SUPER PSYCHO LOVE #2
Pair HunKai ! GS for Kai!
WARNING..!
TYPO ANYWHERE..
GAK SUKA GS GAUSAH BACA..
GAK SUKA PAIR GAUSAH BACA..
DON'T LIKE DON'T READ..
STORY IS MINE..!
.
.
.
.
Happy Reading..
Preview...
Kai tergesa-gesa keluar dari pesawat dan segera menaiki taksi untuk pulang kerumah nya. Sehun mengumpat kesal saat kehilangan jejak gadis itu.
"Tuan Sehun, mobil anda menunggu disana. Mari.." sekertaris Sehun menghampiri Sehun dan menghentikan kegiatan Sehun yang sedang mengumpat untuk bergegas naik.
'Baiklah kau lolos lagi bitch..tapi aku pastikan dipertemuan selanjutnya kau akan kuberi pelajaran' ucap nya dalam hati sambil mengikuti sekretaris nya menuju mobil.
"Pukul berapa aku harus bertemu kolega ku pak Jang?" Sehun memecahkan keheningan di mobil yang ditumpangi nya bersama sekretaris kepercayaan nya itu.
"Pukul 10 Tuan..anda bisa mengistirahatkan tubuh anda dahulu"
"Baiklah.." Sehun memijat pelipis nya yang berdenyut nyeri itu, sungguh ia lelah sekali.
.
.
.
Taksi yang ditumpangi Kai berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana berpagar kayu dengan cat warna putih. Kai segera turun dan mengeluarkan koper nya dari bagasi setelah membayar sang sopir taksi.
Mata sayu Kai menatap penuh senyum rumah di depan nya, rumah dimana ia dan ibu nya tinggal, rumah yang juga sudah ia tinggal kan selama 2 tahun.
'Eomma..aku pulang' ucap nya dalam hati, kaki nya melangkah menuju pintu dan menekan bel pintu beberapa kali saat dirinya tidak mendapati ibu nya segera membuka pintu.
"Apa ibu masih tidur?" Gumam nya sambil melirik jam tangan di pergelangan tangan nya.
"Eomma..eomma..buka pintu nya. Ini Kai, eomma..Kai pulang" Kai berteriak sambil menggedor pintu dengan tidak sabaran.
"Eoh? Kai-ya..kau pulang?" Kai menolehkan kepala nya menatap tetangga yang tinggal disamping rumah nya.
Kai membungkuk sekilas memberi hormat, "Ahjumma, eomma eodisso? Apa ia pergi ke pasar?"
"Aniyo..eommamu tidak pulang sejak seminggu yang lalu Kai "
"Mwo?" Kai tidak dapat menahan berat tubuh nya lagi, kakinya lemas dan hampir menyentuh tanah jika ahjumma tetangganya itu tidak memeganginya.
"Gwenchana..?"
"Eomma..hiks"
.
.
.
2 minggu kemudian..
"Jja cepat selesaikan makanmu lalu kita berangkat ke Cafe" ucap Baekhyun pada Kai yang kini tengah menyantap sarapan nya.
"Baek, apa kau sudah mencetak brosur nya?" Tanya Kai, wajah nya masih terlihat sendu pasca kehilangan ibunya.
"Ya, kita bisa menyebarkan nya nanti sepulang kerja, percayalah kita pasti bisa menemukan ibumu ne? Semoga orang-orang melihat brosur tentang ibumu dan segera menelpon kita." Kai mengangguk dan melanjutkan makannya.
Baekhyun menatap miris pada sahabat nya tersebut, ia tahu betul bagaimana perasaan Kai saat ini. Ia juga merasa kasihan, sungguh melihat Kai yang tertimpa kemalangan yang bertubu-tubi mulai dari ia yang pergi ke Jepang untuk melanjutkan kuliah yang ternyata malah ditipu paman nya sehingga ia tidak bisa kembali ke Korea, hampir diperkosa dan sekarang ibunya menghilang entah kemana membuatnya ingin menangis, padahal Kai orang yang sangat baik. Tapi Baekhyun tidak boleh ikut-ikutan bersedih karena ia harus menguatkan Kai, jika ia ikut bersedih Kai malah justru akan semakin bersedih.
Ya, setelah mengetahui jika ibu Kai menghilang, Kai langsung menelpon Baekhyun dan keesokan harinya Baekhyun langsung menuju ke Korea dan membantu Kai mencari ibunya, mereka juga bekerja disebuah cafe untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua saat ini.
