A Line Of Destiny
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD Ichie Ishibumi
A Line Of Destiny Caesar Clown
.
.
.
.
Rate : M (Jaga- jaga)
Summary: Takdir dari sang ' Ramalan ' berubah. Dunia penuh kegilaan menunggunya. Kehidupan dengan alur yang rumit menghadangnya. Masalah demi masalah menantinya. Cinta pertama atau cinta baru yang akan ia pilih ? Benarkah ini takdir dari Tuhan ? Ataukah hanya cerita yang ditulis ulang oleh - Nya untuk sang ' Ramalan '
Genre : Adventure, Romance, Friendship
Pair : Naruto X…
" Naruto " : Talk
' Naruto ' : Thinking
" Ddraig " : Biju/Sacred Gear Talk
' Kurama ' : Biju/Sacred Gear Thinking
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali kepertarungan. Menma sekarang sedang memikirkan ulang bagaimana caranya untuk menahan semua bidak milik Gremory. Otaknya bekerja dengan sangat keras. Mungkin mereka sekarang harus berpencar untuk menghadang mereka satu lawan satu. Karena dia tahu jika hanya satu lawan satu mereka pastinya bisa menang.
SWUSHH…
Kabut tebal menyelimuti seluruh area Rating Game yang membuat para penonton tak bisa melihat apapun selain bayang – bayang hitam itupun juga masih samar – samar. Pandangan iblis mereka seperti tidak bisa menembus apa yang ada didalam kabut tersebut.
Sementara Menma yang sedang kebingungan hanya dapat berteriak menginstruksikan para pelayannya untuk berpencar mencari titik dimana kabut ini menipis. Setelah semua pelayannya berpencar, Menma mulai memfokuskan segala indera yang ia miliki, namun ia hanya bisa merasakan angin yang berhembus disekitarnya.
Menma membuka matanya, dia baru sadar akan sesuatu. Hawa milik Naruto terbagi menjadi dua. Dan salah satu menuju titik dimana kedua para pawn – nya berada. Tapi yang satu hanya diam ditempat seperti dirinya.
' Dia sedang bermeditasi, mungkin untuk mengumpulkan energi lagi dan artinya dialah yang asli. '
Menma memunculkan sebuah senyum. Ditangannya api sudah menyala – nyala dan kabut disekitarnya mulai menipis. Menma memandang tangannya, ' Sial! Kenapa tidak dari tadi aku menggunakan api?! '. Menma merutuki kebodohannya, dia baru ingat jika kabut itu terbentuk dari air jadi jika terkena panas itu akan menguap dan hilang.
" Golden Fire : Rain of Fire "
Setelah Menma mengucapkan nama tekhniknya api emas mulai berjatuhan seperti hujan. Setelah itu kabut mulai menipis dan hilang. Hujan api emas tersebut berhenti dan dapat disaksikan oleh semua penonton bahwa tumbuhan dan pepohonan sekitar sudah hangus dan masih ada beberapa yang terbakar.
.
SCEAN BREAK
.
Kini Rias, Asia, dan bunshin milik Naruto menuju kearah dua pion milik Menma. Kabut disekitar mereka mulai menipis dan hilang. Naruto kemudian berhenti diikuti oleh kedua orang perempuan didekatnya. Mereka sudah dapat melihat bahwa dua peerage Menma sedang bersiaga.
Tapi salah satunya berjongkok dan memainkan tanah, dan dia seperti menyentil sesuatu. Naruto yang mengatahui itu menciptakan sebuah pedang dari ketiadaan dan memotong batu kecil yang tiba – tiba saja ada didepan wajahnya.
" Insting High – Class memang tidak bisa diremehkan, bukan begitu Akatsuki – san, Gai – san ? " Naruto tersenyum palsu saat mengatakan hal tersebut. Sementara dua Iblis disana hanya memandang mereka dengan pandangan berbeda. Satu orang berbadan kekar berambut biru dongker dan memiliki badan yang kekar menatap mereka dengan sebuah senyum jenaka. Dan yang satu berambut pirang panjang punya perawakan yang tegap menatap datar mereka.
