Akatsuki in the Party
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Picture isn't mine
.
.
Warning : OOC, Typo, garing, gaje, bahasa abal, mungkin ada sedikit yaoi, de el el.
Rate : T untuk keanehan
Pair : Siapa aja boleh
.
Sesuai rencana, siang ini Akatsuki bakal beli baju untuk di pake di pesta ulang tahunnya Ton-Ton. Meskipun yang berulang tahun makhluk ga jelas, kan tetap gengsi dong, ke pesta di kantor hokage pake jubah buluk.
Singkat cerita, mereka sudah sampai di Mall Konoha. Karena pestanya di Konoha, nggak ada salahnya dums beli baju disana juga.
"Dei, lu pake ini cocok kayaknya." Celetuk Sasori sambil tunjuk-tunjuk gaun kuning kembang-kembang yang lagi dipake patung botak gundul.
"Ih, danna, aku kan cowok un," kata Deidara dengan nada manja, persis cewek yang lagi ngambek. Beberapa pengunjung mall langsung kena panah hati di jantung, jatuh hati ama si Dei gitu. Namun mereka segera sadar, kalau Deidara itu berbatang.
"Geli ah gue dengernya," gerutu Hidan.
"Sok geli lu," sahut Zetsu putih. "Sendirinya juga mahoan ama Kakuzu."
"WHUATZZ?! GUE? KAKUZU? OEMJI HELLAAAWWWW! GA LEVEL KALE YAAH GUE AMA KAKEK-KAKEK KIKIR GETOOOHH!" Teriak Hidan keras-keras. Sampai ga nyadar kalau Kakuzu udah berdiri dibelakang dia dengan tampang horror.
"Bunga kas kau, gue naikin 100%!" Kakuzu mengeluarkan buku keuangannya, langsung jumlahin total hutang Hidan ditambah kas 100%.
"LHO?! Jangan gitu dong Kuz..., gue tadi salah ngomong, suer, maaf yah, kalaupun gue nggak salah ngomong, gue cuma bercanda Kuz." Melihat adegan—yang agak hombreng—Hidan yang berusaha minta maaf ke Kakuzu, entah kenapa Author(?) merasa blushing dan mual disaat yang bersamaan.
"Kuz kuz, emang kau pikir gue tikus?!" Kakuzu kesal tingkat dewa. Tapi mukanya diam-diam ngeblush. Untung dah itu muka ketutup cadar, setidaknya meminimalisir jumlah korban yang mual kronis akibat kelakuan mereka berdua ditambah tampang Kakuzu yang ajegile.
Sekarang Kakuzu malah buang muka, sok jual mahal. Sementara itu Hidan narik-narik baju Kakuzu sambil terus minta maaf dan minta bunga kas-nya jangan dinaikin, sekalian juga minta hutangnya dikurangin.
"Heh, jangan homoan di Mall!" Bentak Konan sambil ngegeplak kepala Kakuzu dan Hidan dengan tas tangan. Diantara kumpulan makhluk-makhluk nista Akatsuki, cuma Konan yang penampilannya waras. Seenggaknya dia lepas jubah Akatsuki dan cuma make baju yang dibalik jubahnya. Pikiran Pein udah kemana-mana waktu lihat Konan buka jubah.
"Gue mau beli ini deh," Pandangan Itachi jatuh pada jas hitam dengan kemeja putih dan dasi merah sebagai tambahan. Lengkap dengan celana hitam formal. Namun diam-diam, sebenarnya bukan itu pakaian yang menarik perhatian Itachi. Melainkan gaun biru langit yang ketat dengan jubah tipis panjang dibelakangnya. Kayak bajunya Elsa dari Frozen.
'Aha.' batin Itachi seolah-olah mendapat ilham.
"Tem, kita gimana cara pake bajunya?" Tanya Zetsu putih kebingungan. Cangkang mereka itu lho, mengganggu. "Iya tih, bingung juga gue. Udah ah, kita pikirin aja itu nanti." Zetsu hitam cuek.