Baekhyun mendekati Kai dan mengelus pundak sahabat yang sudah seperti saudara bagi dirinya tersebut.
Kai segera menghambur kepelukan Baekhyun dan menangis lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Aku takut terjadi kenapa-kenapa dengan eomma, aku takut Baek hiks"
"Tidak..ibumu pasti baik-baik saja, percayalah. Kita tidak boleh menyerah Kai, kita harus terus mencarinya sampai ketemu. Aku bersumpah akan terus membantumu, percayalah" Kai mengangguk dan terus menangis menumpahkan penderitaan nya pada Baekhyun, satu-satu nya yang ia bisa jadikan sandaran dan keluarga saat ini.
...
"Annyeonghaseyo..." sapa Kai dan Baekhyun bersamaan saat mereka memasuki Cafe besar tempat mereka bekerja akhir-akhir ini.
"Annyeong.." sapa ramah pegawai lainnya, mereka sudah bersiap-siap untuk segera membuka Cafe.
"Oh hei kalian sudah tiba, Kai bisa kau ambilkan bahan-bahan digudang? Kita sudah kehabisan stok disini, dan Baek segera tata kursi nya ne?" Seorang pria tampan pemilik postur tubuh yang tinggi menghampiri mereka dan segera memberi perintah pada bawahan nya tersebut.
"Baik bos Chanyeol" mereka berdua hormat layak nya para tentara lalu sedetik kemudian mereka bertiga tertawa. Ya, Chanyeol ini pemilik Cafe besar mereka berdua bekerja, ia pria yang ramah dan baik hati pada semua karyawan nya. Kai dan Baekhyun sangat bersyukur akan hal itu, bahkan para pegawai nya pun ramah-ramah. Tak heran jika Cafe ini banyak pembeli.
Kai dan Baekhyun segera melenggang pergi melaksanakan tugas yang diberikan Chanyeol barusan.
"Bagaimana dengan ibu Kai, apa ada kabar?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang mengelap meja.
Baekhyun menoleh dan tersenyum, "aku rasa ini jam kerja dan bukannya bos melarang kami untuk ngobrol?"
Chanyeol tersenyum dan berdehem sebentar, "ya ya ya kau benar pegawaiku yang rajin, tapi aku ini bosmu jadi tidak ada salahnya bukan menjawab pertanyaan atasanmu"
Baekhyun mengangguk dan meletakkan lap nya, "Nihil Yeol, kami sudah berusaha keras tapi masih belum ada berita apapun, polisi juga masih mencoba mencarinya"
Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya, "kau mau aku membantu kalian? aku bisa menyuruh orang kepercayaanku mencari-"
"Tidak Yeol, kau sudah banyak membantu kami dengan memberi kami pekerjaan dan gaji yang cukup banyak. Kami sudah banyak berhutang padamu" sela Baekhyun saat Chanyeol lagi-lagi ingin membantu mereka.
"Aku tidak merasa keberatan Baek, kita inikan teman.." ya, Chanyeol ini sebenarnya adalah teman SMP Baekhyun, teman dekat malah. Mereka juga dulunya tetangga tapi sejak kedua orang tua Baekhyun meninggal, Baekhyun tinggal di Jepang dengan nenek nya hingga lulus SMA. Tepat kelulusan Baekhyun, nenek nya meninggal dan membuat Baekhyun akhirnya hidup sebatang kara dan berusaha bertahan dinegeri orang tersebut hingga ia bertemu Kai yang saat itu juga sendirian setelah ditipu pamannya, sehingga membuat Baekhyun merasa kasihan dan membawa Kai ke flat nya dan hidup bersama. Maka dari itu juga tak heran kalau Chanyeol tahu masalah ibu Kai yang menghilang tersebut.
"Justru karena kau temanku makanya aku sudah merasa banyak berhutang denganmu Yeol, lagipula rencananya sepulang kerja nanti kami akan membagikan brosur ibu Kai." Baekhyun menatap nanar Kai yang kini sibuk di meja kasir menata beberapa gelas dan barang lainnya.
"Ijinkan aku membantu, kali ini saja please.." Chanyeol memohon. Mau tak mau Baekhyun tersenyum dan menganggukkan kepala nya.
