Chapter 3

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

SORRY FOR TYPO *BOW*

Happy Reading ^^v

"Kakek! Aku berangkat dulu ya!"

"Oh Baekhyun-ah! Hati-hati di jalan, mi nya jangan sampai tumpah!"

Baekhyun tersenyum kemudian melambaikan tangannya pada kakek yang sedang membereskan meja. Ia melambai sekali lagi melihat nenek baru keluar dari dapur dan membawa semangkuk mi panas yang baru jadi. Ia kemudian melangkah santai meninggalkan kedai yang seminggu ini sudah menjadi tempat tinggal barunya.

Matanya tak henti-hentinya melirik sana-sini. Disamping kanan kirinya selalu penuh oleh toko-toko dan kedai. Tak pernah ia lihat yang seperti ini. Di desanya dulu, ia biasanya hanya melihat sawah, kebun jagung atau gandum, dan kedai-kedai kecil. Toko-toko barang, baju atau apapun itu terletak jauh dari tempat ia tinggal. Lagipula ia dan Hyungnya jarang sekali berbelanja.

Hyung…

Sedang apa ia sekarang…

Baekhyun larut dalam pikirannya sendiri. Mengingat Hyungnya selalu membuat emosinya turun. Ia menghela nafas sekali kemudian menghentikan langkahnya. Menunduk, memandang kakinya yang menapak di tanah yang tidak biasa ia pijak selama 17 tahun terakhir hidupnya. Tidak ada sepasang kaki lagi yang selalu berjalan disampingnya. Menemaninya, menjaganya, tak ada lagi Hyungnya.

Baekhyun menyeka matanya dengan kasar ketika ia merasa air mata berkumpul di sana. Ia tidak boleh menangis. Ia tidak boleh lagi cengeng. Ia harus hidup mandiri, kuat, dan akhirnya ia akan sukses dan menemukan Hyungnya.

"Baunya enak,"

Baekhyun yang mendengar suara seseorang mendongakkan kepalanya hanya untuk melihat tidak ada apa-apa di depannya. Ia mengernyit bingung. Yakin jika ia tadi mendengar suara.

"Permisi,"

Baekhyun sekarang merasa jika ujung bajunya sedang ditarik-tarik dari belakang. Spontan ia menengok ke belakang dan pandangannyatidak melihat ada seseorang di sana. Kerut di dahinya semakin menjadi.

"Di bawah sini.."

Bekhyun langsung menundukkan kepalanya. Ketika mendengar bahwa ia dibawah, Baekhyun berharap mendapati seorang anak kecil yang di sana. Namun, apa mau dikata, ia malah mendapati sesosok pria dewasa yang berjongkok di depan kotak kayu yang ia bawa untuk mengantar mi. Wajahnya menengadah ke atas, menampakkan matanya yang besar dan bibirnya yang melengkung ke bawah. Minta dikasihani.

"Apa yang kau lakukan di bawah sana?" Tanya Baekhyun setelah menatasi keterkejutannya.

"Ini…" Katanya sambil menunjuk kotak kayu yang Baekhyun bawa.

"Apa?"

"Mau ini.."

"Apa maksudmu?"

Pria itu memandang Baekhyun lama kemudian ia kembali memandang kotakan kayu yang Baekhyun bawa. Tangannya yang sebelumnya terlipat rapi di perutnya mulai melurus dan menggenggam kotakan kayu yang Baekhyun bawa.

"Ya! Kau mau apa?!" Teriak Baekhyun saat dia sadar pria ini mencoba mengambil kotakan mi yang ia bawa.

Pria itu kembali menatap Baekhyun. "Mau makan ini.." Tunjuknya tetap pada kotakan kayu yang Baekhyun bawa.

Baekhyun memandang kotak kayu yang ia bawa. Lalu menatap pria dewasa dibawahnya dengan pandangan heran. "Kau…makan kayu?"

Pria dewasa itu gentian menatap Baekhyun heran. Ia kemudian berdiri. Baekhyun menahan nafasnya ketika pria itu mulai berdiri perlahan. Membuangnya beberapa detik kemudian ketika pria itu sudah sepenuhnya berdiri. Baekhyun yang tadinya harus menundukkan kepalanya ketika menatap pria itu, kini ia harus menengadahkan wajahnya jika ia ingin berbicara dan menatap lawan bicaranya. Atau jika tidak, ia hanya akan berbicara dengan dada pria itu.

Baekhyun menelan ludahnya.

"Aku ingin makanan yang di dalam situ!" Katanya masih sambil menunjuk-nunjuk kotakan mie.

Baekhyun mengangkat kotakan kayunya. "Tidak boleh," katanya santai. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, ia meninggalkan pria itu dan melangkah pergi menuju rumah orang yang memesan mi di kedai kakek dan nenek. Baekhyun berjalan agak cepat karena waktunya sudah disita banyak oleh pria aneh tadi.

"Aku lapar!"

Pria itu ternyata mengikutinya. Sekarang ia menarik-narik lengan baju Baekhyun, karena ia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Baekhyun yang berjalan duluan. Baekhyun melihat tangan pria itu masih menggenggam erat lengan baju baekhyun.

Kaki panjang sialan, kenapa bisa sampai menyusulku sih!

Baekhyun menghiraukannya. Ia tetap berjalan walaupun pria di sebelahnya tetap menggenggam bajunya dan mengulang kata lapar di telinga Baekhyun. Pria itu tetap bersikeras mengikuti Baekhyun bahkan sampai Baekhyun mengetuk pintu rumah orang yang memesan mie nya.

"Permisi! Pesanan mie datang!"

Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintunya. Wanita itu tersenyum ramah pada Baekhyun dan juga pria di sebelahnya.