Sementara itu Pein sibuk milih-milih baju pengantin, buat nikahan dengan Konan katanya. Si ketua mesum itu langsung di geplak pake tas tangan oleh Konan dan diseret buat nyari baju pasangan oleh cewek kertas itu. Si Konan sih, meskipun sangar aslinya sayang.
"Nggak ada baju yang pas buat gue nih," Kisame curcol. Dia udah capek-capek kesana kemari sambil nentengin pedang kesayangannya—samehada, tapi nggak juga nemu baju yang pas buat dia. Habis, badannya kayak begitu sih. /dilemparsamehada/
Akhirnya setelah menjelajahi seisi mall (buset!), Kisame menemukan kemeja biru ukuran raksasa yang sebenarnya mau dihadiahkan ke Hulk. Tapi dia ngancem, kalau itu kemeja kagak dijual ke dia, Mall ini bakalan kena terjang tsunami. Akhirnya dengan berat hati pegawai mall menjual kemeja kebesaran tersebut ke Kisame.
Sebenarnya sih itu kemeja nggak raksasa-raksasa amat. Biar waktu dipakai sama si Hulk kemejanya koyak-koyak—ciri khasnya Hulk.
Masalah Kisame udah selesai, mari kita lihat bagaimana nasib Sasori dan Deidara.
"Eh, bajirut, cocokkan elu yang pake gaun," Sasori tau-tau mengacungkan jari manis kirinya ke Deidara. Ntar dikira minta dipasangin cincin kawin lho mas, mending pasangin cincin ke Author aja(?).
"Enak aja kamu, un!" Deidara memasangkan cincin di jari manis Sasori—eh salah, salah, maksudnya menemplok lempung diatas tangan Sasori yang terjulur. "Cocokkan kamu kali un!"
"Heh, gue ganteng, bukannya cantik!" Seru Sasori narsis.
"Mana ada orang ganteng numpang boker dirumah orang tak dikenal un!" Deidara menebar gosip.
"Gue kugutsu nggak bisa boker dudung!" Sasori melepas lempung yang lengket di punggung tangannya dan melemparkannya kembali ke muka Deidara.
"Halah! Kemarin aja kamu makan, masa ga bisa boker un?!" Deidara balas melempar lempungnya yang nempel dimuka. Lemparannya malah nyasar ke perut Sasori. Untung nggak kena yang dibawahnya ya. Ckckck, sungguh nista lemparanmu Dei!
"Suka-suka gue dong! Yang punya tubuh kan bukan elu!" Kali ini Sasori udah naik pitam, di lemparnya lempung yang lengket diperutnya itu dengan sekuat tenaga. Sasarannya kali ini sangat indah, karena tepat mengenai -piiip- Deidara.
"JANGAN MACAM-MACAM DANNA UN!"
Yah, untung mall-nya nggak diledakin Deidara.
"Ngapain sih mereka?" Hidan cengo melihat aksi jambak-jambakkan Sasori dan Deidara. Bikin malu aja itu pasangan.
"Eh Kuz, lu nggak beli baju?" Tanya Hidan melihat partnernya asik ngemis di dekat toko baju yang sedang mereka datangi.
'Ini orang dimana-mana ngurusin duit melulu.' Batin Hidan. Sebagai partner Kakuzu, si Hidan sebenarnya malu amat ngeliatin si rentenir bangkotan itu ngemis-ngemis, didalam mall pula. Kan bisa turun derajat Akatsuki kalau begini. Tapi yah, dari pada bunga kas di naikin mending kelakuan Kakuzu dicuekin.
"Udah beli," Kakuzu menunjuk kantong belanjaannya yang ternyata tergeletak disamping kaki Hidan.
Si penyembah dewa Jashin yang penasaran, akhirnya ngorek-ngorek kantong belanjaan partnernya. "Eh buset," Hidan mengeluarkan daster putih panjang yang rupanya merupakan barang belanjaannya Kakuzu.
"Lu mau jadi kunti apa mau naik haji?" Hidan masih memandangi baju yang dibeli Kakuzu.
