Chapter 2
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
SORRY FOR TYPO *BOW*
Happy Reading ^^v
Brak!
"Ya! Cepat keluar, cepat!"
Suara debuman keras dari pintu besi yang dibuka dan teriakan dari luar membuat Luhan terperanjat dan bangun dari tidurnya yang lelap. Luhan mengedarkan pandangannya pada kap yang ia duduki sekarang. Orang-orang sudah mulai keluar. Ia mencoba berdiri namun kakinya yang terluka tidak mengijinkannya.
Bak! Bak! Bak!
Penjaga yang membukakan pintu itu memukul pintu itu kasar dengan tangannya yang besar. "Ya! Kalian orang-orang tolol, cepat keluar bodoh!"
Luhan yang mendengarnya mencoba berdiri lagi. Tangannya yang terikat tidak mampu menopang tubuhnya walau ia mencoba merangkak. Tubuhnya terasa remuk sekarang. Kakinya sudah mati rasa. Ditambah kondisinya yang belum makan. Entah ini sudah esok hari atau masih malam, Luhan tidak tahu. Namun dari kurun waktu itu, perutnya hanya terisi sepotong ketela yang dibagi baersama Baekhyun.
Baekhyun…sedang apa ia sekarang…
"Ya! Kau yang berambut hitam di sana! Cepat keluar! Kau bodoh atau tuli sih!" Penjaga itu kembali memukulkan telapak tangannya yang besar ke pintu besi kap yang menahannya.
Luhan berkali-kali mencoba berdiri, atau setidaknya merangkak. Tapi ia tidak bisa. Tubuhnya kelelahan dan ia kehilangan banyak darah. Tubuhnya lemas. "M-maaf, tapi a-aku tidak bisa berdiri,"
Di kap itu hanya Luhan sekarang yang tersisa. Penjaga itu mendengus kesal sebelum ia melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Luhan. Sampai di depan Luhan yang masih dalam posisi setengah tidurnya, ia berjongkok dan mencengkram dagu Luhan kencang.
"Dasar tawanan tidak berguna!" Setelah mengatakan itu, penjaga itu melepas tangannya kasar membuat kepala Luhan terlempar ke kanan. Penjaga itu meraih tali panjang yang mengikat tangan Luhan. Kemudian ia berdiri sambil menyeret Luhan.
"AAH!" Luhan berteriak kencang karena kakinya yang terluka bergesekkan dengan lantai.
Penjaga itu mengabaikan teriakan Luhan. Sampai diujung kap, tubuh Luhan terjatuh ke tanah dan menimbulkan suara yang cukup keras. Luhan hanya bisa meringis menahan sakit. Sekarang bukan hanya kakinya saja yang terasa sakit. Tapi seluruh tubuhnya. Permukaan kap yang tidak rata dan kasar mungkin mengores permukaan tubuhnya. Entahlah, tapi Luhan merasa tubuhnya saat ini sangat sakit.
"Ya! Kau, penjaga baru! Antarkan anak ini ke bagian ruang kesehatan!"
Tak lama, Luhan melihat sepasang kaki sudah berdiri di depannya. Ia mencoba mengangkat kepalanya. Melihat sepasang mata hitam mengamatinya dengan khawatir. Pandangan Luhan menabur. Rupanya tanpa ia sadari, dari tadi air mata terus mengucur di pipinya. Ia melihat sosok yang familiar. Dilihatnya mata itu, hidung dan bibirnya. Wajahnya…
"Baek…hyun?"
Kemudian gelap menutupi pandangannya.
-o0o-
"Yang Mulia, para tawanan sudah dibawa ke penjara masing-masing. Para laki-laki yang tertangkap akan bekerja di pemecahan batu bara. Wanita yang tertangkap akan bekerja di perkebunan dan anak-anak yang tertangkap-"
"Habisi mereka semua." Ucap Sehun datar.
Panglima tersebut terkejut. "Apa? Tapi Yang Mulia-"
"Kau ingin meragukanku lagi?"
Panglima menelan ludahnya kasar. "Tapi ada sekitar 60 anak yang tertangkap yang Mulia tidakkah-"
"Habisi. Aku benci anak-anak."
"Tapi Yang Mulia-"
"Kau mau membantahku?"
"Ada apa ini?"