"Ah, Baekhyun-ah, kau sudah datang…" Wanita itu hendak mengambil kotakan mie Baekhyun, namun Baekhyun menghalanginya.

"Bibi, kau kan sedang mengandung, jika bibi tidak keberatan, aku saja yang bawa ke dalam," ucap Baekhyun ramah.

Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Ia mempersilahkan Baekhyun dan lelaki di sampingnya masuk. Baekhyun sesampainya di meja makan rumah wanita itu segera meletakkan tiga mangkuk mie di meja itu.

"Makanlah selagi masih hangat Bi, agar aegyanya senang juga," Baekhyun tertawa ramah.

"Ah, kau bisa saja Baekhyun-ah, jadi berapa semuanya?"

Setelah mendapat bayaran dan juga tips dari wanita baik hati itu, Baekhyun pamit pulang. Membungkukkan badannya dan mengucapkan salam karena ia memang di didik untuk menjadi anak yang tahu sopan santun. Pria di sebelahnya? Baekhyun terpaksa mencengkram kepalanya agar ia mau membungkuk. Memang dasar pria aneh yang tidak tahu sopan santun!

Saat mereka mulai berjalan pulang, pria itu masih saja mengikuti Baekhyun. Namun, Baekhyun juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengusir pria aneh itu. Sebaliknya, ia terlihat santai, malah ia bersenandung sembari berjalan pulang.

"Kenapa mi punyaku kau serahkan pada orang lain?" Kata pria itu setelah sekian lama mereka berdua diam.

"Karena mi itu memang bukan milikmu dari awal. Mi itu sudah dipesan orang lain tahu,"

"Tapi aku lapar, aku ingin makan!"

Baekhyun berdecak kesal. "kau pikir orang yang memesan mie tadi tidak lapar huh? Kau ini pria dewasa, jangan seperti anak-anak dan bersikap egois, dasar!"

Baekhyun tidak bermaksud membentak atau mengatai pria disebelahnya itu dengan maksud menyakiti. Tidak! Baekhyun hanya menyatakan yang sebenarnya. Lagipula dalam hidup ini kan kita harus selalu jujur. Tapi ternyata pria itu malah terdiam dengan ucapan Baekhyun. Ia seperti terkena pukulan tepat di ulu hatinya. Ia hanya diam dan menatap Baekhyun lama. Matanya sudah berkaca-kaca dan bibirnya mulai bergetar.

"Y-ya, k-kau kenapa?"

Pria itu mengusap matanya yang mulai berair dengan kasar. "Aku tidak egois! Dan aku bukan anak-anak!"

Baekhyun menganga. Pria dewasa yang lebih tinggi darinya ini menangis. Menangis. Demi Tuhan. Apa-apaan ini?!

"Y-ya! Kenapa kau malah menangis…aish, berhentilah menangis," Tanpa ba-bi-bu lagi, Bekhyun langsung mendekap pria raksasa itu dalam dekapannya. Ia berjinjit untuk bisa membelai halus rambut pria itu. "Sudah…sudah…berhentilah menangis, nanti dewa hujan tidak mau menurunkan hujannya lagi karena airnya dipakai untuk menangis, sudah ya…"

Pria itu masih terisak di dekapan Baekhyun. "Me…memang ke-kenapa kalau ti-tidak hujan?" Katanya di sela-sela tangisannya.

Flashback

"Baekhyun-ah, kenapa kau menangis?" Hyungnya yang baru saja pulang dari bekerja langsung berlari memeluk Baekhyun kecil yang menangis.

"Hyung, Baekhyun lapar, ingin makan hyung…"

Luhan menurunkan bahunya yang menegang. Adiknya ternyata lapar…

"Baekhyun-ah, jangan menangis, nanti kalau kau menangis, dewa hujan tidak mau menurunkan hujannya, karena ia marah airnya kamu pakai menangis semua, jangan menangis ne?"

Baekhyun yang masih terisak memandang Hyungnya lucu. "Me-memang kenapa kalau tidak hujan hyung?"

Luhan tersenyum memandangi adiknya. "Nanti ladang akan kering Baekhyun-ah, dan hyung tidak lagi punya tempat bekerja. Tidak akan lagi ada Ajjushi yang memberi kita ketela karena ketelanya tidak tumbuh. Nanti kita tidak bisa makan Baekhyun-ah, makanya, jangan menyia-nyiakan air matamu oke?"

Baekhyun mengangguk mendengar ucapan Hyungnya. Hyungnya tersenyum puas dan mengacak rambut Baekhyun sayang.

"Hyung akan memasak nasi hari ini, dengan sayur bayam, kau suka kan?"

"Be-benar hyung? Kita punya nasi?"

"Tentu saja! Tadi hyung diberi Bibi Gong beras. Memang tidak banyak, tapi cukup untuk beberapa hari jika kita berhemat. Baekhyunnie suka kan?"

"Umm! Tentu saja hyung!Ayo cepat masak Hyung, Baekhyun sudah lapar!"

Flashback end

"Hyung…"

"Huh, kau bicara apa?" Pria tadi melepas pelukan Baekhyun. Baekhyun tersadar dari lamunannya dan menatap pria di depannya yang bermata sembab dan bibir memerah. Laki-laki di hadapannya ini sebenarnya cukup tampan. Rambutnya juga hitam. Dan bentuknya seperti mangkuk. Baekhyun melihat lagi pria di hadapannya dengan seksama. Selain tingkahnya yang aneh, ternyata pria ini juga memiliki telinga yang aneh.

"Hei, kau melamun?"

