Cast: Haechan, Mark, Jeno, Jaemin, otc.

Genre: romance, lil comedy, fluff, bxb, boys love.

p.s. cerita ini udah pernah di post sebelumnya di watty, dengan cast berbeda.

100% hasil pemikiran sendiri

~WHATTA MAN~

"Buahahaha..!" johnny tertawa terbahak bahak ketika mendengar penuturan bos nya itu. bagaimana tidak, mark bilang dia menggunakan bahasa formal pada calon istrinya itu? Sungguh menggelikan! "shut up, john!" kata mark terganggu dengan suara membahana sekertaris nya itu.

"what? Kau yang membuatku ingin terus tertawa bos!" ia melanjutkan tawanya lagi, tak tahu diri jika kini ia sedang menjabat sebagai bawahan mark, yah, terlebih ia juga sepupu anak itu. Mark yang tadinya sibuk dengan berkas berkasnya pun kini menatap johnny sinis, tak terima jika ia di tertawakan seperti itu. "ehem!" johnny berdehem menormalkan suaranya, lalu ia mengulum senyum geli.

"begini bos, menurutku haechan itu bukan lah partner bisnismu, dan lagi, kau kan bisa menggunakan bahasa sehari harimu saja seperti saat sedang bersamaku diluar jam kerja seperti ini. Cobalah untuk bersantai sedikit." Mark mendengarkan dengan seksama saran dari johnny, walaupun atensi nya masih pada berkas berkas menyebalkan itu. "bukan begitu john, entah kenapa aku selalu bingung harus bersikap bagaimana dengan anak itu, makannya aku pakai bahasa formal saja" tutur kata mark sangat jauh berbeda dengan ketika ia bersama haechan dan johnny, ia malah terlihat lebih santai seperti ini.

"makannya kau ku ajak ke club kemarin agar bisa berbaur dengan dunia luar, bukannya sibuk mengencani dokumen dokumenmu terus, jangan mengikuti ayahmu yang kolot itu. Come on maaan! Dunia mu itu bukan hanya tentang mengurusi perusahaan ini, uang mu juga sudah lebih dari cukup jika hanya untuk membeli white house-nya si trump babi itu"kata johnny "dan berakhir konyol seperti mu yang pingsan kemarin? Tidak, terima kasih."jawab mark sarkastik, "hei!" protesnya, johnny lalu menyalakan rokoknya, diruangan mark yang memang hanya ada dirinya dan bosnya itu. Terlebih sekarang sedang jam makan siang, jadi dia dengan seenaknya memantikkan koreknya sebelum mark mengambil alih "jangan merokok diruangan ku jika tak ingin ruangan ini banjir karena fire detector itu" lalu mark melemparkan korek tadi yang langsung ditangkap oleh sang empunya.

Johnny hanya menyengir dengan sebatang rokok yang masih berada di ujung bibir tipisnya, berjalan keluar ruangan itu, sebelum menutu pintunya ia berbalik "sebaiknya kau jangan menggunakan kamar itu jika ingin melakukannya dengan calon istrimu." Ia berkata dengan nada serius, tak ada lelucon di dalamnya. Lalu ia segera meninggalkan tempat itu dan menuju balkon untuk meneruskan kegiatan merokoknya yang sempat tertunda tadi.

Mark terdiam mencerna perkataan sepupu kurang ajarnya itu, bukankah ia ingin mengikat haechan karena memang tujuannya untuk menggunakan kamar yang disebutkan johnny tadi? Dan kenapa johnny jadi melarangnya? Ia sempat ragu memang untuk menggunakan kamar itu.

.

Sudah 2 hari berlalu ketika kejadian dimana haechan dan mark melakukan adegan panas di apartemen mark, dan haechan masih tidak bisa melupakan kejadian memalukan itu.

"hei! Kau kerasukan hah?" jeno yang ada di sebelah anak itu menegurnya ketika melihat haechan hanya bengong tak memerhatikan dosen yang sedang menjelaskan di depan. Karena mereka duduk paling belakang jadi jeno tak perlu ketahuan jika ia berbicara dengan nada sedang seperti tadi. Haechan hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan jeno,menghela napas pelan.