" Oh, kau tahu nama kami ? bukan'kah kau seharusnya juga memberitahukan namamu pada kami ? " Iblis berambut biru dongker tadi berbicara dengan nada yang sedikit bergurau. Sementara yang satu masih berfokus kepada mereka bertiga dan juga dia masih memasang posisi siaga, nampaknya orang ini adalah orang yang suka menganggap sesuatu secara serius.
" Ahahaha… Maaf aku lupa. Namaku Naruto dan dua orang disampingku ini adalah Rias Gremory dan Asia Argento. " Naruto mengusap kepala kedua perempuan disampinnya dan itu membuat keduanya memerah.
Namun tiba – tiba dua buah pedang menuju kearah Gai dan Akatsuki. Karena serangan tersebut terlalu mendadak Gai dan Akatsuki tidak bisa menghindari sepenuhnya serangan itu sehingga ada sedikit luka sayatan yang tertoreh ditubuh mereka dan juga beberapa helai rambut yang jatuh.
Tak sampai disitu saja ada beberapa bilah pedang lagi yang meluncur menuju arah Gai dan Akatsuki keduanya dengan lihai menghindar dan sesekali menangkisnya namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka agak kewalahan menghadapi pedang – pedang yang terus berdatangan menghampiri mereka.
" Seperti yang sudah kuduga darimu pahlawan nakal, kau tidak akan mudah dilukai. " Naruto bicara namun tidak mengurangi fokusnya dalam menciptakan banyak jenis senjata mulai dari pedang, tombak, anak panah, naginata dan masih banyak lagi. Rias juga membantu dengan beberapa bola Power Of Destruction miliknya untuk menyerang musuhnya, setidaknya dia ingin berguna bagi orang yang ada disebelahnya.
" Eh, dari mana kau tahu julukan itu ? " Akatsuki bertanya pada Naruto sambil menghindari senjata yang terus berdatangan. Setahunya hanya orang yang berasal dari dunia lain yang pernah ia datangi yang tahu julukan itu. Julukan yang sudah lama tidak dia dengar.
BLAAR…
BLAAR…
BLAAR…
Ditempat, yang tidak terlalu jauh dari tempat pertarungan mereka, mereka dapat mendengar suara sambaran petir yang mereka yakini adalah milik sang pendeta petir, Himejima Akeno. Senjata mulai berhenti menyerang Akatsuki dan Gai keduanya nampak berkeringat karena menghindari serangan senjata tadi.
" Kau curang Naruto – san, menyerang secara mendadak saat kami belum siap, jadi apakah kau juga yang telah menembakan anak panah suci tadi ? " Akatsuki bertanya pada Naruto.
" Tidak ada yang namanya serangan dadakan dalam sebuah pertarungan, dan kau benar aku yang melakukannya tadi. " Naruto mengatakan hal tersebut dengan santai. Mendengar itu Akatsuki sudah membentuk pedang yang besarnya melebihi kubikiri bochou yang dimiliki oleh Zabusa. Pedang berwarna hitam besar dan memiliki beberapa corak merah disekitarnya. Naruto yang melihat hal itu juga langusung membentuk pedang yang sama dengan yang dibawa Akatsuki.
" Ah, begitu ya. Aku sekarang tahu bahwa kau bisa meniru senjata yang kau lihatkan dan sepertinya kemampuannya bisa menandingi yang aslinya bukan begitu ? " Akatasuki sepertinya mulai tertarik dengan musuh didepannya itu. Namun, Gai sepertinya tidak memiliki ketertarikan dengan musuh didepannya sama sekali.
" Tepat sekali Hagure Yuusha. " Naruto mulai menatap serius orang yang ada didepannya itu. Menurut informasi yang ia baca senjata tersebut terbuat dari gelang hitam yang ada di tangan Akatsuki. Tak ingin membuang waktu Akatsuki langsung menerjang maju untuk beradu kekuatan dengan Naruto.
Naruto yang melihat itu hanya menangkis dengan pedang yang sama seperti milik Akatsuki. Sementara Rias mulai menembakkan Power Of Destruction – nya kearah Gai, Gai yang melihat itu – pun tidak tinggal diam. Dia mulai menghindar kesamping kanan dan kirinya.
