SUPER PSYCHO LOVE 16

Previous Chap...

Di lain sisi pria bernama Wu Yifan tengah tersenyum menyeringai menatap ponsel nya yang saat ini berbunyi menandakan bahwa ada panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya dan berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Aku sudah bertemu dengan nya"

'Wah kau mencoba mengakrabkan diri rupanya Kris'

"Tidak, hanya..menjadi tamu tak diundang dan menyapa saja"

'Terserahlah, kita harus segera melaksanakan rencana'

"Take it easy..don't be hurried" dan setelah nya Kris menutup telepon dan menjalankan mobil Porce silver nya meninggalkan tempat tersebut.

.

.

.

.

Ponsel Sehun berdering nyaring ketika pria itu masih bergelung di dalam selimut bersama istrinya, saling memeluk satu sama lain.

Sehun berusaha mengabaikan ponsel nya yang terus berdering sampai bunyi itu hilang dan sebuah notifikasi pesan muncul barulah pria itu meraih ponselnya yang ada di nakas tanpa harus mengusik tidur nyenyak istrinya disamping.

Pip..

Dengan mata setengah ngantuk nya ia melihat nama ID si penelpon dan beralih kesebuah pesan. Dan nama Kim Woo bin sang bodyguard dan kaki tangan nya lah yang tertera, dengan segera ia membaca isi pesan tersebut dan seketika sukses mebuat mata Sehun melebar.

'Saya sudah menemukan alamat Oh Soo Jin, dan dia mengetahui jika kita memata-matai nya. Saya dan Jongsuk sedang bersembunyi dari kejaran anak buah nya. Dan tuan.. Soo Jin merekrut kaki tangan baru, sepertinya pria itu sangat berbahaya' begitulah isi pesan tersebut. Sehun segera beranjak dari ranjang nya secara perlahan menuju balkon.

Jari-jari panjang Sehun menari diatas layar ponsel dan segera menelpon Woobin.

"Dimana posisimu saat ini." ucap Sehun terburu-buru.

'Kami berada di Gwangju disebuah pabrik tua yang tak terpakai dekat sungai'

"Apa? Jadi Paman Soo Jin membawa ibu Kai ke Gwangju? Aku akan kesana"

'Jangan tuan, sangat berbahaya jika anda kesini tanpa rencana. Paman anda akan dengan mudah mengincar anda. Kami bisa mengatasi beberapa anak buah Soo Jin dan secepatnya kabur dari kepungan mereka.' Sehun menghembuskan nafas berat, tangan nya mencengkeram erat pagar pembatas balkon dan memejamkan mata sejenak menghilangkan rasa amarahnya yang memuncak. Sehun benci situasi ini, karena ia masih kalah dengan paman nya yang licik itu.

"Baiklah kalau begitu aku akan mengirim Changwook dan Hyunwoo untuk menjemput kalian. Jaga diri kalian baik-baik"

'Tentu..'

Pip..

Sehun menghela nafas kesekian kali nya. Matanya memandang burung-burung yang mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makan, embun pagi perlahan mulai menghilang dan sinar matahari mulai menerpa wajahnya. Tanpa sadar sepasang tangan memeluk pinggang nya dari belakang, Sehun tersentak dan tersenyum membalikkan tubuh menghadap sang istri untuk memeluk nya.

"Morning.."

"Hm morning, aku tidak menemukanmu diranjang dan ternyata kau ada disini. Tumben sekali kau sudah bangun" Sehun mengalihkan pandangan nya pada wajah sang istri dan berusaha mencari jawaban.

"Tidak ada hanya ingin menikmati pagi, tadi Jaehyun menelpon jika hari ini aku ada meeting pagi" bohong Sehun, Kai yang mendengar alasan sang suami hanya mengangguk-anggukan kepala.

