A Line Of Destiny

Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD Ichie Ishibumi

A Line Of Destiny Caesar Clown

.

.

.

.

PENTING HARAP DIBACA!

Ehem, sebelumnya saya mau minta maaf kepada salah satu reader yang mungkin tidak akan baca fic ini lagi. Saya ingin menjelaskan kepada anda bahwa saya membutuhkan review demi kemajuan fic ini. Jika saja dalam satu chap yang saya buat itu reviewnya sedikit berarti chap itu kurang bisa dinikmati oleh pembaca dan itu berarti saya harus memperbaik tulisan saya supaya tidak membuat reader bosan membaca.

Dan saya tekankanpada anda bahwa saya tidak membuat cerita berdasar review. Dan walaupun review dalam sebuah chap dalam cerita saya sedikit saya tetap akan melanjutkan Fic itu. Menurut saya kenikmatan para pembaca adalah yang utama dan dengan review setidaknya saya bisa sedikit mengerti apa yang diinginkan pembaca. Jika saran pembaca bisa digunakan dan tidak beda jauh dari alur yang saya rencanakan maka kemungkinan saya akan memakai saran itu.

Sebenarnya ini yang membuat saya down T_T

Oh ya, apakah saya harus mengadakan sesi balas review di chap selanjutnya ? mohon sarannya para reader.

Satu lagi jika nanti ada beberapa typo saya mohon maaf.

Rate : M (Jaga- jaga)

Summary: Takdir dari sang ' Ramalan ' berubah. Dunia penuh kegilaan menunggunya. Kehidupan dengan alur yang rumit menghadangnya. Masalah demi masalah menantinya. Cinta pertama atau cinta baru yang akan ia pilih ? Benarkah ini takdir dari Tuhan ? Ataukah hanya cerita yang ditulis ulang oleh - Nya untuk sang ' Ramalan '

Genre : Adventure, Romance, Friendship

Pair : Naruto X…

" Naruto " : Talk

' Naruto ' : Thinking

" Ddraig " : Biju/Sacred Gear Talk

' Kurama ' : Biju/Sacred Gear Thinking

.

.

.

.

.

.

.

.

' Kena kau! Bakso ikan sialan! ' Menma membatin dengan yakinnya. Menma menyerang Naruto yang sedari tadi hanya terdiam ditempat dari belakang. Senyum kemenangan terpatri jelas diwajah miliknya. Tapi dia tidak sadar akan satu hal.

" I have created thousand of Sword "

.

.

.

ALOD

.

.

.

POFF…

Bebarengan dengan apa yang dikatakan oleh sosok dibelakang Menma, Iblis yang dikiranya Naruto menghilang dan menjadi kepulan asap setelah itu banyak pedang yang menuju kearah Menma. Menma yang mengetahui hal itu mata – nya terbelalak tak percaya. Analisanya salah dan sekarang banyak pedang yang menuju kearahnya. Sepertinya Menma akan mengalami luka yang cukup parah.

TRANKK…

TRANKK…

TRANKK…

Bidak Menma yang masih tersisa yaitu Queen – nya, menangkis segala pedang yang terarah menuju Menma. Sementara Menma dapat bernafas lega karena jika tidak ada Queennya mungkin dia sudah tamat sekarang ini.

" Arigatou, Tohka – chan. "

Menma mengucapkan rasa terima kasihnya pada sang Queen dalam jajaran para peeragenya. Setelah itu Menma menghadap kebelakang dan mendapati Naruto dan Rias yang ada disana. Menma nampak mengeram marah melihat itu. Dia tak menyangka bahwa ia bisa ditipu dengan klon milk Naruto.

" Cih, apa kau hanya bisa berlindung dibalik tipuanmu itu bakso ikan sialan ?! " Menma mengajukan pertanyaan dengan nada marah kepada Naruto. Sementara Naruto hanya dapat menghela nafas, kenapa Menma tidak mengartikan namanya dengan benar.

" Tidak ada yang namanya tipuan dalam sebuah pertarungan yang ada hanya kau kurang waspada. Dan setidaknya artikan namaku dengan benar, bakso ikan itu Narutomaki dan aku hanya Naruto yang artinya adalah badai. "

Naruto mulai menjelaskan arti namanya. Oh, ayolah siapa yang tahan jika namanya diejek terus oleh seseorang. Dia tidak setuju dengan ungkapan ' Apalah arti sebuah nama ' karena baginya nama adalah sesuatu yang sangat berharga. Nama adalah identitasnya, dan nama adalah peninggalan orang tua yang hanya ada satu – satunya.

" Persetan, dengan namamu lagi pula kenapa aku harus menuruti omonganmu ? " Menma kembali berucap kepada Naruto.

" Begitu ya, Rias bisakah kau urus Queen – nya, akanku tunjukan pada tuan muda Phenex kenapa dia harus menuruti omonganku. " Rias hanya menatap bingung pada Naruto, diakan disini posisinya sebagai King tapi kenapa pawn memberikannya perintah. Tapi ya sudahlah, Rias hanya mengangguk menuruti perintah Naruto.

" Dan jika boleh aku menyarankan kau juga bentuklah sebuah pedang dari Power of Destruction milikmu. " Naruto memberi saran kepada Rias untuk menghadapi Queen dari Menma.

" Caranya ? "

" Fokus dan bayangkan Power of Destruction berkumpul menjadi sebuah pedang. " Setelah itu Naruto dan Menma langsung melesat secara bersamaan untuk mengadu tinju milik mereka.

