Cast: Haechan, Mark, Jeno, Jaemin, otc.
Genre: romance, lil comedy, fluff, bxb, boys love.
p.s. cerita ini udah pernah di post sebelumnya di watty, dengan cast berbeda.
100% hasil pemikiran sendiri
~WHATTA MAN~
"ehem" jeno berdehem pelan, sudah 10 menit keduanya tidak ada yang membuka suara, setelah kepergian haechan tadi suasana begitu canggung. Jaemin tak tahu harus membuka pembicaraan dari mana, begitu pun jeno. "hmm aku pesan minum dulu ya, jen." Jaemin sudah ingin bangun dari duduk nya tapi ditahan oleh jeno, "biar aku saja." Ia lalu pergi ke tempat food court.
Semua ini gara gara haechan yang seenaknya menyuruh jeno mengajak jaemin kencan, bukan nya apa-apa, dia jadi tidak enak dengan jeno. Terlebih ia juga tidak tahu apakah jeno juga menyukai dirinya seperti ia menyukai jeno.
Jeno kembali dengan iced chocolate di kedua tangannya, keadaan semakin canggung ketika jeno sudah duduk di hadapan anak itu. "terima kasih, jeno." Kata jaemin kaku, yang hanya di balas gumaman oleh jeno. Lagi, tak ada pembicaraan diantara keduanya. Pikiran jaemin berkecamuk, ia malu dengan jeno karena mungkin pria itu sudah tahu jika dirinya menyukai jeno. Berterima kasihlah pada haechan karena membuat keadaan jadi seperti ini.
"jaemin, apa sebaiknya kita mengikuti saran haechan?" ujar jeno tiba tiba, jaemin yang menyesap minumannya tersedak mendengar perkataan jeno barusan,"ap- apa?" Dirinya tidak salah dengar kan? Jeno beneran ingin mengajaknya kencan? "berkencanlah denganku, jaemin." Kata jeno mantap, jaemin gugup, haruskah ia menolak ajakan jeno? Atau menerimanya? Pipinya memanas tatkala jeno menatap kedalam matanya, menunggu anak itu menjawab. Jaemin akhirnya mengangguk.
.
Haechan terbangun dengan keadaan sudah berpakaian dan selimut yang menutupi tubuhnya. Tidak ada mark yang disampingnya. Ia mencoba bangun dari sofa, tapi tidak jadi karena ia merasakan tubuh bagian bawahnya teramat sakit. "akhh.." ia merintih, memegangi pinggulnya yang ikut ikutan sakit.
Ia teringat kejadian tadi siang, dimana dirinya yang bisa dibilang 'diperkosa' oleh pria sialan itu. Dan yah, setelah itu dirinya ditinggal begitu saja diruangan milik si brengsek mark. Ia melihat sekeliling, ini sudah malam. Dan dirinya hanya seorang diri di ruangan besar itu. Haechan takut.
Haechan mencoba untuk terduduk lagi, tapi tidak bisa karena bagian bawahnya terasa amat nyeri. Kemana si keparat mark itu? Setelah puas membuat dirinya di permalukan, pria itu dengan seenaknya meninggalkan dia sendirian di ruangan ini? Harga dirinya runtuh, ia sudah seperti jalang murahan yang dibuang ketika sudah habis di pakai.
"dasar brengsek!" haechan mengumpat dengan perasaan dongkol, tubuhnya ia biarkan berbaring menyamping agar daerah pantatnya tidak tertekan oleh sofa. Ia benar benar ingin segera pergi dari sini. tapi apa daya, tubuhnya bahkan tidak bisa dibuat untuk duduk, lalu bagaimana bisa ia berjalan.
Pintu ruangan itu terbuka, perasaanya lega ketika menampakkan sosok yang di umpatinya tadi. Mark berjalan menghampirinya, "sudah bangun?" haechan tak menjawab, ia hanya menatap sinis pada pria itu yang kini sudah bersimpuh di depannya, mensejajarkan dirinya dengan haechan. Mark menyunggingkan senyumnya, tangan nya ingin mengelus rambut haechan, tapi langsung di tepis oleh anak itu. "jangan menyentuhku!" tolak haechan.
