SUPER PSYCHO LOVE #6

Pair HunKai ! GS for Kai!

WARNING..!

TYPO ANYWHERE..

GAK SUKA GS GAUSAH BACA..

GAK SUKA PAIR GAUSAH BACA..

DON'T LIKE DON'T READ..

STORY IS MINE..!

.

.

.

.

Happy Reading..

Preview...

Mata Kai membelalak melihat Sehun tenggelam, ia segera berenang kebawah dan menarik tangan Sehun untuk menuju permukaan. Bersyukur karena bibir sungai sangat dekat dengan posisi nya berenang saat ini. Kai pun segera menarik tubuh Sehun dengan sekuat tenaga dan membaringkannya di rerumputan.

Hosh..

Hosh..

Hosh..

Kai susah payah mengambil nafas, ia menatap wajah Sehun yang semakin pucat. Cepat-cepat Kai duduk disamping Sehun dan berancang-ancang melakukan CPR dan nafas buatan.

"Uhukk.." Berhasil! Sehun akhirnya dapat bernafas kembali. Kai menghela nafas lega, ia segera merogoh saku celana Sehun dan mengeluarkan ponsel nya dari disana.

"Semoga masih hidup, kumohon..kumohon..ya!"

Tuuut..tuutt..pip

"Halo Tuan S-"

"Woobin..woobin..ini aku Kai, t-tolong jemput kami hah hah, S-Sehun..pokok nya jemput kami, sesuatu telah terjadi d-dan..kumohon cepatlah..kami berada tak jauh dari sungai han, gunakan GPS mu"

"Ba×ik saya akan segera kesana"

Pip..

Sambungan terputus, Kai menjatuhkan tubuh nya tepat diatas dada Sehun. Rasa sakit yang tak tertahankan mendera kepala nya, dan tubuhnya pun mulai menggigil kedinginan dan akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

Tengah malam Kai terbangun dengan nafas tersengal-sengal, keringat turun membasahi dahi dan pelipis nya. Ia mengedarkan pandangan nya kesekeliling dan menyadari bahwa dirinya sudah berada di kamar pada mansion milik Sehun. Oh astaga! Sehun..bagaimana dengan pria itu? Apa dia baik-baik saja? , batin Kai lalu beranjak dari kasur nya tetapi seketika ia urungkan saat merasakan kepala nya yang berdenyut sakit.

"Argghh.." Kai mengerang merasakan sakit didahi nya yang diplester. Beberapa detik Kai terdiam memegangi kepala nya tiba-tiba pintu kamar nya dibuka kasar dari luar.

"Kai..! Kau sudah sadar? Apa kau baik-baik saja? Tadi aku mendengar teriakanmu, mana yang sakit? Katakan padaku biar aku meng-"

"Eonni..aku baik-baik saja, jangan khawatir ne?" Potong Kai sebelum Baekhyun si pelaku kekasaran pada pintu itu meneruskan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya makin sakit.

"Bagaimana aku tidak khawatir jika tiba-tiba kau pulang dibawa oleh bodyguard-bodyguard Sehun dalam keadaan mengenaskan huh?"

"Sehun..dimana dia sekarang! Apa dia baik-baik saja!" Kai tidak menjawab pertanyaan Baekhyun, gadis itu justru berjalan tergesa-gesa menuju kamar Sehun.

"Kai..Kai tenanglah. Sehun ada dikamar dan Dokter sedang memeriksa nya, kau seharusnya beristirahat dikamarmu, kau masih terluka" Baekhyun memegang kedua lengan Kai dan menghentikan langkah Kai yang ingin menuju kamar Sehun.

"Tidak eonni, dia tidak baik-baik saja! Aku harus melihat nya"

"Kai tenanglah!" Baekhyun sedikit membentak Kai yang tengah panik tersebut, ia mengguncang tubuh Kai agar gadis itu berhenti panik.

"Tenanglah..Sehun pasti baik-baik saja, ada dokter yang sudah menangani nya Kai. Kau tenang saja oke? Sekarang kembali kekamarmu ne.." Kai menggeleng pelan.

"Ijinkan aku melihat nya eonni.." mohon Kai. Melihat Kai yang memelas akhirnya ia pun mengangguk menyetujui.

Setelah mendapat persetujuan dari Baekhyun, Kai pun segera berlari menuju kamar Sehun dengan Baekhyun yang mengekori nya dari belakang.