WUUSH…

Angin tercipta saat kedua pukulan tadi saling bertemu. Mereka berdua kemudian mundur. Menma sudah bersiap terbang dengan tiga pasang sayap yang ia miliki. Sementara Naruto dia merangkai handseal untuk menggunkan ninjutsu.

" Futon : Kaze no Tsubasa "

Setelah mengucapkan nama jutsunya, dibelakang Naruto munculah sepasang sayap yang terbuat dari angin. Keduanya kemudian terbang untuk mengadu kekuatan diudara. Menma adalah yang pertama mengambil langkah.

" Golden Fire : Fire Spirit Bomb "

Setelah itu sebuah bola api emas dengan ukuran dua kali dari Oodama Rasenggan menluncur kearah Naruto. Naruto yang melihat itu langsung saja membuat sihir perlindungan. Pertahanan terkuat yang ia miliki jika terbuat dari sihir. Mula – mula perisainya nampak seperti bunga tapi kemudian sihir tersebut menjadi sebuah lingkaran yang melindunginya dari serangan musuhnya dari depan.

" Rho Ais "

BLAAR…

Bola dari api emas tadi kemudian meledak sesaat setelah bertabrakan dengan pertahanan milik Naruto. Ledakan tadi sepertinya sudah bisa menghancurkan pertahanan Naruto, yah itu menurut Menma. Tapi diluar dugaannya, perisai tadi hanya retak sedikit. Setelah Naruto menghilangkan perisainya ia merangkai handseal dengan cepat.

" Katon : Goukakyu no Jutsu "

Setelaha mengucapkan nama jutsunya Naruto menembakan bola api kearah langit.

KRIK… KRIK…

KRIK… KRIK…

Bahkan Tohka dan Rias sempat berhenti bertarung setelah melihat apa yang dilakukan Naruto. Iblis selain Naruto yang ada diarena hanya dapat ber sweatdroop ria.

" Hei, siapa yang kau serang ? " Menma yang ada didepan Naruto – pun betanya dengan keadaan masih sweatdroop. Naruto yang melihat itu hanya tersenyum.

" Sudah pasti kau Menma. Kirin! " Sesaat setelah Naruto mengucapkan nama jutsunya turunlah seekor naga yang terbuat dari petir berwarna biru. Menma entah sadar atau tidak menjatuhkan rahangnya. Jadi ini dampak dari serangan meleset tadi.

Naruto mengerakan tangannya menuju arah Menma. Naga yang seolah memiliki kesadaran itu mengikuti arah gerak tangan dari Naruto. Menma yang sadar jika sihir pertahanannya tidak akan kuat menahan serangan dari naga petir Naruto, akhirnya lebih memilih untuk membuat sebuah serangan yang ia harap bisa menandingi naga petir milik Naruto.

" Golden Fire : Phoenix From the Hell "

Setelah itu dengan cepat terbentuklah tornado api yang kemudian menghilang menampakkan burung Phoenix yang dilapisi oleh api dan memiliki ukuran yang sama besar dengan Kirin milik Naruto. Kedua makhluk raksasa tadi akhirnya saling bertubrukan, tapi kedua makhluk tersubut nampaknya tidak mau mengalah satu sama lain. Akhirnya mereka terus beradu kekuatan dan meledak secara bersamaan.

BLARRR…

SWUSH…

Angin dari ledakan tadi banyak merusak bangunan yang ada di arena Rating Game tadi. Naruto yang tidak mau Rias kenapa – napa segara menuju tempat sang King berada. Begitu pula Menma dia akan melindungi satu – satunya bidak yang masih tersisa dari jajaran peerage yang ia miliki. Setelah angin akibat ledakan berhenti Menma dan Naruto saling tatap.

" Kau kuat juga bambu hitam. " Naruto tersenyum saat mengatakan hal itu. Bukan senyum mengejek yang ia tunjukkan tapi sebuah senyum ketertarikan ( Jangan salah artikan jadi Yaoi ( -_- ) ).

" Kau juga, sudah lama aku tak merasakan pertarungan seperti ini Bakso ikan. " Menma juga menunjukkaan senyum yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Naruto. Sementara kedua perempuan yang ada di pelukan mereka hanya dapat merona tipis melihat senyum dari pria masing – masing.

" " Tapi semua harus berakhir disini. " "

Keduanya berseru secara bersama – sama. Naruto nampak mengaktifkan mata ' khususnya ' sementara itu Menma tampak komat – kamit tidak jelas untuk menggunakan tekhniknya.

" Golden Fire : Prince of Hell "

" Susano ' o "

Kedua iblis itu mengucapkan nama tekhniknya. Untuk Menma dan Tohka tampak tubuh mereka ditutupi api yang lama kelamaan membentuk sosok raksasa yang keseluruhan tubuhnya terbuat dari api emas, sayap mahkluk tersebut perlahan – lahan juga terbentuk dari api emas. Wajah sosok tersebut sepertinya terlihat masih muda dan tak lupa mahkota serta pedang api emas terpasang rapi ditubuhnya bersama dengan pakian perang juga jubahnya. Sementara Naruto kini Susano'o yang terbentuk adalah sosok raja Tengu berwarna ke – emasan.

.

.

ALOD

.

.

" Tekhnik macam apa yang digunakan Menma dan Naruto ? " Sirzech nampaknya masih bertanya – tanya mengenai tekhnik yang digunakan kedua iblis muda tersebut. Sementara iblis disampingnya hanya dapat berkeringat dingin melihat tekhnik yang dikeluarkan Naruto.

" Dia bisa melakukan itu berarti dia memiliki mata itu. " Sosok pria dewasa yang memiliki rambut pirang tersebut nampak khawatir dengan keadaan iblis yang ada di arena.