Tangan Gai mulai bercahaya, yang menandakan dia akan mengeluarkan tekhniknya. Rias dan Asia yang belum tahu tentang tekhnik itu – pun memasang posisi bersiaga. Cahaya biru dengan cepat meluncur kearah Rias dan Asia, sementara Rias dan Asia hanya dapat membulatkan matanya karena terkejut. Namun Naruto hanya tersenyum melihat itu.
" Kemampuan Void Genom – mu tidak akan berlaku walaupun itu dikatakan sebagai salah satu kemampuan dari tiga raja Tsutsugami Gai. Aku sudah memasang segel pembatalan secara mutlak pada mereka berdua. " Cahaya seperti laser yang menuju Rias dan Asia berhenti saat sudah sampai didepan mereka berdua dan akhirnya menghilang atau lebih tepatnya kembali lagi menuju Gai.
" Pembatalan mutlak ? Kapan kau memasangnya ?! " Gai berseru sedikit kuat, namun Naruto hanya tersenyum mendengarnya dan membiarkan Gai mencari jawabannya sendiri. Gai masih terfokus kepada pemikirannya. ' Apa ada segel semacam itu ? Jika ada Kapan?! Kapan segel itu dipasang?! Segel itu kemungkinan hanya bisa aktif jika… sialan aku tertipu! '
Setelah Gai tahu kapan Naruto memasang segel pembatalan mutlak tersebut dia akhirnya kembali fokus kepada pertarungan yang ada didepannya. Tanpa disangkanya bola – bola Power of Destruction sudh mengarah kepadanya. Dia hanya mampu menghindar kekanan dan kekiri karena tidak ada sesuatu yang ada disini bisa menandingi Power of Destruction.
Sementara Naruto hanya menikmati saja acara bermain pedangnya. Menurutnya pengguna pedang terbaik adalah salah satu dari sahabatnya yaitu Uchiha Sasuke. Akatsuki nampak ngos – ngosan beradu pedang dengan Naruto. Naruto yang melihat itu hanya tersenyum dan dia seperti sedang membisikan sesuatu.
" Kau bilang sesuatu Naruto – san ? "
" Ya, aku bilang awas tangan kananmu. "
SREET…
PYARR…
Salah satu gelangnya putus dan membuat pedang besar Akatsuki pecah. Akatsuki membulakan matanya bagaiman Iblis didepannya ini tahu bahwa yang menyusun pedangnya adalah gelang yang ada ditangannya.
" Bagaiman kau tahu ? " Akatsuki bertanya kepada Naruto. Sementara Naruto hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia hanya membaca. Setelah pedangnya hancur Ia mundur dan mendekati rekannya yang sepertinya juga kewalahan untuk menghindari serangan milik Rias.
" Bagaimana ini ? " Akatsuki bertanya pada Gai.
" Saat ini yang dapat kita kalahkan hanyalah Bishopnya yang bernama Asia tadi. Karena untuk Iblis yang benama Naruto tadi aku tidak bisa menjamin kemenangan kita jika melawan dia, sedangkan kemampuan Kingnya aku meragukan jika kita nanti bisa menang karena pionnya saja sudah sehebat itu apalagi Kingnya. "
" Jadi setidaknya kita harus bisa mengalahkan bishopnya. Jika kau mau kita gunakan rencanaku. " Mereka terus berbincang sampai akhirnya mengangguk disaat yang bersamaan. Akatsuki maju ingin menyerang Rias namun berhasil dihentikan oleh Naruto yang sudah ada didepannya.
Namun tak sampai disitu Akatsuki memukul Naruto dengan tangan kosong, Naruto yang melihat itu menjadikan pedangnya sebagai tameng. Tapi tak disangkanya pedangnya retak dan kemudian hancur. Akatsuki yang melihat itu berganti menggunakan kakinya sebagi senjata yang diarahkan menuju kepalanya. Naruto menahan tendangan kaki milik Akatsuki yang cukup kuat itu. Setelah Naruto merasakan seseuatu yang menuju kearahnya dia memiringkan kepalanya dan Power of Destruction menghantam tubuh Akatsuki sehingga ia terseret beberapa meter dan menimbulkan debu yang berterbangan menutupi padangan Naruto dan Rias.
