Single Mom

By Maknaeline94

Haechan (GS)

Mark

Chenle (GS)

Jaemin (GS)

Jeno

Renjun

Jisung

Others

.

.

.

.

.

"Jadi Lele tidak sekolah hari ini? Kenapa tidak menginap aja semalam disini?"

"Aku juga baru tahu saat makan malam, sepertinya dia lupa Eomma." Saat ini Haechan sedang menelepon sang Eomma, memberitahukan jika Chenle akan ikut bersamanya ke kantor.

"Ahh begitu. Haechanie, Lele kemarin banyak cerita tentang.. Aduh siapa namanya Ma.. Mak.. Seperti nama inggris, Eomma lupa.."

'Siapa? Mark?' Haechan berpikir sejenak

"Maksud Eomma Mark?" Tanya Haechan akhirnya.

"Nah iya Mark! Apa dia kekasihmu? Lele bercerita terus tentang betapa baik dan asiknya Mark Ahjussi." Seru Eommanya dengan semangat.

"An.. Aniya Eomma, Mark rekan bisnisku dan dia juga sahabat Jaehyun Oppa yang baru kembali dari Canada." Haechan menjawab pertanyaan dengan gugup. Pipinya juga bersemu merah ketika sang Eomma menanyakan hubungannya dengan Mark.

"Eiyyy, kalau dia kekasihmu juga tidak apa kok. Kau juga sudah cukup umur untuk menikah, lagi pula Lele juga pasti membutuhkan sosok ayah. Ah iya kata Lele, Mark itu sangat tampan ya? Sudah Chan, jadikan kekasih saja."

"Ah ap.. Apa sih Eomma, aku saja baru bertemu dengannya. Sudahlah Eomma, aku harus segera menyiapkan sarapan." Eommanya memang senang menggoda dirinya jika masalah laki-laki.

"Haha arra... Oh iya Chan, hari ini Eomma akan menyusul Appa mu ke China. Sepertinya Appa mu sangat merindukan Eomma, sampai meminta Eomma menyusul hahaha."

Haechan yang mendengar perkataan sang Eomma hanya memutar bola matanya dengan malas, mengapa Eommanya sangat narsis sekali.

"Baiklah Eomma. Besok aku akan menitipkan Lele di rumah Kun Eonnie saja. Eomma berapa lama di sana?"

"Entahlah, Eomma belum tahu pasti. Kau tahu sendiri Appa mu jika sudah bekerja."

"Oh okay Eomma, sampaikan salamku untuk Appa." Haechan segera menutup telepon dengan sang Eomma, karena ia harus segera membangunkan Chenle dan menyiapkan sarapan.

Haechan berjalan keluar kamar dan langsung menuju kamar Chenle untuk membangunkan putri manisnya itu. Ketika ia membuka pintu kamar anak itu, masih terlihat buntalan selimut di atas kasur yang tak lain adalah putrinya sendiri yang masih bobo cantik kkkkk.

Haechan duduk di pinggir kasur Chenle, ia dapat melihat anaknya yang masih tertidur dengan lelap. Haechan mengelus kepala Chenle dengan lembut dan mencium kening miliknya.

"Sayang, ayo bangun. Katanya mau ikut Mommy ke kantor." Bisik Haechan dengan lembut ditelinga Chenle.

"Eunggh, jam berapa sekarang Mom?" Tanya Chenle masih dengan mata terpejam.

"Jam 7 sayang, ayo bangun. Mommy akan menyiapkan air hangat untukmu." Haechan menepuk pelan badan Chenle, lalu setelah itu langsung beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi yang ada di kamar Chenle untuk menyiapkan air hangat untuk Chenle mandi.

Sekembalinya Haechan dari kamar mandi, Chenle masih duduk di kasur dengan mata terpejam. Sangat imut pikir Haechan.

"Lele, sana mandi. Mommy mau menyiapkan sarapan." Haechan kembali mengelus dengan sayang kepala Chenle, lalu ia berjalan keluar kamar setelah memastikan Chenle masuk ke kamar mandi untuk mandi.

.

.

.

.

.

"Morning Mom." Sapa Mark kepada Ibunya ketika ia tiba di ruang makan.

"Morning sayang." Balas sang ibu yang masih sibuk mengolesi selai pada roti.

"Dad dimana Mom?" Tanya Mark setelah menyeruput kopi yang telah disiapkan Ibunya.

"Daddy mu pergi ke China dini hari tadi. Ada keperluan mendesak katanya."

Mark hanya menganggukan kepalanya saja setelah mendengar jawaban dari sang Eomma.

Mark mengambil roti yang telah disediakan Ibunya, dan segera memakannya. Mark tidak terbiasa dengan sarapan yang terlalu berat, ketika sarapan biasanya ia hanya memakan roti, pancake, atau sereal. Kebiasaan ketika ia tinggal di Canada.

"Mark kata Jaehyun kau sudah memiliki pacar ya? Tega sekali kau merahasiakannya dari Mommy."

Mark yang mendengar pertanyaan Ibunya langsung tersedak roti yang sedang ia makan. Mark segera menyeruput air putih yang ada disamping kopi miliknya. Si Jaehyun itu memang benar-benar bocor, lagi pula Haechan kan belum jadi pacarnya, ya mungin bentar lagi sih tapi kan tetap saja belum jadian. Mark baru ingat ketika Jaehyun mengantar Mark pulang, si Jaehyun menumpang makan di rumah Mark, sedangkan Mark sendiri tidak ikut makan malam karena ia tidak lapar dan langsung segera menuju kamarnya. Pasti si Jaehyun cerita macam-macam pada Ibunya.