Didepan kamar Sehun, Kai dapat melihat keempat bodyguard kepercayaan Sehun yang tengah berdiri dengan wajah datar nya meski ada kecemasan yang tak begitu kentara diwajah mereka. Dan juga astaga Haowen! Bocah itu juga tengah berdiri didepan pintu kamar Sehun dengan wajah sembabnya. Apa bocah itu menangis? Pikir Kai.

"Haowen.." panggil Kai pelan. Si pemilik nama pun menoleh begitu juga dengan keempat orang kepercayaan Sehun.

"Kai..!" Haowen berhambur kepelukan Kai, memeluk perut gadis itu sambil terisak.

"Daddy hiks..daddy.." Kai melepas pelukan Haowen pada perut nya dan berbalik memeluk tubuh kecil Haowen sambil berjongkok.

"Sstt..daddymu pasti baik-baik saja, percayalah okey? Ini sudah malam dan tidak baik untukmu jika tidur terlalu larut. Haowen sekarang tidur ya..bukankah besok kamu sekolah?" Kai mengelus rambut Haowen yang kini berada dipelukan nya, mengusap punggung Haowen guna menenangkan bocah Oh itu.

"Tapi daddy.."

"Daddy mu pasti baik-baik saja, aku yakin itu..disini ada aku, Baekhyun noona dan keempat bodyguard daddymu yang menjaga nya. Ada dokter juga yang sudah menangani nya jadi Haowen tidur ya..besok kamu bisa menengok daddymu lagi ne.." akhirnya bocah itupun mengangguk. Kai segera melepaskan pelukan nya dan membiarkan Haowen kembali kekamar nya.

Kai menatap nanar punggung Haowen yang menjauh darinya, ia merasa kasihan dengan bocah itu. Diusia nya yang masih kecil ia sudah ditinggal ibu nya yang entah bocah itu tahu atau tidak soal kematian ibu nya, ditambah Sehun yang sangat sibuk dan jarang meluangkan waktu untuk putra nya.

Kini pandangan Kai beralih pada Woobin, Jongsuk, Changwook dan Hyunwoo yang juga tengah menatap nya.

"Sebenarnya apa yang-"

"Kau baik-baik saja nona? Apa kau perlu dokter untuk me-"

"Jangan potong ucapanku Woobin! Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu. Kejadian ini bukan sebuah kecelakaan saja kan? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Sehun mempunyai musuh?" Tanya Kai yang tak sabaran dan penuh dengan amarah. Kai tahu bahwa ia bukan siapa-siapa disini tapi ia tidak bisa membendung rasa ingin tahu nya apalagi jika ini menyangkut nyawa seseorang -Sehun- bahkan dirinya juga! Dan Kai takut Haowen juga akan terkena imbasnya.

"Kai tenanglah.." Baekhyun memperingati.

"Sebelumnya aku ingin bertanya pada anda.." Jongsuk membuka suara, nada nya terdengar sangat serius sehingga membuat semua yang ada disana terdiam.

"..Dalam pesta tersebut, sebelum nya apa anda merasakan ada yang aneh? Maksudku sebelum kapal itu meledak apa ada keganjalan yang anda rasakan disana?" Kai mengernyitkan dahi nya bingung, tapi seketika memori nya mengingat kejadian dimana Sehun ehem memutuskan ciuman nya dan beranjak pergi meninggalkan nya.

"Ehm itu..tiba-tiba Sehun meninggalkanku begitu saja" ujar Kai setengah bohong oh ayolah Kai malu jika harus menceritakan secara rinci kejadian nya, toh apa yang dia ucapkan tidak sepenuhnya bohong kan.

"Apa hanya itu?" Tanya Hyunwoo tak percaya, wajah pria manis itu ingin sekali Kai tonjok. Seolah pria itu tahu jika Kai menyembunyika bagian penting dari cerita nya. Kai pun akhirnya menghela nafas, mau tak mau dia harus menceritakan nya secara detail.