Suara lembut seorang wanita membuat kedua pria yang sedang berdebat itu menoleh ke arah sumber suara itu. Tampaklah seorang wanita yang mengenakan gaun biru panjang berjalan ke arah mereka. Wanita yang mempunyai kulit seputih susu dan berambut coklat tua yang mengkilap. Bibirnya tipis dan matanya besar bulat dan bersinar. Pancaran kecantikan seolah menuar dari diri wanita tersebut.
Panglima yang menyadari kehadiran wanita itu langsung membungkuk hormat. "Ratu Yoona," Panglima menghampiri wanita itu dan mencium tangannya sekilas.
Yoona membalasnya dengan senyum manis nan cantik miliknya. Ia kemudian berbalik dan menatap Raja dengan senyumnya yang masih tersungging indah. Ia membungkuk dan mengangkat sedikit ujung-unjung roknya tanda ia memberi hormat pada orang dihadapannya ini.
"Raja Sehun, selamat datang kembali ke rumah," ucapnya halus.
Sehun mendesah kesal. Ia menghampiri wanita itu dan memeluknya lembut. "Sudah kubilang berapa kali, jangan terlalu formal padaku Yonna-ya," Sehun mengecup pelan dahi Yoona membuat Yoona tertawa kecil.
"Aku merindukanmu Sehun,"
Sehun mencubit hidung Yoona gemas. "aku juga merindukanmu istriku yang cantik, sangat-"
"Ehem, Yang Mulia?" pernyataan cinta Sehun harus ditunda terlebih dahulu karena deheman sang Panglima.
Sehun mendecak kesal karena momentnya diganggu. "Apa?!" bentaknya kasar.
Panglima itu meneguk ludahnya sekali lagi. "U-uh tentang anak-anak itu Yang Mulia?"
"Kau dengar tidak apa yang kukatakan dari tadi?! Habisi-"
"Anak-anak? Anak-anak apa?" Yoona melepas pelukannya dari Sehun dan berjalan menghampiri Panglima Lee.
"Anak-anak tawanan perang Yang Mulia,"
Yoona mengernyitkan dahinya. Lalu menatap Sehun tajam. Yang ditatap balas menatap Yoona tajam. Namun saat Yoona mulai menyipitkan matanya, Sehun menghela nafas. Mengalah.
"Aku tahu, aku berjanji untuk tidak menangkap anak-anak Yoona-ya, tapi mereka menyerang pasukan kita dan-"
Yoona mengangkat tangannya menyuruh Sehun diam. "Panglima Lee, masukkan anak-anak tersebut ke panti asuhan di kota ini, jangan lupa sumbangkan banyak gandum dan kain untuk panti asuhan yang akan merawat mereka, anak-anak tidak boleh bekerja, mereka harus tumbuh dan bermain,"
Panglima Lee menatap Sehun takut-takut. Yoona yang mengerti arah pandang Panglima Lee beralih menatap Sehun. "Kau akan melakukannya kan suamiku?"
Sehun menatap istrinya lama. Ia menghela nafasnya sekali lagi. "Baiklah, lakukan apa yang diperintahkan Ratumu Panglima Lee," Dan dengan itu, Panglima Lee membungkuk hormat kepada keduanya dan melangkah keluar Istana.
Yoona melangkah ke arah suaminya perlahan. Ia kemudian merengkuh tubuh suaminya dalam pelukan yang hangat. Sehun membalas pelukan istrinya dengan sayang. Ya. Hanya dengan Yoona lah Sehun bisa dikalahkan. Titik kelemahannya adalah istrinya. Ia terlalu mencintai istrinya itu. Istrinya yang cantik, yang pintar, yang sempurna.
"Sehun-ah,"
"Hmm?" ucap Sehun lembut. Tangannya masih setia mengusap rambut sutra milik Yoona.
"Kenapa kau begitu membenci anak-anak?"
Sehun terdiam.
"A-apakah itu, karena kita tidak mampu mempunyai satu?" Yoona mencengkran baju di dada sehun dengan erat.
"Yoona-ya…" Sehun melepas pelukannya dan mengusap pelan pipi Yoona yang ternyata sudah di basahi air mata.