"Baiklah, kalau begitu ayo cepat mandi dan segera sarapan. Kau tidak ingin telat pada rapatmu bukan? Dan Haowen aku saja yang mengantar, aku bisa meminta Hyunwoo untuk mengantar kami"

"Jangan, biar aku saja yang mengantar Haowen" Sehun buru-buru mencegah Kai, ia tidak bisa memberikan alasan lagi jika Changwook dan Hyunwoo sedang pergi menjemput Woobin dan Jongsuk di Gwangju.

"Ya, Baiklah.."

"Dan Kai.."

"Ya?"

"Hari ini jangan keluar rumah jika tidak ada perlu, dan jika kau ingin sekali keluar tunggu Changwook datang karena aku menyuruhnya kesuatu tempat dahulu" perintah Sehun, Kai mengernyitkan dahi bingung.

"Kenapa Sehun? Apa sesuatu telah terjadi?" Sehun segera merubah mimik wajah serius nya menjadi tersenyum saat mendapati wajah khawatir Kai menatapnya intens.

"Tidak sayang, hanya ingin menjaga baby agar tidak terjadi sesuatu. Dan besok aku akan membuat janji pada dokter Ye Jin untuk pemeriksaan rutin kehamilanmu, aku akan mengantarmu menemuinya besok okay?" Kai tersenyum dan masuk kedalam pelukan hangat Sehun lebih dalam. Kepala nya mengangguk patuh atas ucapan Sehun.

"Bagus, wanita pintar" puji Sehun yang mendapat cubitan mesra dari tangan jahil Kai atas kegemasannya(?) pada sang suami.

.

.

.

Saat itu Kai sedang bersantai ah tidak lebih tepatnya bermalasan ketika ponselnya berdering dan nama wali kelas Haowen lah yang tertera di ponsel membuat Kai kelabakan dan segera mengangkatnya dan selanjutnya apa yang dikatakan wali kelas Haowen membuat lutut Kai seketika lemas.

'Hallo Nyonya Oh, Bisakah anda ke sekolah sekarang? Haowen kecelakaan, saat ini kami sedang membawa nya ke klinik terdekat'

"A-apa? Bagaimana bisa? Bagaimana dengan keadaan putraku sekarang! Apa dia baik-baik saja! Aku akan kesana sekarang!" Kai segera mengambil tas dan berlari pelan keluar mansion untuk mencegat taxi, persetan dengan pesan Sehun yang mengatakan agar menunggu Changwook jika dirinya ingin keluar. Ia tidak bisa menunggu Changwook yang tidak tahu kapan datangnya karena Haowen saat ini membutuhkan dirinya.

Dengan perasaan campur aduk Kai menuju klinik yang wali kelas Haowen beritahukan. Air mata nya sudah turun dipipi chubby nya sedari tadi dan tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan Haowen.

Sesampainya di klinik ia segera berlari menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan putranya tersebut, setelah sang perawat memberitahu keberadaan Haowen Kai segera menuju ruangan yang dimaksud suster tadi.

Brak...

"Haowen..!"

"Mom! Kenapa mommy ada disini? Guru Seo yang memberitahunya?" Haowen melirik pada wali kelas nya yang menjawabnya dengan anggukan.

Kai segera berhambur memeluk sang putra dan menciumi seluruh wajah nya.

"Sayang kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit? Kenapa kamu bisa kecelakaan sayang? Ya Tuhan.." Kai memeluk erat sang putra dengan perasaan campur aduknya.

"Nyonya Oh tenangkan diri anda" ucap guru Seo sang wali kelas dari putranya itu.

"Bagaimana saya bisa tenang jika putra saya sedang tidak baik-baik saja?"

"Mom aku baik-baik saja, aku tadi hanya terserempet mobil saat mengambil bola. Kupikir mom tidak perlu tahu karena luka nya tidak seberapa parah tapi ternyata guru Seo menelpon mom" jelas Haowen saat Kai melepaskan pelukan nya.

"Baik-baik saja bagaimana, kamu mendapat luka di dahi dan kakimu di gips sayang. Ya Tuhan, kamu tidak tahu bagaimana perasaan mom saat mendengar kamu kecelakaan?" Kai meneteskan air mata ketika mengungkapkan semua perasaan khawatirnya pada sang anak.