Baekhyun tersadar dari lamunannya dan tersenyum. "Ah, ani.. aku tidak bicara apa-apa kok,"

Kruyuuuk

Baekhyun yang mendengar suara itu tertawa pelan. "Kau benar-benar lapar ya?"

Pria itu mengangguk sambil memegangi perutnya yang berbunyi.

"Oh, siapa namamu?"

"Chanyeol."

"Hanya Chanyeol?"

"Ya."

"Margamu Chan? Aneh sekali…" Baekhyun hanya menggumamkan kalimat terakhir agar tidak menyakiti hati lawan bicaranya. "Baiklah Chanyeol, kau suka mie kan?"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Aigo, makannya pelan-pelan saja anak muda," Nenek memberikan mangkuk ketiga yang langsung disambar oleh Chanyeol.

Baekhyun hanya memperhatikan pria disampingnya dengan tatapan setengah jijik dan kagum. Jijik karena dia makan dengan sangat cepat, dan kagum juga karena alasan yang sama. Baekhyun tau pria ini pasti sangat lapar. Saat pria ini mengikutinya, ia memang tak berniat meninggalkannya. Padahal, secara nalar, ia tidak boleh langsung percaya pada orang yang baru ditemuinya seperti tadi. Tapi kepolosan di diri pria ini yang membuat Baekhyun menjadi tak tega dan membiarkannnya mengekori Baekhyun. Apalagi saat Baekhyun melihatnya menangis. Ia jadi seperti ingin melindungi pria yang notabene ukuran tubuhnya 2 kali dari badannya sendiri.

"Kau harus selalu membantu orang lain Baekhyun-ah, apa artinya hidup jika kau tidak tahu bantu membantu sesama orang lain, kau mengerti?"

Ya, hyung, aku mengerti sekarang.

Baekhyun terus menatap Chanyeol yang masih sibuk mengunyah minya dengan cepat. Sesekali ia mengangkat mangkuknya untuk menyeruput kuah mie yang ada. Mie buatan nenek memang luar biasa! Baekhyun jadi senyum-senyum sendiri memandang Chanyeol seperti ini.

"Mi nya sangat enak! Aku kenyang!" Chanyeol berbicara sembari masih mengunyah mienya.

"Kalau kau sudah selesai, kau harus membantuku cuci piring," Baekhyun berkata dengan santai.

Nah, yang diajak berbicara menatapnya dengan bingung. "Cuci piring? Tidak mau!"

"Kalau begitu, apa kau punya uang untuk membayar 3 mangkuk mi mu itu?" Kata Baekhyun masih santai.

Chanyeol terdiam.

"Sudah kuduga. Jadi diam saja dan sekarang, kau ikut aku," Baekhyun menumpuk 3 mangkuk mi yang telah bersih dari isinya itu dan menyerahkannya paksa pada Chanyeol. Ia kemudian menarik lengan Chanyeol dan meniringnya ke dapur.

"B-baekhyun?" Baekhyun menoleh ke belakang, mendapati wajah panik Chanyeol di sana. Lagipula baru kali ini Baekhyun mendengar suara baritone itu memanggil namanya.

"Apa?"

"Aku-umm, tidak tahu cara cuci piring?" katanya kikuk.

"…"

"Aku berkata sungguh-sungguh Baekhyunnie!"

Baekhyunnie? Sejak kapan kita menjadi dekat Chanyeollie?

Tunggu, Chanyeollie? Aku sudah gila ya?

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Tak terasa hari sudah malam. Bahkan ini waktunya kedai untuk tutup. Baekhyun masih mengelap meja dengan semangat. Dan Chanyeol yang entah kenapa dari tadi tidak mau pergi dan masih saja menempel pada Baekhyun kini sedang menaikan kursi kursi ke atas meja yang sudah di lap.

Karena Baekhyun sudah selesai mengelap meja, ia menghampiri Chanyeol yang masih saja, secara kikuk membalikkan kursi-kursinya.

"Hei," Baekhyun menowel lengan Chanyeol. "Hei, hei, hei," Baekhyun terus menowel lengan Chanyeol karena Chanyeol tak kunjung menolehkan kepalanya yang besar itu.

Saat towelan ke Sembilan mengenai lengannya, Chanyeol menengok ke arah Baekhyun.

"Apa?" katanya singkat dan datar.

"Umm-kau tidak pulang? Apakah keluargamu tidak mengkhawatirkanmu?"

Chanyeol diam. Namun tatapan nya masih mengarah pada Baekhyun yang mulai gelagapan karena ditatap seperti itu oleh Chanyeol.

Gelagapan? Tapi kenapa?

"…Tidak." Chanyeol menjawabnya setelah beberapa saat hening melingkupi mereka berdua. Jawabannya terkesan dingin. Beda dengan Chanyeol polos dan ceria siang tadi.

"Tapi-"

"Bolehkah aku tidur di sini?"

"Apa?"

"Aku tidak punya tempat tinggal Baekhyunnie, boleh ya?" kini ia kembali lagi jadi Chanyeol si tukang senyum

"Apa kau pikir kedai ini penampungan huh?"

"Aigo Baekhyun-ah, sudahlah, biarkan saja Chanyeol-ah tidur denganmu, lagi pula Chanyeol telah membantu banyak di kedai ini,"

Chanyeol tersenyum bangga mendengar ucapan nenek. Sedangkan Baekhyun hanya mendecih. Saat cuci piring, Baekhyun serasa kerja dua kali karena Chanyeol benar-benar tidak tahu cara cuci piring. Saat menyuruhnya menyapu halaman, ia malah menumpahkan tong sampah dengan sapunya.

"Lagi pula kami akan tenang karena ada Chanyeol yang bisa menjaga kedai ini bersamamu," kakek sekarang ikut-ikutan menimpali.

