Chapter 4

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

Anyway, there will be mature content such as violation here. If you can't read this kind of thing, you can skip this part.

.

.

I warn you okay?

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

CTAR!

Suara cambuk yang sekali lagi menghentak tanah membuat Luhan menyentakkan bahunya kaget. Ia sekarang sedang berbaris bersama tawanan lainnya. Berdiri dan mendengarkan perintah pimpinan penjara mengenai apa saja yang harus mereka lakukan saat raja akan datang nanti.

Luhan mendengar pemimpin penjara ini masih berteriak teriak dengan suaranya yang berat dan terdengar galak. Sesekali Luhan dan tahanan lain menjawab segala perintah yang ditujukan ada mereka.

"Kalian harus hormat kepada Raja yang akan datang nanti! Tidak ada keributan! Dan jangan bekerja malas-malasan! Kalian para orang rendahan mengerti?!"

"Ya Tuan.." jawab Luhan dan tawanan itu serempak serempak.

Setelah pimpinan penjara mengutarakan beberapa-banyak tentu saja-ancaman hukuman kepada siapapun yang berani melanggar aturannya, Luhan dan tahanan lain digiring menuju tempat mereka akan bekerja. Borgol rantai yang memberatkan dan mengunci tangan mereka dilepas dan dengan sadar diri segera mengambil kapak besi untuk memecah bongkahan besar batu bara itu menjadi kecil-kecil.

Luhan kini tengah beruntung karena ia mendapat bongkahan batu yang sama dengan Jungkook dan beberapa orang lain yang tidak dikenal Luhan. Sesekali, jika tidak ada penjaga yang lewat atau mengawasi, Luhan ataupun Jungkook akan terlihat mengobrol satu sama lain.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Selamat datang Yang Mulia, selamat datang dipenjara ini," suara pimpinan penjara terdengar jauh lebih ramah kali ini. Walaupun masih berat dan menakutkan. Lelaki tua yang tegap itu bahkan memamerkan giginya yang menguning selagi ia membungkuk di hadapan pria tampan yang baru saja turun dengan gagah dari kuda hitamnya.

Sehun hanya mengangguk singkat pada pimpinan penjara itu. Ia mengalihkan tatapannya pada sekelilingnya. Gerbang yang tadi ia masuki sudah ditutup kembali. Sekarang ruangan cukup luas ini hanya diterangi cahaya obor di sekitar dindingnya.

"Yang Mulia, apakah Yang Mulia ingin minum-"

"Tidak. Aku tidak ingin lama-lama di tempat menjijikan ini. Kita langsung diskusikan saja apa yang perlu kita diskusikan."

Pimpinan penjara itu mengangguk menurut. "Baik, mari ikuti saya Yang Mulia,"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Yang Mulia, tidakkah lebih baik anda istirahat saja?"

Seorang wanita yang baru memetik bunga itu menghentikan aktivitasnya sebentar. Ia mendecak kesal sambil menatap orang yang baru saja mengajaknya bicara.

"Kyungsoo-ah, sudah berapa kali kubilang, panggil aku Yoona saja, kita kan teman,"

Kyungsoo berdehem. "Itu sangat tidak sopan Yang Mulia, saya sebagai pelayan dan anda-"

Yoona kemudian menghampiri Kyungsoo yang berdiri. Ia menangkup kedua pipi Kyungsoo dengan tangannya. "Y-O-O-N-A, coba katakana Yoona,"

Kyungsoo hanya elebarkan matanya yang sudah besar itu. Ia berdehem lagi. Mengurangi rasa gugupnya. "Itu tidak pantas Yang Mulia saya-"

"Yoona,"

"-yang hanya seorang pelayan dan anda seorang ratu-"

"Yoona Kyungsoo-ah, Yoona,"

"-sungguh suatu perbuatan yang tidak tahu malu jika saya memanggil Yang Mulia-"

"Yoona,"

"-hanya dengan sebutan nama anda," Kyungsoo akhirnya mampu mengakhiri perkataannya walaupun sempat terpotong-potong oleh si lawan bicara.

Yoona hanya tersenyum. Ia mencubit dua pipi Kyungsoo dan mendengus pasrah. "Baik jika kau tidak mau menuruti keinginanku, aku bisa minta pada Raja untuk mengganti pelayan pribadiku, yang lebih mau mendengarkanku,"

Kyungsoo menganga tak percaya. "T-tapi..tapi.."

