouka juga sangat paham dengan makna kata singkat tapi memiliki berpuluh-puluh arti dan makna itu. Tanpa banyak waktu, Kyouka pun pergi keluar dari rumahnya yang aman.
Entah sengaja atau tidak, anak ini lebih suka berada dalam tantangan dari pada di titik aman.
Itulah sebabnya meski dilarang, Kyouka akan tetap bermain diluar.
Menikmati hembusan angin didepan jendela rumah kosong itu. Kyouka tidak takut, malah dia merasa aman jika berada disana. Benar-benar keturunan mba kunti. Kyouka memang sendirian, dia tidak mungkin mengajak kakaknya ikut bermain, dia juga pasti punya kesibukan, apalagi dia laki laki, Kyouka benar-benar merasa kesepian.
"Kyouka" panggil seseorang, Kyouka dengan tenangnya membalikan tubuh. Sudah diduganya akan seperti itu. Mereka menghampiri Kyouka lagi, Fancis, Lucy, dan Q.
"Sendirian lagi? Sungguh menyedihkan " Lucy terkekeh pelan, melihat Lucy tertawa bukanlah hal yang aneh "kau sekarang menjadi seperti kuntilanak, harusnya kau sadar diri, Kyouka" Francis mulai memanasi keadaan, tapi semua itu tidak membuat Kyouka drop. Mata merah itu menatap datar kearah mereka, ditambah ekspresi datarnya membuat mereka sangat kesal "jangan perlihatkan mata terkutuk itu pada kami!" Q yang mulai kesal mulai menarik rambut Kyouka dengan kasar dan menariknya menjauhi jendela.
Q masih menarik rambut Kyouka meski Kyouka telah mengaduh kesakitan, dengan sangat kasar Q melempar kyouka ke tembok ruangan itu. Kyouka pun jatuh terduduk. "dasar monster menjijikan! Berakhirlah kau seperti tikus tikus disini!" amarah Q benar-benar tak terkendali
"..." Kyouka menunduk dalam, dia tak ingin mendengarkan perkataan mereka. "Kau ini hanya beban kakakmu dan pamanmu, mereka selalu memikirkanmu sampai tak ada waktu memikirkan diri mereka sendiri, dasar tikus murahan, hama sepertimu harusnya dilenyapkan" Francis mulai tersenyum licik setelah mengatakan kalimat tersebut. Tapi Kyouka tetap diam seribu bahasa "jangan remehkan kami! " Q mulai menendang tubuh Kyouka, Lucy pun mulai menenangkan Q yang mungkin akan menyiksa Kyouka lebih dari ini.
"Kenapa... Kenapa tikus tikus itu selalu dibenci...? " sebuah pertanyaan itu dikatakan oleh Kyouka. Mereka yang mendengarnya pun tertawa jahat "tentu saja karena mereka sangat kotor, sekotor dirimu" jawab Lucy sambil tertawa.
Ditengah tengah tawa mereka, muncul lah sosok anak laki-laki berambut perak. "Kalau begitu, jawablah pertanyaanku ini" ujar anak itu sambil berdiri didepan Kyouka. "Apakah tikus itu memang sekotor itu sampai sampai kalian samakan pada manusia lainnya?" pertanyaan dari anak itu membuat Francis, Lucy dan Q mundur beberapa langkah. "Siapa kau ini... Kau menghalangi kami... " Lucy berbicara dengan pelan, menatap tajam kepada anak itu "jangan dekati atau ganggu dia lagi! " anak itu mulai menghardik mereka, dan mereka langsung menjauhi mereka berdua.
Kyouka menatap anak laki laki dihadapannya sekarang, dia merasa senang ada yang berbaik hati menolongnya seperti itu. Tapi tetap saja dia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Anak itu membalikan badan menghadap Kyouka "kau tidak apa-apa? " tanya anak itu sambil mengulurkan tangannya kepada Kyouka. Kyouka menatap tangan tersebut , dengan ragu-ragu dia menerima uluran tangan tersebut sambil berdiri. "Aku tidak apa-apa " jawab Kyouka dan mengusap air matanya sendiri. "Benarkah? Kalau begitu siapakah dirimu? " tanya anak itu "Kyouka... Akutagawa Kyouka... " jawab Kyouka sambil menunduk. Anak laki laki itu tersenyum "Atsushi! Nakajima Atsushi.. " Anak itu menunjukan senyum manisnya, membuat Kyouka menatap kaku kearah dirinya.
Keheningan cukup lama tercipta diantara mereka berdua sampai akhirnya Atsushi mengajaknya keluar.
"Uhm... Kenapa kamu tidak takut padaku?" tanya Kyouka. Dia tak bisa menahan diri untuk bertanya pada sosok didepannya itu, anak anak yang lain saja takut, tapi kenapa dia tidak? Ini sangat membingungkan bagi Kyouka
"Eh...? Uhm... Bagaimana ya... Aku ini... Punya kelainan pada mataku... Aku memiliki rabun mata yang sangat parah sampai wajahmu saat ini tidak bisa kulihat meski sudah sedekat ini jarak mataku terhadap wajahmu.. Hehe" Atsushi menjelaskan panjang lebar tentang dirinya yang tidak takut padanya.
Apakah Kyouka harus bersyukur karena Atsushi tidak bisa melihat iblis didalam dirinya? "Maafkan aku telah bertanya seperti itu... " Kyouka merasa bersalah sekali saat ini. "Tidak apa apa, bukankah lebih baik jika aku jujur padamu? " Atsushi menunjukan senyum manisnya lagi membuat Kyouka tersipu malu melihatnya.
Mereka menikmati suasana cerah dengan hembusan angin lembut yang menyejukkan tubuh mereka. Kyouka merasa sangat senang bisa bersama Atsushi.
-bersambumg-
Mau kritik? Silahkan
Toh, ini fanfic hanya untuk diriku sendiri...
Sebuah keisengan belaka.
Jadi aku gk bakal marah. Hanya sebagai pelampiasan terhadap seseorang.