"Sepertinya kalian butuh waktu sendiri, saya akan menunggu diluar" pamit guru Seo, setelah mendapat anggukan dari Kai wali kelas Haowen itu segera keluar.

"Mom jangan menangis, aku sedih jika melihat mom menangis. Ingat mom, adik bayi sedang berada di perut mom jadi mom jangan menangis lagi, nanti adik bayi bisa ikut sedih" Kai tertawa pelan mendengar ucapan Haowen, bocah itu tengah mengusap air mata sang mommy dan segera memeluknya.

"Jangan seperti ini lagi Haowen, kamu membuat mom khawatir. Dan kenapa kamu bisa terserempet mobil, bukankah halaman sekolahmu luas sehingga kamu bisa bermain bola disana?" Kai menatap Haowen meminta penjelasan dari sang anak.

"Aku tak sengaja menendang bola terlalu keras hingga bola nya keluar gerbang mom"

"Kenapa kamu tidak meminta penjaga gerbang mengambilkannya untukmu?"

"Saat itu penjaga gerbang nya tidak ada sepertinya sedang dipanggil kepala sekolah atau entahlah sudahlah mom aku baik-baik saja. Kumohon jangan menangis mom.." Haowen menghapus air mata yang masih terjatuh di pipi sang mommy.

"Baiklah kalau begitu, setelah ini jangan ulangi lagi. Kamu harus meminta orang dewasa untuk mengambilkannya untukmu. Jangan bermain di jalan dan jangan kemana-mana jika mom belum menjemputmu"

"Iya mom.. Jadi, sekarang bisa kita pulang? Disini tidak enak karena bau obat-obatan dan bisakah aku mendapatkan burger big mac dan bubble tea, please" rengek Haowen yang mendapat kekehan ringan dari sang mommy. Kai segera beranjak dan akan menggendong Haowen sebelum tangan kecil Haowen mencegahnya.

"No, aku bisa memakai tongkat untuk berjalan. Mom tidak bisa menggendongku karena ada adik bayi disini" ujar Haowen seraya mengelus perut sang mommy yang mulai membesar. Kai tersenyum dan menganggukkan kepala lalu menuntun Haowen untuk turun keranjang dan menemui guru Seo.

Setelah menemui guru Seo dan berpamitan, Kai dan Haowen menaiki taxi untuk mengantarkan mereka kesebuah restoran cepat saji untuk mengabulkan permintaan Haowen tadi.

"Ingat kata guru Seo dan dokter tadi bahwa kamu harus beristirahat selama satu minggu penuh dan jangan coba-coba untuk bermain dahulu okay?"

"Okay mom.."

Sesampainya di tempat restoran cepat saji Kai menuntun Haowen untuk duduk dikursi dan menunggunya selagi memesan makanan pada kasir.

"Big Mac 1 dan dua bubble tea" pesan Kai pada sang pelayan kasir.

"Totalnya 32 ribu won Nyonya" Kai segera mengambil uang nya tapi ditahan oleh seseorang.

"Biar aku saja" Kai segera menatap orang tersebut dengan tatapan terkejutnya.

"Ravi-ssi.."

"Hai, kita bertemu lagi..waktu itu aku berjanji untuk mentraktirmu bukan? Biarkan aku melakukannya"

"Baiklah" mau tak mau Kai menyetujui meskipun ada rasa enggan tapi tak apalah demi menghormati kebaikan orang lain.

"Kau bersama siapa?" tanya Ravi yang pura-pura tak mengetahui keberadaan Haowen yang berjarak tiga kursi dari kasir.

"Bersama putraku Haowen, dia disana"

"Oh bocah tampan itu" Kai tersenyum sekilas dan mengangguk.

"Ini pesanan anda tuan" ucap sang kasir dan mendapat anggukan dari Ravi dan Kai.

"Aku yang akan membawakannya untuk kalian" Ravi segera mengambil pesanan Kai dan dirinya.