"Pacar apa? Aku belum punya."

"Yak! kata Jaehyun kau menyukai seorang wanita. Haechan kan namanya?"

Mark melongo setelah mendengar perkataan Ibunya. Wah Jaehyun benar-benar, bahkan Ibunya sampai tahu nama gebetannya.

"Mom, aku baru saja bertemu dengannya okay. Dan ya aku memang tertarik dengannya." Jawab Mark simple sambil kembali memakan roti miliknya.

"Katanya dia sudah punya seorang putri yang sangat manis ya Mark?"

Mark kembali bengong setelah mendengar pertanyaan sang Eomma. Si Jaehyun pasti sudah cerita sampai ke akar-akarnya. Ibunya dan Jaehyun kalau sudah bertemu pasti membahas sesuatu sampai ke akar-akarnya, ya jelas saja perpaduan Ibunya yang sangat kepo dan Jaehyun yang sangat bocor. Benar-benar perpaduan yang sangat pas.

"Awalnya Mommy kaget ketika mendengar ia sudah punya anak, tapi ketika Jaehyun menjelaskan yang sesungguhnya Mommy jadi kagum sama dia. Cepat bawa dia kesini Mark, Mommy pengen cepat-cepat ketemu sama calon menantu."

"Pacaran saja belum ini sudah ngomongin menantu." Mark mendengus mendengar perkataan ibunya tentang membawa sang calon menantu hahaha.

"Pokoknya kau harus berusaha Mark, lagi pula kau sudah cukup tua untuk menikah kan. Mommy pengen cucu Mark, pengen cucu!" Kenapa jadi Ibunya yang semangat, ya maklum saja sih udah pengen nimang cucu.

"Nih.." Mark menyodorkan susu yang ada di meja kepada Ibunya.

"Mwo?" Ibunya hanya menaikan sebelah alisnya, tidak mengerti apa maksud Mark.

"Katanya Mommy ingin susu." Ucap Mark dengan polosnya.

"Yakkk! Anak kurang ajar! Kau pikir aku bercanda?!"

"Hahhaha.. Sudah aku berangkat dulu Mom." Mark segera bangkit dari duduknya dan mencium pipi Ibunya sebelum berangkat kerja. Lebih baik ia segera pergi ke kantor. Ibunya jika sudah berbicara tentang pernikahan, menantu, dan cucu akan sangat berisik dan menuntut. Jadi lebih baik ia lekas pergi ke kantor.

"Yak Mark pokoknya tahun ini kau harus menikah! Jika tidak kembali saja kau ke Canada!" Mark yang mendengar perkataan Ibunya hanya bisa tertawa, Ibunya menyuruhnya kembali ke Canada? Selama Mark di Canada saja selalu disuruh balik ke Korea, ini sok-sok an mengusirnya.

.

.

.

.

.

Saat ini Haechan dan Chenle baru sampai di kantor, mereka jalan berdampingan dengan Haechan yang menggandeng tangan Chenle. Sambil sesekali Haechan menjawab pertanyaan apapun yang Chenle ajukan padanya, seperti misalnya sekarang Chenle sedang bertanya apakah Mark Ahjussi akan datang lagi. Haechan cukup heran dengan Chenle, mengapa putri manisnya ini menanyakan Mark padahal mereka kan baru kenal, bahkan Chenle juga bercerita pada Eommanya mengenai Mark. Karena biasanya Chenle tidak terlalu tertarik untuk bercerita tentang orang yang belum terlalu ia kenal. Tapi kenapa dengan Mark berbeda?Entahlah Haechan juga bingung.

"Annyeong Sajangnim, Chenle-ya." Sapa seseorang yang membuat Haechan dan Chenle menghentikan langkah mereka.

"Annyeong Ahjumma." Sapa Haechan dan Chenle dengan kompak kepada seseorang tersebut yang ternyata Park Ahjumma.

Park Ahjumma ada pemilik salah satu kios makanan yang ada di kantin kantor milik Haechan. Haechan sendiri cukup sering makan di kios milik Park Ahjuma karena masakannya yang memang enak dan Ahjuma yang sangat ramah.

"Lele tidak sekolah eh?" Tanya Park Ahjuma kepada Chenle.

"Tidak Ahjumma, sekolah Lele diliburkan hehe." Jawab Chenle sambil tersenyum pada Ahjuma.

"Ahh begitu rupanya. Oh iya Lele mau susu?" Park Ahjuma mengambil susu kemasan rasa coklat dari plastik belanjaannya dan menyodorkannya pada Chenle, sepertinya Park Ahjumma baru saja pulang berbelanja.

"Mau Ahjumma, kamsahamnida Ahjumma." Chenle mengambil susu pemberian Park Ahjuma dengan senyum yang sangat manis.

"Kamsahamnida Ahjumma." Haechan juga ikut mengucapkan terima kasih kepada Park Ahjuma.

"Ne, Ahjumma masuk dulu ya." Park Ahjuma segera masuk ke bagian kantin meninggalkan Haechan dan Chenle yang kembali melanjutkan jalan mereka menuju lift.

Dalam perjalanan menuju ruang kerja Haechan, mereka selalu disapa oleh karyawan yang ada. Banyak karyawan yang sangat gemas dengan wajah dan tingkah Chenle, ditambah Chenle juga merupakan anak yang ceria dan ramah. Selain itu sajangnim mereka juga merupakan orang yang bersahabat dan sangat disenangi oleh para karyawan, dan juga wajah cantik dari Haechan membuat mereka semakin mengagumi Haechan.