[ Bishop milik Rias – Oujousama tidak dapat melanjutkan pertandingan. ]
[ Pawn milik Menma – sama tidak dapat melanjutkan pertandingan. ]
Naruto dan Rias menampakkan ekspresi keterkejutannya kala melihat Asia sudah tertelan cahaya putih yang membawanya keluar arena. ' Cih, aku lupa dengan keberadaannya. ' Naruto mulai memfokuskan pandangannya kembali kearah Gai begitu juga dengan Rias.
" Tsutsugami Gai Iblis reinkarnasi yang memiliki salah satu kemampuan dari tiga raja akibat dari Void Genom. Riwayatnya berakhir saat dikalahkan oleh Ouma Shu, dulu dalam hidupnya hanya bertujuan untuk memeluk seorang wanita. "
Gai yang mendengar semua itu membulatkan matanya. Informasi yang sangat rahasia yang hanya segelintir orang yang tahu dapat diketahu oleh Naruto. Gai mengeraskan rahangnya mendengar hal itu.
" Darimana kau bisa tahu tentang itu ? " Gai berkata dengan nada dingin namun sarat akan kemarahan. Jika orang didepannya itu tahu tentang riwayatnya berarti dia juga tahu tentang siapa wanita yang ingin sekali ia peluk namun sayangnya tidak bisa dialakukan.
" Tak hanya itu wanita yang bernama Ouma Mana justru mencintai sang adik yang bernama Ouma Shu, kau merasakan sakit bukan jika orang yang menjadi tujuanmu hidup malah meninggalkanmu. " Naruto masih memanas manasi Gai.
" Diam kau keparat! " Gai yang emmosinya sudah takk terbendung lagi akhirnya menerjang maju menuju Naruto dan Rias. Sementara Naruto yang melihat itu dia masih bersantai – santai saja. Gai memukul Naruto dengan membabi buta karena sedang marah.
Naruto dengan mudah menghindarinya karena pukulan Gai sebenarnya tak terarah atau bisa dibilang terkesan asal – asalan. Amarah Gai yang menyebabkan itu semua. Saat Gai mengarahkan pukulannya menuju Naruto, dengan mudah Naruto menangkapnya. Setelah itu Naruto menciptakan dua buah pedang yang melayang dibelakang Gai, kemudian pedang tersebut meluncur dengan cepat kearah jantung dan hati Gai.
OHOOKK…
Gai mengeluarkan darah dari mulutnya. Gai mulai kehilangan keseimbangannya dan kemudian ambruk ditelan cahaya.
[ Pawn milik Menma – sama tidak dapat melanjutkan pertandingan ]
.
SCEAN BREAK
.
Kini terlihat Akeno dan Koneko yang sedang kelelahan melawan Queen milik Menma. Namun, sepertinya yang mereka lawan tidak menunjukan ciri – ciri bahwa dia kelelahan bahkan tak ada keringat di tubuhnya, bahkan dia masih terbang dengan indahnya. Namanya adalah Tohka Yatogami, yah walaupun itu bukan nama yang sebenarnya dan hanya pemberian dari seseorang.
" Jadi, inikah kemampuan dari seorang pendeta petir ? benar – benar menyedihkan. Kukira kau bidak terkuat yang dimiliki oleh Gremory dan ternyata perkiraanku salah. " Tohka sepertinya sedang mencoba memanas – manasi Akeno dan Koneko. Sementara Akeno dia hanya dapat mendecih kesal karena apa yang dikatakan Tohka memang benar.
Sementara Koneko mereka hanya diam. Sebenarnya dia tidak bisa terima kalau Senpai – nya itu diejek namun mau bagaimana lagi ? Dia juga tidak bisa menyumpal mulut yang dimiliki Tohka karena kekuatan mereka sudah ada ditingkatan yang berbeda.