"Thanks Baekkie.." Chanyeol mencubit gemas pipi Baekhyun yang langsung dipukul oleh si korban sehingga tangan nya langsung terlepas dari pipi Baekhyun.
"Kerja Yeol..kerja! Ini tempat umum, kau bisa membuat orang salah paham melihat kita.." Chanyeol hanya nyengir sedangkan Baekhyun kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Brakk..
Sehun melempar berkas yang baru saja diberikan oleh salah satu pelayan sekaligus orang kepercayaan nya padanya.
"Bagus, bawa dia kehadapanku secepatnya Woo Bin, paksa dia jika ia menolak. Aku tidak mau tau pokok nya malam ini dia harus ada dihadapanku"
"Baik Tuan.." Woo Bin mengangguk dan berjalan pergi, ketika tiba didepan pintu muncul seorang lelaki yang lebih pendek darinya yang sama-sama bertugas sebagai pelayan dan kepercayaan Sehun.
"Oh! Woo Bin hyung.." sapa nya.
"Ada apa Woo Bin?" Tanya Sehun yang melihat Woo Bin hanya berdiri didepan pintu.
"Ah Tuan Sehun..ini aku Hyun Woo" pria bernama Hyun Woo itupun segera masuk dan membiarkan Woo Bin meninggalkan mereka.
"Ada apa?" Tanya Sehun to the point
"Anda harus melihat berkas ini, kami telah menyelidiki dan menemukan beberapa orang dalam suruhan paman anda yang telah beberapa kali menggelapkan dana dan menyabotase perusahaan anda selama anda bepergian keluar negeri untuk mengurus perusahaan yang lain"
"Brengsek! Berani-berani nya si tua bangka itu!" Sehun mencengkeram kuat-kuat berkas yang dibawa oleh Hyun Woo tadi.
"Aku perintahkan kau dan Chang Wook untuk menangkap mereka sekarang juga! Bawa mereka kehadapanku sekarang!" Sehun menatap Hyun Woo tajam.
"Baik..saya permisi, oh ya tuan.." Hyun Woo yang tadi ingin meninggalkan ruangan tersebut berbalik lagi menghadap Sehun.
"Malam ini paman anda mengundang anda untuk makan malam di Restoran Italia biasanya.." Sehun menyeringai sekilas kemudian menyuruh Hyun Woo segera pergi.
.
.
.
09.00pm
"Kerja bagus untuk hari ini guys, terima kasih atas kerjasama nya dan kalian bisa pulang sekarang.." ujar Chanyeol pada beberapa pegawai nya. Merekapun membungkuk sekilas pada Chanyeol lalu melenggang pergi.
"Baek..dimana Kai?" Tanya Chanyeol yang tidak mendapati Kai sedari tadi semenjak Cafe ditutup.
"Dia ada diseberang jalan, ia sudah bergerak duluan menyebarkan brosur nya" jawab Baekhyun sambil melepaskan apron nya.
Chanyeol hanya mengangguk, mata nya menatap Kai yang ada diseberang jalan, tiba-tiba ia melihat seseorang pria tinggi yang mendekati nya dan muncul lagi satu orang yang tak kalah tinggi dari pria pertama, oh tidak!
"Kai!" Teriak Chanyeol, pria itu langsung keluar Cafe, Baekhyun yang terkaget dengan teriakan Chanyeol yang meneriakkan nama Kai tadi langsung berlari menyusul Chanyeol.
...
Kai sedang membagikan brosur ibunya pada pejalan kaki yang lewat, ia berharap semoga dari salah satu orang yang menerima brosurnya itu mengetahui keberadaan ibu Kai.
Langkah nya terhenti ketika sebuah mobil BMW mewah berhenti tepat disamping nya, Kai mengernyitkan dahinya menatap mobil tersebut hingga seorang pria tinggi dan tampan berpakaian serba hitam mendekatinya.
Tubuh Kai reflek mundur perlahan, alarm bahaya telah memperingatkan Kai untuk segera pergi tapi kaki nya seakan membeku saat matanya menatap tatapan tajam pria itu.
"K-kau siapa?"
"Anda yang bernama Kim Kai?" Tanyanya. Kai semakin dibuat bingung, pasalnya darimana pria asing itu mengetahui namanya.