"Imoooo..." Suara melengking milik Chenle menyapa pendengaran Ten yang sedang asik dengan poselnya.

"Lele jangan teriak-teriak sayang." Haechan memperingati Chenle agar tidak berteriak. Yang diteriaki hanya cengengesan saja.

"Mian Mom hehehe." Chenle menuju ke meja Ten untuk menghampiri Ten, atau lebih tepatnya mengganggu Ten yang sedang asik berkirim pesan dengan sang pujaan hati.

"Imo sedang apa?" Chenle berusaha melihat layar ponsel milik Ten.

"Eiyyy, anak kecil tidak boleh tahu." Ten menjulurkan lidahnya.

"Imo pelit!" Bibir Chenle mengerucut karena Ten yang menggodanya.

Ten yang melihat Chenle merajuk hanya tersenyum sambil mengusak kepala Chenle dengan lembut. Lagi pula tadi kan Ten sedang melihat-lihat foto Taeyong yang ia ambil diam-diam, kalau Chenle melihatnya dan bertanya padanya kenapa ada banyak foto pamannya, Ten kan jadi bingung sendiri mau menjawab apa. Jadi lebih baik disembunyikan saja hahah.

"Eh kok Lele ga sekolah? Bolos yaaa.." Ten kembali menggoda Chenle.

"Enak saja, sekolah Lele diliburkan. Lele kan murid yang rajin jadi Lele tidak mungkin bolos." Bibir Chenle masih mengerucut mendengar perkataan Ten, mana mungkin dia bolos, dia kan anak yang rajin. Lagi pula dia kan suka bertemu teman-temannya di sekolah termasuk si Jisung sahabatnya yang terkadang ngeselin tapi perhatian.

"Arra.. Arra. Kenapa tidak ke rumah Halameoni saja? Nanti Lele bosan di sini gimana." Ten kembali bertanya kepada Chenle. Haechan yang melihat percakapan mereka hanya diam saja mendengarkan.

"Lele mau ketemu Mark Ahjussi lagi hehe."

"Mark?" Ten mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban Chenle. Inikan bukan kantornya Mark, apa memang ada jadwal meeting lagi? Pikir Ten, tapi seingatnya tidak ada. Mereka akan kembali meeting lusa nanti. Haechan yang mendengar jawaban Chenle juga terkejut, kenapa Chenle menjadi tertarik dengan Mark? Ya walaupun memang mereka akan bertemu saat makan siang nanti tapi Haechan kan belum bilang sama Chenle kalau mereka akan makan siang bersama Mark.

"Iya imoooo. Kemarin Lele meminta Mark Ahjussi untuk makan siang bersama lagi, dan Mark Ahjussi mau." Jelas Chenle kepada Ten.

Haechan yang kembali mendengar jawaban Chenle kembali terkejut. Dirinya tidak tahu kapan putrinya meminta Mark untuk makan siang bersama. Sepertinya ketika ia sibuk berdebat dengan Jaehyun mengenai restoran ayam yang enak. Haechan dan Jaehyun memang sering mendebatkan topik yang kurang penting.

Ten memandang Haechan denga pandangan bertanya setelah ia mendengar jawaban Chenle. Haechan yang dipandangi oleh Ten hanya mengendikan bahunya saja.

"Kajja Lele kita masuk." Haechan mengulurkan tangannya kepada Chenle, mengajak putrinya untuk segera masuk ke ruangan kerja miliknya.

"Yak, kau berhutang penjelasan padaku Lee Haechan!" Teriak Ten pada Haechan yang telah berlalu memasuki ruangannya.

Setelah masuk, Haechan menuntun Chenle menuju sofa yang ada di ruangannya. Meletakan tasnya dan mengeluarkan ipad untuk diberikan kepada Chenle.

"Lele mau menonton atau main game?" Tanya Haechan kepada Chenle.

"Hmm Lele mau menonton pororo saja Mom." Chenle meletakan telunjuknya di dagu miliknya. Membuat pose berpikir yang sangat imut hahaha.

"Okay, sebentar ya sayang." Haechan sibuk mengutak-ngatik ipad untuk mencari animasi pororo kesukaan anaknya.

"Oh iya sayang, kenapa Lele ajak Mark Ahjussi untuk makan siang bersama hm?" Haechan kembali bertanya kepada Chenle setelah ia menyerahkan ipadnya kepada Chenle.

"Mark Ahjussi sangat baik Mom, Mark Ahjussi juga seru, jago main game juga. Lele suka hehe sebenarnya Mark Ahjussi juga bilang ingin ketemu Lele lagi kapan-kapan, terus Lele ajak saja untuk makan siang besoknya dan Mark Ahjussi setuju hehe." Jelas Chenle panjang lebar pada Haechan.

Haechan yang mendengar itu hanya melongo, bingung ingin bereaksi apa. Haechan kan jadi tidak enak kepada Mark, kan berarti semalam Mark mengajaknya makan siang bersama karena Mark sudah diajak oleh Chenle terlebih dahulu. Dia takut sesungguhnya Mark merasa keberatan. Haechan jadi kepikiran kan, padahal dirinya sudah senang karena diajak makan siang sama Mark, tapi setelah mendengar perkataan Chenle Haechan merasa Mark mengajaknya hanya untuk memenuhi permintaan Chenle, ada sedikit perasaan kecewa dihatinya.

"Mommy kok bengong? Mommy tidak suka ya? Maafkan Lele ya Mom." Chenle yang melihat Haechan tidak bereaksi terhadap penjelasannya, mengira Haechan tidak suka karena ia mengajak Mark makan siang bersama.