Perut haechan berbunyi dengan keras, menandakan ia belum memasukkan makanan sejak siang tadi. Salahkan saja mark yang berbohong kepada dirinya yang mengajaknya makan siang tetapi malah berakhir seperti ini. "kau lapar? Sebaiknya kita turun dan mencari makan." Haechan malu, ternyata mark mendengar bunyi perutnya yang minta diisi. Haechan mengalihkan pandangannya dari mark, menolak ajakan pria itu yang kini sudah mengulurkan tangannya, meminta agar ia bangun dari kegiatan berbaringnya.
"ayolah haechan, jangan membantahku." Mark seperti tidak peka dengan keadaan haechan sekarang, ia mengira jika anak itu hanya merasa kesal kepadanya, memang benar sih, anak itu merasa kesal. Tapi inti dari haechan menolaknya bukan hanya karena itu saja. Tak tahukan mark jika dirinya tak bisa bisa bangun bahkan hanya sekedar untuk duduk.
Haechan benar benar dongkol dengan pria itu, terlebih dia sudah di permalukan. Ia ingin menangis saja rasanya. "haechan." Panggil mark penuh penekanan. Tak ada jawaban dari anak itu. Dilihatnya punggung haechan yang bergetar.
Mark menundukkan badannya lagi, membalik tubuh haechan menghadapnya. Benar saja, anak itu sedang menangis tanpa suara, mark panik melihatnya, "hei, kenapa?" mark menangkup wajah haechan yang sudah banjir air mata itu, "dasar brengsek! Pria keparat tak bertanggung jawab!" bukannya menjawab haechan malah mengumpati dirinya dengan satu tangan yang memukuli pundak mark, mark segera menahan tangan haechan yang terus menghujamnya dengan pukulan.
Ia mengerutkan dahinya tak suka ketika mendengar umpatan anak itu, ia merasa dirinya tidak melakukan kesalahan sejak tadi. Apa haechan marah karena ia melakukan 'itu' dengan dirinya? Tapi haechan juga tidak menolaknya tadi, malah ia yang meminta lebih.
"kenapa, haechan?" mark menuntut jawaban pada anak itu ketika drinya mendapati haechan menangis semakin keras, "seharusnya kau tanya saja pada dirimu yang menyebalkan itu! Dirimu yang amat sangat tidak bertanggung jawab! Memperlakukanku layaknya jalang yang kau tinggal pergi setelah puas memakainya! Aku takut sendirian disini! Tak tahukah kau mark bahkan aku tidak bisa duduk karna ulahmu!" tangis haechan semakin kencang ketika ia sudah selesai mengeluarkan unek uneknya yang dipendam anak itu sejak tadi.
Tatapan mark pada haechan melembut, menyadari kesalahan nya. Bukan seluruhnya kesalahnya sih, tadi ia sedang ke toilet ketika haechan tidur. Dan tentu saja, dirinya bahkan tidak meninggalkan anak itu ketika ia bangun terlebih dahulu tadi. Malah dirinya yang memakaikan pakaian anak itu.
Mark melepaskan genggamannya pada tangan haechan, memeluk anak itu erat. "maafkan aku, haechan. Maaf." Haechan tak menolak ketika mark mendekatkan diri memeluknya, tapi ia masih sangat kesal dengan perlakuan pria itu padanya. "sudah, haechan. Jangan menangis lagi," suara mark merendah, tidak seperti beberapa saat lalu ketika menanyakan haechan.
Mark menepuk nepuk punggung haechan pelan, menenangkan anak itu agar berhenti menangis. Haechan masih sesegukkan dalam dekapannya. Mark tidak pernah menyangka jika haechan akan menangis karena dirinya, ini pertama kalinya melihat haechan seperti itu. Biasanya haechan sangat cerewet dan selalu mengomel padanya. Ada bagian dari dirinya yang terasa amat perih ketika melihat haechannya menangis. Terlebih karena ulahnya.