Baekhyun mendesah pasrah. "Baiklah, hanya karena kakek dan nenek mengijinkan,"

Chanyeol dengan segera menghampiri Baekhyun dan memeluknya. "Yay! Kita akan tidur bersama!"

….

Baekhyun menyalakan lampu loteng dan berjalan memasukinya. Diikuti Chanyeol di belakangnya. Ia berjalan ke arah lemari kemudian mengeluarkan kasur dari sana. Bantal serta selimut extra kali ini.

"Kita akan tidur di sini?" Chanyeol memandang sekeliling loteng. Loteng ini tidak luas. memang lapang karena tidak banyak barang di sini. Namun memang ini bukan ruangan luar. Juga tinggi karena Chanyeol harus sedikit membungkuk di beberapa sisi loteng ini.

"Ya, kau tidak suka?"

"Tidak! Aku menyukainya! Ini sangat keren!" Chanyeol terus mengelilingi loteng yang tidak luas ini. Ia berhenti di sebelah kkanan loteng dimana ada jendela yang menghubunggkan loteng ini dengan dunia luar.

"Wow.." Baekhyun yang mendengar Chanyeol hanya tersenyum.

"Kau menyukai pemandangannya? Kupikir ini masih kurang tinggi untuk memandang seluruh kota," Baekhyun yang baru saja selesai menata kasur segera menghampiri Chanyeol yang masih berdiri di sana.

"Aku tidak memandang kota, aku memandang bangunan besar itu,"

"Oh, istana? Kenapa?" Suara Baekhyun tiba-tiba menjadi dingin.

"Aku tidak pernah memandangnya dari jauh sebelumnya,"

"Oh, apakah kau juga bukan berasal dari daerah di sekitar sini?"

"Juga? Kau bukan berasal dari daerah di sekitar sini?"

Baekhyun tersenyum miris. "Tidak, aku bahkan berasal dari tempat yang sangat jauh dari sini,"

"Oh, di mana?"

"Entahlah, desa itu mungkin juga sekarang sudah tidak ada lagi,"

Chanyeol terdiam. "Apa maksudmu?"

"Aku ini pelarian perang tahu," Baekhyun tersenyum sekilas kemudian melangkah meninggalkan Chanyeol.

"O-oh, aku minta maaf kalau begitu," Chanyeol mengikuti Baekhyun yang berjalan ke arah kasur.

"Kau tidak perlu minta maaf Chanyeol-ah, itu bukan salahmu, hanya saja orang-orang keparat itu," Baekhyun mengepalkan tangannya. Ia menghembuskan nafas menenangkan dirinya yang mungkin akan kalap dan menangis jika ia tidak mengontrol emosinya.

"Siapa orang-orang keparat itu Baekhyun-ah?"

Baekhyun mulai membaringkan tubuhnya. Ia sedikit bergeser ke kanan agar Chanyeol mempunyai tempat untuk tidur.

"Raja-raja bodoh itu.. siapa lagi.."

Chanyeol yang mulai berbaring langsung mengernyit ke arah Baekhyun yang menatap langit-langit loteng-kamar mereka.

"hei, kenapa kau menyebut seorang raja bodoh?"

"Bodoh. Tentu saja mereka bodoh. Yang ada di pikiran mereka hanya kekuasaan, tanah, harta, tanpa memperdulikan tindakan mereka itu menyakiti banyak orang. Mereka tolol karena mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri,"

Baekhyun balas menatap Chanyeol. Dan dari tatapan itu, Chanyeol dapat merasakan kesedihan, keputus asaan, beban, dan kekhawatiran mendalam. Chanyeol menatap Baekhyun dalam. Apa saja yang sudah dilalui pria kecil ini sehingga ia menjadi seperti ini.

"Apakah…sesuatu terjadi padamu?" Tanya Chanyeol hati-hati.

Baekhyun tertawa hambar. "Yah, mereka mencuri hal yang sangat berharga di hidupku. Satu-satunya yang berharga,"

Baekhyun tertawa melihat ekspresi Chanyeol yang tambah menekuk alisnya itu bingung. "Aku tidak membicarakan harta Chanyeollie, aku hanyalah petani miskin di derah kami. Tapi di sana, aku hidup bahagia. Sangat. Bersama hyungku tentu saja,"

"Lalu, di mana hyung mu itu sekarang?"

"Dia yang mereka curi Chanyeol-ah, Hyungku." Baekhyun terdiam sejenak. Wajahnya kembali ia palingkan ke atap loteng. "Aku anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Aku tumbuh hanya dengan kasih sayang dan kesabaran Hyungku dalam mengurusku. Umurnya waktu itu hanya 12 tahun, tapi ia sudah telaten mengurusi aku yang cerewet dan banyak maunya," Baekhyun lagi-lagi tertawa. Namun di sini, Chanyeol sudah melihat pancaran basah dari mata Baekhyun.

"Dia adalah orang paling baik hati yang pernah kukenal. Bukan karena dia hyung ku atau apa, tapi dia benar-benar mempunyai hati seperti malaikat, sore itu…di hari penyerangan itu, dia mengorbankan keselamatannya sendiri untukku,"

Pertahanan Baekhyun runtuh. Ia menangis. Lagi. Entah untuk yang keberapa kali.

"ia tertusuk panah yang harusnya ditujukan untukku. Dia menyerahkan dirinya sendiri agar aku bisa berlari lebih jauh. Menyelamatkan diriku sendiri tanpa memikirkan bagaimana nasib hyungku sendiri. Aku memang adik yang bodoh Chanyeol-ah, tidak tahu diri dan terimakasih, aku…aku menyesal meninggalkannya sore itu…aku…"

Baekhyun ditarik ke kiri. Masuk dalam dekapan hangat Chanyeol. Tangan kekar Chanyeol melingkar erat di punggungnya. Salah satu tangannya mengelus pelan rambut Baekhyun. Menenangkannya.