"Aniya sayang. Mommy hanya sedang memikirkan pekerjaan. Nah sekarang Mommy akan bekerja, Lele menonton saja okay. Jika perlu sesuatu bilang saja sama Mommy. Arra?" Haechan tersenyum memberikan penjelasan kepada Chenle, kemudian mengecup pipi putri manisnya lalu berlalu menuju meja kerjanya yang terdapat cukup banyak berkas yang harus ia kerjakan dan periksa.

"Arraseo~"

.

.

.

.

.

11.30am

Mark masih sibuk berkutat dengan berkas yang ada di mejanya dengan kaca mata yang menghiasi wajah tampannya.

Tok.. Tok..

Mark mempersilakan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk yang ternyata adalah Jaehyun. Setelah melihat siapa yang mengetuk pintunya Mark mendengus lalu langsung mengalihkan kembali pandangannya kepada berkas yang sedang ia periksa. Mark masih kesal dengan Jaehyun yang sudah dengan sangat bocornya bercerita tentang Haechan kepada Ibunya.

"Mark ayo makan siang." Ajak Jaehyun pada Mark.

"Aku akan makan siang di luar, Hyung duluan saja."

"Eh yasudah aku ikut ya."

"Andwae, aku sudah janji dengan seseorang."

"Siapa? Haechan ya?" Goda Jaehyun sambil menaik turunkan alisnya.

Mark yang melihat itu ingin rasanya meninju wajah milik Jaehyun.

Mark hanya mengabaikan pertanyaan Jaehyun dan segera membereskan berkas yang telah selesai ia periksa.

"Yak Mark, kacang banget sih. Kau ingin makan siang dengan Haechan kan? Jujur saja."

"Iya, dan aku gak akan ngajak Hyung okay."

"Siapa juga yang mau jadi nyamuk." Setelah mengatakan itu Jaehyun langsung keluar dari ruangan Mark.

Tak lama setelah Jaehyun keluar, Mark juga keluar ruangannya untuk segera berangkat ke kantor Haechan. Mark segera menuju basement, tempat mobilnya ia parkir. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu Haechan. Ya begitulah jika orang sedang kasmaran, rasanya ingin selalu bertemu dan dekat dengannya hahaha. Lihat saja sekarang dirinya sedang senyam-senyum sendiri di lift, beruntung di lift hanya ada dirinya seorang sehingga karyawannya tidak akan mengira jika sajangnim mereka sudah gila karena senyam-senyum sendiri.

Setelah keluar dari lift, Mark langsung jalan menuju mobilnya. Mark melihat ada sosok yang familiar di samping mobilnya yang ternyata adalah Jaehyun.

"Hyung ngapain? Katanya ga mau jadi nyamuk." Mark menatap Jaehyun dengan malas.

"Aku menumpang mobil mu ya Mark, aku juga ingin ke kantornya Haechan. Tadi aku mengajak Doyoung untuk makan bersama, dan tumben dia mau. Kesempatan seperti ini jangan dilewatkan, benarkan?"

"Memangnya mobilmu kemana Hyung?" Mark memasuki mobilnya.

"Hari ini aku pakai motor, karena aku telat bangun. Dan aku ga mau pakai motor, kau tahu sendiri kan sekarang sedang panas, nanti kalau aku naik motor sampai disana sudah kucel(?) dan bau asap pasti." Jaehyun juga mengikuti Mark masuk ke dalam mobil.

.

.

.

.

.

Saat in Haechan sedang menemani Chenle yang sedang asik bermain dengan plastisin setelah selesai menonton sebelumnya. Chenle menggambar di kertas HVS yang tadi Chenle ambil di meja Haechan setelah meminta ijin Haechan tentunya, Chenle juga sesekali bercerita tentang apa saja, salah satunya tentang temannya si Jisung. Haechan memang tahu jika Jisung merupakan sahabat dekat putrinya, mereka sudah saling kenal dari kindergarten. Yang Haechan tahu juga, Jisung itu sangat senang membuntuti Chenle kemana saja, Haechan tahu dari setiap cerita Chenle padanya. Salah satunya, Chenle bilang Jisung juga mengikuti klub vokal karena Chenle juga mengikuti klub vokal, padahal awalnya Jisung ingin ikut klub dance saja yang pada akhirnya Jisung mengikuti kedua klub di sekolahnya tersebut.

Lalu juga pernah Eomma nya bercerita kepada Haechan, ketika Eommanya itu telat menjemput Chenle karena supir dari Eommanya tidak masuk karena sakit, saat Eommanya sampai di sekolah Chenle, Eommanya melihat Jisung masih setia menemani Chenle, padahal Joy Seosaengnim sudah meminta Jisung untuk pulang dengan supirnya dan Joy Seosaengnim akan menemani Chenle hingga Chenle dijemput, akan tetapi Jisung menolak permintaan Joy Seosaengnim. Dan tidak akan meninggalkan Chenle sebelum Chenle dijemput. Dan masih banyak cerita-cerita lainnya tentang Jisung yang tidak mau lepas dari Chenle.

"Lele, besok Sepulang sekolah Lele menunggu Mommy di rumah Kun Ahjumma ya." Haechan memberi tahu Chenle. Memang biasanya jika Eommanya sedang berpergian, Haechan menitipkan Chenle di rumah Kun. Kun yang dititipi Chenle ya senang-senang saja. Kun memang suka pada anak-anak, lagi pula anaknya yang masih berada di China itu jarang sekali menghubunginya dan sering membuat masalah itu membuatnya pusing. Setiap kali diminta untuk pindah ke Korea, anaknya itu selalu saja menolak. Padahal Kun sangat merindukan anaknya, beruntung ada Chenle yang dia anggap anak sendiri terlebih Chenle merupakan anak yang manis.

