Single Mom

By Maknaeline94

Haechan (GS)

Mark

Chenle (GS)

Jaemin (GS)

Jeno

Renjun

Jisung

Others


"Mark? Mark?" Haechan melambaikan tangannya di depan wajah Mark, karena sekarang pria itu masih terlihat melamun sambil memandangi Chenle.

"Ahh n..ne?" Mark akhirnya tersadar dari lamunannya setelah Haechan menggoyang-goyangkan bahunya.

"Aku sejak tadi bertanya kau ingin pesan makan apa, kau pasti belum makan siang juga kan." Haechan tersenyum melihat tampang Mark yang masih cengo, terlihat jelas raut kebingungan di wajah tampannya.

"Sama kan saja denganmu." Entah mengapa moodnya menjadi sangat buruk, padahal tadi sangat berbunga-bunga.

"Ah okay."

Haechan langsung menelepon layanan delivery restoran ayam favorit Chenle. Putri manisnya saat ini sedang ingin makan ayam madu kesukaannya. Di saat Haechan sedang memesan makanan, Mark masih saja memandangi Chenle dengan pandangan berpikirnya. Chenle yang sedang bermain dengan handphone milik Haechan akhirnya melirik Mark, Chenle merasa aneh karena ia terus dipandangi oleh orang asing yang tidak dikenalnya. Dan akhirnya mereka saling berpandangan, hingga Haechan selesai memesan makanan.

"Lele, perkenalkan dirimu pada Mark Ahjussi." Haechan menghampiri mereka berdua. Dan langsung meninta Chenle untuk memperkenalkan dirinya. Pada awalnya Chenle hanya melihat wajah Haechan saja, sepertinya anak itu sedikit ragu untuk memperkenalkan dirinya pada Mark karena pria itu sejak tadi memandanginya terus. Haechan hanya balik menatap Chenle dan memberikan anggukan serta senyum manisnya.

"Annyeonghaseyo, jeoneun Lee Chenle imnida." Chenle bangkit dari sofa yang didudukinya lalu memperkenalkan dirinya sambil membungkukan badanya pada Mark.

"Annyeong Chenle-ya, panggil aku Mark Ahjussi ne." Mark ikut bangkit dari sofa dan menghampiri Chenle lalu berjongkok agar tinggi badan mereka setara, lalu memperkenalkan dirinya pada Chenle dengan senyumnya yang sangat tampan sambil mengelus kepala Chenle.

Chenle yang diperlakukan seperti itu langsung menampilkan senyum manisnya. Ternyata Ahjussi yang sejak tadi memandanginya tidaklah seseram yang ia kira, bayangkan saja anak kecil mana yang tidak takut ketika dirinya dipandangi oleh orang yang tidak ia kenal dengan tatapan intens seperti yang Mark lakukan pada dirinya.

"Mark Ahjussi sangat tampan hehe~ Ahjussi bisa memanggilku Lele." Anak kecil memang jujur, Contohnya saja Chenle yang secara langsung dapat mengatakan kalau Mark itu tampan haha~

Mark yang mendegar itu hanya tersenyum menanggapinya sambil mencubit ringan pipi chubby milik Chenle. Anak ini sangat manis pikir Mark, seperti ibunya. Mengingat kembali Chenle adalah anak dari Haechan membuat Mark tersenyum pahit. Ternyata ia menaruh hati pada wanita yang baru beberapa jam ini ia temui. Malang sekali nasibnya, batin Mark.

"Lele juga sangat cantik, seperti Mommy nya." Mark apa kau sedang memberikan kode?

Haechan yang mendengar itu hanya tertawa saja. Dapat kita lihat semburat merah yang ada di pipi Haechan karena mendengar Mark memujinya cantik.

Setelah beberapa saat, akhirnya pesanan makanan mereka telah tiba.

"Lele, sudah dulu mainnya. Sekarang makan dulu sayang." Haechan meminta Chenle untuk segera makan. Ini sudah yang ketiga kalinya ia meminta Chenle untuk segera memakan makanannya. Sebab putri manisnya sejak tadi masih asik bermain bersama Mark. Sejak perkenalan keduanya, mereka berdua langsung akrab. Bahkan sekarang Chenle sedang duduk dipangkuan Mark, untuk melihat Mark bermain game di handphone. Chenle memang sangat menyukai game, tapi Haechan cukup membatasi anaknya dalam bermain game. Melihat mereka berdua bersama akrab seperti itu membuat hati Haechan menghangat.