"Aku bisa membawanya sendiri, kau akan kerepotan jika membawa kedua pesanan ini"

"Tidak, biarkan aku. Aku memaksa" lagi-lagi Kai harus mengalah, ia segera pergi menuju meja nya untuk menemui Haowen.

"Ini dia, silahkan"

"Waaahhh Big Mac dan Bubble tea" Haowen segera menyambar pesanannya tanpa menoleh pada suara seseorang yang membawakan pesanannya barusan.

"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" Kai hanya mengangguk menanggapi dan mulai meminum minuman nya. Haowen yang merasa asing dengan pria didepannya itu segera menatap nya tajam, ya tatapan tajam yang menurun dari sang ayah Oh Sehun.

"Ah kau pasti Haowen, perkenalkan aku adalah Ravi. Aku adalah orang yang dompetnya ditemukan oleh ibumu dan sebagai rasa terima kasih aku mentraktir kalian. Bolehkah?" Haowen mengendikkan bahu acuh, baginya jika pria itu tidak macam-macam pada mom dan dirinya maka ia tidak akan mempermasalahkan.

"Ya, baiklah" Ravi tersenyum mendapat respon singkat dari Haowen. Kini ia beralih pada Kai yang tengah menatap Haowen dengan senyum geli nya melihat cara makan Haowen.

"Maaf sebelumnya Kai, bolehkah aku bertanya apa yang terjadi dengan Haowen?" tanya Ravi hati-hati. Pria itu baru menyadari jika dahi dan kaki Haowen dalam keadaan tidak baik.

Kai menghela nafas pelan sebelum menceritakan semua kronologi kejadian sesuai apa yang Haowen sampaikan padanya tadi.

"Ada yang ganjil" gumam Ravi yang tidak terlalu Kai dengar.

"Maaf apa kau mengatakan sesuatu Ravi-ssi?"

"Ah tidak, kalau begitu aku permisi dulu karena aku ada urusan. Maaf tidak bisa menemani kalian terlalu lama"

"Ya, terima kasih Ravi-ssi" Ravi mengangguk dan tersenyum. Kini ia beralih pada Haowen.

"Haowen semoga kamu lekas sembuh ya, dan sebagai tanda pertemanan, jika kau mau jadi temanku sih hehe paman memesankan satu big cup ice cream untukmu dan semoga kamu suka" mata Haowen berbinar mendengar kata 'Big cup ice cream' dari bibir pria yang tidak dikenalnya itu.

"Benarkah? Terima Kasih paman" Ravi tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah aku permisi dulu Kai-ssi dan Haowen. Semoga kita bisa bertemu lagi" Kai mengangguk dan membungkuk hormat ikut berdiri dan sekali lagi mengucap terima kasih atas kebaikan Ravi. Dan tak lama setelah Ravi pergi ice cream yang benar-benar big cup itu tersedia di meja Kai dan Haowen.

Dilain sisi Ravi yang tengah berjalan keluar dari restoran segera menuju mobil Ferari merah nya yang terparkir di parkiran depan restoran tersebut, ia masuk kedalam mobil dengan ponsel yang menempel di telinga nya.

"Kau sudah menemukan alamat Soo Jin? Baiklah segera kirimi aku alamatnya dan pantau terus, ingat jangan sampai ketahuan. Dan aku ingin kau menyelidiki tentang kejadian penabrakan bocah SD di Distrik Gangnam hari ini, aku ingin tahu penyebab dan kronologis nya"

Pip..

Setelah selesai dengan perintah yang ia perintahkan pada anak buah nya, Ravi segera mematikan ponsel nya dan mengendarai mobilnya menjauh dari restoran tersebut.

.

.

.

Di kediaman Oh Sehun saat ini pria itu tengah mondar-mandir di ruang tamu dengan ponsel yang menempel di telinga dan berkali-kali ia mencoba menelpon nomer ponsel sang istri tapi sedari tadi hanya suara operator yang menjawab panggilan pria tersebut. Dengan gusar Sehun melempar ponsel nya ke meja dan mengacak rambutnya frustasi.