Haechan sudah tidak menangis lagi, lalu mark melepaskan pelukannya. Mengusap sisa air mata yang ada di pipi gembil haechan, dilihatnya mata haechan yang memerah dan bengkak. Ia bersumpah tidak akan membuat haechan seperti ini lagi.
Entah kenpa haechan jadi sangat emosional sekarang ini, seperti perempuan yang mengalami mood swing ketika sedang period. Ia sibuk menyedot ingus nya yang terasa sangat cair itu. "aku sudah memesan makanan, kita makan disini saja." Mark duduk di space kosong samping kepala haechan setelah selesai sibuk dengan ponselnya tadi, mengelusi rambut anak itu yang masih betah berbaring miring.
Suasana malam itu begitu sunyi, karena memang sudah lewat dari jam pulang kerja. Mark menarik haechan agar kepalanya berpangku pada pahanya. Haechan tidak menolak, ia lebih memilih menurutinya. Karena mau seperti apapun ia menolak ia juga akan di paksa oleh pria menyebalkan itu kan? Tak di pungkiri haechan merasa nyaman ada di pangkuan mark, terlebih pria itu juga sedari mengelusi surai nya dengan teratur.
Haechan hampir tertidur ketika tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk, ia segera membuka matanya lagi, "sebentar haechan," mark menaruh kepala haechan lagi di sofa ketika dirinya ingin bangun dan mnghampiri pintu, sepertinya itu delivery yang mark pesan tadi, terlihat ketika pria bukannya mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu masuk, tetapi malah mengeluarkan dompet dari sakunya dan ia kembali menghampiri haechan dengan kantung plastik besar di tangannya.
Mark menaruh kantung itu di meja, membuka jas hitamnya lalu ia letakkan di lantai. Mark duduk di lantai dengan dilapisi jas nya tadi, mensejajarkan dirinya dengan kepala haechan. Lalu ia mengambil bubur dalam kantung plastik tadi dan menyuapkannya pada haechan, haechan yang melihat itu menggelengkan kepalanya menolak. "tidak mau," tolaknya "jangan menolak haechan, kau perlu makan." Haechan menutup mulutnya ketika lagi lagi mark menyuapkan sesendok bubur ke depan mulutnya, "aku bukan orang sakit, jangan berikan aku makanan menjijikan itu" haechan tidak suka makan bubur, menurutnya itu menjijikan. Sekalipun ia sedang demam atau sakit, ibunya tidak pernah membuatkannya bubur. Entah kenapa haechan sangat membenci bubur.
"tubuh bagian bawahmu 'sakit', haechan. Dan ini tidak menjijikan." Kata mark "lebih baik aku makan yang lain saja, ketimbang memakan yang seperti muntahan itu." mark menghela napas pelan, sabar dengan kelakuan bocah itu. Lalu ia mengeluarkan sekotak paket besar sushi dari dalam kantung tadi, sebenarnya itu untuk dirinya. Tapi karena haechan tidak mau makan buburnya. Jadi, ia menyuapkannya pada haechan, syukurlah anak itu tidak banyak omong ketika dirinya menyuapkan sepotong sushi ke mulutnya.
Haechan makan dengan keadaan berbaring seperti tadi, walaupunmark takut jika dirinya tersedak, tapi pria itu sudah tidak memaksanya bangun lagi. Mungkin karena takut haechan akan menangis kencang seperti tadi. Mark terus menyuapkan potongan potongan sushi pada haechan, sesekali ia juga menyuapkan pada dirinya sendiri. Ia juga belum makan omong omong.
Haechan benar benar seperti orang lumpuh sekarang, bahkan makan pun ia tidak mau susah susah untuk duduk. Salahkan saja mark yang membuat dirinya seperti itu, yah, salahkan saja pria brengsek itu karena memang dirinya tidak mau di salahkan.