"Eum.. Kenapa tidak di rumah Halmeoni saja Mom?" Chenle menganggukan kepalanya, anak itu masih asik bermain dengan plastisin.

"Halmeoni pergi ke china hari ini menyusul Harabeoji." Jawab Haechan yang sekarang sedang memperhatikan gambar yang Chenle gambar di kertas HVS.

"Lele sedang menggambar apa?" Haechan melihat gambar 5 orang yang terlihat saling bergandengan tangan. Haechan berpikir apa itu teman-temannya Chenle? Tapi sepertinya bukan, sebab seorang gadis yang di tengah memiliki tinggu yang cukup pendek dibanding yang lainnya.

"Ini keluarga Lele Mom. Ini Jeno Appa, Jaemin Eomma, Lele, Mommy Haechan, dan Mark Ahjussi." Chenle menjelaskan orang-orang yang ia gambar dari kiri ke kanan dengan senyum di wajah manisnya.

"Eh kok ada Mark Ahjussi?" Haechan mengerutkan keningnya.

Tok.. Tok..

Belum sempat Chenle menjawab pertanyaan Haechan, terdengar suara ketukan pintu dan muncullah seseorang yang sedang mereka bicarakan, Mark dan Jaehyun dan jangan lupakan Ten yang juga mengekori keduanya. Sepertinya Ten penasaran tentang apa yang terjadi antara Haechan dan Mark.

"Annyeong Mark Ahjussi." Sapa Chenle pada Mark dengan ceria.

"Anyeong Lele-ya." Mark balas menyapa, sedangkan Chenle sudah berdiri dan berjalan menuju Mark. Mark yang melihat Chenle menghampirinya, langsung merentangkan tangannya untuk memeluk anak manis itu. Entah mengapa keduanya sudah sedekat ini.

"Lele tidak menyapa Ahjussi?" Jaehyun merajuk pada Chenle dengan bibir mengerucut.

"Hehehe annyeong Jae Ahjussi." Chenle kembali menyapa Jaehyun dengan dirinya yang sekarang berada di gendongan Mark.

Haechan yang melihat Jaehyun juga ikut datang ke kantornya berpikiran jika Mark tidak hanya mengajak dirinya saja untuk makan siang. Kecewa? Sedikit mungkin. Mungkin memang salah dirinya yang terlalu percaya diri, mengira Mark mengajaknya makan siang bersama. Seharusnya ia tahu Mark pasti mengajaknya makan siang karena Chenle yang mengajak Mark dan Mark tidak enak hati untuk menolak ajakan putrinya itu.

Haechan terlihat agak murung, ten yang melihat itu akhirnya bertanya pada Haechan.

"Chan-ah, gwaenchana?" Ten menyikut Haechan pelan.

"Eoh? Nan gwaenchana." Jawab Haechan dengan lirih.

Haechan kembali melihat putrinya yang sedang asik bercanda dengan Mark. Entah bagaimana persaannya saat ini.

"Kita jalan sekarang?" Mark menghampiri Haechan dengan Chenle yang masih digendongannya.

"Eoh? Hah? Kajja" Haechan terlihat gugup ketika dirinya ditanya oleh Mark. Haechan segera mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.

.

.

.

.

.

Selama perjalanan menuju restoran Haechan terlihat lebih diam. Hanya menanggapi percakapan Chenle atau Mark yang sesekali bertanya padanya.

Setibanya di restoran, mereka langsung menuju meja yang ditunjukan oleh pelayan restoran tersebut.

Mereka bertiga duduk dengan posisi Mark dan Haechan yang berhadapan dan Chenle yang duduk di samping Haechan. Saat ini ketiganya tengah melihat-lihat menu yang ada. Saat ini mereka sedang berada di restoran steak yang cukup terkenal di daerah Gangnam, ini semua karena Chenle yang sedang ingin makan steak ketika Mark bertanya padanya tentang makan siang mereka.

Setelah mereka selesai memesan makanan mereka masing-masing. Haechan mengidarkan pandangannya, Haechan berpikir mengapa Jaehyun belum juga datang, bukannya Jaehyun juga ikut makan siang denga mereka?

Mark yang melihat Haechan seperti sedang mencari sesuatu akhirnya bertanya pada Haechan. Lagi pula Mark cukup bingung dengan Haechan hari ini, kenapa Haechan lebih banyak diam hari ini, padahal kemarin Haechan sangat cerewet bercerita ini dan itu.

"Kau sedang mencari apa?"

"Jaehyun Oppa." Jawab Haechan simple.

"Jaehyun Hyung?" Mark menaikan sebelah alisnya, bingung dengan jawaban Haechan. Mengapa Haechan malah mencari Jaehyun? Jangan bilang jika Haechan tertarik dengan Jaehyun? Okay Mark kau parno, mana mungkin Haechan tertarik dengan Jaehyun, mereka jika bertemu saja lebih sering berdebat.

"Iya, bukannya ia ikut makan siang dengan kita."

"Aniya, aku tidak mengajak Jaehyun Hyung. Aku hanya ingin makan siang denganmu dan Lele tentunya." Mark tersenyum menatap mata Haechan. *uhukkodeuhuk* hahaha.

