Cast: Haechan, Mark, Jeno, Jaemin, otc.

Genre: romance, lil comedy, fluff, bxb, boys love.

p.s. cerita ini udah pernah di post sebelumnya di watty, dengan cast berbeda.

100% hasil pemikiran sendiri

~WHATTA MAN~

"Sekarang memang bukan siapa siapa, tapi nanti kamu akan jadi tanggung jawab saya" -mark

Saat membuka mata kuki sudah menyambutku dengan mata besar nya, sinar matahari berlomba lomba memasuki jendela kamarku yang tertutup gorden, definisi bangun tidur yang ideal. Sebelum madam jeannie mengatakan mark akan mengantarku ke kampus pagi ini.

"Haechan! Cepetan dandan nya mark udah nungguin kamu daritadi!" Duhh mah, siapa yang dandan si lagian? Aku tuh sengaja lama di kamar karena gamau ketemu mahkluk semacam mark.

Entah apa yang dipikirkan lelaki arogan itu sampai mau capek capek mengantarku segala, kami ga sedekat itu!

Baru 2 hari yang lalu kami berkenalan, hanya tahu nama masing masing lebih tepatnya. Belom sampai tahap mengenal lebih dalam. Atau mungkin dia bermaksud seperti itu.

Aku segera turun dari lantai atas kamarku, bahkan tangga yang jumlahnya 24 pijakan ini terasa begitu pendek sekarang, padahal ku kira sehabis acara laknat lusa kemarin kita ga bakal ketemu seperti ini.

"Kamu manis" kata nya sambil tersenyum simpul saat aku sudah berada di depan nya yang sedari tadi memperhatikanku dari tangga, "gausah basa basi, berangkat sekarang atau engga sama sekali." Jawab ku sinis padanya.

"Asal main berangkat aja! Sarapan juga belom!" Teriak mama dari ruang makan, apa madam jeannie tercinta ku mendengarnya dari jarak 10 meter? "ajak mark sarapan juga chan!" Lanjutnya, hah! Bencana apa lagi ini, semeja lagi dengan lelaki bertopeng di hadapanku!

Rusak sudah pagi indah ku.

"Kelasmu mulai jam berapa?" Tanya mark memulai pembicaraan sambil fokus pada jalan, "tujuh" kataku singkat, ga penting juga ngomong panjang lebar ke dia "berarti kamu telat dong? Sekarang udah jam tujuh lewat sepuluh menit" ujarnya mengingatkan, ga bakal telat seandainya tadi aku berangkat sendiri! Hufft.. kenapa setiap kali lagi bareng dia bawaanya kesal mulu sih?!

"Gapapa, udah biasa." Jawab ku lagi lagi seadanya "kamu benci banget ya sama saya? Gara gara acara perjodohan ini?" Iya aku benci banget nget sama pria seperti mu! Teriak ku dalam hati, "kalo udah tau gausah nanya." Telak! Dia hanya diam tak bersuara lagi sampai kampus ku.

Saat aku ingin membuka pintu tiba tiba tangannya menahan ku, pun menoleh kearahnya.

"Apa lagi?" Kataku sembari menaikkan sebelah alis "maaf kalau saya egois," hanya kalimat singkat bentuk kesadaran dirinya, syukurlah kalau sadar situ egois!

"Hm." Balas ku bergumam, aku melihat tangannya masih memegang lenganku, lalu dia melepaskannya, dengan raut wajah tanpa ekspresi.

Detik selanjutnya aku sudah keluar dari mobil hitam metaliknya, tanpa mengucapkan terima kasih pada sang empunya.

Dasar pria menyebalkan!

Hari ini ada 4 mata kuliah yang harus kuhadiri, salah satu nya bareng jeno, dia yang dari jauh sudah melihat ku langsung melambai lambaikan tangan sembari pamer eye smile indahnya.

"Tumben telat jen," ga biasa nya jeno telat masuk kelas, biasanya dateng paling awal "biasalah, adikku minta di anter ke sekolah dulu" jelasnya santai, kami berjalan berdampingan memasuki kelas.

"Na,jen, pokonya abis kuliah kita belok dulu! aku mumet banget!" Kataku saat kami sedang berada di kantin "call, gimana na?" Jaemin yang sibuk dengan smartphone nya langsung menghadap jeno "call, aku ajak chenle ya biar rame?" Tanya nya balik mengotak atik hp nya lagi "ajak aja, sekalian ajak temanmu yang lain" kataku menjawab.

Aku, jeno, jaemin, dan kedua teman jaemin. Chenle dan renjun, sudah berada di pub ternama. Kami memilih tempat yang berada di pojok ruangan, spot yang bagus untuk berandal kecil seperti kami.

"Untuk merayakan kembalinya tuan putri kita, mari bersulang!" Teriak jeno mengacungkan gelas berisi vodka yang di sauti oleh mereka berempat "OUR PRINCESS IS BACK!" dan kami pun membenturkan ujung gelas masing masing.

Yah, walaupun aku ingin sekali menonjok hidung mancung jeno karena perkataannya itu. Setidaknya satu masalah bisa terlupakan, mengikuti gaya orang barat yang satu ini ada manfaatnya juga, menurut opini ku.

Kami bersenang senang sampai lupa waktu, bahkan jaemin sudah tepar, sedangkan renjun yang asik bercumbu dengan chenle yang ada di pangkuannya, hanya jeno dan aku yang setidaknya masih waras.

"Jen," panggilku pada jeno yang sedang melihat lantai dansa di tengah ruangan pelit cahaya ini "hah?" Jawabnya seperti orang bodoh "lagi lamunin apa sih?" tanyaku yang melihatnya sedang asik melamun itu.