"Yak! Woo Bin cepatlah! Tuan tidak suka menunggu lama" teriak pria yang sama tampan dan tinggi nya dari pria yang Kai ketahui bernama Woo Bin. Pria itu keluar dari kemudi mobil dan berjalan mendekati Kai dan Woo Bin.
Kai semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan mereka berdua, dan siapa Tuan yang dimaksud mereka barusan? Ya Tuhan apalagi ini? Desah Kai dalam hati. Sungguh ia ingin berlari dan meminta tolong tapi kakinya tak mau bergerak dan jalanan tadi juga sudah sepi oleh pejalan kaki.
"Diamlah..Jong Suk!" geram pria bernama Woo Bin itu sambil menatap tajam pria tampan yang dipanggil Jong Suk tersebut.
"Nona ikutlah bersama kami, Tuan ingin bertemu denganmu.." Kai semakin berjalan mundur dan menggelengkan kepala menolak permintaan kedua pria didepannya.
"Kau terlalu membuang waktu.." geram Jong Suk yang sudah mulai tidak sabaran, ia berjalan cepat kearah Kai dan memiting kedua tangan Kai kebelakang dan sebelah tangannya membekap mulut gadis itu agar tidak berteriak.
"Percayalah nona, kami tidak ingin berbuat kasar padamu tapi mohon kerja sama nya untuk ikut kami" Woo Bin menatap mata Kai yang berkaca-kaca karena ketakutan tersebut. Kai tidak memperdulikan nya dan terus menendang-nendang kaki nya keudara berusaha berontak.
Kesabaran pria bernama Woo Bin itu pun mulai mulai di ambang batas, ia segera meraih kaki Kai dan mulai membopong Kai yang dibantu oleh Jong Suk.
"Seperti yang dikatakan oleh Tuan, jika kau menolak maka kami akan memaksamu" ucap pria itu dingin.
Jong Suk menyeringai menatap Woo Bin, "sudah seharusnya kau lakukan dari tadi" ucap nya lalu berlari menuju kursi kemudi setelah Woo Bin memberinya obat bius.
Jong Suk segera melesatkan mobilnya menuju mansion milik Sehun dan tanpa mereka sadari seseorang telah mengikuti mereka dari belakang.
.
.
.
Dilain tempat..
Pria bernama lengkap Oh Sehun itu tengah melabgkahkan kaki nya kesebuah restoran Italia yang mewah, salah satu pegawai yang sudah menunggu nya menghampiri dan menuntunnya kesebuah ruangan yang khusus dipesan oleh pengunjung VVIP.
Cklekk..
Pegawai tersebut membuka pintu dan mempersilahkan Sehun untuk masuk.
Mata Sehun berubah tajam dengan wajah poker face andalan nya menatap pria yang berusia 40 tahunan itu penuh kebencian.
"Kau sudah datang, duduklah" ucap pria separuh baya itu mempersilahkan, Sehun diam sejenak sebelum akhirnya ia mendudukkan tubuhnya pada kursi didepan pria paruh baya tersebut.
"Apa tujuan anda mengundangku kesini Tuan Oh Soo Jin" pria paruh baya bernama Soo Jin itupun tertawa pelan dan menaruh wine nya dimeja lalu menatap Sehun intens.
"Tak perlu seformal itu, disini aku mengundangmu sebagai keponakanku bukan seorang musuh. Jadi santailah dan nikmati makanan didepanmu.." Sehun mengepalkan tangannya dibawah meja menatap makanan yang pamannya pesankan untuknya.
Sehun menatap tajam sekaligus benci pamannya tersebut, "Why? Something happened Oh Sehun? Oh astaga aku lupa jika kau alergi dengan makanan berbentuk mie itu ya..hmm maafkan pamanmu ini" ujar nya yang penuh kebohongan.
Sehun menyeringai, "Paman, kau tahu hari ini orang-orang kepercayaanku telah berhasil menangkap beberapa tikus-tikus kotor yang selama ini menggelapkan dana dan menyabotase perusahaanku, bukankah mereka layak diberi pujian?"
Seketika raut wajah paman Sehun yang licik itu berubah masam tapi hanya bertahan beberapa detik karena selanjutnya yang dilakukannya adalag terus melanjutkan acara makannya.
Pria paruh baya itu meletakkan garpu yang ada ditangan dan mengusap bibirnya dengan tisu.
"Well, itu luar biasa sekali. Lalu apa yang kau dapatkan dari menangkap mereka?"