"Wahhh, Ahjussi sangat jago tidak seperti Mommy. Mommy sangat payah kalau bermain game." Chenle memuji Mark dengan pandangan berbinar miliknya. Menurutnya Mark sangat ahli dalam memainkan game. Karena biasanya ia hanya melihat Haechan yang payah dalam bermain game.

"Hahaha jinjayo? Nah sekarang kita sudahi dulu mainnya, Lele laparkan? Kita makan dulu okay." Mark tertawa mendengar perkataan Chenle, dan segera mengajak anak itu makan karena sejak tadi ibunya sudah menyuruhnya makan tapi anak itu hanya berkata 'iya nanti Mom'.

"Eum, Lele sudah sangat lapar." Chenle turun dari pangkuan Mark. Dan langsung menuju ibunya untuk meminta makan. Sebenarnya sih ia ingin disuapi, dia ingin bermanja-manja dengan ibunya.

"Mom, suapin~ hehehe" Chenle memandang Haechan dengan wajah imut miliknya.

Haechan hanya tersenyum dan langsung menyuapi makanan ke dalam mulut Chenle.

"Mark, kau makanlah juga." Ucap Haechan pada Mark. Karena sejak tadi Mark hanya memandangi dirinya yang sedang menyuapi Chenle.

"Ah, ne. Kau tak makan?" Mark langsung mengambil makanan miliknya yang berada di atas meja.

"Nanti saja, setelah aku selesai menyuapi Lele baru aku akan makan."

"Kau juga harus makan Haechan-ah." Tanpa diduga Mark menyuapkan sepotong ayam pada Haechan. Haechan yang melihat Mark menyodorkan sepotong ayam di depan mulutnya pun secara reflek menerima suapan dari Mark. Entah mengapa jantung Haechan berdegup kencang. Padahal dirinya kan hanya disuapi oleh Mark saja. Salahkan Mark yang bertindak di luar perkiraannya.

Mark senang karena suapannya di terima oleh Haechan, sebenarnya dia juga reflek menyuapi Haechan. Mungkin hanya naluri, ya naluri calon suami hahahaha.

'Tapi, kenapa aku menyuapi istri orang lain?' Batin Mark kembali berbisik. Hahh, sepertinya Mark sudah terlanjur jatuh cinta dengan wanita ini. Masa iya iya harus merebut istri orang lain, tapi kan bisa dosa jika merusak rumah tangga orang. Begini-begini ia masih ingat dosa, lagi pula masa iya dia tega merusak kebahagiaan Chenle.

Mereka makan dalam keadaan tenang, hanya sesekali terdengan celotehan milik Chenle yang protes karena ibunya selalu menyelipkan sayuran di setiap suapannya. Sedangkan Mark masih terlihat berpikir sambil tetap makan.

"Aahhh Mommy, jangan pakai sayuran. Lele ga suka." Terdengar kembali protesan dari mulut Chenle.

"Sayang, sayuran itu bagus untuk kesehatan. Jadi Lele harus makan sayuran juga, lagian kan hanya sedikit saja kok." Haechan masih membujuk Chenle agar mau memakan sayuran.

"Tapi tidak enak Mom. Tuh lihat saja Mark Ahjussi juga tidak makan sayuran." Chenle melihat Mark yang juga tengah menyisihkan sayuran dari makan miliknya. Haechan pun menengok ke arah makanan milik Mark, dan benar saja pria itu menyisihkan sayuran yang ada di makanan miliknya. Mark yang dipandangi keduanya hanya dapat cengengesan saja.

"Mark, kau tidak suka sayuran?"

"Hehe iya aku tidak suka." 'Aku sukanya dirimu' lanjut Mark dalam hati.

"Tuh kan Mom, Lele juga ga suka sayuran. Kali ini saja ya Mom Lele ga makan sayuran." Chenle memandang Haechan dengan tatapan memohonnya. Haechan hanya bisa menghela napas saja.

"Okay, tapi lain kali Lele harus makan sayur ya sayang." Haechan akhirnya menyetujui permintaan putri manisnya itu. Sedangkan Mark hanya memandang Haechan dengan pandangan meminta maaf karena secara tidak langsung memberi contoh kepada Chenle untuk tidak memakan sayuran. Haechan hanya tersenyum maklum, lagi pula masa iya harus marah pada Mark karena tidak makan sayuran, memangnya dia siapanya Mark.