"Sehun..a-aku minta maaf, j-jika saja aku b-bisa mengandung, j-jika saja-"
"Yoona-ya, ini bukan salahmu kau mengerti, jangan terlalu dipikirkan, aku hanya tidak menyukai anak-anak. Itu saja. Ini bukan salahmu sayang…"
Keduanya terdiam. Sehun kembali merengkuh Yoona dengan sayang.
"Sehun-ah…"
"Ada apa istriku?"
Yoona menatap manik tajam milik Sehun. "Ku mohon, carilah seseorang yang bisa mengandung darah dagingmu Sehun, kau butuh seorang penerus dan aku tidak bisa memberimu itu.."
"Yoona-ya, cukup pembicaraan ini sudah kita bahas beberapa kali. Aku tidak akan mencari istri lagi. Tidak kah kau mengerti aku hanya mencintaimu?"
"T-tapi aku ingin Sehun-ah, aku ingin membesarkan seorang anak dengan suamiku. Berjalan-jalan saat musim panas ke danau bersama, ikut upacara sekolahnya,menidurkannya saat malam, Sehun-ah..kumohon.."
"Yoona, aku tidak bisa bersama perempuan lain kau-"
"Kalau begitu, carilah laki-laki yang mampu mengandung. Kau tidak perlu memikirkan perasaanku yang cemburu karena ia adalah laki-laki kan? Ku mohon Sehun-ah…kumohon..hanya untuk mengandung anakmu..kumohon.." Yoona kembali menangis.
Sehun mendesah kasar. Ia mengacak rambutnya frustasi. Yoona masih setia dengan isakannya. Sehun menghampiri Istrinya. Ia merengkuh wajah cantik itu dan mengecup bibirnya lembut. Ia mengecup mata Yoona, menghapus sisa air mata di pipi Yoona dengan jarinya.
"Baiklah..aku akan melakukannya untukmu.."
Yoona tersenyum senang. Ia memeluk suaminya erat. "Terimakasih Sehun-ah, terimakasih.."
-o0o-
Luhan membuka matanya perlahan. Walaupun ia masih merasa pusing, ia mencoba untuk duduk. Setelah pandangannya yang kabur mulai menjelas, ia mengedarkan matanya ke ruangan yang ia tempati sekarang.
Ruangan ini didominasi warna putih walaupun sudah memudar dan ada beberapa tempat dimana catnya sudah mengelupas. Luhan sedang terduduk di ranjang yang tidak terlalu nyaman. Ada 9 kasur di ruangan ini. Satu almari kayu yang besar dan meja yang lumayan besr terletak di dekat pintu.
"Oh, kau sudah bangun?" sebuah suara datang dari pintu di pojok ruangan. Bersama debuman pintu yang ditutup kembali.
Laki-laki di hadapannya ini bertubuh kecil dan berambut coklat berantakan. Ia mempunyai mata yang indh, bibir yang tipis dan hidung yang mancung. Laki-laki ini terlihat seperti orang yang ia kenal. Sangat ia kenal.
"Baekhyun?"
Laki-laki itu menengok ke arah Luhan. Kemudian ia tersenyum. "Ah, kau juga memanggilku begitu saat aku akan membawamu," ia tertawa kecil. "namun sayangnya, aku bukan Baekhyun,"
"S-siapa kau?"
"Ah, aku hanya salah satu penjaga baru di sini, aku Taehyung. Kim Taehyung," ucap pria itu sambil tersenyum. Keramahannya menular pada Luhan.
"Luhan," ucap Luhan serak sambil tersenyum tulus.
Taehyung menghampiri sisi kepala ranjang Luhan. Kemudian ia menengok ke kanan dan kiri memastikan jika tak ada orang. Kemudian ia mengeluarkan sepotong roti dari sakunya.
"Ini, makanlah,"
Luhan menerima roti itu dan menatapnya lapar. "B-boleh kah?"
"Tentu saja, makanlah, kau pasti lapar,"
"Ah, terimakasih, terimakasih banyak Taehyung-ssi," Luhan langsung memakan roti kecil itu dengan lahap. Taehyung yang melihatnya jadi tersenyum senang.
"Ai, jangan panggil begitu, Tehyung saja, umurmu berapa?"
Luhan menelan makanannya kemudian menjawab pertanyyan Taehyung. "21, umurmu?"
Taehyung tidak menjawab pertanyaannya, ia malah membelalakkan matanya. "Apa?! 21? Tapi, aku yang begini saja masih 17 tahun.. Bagaimana bisa wajah sepertimu menjadi Hyungku?" ucapnya sedih.