Tadi saat Sehun sedang disibukkan oleh agenda bisnis tiba-tiba Changwook menelpon bahwa saat ia kembali ke mansion bersama Hyunwoo, Woobin dan Jongsuk, Kai tidak ada disana apalagi ini bukan jam nya untuk menjemput Haowen alhasil Sehun kalang kabut dan melupakan rapat-rapat nya dan segera menyuruh keempat bodyguard nya itu untuk mencari sang istri.

Sehun pun segera pulang kerumah dan mencari keberadaan Kai, dan rasa khawatirnya semakin besar saat tak mendapati jawaban saat berulang kali Sehun menelpon sang istri.

Cklek..

Saat Sehun tengah memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada sofa, pintu mansion nya dibuka dan secepat kilat Sehun beranjak dari posisi nya menuju pada sosok yang menjadi intensitasnya sedari tadi.

"Kai..kau kemana saja sayang, bukankah aku menyuruhmu untuk tetap dirumah jika-"

"Daddy berlebihan sekali sih..!" ucap sebuah suara yang sedari tadi melihat gerak-gerik Sehun dibelakang tubuh Kai.

"Haowen kamu-apa yang terjadi denganmu?!" Sehun yang awalnya ingin memarahi Haowen segera ia urungkan saat mengetahui keadaan Haowen saat ini yang jauh dari kata baik dengan dua tongkat yang menopang tubuhnya.

Sehun berjongkok menyamakan tingginya dengan sang putra dan menatap luka yang berada pada tubuh anak nya tersebut.

"Aku hanya terserempet mobil dad dan mommy segera menjemputku tadi" jelas Haowen, bocah itu mencoba berjalan kearah sofa yang tadi di duduki Sehun dengan bantuan sang mommy. Rasanya lelah harus berdiri dengan keadaan kaki yang cidera seperti sekarang ini, pikir Haowen.

"Maaf Sehun tadi aku lupa memberitahumu, bahkan aku sama sekali tidak memiliki fikiran untuk menelponmu karena aku saat itu juga sangat khawatir mendapat telpon dari wali kelas Haowen yang mengatakan bahwa Haowen kecelakaan. Dan tanpa pikir panjang aku segera menemui Haowen menggunakan taxi" jelas Kai sambil mengusap kepala Haowen yang kini tengah menyandar pada dada nya.

Sehun menghela nafas dan mendudukkan dirinya disamping Haowen. "Baiklah, lain kali hubungi aku apapun yang terjadi dan Haowen selama kamu izin untuk istirahat itu tanda nya kamu benar-benar harus istirahat. Jangan pernah sekalipun mencoba bermain diluar ok?"

"Hm ya dad.." jawab Haowen dengan wajah setengah malas nya.

.

.

.

Beberapa minggu berlalu semenjak kejadian Haowen kecelakaan Kai lebih protektif terhadap putranya itu bahkan ia rela menjemput Haowen meskipun jam pulang bocah itu masih sekitar satu atau dua jam lagi.

Dengan perut yang makin membesar Sehun juga semakin menjaga kehamilan istrinya. Ia akan menjadi alarm bagi sang istri ketika waktunya tiba Kai untuk makan atau perihal apapun yang boleh dan tidak boleh dilakukan semasa kehamilan nya itu.

Menginjak 6 bulan usia kandungan Kai, kejadian yang tidak dikehendaki terjadi. Kai yang waktu itu selesai mandi hampir saja keguguran karena jatuh dari kamar mandi, beruntung Sehun saat itu berada di kamar dan langsung melarikannya kerumah sakit dan semenjak kejadian itu dokter Ye Jin diutus untuk menjaga Kai selama 24 jam non stop hingga menjelang kelahiran bayi mereka. Sehun juga rela meninggalkan seluruh pekerjaan nya demi Kai ketika istrinya itu membutuhkan sesuatu darinya bahkan pria itu mempersingkat jam kerjanya hanya untuk pulang lebih awal dan menemani sang istri, Sehun juga mengambil alih mengantar jemput Haowen.