"Itu lagi ngeliatin orang pingsan, kebanyakan minum kayanya, hahaha" hal wajar jika di tempat seperti ini ada orang mabuk, muntah, pingsan ataupun tertidur seperti yang renjun lakukan.

"Aneh! Ngapain orang pingsan dilia-" katakan aku sudah mabuk! Saat mataku mengarah pada objek yang di lihat jeno, salah! Bukan orang yang sedang di gotong oleh para pelayan, tetapi pada seonggok manusia yang kini sedang menatapku dengan pandangan mata tajam dan rahang mengeras.

Sedang apa mark di tempat seperti ini?

Dia berjalan ke arah ku, dengan langkahnya yang lebar,masih dengan setelan jas tadi paginya, selanjutnya dia sudah berdiri di depan ku, dan jeno sekarang mengalihkan pandangnya pada mark.

Tanpa bicara mark menarik tangan ku, tapi aku menahannya, kepalaku refleks pusing karena gerakan tubuh ku yang tiba tiba. "Apa?!" Protesku tak terima dengan perlakuannya.

"Ikut saya, kita pulang!" Ujarnya tegas tak terbantahkan, kepala ku semakin pusing, mataku mulai berkunang kunang, tapi aku coba menahannya. Agar tidak terlihat lemah di depannya. "Gak mau!" Pun melepaskan tangannya yang masih menggenggam tanganku erat, Sakit.

"Jangan membantah!" Dia mengambil tas ransel ku dan menarik tangan ku lagi untuk keluar dari ruangan pengap ini.

Kepalaku semakin sakit akibat mengikuti langkahnya yang sangat cepat dan lebar itu, tanganku refleks memegangi kepalaku untuk menahan rasa sakit yang tak berujung ini. Mark sialan!

Langkahnya berhenti, tubuhnya berbalik kearahku, masih dengan raut wajah kerasnya, pupil nya hanya menatap sinis padaku, dan aku ga suka di tatap seperti itu!

"Jadi gini kelakuan kamu yang sebenarnya? Saya pikir kamu anak baik baik!" Sesalnya kecewa padaku, buat apa dia marah? Cih!

"Iya! Kenapa? Kamu gasuka? Saya memang seperti ini, asal kamu tau saja!" Nada bicaraku meninggi. "Memangnya siapa kamu yang berhak menyeret saya seperti ini!" Lanjutku. Sekeras apapun menahan rasa sakit kepalaku, tetap saja tak mau hilang, akkhh! aku sudah tidak kuat lagi.

"Sekarang memang bukan siapa siapa, tapi nanti kamu akan jadi tanggung jawab saya" katanya tegas tak terbantahkan, setelah mendengarkan perkataanya itu, aku merasakan diriku seperti di awan.

Aku bangun di atas ranjang berseprai putih, menyadari sesuatu yang aneh, tapi apa? Astaga! Aku mengingat ingat kejadian semalam, aku pergi ke pub bersama keempat temanku, lalu kami bersenang senang, dan aku melihat mark, dia berjalan kearah ku, menarik tanganku kasar dan... oh tidak! Tamatlah riwayatku. Madam jeannie, maafkan anak mu yang durhaka ini!

Aku menenggelamkan seluruh tubuhku di dalam selimut tebal, oh! Jangan kan lewat kan satu kesadaraan ku yang satu ini, yang mengetahui satu hal, ini bukan kamarku!

Ku dengar suara pintu berderit lalu tertutup, dan langkah seseorang yang mendekati ranjang.
"Saya tau kamu sudah bangun, cepat minum teh nya dan bersiap untuk pulang, saya ga mau di nilai jelek oleh ibumu karna sudah lancang membawa anaknya ke apartemen saya." Itu suara mark, ku buka selimut bermaksud mengintip, yang ada mark dengan gagahnya berdiri menatapku sembari menyodorkan mug gelas yang masih mengepul.
Aku masih bergeming, menatapnya dari atas sampai bawah, ada yang beda, dia memakai hoodie abu abu dipadukan dengan kaos putih di dalamnya dan celana denim selutut, terlihat santai namun berkesan.

Aku segera menempatkan posisi duduk, sembari menerima mug gelas yang ada di tangannya, menyesapnya perlahan dengan pupil mataku yang masih memperhatikan dirinya.

"Jangan menatap saya seperti seorang yang sudah berbuat mesum, saya gak ngapa-ngapain kamu" padahal kan aku gak ngomong apa apa, tapi udah sensi duluan.

"Lain kali kamu gak boleh kaya gini lagi. Ini pertama dan terakhir kalinya saya liat kamu ke tempat seperti itu." Ucap nya tegas, rahang nya mulai mengeras.

Kok nge down ya?

Tbc.

Haii haii aku balik lagi nih sama ff abal inixD sumpah ini ff macam apa? Gaje bgt iyadah:' yang nungguin adegan naena nya sabar yah, author lagi nyari inspirasi mau buat 'gituannya' gimana xixixi atau mungkin ada saran? Mau yg marknya kalem trus haechannya pasrah atau marknya dibikin sado maso? Atau hachan nya yg malah bringas ke marknya? Hiyaaa authornya bingung kan tuh jadinya:'

Oiya ini bahasanya campuran ya, ada informal sama formal, soalnya tergantung haechannya mau ngomomg kaya gimana xixixi btw chap kedepannya kemungkinan masih haechan pov, maaf kalo ada salah penulisan/kata yaa, bcoz ini authornya ngeditnya ga di review dulu xixixi

See u next chap mwahh