"Itu yang paling murah," jawab Kakuzu sekenanya. "Diskon lagi."
Sambil memasukkan lagi baju daster Kakuzu, Hidan ngomel-ngomel. Kok bisa sih, dia punya partner sebegini pelit?
"Udah siap nih milihnya?" Konan muncul barengan Pein.
"Buset, ngapain lu ngemis disitu Zu?" Pein sebagai ketua rasanya pengin nyemplung kelaut paling dalam ngeliat anak buahnya ngemis kurang kerjaan.
"Nyari duit lah, kau nggak liat apa?" Kakuzu ketus. Pasalnya daritadi dia baru dapat lima puluh perak.
"Jangan malu-maluin Akatsuki napa?" Dengan sekuat tenaga Pein nyeret Kakuzu berdiri.
"Suka-suka gue dong!" Kakuzu masih mempertahankan posisi ngemisnya.
"Tegak atau gue shinra tensei lu." Ancam Pein dengan suara yang seksi beudh. Konan melayang seketika.
"Iya, iya, dasar." Kakuzu akhirnya berdiri dengan ogah-ogahan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Eh, Tobi mana?" Tanyanya sambil masukin uang lima puluh peraknya kedalam kantong.
"Eh iya, kemana tuh anak?" Konan yang juga baru nyadar, celingak celinguk.
"Jangan-jangan bikin rusuh lagi!" Pein yang panik langsung lari-lari ditempat sambil gigitin kukunya yang padahal udah dikutekin dengan indahnya oleh Itachi.
"Udah biarin aja tuh anak," ucap Hidan yang udah selesai pilih baju—dan tentunya bayar. "Jelas itu makhluk ajaib."
"Iya, ya," Pein, Konan, dan Kakuzu, manggut-manggut disco sampe Kakuzu terangkat dan kepalanya terantuk kelangit-langit mall saking semangatnya dia mengangguk.
"Et dah," Konan, Pein, dan Hidan cengo sampe ileran ngeliat Kakuz yang kini megangin kepalanya yang ditumbuhi benjol sebesar kepala durennya Pein. Kepala Kakuzu jadi kelihatan kayak ada dua.
"Ini anak ada-ada aja ulahnya," kata Zetsu yang muncul barengan Kisame. Mereka udah nenteng belanjaannya masing-masing.
"Lu kompakkan aja ngomongnya sekarang Zet," ucap Pein yang menyadari perubahan seorang Zetsu.
"Hati kami udah menyatu." Zetsu menyentuh sisi itemnya dengan penuh penghayatan. "Mulai sekarang kami akan hidup menjadi satu pribadi. Ibarat bayangan dan cahaya yang bersatu, terlihat mustahil namun menjadi mungkin begitu—"
"Kalian ini! Udah jelas di mall malah berantem!" Curahan hati seorang Zetsu dipotong oleh omelan Itachi yang datang sambil menjewer sebelah kuping Deidara dan Sasori yang berjalan terseret-seret mengikuti Itachi. Persis anak nakal yang dipaksa emaknya pulang ngerjain PR.
"Duh, duh! Lepas Itachi un! Sasori-danna yang mulai duluan un! Sakit uuuuun!" Deidara merengek-rengek kayak anak kecil. Setelah jewerannya dilepas Itachi, dua kantong belanjaan ditangannya ia tamparin ke mukanya Sasori.
"Masih cari masalah elu!" Sasori—yang nggak dijewer lagi—tak terima balas menampar muka Deidara, tapi kantong belanjaannya cuma satu (Secara Deidara megangin kantongnya Itachi) jadi efek sakitnya lebih kecil dari yang Sasori rasakan. Eh, Sasori kan tubuhnya boneka, memang ngerasain sakit ya?
"Cari masalah denganku un?!" Deidara menampar Sasori lagi, tapi kali ini pake tangan. Sasori jijay karna mulut ditangan Deidara lidahnya melet-melet. Teringat Orochikampret dia.