Jam mata kuliah pun berakhir, haechan yang memang sejak awal tidak mengeluarkan buku satupun langsung berjalan meninggalkan kelas, jeno buru buru mengejar haechan. Sudah tidak kaget lagi dengan sikap anak itu yang seenak jidatnya. "hei! Tunggu akuuu" jeno berteriak dibelakang haechan yang sepertinya kini menuju kantin, tempat biasa mereka berkumpul.

Saat memasuki kantin mereka melihat jaemin yang sedang duduk bersama dua peremupuan asing dihadapannya, jaemin yang melihat keduanyapun lantas berbicara dengan perempuan perempuan tadi dan di jawab anggukan keduanya, tak lama mereka pergi meninggalkan jaemin sendiri. Jeno yang dari awal melihat jaemin yang mungkin sedang menggoda para mahasiswi tadi pun kini wajahnya sudah masam, jaemin memanggil keduanya dengan menunjuk nunjuk keberadaanya.

"selamat siang teman temanku tersayang!" sapa jaemin dengan senyum tiga jarinya ketika haechan dan jeno sudah duduk dihadapan anak itu, "maksudmu jeno tersayang?" kata haechan mengoreksi, jaemin salah tingkah mendengar perkataan haechan, sahabatnya itu tahu jika jaemin menyukai jeno sudah lama, jeno pun seperti nya demikian. Terlihat dari mood jeno yang ancur seketika saat melihat jaemin bersama kedua perempuan tadi.

"ma-maksudmu apa haechan-ah? Tentu saja kalian berdua sahabatku tersayang" jaemin gugup, "sudahlah jaemin-ah, jeno ajak dia kencan sana!" kata haechan menengok kesamping, jeno pun salah tingkah dibuatnya. Jaemin menundukkan kepalanya sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal itu, di dalam hatinya ia kegirangan bukan main ketika haechan berkata seperti tadi. Sebenarnya ia memang sudah lelah mengkode jeno yang tidak peka akan perasaannya, tapi gimana ya? Jaemin juga bukan orang yang blak blakan berkata jika ia menyukai jeno. Tidak seperti haechan yang asal ceplos saja.

"sudah ya, aku ada urusan. Semoga harimu menyenangkan jaemin" haechan tiba tiba berdiri dari duduknya, ia sepertinya sudah tidak tahan akan kelakuan teman temannya itu yang tidak sadar akan perasaan keduanya.

Haechan berjalan meninggalkan area kampusnya, setelah ini memang ia sudah tidak ada jam mata kuliah lagi, jadi ia berniat berjalan jalan sebentar. Merefresh otaknya yang tak berhenti mengingat kejadian 2 hari lalu. Atau mungkin memang sedang menghindari mark yang akan menjemputnya nanti sore? Sekarang masih jam makan siang omong omong. Jadi kemungkinan besar mark masih berada di kantornya.

Ia berjalan melewati pertokoan yang berada di sebelah kanannya, kaki nya menuju taman yang letaknya bersebelahan dengan taman kanak-kanak, dirinya berhenti di kursi panjang dibawah pohon maple besar.

Meletakkan ranselnya di samping, lalu mengeluarkan buku sketsa nya. Kebiasaanya jika sedang bosan, tangannya dengan lihai menggoreskan ujung pensilnya pada kertas kosong itu. Membentuk garis abstrak yang sepertinya akan membuat sketsa wajah, terlihat dari bentuk oval lalu diikuti bentuk mata,hidung dan bibir. Saat haechan menggambar bagian bibir ia teringat bibir mark kemarin yang menciumnya, ia segera menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran yang terus mengganggunya.

Ia tak melanjutkan sesi menggambarnya, tujuan awalnya kan untuk melupakan pria itu tapi malah dengan menggambar ia jadi teringat terus. Ia menaruh kembali alat tulisnya, mengambil earphone di saku jaket, lalu menyalakan lagu lewat ponselnya, lantunan lagu shape of you – edsheeran terdengar di teliganya, tapi tetap saja dirinya malah teringat adegan yang terus berputar di kepalanya lantaran lirik lagunya begitu sensual.