"Kalau begitu mulai sekarang kau memanggilku dengan namaku, seperti saat kitaa kecil dulu mengerti?"

"B-baik Yang-"

Yoona mengangkat satu alisnya. Kyungsoo mendesah pasrah.

"Baik Yoona-ya,"

Yang baru saja disebutkan namanya tertawa senaang. Ia mengambil keranjang penuh bunga segar yang baru ia petik dari halaman istana. Kyungsoo dengan buru-buru menghampiri Yoona dan berusaha merebut keranjang yang tidak berat itu.

"Biar aku saja yang bawa," katanya.

Yoona mendengus kesal. "Aku ini tidak akan mati jika hanya membawa keranjang ini, kau bantu aku merangkai bunga saja nanti,"

Kyungsoo menatap punggung Yoona yang menjauh pergi. Bahkan sudah masuk ke dalam istana melalui pintu yang tidak jauh dari taman ini. Kyungsoo mendesah lelah. Yoona memang sahabatnya sejak kecil. Atau bisa dibilang Yoona yang memutuskannya begitu. Dari kecil, hidup Kyungsoo sudah selalu harus mengikuti Yoona. Kemana-mana berdua, harus selalu sigap dan waspada atas apa yang dilakukan anak perempuan lincah itu.

Ya, Kyungsoo adalah pelayan pribadi Yoona sejak kecil. Dengan kondisi Yoona yang lemah, ayahnya mencarikannya seorang yang selalu bisa melayaninya. Ayah Kyungsoo yang merupakan kepala pembantu di rumah Yoona dulu lalu menawarkan Kyungsoo kecil sebagai pengasuh Yoona. Umur mereka sama, maka dari itu Yoona cepat akrab dengannya dan merasa nyaman. Dari pada ajushi tua yang selalu ayahnya minta untuk mendampingi Yoona.

Yoona yang terlaanjur sudah terlalu nyaman dengaan Kyungsoo pun memboyong Kyungsoo ikut serta saat ia akan tinggal di istana. Karena Yoona yakin tidak aka nada yang lebih baik dari Kyungsoo. Bahkan Kyungsoo sudah hafal sifat dan kemauan Yoona. Bahkan Raja sempat marah pada pelayang bermata bulat ini karena kedekatan mereka. Namun Yoona bisa menjelaskannya pada Sehun bahwa mereka tidak lebih dari sekedar sahabat.

Yoona memang sejak kecil suka keras kepala. Apa-apa ingin dilakukan sendiri. Sebenarnya tidak apa-apa, tapi jika saja penyakitnya kumat…

Ah, Kyungsoo tidak berani memikirkannya.

Sebaiknya aku susul saja rusa betina itu,

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Kedua namja yang sangat kontras masalah tinggi badan itu sedang tertawa bahagia. Yang lebih tinggi sedang menyodorkan semacam gulali yang menempel pada bambu kecil ke arah pria yang lebih pendek.

"Chanyeol-ah, hari ini menyenangkan sekali," Pria yang lebih pendek-Baekhyun-merangkul lengan pria yang dipanggil Chanyeol itu.

"Kau senang?" tanyanya dengan senyum lebar masih terpatri di wajahnya yang tampan.

Baekhyun hanya mengangguk sambil mengeratkan tangannya di lengan Chanyeol. Hari ini sangat menyenangkan. Mereka jalan-jalan, mencoba makanan gratis dan menonton pertunjukan jalanan yang kebetulan ada. Bahkan mereka tadi sempat menonton orang berjudi.

Kebetulan di alun-alun kota memang sedang ada acara, atau lebih tepatnya akan ada acara sekitar 3 hari lagi. Maka dari itu, alun-alun sudah dipenuhi dengan kios pedagang kaki lima yang menjajakan makanan.

"Sebenarnya aka nada apa sih di sini?" Baekhyun memandang pedagang yang berjejer-jejer. Tadi saat baru datang, ia tidak memperhatikannya, yang penting setelah menelan makanan gratis, mereka langsung pindah ke kios lain.

Chanyeol mengedikan bahunya. "Entahlah, yang pasti tidak penting,"

"Kenapa? Ramai sekali, pasti ini acara besar," Baekhyun menatap Chanyeol bingung.

Chanyeol memandang Baekhyun sekilas kemudian ia tersenyum. Mengacak surai hitam Baekhyun lembut dan tertawa. Baekhyun kemudian mendengus dan mencoba merapikan rambutnya dengan tangan yang tidak memegang lengan Chanyeol.