"Sehun.." pangil Kai dari dalam kamar, wanita itu tengah membaca novel dan tiba-tiba ia ingin sesuatu dari Sehun yang harus dituruti.

"Sehun.." panggil Kai yang mulai merengek, Sehun yang sedari tadi dikamar mandi segera keluar dengan handuk yang melilit di pinggang dengan tampang tergesa-gesa.

"Ya sayang, ada apa? Apa yang kau butuhkan? Atau apa ada yang sakit? Apa perlu aku memanggil dokter Ye Jin kesini?" tanya Sehun beruntut, Kai hanya terdiam dengan wajah melas sambil memegang tangan dingin sang suami yang barusan selesai mandi.

"Tidak.." Kai menggeleng lalu merapatkan tubuhnya kepada tubuh sang suami.

"Ada apa hum?" Sehun bertanya dengan sabar sambil mengelus puncak kepala sang istri. Di usia kehamilan ini Kai mulai manja jadi Sehun harus ekstra sabar toh bagi Sehun itu tidak ada apa-apa nya dibanding Kai yang harus membawa bayi mereka selama 9 bulan dalam perut.

"Aku ingin.." sudah bisa Sehun tebak dari awal sebenarnya jika istrinya itu pasti ingin sesuatu dan sesuatu itu pasti hal yang aneh.

Sehun tidak sadar bahwa sedari tadi ia menahan nafas menunggu kelanjutan ucapan sang istri. Hatinya bertanya-tanya jika kali ini ia akan meminta sesuatu hal paling aneh apalagi ditengah malam seperti ini.

"..aku ingin Sehun dan keempat boyguardmu melakukan cross dressing sekarang juga didepanku" tuh kan apa yang Sehun fikirkan benar terjadi. Tiba-tiba Sehun merasa dahinya sekarang dipenuhi oleh keringat dingin.

"K-kau yakin sayang? Ini sudah pukul sebelas lewat dan Woobin, Jongsuk, Changwook dan Hyunwoo pasti sedang beristirahat sekarang. Apa kau tidak kasihan jika tengah malam begini aku harus mengganggu tidur mereka?" Kai mengerucutkan bibirnya dan beranjak dari tubuh Sehun.

"Jadi tidak bisa ya? Baiklah kalau begitu" ada nada kecewa tentu saja pada ucapan Kai bahkan mata nya mulai berkaca-kaca. Seketika Sehun gelagapan dan segera menenangkan sang istri.

"Aduh sayang maafkan aku, baiklah baiklah kamu tunggu sebentar aku akan panggilkan mereka ya" Sehun beranjak dari ranjang setelah mencium kilat bibir Kai tapi langkahnya terhenti diambang pintu ketika Kai memanggilnya.

"Sehun.."

"Ya sayang, ada apa lagi? Ada yang kau inginkan lagi?" Kai menggeleng sambil memainkan jari jemarinya.

"Aku fikir permintaanku ini mengganggu mereka jadi tidak perlu, Sehun sekarang disini saja temani aku. Aku mau dipeluk Sehun sepanjang malam" entah keajaiban darimana tiba-tiba istrinya itu berubah fikiran tapi Sehun bersorak dalam hati jika kali ini ia selamat dari permintaan paling aneh sang istri.

Dengan cepat Sehun segera menuju ranjang Kai dan mengambil baju yang sempat ia siapkan diatas sofa sebelah tempat tidur.

"Jagan!" seketika gerakan Sehun yang tengah memakai baju nya terhenti, ia menatap sang istri bingung.

"Kenapa sayang? Aku mau memakai bajuku"

"Tidak! Tidak usah.. Aku mau Sehunnie tidur disamping dan memelukku tanpa memakai pakaian agar aku bisa merasakan kulit Sehunnie" nada suara Kai memelan diakhir kalimat bahkan pipinya bersemu merah seperti seorang gadis yang tengah menyatakan Cinta.