"Ah.. Ne? Ah begitu." Haechan terlihat salah tingkah ketika mendengar perkataan Mark, terlebih Mark juga menatap matanya seperti itu. Ughhh rasanya jantungnya berdegup dengan cepat. Salahkan saja Mark yang sangat tampan.

Berterima kasihlah pada pelayan yang mengantarkan pesanan mereka dan juga yang merusak suasana ini. Haechan dapat bernapas denga lega karena dengan hadirnya pelayan, Mark juga memutuskan tatap-tatapan mereka.

"Mom, can you help me?" Chenle bertanya pada Haechan untuk memotongkan steak untuknya.

"Biar Ahjussi yang memotongnya." Mark langsung menyingkirkan piringnya dan meraih piring Chenle untuk diletakan di hadapannya dan memotong-motong steak milik Chenle dengan potongan yang cukup kecil.

Haechan yang melihat itu hanya mampu tersenyum. Mengapa Mark sangat perhatian dengan putrinya? Mengapa Mark terlihat seperti suami idaman? Haechan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk mengenyahkan pikirannya tentang suami idaman. Haechan tidak mau terlalu percaya diri dengan mengira Mark kelak akan menjadi sosok suami idamannya.

"Kau kenapa Haechanie?" Mark bertanya kepada Haechan, karena Haechan terlihat menggeleng-gelengkan kepalannya.

"Eoh? Gwaenchana." Haechan tersenyum dengan canggung, pasti Mark mengira dirinya aneh, pikir Haechan.

"Jja makanlah."

Mereka bertiga makan dengan sesekali mengobrol, suasananya benar-benar baik.

"Kau sering makan disini?" Tanya Mark pada Haechan yang tengah membantu Chenle membersihkan mulut anak itu yang belepotan saus steak.

"Jika Lele sedang ingin makan steak, hmm kadang jika meeting dengan klien juga aku suka kesini. Suasanannya sangat nyaman bukan?"

"Yeah, suasananya cukup nyaman. Ngomong-ngomong Haechan-ah bisa aku meminta bantuanmu?" Mark bertanya pada Haechan.

"Bantuan apa Mark?"

"Bisakah besok kau membantuku untuk mencarikan kado ulang tahun untuk Ibu ku?" Suara Mark sebenarnya terdengar cukup tenang, tapi jantungnya sangat deg-deg an, Mark gugup setengah mati. Bagaimana jika Haechan menolak ajakannya.

"Hmm sebenarnya aku ingin, tapi besok Eomma ku berada di China, dan aku menitipkan Chenle pada tetanggaku ja.."

"Mom, Lele tidak apa-apa. Lele bisa bermain lebih lama dengan Kun Ahjuma kok. Mommy pergi saja mengantarkan Mark Ahjussi." Belum selesai Haechan berbicara, Chenle sudah memotongnya dan mengijinkannya untuk mengantarkan Mark. Bahkan sekarang Chenle sedang memandang Haechan dengan pandangan penuh harap. Sepertinya putri manisnya ini sengaja eoh?

"Jinja? Lele tidak apa-apa?"

"Eum!" Chenle menganggukan kepalanya dengan semangat.

Mark yang melihat itu mengelus kepala Chenle dengan sayang. Ya.. Mark harus berterima kasih pada Chenle karena telah mengijinkan Mommy untuk berkencan dengannya. Berkencan? Yaa, Mark bolehkan menganggapnya itu kencan?

"Gomawo Lele-ya." Ucap Mark pada Chenle.

.

.

.

.

.

Bunyi alarm yang berasal dari jam yang berada di nakas samping tempat tidurnya membangunkannya. Haechan segera mematikan alarm tersebut, dirinya masih sangat mengantuk. Salahkan saja dirinya yang terus berkirim pesan dengan Mark semalam hingga jam setengah satu pagi. Mereka banyak berbicara tentang banyak hal dan juga Mark yang sering menggombali Haechan tentunya. Sampai Haechan blushing sendiri, bahkan setelah mereka saling mengucapkan selamat malam, bukannya langsung tidur, Haechan malah kembali memikirkan Mark. Haechan benar-benar merasa dirinya seperti anak sma yang sedang kasmaran. Katakan saja jika dirinya memang tertarik pada Mark, dans ekarang rasa tertariknya tersebut menjadi lebih besar lagi karena semua perhatian yang Mark berikan padanya dan juga Chenle.

Ugghh dirinya harus segera bangun dan mandi, lalu membangunkan putrinya dan menyiapkan sarapan jika tidak Chenle bisa saj terlambat ke sekolah.

.

.

.

.

.

"Lele yakin Mommy boleh menemani Mark Ahjussi nanti?" Sekali lagi Haechan bertanya kepada Chenle. Saat ini mereka sedang berada di pelataran parkir sekolah Chenle.

"Eum! Tentu Mom. Mommy bisa pergi dengan Mark Ahjussi." Chenle kembali mengangguk dengan semangat, mencoba meyakinkan Mommy untuk pergi menemani Mark.

"Arraseo, gomawo baby. Lele ingin menitip apa?"

"Cupcakes?"

"Okay, Mommy akan membawakannya untuk Lele nanti."

"Gomawo~ Lele turun dulu ya Mom." Chenle mengecup pipi Haechan.

"Belajar yang rajin sayang." Haechan juga mengecup kening Chenle.

.

.

.

.

.

Setibanya di kantor Haechan langsung menuju ruangannya, dan tidak biasanya Haechan tidak melihat Ten di jam yang sudah cukup siang ini. Bahkan pesannya saja tidak dibalas oleh Ten.

Beberapa jam kemudian terdenga ketukan pintu..