Taehyung sangat mirip dengan Baekhyun. Usia mereka pun sama. Aku yakin jika mereka bertemu, mereka akan menjadi sahabat dekat.
Luhan tertawa kecil. "Kau boleh memanggilku Luhan, tanpa embel-embel Hyung jika kau mau,"
"Ani..tentu saja tidak, kau lebih tua dariku, sudah sepantasnya aku memanggilmu Hyung.."
"Kalau begitu baiklah, terimakasih rotinya Taehyung-ah,"
Taehyung hanya menanggukkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian ia menepuk jidatnya pelan.
"Hyung aku lupa aku harus segera membawamu ke sel!"
"Eh?"
"Aduh Hyung, bagaimana ya mengatakannya, ya kau kan t-tawanan perang Hyung, kau harus kembali ke sel sekarang, kakimu sudah diperban sekarang, j-jadi aduh..aku tidak enak mengatakannya…"
Luhan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa Taehyung-ah. Ayo,"
Taehyung membantu Luhan yang mencoba berdiri. Kakinya masih sakit, namun tidak separah tadi, jadi sekarang ia bisa berdiri. Walaupun untuk jalan, ia masih harus pelan-pelan.
"Hyung, maaf, tapi aku harus..harus.."
Melihat Taehyung membawa rantai borgol, Luhan mengulurkan kedua lengannya sukarela. Ia tidak mau merepotkan Taehyung dan membuat Taehyung dalam masalah. Taehyung sudah sangat baik hati padanya.
Selesai memasangkan rantai di tangan Luhan, ia menarik rantai itu perlahan. "Maaf Hyung.." ucap taehyung lagi.
"Tidak apa-apa, sudah tugasmu kan?"
Mereka kemudian berjalan pelan-pelan dalam diam. Luhan masih berjalan dengan pincang karena kondisi kakinya yang masih sakit. Taehyun berjalan di depan. Menarik rantai yang menghubungkan kedua lengan Luhan. Luhan mengedarkan pandangannya pada sekeliling tempat dimana mungkin ia akan tinggali.
Sepeninggal dari ruang kesehatan, mereka berjalan di lorong yang tidak terlalu terang. Entah ini siang atau malam, Luhan tidak tahu. Sepertinya mereka berada di bawah tanah. Karena sedari tadi, Luhan tidak melihat adanya jendela. Dari lorong itu, mereka sampai ke sebuah pintu dari trali besi. Taehyung membukanya menggunakan kunci yang ia simpan di pinggang kirinya. Ruangan di hadapannya sangat gelap. Saat mereka masuk, banyak lolongan dan sumpah serapah dari para penghuni sel. Luhan agak bergidik ngeri membayangkan disinilah ia akan menghabiskan malam-malam di sisa hidupnya. Di sepanjang lorong penjara menuju selnya, ia mendapat banyak sekali kata-kata seperti :
"Cantik, mau tidur denganku? Berapa bayaranmu?"
"Apa yang dilakukan nona manis ini di penjara huh? Melacur? Hahaha"
Dan masih banyak kata-kata yang dilontarkan pada Luhan.
Setelah berjalan, mereka sampai di sel paling ujung. Tehyung membuka pintunya dan Luhan masuk ke dalam sel sempit itu. Tehyung ikut masuk bersama Luhan untuk membuka borgol Luhan.
Sel-sel di tempat itu sangat sempit. Itu terjadi karena mereka menerapkan satu sel untuk satu orang saja. Sel Luhan pun sama. Mungkin hanya cukup untuk ia tidur. Alasnya hanya semen yang tidak rata kemudian ditutupi hanya dengan sebuah tikar usang.
Setelah selesai membuka borgol Luhan, Taehyun mengucapkan selamat malam pada Luhan yang dibalas ramah oleh Luhan. Sepeninggal Tehyung, Luhan masih terduduk di selnya yang sempit. Ia akhirnya menemukan sebuah jendela yang dipasang trali besi. Tidak ada cahaya dari sana, apakah ini sudah malam? atau subuh? Entahlah.