Tak lama setelah mereka semua selesai makan.

"Hello everybody!" Jaehyun dengan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Haechan. Si Jaehyun itu tahu saja jika makanan sudah ada, ah iya dia kan ingin ke sini untuk numpang makan.

"Annyeong Jae Ahjussi." Chenle menyapa Jaehyun dengan senyum manis andalannya.

"Eh ada Lele, annyeong baby imut kesayangan Ahjussi." Jaehyun menghampiri Chenle lalu mencubit pipi gembil milik anak itu.

"Iihhh Ahjussi, Lele bukan baby tauuu~" Chenle cemberut mendengar Jaehyun memanggilnya dengan sebutan baby, dia kan sudah besar sudah bukan bayi kecil lagi.

"Tapi Lele kan imut seperti adik bayi." Jaehyun mengangkat tubuh Chenle untuk ia gendong. Chenle dan Jaehyun memang sudah kenal lumayan lama. Jaehyun memang menyukai anak kecil, dan ditambah Chenle merupakan anak yang manis semakin membuat Jaehyun sayang pada Chenle.

"Chan-ah mana makanan untuk ku?" Jaehyun bertanya pada Haechan yang sedang makan, Haechan baru makan setelah selesai menyuapi Chenle.

"Memangnya kau menitip untuk dibelikan makanan Oppa?" Haechan bertanya dengan polosnya pada Jaehyun. Padahal sih ia sengaja terlihat polos, karena dia lupa memesankan makanan untuk Jaehyun juga. Dirinya sedang kacau karena seseorang sepertinya hahaha jadi sering lupa.

"Yakk. Kau tidak memesan untukku juga? Sedangkan Mark kau pesankan? Kau tidak adil Haechan-ah." Jaehyun merajuk pada Haechan dengan wajah yang terlihat lucu. Chenle yang melihat wajah Jaehyun yang cemberut, dengan gemas mencubit bibir Jaehyun sambil tertawa. Chenle ini anaknya jahil, sama saja seperti Haechan hahaha.

"Ah sudahlah." Akhirnya Jaehyun menyerah, lebih baik dia mencari makanan di luar saja. Jaehyun menurunkan Chenle dari gendongannya, lalu berjalan menuju pintu, sepertinya dia sedang ngambek. Niatnya sih biar ada yang mencegahnya keluar, tapi nyatanya tidak ada baik itu Mark, Haechan, ataupun Chenle hahaha *poor uri Jaehyunie*

Karena tidak ada yang menahannya, Jaehyun kembali menuju sofa yang diduduki oleh Mark dan duduk di sebelahnya. Lah si Jaehyun ngambeknya gak jadi nih?

"Hyung gak jadi keluar?" Tanya Mark pada Jaehyun yang masih pundung.

"Gak." Kata Jaehyun jutek.

Haechan dan Chenle hanya cengengesan melihat tingkah Jaehyun, mereka sudah biasa melihat tingkah tidak jelas seperti ini.

"Lele nanti mau tunggu di sini atau mau ke rumah Halmeoni?" Haechan bertanya pada Chenle.

"Mommy masih lama ya?"

"Sepertinya iya. Waeyo?"

"Lele tunggu di rumah Halmeoni saja deh. Biar bisa sambil ngerjain PR hehe."

"Okay, Mommy akan minta Park Ahjussi untuk menjemput Lele."

Haechan berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja kerjanya. Sementara Haechan sedang menelepon, Chenle menatap Mark dengan pandangan yang menunjukan rasa penasaran.

"Waeyo Lele?" Mark yang sadar terus dipandangi oleh Chenle akhirnya bertanya pada anak itu.

"Aniyo Ahjussi."jawab Chenle simple dan dengan senyum manis miliknya.

"Mark bisa kita undur rapatnya sebentar? Aku harus menunggu supir yang menjemput Chenle, mungkin akan tiba dalam waktu setengah jam." Haechan meminta untuk menunda rapat mereka. Karena Chenle pasti minta ditemani hingga anak itu dijemput.

"Baiklah, tidak masalah."

Setelah menunggu hampir setengah jam, jemputan Chenle pun datang. Haechan segera bangkit dari sofa berniat untuk mengantar anaknya turun ke bawah. Sedangkan Chenle masih asik bermain dengan para Ahjussi tampan, Mark dan Jaehyun.