" Tampaknya kau tahu banyak ya ? " Sebuah suara dari belakang Sirzech mengagetkan kedua orang yang sedang menonton pertandingan tadi. Setelah itu keduanya menengok kebelakang dan melihat seorang laki – laki paruh baya memiliki rambut hitam dan sedikit warna kuning cerah di bagian poninya.

" Azazel! Kenapa kau bisa ada disini ? Apa tujuanmu kemari ? " Sirzech berseru dengan kaget dan terdengr sedikit kurang suka bila fraksi lain bisa ada di wilayah iblis. Sementara yang ditanya hanya tersenyum.

" Oh ayolah Sir, kau tahukan aku tidak suka cari gara – gara. Aku datang kesini hanya untuk melihat muridku bertarung. Jadi santai saja. " Azazel menjelaskan bahwa dia kesini hanya ingin melihat sebuah pertarungan yang dilakukan oleh muridnya.

" Pemimpinnya memang tidak, tapi kalau anak buahnya suka sekali membuat keributan bukan begitu Azazel ? " Pria berambut pirang tadi mengeluarkan sebuah pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan disertai senyumannya.

" Hahaha… kau bisa bereskan yang membuat onar jika kau mau, nah bagaimana jika kita lihat pertarungan ini lebih lanjut ? " Azazel bertanya kepada kedua iblis didekatnya dan hanya dibalas anggukan oleh keduanya.

.

.

ALOD

.

.

Kembali ke arena pertarungan sekarang kedua raksasa itu sedang bertarungan yang mengakibatkan tanah yang semula sudah rata memiliki banyak kerusakan lagi. Menma hanya dapat mendecih karena serangannya selalu dapat digagalkan oleh Naruto.

" Cih sial sulit sekali menembus pertahanannya. Tohka bisa kau jatuhkan pedangmu ? " Menma meminta Tohka untuk menjatuhkan senjatanya, dia ingin mencoba sesuatu yang pernah ia lakukan dulu. Yah, walau – pun secara tidak sadar.

" Untuk apa Menma – sama ? Jika senjataku kujatuhkan bagaimana aku bisa bertarung dengan Gremory itu nanti ? " Sementara Menma hanya memberikan tatapan yang meyakinkan untuk Tohka. Tohka yang percaya pada Menma pun menjatuhkan pedangnya. Pedang Tohka memang jatuh tapi saat sampai ditengah tubuh raksasa Prince of Hell, pedang itu mengeluarkan cahaya emas setelah itu raksasa tadi menggenggam senjata Tohka dalam wujud raksasa.

" Itu hebat, bagaimana kalau kita coba Rias ? " Naruto bertanya kepada Rias yang ada disampingnya. Mereka kini sedang ada di permata yang ada pada kening Sussano'o sementara Menma dan Tohka mereka ada di dalam mata Prince of Hell.

" Maksudmu ? " Nampaknya Rias masih bingung.

" Kau tadi berhasil membuat pedang dari Power of destruction'kan ? Sekarang cobalah buat lagi dengan ukuran lebih besar untuk Susano'o, agar lebih mudah aku akan membantumu. " Naruto menyalurkan sedikit chakra untuk Rias agar dia menjadi lebih tenang.

Rias mulai berkonsentrasi saat suatu energy yang menenagkan masuk kedalam dirinya. Naruto percaya padanya, dia tidak boleh mengecewakan Naruto. Di tangan Susano'o mulai terbentuk pedang berwarna merah kehitaman yang lama – kelamaan membesar.

" Ini dia Naruto – kun, Sword of Destruction. " Setelah Rias mengatakan itu pedang tersebut terbentuk secara utuh dan nyata. Naruto yang melihat itu tersenyum walaupun itu berarti tenaganya akan lebih cepat berkurang untuk tetap menjaga bentuk Sword of Destruction.

Setelah itu kedua raksasa tadi langsung maju untuk mengadu pedang mereka. Kedua pedang tersebut bertubrukan, namun nampak Sword of Destruction mengikis secar perlahan senjata milik Tohka. Tak mau mengambil resiko Prince of Hell mundur.

Didalam Prince of Hell Menma nampak sudah terengah – engah. Energinya serasa terkuras habis untuk membentuk tekhnik yang baru ia gunakan dua kali ini. Menma nampak memejamkan matanya, sementara Tohka hanya dapat memandang khawatir Kingnya tersebut.

' Aku akan membantumu Menma meskipun ini tidak akan berpengaruh besar. '

' Prince of Hell, jadi dulu kau yang memanduku saat menggunakan wujudmu untuk pertama kalinya ? '

' Ya, begitulah. Jadi dari sini sampai beberapa menit kedepan jiwaku akan mendiami wujudku tak apa'kan ? '

' Ini wujud dari ragamu, jadi silahkan jika ingin kau gunakan. '

' Terima Kasih. '

' Jangan bilang begitu. '

Setelah itu Menma membuka matanya dan meminta Tohka untuk mengobatinya. Prince of Hell kemudian terbang dan menebas udara kosong dengan pedang Tohka yang sudah berubah ukuran tadi. Beberapa gelombang tercipta akibat tebasan tadi.

Naruto yang melihat itu juga ikut menebaskan Sword of Destruction yang dibawa oleh Susano'o. Gelombang juga tercipta dari tebasan tadi dan akhirnya bertubrukan dengan gelombang tebasan milik Prince of Hell.