" Memang apa yang kau katakan itu benar, tapi aku tidak akan menyerah karena ini demi nasib King – ku! " Akeno berseru agak keras dan setelah itu maju menyerang Tohka dengan kekutan yang ia miliki yaitu petir. Melihat itu Tohka dengan lihai menghindarinya.
Akeno terus melancarkan serangan dengan sihir petir yang ia miliki sehingga membuat Tohka sedikit kewalahan menghindarinya, dan akhirnya Tohka turun menapakkan kakinya ditanah. Melihat itu Koneko langsung saja berlari dengan segala kecepatan yang ia miliki menuju kearah Tohka.
Sementara Tohka yang masih sibuk bergelut dengan petir Akeno – pun tidak menyadari bahwa Koneko sekarang hanya berjarak lima meter disamping kanannya, dan setelah jarak Koneko dan Tohka semakin menipis Akeno menghentikan serangannya. Tohka yang melihat itu – pun nampak kebingungan, namun kebingungannya langsung terjawab ketika sebuah pukulan mengenai pipinya sehingga dia terpental sekitar belasan meter dai tempatnya berdiri tadi.
Debu menutupi keberadaan Tohka. Akeno dan Koneko masih memasang posisi siaga karena mereka tahu bahwa Tohka tidak akan kalah hanya dengan sekali pukul. Yah, walaupun itu dilakukan oleh bidak Rook.
" Cih, kalian benar – benar keras kepala! "
Tohka menghentakan kakinya ke tanah. Setelah itu tanah mulai retak dan mengeluarkan sebuah singgasana batu yang di tempat tersebut tertancap sebuah pedang yang lumayan besar. Tohka dengan segera mengambilnya.
" Sandalphon "
Setelah mengucapkan kata – kata tersebut Tohka menghancurkan singgasana tadi. Pecahan singgasana tadi nampak menyatu dengan pedang yang dimiliki Tohka. Pedang Tohka sekarang lebih besar dan panjang begitu juga kekuatan pedang tersebut.
" Halvanhelev! "
Pedang Tohka mulai memunculkan petir hitam. Setelah itu dia menebaskannya secara horizontal kearah Akeno dan Koneko. Setelah pedang tersebut ditebaskan keluarlah sebuah gelombang bertekanan tinggi berwarna ungu dan memotong apapun yang dilewatinya.
Akeno dan Koneko yang melihat hal tersebut tidak bisa berbuat apapun karena gelombang tersebut terlalu cepat dan akhirnya mereka terkena serangan tadi. Untung saja mereka tidak terbelah. Tapi mereka mengalami luka parah yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari arena Rating Game.
[ Queen dan Rook milik Rias – Oujousama tidak dapat melanjutkan pertarungan. ]
Setelah mendengar suara Grayfia Tohka langsung menghilangkan pedang – nya dan pergi dari situ untuk menuju ketempat dimana King – nya berada.
.
SCEAN BREAK
.
Sekarang Knight dari Rias Gremory yaitu Kiba Yuuto nampak kelelahan menghadapi musuhnya yang sama – sama pengguna pedang. Tak beda jauh dengan Kiba Knight Menma yang memiliki rambut hitam yang sedikit tidak beraturan di bagian poni juga nampak kelelahan. Namanya Kirigaya Kazuto.
" Kau hebat Kiba – san " Kazuto nampak tersenyum senang saat mengatakan hal itu.
" Kau – pun juga sama Kirigaya – kun " Kiba juga mengatakan haltersebut dengan ekspresi yang sama dengan Kazuto.
Mereka kembali memfokuskan diri untuk menyerang satu sama lain. Keduanya melesat disaat yang bersamaan. Mereka menebaskan pedangnya secara diagonal, dan akhirnya pedang mereka bertemu dan menimbulkan suara gesekan dari besi.
TRANKK…
Keduanya seperti tidak mau mengalah dan masih terus saing dorong. Mereka berdua akhirnya terpaksa melompat mundur karena memang tidak ada gunanya saling mendorong seperti itu. Kemudian Kazuto maju menerjang Kiba dengan pedang hitam miliknya. Dia terus memainkan pedangnya untuk melukai Kiba yang hanya bisa menahan serangan dari Kazuto.