Semakin berusaha melupakannya haechan malah semakin teringat, ia sangat risih, sungguh. Bahkan, sekarang dirinya mengira jika pria yang sedang bersender di tiang ayunan di depan nya adalah mark, tersenyum dengan seringaiannya yang menyebalkan menurut haechan. Pria itu berjalan menghampiri haechan sambil menatap anak itu, haechan panik, dirinya bingung mau berbuat apa. Menengok kekanan-kiri memastikan bukan dirinya yang ia hampiri. Tapi sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya, terlebih ia masih melihat sosok mark dalam diri pria itu, apa jangan jangan dia mark sungguhan? Haechan mengucek ngucek matanya, mungkin saja dengan begitu wajah pria yang sedang berjalan kearahnya itu berubah jadi orang lain, tapi tidak. Dia benar benar pria menyebalkan yang sedang ia hindari keberadaanya. Brengsek! Sejak kapan mark mengikutinya? Dan darimana pria itu tahu jika dirinya disini.

Haechan sudah siap berlari ketika mark mencekal tangan bocah itu, menahannya agar tidak berlari menjauhinya. Haechan berhenti, melihat tangannya yang dipegang tangan besar mark. Menatap sinis pada mark, "sedang apa kau disini? Menguntitku huh?" kata haechan pada mark yang kini berdiri dengan satu tangan yang ia masukkan pada kantung celana bahannya. Menggantungkan jas nya pada sela kosong lengannya. "tidak, aku ingin mengajakmu makan siang." Haechan mengernyit tidak suka, dan hei sejak kapan pria brengsek itu jadi mengubah panggilan dirinya? Tidak seformal seperti biasanya.

"aku tidak mau!" haechan mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman mark, tapi malah genggamannya semakin kuat. Mark manyeret haechan ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berada. "sialan! Kau ingin membawaku kemana?! Yak! Lepaskan! Kau selalu saja pakai kekerasan! Dasar brengsek!" haechan tak berhenti mengumpat pada mark sampai ia dipaksa memasuki mobil pria itu.

Haechan tak mencoba melarikan diri lagi, percuma. Karena pria itu akan terus mengejarnya sampai dapat. "aku tak akan memakai kekerasan, jika kau menuruti perkataanku." Ujar mark ketika sudah duduk di sampingnya. Ia melajukan mobil hitamnya menuju kantornya.

"aku tidak suka di perintah asal kau tahu saja." Jawab haechan dengan nada menyebalkannya. "aku tidak sedang memerintah haechan, aku mengajakmu makan siang." Ujar mark santai, berbeda dari mark yang sebelum sebelumnya sangat kaku. Ia mengikuti saran sepupu nya tadi omong omong.

"kau bukannya mengajak, tapi memaksa." Jawab haechan singkat, dirinya sudah amat sangat jengkel dengan perlakuan pria itu padanya. Walaupun ia sering seenaknya sendiri, tapi pria itu lebih egois ketimbang dirinya. Mobil itu berhenti di basement kantor mark, mengajak haechan agar ikut turun, dan jangan lupakan bahwa mark yang membukakakan pintu untuk haechan, "apa apaan kau ini? Kau malah membawaku kesini bukannya ke restoran? Jangan macam macam ya! Memangnya aku mudah dibodohi olehmu huh?!" haechan tidak bodoh untuk mengetahui tempat apa ini, ini bukan restoran ataupun cafe "memangnya siapa yang akan mengajakmu ke restoran? Kita akan makan siang di kantor ku, dan aku tidak mau kau mencoba kabur lagi dengan membawamu ketempat umum." Mereka berjalan bersisian dengan mark yang menggandeng tangan haechan, takut takut kalau bocah itu lari darinya lagi.

Haechan tak habis pikir dengan jalan pikir pria yang kini berada di sebelahnya, kenapa ia selalu tahu apa yang akan dirinya ingin lakukan?. Mark tidak berjalan melewati lobby, melainkan menuju lift yang ada di basement itu yang langsung menuju ruangannya di lantai paling atas gedung ini.