"Kajja baby, Park Ahjussi sudah datang. Mommy akan mengantarmu turun ke bawah." Haechan mengulurkan tangannya berniat untuk menggandeng tangan Chenle.

"Mom, Lele turun ke bawah sendiri saja." Chenle segera bangkit dari duduknya, dan meraih tas ransel ya untuk ia pakai.

"Tidak, biar Mommy mengantarmu okay."

"Aniya, Lele bisa kok turun sendiri. Lele kan sudah besar Mom."

"Kau yakin sayang?" Haechan orangnya memang parnoan, padahal Chenle merupakan anak yang cukup mandiri. Walaupun anak itu sangat manja, tapi anak itu bisa diandalkan.

"Ne~ Lele kan sudah besar Mom." Chenle menampilkan senyum manisnya pada ibunya.

"Hahh baiklah, hati-hati ya sayang. Park Ahjussi sudah ada di dekat meja resepsionis. Setelah sampai rumah jangan lupa kerjakan PR mu. Mommy akan menjemputmu nanti sore." Akhirnya Haechan menuruti keinginan Chenle. Haechan menangkup pipi Chenle dengan kedua tangannya dan memberikan kecupan pada kedua pipi dan bibir milik anak itu.

"Okay, saranghae Mom." Chenle balas mengecup pipi sebelah kanan milik Haechan.

"Nado saranghae. Lele pamit juga sama Ahjussi sana."

"Ahjussi, Lele pulang dulu ya." Chenle melambaikan tangannya pada Mark dan Jaehyun.

"Bye Lele." Mark membalas Chenle dengan senyum tampan miliknya. Sedangkan Jaehyun hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya saja.


Setelah meeting mereka selesai, Mark dan Jaehyun memutuskan untuk kembali ke rumah saja karena sekarang sudah cukup sore untuk kembali ke kantor. Dan sekarang Mark sedang duduk manis di mobil milik Jaehyun. Mobilnya saat ini sedang berada di bengkel dan baru akan ia ambil besok. Mark dan Jaehyun merupakan sahabat sejak Mark melanjutkan pendidikannya di Canada. Jaehyun yang saat itu masih sangat baru tinggal di Canada cukup kesusahan untuk menyesuaikan dirinya. Beruntung ia kenal dengan Mark yang merupakan keturunan Korea juga, jadi Mark membantunya untuk menyesuaikan dirinya dengan cepat.

"Aku sangat suka dengan ide yang diajukan oleh Haechan." Jaehyun membuka percakapan.

"Sama, aku juga menyukainya." Mark sekarang masih senyam-senyum sendiri.

Jaehyun yang melihat Mark senyam-senyum sendiri mengerenyitkan dahinya. Sebab sejak tadi pada saat meeting Mark memang terlihat sangat sering tersenyum, terutama ketika melihat Haechan. Nah benar Mark sanagat sering memperhatikan Haechan, entah apapun yang dilakukan Haechan pasti Mark akan selalu memfokuskan pandangannya pada Haechan. Dan Jaehyun yang tersadar akan itu mulai menggoda Mark.

"Yang kau sukai itu Haechan atau idenya?" Tanya Jaehyun dengan cengengesan.

Mark yang ditanyai seperti itu merubah wajahnya menjadi datar dan menengok ke samping, menghadap Jaehyun.

"Apa ada yang salah dari pertanyaan ku?" Jaehyun dengan polosnya bertanya pada Mark.

Mark kembali mengalihkan pandangannya ke jendela mobil, malas menanggapi perkataan Jaehyun. Lagi pula saat ini moodnya sedang tidak terlalu baik. Mark sebenarnya masih belum percaya jika Haechan sudah memiliki anak seusia Chenle. Ingin tidak percaya, tapi sudah ada buktinya. Ingin percaya, tapi ia tidak ingin. Terus Mark harus gimana dong? Dirinya galau berat sepertinya.

"Mark, kau menyukai Haechan ya?" Jaehyun kembali bertanya pada Mark. Jaehyun merasa aneh dengan Mark, sebab tadi Mark senyam-senyum sendiri ti sekarang malah menatap keluar jendela dengan rasa galau yang terlihat jelas. Dan lagi Jaehyun merasa Mark memang sepertinya tertarik dengan Haechan, sebab Mark sangat jarang memperhatikan seorang gadis sampai segitunya. Lalu kalau dia suka dengan Haechan kenapa dia galau? Pikir Jaehyun.