Serangan Kazuto seperti tidak memberikan celah kepada Kiba untuk balik menyerang. Tebasan milik Kazuto sangat kuat namun juga terarah. Sementara Kiba masih menghindar dan mencari ruang agar dia bisa menyerang.
Saat Kazuto mengangkat pedangnya keatas dan hendak menebas Kiba secara vertical disitulah celah yang sangat lebar terbuka. Kiba yang menyadari itu langsung menggunakannya untuk balik meyerang Kazuto dengan menghunuskan pedangnya kearah perut musuhnya itu.
Kazuto yang menyadari itu langsung melompat mundur dan membatalkan serangannya. Keduanya kembali mengatur nafas mereka. Saling menatap satu sama lain untu memprediksi serangan yang akan dilancarkan masing – masing musuhnya. Dan akhirnya mereka menyadari bahwa mereka hanya akan bertaruh pada satu serangan ini.
Keduannya berlari secar bersamaan. Menggenggam pedang mereka kuat – kuat. Dan akhirnya mereka siap menebas satu sama lain.
JRASSHH…
Keduanya berdiri saling membelakangi walaupun tidak terlalu jauh. Keduanya sama – sama tersenyum. Entah itu karena berhasil atau sesuatu yang lain.
" Bertambahlah kuat Kiba – san, suatu saat kita akan bertarung seperti ini lagi. Tapi jangan sampai hasilnya seperti ini. " Kazuto mulai berbicara kepada Kiba.
Sementara Kiba hanya dapat meringis kesakitan menahan luka yang ada didadanya. Namun akhirnya dia tersenyum kembali setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Kazuto.
" Aku harap juga begitu. Aku akan bertambah kuat dan mengalahkanmu suatu saat nanti. " Kiba membalas ucapan Kazuto. Setelah itu darah semakin cepet keluar dari bagian dadanya, dan akhirnya…
BRUUK…
SWINGG…
[ Knight dari Rias – Oujousama tidak dapat melanjutkan pertandingan. ]
[ Knight dari Menma – sama tidak dapat melanjutkan pertandingan. ]
Suara Grayfia menggema di Arena pertarungan Rating Game setelah kedua Knight dari kedua belah pihak sama – sama jatuh karena mengalami luka tebasan yang disebabkan oleh masing – masing musuhnya.
.
SCEAN BREAK
.
' Kena kau! Bakso ikan sialan! ' Menma membatin dengan yakinnya. Menma menyerang Naruto yang sedari tadi hanya terdiam ditempat dari belakang. Senyum kemenangan terpatri jelas diwajah miliknya. Tapi dia tidak sadar akan satu hal.
" I have created over a thousand blades "
.
.
.
ALOD
.
.
.
A/N : Hai, semuanya saya balik lagi nih, maaf ya Up – nya kelamaan. Oh ya dari review yang kemarin saya sudah mengerti beberapa hal.
Kebanyakan minta dilanjut = tenang sebisa mungkin akan saya lanjutkan.
Tentang kekuatan Naruto
Soal yang kedua Author masih merencanakan beberapa kekuatan yang cocok untuk Naruto. Dan mungkin kekuatannya berasal dari Anime lain atau juga mungkin karangan saya sendiri.
Dan saya cukup senang respon untuk Chap 3 kemarin, tidak seperti chap 2 yang dulu, reviewnya lebih sedikit dari chap 1 dan 3.
Dan untuk semuanya jangan sungkan untuk berkomentar di kolom review karena itu bisa menjadi sarana saya untuk mengerti kekurangan dari cerita yang saya buat. Mungkin dalam segi penyampaian, penulisan, dan penempatan tokoh.
Sekali lagi untuk para reader jangan sungkan untuk memberi review.
Karena review kalian sangat berguna untuk kemajuan fic ini.
Mungkin cukup itu dulu sekian dan terimakasih.
.
.
.
.
.
.
Thank's for R. n. R
See You Next Chap
Good Bye.