"Gue nggak takut!" Sasori juga balas nampar. Karena tangannya keras—secara dia boneka—gigi Deidara sampe pada copot dan salah satunya terbang mengenai benjolan Kakuzu yang jadi semakin besar, tapi gigi-gigi itu kemudian dipasang(?) lagi oleh yang punya.
"Dasar boneka cebol, un!"
"Elu cuma lebih tinggi sedikit, banci kalengan!"
"Nggak mensyukuri nikmat tuhan, kamu ngubah tubuh jadi boneka un!"
"Trus kenapa? Lu nggak suka tubuh gue tubuh boneka?"
"Ng-nggak g-gitu..., un!"
PLAK. PLAK.
"Bisa diam nggak sih? Malu-maluin tau!" Semprot Konan usai mukulin Deidara dan Sasori pake tas tangan. Waktunya nggak tepat banget Konan, padahal Deidara gelagatnya mencurigakan gitu.
"Udah deh, mending kita pulang. Tuh, si Kakuzu liat, udah kayak apaan coba." Hidan menunjuk-nunjuk partnernya yang kini tergeletak mengenaskan dengan kakinya.
"Dan, lu kan partnernya, bawa Kakuzu sana gih." Titah Itachi seenak jidat. Setelah kantong belanjaannya di kasih lagi oleh Deidara, dia langsung ngacir setelah berkata, "Eike mau ke salon Orochi-chan duluh! Bai-baiihh! Aah! Uhh..., ihh! Aarrgghhh... awh!" sambil mendesah gaje.
Astaga. Itachi Uchiha diam-diam banci.
Fans Itachi yang kebetulan lagi belanja di Mall Konoha—dan yang melihat Itachi tentunya—langsung nangis bombay, jungkir balik, teriak histeris, bahkan jedotin jidat ke bibir patung(?).
"Nggak nyangka gue," Sasori berhenti gebukin Deidara. Dia insaf, masih ada langit diatas langit. Deidara bukan satu-satunya banci di Akatsuki ternyata. "Maaf ya Dei, gue pikir...,"
"Iya un, aku maafin. Aku juga tobat yang kedua kalinya nih un." Deidara tiba-tiba meluk Sasori. Fans Itachi yang sakit hati langsung tiba-tiba pindah haluan jadi fansnya SasoDei.
"Dah, dah, pulang yuk," Pein mengkomando, dia jalan duluan diikuti Konan, Zetsu, dan Kisame.
Hidan dengan dongkol menyeret Kakuzu kembali ke markas. Dia janji, di markas nanti dan setelah Kakuzu sadar, dia bakal minta hutangnya di lunasin, titik!
Sasori dan Deidara berjalan berdampingan. Walaupun nggak pegangan tangan, cuma diem-dieman, tapi entah kenapa terlihat romantis. Mantan fans Itachi yang sekarang resmi menggemari pasangan humu nan laknat, SasoDei, ber 'kyaaa' 'kyaaa' ria.
Besok malam akan menjadi hari yang bersejarah bagi Akatsuki.
TBC.
A/N : Kelar juga~ walaupun pendek kayaknya /lompatkekasur/ Halo~ Ketemu lagi nih ;) /kedipkedip/ Garing yah? huhu, saya kayaknya kurang menistakan Akatsuki nih. Tunggu aja malam pesta nanti /senyumgajekeakatsuki/
Tobi anak baik disini ilang yak XD semua karakter Akatsuki bakal dapat bagiannya kok, Tobi juga ntar :D
Dan ini balasan review:
Lin Xiao Li : Makasih ripiu nya X) Mampir lagi ya(?) :v
ShevaAnastassya : Makasih :D
Adelia341 : Ini lanjutannya :v
fairyska-chan : Salken juga fairy-san :D Makasih review dan sarannya /peluk/ saran fairy-san lagi saya coba coba XD
Rinchan : Thq XD Ini lanjutannya :)
Reviewnya ditunggu ya :'v
Kritik dan saran yang membangun juga ditunggu ^^v
, Kuroyuki.