"Ehm it-itu, ya..sebenarnya kita eh tidak lebih tepat nya Sehun memaksaku berciuman tapi tiba-tiba dia memutus ciuman nya dan terus menengok kearah dek belakang, menurutku ia melihat seseorang tapi entahlah. la-lalu dia meninggalkanku dan mengatakan 'tunggu disini sebentar, jika ada yang terjadi..' dia tiba-tiba menghentikan ucapan nya dan ketika aku bertanya ada apa dia hanya menyuruhku untuk tidak kemana-mana..tapi tak berselang lama kapal pun meledak dan aku menemukan Sehun terkurung di ruangan sempit dan gelap tempat mesin-mesin berada. ya seperti itu cerita nya" aku Kai sambil menunduk tidak menghiraukan Baekhyun yang melongo mendengar kata 'ciuman' dari bibir Kai dan jangan lupakan Hyunwoo yang tersenyum jahil karena nya.

"Ciuman yang terlepas begitu saja eh?" Gumam Hyunwoo disela kekehan nya.

"Mwo?" Kai hendak memprotes tapi suara Woobin menghentikan niat nya.

"Hyunwoo hentikan! Ini bukan saat nya untuk bercanda"

"Dari cerita yang disampaikan nona Kai sepertinya ini bukan hanya kecelakaan yang tak disengaja, tapi ini sabotase.." Changwook menyerukan hipotesis nya.

"Ya..aku sependapat denganmu. Mungkin saat Tuan Sehun berciuman dengan nona Kai beliau melihat seseorang yang dikenalnya dan berniat mengejarnya" kali ini giliran Jongsuk yang menjelaskan lebih rinci dugaan nya.

"Kemungkinan besar begitu. Jangan-jangan..." Woobin menggantungkan kalimat nya, keempat orang kepercayaan Sehun itupun saling berpandangan dan mengangguk.

"Apa yang kalian bicarakan? Apa ini berhubungan dengan kecelakaan kapal pesiar itu? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sehun! Siapa orang yang kalian maksud?" Kai tidak bisa bersabar lagi, ia benar-benar ingin tahu tapi sepertinya ia harus mengubur rasa ingin tahu nya saat melihat dokter keluar dari kamar Sehun dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.

"Bagaimana keadaan Tuan Sehun dokter?" Tanya Woobin pada dokter kepercayaan keluarga Oh tersebut. Pria paruh baya yang dipanggil dokter itupun menghela nafasnya sejenak sebelum menyampaikan hasil pemeriksaan nya barusan.

"Trauma Tuan Sehun semakin parah, kali ini akan sangat sulit untuk disembuhkan mengingat Tuan Sehun juga tidak pernah berhasil dengan terapi-terapi nya terdahulu" keempat orang kepercayaan Sehun itupun tak terkejut dengan ucapan sang dokter, mungkin mereka sudah menduganya tapi entahlah, berbeda dengan Kai dan Baekhyun yang tak mengetahui maksud dokter tersebut hanya saling berpandangan bingung.

"Apa maksud dokter?" Tanya Kai

"Nona Baekhyun bisa anda antarkan dokter Jang kedepan?" Titah Woobin yang diangguki oleh Baekhyun.

"Mari dokter saya antar kedepan" Baekhyun mempersilahkan sang dokter dan meninggalkan Kai yang menatap bingung keempat orang kepercayaan Sehun yang seolah melarang nya menceritakan apa yang terjadi pada Kai.

"Kenapa kau menyuruhnya pergi, bahkan dokter itu belum menjawab pertanyaanku!" Protes Kai yang tak terima karena keempat pria didepan nya tak mau menceritakan perihal yang sebenarnya terjadi.

"Sebenarnya Tuan Sehun memiliki banyak sekali trauma masa kecil" Jongsuk bersedekap menceritakan sedikit rahasia tentang sang majikan yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain meskipun Kai tidak bisa dibilang orang lain -asing- karena sudah terhitung hampir 2 bulan Kai berada dimansion ini.

Woobin memandang Jongsuk tajam seakan melarangnya untuk bercerita tentang masalah pribadi tuan nya lebih jauh.

"Woobin jangan halangi dia bercerita" seakan tahu apa maksud tatapan Woobin pada Jongsuk, Kai pun memperingati.

"Baiklah..aku akan menceritakan beberapa hal" Woobin menghela nafas pelan, pandangan nya jatuh pada Baekhyun yang sudah bergabung kembali dengan mereka setelah mengantarkan dokter tadi.

"Waktu kecil Tuan Sehun pernah diculik.." jeda sesaat, pria itu masih menimang haruskah ia menceritakan ini? Tapi melihat kesungguhan dimata Kai akhirnya ia pun melanjutkan cerita nya.