"Baiklah.. Apapun untukmu sayang"

Sehun tersenyum dan menuju ranjang sang istri lalu memposisikan tubuhnya untuk memeluk tubuh Kai. Kai tersenyum senang dengan menyenderkan kepalanya di dada bidang Sehun dengan nyaman.

Tangan Sehun terulur untuk mengelus punggung dan pundak Kai terus menerus hingga istrinya itu mulai nyaman diperlukannya dan terdengar dengkuran halus dari bibir favorit nya itu. Kantuk mulai menyerang Sehun, maka ia putuskan untuk mengikuti jejak sang istri yang mulai mengarungi mimpi setelah sebelum nya ia berikan kecupan manis di dahinya. Bersyukur bahwa kamar mereka saat ini tengah hangat berkat pemanas ruangan mengingat Kai yang tidak suka hawa dingin jadi Sehun bisa selamat dari yang nama nya masuk angin.

.

.

.

Pagi hari di awal bulan ke tujuh kehamilan Kai..

Kai merasakan ranjang disampingnya tengah kosong. Ia sedikit merasa kecewa tidak mendapati suaminya berada disamping ranjang tapi perasaan itu hilang ketika melihat sebuah kertas yang tertempel di nakas yang berisi jika Haowen memintanya mengantar bocah itu kerumah teman nya yang sedang menghuni rumah baru yang tidak jauh dari kawasan mereka tinggal.

Kai turun dari ranjang dan menuju dapur, disana sudah tersedia sarapan dan susu khusus ibu hamil yang sengaja Sehun buatkan untuk Kai. Tanpa basa-basi Kai segera menyantap sarapan dan susu nya dengan lahap.

"Ah!" pekik Kai saat merasakan bayi ny tengah menendang perut nya.

Sebenarnya sering kali Kai merasakan tendangan-tendangan kecil itu bahkan Sehun tertawa haru merasakan tendangan itu ketika ia menyentuh perut sang istri tapi kali ini tendangan nya sangat kuat Kai rasakan bahkan sedikit membuat nya sakit tapi ia bahagia karena bayi nya didalam perut sangat aktif, tanpa sadar Kai menangis haru sambil mengusap perut nya.

"Ya Tuhan Kai kenapa kau menangis sayang?" Dokter Ye Jin yang baru saja dari kamar mandi samping dapur terkejut melihat Kai yang tengah menunduk dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia mengelus pundak Kai khawatir.

"Tidak dokter, aku hanya..hanya ah rasanya membahagiakan sekali! Tadi bayiku menendang perutku keras sekali dan aku bisa merasakan dia sekarang cegukan. Ya Tuhan bayiku aktif sekali" ucap Kai dengan bahagia nya. Dokter Ye Jin tersenyum dan mengelus puncak kepala Kai dan beralih ke perut besarnya.

"Kau bahagia?"

"Tentu saja, hehe meski agak sedikit sakit tadi ah! Dia menendang lagi.. apa dokter bisa merasakan nya barusan?" tanya Kai antusias. Dokter Ye Jin tersenyum lalu tertawa bersama Kai yang tengah mengelus-elus perutnya sayang.

"Sepertinya dia tidak sabar ingin cepat keluar" Kai mengangguk menyetujui. Diam sejenak hingga akhirnya Dokter Ye Jin beranjak dari tempat duduk nya dan segera mengambil beberapa obat ibu hamil yang telah disimpannya di rak atas dapur dan menyerahkannya kepada Kai.

"Bayimu sangat sehat karena kau juga sehat Kai, asupan nutrisi mu juga baik dan kau rajin meminum susu jadi aku rasa bayimu nanti akan lahir dengan otak yang cerdas seperti ayah nya" dokter Ye Jin membuka satu persatu obat yang diambilnya tadi dan menyerahkan kepada Kai.

"Ini kau minumlah obatmu agar bayimu terus sehat dan aktif oke" Kai mengangguk dan segera meminum obatnya, setelahnya mereka tertawa bersama ketika Kai merasakan gerakan-gerakan lain diperutnya yang membuat ia tidak bisa berhenti menangis haru.