BLAARR…

Ledakan kembali terjadi di Arena. Orang yang melihat pertarungan ini hanya dapat menatap kagum kepada keduanya. Sementara itu wujud dari Prince of Hell tiba – tiba bisa tersenyum.

" Kau boleh juga bocah pirang. "

Naruto yang mendengar itu tentu saja kaget dia berfikir Prince of Hell hanyalah sebuah wujud kosong yang dibuat oleh Menma. Mengesampingkan itu Naruto lebih memilih melesat membelah udara kearah Prince of Hell. Sang musuh yang melihat itu memasang pedangnya pada posisis bertahan.

BUMM…

Kedua pedang tadi kembali bertububrukan tapi anehnya sekarang pedang Tohka tidak terkikis seperti tadi. Malah sekarang keduanya terlihat seimbang. Tak berhenti sampai disitu susano'o bersama Naruto dan Rias yang ada di dalamnya kembali menyerang dari arah samping kanan, tapi masih dapat ditahan oleh Prince of Hell.

BUMM…

Kedua pedang tadi kembali bertubrukan. Kedua sosok astral tersebut terus mengadu pedangnya bahkan juga sempat ada adu kaki diantara keduanya. Sosok Prince of Hell nampak terengah – engah berbeda dengan susano'o yang sama sekali tak terlihat kelelahan melainkan Naruto lah yang kelelahan.

" Karena tingal sedikit lagi aku akan menggunakanmu. " Prince of Hell berkata seperti itu sambil menatap pedang Tohka.

Setelah itu nampak ia mengangkat pedangnya kearah atas dan pada saat itu juga Naruto sadar bahwa dia harus bisa bertahan dari serangan ini mencari tempat yang kiranya aman yang dapat dijangkau oleh matanya. Setelah menemukannya Naruto tersenyum.

"Halvanhelev! "

Pedang tersebut kemudian diayunkan kearah susano'o. apapun yang menjadi lintasan dari gelombang tersebut terpotong menjadi dua. Semantara itu susano'o hanya diam membuat semua yang menonton terkejut termasuk juga Azazel, dan Sirzech.

Setelah gelombang tadi menyentuh susano'o nampak susano'o terpental dan menghilang secara perlahan. Dan saat itu juga pedang Tohka jatuh dan kembali ke ukuran aslinya bersama hilangnya Prince of Hell. Tohka dan Menma sama – sama tersenyum melihat itu. Tapi beberapa saat kemudian mereka memasang ekspresi kebingungan.

" Kenapa suara Grayfia – sama tidak terdengar ? " itulah yang ditanyakan oleh Tohka.

" Karena kami belum kalah! " Naruto mengucapkan kalimat tadi dengan penuh tekanan pada setiap katanya. Menma dan Tohka yang mendengar itu langsung berbalik dan sekarang mereka dapat melihat Naruto dan Rias yang tidak memiliki luka serius disana.

" Bagaimana… bisa ? "

" Tanyakan pada rumput yang bergoyang. "

Menma yang mendengar jawaban itu langsung emosinya sampai ke puncak kepalanya lagi. Tohka juga tak beda jauh dia merasa sedang dipermainkan saat ini.

" Kau! "

Menma hanya dapat menyampaikan emosinya lewat satu kata itu tadi. Sementara Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum senang karena dia bisa membuat musuhnya itu emosi.

" Kau apa Menma kenapa tidak dilanjutkan ? "

Menma yang mendengar jawaban dari Naruto hanya dapat menggeram kembali. Cukup sudah, dia sudah tak tahan lagi dengan iblis pirang didepannya itu.

" Jadi kau ingin tahu kelanjutannya ? Baiklah! Kau… kau adalah iblis reinkarnasi rendahan! Kau tidak punya sopan satun karena kau berusaha menggagalkan pernikahanku dengan Rias! Kau berani menentangku yang sudah jelas strataku lebih tinggi sebagai iblis murni ketimbang kau yang hanya reinkarnasi! Aku yakin orang tuamu pastilah tidak pernah mendidikmu, mengajarimu, dalam hal sopan santun! Yang dikatakan banyak mahkluk di dunia ini memang benar manusia hanya sebuah mahkluk rendahan, menjijikan, dan hanya cocok untuk dijadikan sebagai budak kecuali untuk mereka yang istimewa! Orang tuamu… yang tidak mengajarimu sopan santun hanyalah sampah! "

Menma nampaknya sudah lelah mengucapkan kata – kata. Dia tidak menyadari apa yang diucapkannya adalah sebuah kesalahan yang fatal. Kesalahan paling besar yang pernah ia buat.

.

.

ALOD

.

.

" Hei, Phenex disini luka jenis apapun akan dinetralkan jika sudah keluar arena bukan begitu ? " Azazel bertanya kepada lelaki pirang yang ada didekatnya. Sementara sang phenex yang ditanya hanya mengangguk.

" Syukurlah kalau begitu, dengan begitu anakmu tidak akan mati. " Azazel akhirnya dapat menghela nafas lega.

" Mati ? mana mungkin itu bisa terjadi ? keduanya terlihat seimbang. " Laki – laki berambut pirang tadi hanya menatap Azazel dengan penuh tanya begitu pula dengan Sirzech.

" Lihatlah lebih baik lagi. Anakmu sudah kelelahan sementara bocah yang jadi lawannya masih terlihat sehat – sehat saja. Dan lagi, kau tahu tidak ? Dia masih menahan kekuatannya, tapi entahlah sekarang ini. " Kedua iblis tadi menatap Azazel dengan pandangan terkejut.

" Jangan bilang dia sudah bisa menggunakan realitas marmer milik Emiya – kun ?! " sang ayah dari Menma Phenex bertanya dengan keterkejutan yang sudah jelas yang ada di wajahnya.