Di dalam lift hanya ada mereka berdua, karena memang lift itu di khususkan untuk bos besar. Tak ada pembicaraan diantara keduanya, mark menengok kearah haechan yang memang sedari tadi sedang mendumal tidak jelas. Ketika dirasakan genggaman pada tangannya mengendor haechan buru buru menariknya, mark membiarkannya, karena ia tahu anak itu tidak akan bisa kabur lagi.

"bagaimana kabar ibumu?" mark membuka percakapan, "madam sedang tidak dirumah." Jawab haechan jutek. Kenapa hanya ibunya yang ditanya? Bukannya menayakan dirinya. Mark sebenarnya sudah tahu jika jeannie sedang ke jepang menghadiri acara fashion show rekannya. Ia hanya berbasa basi saja.

Haechan sebenarnya takut berduaan dengan mark di lift yang rasanya tak mau berhenti itu, mark yang melihat gelagat bocah itupun hanya tersenyum dalam hati, geli sendiri dengan tingkahnya yang bergerak menjauh darinya. Haechan berdiri di pojokan berniat agar tidak tidak terlalu dekat dengan mark, tapi mark malah mendekatinya, berdiri di hadapannya. Membuat nyali anak itu ciut seketika mengetahui jika dirinya sudah tidak bisa kemana mana, karena mark yang mengurungnya "mau apa kau?" ada nada takut dalam suaranya "apa kau takut padaku?" bukannya malah menjawab mark malah mengalihkan pertanyaanya "ti-tidak, jangan dekat dekat!" suaranya gugup menandakan bahwa anak itu sedang ketakutan karna mark yang malah mendekatinya, ia kembali mengingat ketika berada di apartemen pria itu. Oh tidak jangan lagi, terlebih mereka hanya berdua saja di tempat sempit itu.

Mark maju selangkah, mengikis jarak pada anak itu. Kepalanya sudah mendekati haechan, haechan panik setengah mati. Apa yang ada dipikirannya kini benar, jika kejadian yang lalu akan terulang kembali. Sebelum mark menempelkan bibirnya pada anak itu, bunyi lift menintropeksi keduanya.

Mark menjauhkan tubuhnya dari haechan, menarik anak itu agar mengikutinya keluar, haechan mengikutinya tanpa protes, bahkan kini ia menundukkan kepalanya. Menenangkan degup jantung nya tidak berdetak dengan semestinya. Mark berhenti di meja johnny yang ada di depan ruangannya, karena memang lantai ini hanya di peruntukkan untuk mark dan yah, sekertarisnya tentu saja.

Johnny kaget ketika mark tidak sendiri, ia bersama seseorang di belakangnya, wajahnya tertutup punggung mark, jadi johnny tidak bisa melihatnya dengan jelas, "pesankan aku makan siang, john" dengan nanda memerintahnya mark menyuruh johnny untuk memesankannya makanan untuk dirinya dan haechan. "apa itu haechan? Hai, haechan! Aku johnny!" johnny tidak menjawab perintah mark, ia malah melambaikan tangannya pada haechan yang berada di belakang punggung mark yang masih menunduk.

"pesankan kami apa saja yang menurutmu layak untuk dimakan." Mark berjalan menuju pintu yang menghubungkannya ke ruangan super besar dan tentunya mewah itu. Mendudukan dirinya dan haechan di sofa empuk yang ada di ruangannya. Mark berniat melanjutkan kegiatan nya tadi, ketika matanya menangkap pintu lainnya diruangan itu, gairah dalam dirinya memanas ketika ia membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya menyeret haechan kesana, mark menatap haechan yang sudah menarik pergelangannya lagi, napasnya memberat, dirinya sudah panas, aliran darah nya seketika berdesir ketika melihat bibir ranum anak itu, seketika mark mencium haechan yang sempat akan mengomel.