"Sshh, jangan menangis, nanti jika kau menangis, dewa hujan tidak mau menurunkan hujannya lagi, karena airnya sudah terpakai semua untukmu menangis, kau tidak mau itu terjadi kan Baekhyun-ah? Shh, uljima, jangan menangis lagi,"

Baekhyun ingin tertawa jika saja ia sedang tidak menangis sekarang. Baekhyun hanya menggenggam baju yang Chanyeol kenakan dengan erat.

"Itu bukan salahmu Baekhyun-ah, hyungmu melakukannya karena ia sangat menyayangimu, jangan menangis, ne? Hyung mu akan menyesal membiarkanmu pergi hanya untuk melihatmu menangis setiap malam. Sshh, tidurlah Baekhyun-ah, aku di sini…"

Kelopak mata Baekhyun lambat laun mulai terasa berat. Ia kemudian mulai tertidur. Masih dalam dekapan hangat Chanayeol dan suara baritone nya yang menengangkan. Ia mulai terlelap, masuk ke dalam alam mimpi…

.

.

.

-o0o-

.

.

.

CTAR!

"BEKERJALAH LEBIH CEPAT BUDAK-BUDAK BODOH!"

Suara cambuk yang dihempaskan lagi ke lantai merupakan suara yang biasa ditempat menyeramkan ini. Bahakan tak jarang cambuk itu beralih memukul punggung atau bagian tubuh lain dari para budak di penjara ini.

Luhan menyeka peluh yang memenuhi dahinya. Sudah seminggu ia mulai hidup di neraka ini. Setiap pagi mereka akan dikeluarkan dari sel mereka. Dengan tangan yang diborgol dan rantai di leher yang saling dihubunggkan antar tawanan melalui kalung kulit yang harus mereka kenakan. Hal itu bertujuan agar para tawanan ini tidak mempunyai jalan untuk kabur, selain untuk mempermalukan dan merendahkan posisi para tawanan tersebut.

Lalu mereka akan diijinkan ke kamar mandi selama 15 menit. Rantai di leher mereka akan dilepas. Menyisakan borgol di tangan mereka. Melakukan apapun yang sekiranya perlu dilakukan di kamar mandi itu selama 15 menit. Kemudian mereka akan ditarik lagi menuju 'ruang kerja' mereka. Hanya lapangan yang dipenuhi batu-batu dan menunggu untuk dipecahkan.

Mereka akan bekerja berjam-jam tanpa stop. Kemudian mereka akan diberi makan seadanya di aula. Rasanya tentu saja tidak enak. Bahakan terkadang makanan yang disajikan sama sekali tidak ada rasanya. Namun bekerja seharian dengan jatah porsi makan hanya satu kali membuat Luhan selau menghabiskannya. Bersyukur ia masih diberi makan, tidak dibiarkan kelaparan dan mati mebusuk di tempat ini.

Luhan mengayunkan lagi kapak besinya ke arah batu-batu hitam tersebut. Dari dahinya mengalir terus peluh tanda ia sudah bekerja sangat keras. Di sekitarnya, banyak suara-suara kapak berdentingan dengan batu. Setiap orang di tempat ini memang harus mau memeras keringat mereka jika ingin tubuh mereka setidaknya bersih dari luka-luka pukulan. Luhan sendiri karena sering bekerja di ladang, pekerjaan seperti ini memang sudah biasa baginya. Wlaupun memang melelahkan sekali. Luhan hanya pernah sekali kena pukul pada bagian wajahnya karena jatuh saat sedang bekerja. Mungkin karena penjaga mengiranya sedang istirahat karena posisinya yang tidur mengkurap, begitu pikir Luhan. Sekarang, ada luka di sudut bibir Luhan yang masih membekas.

"Ya! Berhenti! Taruh kapak kalian di dinding dan segera berbaris di sini setelahnya! Cepat! Atau kalian tidak akan makan malam ini!"

Luhan beranjak dari posisinya menuju dinding sebelah kanan yang digunakan untuk meletakan kapak-kapak yang digunakan para pekerja. Setelahnya, Luhan segera berlari untuk menyusul para tawanan lain yang sudah berbaris lurus memanjang. Begitu ia sampai, ia langsung menyodorkan tangannya kedepan. Melihat itu penjaga menyeringai dan langsung memborgol tangan Luhan. Kemudian ia memasangkan rantai di leher Luhan untuk menghubungkannya dengan tawanan lain.

Mereka lalu digiring menuju aula untuk mendapat jatah makan mereka. Luhan berada di barisan agak belakang. Setelah tiba gilirannya di pintu masuk, petugas membuka rantai yang dikaitkan di 'kalung' leher Luhan. Namun penjaga tidak membuka borgol tangan Luhan. Karena beberapa hari yang lalu, seorang tawanan mencoba kabur dengan memukul penjaga yang akan memasukkannya ke sel. Hal itu membuat para penjaga kini lebih waspada.

Luhan menerima makanannya dengan tak lupa mengucapkan terimakasih. Ia membawa nampannya hati-hati. Menu hari ini hanay sup encer yang didalamnya hanya ada wortel dan kentang. Lalu ada satu buah roti sebagai pelengkapnya. Makanan seperti ini cukup mewah jika disajikan di tempat ini.