Mark menyodorkan sedotan yang sudah tersambung dengan botol air itu ke hadapan bibir haechan, anak itu langsung menerimanya. Mark melirik jam tangannya, 9.18pm. Mereka harus segera pulang, haechan butuh istirahat.
"aku ingin pulang, mark." Bagus, dirinya memang ingin membawa anak itu pergi dari sini dan lagi anak itupun terlihat sudah tidak betah berlama lama di ruangannya. "hyung. Haechan." Perintah mark penuh penekanan. Ia ingin anak itu memanggilnya dengan embel embel 'hyung' ketimbang hanya dengan nama saja.
"tidak mau." Haechan mana sudi memanggil mark dengan sebutan 'hyung' selain pada kakaknya. Hei, apa haechan benar benar sudah lupa siapa yang mendesahkan nama mark dengan panggilan 'hyung' tadi? "selalu saja membantah, ya, haechan." Mark menampakkan seringaiannya,ia menyibakkan lengan kemejanya sampai siku. "Huwaaa.. yak! Turunkan aku!" haechan kaget ketika mark tiba tiba mengangkat tubuh anak itu kedalam gendongannya, mengangkat haechan seolah olah tanpa beban.
"panggil aku hyung, lalu aku akan menurunkanmu." Haechan malah menatapnya tidak suka, menolak tawaran mark. Pria itu tak peduli, ia malah berjalan keluar dengan haechan yang masih dalam gendongannya itu. Bahkan, ketika mereka sudah berada di lift pun, haechan masih meronta dalam dekapannya.
"tadi kau bilang lubang mu masih sakit kan? Maka dari itu aku dengan senang hati akan menggendongmu agar kau tak perlu berjalan" kata mark "tapi kau malah membuatku semakin mual mark! Turunkan aku, tas ku masih tertinggal di dalam!" haechan ingin muntah ketika perutnya terasa di aduk aduk karena mark menggendongnya seperti ini, perutnya yang terasa penuh itu seperti dilipat tapi tertahan oleh makanan yang baru saja dimakannya.
"itu karena kau yang membantahku, haechan." Mark menatap mata anak itu tajam, memberitahu jika ia tidak suka di bantah, apapun itu bentuknya. Haechan mengalihkan pandangannya, takut dengan tatapan mark "turunkan aku, hyu-hyung." Kata haechan akhirnya mengalah, tidak tahu saja mark jika dirinya mati mati an mengontrol detak jantungnya agar tak terdengar pria itu.
Mark menurunkan haechan, sakit yang dirasakan anak itu sudah tidak sesakit pertama ia bangun tidur tadi, haechan buru buru mengambil tempat di pojok sebelah kiri, ingin bersender pada dinding besi itu. Mark tidak tinggal diam, ia buru buru memapah anak itu agar tidak jatuh, mark berdiri di pojokan, menarik haechan dalam dekapanya, membiarkan anak itu bersender pada tubuhnya.
Haechan yang ingin menjauhkan tubuhnya dari mark, langsung di tahan oleh pria itu. "begini lebih baik, haechan." Haechan mencebikkan bibirnya. Selalu saja seperti itu, memaksakan keinginannya sendiri tanpa meminta pendapat darinya.
Haechan yang tidak mau merasakan sakit pada lubangnya hanya menjatuhkan kepalanya pada bahu mark, berhadapan langsung dengan dinding besi dibelakang punggung pria itu. Ponsel mark bergetar di saku celananya, dengan sebelah tangan mark yang masih menahan tubuh haechan, ia mengambil ponselnya. Tertera nama ibu anak yang ada di pelukannya. Mark menggeser tombol hijau lalu menloudspeakernya, karna tangannya susah untuk mendekatkan ponsel ke tengelinya.
"halo" haechan kaget mendengar suara ibunya, tubuhnya bergerak ingin menjauhi mark, tapi tangan pria itu masih menahannya. Ia ingin mengadu pada madam jeannienya, mengadu perlakuan mark yang sudah memperkosanya tadi. Mengadu jika dirinya tidak di perlakukan dengan baik oleh pria sialan itu.