" Dan lagi dia hanya mengkonsumsi dua bidak pion yang seharusnya tidak memiliki kemampuan sihir yang lebih hebat dari ini! " Sirzech menambahkan apa yang diucapkan lelaki pirang tadi.

" Aku tidak pernah bilang dia bisa menggunakan realitas marmer karena kenyataannya aku tidak bisa melatihnya menggunakan hal semacam itu. Dan untukmu Sir apa kau lupa jika nilai dari pion itu sendiri belum benar – benar ditentukan ? dia bisa menjadi Queen yang memiliki nilai Sembilan, dan masih ada Bishop, Knight, dan Rook. "

Azazel memberikan jawaban yang lumayan panjang pada keduanya. Sementara dua iblis yang berucap tadi kini hanya dapat terdiam seribu bahasa setelah mendengar jawaban dari Azazel.

" Berharaplah untuk keselamatannya. Dan kau tahu Phenex, dia memiliki sesuatu yang tak bisa aku mengerti. " Penjelasan Azazel melengkapi keterkejutan kedua iblis tadi.

.

.

ALOD

.

.

" Kau sudah puas menghinaku ? Orang tuaku ? Semua manusia ? Kalau begitu dengarkan jawabanku! " Satu bunshin dibentuk oleh Naruto untuk melindungi Rias. Kemudian tanpa perlu satu kedipan mata Naruto sudah dapat membuat Menma terpental puluhan meter.

Tak sampai disitu Naruto kemudian menghilang dan muncul dibelakang Menma yang sudah berhenti dari acara berguling – gulingnya kemudian menendang punggung Menma dengan keras. Menma kembali terpental. Menma yang tidak ingin menerima kesakitan yang lebih lagi berusaha untuk fokus menentukan arah serangan Naruto.

BUAKKHH…

KREK…

Menma berhasil menahan pukulan Naruto namun itu harus dibayar mahal dengan retaknya tangannya. Menma hanya dapat meringis kesakitan setelah menahan pukulan Naruto tadi.

" Kau tidak tahu apa – apa tentangku! " Naruto kembali memukul Menma dengan kerasnya.

BUAKKHH…

KREK…

" Aku berusaha menggagalkan pernikahan ini karena aku ingin melindungi King - ku! " Setelah terkena pukulan Naruto, terdengar suara tulang retak dari tubuh Menma dan akhirnya dia meluncur dengan cepat.

BRAAKK…

" Kau terlalu bodoh untuk merendahkan manusia! " Naruto tiba – tiba sudah ada didekat yang telah menabrak pohon yang tersisa akibat pertarungan dua raksasa tadi. Naruto menyiapkan pukulannya dan kemudian menghantamkannya kearah Menma.

BLARRR…

" Manusia adalah mahkluk yang bahakan malaikat yang jadi Seraphim dan Iblis sekelas Satan Lucifer disuruh untuk bersujud di bawahnya oleh Sang Pencipta! " Sebuah cekungan tanah tercipta akibat pukulan Naruto tadi walau tidak terlalu dalam tapi yang dirasakan Menma pukulan Naruto tadi sangat kuat entah berapa tulangnya yang sudah patah. Naruto kemudian mengangkat kaki lumayan tinggi dan akhirnya menghantamkannya kearah Menma.

BUMM…

" Walaupun kurasa Lucifer memang benar tidak bersujud padanya, karena manusia sering berperang melawan kaumnya sendiri. Tapi itu tidak memungkiri bahwa manusia memiliki derajat tertinggi! " Cekungan tadi tambah lebar dan dalam akibat hantaman dari kaki milik Naruto.

GHOEKK…

" Dan satu kesalahan paling besar yang telah kau lakukan dalam hidupmu yaitu… MENGATAI ORANG TUAKU SAMPAH! " Menma memuntahkan banyak darah dari mulutnya, dan setelah kalimat yang diucapkan Naruto tadi selesai, Mana mengalir deras pada diri Naruto.

DUAARR…

Ledakan tercipta akibat besarnya tekanan kekuatan yang dimiliki Naruto. Naruto memejamkan matanya setelah merasakan begitu derasnya energy sihir mengalir dalam dirinya.

Energi sihirnya semakin lama semakin naik tapi masih terjaga arusnya Setelah itu Naruto membuka matanya. Dia kembali membuat busur dan sebuah pedang. Bilah pedang yang awalnya masih baik – baik saja setelah diletakkan di busur berubah menjadi sebuah anak panah. Anak panah dari pedang.

Naruto kemudian meloncat keatas dan melepaskannya. Dengan cepat anak panah tadi meluncur menuju Menma.

SYUUT…

BLAARR…

Tampak Tohka yang melindungi Menma dengan susah payah untuk bertahan berdiri. Menma yang masih bisa membuka matanya hanya dapat membelalakan matanya terkejut.

" Tohka… kenapa ? "

" Karena kau adalah King – ku, ah ya… dan lagi aku juga mencintaimu Ma – kun. " Tohka mengucapkan itu sambil tersenyum dan air mata mengalir dari matanya. Menma sekuat mungkin berusaha untuk duduk. Walaupun badannya sakit semua tapi dia tetap berhasil duduk. Sementara Naruto yang sudah mendarat hanya menatap mereka dengan datar. Tak lama kemudian Tohka ambruk, untung saja tadi Menma sempat duduk jadi Tohka terjatuh ke pangkuan Menma.