Luhan mencari ruang yang kosong untuk diduduki. Tidak ada meja atau kursi di sini. Semua tawanan duduk di lantai yang dingin. Alih-alih menemukan tempat kosong, matanya mendapati anak muda yang sedang mengorek mangkuk supnya dengan jarinya kemudian memasukkannya jarinya itu ke mulutnya.

"Jongkook-ah, boleh hyung duduk di sini kan?" Luhan tersenyum pada anak laki-laki yang dipanggil Jongkook itu. Jongkook mengangguk kemudian kembali mengoreh mangkuk supnya yang sebenarnya sudah sangat bersih itu.

Jongkook adalah salah satu orang yang dekat dengan Luhan selama di penjara ini. Sebenarnya Jongkoook itu baru berusia 15 tahun, namun karena postur badannya tinggi, sepertinya petugas mengira ia adalah pria dewasa yang sama seperti Luhan. Padahal seharusnya, Jongkook tidak harus berada di sini. Siapa tahu kehidupannya bisa lebih baik.

Luhan yang memandangnya jadi tidak sampai hati. Ia menuangkan separuh supnya kedalam mangkuk kosong Jongkook.

"Makanlah lagi kalau masih lapar, kau sedang tumbuh, mana mungkin makanmu sedikit," Luhan tertawa. Kemudian ia mulai menyendok supnya yang tinggal separuh itu.

Jongkook memandang Luhan tidak percaya. Pasalnya makanan di tempat ini sungguh barang mewah. Mereka harus mendapatkannya dengan kerja keras dan hanya mendapat jatah satu kali makan saja. Dan lagi, ini bukan pertama kalinya Luhan memberikan makanannya pada Jongkook.

"Hyung, nanti kau bagaimana?" Jongkook hendak mengembalikan supnya ke dalam mangkuk Luhan. Namun, luhan segera menghentikannya.

"Hyung gwenchana, kau makan saja ya," katanya dibarengi senyum tulus.

"Tapi-"

"Tidak apa-apa Jongkook-ah, kau butuh nutrisi mengerti, jangan sampai tumbuh pendek seperti Hyung, haha,"

Luhan tertawa renyah kemudian melanjutkan makannya. Memang agak susah dengan borgol di tangannya. Tapi untunglah rantainya cukup panjang untuknya memegang mangkuk dan mengarahkan sendok ke mulutnya.

"Terimakasih Hyung," Jongkook segera menyendok kembali sup yang ia terima. Harus cepat karena jam makan malam hampir berakhir. Luhan yang melihatnya tersenyum senang.

"Hyung, pasti adik Hyung sangat bangga mempunyai Hyung sepertimu," Jongkook berkata setelah merampungkan makannya. Kini mereka sedang berjalan untuk berbaris kembali.

Luhan tersenyum mendengarnya. "Memangnya kenapa Jongkook-ah?"

"Kau manis, kuat, penyayang, terlebih lagi, kau sangat baik Hyung, aku akan heran jika kehidupan sebelummu bukanlah malaikat,"

Luhan tertawa mendengarnya. Ia mengacak rambut Jongkook pelan dan merangkulnya untuk berjalan ke barisan yang mulai terbentuk. Karena mereka harus berbaris sesuai urutan sel sehabis makan malam, Luhan berada di barisan paling akhir.

"Tidurlah yang nyenyak malam ini! Karena besuk, kalian harus bekerja sangat keras dan tanpa kesalahan sedikit pun! Kita akan kedatangan tamu yang secara khusus akan mendatangi kalian! Bergembiralah karena Raja akan datang ke tempat ini besok!"

Itu lah pesan yang diungkapan pimpinan penjara sebelum tawanan digiring kembali masuk dalam selnya. Kini Luhan sudah berada di depan selnya. Taehyung yang bertugas malam itu sedang membuka rantai leher Luhan. Agak lama, karena Taehyung selalu melakukannya hati-hati. Tidak seperti petugas lain yang dengan kasar langsung menghentakan rantainya, Taehyung berusaha untuk tidak semakin menyakiti mereka yang sudah menderita ini.

"Taehyung-ah,"

"Ne Hyung,"

"Kau ini tidak cocok bekerja di penjara, kau terlalu lembut tahu" kata Luhan pada Taehyung yang masih sibuk. Yang diberitahu malah tertawa.

"Yah, mau bagaimana lagi Hyung, sebenarnya aku pun tak suka, tapi keluargaku butuh uang, dan yah…kau tahu lah," Taehyung tersenyum. Ia telah selesai membuka rantai leher Luhan. Sekarang, ia mengeluarkan kunci dari sakunya untuk membuka sel Luhan,"

"Kenapa kau tidak coba cari pekerjaan baru?"

"Hanya ini satu-satunya pekerjaan tersedia yang tidak membutuhkan gelar macam-macam Hyung," Tehyung tertawa hambar. Ia sedang mengunci sel Luhan karena Luhan telah masuk ke dalam selnya.

"Selamat tidur Hyung cantik," Taehyung melambaikan tangannya setelah memberikan senyum indahnya pada Luhan. Luhan hanya mendengus kesal setengah bercanda karena perkataan Taehyung yang memanggilnya cantik itu.

Luhan membaringkan tubuhnya pelan. Dilipatnya tangannya untuk kemudian dijadikan bantal. pandangannya tertuju tepat pada langit-langit sel yang mengurungnya. Pikirannya melayang kembali ke perkataan pimpinan penjara tadi.

Jadi besuk Raja akan datang? orang yang menyerang desa kami? Apakah besuk tidak akan terjadi keributan? Semoga saja tidak aka nada yang terluka…

Luhan menghela nafasnya kasar.

Sebaiknya aku tidur, besuk kami harus bekerja lebih keras lagi.