"Waktu itu umur Tuan Sehun sama degan umur Tuan muda Haowen saat ini. Ia diculik dan disekap dalam sebuah ruangan sempit tanpa cahaya dan udara yang masuk. Selama ia diculik tuan Sehun selalu disiksa, dipukul dan bahkan dicambuk. Entah apa tujuan mereka menculik nya karena penculik itu juga tidak meminta uang tebusan pada keluarga nya. Setiap hari nya tuan Sehun hanya diberi makan mie instan dan ia harus memakan mie itu dari mangkok saat tangan nya diikat. Bahkan terkadang Tuan Sehun dipaksa meminum alkohol. Nona bisa membayangkan bukan bagaimana tersiksa nya tuan Sehun..? Padahal saat itu tuan Sehun masihlah seorang bocah yang tidak tahu menahu bahkan dilarang keras meminum minuman keras" Kai mengangguk dengan mata yang mulai berkaca-kaca bahkan air mata nya mungkin akan segera mengalir dengan deras nantinya.

"Tuan Sehun disiksa terus menerus dan diperlakukan seperti binatang, bahkan ia pernah bercerita pada kedua orang tuanya jika ia tidak hanya dipukuli dengan tongkat baseball tapi ia juga ditenggelamkan dalam kolam. Kedua orang tua Tuan Sehun yang sangat terpukul mendengar satu-satu nya anak tunggal mereka diculik pun tak tinggal diam, mereka sampai menyewa orang-orang terbaik nya untuk mencari keberadaan Tuan Sehun, bahkan mereka juga menggunakan jasa pihak berwajib untuk mencari nya. Dan pencarian itu akhirnya membuahkan hasil, satu minggu kemudian mereka menemukan Tuan Sehun berada di sebuah gudang tepatnya disebuah almari tua. Polisi yang datang kesana berkata bahwa para bajingan-bajingan yang menculik tuan Sehun sudah melarikan diri dan menjadi buron tapi sampai saat ini mereka tidak pernah ditemukan" Kai menutup mulutnya tak percaya.

"Saat polisi menemukannya, bocah malang itu benar-benar trauma berat, keadaan mental dan psikis nya terguncang ia takut dengan orang-orang disekeliling nya. Bocah itu hanya mengurung diri dikamar dan hanya mau berbicara jika hanya dengan kedua orang tua nya. Tapi penderitaan Tuan Sehun tidak hanya sampai disitu saja, beberapa hari kemudian bocah malang itu harus menelan kekecewaan dan kesedihan mendalam saat mengetahui orang tua nya tewas dalam sebuah kecelakaan tabrak lari dan menjadikan Tuan Sehun seorang diri didunia yang sangat kejam ini." Sambung Changwook, entah disadari atau tidak oleh Kai jikalau keempat pria didepan nya itu tengah menahan air mata yang sudah berada dipelupuk mata mereka. Membayangkan betapa mengerikan nya penderitaan sang majikan.

"Ya Tuhan/astaga.." gumam Kai dan Baekhyun berbarengan sambil menutup mulut nya terperangah.

"Mungkin Tuan Sehun berfikir inilah takdirnya, dan ini lah nasib nya tapi bagaimana bisa menjadi semakin buruk saat ia tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa.." Hyunwoo menggantungkan kalimat nya.

"A-apa? Apa yang terjadi? Kenyataan apalagi yang menyakiti nya? Katakan!" Kai mendesak Hyunwoo dengan menggoyangkan lengan pria itu.

"Sebaiknya anda tanyakan sendiri pada Tuan Sehun nona..dan perlu anda tahu, Tuan Sehun tidak seburuk yang kau fikirkan. Aku tahu ia berlaku kasar padamu tapi itu bukan semata-mata ia lakukan tanpa sebab, dan..percayalah sebenarnya Tuan Sehun tidak bermaksud menyekapmu disini. Aku permisi.." Jongsuk mengakhiri cerita menyakitkan itu lalu berbalik pergi meninggalkan mereka, dan Kai bersumpah ia melihat dengan jelas pria itu meneteskan air mata nya saat berbalik bahkan terlihat dari hidung nya yang memerah.