"Terlihat jelas ya Hyung?" Mark malah kembali bertanya pada Jaehyun. Pandangannya masih menghadap jendela mobil. Malas untuk memandang Jaehyun. Pasti Jaehyun akan meledeknya karena dirinya sudah menyukai istri orang lain.

"Serius kau Mark? Wah akhirnya kau bisa juga jatuh cinta." Jaehyun memang tahu sejak dulu Mark tidak terlalu memperhatikan kisah cintanya, Mark terlalu sibuk dengan studinya. Mark merupakan orang yang giat dan gigih jika sudah ingin mencapai sesuatu.

Mark tidak lagi membalas ucapan Jaehyun, ia sekarang benar-benar galau memikirkan Haechan.

"Haechan memang cantik Mark, dia juga pintar dan mandiri ya walaupun dia terkadang bar-bar sih." Ucap Jaehyun setengan memuji dan setengah menhina(?) Haechan. Ya memang benar sih, Haechan kadang suka bar-bar. Dulu saja Jaehyun pernah menjadi korban pemukulan Haechan, ya walaupun memang salah karena mengerjai Haechan dengan memberikan Haechan kecoa mainan. Sudah tahu Haechan sangat takut dengan hewan yang satu itu.

"Bar-bar? Ah tidak mungkin, anggun begitu kok orangnya." Mark kembali tersenyum ketika membayangkan kembali wajah Haechan.

"Ah kau belum tahu saja. Eh tapi kau sungguh menyukainya Mark?" Jaehyun kembali bertanya pada Mark karena ia penasaran, sebenarnya sih ia yakin kalau Mark menyukai Haechan karena ia dapat melihatnya dari sikap Mark pada Haechan. Ya walaupun Mark baru bertemu dengan Haechan, tapi rasanya terlihat jelas kalau Mark tertarik dengan Haechan.

"Iya hyung. Tapi aku sudah patah hati." Jawab Mark dengan nada yang melas.

"Lah kenapa patah hati? Memang kau sudah di tolak? Kau harus berjuang untuk mendapatkannya Mark, kau harus berusaha." Jaehyun bingung dengan perkataan Mark. Maksudnya apa coba? Kenapa dia patah hati?

"Hyung kau sudah gila? Mana mungkin aku merusak rumah tangganya, apa lagi dia sudah memiliki seorang anak, mana tega aku merusak kebahagiaan Chenle." Mark sebal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jaehyun.

"Hahahahaha Mark.. kau.. hahahaha" Jaehyun tidak dapat menahan tawanya ketika mendengar alasan kenapa Mark patah hati. Ya walaupun sepenuhnya bukan salah Mark jika ia salah paham. Mark kan baru saja mengenal Haechan, bahkan bertemu pula dengan Chenle yang memanggil Haechan dengan sebutan Mommy. Ya jelas saja Mark salah paham.

"Yah teruslah tertawa sesukamu Hyung." Mark benar-benar kesal denga Jaehyun. Dirinya sedang galau berat.

"Mark, Haechan itu belum menikah, belum pernah menikah." Jaehyun berkata pada Mark setelah dengan puasnya mentertawakan Mark.

"Hah? Maksudmu apa Hyung? Jadi Haechan hamil di luar nikah?" Mark langsung memfokuskan pandangan pada Jaehyun yang masih mengemudi dengan tenang. Jaehyun sepertinya penjelasanmu kurang lengkap, yang ada si Mark malah makin salah paham.

"Aniya, Chenle itu anaknya Lee Jeno, Oppanya Haechan. Haechan itu pacaran saja tidak pernah apa lagi hamil." Jelas Jaehyun pada Mark.

"Lalu kenapa Chenle memanggil Haechan dengan panggilan Mommy?" Mark makin bingung dengan apa yang dikatakan Jaehyun mengenai Haechan dan Chenle.

Pada akhirnya Jaehyun menceritakan semuanya dari awal pada Mark. Jaehyun memang mengetahui yang sesungguhnya, karena Jaehyun juga merupakan sahabat dari Haechan dan Jeno. Jadi dirinya memang tahu cerita mengenai Chenle. Dan kenapa Haechan menjadi Mommy untuk Chenle.