Selamat malam, semoga mimpi indah, Baekhyun-ah…

.

.

.-o0o-

.

.

.

"Chanyeol-ah! Ayo cepat! Kita harus mengantar mi ini pada pelanggan!" Baekhyun berteriak keras di depan kedai. Tangannya sudah menggenggam erat kotakan kayu yang berisi mi tersebut. Chanyeol yang baru saja keluar langsung merebut kotakan mie yang Baekhyun bawa.

"Aku yang bawa! Beerat!" Katanya tegas. Baekhyun hanya mendengus. Baru dua hari ini berkenalan dengannya saja sudah membuat Baekhyun pusing. Pria ini kadang bersikap sangat menggemaskan, tapi kadang juga ia bisa juga bersikap tegas. Seperti sekarang.

"Gomawo kalau begitu, ayo ikut aku," Baekhyun langsung berjalan dengan langkah santai. Baru seminggu di kota ini, ia sudah bagai raja jalanan. Lagi pula karena Baekhyun orangnya sangat ramah, ia jadi mudah bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Memperkenalkan diri sebagai keponkan kakek-nenek pemilik kedai.

Chanyeol yang berjalan di samping Baekhyun, matanya tak henti-hentinya memandang sosok di sampingnya ini. Pria yang jauh lebih pendek darinya. Yang cerewet dan pengatur, tapi sebenarnya dalah sosok lemah yang berusaha tegar. Pria yang mempunyai kulit putih dan halus ini. Pria yang terasa sangat pas jika berada dalam pelukannya. pria yang manis dan cantik. Pria yang baru dikenalnya kemarin tapi sudah berhasil mencuri perhatiannya.

"Kau sangat manis," Chanyeol berkata tanpa sadar.

"Apa?"

Mendengar suara Baekhyun, Chanyeol menolehkan pandangannya kembali ke depan dan berdeham.

"Kau harus jalan-jalan denganku sore ini," Chanyeol berkata mantap.

"Tidak bisa. Kita harus membantu nenek dan-"

"Aku sudah minta ijin! Kakek bilang boleh!" Chanyeol meninggikan suaranya.

Baekhyun membuka mulutnya untuk membalas.

"Nenek juga bilang tidak apa-apa!" Chanyeol memotong perkataan Baekhyun yang bahakan belum sempat terucap.

"Baik-baik, tidak perlu meninggikan suaramu seperti itu, kau mengajak orang kencan tapi malah seperti membentak," Baekhyun memutar bola matanya.

"Baekhyunnie menganggap ini kencan?" Chanyeol bertanya antusias.

"Apa? Ti-tidak, kapan aku berkata seperti itu, dasar," Baekhyun memalingkan mukanya yang memerah ke arah lain. Kemudian ia mendengar suara baritone itu melantunkan tawanya. Baekhyun menggigit bibirnya pelan. Karena sejujurnya, ia mulai tertarik dengan pria di sebelahnya ini.

Chanyeol tampan, Ya. Ia juga tinggi. Pria di sebelahnya ini jelas-jelas sangat atraktif. Namun bukan itu yang membuat Baekhyun tertarik. Chanyeol itu membingungkan. Kadang ia bersikap seolah anak-anak yang lugu, kemudian ia bisa juga menjadi seseorang yang tegas. Lalu malam itu…ia benar-benar mampu menjadi sosok yang Baekhyun butuhkan. Menjadi pelindung, penenang, seseorang yang mau menyandarkan bahunya untuk Baekhyun. Itulah alasan kenapa ia merasa tidak menyesal membiarkan orang ini mengikutinya siang itu.

Baekhyun kembali mengalihkan tatapan ke depan saat dirasa panas dipipinya sudah menghilang. Ia membelalakkan matanya saat tahu apa yang ada di depan.

"Sial, kenapa mereka semakin banyak saja sih,"

Chanyeol yang mendengar ucapan Baekhyun mengernyit bingung. "Baekhyun ada apa?"

"Itu, ada pasukan penjaga istana, kita harus pergi sekarang, aku sedang tidak punya uang dan malas berurusan dengan mereka,"

Chanyeol yang menengok ke depan juga ikut membelalakkan matanya sebentar. Ia sempat berdiam diri selama sepersekian detik sebelum berbelok mengikuti Baekhyun.

"Ah, kenapa pasukan sialan itu makin banyak lagi sih hari ini, tadi sebelum kita bertemu yang terakhir, kita sebenarnya juga sudah menghindari satu kelompok pasukan," Baekhyun berkata setelah pandangan mereka tidak lagi mendapati pasukan lain.

Baekhyun yang sebenarnya menunggu respon Chanyeol menolehkan kepalanya karena si lawan bicara tak kunjung memberi respon. Baekhyun menautkan alisnya bingung mendapati ekspresi Chanyeol yang sepertinya campuran antara khawatir dan tegang?

"Ya, kau kenapa?"

Chanyeol sedikit tersentak mendengarucapan Baekhyun. Ia lalu menolehkan wajahnya ke arah Baekhyun dan tersenyum kikuk. Malu karena ketahuan melamun mungkin?

"A-ah, tidak, bukan apa-apa kok,"

Baekhyun tak ambil pusing dengan jawaban Chanyeol. Ia malah meneruskan topic pembicaraan mereka sebelumnya.

"Tapi pasukan itu sepertinya mencari sesuatu. Mereka membawa seperti, kertas? Entahlah, pokoknya itu ditunjukkan ke orang-orang yang lewat," Baekhyun terlihat berpikir. Sedangkan Chanyeol hanya diam. Tapi ia kini jelas menyimak apa yang Baekhyun ucapkan.