" Aku mencintaimu meskipun kau tidak pernah melirikku, tidak pernah menghiraukanku. Aku mencintaimu meskipun kau mencintai orang lain, yah aku hanya bisa berharap jika suatu hari kau bisa membalas perasaanku. "

" Sssttt… diamlah Tohka – chan. Kau akan lebih sakit jika terus bicara. " Menma menitikan air matanya. Dia baru sadar jika Queennya memiliki perasaan lebih padanya. Dan lebih buruknya lagi dia sadar pada saat seperti ini.

Tubuh Tohka perlahan mulai mengurai menjadi partikel cahaya.

" Hei, laki – laki itu tidak boleh menangis lho. " Sebelum benar – benar menghilang Tohka mengusap air mata yang jatuh dari mata Menma. Meskipun tidak berhenti Tohka tetap melakukannya sampai dirinya menghilang.

Menma hanya bisa terus meneteskan air matanya, aura berwarna kuning cerah melingkupi dirinya. Luka – luka yang ada ditubuh Menma dengan cepat kembali seperti semula. Menma mendongak dan menatap Naruto dengan mata emasnya yang masih mengalirkan air mata. Untuk sepersekian detik Naruto merasa kaget dengan apa yang terjadi di depannya tapi kemudian dia kembali menjadi tenang. Naruto kemudian membuat empat bunshin. Seakan tahu tugas mereka masing – masing bunshin tadi membuat kekai merah transparan.

Bunshin yang dibuat oleh Naruto untuk melindungi Rias tadi membawa Rias untuk menjauh dari kekai. Dan sekarang tinggal Naruto dan Menma yang ada di dalam kekai. Sang kakak dari Lord Phenex tubuhnya menegang karena terlalu panik.

" Sirzech, tolog perintahkan Grayfia untuk mengeluarkan mereka semua dari arena Rating Game! " Minato dengan panik meminta tolong pada Sirzech. Sirzech yang melihat kepanikan dari Iblis didekatnya hanya dapat memandang heran padanya begitu pula Azazel.

" Memangnya ada apa ? "

" Entahlah aku belum bisa memastikan karena kadang kekuatan itu akan mengambil alih tapi kadang Menma juga yang mendominasi, dan jika dia diambil, dia hanya bisa di normalkan dengan dikalahkan! Aku tidak yakin Naruto dapat melakukan itu! "

" Memangnya sekuat apa Menma saat lepas kendali ? "

" Bisa dikatakan sangat kuat, aku bahkan harus meminta bantuan dari Knight – ku untuk mengalahkannya itu – pun terjadi sekitar empat tahun lalu saat dia berlatih. "

" Baiklah, aku akan meminta Grayfia untuk mengeluarkan mereka dari Arena. " Setelah itu Sirzech menggunakan lingkaran sihir dan memerintahkan Grayfia untuk mengeluarkan mereka dari arena. Tapi setelah beberapa saat wajah Sirzech juga berubah menjadi panik.

" Gawat! Grayfia tidak bisa mengakses arena lagi! " Sirzech dengan panik. Kedua makhluk didekatnya kaget bukan main setelah mendengar apa yang dikatakan Sirzech.

" Apa ?! bagaimana itu bisa terjadi ?! " Iblis pirang tersebut tambah panik setelah mendengar apa yang dikatakan Sirzech. Azazel sebenarnya tak kalah panic dengan kedua Makhluk didekatnya karena bagaimanapun salah satu yang ada diarena adalah muridnya.

" Entahlah! Grayfia sendiri bahkan tidak tahu. " Sirzech masih dengan panik berbicara pada Iblis di dekatnya ini.

" Kalian tenanglah, dan lihat saja pertandingannya. " Ketiga makhluk berbeda ras tadi langsung memandang tajam pada seorang pria berambut perak yang baru saja datang.

" Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang, jika adikku ada disana! " Sirzech berbicara dengan nada tinggi.

Sementara itu pria berambut perak tadi hanya diam dan tetap memandang sebuah hologram yang memperlihatkan acara Rating Game yang sedang dilakukan.

' Tunjukan pada mereka siapa kau sebenarnya, ne Naruto '

Kembali kearena kini Menma sedang berusaha untuk memukul Naruto. Walaupun sudah berkali – kali usahanya tetap gagal, entah mengapa Naruto selalu bisa menghindar dari serangannya.

" Jadi ternyata ini yang mendiami tubuhmuMenma, cukup menarik. Dan sepertinya kau tidak lepas kontrol, partnermu baik ya ? " Naruto berkomentar sambil terus menghindar dari serangan yang dilancarkan oleh Menma.

" Tutup mulutmu dan kemari! Seranglah aku! "

" Jika itu keinginanmu. "

Sekarang Naruto yang menyerang, satu pukulan dilapisi chakra tipis dialancarkan kearah pipi Menma. Tetapi Menma nampaknya masih dapat mengelak dari serangan pertama yang Naruto lancarkan.

BUKK…

SYUU…

Tapi tidak untuk serangan yang kedua. Menma sampai terseret agak jauh dari tempatnya semula. Tak hanya sampai disitu Naruto kembali melesat kearah Menma dengan membawa sebilah pedang. Namun, Menma yang melihat hal itu menciptakan sesuatu yang sangat Naruto kenal dari Demonic Powernya. Sesuatu yang membuat ia kerap kali menang dari musuhnya. Sesuatu yang biasanya ia gunakan untuk mengakhiri sebuah pertarungan. Itu adalah… Rasenggan dalam versi Demonic.