Siang hari nya Kai tengah duduk di sofa depan televisi diruang tamu seorang diri, mansion terasa sepi ketika Haowen tidak ada. Tadi dokter Ye Jin ijin untuk kerumah sakit untuk bertemu dokter lain karena ada urusan penting setelah Sehun kembali mengantarkan Haowen dan saat ini Kai menunggu Sehun yang tengah mengambil beberapa cemilan untuk teman makan mereka nonton.

Hari ini Sehun tidak pergi ke kantor dengan alasan ia ingin menemani Kai karena istrinya itu tadi bercerita mengenai bayinya yang terus bergerak aktif, alhasil membuat Sehun enggan pergi ke kantor dan lebih memilih menemani Kai dan menyaksikan sendiri bayinya menendang-nendang perut sang ibu, toh hari ini tidak ada meeting penting dan Sehun yakin Jaehyun bisa menghandle pekerjaan kantor.

"Sehunnie.. Apa masih lama?"

"Ya sebentar sayang, sekalian aku mau ganti baju" teriak Sehun dari dapur. Kai menghela nafas pelan, tangan nya bergerak memencet tombol remote TV dengan raut bosan.

Drrtt..

Drrtt..

"Sehunnie.. Ponselmu bunyi" teriak Kai lagi tapi tak ada jawaban dari Sehun.

Drrt..

Drrtt..

Bunyi ponsel Sehun semakin bergetar terus menerus dan membuat telinga Kai risih mendengarnya. Akhirnya Kai memutuskan membuka ponsel milik sang suami meskipun ini pertama kalinya Kai mengutak-atik ponsel Sehun karena baginya seseorang memiliki privasi nya sendiri dan meskipun Sehun suaminya ia tetap menghormati privasi itu asal mereka saling percaya, toh ponsel Sehun kebanyakan diisi oleh nomer kolega bisnis dan pegawai nya serta bodyguard kepercayaan nya saja jadi tanpa rasa curiga Kai membuka ponsel Sehun.

Kai mengira jika getar ponsel Sehun menandakan bahwa ada seseorang yang menelepon tapi ternyata sebuah pesan ah tidak beberapa pesan dengan nama Woobin disana. Kai iseng membuka-buka pesan yang tidak Kai ketahui maksudnya dari bodyguard nya tersebut tapi seketika matanya membulat ketika melihat beberapa gambar yang baru saja masuk ke ponsel milik suaminya itu.

"I-ini.." kata-kata Kai tersangkut di tenggorokannya, tangannya tiba-tiba bergetar dan keringat dingin membanjiri dahi dan pelipisnya. Mata Kai membelalak atas apa yang dilihatnya digambar tersebut. Ia tidak bisa mempercayainya. Sungguh

...

"Kai, sayang maaf lama karena aku-" ucapan Sehun terpotong saat tidak mendapati sang istri diruang tamu.

"Kai?" panggil Sehun lagi, ia menelusuri ruang tamu lalu menuju dapur dan balkon berharap menemukan keberadaan sang istri tapi nihil. Tiba-tiba perasaan Sehun tidak enak, ia kembali keruang tamu dan mata nya membelalak horor menatap ponselnya yang tergeletak dibawah sofa dengan keadaan menyala yang menampilkan sebuah pesan dan gambar.

Sehun segera menyambar ponsel nya, seketika wajahnya yang pucat semakin memucat saat mengetahui apa yang terpampang di ponsel nya tersebut.

[WoobinKim +82223xxxx

Received 13.15PM

'Hasil pengintaian tanggal xx bulan xx tahun xx status diketahui bahwa ibu nona Kai bersama Tuan Oh SooJin sedang bersama disebuah xxxx bersama anggota rekrutan baru Wu Yi Fan. Gwangju

Berikut fotonya :

(Picture)

(Picture)

(Picture) ]

"Shit!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC guys..

Chap depan END sekian!

No cuap..

Wanna review?