"Tumben mereka bekerja, biasanya mereka hanya meminta-minta uang kami dengan paksa," Baekhyun mengedikan bahunya tak peduli.

"Mereka..meminta uang kalian dengan paksa?"

"Ya, mereka bilang untuk pajak macam-macam, tapi aku yakin mereka berbohong, mereka selalu menggunakan uang itu untuk minum di kedai minuman dekat kedai kakek dan nenek, dan jika kami tak menyerahkan uangnya, kami selalu kena pukul, begitulah,"

"Kau pernah dipukul?"

"Tentu saja," Baekhyun mengatakannya seolah hal itu sudah jelas. "Itu uang kakek dan nenek, aku tak mungkin menyerahkannya pada mereka kan?"

Chanyeol yang mendengarnya hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia yakin akan membuat perhitungan dengan penjaga-penjaga itu. Oh, betapa mereka akan menyesal telah bermain-main dengan kedudukan mereka.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Kau sudah mau pergi lagi?"

Sehun tersenyum memandang istrinya yang memputkan bibirnya lucu.

"Hmm, aku berjanji tidak akan lama kali ini,"

Yoona hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia lalu mendekati suaminya dan membenarkan kerah bajunya yang sebenarnya sudah rapi.

"Jaga kesehatan,"

"Hmm,"

"Jangan lupa makan,"

"Iya,"

"ingat, anak-anak tidak boleh bekerja Sehun-ah,"

"Arra,"

Yoona terdiam sebentar. Ia telah selesai membenarkan kerah suaminya. Kini tangannya berdiam di dada bidang Sehun.

"Jangan lupakan janjimu," katanya lirih.

"Janji?"

"Untuk menemukan laki-laki yang bisa mengandung Sehun-ah,"

Sehun mengeraskan rahangnya. "Tentu," ucapnya dengan terpaksa. "tentu saja Yoona-ya," ia menecup pelan puncak kepala istrinya. Menghilangkan ketegangan yang sempat ia rasakan. Kemudian beralih ke dahi istrinya, mencari ketenangan. Dan saat Sehun mencium bibir Yoona, ia melumatnya dengan tulus dan penuh cinta.

Ya, apapun akan kulakukan untuk Yoona.

"Kau juga jaga kesehatanmu, jangan lupa makan dan jangan terlalu lelah, jika ada apa-apa, kau bisa memanggil Yixing," Sehun memeluk istrinya sayang.

"Tentu Sehun-ah, dan terimakasih, terimakasih karena kau mau melakukannya untukku,"

Sehun mengangguk. Ia mengecup kilat bibir Yoona sebelum ia melepaskan pelukannya. kemudian ia berjalan keluar kamar, namun sebelum ia mencapai pintu, tangannya sudah lebih dulu ditahan Yoona.

"Ah, aku hanya memastikan, kau tahu kan, ciri pria yang mampu mengandung?"

"Tentu, jangan khawatir, aku pergi dulu oke?"

Sehun kembali melanjutkan langkahnya. Yoona melambai pelan ke arahnya. Menunggu sampai punggung suaminya hilang karena jarak.

"Yang mulia, aku membawakan obat-obatan dari tabib Yixing,"

Yoona tersenyum ke arah pria mungil bermata besar yang baru saja menghampirinya. "Tentu Kyungsoo-ah, masuklah, aku ingin mengobrol denganmu,"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai, hehe, ini chapter dua kali panjangnya dari chapter-chapter yang kemarin kan? Kayaknya, chap ini ga terlalu hurt lebih ke fluff, ya ga sih, hehehe, semoga kalian suka ya ^^v

Ini yang minta Chanbaek moment ^^v akhirnya Chanyeol sama Baekhyun ketemuuu ^w^

Hunhan ketemu next chapter yaa, aku mau ngetik ngantuk nih, hehe, lagi pula ni chapter udah panjang bgt ntar kalian bosen lagi "

Buat kaisoo….tunggu sampe Luhan sampe di kastilnya Sehun yaa, hehehe ^^" ini kyungsoo udah Nampak (?) tunggu aja kemunculan kemunculan berikutnya ^^

Aku seneng banget sama yang review, God bless you all! T.T makasih ya yg udah review, senengaja aku kalau tau ternyata ffku ada yang mau baca T.T

Anyway, thanks to :

Krasivyybaek, tjabaekby,hyunhyun, LisnaOhLu120, viyomi, NoonaLu, winter park chanchan, Majey Jannah 97, hunhan721, beng beng max, sehunhan, sukhyu, Urushibara Puterrizme( sorry, ga sempet bales di pm, hpku rusak jadi yah…hehe, thanks for reading and reviewing anyway ^^), .58, DEERHUN794, SebutLuhan3x, , nisaramaidah28, ruixi1, hunhanminute, Shierashie94, XiSena, elysetivch, mr albino, (fantasy? Umm, tapi ga ada naga-naganya yaa, heehe, luhan bisa hamil dan luhan keknya emang ntar menderita bgt deh ―" hehe), msluhan87, Ryou Han, Guest 1, karina, hunhips, dims, Sen, Cherry Blossom, han-tu, LUDLUD, AnggieChannieYL (omg, aku juga baru sadar, aaa, jadi malu, anggep aja udah ada ya heheh ^^"), bubbledeer, realYvRa, 1220 (mungkin rumit? Hehehe :p)

Maaf kalo ada yg ga kesebut, itu murni salah saya yang mengantuk *bow*, pokoknya thanks bgt yang udah review, keep review yaa, review mu semangatku buat lanjut nulis ;_;

.

Hayo Yang Cuma Mampir-Mampir Doang, Kali-Kali Review Ya :*