Dan terlihat lah Ten yang memasuki ruangannya dengan senyum yang sangat cerah. Haechan memandang Ten dengan pandangan bingungnya.

"Kau kenapa Eonnie?"

"Aku? Kenapa?" Ten kembali bertanya pada Haechan dan masih dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya.

"Kenapa malah bertanya balik." Haechan benar-benar merasa aneh melihat sikap Ten.

"Haechan-ah, aku sangat senang pagi ini. Kau tahu? Tadi aku pergi ke rumah sakit tempat Taeyong praktek, aku pergi mengantarkan bekal untuknya. Awalnya dia sangat cuek padaku, lalu kau tahu? dia berbisik di telingaku untuk mengucapkan terima kasih dengan suara seksinya itu. Terus terus kau tahu? Dia mengecup pipikuuuu kyaaaaaa. Taeyong benar-benar romantis! Ah aku tidak akan melupakannya!" Ten bercerita dengan hebohnya pada Haechan yang terlihat cengo ketika mendengarkan cerita Ten. Haechan tidak menyangka sepupunya itu bisa juga bersikap manis seperti itu.

"Jadi kau terlambat karena Taeyong?"

"Ahh hehehe mian ne~ sekali-kali saja kok Chan."

"Hmm sudahlah. Omong-omong selamat Eonnie, hubungan kalian sudah lebih maju."

"Gomawo Chan Chanie." Ten masih tersenyum malu-malu.

"Ah bagaimana dengan kau dan Mark? Lancar?" Ten menaik turunkan alisnya menggoda Haechan.

Haechan yang mendengat itu langsung merona.

"A.. Ap.. Apaan sih Eonnie?!"

"Eiyyy jujur saja, kau menyukainya kan?"

"Eonnie!"

"Ayolah Chan, aku saja selalu bercerita tentang hubunganku dan Taeyong." Ten memandang Haechan dengan pandangan penuh harap.

"Hmm Eonnie.. Aku sepertinya menyukai Mark. Tapi aku takut..." Haechan akhirnya bercerita tentang rasa sukanya pada Mark dan juga ketakutannya. Haechan takut untuk menyukai seseorang, mungkin dirinya memang selalu percaya diri, tapi jika dengan hal seperti ini kenapa dirinya sangat ciut? Selalu berpikiran buruk.

"Kenapa kau takut Chan-ah?"

"Kau tahu Eonnie, aku sudah memiliki seorang anak. Lagi pula sebenarnya aku tidak ingin terlalu berharap jika Mark juga menyukaiku. Aku.. Hanya tidak ingin sakit pada akhirnya.. Tapi perasaan ini benar-benar mengganggu ku, aku jadi sangat sering memikirkannya." Haechan menghela napas dengan berat.

"Kau bisa berbicara tentang Chenle padanya, kau bisa menjelaskan padanya. Lagi pula aku melihat Mark sangat sayang pada Chenle, aku bisa melihat betapa Mark sangat perhatian pada Chenle. Dan kau juga merasakannya bukan? Chenle juga sangat nyaman dengan Mark."

"Entahlah Eonnie, aku sangat bingung saat ini. Aku hanya tidak ingin terlalu banyak berharap."

"Jalani saja Chan, biarkan semuanya berjalan seiring waktu. Kau pasti bisa melewatinya dan tahu bagaimana perasaan Mark." Ten memberikan senyumnya pada Haechan sambil meremas bahu Haechan.

Haechan hanya menganggukan kepalanya mendengarkan Ten. Benar, biarkan saja semuanya berjalan seiring dengan waktu. Dia hanya perlu mengikuti arus bukan?

.

.

.

,

.

"Lele ganti pakaian dulu ne, setelah itu baru makan." Kun baru saja menjemput Chenle di sekolahnya. Dan sekarang mereka sedang berada di apartemen Kun. Sebelumnya Haechan sudah menyerahkan segala keperluan Chenle seperti baju dan yang lainnya pada Kun agar nantinya tidak perlu merepotkan Kun.

"Ne~" Chenle segera berjalan menuju kamar yang biasanya menjadi tempatnya menginap.

Tak lama kemudia Chenle sudah kembali dengan dress simple diatas lutut dengan corak bunga lily. Terlihat simple namun sangat manis. Setelah keluar dari kamar, Chenle langsung menuju ruang makan. Chenle melihat Kun yang sedang sibuk mondar-mandir menyiapkan makan siang.

"Duduklah dulu sayang, sebentar lagi makan siang akan siap." Kun tersenyum pada Chenle.

Chenle hanya mengikuti kata-kata Kun untuk segera duduk.

"Kemana anak itu? Katanya hanya ingin cari angin. Kenapa belum kembali juga. Awas saja nanti." Terdengar Kun seperti sedang menggerutu.

"Waeyo Ahjumma?" Chenle memiringkan kepalanya bertanya pada Kun.

"Aniyo~ nah sekarang Lele makan ne."

"Ne... Gomawo Ahjumma." Chenle tersenyum dengan manisnya kepada Kun.

"Ughhh kau sangat imut sekali sayang. Makan yang banyak ne."

.

.

.

Setelah mereka selesai makan, Chenle duduk di ruang tv sambil mengerjakan PR nya dibantu dengan Kun. Sesekali Chenle akan bertanya pada Kun jika ia mengalami kesulitan.

Selesai mengerjakan PR nya, Chenle menonton kartun ditemani oleh Kun. Sesekali Kun melihat Chenle yang menguap.

"Lele ngantuk?"

"Iya, Lele ngantuk Ahjumma." Chenle mengucek kedua matanya yang sudah berair karena terus menguap.