"eomma!" haechan sedikit meninggikan nada suaranya agar ibunya mendengar dari seberang sana. Mark hampir saja melemparkan ponselnya ketika mendengar suara haechan tepat di samping telinganya "oh, haechannie?" terdengar suara kaget jeannie di seberang sana. "selamat malam, eommonim." Sapa mark sopan. Hei! Sejak kapan dirinya begitu dekat dengan ibunya itu? Bahkan sudah berani memanggilnya ibu.
"apa kau sedang bersama haechan, mark?" tanya jeannie yang tentu saja dapat di dengar anaknya. Yang di panggil namanya pun segera menyahut "mami, tolong anak mu ini! Aku di perkosa oleh pria sialan ini mamiii.." teriak haechan dengan nada memelasnya, yang tentu saja tidak di tanggapi serius oleh jeannie. "hei, Jaga perkataanmu bocah tengik! Siapa yang kau bilang pria sialan itu ha? Dan siapa yang berani memperkosamu?" sepertinya mark tahu dari mana sikap haechan yang suka berkata kasar itu, dari jawaban jeannie yang mengatai dirinya bocah tengik tadi.
"tentu saja mark, buuu.. selangkanganku sakit karena ulahnya. Ibuu aku tidak bercanda, cepatlah pulang aku ingin melihatmu menendang bokong pria sialan ini!" ujar haechan dengan nada merajuknya, mark sebenarnya geli sendiri mendengar percakapan antara dua ibu anak itu. Karena, yah, haechan selalu mengganti ganti panggilan pada ibunya.
Tak ada jawaban dari di sebrang sana, malah yang ada terdengar suara tawa seseorang yang menggelegar "kau ini ada ada saja channie. Mana berani anak baik seperti mark memperkosamu? Lagipula, kalaupun iya, aku tidak masalah dengan hal itu. Kalian kan sudah bertunangan, jadi ya wajar saja. Dan ibu menelpon mark sebenarnya ingin bilang jika ibu tidak akan pulang malam ini, lalu ingin meminta nak mark menemanimu dirumah" demi tuhan! Biarkan haechan tenggelam dilautan pasifik sana.
Ibunya itu memang amat sangat menyebalkan, apa apaan itu? Membiarkan mark memperkosanya lagi dengan cara meminta pria sialan itu menemani haechan dirumah? Oh tidak! Tidak! Lebih baik ia tidur dengan kuki kesayangannya. "tidak madam! Lebih baik aku ditinggal sendiri dirumah bersama kuki ketimbang dengan mark!" haechan protes tak suka, bahkan kepalanya sudah ia telengkan agar menghadap ponsel yang ada di genggaman mark. Mark sendiri hanya tersenyum menyeringai, merasa menang dari anak itu. Dengan senang hati ia akan menemani nya bahkan sampai sisa hidupnya pun ia tidak keberatan. Tapi tidak dengan haechan, ia sudah mendumal sedari tadi. "tidak haechan, mami tidak mau terjadi apa apa denganmu ketika aku sedang tidak dirumah." Yah, seperti memang haechan itu copypaste nya jeannie.
"nak mark mau kan menemani anak nakal itu?" lanjut jeannie, "tidak!" haechan menjawab cepat "dengan senang hati eommeonim," kata mark dengan senyumannya.
Oh tidak! Jangan lagi. Haechan mengerang dalam hati. Dirinya tidak akan selamat malam ini.
.
"shhh.. aohhh.. jenhh.. ahhh" jaemin mendesah ketika jeno menghisap dalam putingnya, ia mati matian agar suaranya tidak terdengar. Bukannya apa-apa, setelah jeno mengajaknya kencan tadi. Entah kerasukan apa tiba tiba jeno menciumnya di jalanan sepi samping gang gelap dan berakhir dengan keduanya yang malah keterusan. Asal kalian tahu saja, mereka sedang makeout di gang gelap itu. Dengan lampu jalanan yang remang remang, dan tidak ada siapapun selain mereka berdua disana.