Haechan berontak tak terima, mark menciumnya tiba tiba dengan sangat membabi buta, sarat akan nafsu, mark menahan tangannya agar diam tak banyak bergerak,haechan menurutinya. Membawa haechan terbaring di sofa, lalu meletakkan kedua tangan anak itu agar memeluk lehernya, haechan juga sudah mulai terbawa suasana akan perbuatan mark, membalas ciuman pria itu yang bahkan bisa dikatakan sudah pro, mark menghisap bibirnya atas bawah dengan seduktif, melumatnya dan terus menghisapnya dengan kuat. Lidahnya memasuki mulut haechan yang terbuka, mengabsen seluruh giginya, mengajak nya berperang lidah.

Mark merasakan haechan meremas rambutnya dengan kencang, tapi ia tak peduli. Yang ia tahu anak itu sudah menikmati perlakuannya ini, mungkinkah haechannya memang mudah untuk dibuat tak berdaya di bawah kuasanya?. Badannya masih berada di atas anak itu, dengan tangannya yang sudah mulai merambat memasuki kaos milik haechan, menemukan dua benda keras yang sudah mengeras itu, memilinnya dengan perlahan.

Haechan dibuat gila dengan perlakuan mark, dirinya sudah kewalahan mengimbangi ciuman mark yang tak ada habisnya itu, dan kini fokusnya terbagi dua antara mulutnya dan putingnya yang sedang dipilin oleh pria itu. Dan haechan hanya bisa menjambak rambut mark sebagai pelampiasan kenikmatannya itu. Mark melepaskan ciumannya, lalu haechan dengan tidak sabarannya menghirup oksigen banyak banyak, ia kira mark benar benar mengakhirinya dengan melepaskan ciumannya. Tapi ia salah, kini mark malah beralih ke lehernya, menciumi permukaan kulit halus itu dengan perlahan, menghisapnya, bahkan mungkin sudah ada tanda merah di leher haechan, "ahh.." haechan mengerang kenikmatan, mengadahkan kepalanya keatas, memberi space agar mark dapat mudah melakukan kegiatannya "oouhhh mark.." haechan tak bisa menahan desahannya tatkala mark menghisap jakunnya kencang.

Mark menjauhkan kepalanya dari anak itu, lalu menarik haechan agar duduk di pangkuannya, melepaskan jaket dan kaos yang di pakai anak itu, ia sudah lupa kalau tujuan ia membawa haechan kesini untuk mengajaknya makan siang, tapi seakan dirinya kalut mark sudah tidak peduli lagi. Yang ia pedulikan sekarang adalah haechan yang sedang berada di pangkuannya, mendesahkan namanya ketika ia dengan sengaja menghisap puting anak itu yang sudah mengeras, haechan hanya merintih kenikmatan dibuatnya.

Johnny yang mendengar suara desahan dari ruangan mark tidak jadi memesan delivery, dirinya malah pergi meninggalkan lantai itu, memberikan privasi untuk sepupunya. Dan memang karena di lantai itu hanya ada tempat untuk dirinya dan mark ia tak perlu untuk repot repot mengusir karyawan lainnya.

Haechan semakin mengacak rambut mark ketika pria itu dengan sengaja meremas penis nya yang sudah mengeras dari luar celana jins nya, tangan mark membuka kancing celana dan resletingnya, lalu setelah itu ia menurunkan celananya, haechannya sudah tidak memakai apapun, hanya celana dalam yang tersisa.

Tak mau naked sendirian, haechan pun dengan beraninya membuka kancing kemeja mark satu persatu, tangan mark ikut membantunya, lalu ia membuka kemeja itu terburu buru. "ahhh.." haechan mendesah tatkala mark semakin mengencangkan hisapannya pada puting kanannya, bahkan anak itu sudah membusungkan dadanya, meminta lebih.

Sadar jika mark terlalu mendominan pada permainannya, ia tak tinggal diam dengan membalas perlakuan pria itu pada tubuhnya. Sebut dia jalang karena telah mencoba membalas sentuhan pria yang ia panggil brengsek itu. Ia sudah tidak memperdulikannya lagi, tubuhnya panas karena mark sangat ahli membuatnya seperti ini.