Luhan mulai merebahkan dirinya di tikar usang itu. Ia menggunakan tangannya untuk menopang kepalanya. Sedikit mengganjal karena permukaan alasnya yang tidak rata. Tapi ia mencoba untuk tidur. Menyimpan energi untuk esok hari. Entah apa yang akan dilakoninya esok pagi, tapi kehidupan sebagai tawanan perang tidak akan mudah.
Sebelum ia benar-benar terlelap, pikirannya melayang pada satu sosok yang sudah amat ia rindukan.
Baekhyun-ah, Hyung merindukanmu..
-o0o-
Hujan lagi malam ini. Pemuda itu sudah berjalan hampir seharian ini. Bahkan sejak kemarin ia terus berlari. Pakaian pemuda itu basah. Rambutnya sudah acak-acakan dan nafasnya masih sesenggukkan. Entah ia bisa disebut menangis atau tidak karena tidak ada lagi air mata yang keluar dari matanya.
Pemuda itu ambruk di emperan sebuah kedai. Ia menyandarkan tubuh ringkihnya di sudut pintu masuk dan dinding. Ia kembali sesenggukkan. Tangannya mengepal di dadanya dan ia terus menggumam sesuatu yang tidak jelas.
"Terimakasih, datang lagi ke kedai kami!" suara itu berasal dari pintu masuk kedai tersebut. Seorang wanita tua yang mengenakan apron sedang membungkuk pada orang yang baru keluar dari kedai ini. Pemuda itu tidak mempedulikannya. Ia terus menggumam tidak jelas dan badannya bergetar. Mungkin karena kedinginan, mungkin juga karena tekanan yang ia miliki.
Namun yang mempedulikannya justru wanita tua yang kini memperhatikan pemuda itu. Ia masuk ke dalam lagi dan selanjutnya ia keluar bersama seorang lelaki yang sama tuanya dengan wanita itu.
"Hei, anak muda, apa yang kau lakukan di tengah hujan begini? Hei!" Lelaki tua itu mengguncang bahu pemuda itu pelan.
"Yeobo, apakah dia baik-baik saja?" kata wanita tua di sebelahnya.
Pemuda itu terisak pelan. Kemudian pandangannya berputar dan mengabur. Efek kedinginan serta tenaganya yang habis, tubuhnya tidak mampu bertahan lagi. Pemuda itu pingsan.
"OMO! Pemuda itu pingsan bagaimana ini? Cepat bawa ke dalam Yeobo!" Wanita tua itu segera membuka pintu kedai mereka dan pria tua tadi segera membopong tubuh kurus pemuda tadi masuk ke dalam.
Dalam gendongan lelaki tua itu, pemuda tersebut kembali menggumamkan kata-kata seperti mantra.
"Luhan Hyung…Hyung..kau dimana..Luhan Hyung…"
.
.
.
.
.
TBC
Hai! Thanks a lot for those amazing people who read and comment on the chap 1! Hehehe, seneng banget ada yang review, aku kira bakalan sepi dang a ada yang mau baca ni cerita hehe, ini diupdate juga karena aku seneng sama yang review hehe ^^
Maaf kalo ceritanya ngebosenin, dan lagi ada yg Tanya, ini genrenya saeguk bukan, aku juga baru tau kalo seguk artinya sejarah ―" mungkin iya, hehe tapi karena aku ga pinter sejarah, nama-nama kerajaannya dikarang aja yaa hehehe
Buat jaman joseon juga, aku ga terlalu paham sejarah korea, jadi kayaknya bukan haha. Lebih ke victorianAU kali ya? .-. hehehe
Buat Baeklu, pengen amet cepet ketemu hehehe, mungkin masih lama, wkwkwk, banyak dramanya nih, yang sabar ya T^T
Hunhan moment…next chapter! Kekeke
Anyway, thanks to :
Krasivyybaek, SFA30, sehunhan, , Nurfadillah, Kuminosuki,HHSKTS, zoldyk, tjabaekby, himekaruLl, hunhan721, Viyomi, 48BemyLight, DEERHUN794, Majey Jannah 97, viraardilla, LisnaOhLu120, NoonaLu, hunhanminute, JYHYunho, choHunhan, beng beng max, sukhyu, winter park chanchan, kimhanna226
Dan yang Cuma numpang baca aja, sekali-kali review ya, biar semangat updatenya :*
p.s : ada yg tau cara bales coment gimana? Aku pengen bales tapi ga dong caranya ―"