Mark yang mendengar Haechan masih single menjadi sangat senang, tapi ia juga sedih ketika mendengar cerita mengenai Chenle, anak manis itu sudah kehilangan kedua orang tuanya bahkan ibunya meninggalkannya tepat di hari ulang kelahirannya. Setelah Mark mendengar cerita yang sebenarnya, Mark jadi optimis untuk mendapatkan Haechan. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa menjadi suami untuk Haechan dan ayah untuk Chenle. Iya dong, kalau mau sama Mommy nya pasti harus mau juga dengan anaknya hahaha. Lagi pula Mark juga menyukai Chenle, anak itu sangat manis.

"Hyung boleh aku meminta nomor Haechan?" Mark lupa untuk meminta nomor Haechan tadi, iyalah dia lupa, kan sejak di kantor Haechan Mark selalu sibuk memandangi Haechan.

"Wah, sudah mulai bergerak nih?" Ledek Jaehyun.

Mark hanya tersenyum menanggapi Jaehyun. Mark memang ingin segera memulai aksi PDKT alias pendekatan dengan Haechan. Sepertinya Mark sudah cinta mati pada Haechan hahaha.


Haechan baru saja sampai apartemennya setelah menjemput Chenle di rumah orang tuanya. Dan sekarang putri manisnya masih tertidur di mobilnya, ingin membangunkannya tapi tidak tega. Akhirnya Haechan memutuskan untuk menggendong Chenle.

"Ughhh kau semakin berat sayang." Monolog Haechan ketika mengangkat tubuh milik Chenle, padahal kelihatannya tubuh Chenle itu mungil tapi kenapa berat.

Haechan segera menuju lift dengan Chenle di gendongannya. Menekan tombol 30, dan menunggu lift tersebut naik. Tak lama kemudia ia pun sampai di liantai 30. Haechan segera keluar dan berjalan menuju apartemen bernomor 302.

"Haechan-ah kau baru pulang?" Sapa seseorang yang baru keluar dari apartemen 301.

"Ah ne Eonnie." Haechan menengok menuju sumber suara, yang ternyata adalah suara tetangga sebelahnya yaitu Kun.

Kun adalah wanita keturunan China yang menetap di Korea bersama dengan suaminya yang juga keturunan China, WinWin. Mereka bertetangga sejak Haechan pindah ke apartemen ini. Keduanya sangat akrab, Kun sudah menganggap Haechan seperti adiknya sendiri. Begitu pula denga Haechan. Keduanya juga selalu saling membantu, Haechan juga terkadang menitipkan Chenle jika dirinya sedang ada dinas di luar kota dan orang tuanya sedang berada di luar negeri. Haechan sudah mempercayai Kun dan Winwin, begitu pula sebaliknya. Jadi sudah tidak ada rasa segan diantara mereka.

"Masuklah dulu, nanti aku akan ke apartemenmu." Kun kembali masuk ke dalam kamarnya setelah mengatakan hal tersebut pada Haechan.

Haechan segera masuk setelah memasukan password, dan langsung menuju kamar Chenle untuk menidurkan Chenle dikasur milik anaknya itu. Setelah itu Haechan menyelimuti Chenle dan langsung keluar kamar setelah mengecup kening Chenle. Haechan langsung menuju sofa yang berada di ruang tengah apartemennya, dan langsung menjatuhkan dirinya di sofa tersebut. Dirinya cukup kelelahan karena mengangkat tubuh Chenle. Sepertinya anaknya itu bertambah besar, buktinya pinggangnya sampai pegal begini. Tak lama setelah Haechan mendududkan dirinya terdengar suara bel, Haechan langsung bangkit menuju pintu dan membukakan pintu. Haechan sudah tahu siapa yang datang, Haechan mempersilakan Kun untuk masuk. Kun langsung masuk menuju dapur Haechan, sedangkan Haechan kembali duduk setengah tiduran di sofa panjang.

Tak berapa lama Kun kembali dari dapur dan ikut mendudukan dirinya di sofa lainnya.

"Chan-ah, aku meletakan lauknya di kulkas kau hanya tinggal menghangatkannya saja nanti. Ah aku juga membuat cookies untuk Lele. Aku taruh di meja makan." Jelas kun pada Haechan. Kun memang sering memberikan Haechan makanan jika ia memasak lebih.

"Gomawo Eonnie. Kau sangat pengertian." Haechan menatap Kun dengan pandangan berbinar.