"Sehun tersenyum licik, "nothing, mereka keras kepala sekali tidak ingin mengatakan siapa yang menyuruh mereka."
"Oh! Mereka orang suruhan?" Sela paman Sehun.
"Hm yeah, tapi tenang saja..cepat ataupun lambat mereka akan mengakui nya. Aku akan menyuruh anak buahku menyiksa mereka hingga mereka mau mengaku, bila perlu membuat mereka mati sekalian" Sehun mengakhiri perkataan nya dengan seringaian dan beranjak dari kursinya.
"Well paman Soo Jin, aku harus pergi. Seseorang telah menungguku.." Sehun membungkuk sebentar lalu keluar dari restoran tersebut, ia merasa muak jika harus berlama-lama berdekatan dengan pamannya, membuatnya alergi seperti alergi nya terhadap makanan yang paling dibencinya seumur hidup.
Sehun segera masuk kedalam mobil saat Chang Wook, salah satu keempat pelayan kepercayaan nya membukakan pintu untuk nya dan langsung menlajukan mobil secepat mungkin agar sampai dimansion mewah nya.
"Apa gadis itu berhasil dibawa oleh Woo Bin?" Tanya Sehun sambil membuka dasi abu-abu yang terasa mencekik dileher putih nya.
"Iya Tuan, tapi.." Chang Wook menjeda kalimatnya.
"Tapi apa?" Tanya Sehun tak sabaran.
"Sepertinya mereka berdua diikuti oleh seseorang.."
"Apa! Suruh mereka membereskannya" perintah Sehun, ia memijit pangkal hidungnya pelan. Benar-benar merepotkan sekali gadis itu, pikirnya
"Mereka sudah mencoba membereskannya tapi mereka mengancam melaporkan polisi atas tuduhan penculikan jika kita tidak melepaskan gadis itu"
"What the fuck! Siapa mereka sebenarnya..?"
"Dari data yang saya terima, mereka adalah teman yang tinggal dengan gadis itu dan seorang pria yang menjabat sebagai bos nya ditempat ia bekerja"
"Aishh merepotkan! Percepat mobilnya sehingga kita bisa segera sampai" Chang Wook mengangguk patuh dan segera mempercepat laju mobil nya dan beberapa menit kemudian mereka sampai di mansion mewah milik Sehun.
Sesampainya digerbang utama mansion miliknya, Sehun melihat ada sebuah mobil ferarri berwarna merah yang terparkir disamping gerbang utama nya dan dua orang yang Sehun yakini adalah teman dan bos dari Kai.
"Cepat tutup gerbangnya dan jangan biarkan mereka masuk!" Perintah Sehun, ia dapat mendengar sayup-sayup kedua orang itu mengumpati dirinya dan memohon untuk melepaskan Kai.
"Dimana gadis itu" tanya Sehun yang baru saja turun dari mobil setelah Hyun Woo membukakan pintu untuk nya.
"Dilantai dua tuan" jawab Hyun Woo yang mengekor dibelakang nya disusul oleh Chang Wook.
Sesampainya di lantai dua, Sehun melihat dua orang kepercayaan nya Woo Bin dan Jong Suk tengah berjaga didepan pintu yang ia yakini dimana gadis itu berada, terbukti dari suara gaduh dan teriakan yang terdengar dari dalam.
Sehun menyeringai mendengar teriakan gadis yang sudah ia selidiki akhir-akhir ini, well ia pasti akan sangat mengejutkan gadis itu jika muncul didepan nya sekarang.
"Buka pintunya" Woo Bin segera membuka pintunya dan mempersilahkan Sehun masuk.
"Well kita bertemu lagi bitch!" Sehun tersenyum menyeringai.
"K-kau..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC/Delete
Ahhh aku bingung sendiri ama ff ku..kok gini banget ya cerita nya, bahasa nya amburadul sangaaatt
Tolong dong kasih saran apa yang kurang dari ff ini, kritikan, saran atau apalah biar saya bisa intropeksi diri tentang ff ini..
Oh ya btw ini bukan ff tentang psycho, aku cuma ambil dari judul lagu nya simon curtis yang -menurutku sih- cocok dibikin cerita diatas, ini ff bakal nyeritain perjalanan cinta nya Sehun soal nya..nanti deh bakal tahu ada apa hehe. Gak seru kalau dibocorin.
Gomawo untuk semua nya..*bow