"Aku dan Hyunwoo juga akan melakukan penyelidikan tentang kejadian ini, kami permisi.." Changwook dan Hyunwoo juga beranjak dari posisi nya meninggalkan Woobin, Kai dan Baekhyun yang saling terdiam.

"Bisakah kau teruskan ceritamu" Kai memohon dengan nada lirih nya.

Woobin menggeleng "Maaf aku tidak bisa..ini bukan wewenangku nona"

"Baiklah.." Kai mengambil nafas dan menatap Woobin dengan pandangan yang entahlah.

Hening sejenak..

"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Sehun dalam menyembuhkan trauma nya yang semakin parah itu?" Woobin menggelengkan kepala nya lagi dan membuat Kai tertunduk dengan air mata nya.

"Tuan Sehun memiliki banyak sekali trauma terutama pada makanan yang berbahan mie, alkohol, tempat sempit dan gelap dan juga dengan air. Tuan Sehun sudah melakukan terapi tapi semua nya nihil, ia hanya bisa menghilangkan rasa takut nya pada kekerasan tapi tidak dengan yang lain nya." Kai mengangguk, Woobin baru saja akan berbalik meninggalkan Kai tapi ucapan gadis itu membuat nya tertegun.

"Lalu..bagimana dengan istri Oh Sehun?"

"Maaf..itu juga bukan wewenangku untuk berbicara nona, permisi" Woobin meninggalkan Kai yang hanya menghela nafas. Pria itu sepertinya lebih memilih untuk kabur dari topik pembicaraan ini ketimbang meladeni pertanyaan Kai yang merajuk pada rahasia seorang Oh Sehun, majikannya.

Baekhyun mendekat dan memegang lengan Kai pelan.

"Kau baik-baik saja? Ayo aku antar kembali kekamarmu" Kai menggeleng dan menatap Baekhyun nanar.

"Aku..akan menemani Sehun disini. Eonni kembalilah kekamarku dan tidurlah, kau terlihat lelah..aku baik-baik saja jadi jangan khawatir" Baekhyun hanya menganggukkan kepala dan meninggalkan Kai. Saat ini mungkin Kai butuh waktu berdua dengan Sehun dan mungkin gadis itu juga mulai tertarik dengan Sehun. Atau entahlah..

Cklek..

Kai memasuki kamar Sehun, menutup pintu dan duduk disamping ranjang Sehun. Air mata nya tiba-tiba terjatuh ketika menatap wajah pucat Sehun yang tengah berbaring tak sadarkan diri, memorinya berputar mengingat percakapan nya dengan keempat bodyguard Sehun barusan.

Kai tersenyum miris dan mengusap air matanya.

"Lucu sekali ya..orang sejahat dirimu ternyata mempunyai pengalaman hidup semengerikan itu. Dan mungkin aku akan menyetujui sebuah pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang benar-benar jahat didunia ini." Gumamnya pelan, pandangan nya tetap pada sosok pucat didepan nya.

"Kau itu jahat Sehun, tapi...kenapa mendengar cerita mereka tentangmu dan melihatmu seperti sekarang membuatku ragu jika kau ini sebenarnya jahat, arogan, egois dan pemaksa..kau ini sebenarnya pria seperti apa? Kau sungguh misterius dan sulit ditebak" Kai mengambil tangan Sehun untuk digenggamnya dan seketika ia terlonjak kaget merasakan sensasi dingin dari permukaan tangan Sehun. Bahkan tangan nya dingin sekali, batin Kai. Ia mengusap pelan punggung tangan Sehun berusaha memberi kehangatan untuknya.

Cukup lama terdiam dengan posisi Kai yang duduk disebelah ranjang king size Sehun berseprai dark silver sambil menggenggam sebelah tangan pria itu, tiba-tiba Kai dikagetkan oleh suara geraman dari bibir tipis Sehun yang masih setia memejamkan mata.

"Sehun..Sehun.." Kai memanggil nama Sehun dan mengguncang pelan tangannya, ia berfikir bahwa mungkin Sehun sedang bermimpi buruk atau lebih parahnya lagi jangan-jangan pria itu tengah mengingat masa lalu nya yang menyakitkan tersebut.

Berbagai pikiran buruk berkecamuk dibenak Kai. Ia sudah berusaha memanggil nama Sehun tapi pria itu tidak kunjung bangun bahkan keringat dingin membasahi seluruh permukaan wajah nya.