Kun hanya menanggapi Haechan dengan senyuman, ia sangat paham dengan keadaan Haechan. Sudah menjadi orang tua tunggal dan harus berkerja pula. Ia cukup takjub dengan Haechan karena Haechan sangat mandiri. Kun awalnya mengira Haechan adalah seorang janda, hingga pada akhirnya Haechan menceritakan semuanya pada Kun, dan semakin membuat Kun takjub pada Haechan. Diusia semuda itu sudah dapat membesarkan dan merawat anak dengan baik dan bekerja dengan giat pula.

"Ughh pinggangku." Haechan membelokan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sehingga terdengar suara tulangnya. Kun yang mendengar itu merasa seram sendiri dengan bunyi yang dihasilkan Haechan.

"Yak, jangan melakukan itu."

"Pinggangku sangat pegal Eonnie, sepertinya Chenle bertambah besar saja. Aku sampai kelelahan menggendongnya." Adu Haechan pada Kun.

"Makanya carilah ayah untuknya Chan, lagi pula Chenle juga pasti memerlukan sosok ayah." Kun memberikan nasihat pada Haechan. Haechan tidak menanggapinya, bahkan ia sudah mendengarkan nasihat yang sama dari Ten sebelumnya.

"Entahlah Eonnie."

"Yasudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku pulang dulu ne. Sebentar lagi Winwin akan pulang." Kun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, Haechan yang hendak bangkit untuk mengantarkan Kun dicegah olehnya.

"Kau istirahat saja, tak perlu mengantarku. Seperti dengan siapa saja." Kun berucap sambil berlalu meninggalkan Haechan.

"Gomawo Eonnie." Ucap Haechan dengan lirih.

Nasihat Ten dan Kun terus berputar di kepalanya. Sebenarnya Haechan mempunyai alasan yang membuat dirinya menutup diri dari para pria yang tertarik dengannya. Dirinya hanya memikirkan Chenle, lagi pula jika ia pikir siapa yang mau dengan seorang wanita yang sudah memiliki seorang putri. Ia khawatir jika pasangannya kelak tidak dapat menerima Chenle, maka dari itu ia pikir lebih baik seperti ini saja. Toh dirinya juga bahagia dengan kondisinya yang seperti ini, ya walaupun terkadang ia merasa kesepian, tapi ia masih memiliki Chenle yang masih dapat membuatnya tersenyum.

Sebenarnya Chenle pernah bertanya tentang seorang ayah pada Haechan. Haechan hanya menjawab jika ayah Chenle adalah Jeno. Sebenarnya maksud Chenle bukanlah seperti itu, ia tahu jika ayahnya ada Jeno, tapi Chenle juga seorang anak yang membutuhkan perhatian dari sosok ayah. Dan Haechan paham apa yang dimaksud Chenle, tapi dirinya terlalu takut untuk memulai sebuah hubungan. Haechan takut Chenle tidak dapat di terima oleh pasangannya. Dia terlalu menyayangi Chenle.


Setelah menyegarkan pikirannya dengan mandi air hangat, Haechan keluar kamarnya untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Chenle. Ia mengambil beras dan mencucinya lalu memasukannya kedalam rice cooker. Lalu mengambil lauk pauk yang diberikan Kun dari Kulkas untuk dihangatkan dengan microwave.

Tak lama kemudian Chenle keluar dengan rambut yang masih basah, anak itu menghampiri Haechan yang baru saja meletakan makanan di meja makan.

"Hey sayang, sudah mandi?" Haechan menyapa Chenle.

"Ne~ Mom apa itu cookies? Kapan Mommy membuatnya?" Chenle menunjuk toples cookie yang berada di atas meja.

"Kun Ahjumma yang meberikannya untuk Lele." Haechan meraih toples tersebut dan memberikan ya pada Chenle.

"Sini Mommy keringkan rambut mu sayang." Haechan menuntun Chenle menuju ruang tengah untuk mengeringkan rambut Chenle menggunakan hair dryer.

Sementara Haechan mengeringkan rambut Chenle, anak itu membuka toples dan mengambil cookies untuk dia makan.

"Nah sudah kering, kajja kita makan." Keduanya kembali menuju ruang makan untuk makan bersama.

"Oh iya Mom, besok Lele ikut ke kantor Mommy saja ya?"