Kun melihat jam dinding menunjukan pukul setengah satu, memang biasanya di jam segini Chenle akan tidur siang.

"Tidur di kamar ne. Mau Ahjumma antar?"

"Tidak perlu Ahjumma, Lele bisa sendiri."

Chenle bangkit dari sofa menuju kamar yang sebelumnya ia masuki ketika berganti pakaian tadi.

Setelah Chenle pamit untuk tidur, Kun berjalan menuju dapur. Kun ingin membuat cookies untuk Chenle, agar nanti setelah anak itu bangun bisa segera makan cemilan kesukaannya.

Setelah selama hampir dua jam setengah sibuk di dapur. Kun tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke apartemennya. Jika memang sudah di dapur, Kun memang akan lupa waktu dan tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Dirinya akan terlalu asik memasak.

Tak lama seseorang itu masuk, seseorang itu berjalan menuju kamar yang sedang di tempati oleh Chenle. Dan tak lama setelah itu...

BRAKKKK!

Terdengar bantingan pintu yang cukup keras, kun yang sedang asik memasukan cookies ke dalam toples sampai kaget dibuatnya. Tak lama terdengar langkah kaki yang sedang berlari menuju ke dapur.

"Mama kenapa ada boneka besar di kamarku?!" Seseorang tersebut bertanya dengan nada yang cukup tinggi kepada Kun.

"Apa maksudmu Renjun-ah?" Kun mengerenyitkan dahinya bingung.

"Ada yang tidur di ranjang ku Ma!"

"Yak! Itu bukan boneka! Itu manusia Njun-ah!"

"Jadi kau menculiknya Ma?! Aku tahu kau ingin anak perempuan, tapi jangan menculik anak seperti ini dong! Ba.." Belum selesai seseorang yang diketahui bernama Renjun itu berbicara, Kun sudah memukul Renjun dengan sendok yang ada di meja.

"Yak! Siapa juga yang menculik anak. Dosa apa aku punya anak seperti mu?" Si Renjun ini memang anaknya yang GGS.

Ganteng Ganteng Sengklek(?)

"Anak tampan seperti ku kan Ma." Tuh kan! Narsis pula anaknya. Untung ganteng.

Perdebatan antara Ibu dan anak tersebut masih terus terjadi. Biar ku jelaskan, jadi Renjun adalah anak dari Winwin dan Kun. Saat ini Renjun sedang libur sekolah, karena dirinya sudah lulus dari sekolah dasar jadi dia bisa liburan lebih awal, jadi ia mengunjungi kedua orang tuanya di Korea. Sebenarnya ia tidak ingin, tapi ibunya selalu saja memaksa. Tapi setelah tiba di Korea tadi pagi, ibunya terus saja mengomel padanya. Tentang inilah.. Itulah.. Ada saja yang menyebabkan ibunya mengomelinya.

Kun dan Renjun masih saja berdebat dan tidak sadar jika sudah ada sesorang disamping mereka. Sampai akhirnya Kun sadar Chenle terbangun karena suaranya dan juga Renjun.

Chenle mengucek matanya dengan sangat imut, terlihat jelas raut baru bangun tidur. Renjun terpana melihat tingkah laku Chenle yang sangat imut dan menggemaskan.

"Yeppeo." Renjun berujar dengan lirih, akan tetapi suaranya masih bisa di dengar oleh Kun dan juga Chenle.

Chenle yang mendengar itu hanya memiringkan kepalanya menatap Renjun. Chenle merasa tidak mengenali seseorang di hadapannya itu.

Renjun yang kembali melihat tingkah Chenle tersebut semakin gemas dengan Chenle.

"Lele terbangun ya? Mian ne.. Ahjumma menggangu tidur Lele." Kun berjalan menuju Lele sambil mengusap kepala anak itu dengan sayang.

"Gwaenchana Ahjumma~" Chenle tersenyum dengan manis.

"Mama.." Renjun memanggil Kun dengan pandangan yang masih terpaku pada Chenle.

"Wae?" Tanya kun singkat pada Renjun. Kun masih kesal dengan Renjun yang berteriak-teriak bahkan tadi anaknya membanting pintu, pasti karena hal itu Chenle terbangun.

"Aku mau melanjutkan sekolahku disini saja." Ucap renjun, dan masih dengan pandangannya pada Chenle. Hahaha.

"Mwo?!" Kun terkejut mendengar perkataan anaknya itu.

Karena sejak awal Kun dan Winwin sudah membujuk Renjun untuk sekolah di Korea, akan tetapi Renjun selalu menolaknya mentah-mentah. Dan sekarang anak itu dengan mudah ya berkata ingin melanjutkan sekolahnya disini.

Well... Ada apa dengan Renjun?

Hahahaha~

.

.

.

.

.

Hello guys!

Sorry karena aku baru update chapter ketiga ini. Dan juga terima kasih karena telah review di chapter-chapter sebelumnya ^^

Semoga kalian suka chapter ini.

Untuk chapter ini, maaf karena moment markchannya masih kurang banyak wkwkw

Apa kalian merasa alurnya sangat lambat? Akupun begitu hahah

Maaf ya jika alurnya memang lambat T.T

mungkin ke depannya aku bakalan lama lagi untuk update chapter berikutnya. Aku masih harus ngurusin skripsi ku T.T semoga aja aku bisa luangin waktu untuk lanjutin cerita ini hehehe

Kalau kalian uda baca, tolong di review ya hehe

Review kalian menjadi penyemangat untukku ;)

Terima Kasih~