Mark yang merasakan haechan kini beralih pada lehernya pun hanya menyeringai penuh kemenangan. Bocah itu sudah masuk dalam permainannya. Dan lihatlah, anak itu bahkan sudah menghisapi lehernya dengan kuat, membuat banyak hickey disana. Tangannya pun turun kebagian belakang bocah itu, meremasi pantat sintalnya dengan lembut, masih dengan hisapannya pada puting anak itu.

Saat ia akan membuka celana dalamnya, bocah itu sudah terlebih dahulu menyerangnya dengan ciuman penuh nafsu, mark hanya membiarkannya saja. Lalu ia melepaskan dalaman itu dan membuangnya asal. Lihatlah siapa yang sekarang menjadi dominan disini? Mark menyeringai tipis.

Tangannya sudah berada di penis keras bocah itu, memijatnya perlahan, tak lupa mengocoknya. Ciuman haechan semakin kacau ketika penisnya diperlakukan seperti itu oleh mark. Tubuhnya sangat panas, minta dipuaskan. Kocokan pada penis haechan semakin cepat, anak itu mendesah dalam ciumannya. Lalu setelah beberapa detik kemudian ia mengerang penuh kenikmatan ketika sudah mencapai puncaknya.

Haechan melepaskan ciumannya, kepalanya terkulai lemas di pundak mark, terengah engah dengan napasnya. Tangan mark masih memijat penisnya perlahan setelah sisa sisa pelepasannya. Lalu tangan itu kembali beralih pada pantatnya lagi, mark sedang menciumi pundak halusnya. "su-dah mark.. hah.. hah.. perutku mual" haechan tidak bohong kalau perutnya memang sedang mulai ketika pelepasannya tadi, seakan tuli mark malah memasukkan satu jarinya ke lubang anak itu, yang menyebabkan bocah itu mengerang kesakitan, "markkhh akkhh.. sakithh.." haechan merintih di pundak mark "panggil aku hyung, haechan." Bukannya menghentikkan kegiatannya mark malah menambahkan satu jarinya, membuat haechan makin merintih tak karuan.

Mark meruntuhkan pertahan haechan dengan cara mengobrak abrik lubang anak itu, "markhh.. ahh" anak itu mengerang karena mark telah menyentuh ujung prostatnya "hyung. Haechan." Perintah mark tak terbantahkan "yesshh.. hyuungg.. ngghhh.. ahhhh" haechan mengeluarkan percumnya, bahkan hanya dengan kedua jari mark yang ada di lubangnya membuat ia begitu gila dibuatnya. Mark yang entah sejak kapan sudah melepaskan celana bahannya, kini merebahkan haechan di sofa mengurungnya dengan badan besar miliknya. Tanpa aba aba ia mengarahkan penis kerasnya ke depan lubang haechan, sebelum mark memasukkan nya, ia terlebih dahulu mengecup ujung bibir haechan yang sekarang masih terengah dengan lengannya yang menutupi matanya "maafkan aku haechan, tapi inilah diriku." Setelah berkata seperti itu mark lalu mendorong seluruh penisnya kedalam lubang anak itu. "AAHHHH.. HYU-nggaahhhh akkkhhh..." haechan menteskan air matanya, karena tidak siap dengan apa yang dilakukan mark pada lubang pantatnya, mark tidak melakukannya dengan pelan, nafsu nya sudah di ubun ubun. Ia begitu menginginkan dirinya dalam anak itu, bahkan dibuat gila karenanya.

Pria itu terus menyodok lubang haechan dengan keras, bahkan haechan sudah mendesah kenikmatan ketika mark sudah menemukan sweet spotnya. "ahhh.. hyunggh.. cepatthh.. deeeperhh hyungg.." tubuh haechan tersentak berkali kali ketika mark trus menusuk lubangnya dengan begitu keras, mark dengan senang hatinya akan melakukan apa yang dikatakan oleh haechan, menumbuk prostat nya dengan cepat dan dalam. Membuat bocah yang ada di bawahnya mengerang nikmat, menyebutnya dengan panggilan hyung.