"Bagaimana ini? Haruskah aku memanggil Woobin?" Kai baru saja akan beranjak jika tangan Sehun tidak mencengkeram tangan nya dan membuat Kai sedikit mengerang sakit.

Kai mencoba melepaskan tangan Sehun tapi nihil, pria itu justru mengeratkan cengkeramannya. Kai yang semakin panik melihat Sehun yang tak kunjung bangun akhirnya berinisiatif untuk menenangkan pria itu.

Kai mengusap peluh yang membanjiri dahi Sehun dengan sebelah tangannya, dan berhasil! Pria itu agaknya sedikit tenang dengan usapan lembut tangan Kai pada dahinya.

Tapi itu saja tidak cukup, pria itu masih tampak gelisah dalam alam bawah sadarnya. Kai pun akhirnya menidurkan tubuhnya disamping Sehun dengan posisi yang lebih tinggi dari Sehun, lalu ia miringkan tubuhnya dan menyelipan sebelah tangannya pada leher Sehun untuk memeluknya.

Tanpa diduga ternyata Sehun meresponnya, pria itu mulai tenang dalam dekapan Kai bahkan ia berbalik dan membenamkan wajahnya erat-erat pada dada Kai.

"Tenanglah..tenang..bernafaslah dengan teratur. Tidurlah dengan nyenyak..aku ada disini, kau tidak sendirian" Kai mengelus pelan punggung Sehun sehingga membuat pria itu semakin membenamkan wajahnya pada tubuh Kai dan memeluknya erat, bahkan Kai dapat merasakan kaos belakang nya

diremas tangan Sehun dengan erat.

Dan perlahan nafas Sehun mulai teratur, tubuh pria itu sudah rileks kembali dan pelukannya mengendur secara perlahan. Kai yang masih tetap dengan posisinya pun pada akhirnya jatuh tertidur memeluk Sehun, benar-benar menemani pria itu mengarungi mimpinya, menjaga nya agar tetap tenang.

.

.

.

Keesokan paginya Sehun terbangun dengan memeluk tubuh Kai. Agaknya ia sedikit bingung dengan adanya Kai dalam pelukan nya. 'Apa gadis ini semalaman ada disini? Dalam pelukanku?' Gumamnya dalam hati.

Sehun melepaskan pelukannya pada tubuh Kai lalu duduk disamping gadis itu sambil menyelimutinya. Pikirannya mulai melayang pada kejadian dimana dirinya bertemu dengan sesorang yang sangat dibencinya lalu entah apa yang terjadi tiba-tiba ia terkurung dalam sebuah ruangan yang gelap dan sempit dan setelahnya ia tidak mengingat apa-apa lagi hanya suara samar milik Kai yang memanggil nya. Oh! Apa gadis ini yang menyelamatkanku? gumamnya.

Sehun menatap wajah damai Kai yang tengah tertidur, tangan nya terulur menyentuh puncak kepala Kai dan mengelusnya pelan. Ia juga dapat melihat dahi Kai yang diplester, Sehun tersenyum miris melihatnya.

Cklek..

"Dad-" sebelum Haowen menyelesaikan ucapannya Sehun sudah terlebih dahulu menutup mulut nya dengan jari telunjuk mengisyaratkan agar Haowen tidak berbicara terlalu keras.

Sehun turun dari ranjang dan membawa Haowen kedalam gendongannya menuju balkon lalu mendudukkan diri dikursi yang ada disana.

"Dad..kau baik-baik saja?" Tanya Haowen menatap intens sang ayah yang tengah memangkunya. Sehun menatap balik Haowen dan tersenyum sekilas.

"Seperti yang kau lihat.." jawabnya sambil mengusap kepala Haowen. Rasanya Haowen rindu sekali dengan belaian sang ayah. Bocah itu merindukan ayah nya yang bersikap hangat seperti ini, ayah yang selalu menggendongnya, ayah yang selalu menemaninya tidur dan ayah yang selalu ada disamping Haowen saat bocah itu membutuhkan dukungan. Rasanya sudah lama sekali ayahnya itu tidak memperlakukannya seperti ini dan Haowen sangat rindu.

Haowen memeluk leher sang ayah dan menangis terisak. Sehun sedikit tertegun mendengar putra semata wayang nya itu menangis.

"Kenapa menangis hm?" Haowen menggelengkan kepala dan segera menghapus air mata nya menatap Sehun.