Naruto yang melihat itu langsung membatalkan serangan yang akan ia lancarkan pada Menma dan menghilangkan sebilah pedang yang ada ditangannya. ' Itu seperti Rasenringgu dalam Mugen Tsukoyomi Terbatas waktu itu. '

Menma yang melihat Naruto berhenti, memilih untuk melancarkan serangannya. Menma berlari dengan cepat kearah Naruto, sementara Naruto kini dia sedang menutup matanya. Chakra yang tak beraturan muncul dan membentuk sebuah bola spiral sebesar bola takrow. Naruto sekarang sedang membuat sebuah Rasenggan, dan akibatnya terdengarlah suara bising dan angin yang berputar disekeliling Naruto yang membuat rambut dan jubahnya berkibar.

" Apa itu ? " Menma bertanya – tanya namun tidak mengurangi kecepatan larinya menuju Naruto. Naruto kemudian membuka matanya dan terlihatlah mata birunya yang kini menjadi tajam.

" Mari kita buktikan mana yang lebih kuat. " Naruto berucap dingin dan kemudian berlari kearah Menma. Keduanya saling beradu tatapan yang tajam. Dan akhirnya dititik temu, mereka menghantamkan tekhnik mereka masing – masing.

DUUB…

BLARR…

Saat kedua tekhnik itu bertemu terjadilah sebuah ledakan besar yang membuat tanah sekelilingnya bergetar. Asap dan debu berterbangan kesana – kemari. Kedua iblis tadi masih belum terlihat akibat dari asap serta debu ledakan tadi.

Lama kelamaan debu yang ada disana menipis dan memperlihatkan sosok bayangan berwarna hitam yang sedang menginjak seenggok tubuh sosok lainnya. Dan saat debunya hilang nampaklah Naruto yang sedang menginjak tubuh Menma yang secara perlahan terurai menjadi cahaya. Bunshin yang dibuat Naruto semuanya telah hilang, Rias nampak berlari menuju kearah Naruto dan kemudian memeluknya erat.

[ Menma – sama tidak dapat melanjutkan pertandingan, pertandingan dimenangkan oleh kelompok Rias – Ojousama ]

Setelah suara Grayfia sudah tak terdengar lagi, Rias dan Naruto menghilang dari tempat tersebut.

.

.

ALOD

.

.

Sekarang Naruto dan Rias sedang berada disebuah aula besar yang memiliki warna dominan putih serta sudah dipasangi dengan dekorasi untuk pasangan pengantin. Rupanya mereka sudah menyiapkan semuanya jika Menma tadi menang. Rias masih saja memeluk Naruto, sementara Naruto sedang mengelus surai merah crimson milik Rias.

" Syukurlah kita dapat memenangkan pertandingan ini. Syukurlah… syukurlah.. syukurlah " Rias terus mengatakannya. Dia tidak menduga bahwa Rating Game akan berakhir seperti ini. Entah mengapa semua yang ada dibayangannya berubah karena sang pion tercinta yang sedang dipeluknya.

" Rias, sepertinya sudah cukup kau menatakan kata itu. Aku bosan mendengarnya. " Naruto mendorong Rias sedikit agar mau melepaskan pelukannya, Dia menatap mata berwarna blue – green itu dalam.

" Cukup, kau harus lebih menikmati kemenangan kita " Naruto kembali berbicara, sementara Rias dia hanya bis menatap balik mata safir indah yang dimiliki oleh pionnya. Entah dapat dorongan darimana Rias memberanikan diri untuk memajukan wajahnya, yah walaupun dia harus susah payah berjinjit. Sementara Naruto hanya diam dan menutup matanya, kedua bibir tersebut sebentar lagi akan bertemu.

BRAAKK…

Bibir yang harusnya segera bertemu malah menjadi jauh. Jauh, sangat jauh. Ruangan yang awalnya rapi menjadi berantak karena menjadi sebuah jalur dari sesuatu.

" Apa yang akan kau lakukan pada Rias – sama ha! Baka Naru! " Suara perempuan yang memiliki rambut berwarna soft pink membuat Rias kembali sadar dan membuka matanya.

" Sa – Sakura – neesama ?! Apa yang kau lakukan pada Naruto – kun ?! " Rias akhirnya sadar setelah melihat Sakura yang sedang menatap tajam pada kepulan asap yang tercipta akibat ulahnya tadi. Setelah asap tadi hilang kini nampak Naruto yang sedang berusaha berdiri. Dan kemudian sang pelaku pemukulan dengan raut muka yang menunjukan keterkejutan.

" S – s – Sakura – chan ? Ba – bagaimana kau ada disini ? " Naruto bertanya dengan gagap karena efek terkejut yang berlebihan. Sementara yang diberi pertanyaan hanya dapat tersenyum manis pada Naruto.

" Bunshin – mu hilang saat dicelah dimensi tiga tahun lalu, dan entah kenapa aku bisa sampai kesini, tapi saat itu yang – ku ingat ada sebuah robekan dimensi yang membawaku kesini. " Sakura berbicara sambil berjalan mendekat kearah Naruto.

" Tapi… bagaimana dengan Kakashi – sensei dan juga kenapa Great Red tidak menghalangi kalian ? "

" Kakashi – sensei juga ada disini, dan soal Great Red aku tidak tahu mengapa, tapi kami berdua tidak bertemu dengannya. Hei baka, apakah kau tidak mau memberi salam padaku ? sudah lama kita tidak bertemu. "

BRUUKK…

Sakura menghambur kepelukan Naruto. Dia bahkan menangis saat berada dipelukan Naruto. Biarlah dirinya melepas rindu yang selama tiga tahun ini ia simpan. Entah mengapa dia bisa sangat merindukan sosok pirang didepannya ini. Dia merasa ada sesuatu yang kurang selama tiga tahun ini kembali menjadi seperti semula. Sementara Rias hanya menatap bingung keduanya, dia tidak mengerti sama sekali apa yang keduanya bicarakan. Tapi dapat dilihat bahwa ada raut kecemburuan ketika menatap mereka berdua.