Tak tanggung tanggung, mark mengarahkan tangannya pada penis anak itu yang sudah mengeluarkan percumnya sedari tadi, mengocoknya seirama dengan gerakan nya menyodok lubang anak itu, haechan benar benar sudah gila ketika mark kembali memainkan penisnya.

"aaohhhh hyungg.. aku mau- keluar.. ahhh" haechan mengeluarkan pelepasan untuk yang kedua kalinya, bahkan mark masih belum tanda tanda bahwa ejakulasinya akan datang. Ia mempercepat gerakannya, mengejar pelepasannya. Mengacuhkan haechan yang kini mendesah makin jadi.

Pinggulnya semakin kuat bergerak, menumbuk prostat itu terus menerus tanpa ampun, mark menambahkan kenikmatan dengan cara memilin puting kirinya dan menghisap yang kanan. Haechan tak berhenti mendesah, tubuhnya ditarik lalu mark mengubah posisinya jadi tengkurap tanpa melepaskan penis pria itu pada lubangnya.

Mark menampar keras pantat berisi haechan berkali kali yang membuatnya jadi memerah dibuatnya. Haechan merasa sakit sekaligus nikmat, tangan kanan mark menahan pinggang haechan agar tidak terjatuh dan yang satunya sesekali menampar pantat anak itu. Terus bergerak dengan kecepatan gila pada lubangnya.

"sebentar lagi haechan. Tahan." Dirasakannya penis itu semakin membesar, tak lama mark mengeluarkan spermanya di dalam lubang anak itu. "AARRGGHHHHH..." mereka berdua mengerang kenikmatan, haechan merasa lubangnya penuh oleh sperma mark. Penis mark yang semi keras itu masih menyodoki lubangnya perlahan sambil menikmati sisa sisa kenikmatannya.

Tubuh haechan sudah benar benar remuk, bahkan ia merasa tubuh bagian bawahnya seperti dibelah dua. Ia benar benar sudah lemas. Mark membalikkan tubuhnya lagi, masih belum mau mengeluarkan penisnya, ia lalu ikut merebahkan dirinya di sebelah haechan, karena memang sofa itu lebar jadi muat untuk dirinya dan anak itu.

Mark lalu mendekap tubuh polos haechan yang sudah banjir keringat seperti dirinya, napas anak itu terasa panas di dadanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada pundak sempit haechan, menyalurkan rasa cintanya untuk anak itu.

"setelah ini jangan mencoba untuk lari dariku lagi haechan." Haechan yang memang sudah lelah, tidak menanggapi perkataan mark. Matanya terpejam ingin segera menggapai nyenyaknya, tak lama ia pun jatuh kealam mimpinya.

Mark merasakan napas haechan sudah kembali teratur, ia menundukkan kepalanya sedikit. Benar saja, anak itu sudah terlelap dalam dekapannya. Mark mengelus surai lembut haechan, menciuminya di seluruh bagian, dia bahagia bukan kepalang karena sudah membuat anak ini menjadikan miliknya seutuhnya.

Aku sudah teramat sayang padamu, haechan. Sampai mau mati rasanya.

Tbc

Gimana gimana? Udah puas kah adegan naena nya? Aku bingung mau bikin gimana, yaudah deh ngikutin jari jari aku aja yang ujung ujungnya bikin begini. Xixixi oiya, chapter kemaren tuh pas author review lagi ternyata banyak banget salah penulisan kata, ada yang lebi ada yang kurang, pokoknya typo dimana mana dehXD maklum ya, soalnya kemaren bener bener kondisinya tuh tidak memungkinkan sekali:'

Dan semoga terbayar dengan chapter ini, mungkin bikin mark yg sado masonya di next chap ya xixixi, soalnya ga tega sama si cantik haechan kalo marknya nyiksa dia btw makasih lho yang udah kasih kritik dan saran xixixi authornya jadi semangat lagi hehe

Mungkin besok bakalan telat update dikarenakan authornya udah masuk sekolah, yah setelah memboloskan diri karena sakit hehe jangan lupa review nya yaa

See u next chap mwaahh