Karena memang ini sudah menghampiri waktu tengah malam, jadi jarang ada pejalan kaki yang melewati tempat itu. "ngghhh.. jenohh.." jeno membuka resleting celana anak itu dan menurunkannya sampai dengkul, karena memang posisi jaemin yang terhimpit tembok dan kedua kakinya ia kaitkan pada pinggang jeno.
Jeno meremas kedua pantat jaemin lembut, mencari lubang sempit anak itu. Tak tanggung tanggung, jeno memasukkan 2 jarinya sekaligus, yang membuat anak itu mendesah keenakan. Mulutnya masih sibuk membuat hickey pada dada jaemin. Dan jaemin yang asik mengacak rambut jeno.
"jeno cepat masukkhaann.. " berbanding terbalik dengan haechan, jaemin malah ingin cepat cepat dimasukkan lubangnya oleh jeno, tubuhnya panas. Gairahnya sudah tidak bisa di tampung lagi.
Kenapa sih mereka harus melakukannya di tempat seperti ini? Punggungnya sakit terus terusan terbentur tembok dibelakangnya, jeno kan bisa saja mengajaknya ke kamar hotel atau minimal kamar flat nya juga tidak masalah. Ketimbang disini yang bahkan orang bisa saja memergoki mereka yang sedang dalam masa pubertas terlambat nya itu. Yah, katakan saja begitu.
Angin malam menusuk tubuh bagian atas jaemin, ia tidak sepenuhnya telanjang memang. Tapi tetap saja terasa dingin karena kancing kemejanya yang sudah terbuka sampai perutnya. "AAARRHH-" jaemin mengerang tertahan ketika jeno sudah ingin memasukkan kepala penisnya itu kedalam lubang sempit anak itu.
Jeno memasukkan penisnya dengan sekali hentak, "AAGGHH.. ahhh.." jaemin merintih antara kesakitan dan nikmat, karena jeno benar benar sudah menyentuh prostatnya. Tubuhnya tersentak naik turun ketika jeno dengan brutalnya bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan itu.
Jaemin mengajak jeno berciuman, yang langsung diterima pria itu dengan senang hati. Tubuhnya masih bergerak naik turun dalam gendongan jeno,ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini dengan jeno yang memulainya terlebih dahulu.
Jeno merasakan penisnya senakin membesar, ia melepaskan ciuman panasnya dengan jaemin, memeluk anak itu erat, menjatuhkan kepalanya pada pundak jaemin. Mempercepat gerakannya setelah dirasa dirinya mau meledak. Dahinya mengerut fokus pada bagian bawahnya.
"jeno aku mau aarhh.. keluarhh.." jaemin mendongakan kepalanya, mulutnya terbuka sedikit karena terengah "bersama jaeminnhh AAHH..." keduanya mendesah dengan keras, jeno terus menyemburkan spermanya pada lubang jaemin, begitupun jaemin yang mengeluarkan spermanya mengenai baju jeno dan perutnya.
"jaemin, jadilah kekasihku."
Tbc
Aduhhh apa iniXD eh iya btw adegan haechan yang di peluk mark di lift anggap aja kaya jeno yang kemaren gelendotan sama mark di nct life mini behind xixixi. Author dan segenap keluarga besar mengucapkan HAPPY BIRTHDAY RENJUN! Uhhh.. ga kerasa udah gede aja ya njun:' eh maksudnya badannya yg gede bukan 'itu'nyaXD
Entah kenapa author tuh lagi gemes banget sama jeno yang centil mulu ke renjun, udah gitu kemaren gelendotan ama mark:' kan kasian haechannya di anggurin trus tadi pas liat apdetan tw lagi si haechan kaya bales mark dengan gelendotan sama bang wingwingXD uhh gemashhh..
Yang punya foto member nct bareface bagi author dong hehe bisa kirim ke line markchan299 soalnya lagi pengen liat mereka tanpa makeup xixixi oke kita sudahkan saja sesi cuap cuap ga penting ini yapp
See unext chap mwahh