"Aniya..Haowen hanya rindu daddy. Dad..jangan sakit lagi ya? Haowen takut daddy seperti kemarin..Haowen sayang daddy dan Haowen tidak mau kehilangan daddy" Sehun lagi-lagi tertegun mendengar ucapan Haowen barusan, sepertinya Sehun mulai sadar bahwa putra nya itu butuh kasih sayang lebih darinya mengingat beberapa bulan belakangan ia jarang sekali mengajak Haowen bermain ataupun menghabiskan waktu berdua.

Sehun sadar sekarang dan Sehun merasa menyesal sudah mengabaikan Haowen. Sehun seharusnya menjadi orang tua yang baik terlebih Haowen hanya memiliki Sehun. Tidak ada ibu yang menjaga dan mengawasi jadi hanya Sehunlah yang jadi panutan serta harapan satu-satu nya.

Sehun memeluk Haowen dengan erat, mengelus puncak kepala nya dan bergumam.

"Haowen maafkan daddy..daddy juga sayang dengan Haowen. Daddy janji tidak akan sakit lagi." Haowen mengangguk dengan semangat dan membalas pelukan Sehun tak kalah erat nya.

Lama terdiam hingga akhirnya suara Haowen memecah keheningan sesaat tersebut.

"Dad.."

"Hm.."

"Kau dan Kai benar-benar pacaran?" Sehun tersenyum sekilas mendengar pertanyaan yang diajukan sang putra tercinta nya.

"Menurutmu.." Haowen mendengus pelan menatap sang ayah.

"Menurutku? Hmm ya..Kai baik dan perhatian, Tetsuya dan Cerberus sangat menyukai nya"

"Apa ini sebuah pengakuan jika kau menyukai nya?"

"Hmm ya begitulah. Aku setuju-setuju saja jika daddy dan Kai menikah" Sehun membelalak tak percaya dengan apa yang diucapkan Haowen, apa putra nya itu menginginkan Kai menjadi ibu nya.

"Haowen..apa kau ingin Kai menjadi ibumu?" Haowen mengangguk mengiyakan. Sehun terdiam sejenak hingga akhirnya ia mengalihkan perhatian nya pada Haowen dan menurunkan sang putra semata wayang dari gendongan nya.

"Ini sudah waktu nya kau sekolah, ayo cepat ganti baju dan segera berangkat. Changwook pasti sudah menunggumu" Sehun memilih mengalihkan pembicaraan, ia masih belum kepikiran untuk menikahi Kai mengingat bagaimana perangai gadis tersebut.

"Tapi.."

"Haowen.." Haowen tertunduk dan berjalan meninggalkan sang ayah, padahal ia masih ingin terus bersama ayahnya.

"Haowen.." panggil Sehun, bocah itu segera menoleh kearah sang ayah dengan wajah lesu nya.

"Daddy bingung harus melakukan apa waktu liburan musim panas, apa kau punya ide?" seketika wajah Haowen berseri-seri mendengar ajakan sang ayah yang menurutnya jarang itu.

"Lotte World! Dan kepantai!" Seru Haowen dengan semangat.

"As you wish son..sekarang cepat berangkat"

"Okey!" Sehun tersenyum geli menatap kepergian Haowen.

Kini hanya ada dirinya dan Kai yang masih tertidur diranjang. Sehun tersenyum menyeringai saat mengatahui jika sedari tadi gadis itu sebenarnya sudah terbangun. Sehun mengacuhkan nya dan kembali melangkahkan kaki nya kebalkon kamar nya dan mengetikkan sebuah pesan pada salah satu keempat orang kepercayaan nya.

'Cari tahu keberadaan ibu Kai, dan selidiki soal kejadian semalam'

Send..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC?

Membosankan? Ya aku tahu, aku yang nulis aja bosan sendiri hehe

Di chap ini masa lalu Sehun mulai terungkap dan hubungan ayah anak antara Sehun dan Haowen udah rekat kembali. Tinggal hubungan Sehun dan Kai saja yang butuh diperjelas dan mungkin chap depan misteri hilang nya ibu Kai akan terjawab.

Dan perlahan semua nya akan jelas..

Sorry for typo and late update..

Makasih buat yang selalu nungguin ff ini publish..dan makasih banyak buat readers, followers, favoriters (?) and reviewers..

Sayonara~