"Okay, nanti siang Mommy akan menjemput Lele di sekolah."

"Aniya Mom, Lele akan ikut ke kantor Mommy dari pagi saja."

"Eh, Lele kan harus sekolah sayang."

"Oiya Lele lupa bilang kalau sekolah di liburkan besok karena ada rapat guru." Chenle lupa memberi tahu Haechan jika besok sekolahnya diliburkan. Sepertinya ia terlalu asik bermain dengan Mark Ahjussi ketika di kantor Mommy nya.

"Oh okay sayang, tapi apa Lele tidak bosan menunggu Mommy bekerja?" Haechan bertanya pada Chenle, karena anaknya itu kadang suka jenuh ketika menunggu dirinya bekerja.

"Gwaenchanayo."


Saat ini Haechan sudah berbaring di kasurnya, Chenle sudah tidur di kamarnya karena ini sudah jam 8 yang merupakan jam tidur anak itu. Haechan hanya menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sebenarnya ada yang dia pikirkan. Seseorang yang ia pikirkan lebih tepatnya, seseorang yang tadi siang membuat detak jantungnya menjadi lebih cepat, seseorang yang membuat pipinya memerah, seseorang yang menatapnya dengan intens..

"Mark.." Lirih Haechan.

Sudah lama dirinya tidak merasakan perasaan ini, entah kenapa sekarang ia merasakannya lagi ketika bertemu dengan Mark. Apa ia menyukai Mark?

Haechan terus bergelut dengan pikirannya tentang Mark hingga suara ponsel tanda pesan masuk terdengar oleh telinganya. Haechan segera mengambil posel miliknya yang berada di samping bantal. Dan segera membuka pesan tersebut

XX : Kau sudah tidur?

Haechan mengerenyitkan dahinya, ia tidak mengenali nomor yang mengiriminya pesan ini. Haechan berpikir untuk membalas atau tidak pesan tersebut, karena takut hanya orang iseng saja yang mengiriminya pesan. Tapi Haechan memutuskan untuk membalasnya, karena ia pikir bisa saja temannya yang menggunakan nomor baru.

Haechan : Nuguseyo?

XX : Ini aku Mark. Aku meminta nomormu dari Jaehyun Hyung, tak apa kan?

Haechan cukup terkejut mengetahui Mark mengiriminya pesan, kenapa waktunya bisa pas disaat Haechan memikirkan pria itu. Mungkin jodoh Chan hahahha.

Haechan segera membalas pesan dari Mark.

Haechan : Ah kau Mark, iya tak apa kok hehe.

Mark : Apa aku mengganggumu?

Haechan : Aniyo, kau tidak mengganggu ku kok.

Mark : Haechan-ah, apa besok kau mau makan siang bersama denganku?

Haechan yang melihat pesan yang baru saja masuk menjadi tambah deg-deg an. Padahal hanya diajak makan siang saja, kenapa dirinya seperti anak sekolahan yang diajak berkenca oleh kekasihnya. Bahkan jika kita dapat melihatnya, pipinya sudah sangat memerah. Tak lama kemudian Mark kembali mengirimkan pesan yang semakin membuat Haechan menyukai pria itu.

Mark : Ajak juga Chenle. Kita makan bersama, bagaimana?

Tanpa berpikir lagi Haechan langsung mengetikan pesan balasan untuk Mark.

Haechan : Okay Mark, aku akan mengajak Chenle.

Mark : Baiklah. Sudah malam, sebaiknya kau segera tidur. Good night Haechanie. Sweet dreams ;)

Haechan : Kau juga segeralah tidur. Selamat malam mengirimkan pesan Haechan masih saja senyam-senyum sendiri.

'Ya Tuhan, aku ini kenapa? Mark...' Sepertinya malam ini ia tidak akan bisa tidur karena memikirkan orang tersebut hhhahaha.

Tbc~


Hello guys!

Terima kasih atas review-review kalian yang bikin aku makin semangat untuk melanjutkan cerita ini hehe. Dan ini aku uda lanjut chapter keduanya, semoga kalian suka.

Aku juga mau minta maaf karena chapter satu kemaren sangat banyak typo T.T

Dan pastinya chapter dua ini pun tidak akan lepas dari yang namanya typo hahaha

Ohiya, seiring berjalannya cerita ini, akan ada cast tambahan pula untuk mendukung cerita ini hehe.

Sekali lagi terima kasih~