" Hei, jangan menangis. Kau pasti tahu'kan aku sangat benci ketika melihatmu menangis. Dan juga aku minta maaf baru datang, aku tidak menyangka kita sampai dengan jarak waktu yang begitu panjang. Padahal kita berangkat dengan waktu yang tidak terlalu beda jauh. Tapi jika kau ada disini maka berarti… "

Naruto tidak dapat melanjutkan perkataannya. Dia akhirnya membuat Sakura melepaskan pelukannya terhadap tubuh kokohnya. Menatap iris berwarna hijau itu dengan tatapan yang seolah mengatakan ' Jangan katakana itu benar… Jelaskan padaku! '

" Ya aku sudah direinkarnasikan menjadi Iblis sehingga aku bisa hidup disini. "

" Siapa yang melakukannya ? " Naruto bertanya dengan nada tak suka.

" Aku yang mereinkarnasikannya. " Mendengar suara tersebut Naruto dengan cepat menoleh disertai tatapan dingin yang ditunjukan untuk iblis pirang yang baru saja menjawab pertanyaannya. Dia juga dapat melihat ada beberapa makhluk supernatural yang menyertai pria tadi termasuk kedua gurunya.

" Hei, begitukah caramu memandang ayahmu ? padahal kita'kan sudah lama tidak bertemu. Setidaknya aku ingin sebuah sapaan. " Iblis pirang yang memiliki fisik yang hampir sama dengan Naruto tadi bertanya dengan wajah yang agak canggung. Semua yang ada disana menampakkan raut keterkejutan minus untuk anggota Tim 7. Naruto akhirnya melepaskan diri dari Sakura dan berjalan perlahan menuju kearah sang ayah.

" Sapaan ya ? Baiklah akan aku berikan " Naruto tersenyum sambil menutup matanya, sang ayah yang melihat itu juga ikut tersenyum teduh. Tapi senyuman itu hilang karena tidak sampai satu detik kemudian dia merasakan nyeri di daerah sekitar ulu hatinya. Naruto mendapati tatapan terkejut dari semua yang ada disana, bahkan Kakashi dan Sakura juga merasakan hal yang sama.

SYUU…

BLARR…

Ayah Naruto atau bisa dipanggil Minato sekarang sedang terlentang ditembok dengan berbagai retakan disekelilingnya. Naruto hanya menatap datar Minato yang sekarang sedang menggeram menahan sakit di ulu hatinya.

" Laki – laki brengsek macam apa kau ini ? Aku memang tidak terima jika kau dan dia dihina, tapi tetap saja kau itu adalah orang yang brengsek! Kau membuat seseorang yang benar – benar kukasihi, kehilangan kebahagiaannya! Ya, memang ku akui jika menjadi iblis dia bisa memiliki umur yang lebih panjang tapi jika suatu saat nanti ajal menjemputnya dia tidak bisa lagi menuju surga tapi dia hanya bisa menuju kedalam ketiadakan! "

" Naruto! Cukup! Saat itu Minato – Otousama mereinkarnasikanku karena sedang dalam keadaan genting, jadi maklumilah! " Sakura berusaha meredakan emosi Naruto. Sementara Naruto hanya membulatkan matanya.

" Otousama ? jadi kau sudah… Sakura – chan, aku benar – benar tidak bisa mengerti dirimu " Setelah mengatakan itu Naruto hilang dalam sebuah kilatan kuning. Rias yang ditinggalkan oleh Naruto hanya bisa memasang ekspresi sedih. Sakura juga tidak beda jauh dengan Rias.

.

Disisi Lain

.

Naruto kini sedang menempelkan sebuah kertas Fuin di kunai cabang tiga miliknya. Setelah selesai dia memandang kunainya sebentar lalu menancapkannya di sebuah meja. Kemudian dia pergi dengan lewat jendela dan melompati tiap – tiap bagunan yang dilaluinya. Tak lama kemudian sebuah lingkaran sihir berwarna merah khas klan Gremory muncul disana. Sang pemilik surai crimson tersebut mengedarkan pandangannya keseisi ruangan. Namun, dia tidak menemukan Sesutu yang dicarinya, lebih tepatnya seseorang yang dicarinya. Mencoba sekali lagi menyapukan pandangannya dan akhirnya menemukan kunai cabang tiga yang tertancap dimeja yang biasanya diagunakan untuk mengerjakan laporan di ruang ORC. Mengambil kunai tersebut kemudian dia masuk menuju kamar, tak lama kemudian terdengar suara isak tangis.

.

.

.

ALOD

.

.

.

AN : Hallo semuanya, terimaksih sudah membaca fic saya yang ini. Nanti kalau soal update saya nggak bisa janji untuk cepet – cepat karena saya masih harus merombak dan mengembangkan ide – ide yang sudah saya buat.

Saya bingung mau berkata apa. Yang pasti saya ingin kalian yang membaca fanfic ini selalu setia menunggu fic ini tamat. Saya sangat – sangat berterimakasih pada para reader yang masih setia menungggu dan meluangkan waktunya untuk membaca fic ini, sekali lagi terimakasih. Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan Jaa ne~.

.

.

.

.

.

.

Thank's for R. n. R

See You Next Chap

Good Bye.