"Sini biar aku yang pegang," Chanyeol mengambil gulali yang dipegang Baekhyun kemudian menjilatinya. Baekhyun membelalakan matanya lebar saat tahu apa yang Chanyeol lakukan dengan gulali miliknya.

Merasa diperhatikan, Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Baekhyun.

"Apa?"

Baekhyun tersadar kemudian menundukan kepalanya. Sebenarnya ia menyembunyikan wajahnya yang bersemu kemerahan.

"Tidak bukan apa-apa.."

Chanyeol menyadari pipi Baekhyun memerah. Ia tersenyum penuh arti sambil memandangi gulali yang masih ia pegang. Senyumnya melebar.

Apakah kau juga memikirkan ciuman tidak langsung kita, Baekhyun-ah?

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Sehun sekarang menapakan kaiknya ke tempat para tahanan sedang bekerja. Ia mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan mengawasi setiap pekerjaan para tahanan itu.

Menjijikan.

"…nah Yang Mulia, para budak busuk itu bekerja di sini memecah batu bara dari pagi sampai malam. Tak ada istirahat, tak ada…."

Ucapan pimpinan penjara di sampingnya tidak Sehun hiraukan sama sekali. Ia hanya fokus pada manusia-manusia kumal yang mengayunkan kapaknya dari tadi. Diantara dentingan dentingan kapak dengan batu yang beradu itu, telinga tajam Sehun masih mendengar bisikan bisikan yang dilontarkan padanya. Membuat wajah tampannya mengukir seringaian tajam yang menakutkan.

"Jadi itu Raja Oh Sehun.."

"Aku dengar ia sangat kejam…"

"Coba lihat wajahnya saja menakutkan…"

"Raja keparat,"

Sehun menghentikan langkahnya. Bisikan satu ini tidak mungkin ia terima. Seringaian yang semula terpampang di wajahnya menghilang. Pimpinan penjara juga menghentikan langkahnya. ia meneguk ludah panik dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Pasalnya, pimpinan penjara juga mendengar makian yang baru saja dilontarkan oleh salah seorang budak di sini.

"SIAPA YANG BERANI MENGHINA YANG MULIA OH SEHUN?!" pimpinan istana berteriak kalap sesaat setelah ia melihat wajah masam rajanya itu. Para tahanan mulai menghentikan aktivitasnya dan mulai beralih menaatap sumber suara.

CTAR! CTAR! CTAR!

Cambuk sudah dihentakan oleh pimpinan penjara sendiri. Semua tahanan menegang. Ini adalah masalah serius.

"JIKA AKU TAK MENDAPATI PELAKUNYA SEKARANG, AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN SEMUA!"

Kasak kusuk mulai terdengar. Para tahanan mulai saling menyalahkan. Mereka tentu tidak mau kena hukuman di penjara ini. Entah itu tidak mendapat makan atau siksaan di badan mereka, yang pasti, mereka akan sebisanya menghindari.

"D-dia pelakunya Tuan!"

Teriakan salah seorang pria di belakan pimpinan penjara membuat pimpinan penjara itu membalikkan badanya cepat. Ia menatap garang 5 orang di hadapannya yang berdiri takut-takut. Matanya mendapati pria yang berteriak tadi dan mengikuti telunjuknya yang mengarah pada pria lain.

Pimpinan penjara itu menggeram kesal kemudian menghampiri pria yang ditunjuk tadi dengan langkah yang menghentak-hentak.

"KAU! BERANINYA!"

PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi laki-laki yang juga membelalakan matanya kaget. Ia tidak tahu kenapa ia ditampar oleh pimpinan penjara. Bahakan ia kaget saat mendapati ternyata langkah pimpinan penjara itu mengarah ke arahnya.

"JUNGKOOK!" pria itu mendengar suara lain di sebelahnya. Kepalanya sekarang sangat pusing karena mendapat tamparan yang cukup keras dari pimpinan penjara.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Saat Raja mulai mendekat ke bagiannya memecah batu, Luhan sedikit melirik Raja yang berjalan dengan puluhan pengawal dan pimpinan penjara di sampingnya itu. Mata Luhan mendapati pria muda bersurai hitam dan berkulit seputih susu.

Jadi pria itu Raja Oh Sehun yang terkenal kejamnya?

Masih muda dan juga tampan…

Luhan merutuki pikirannya yang bodoh. Bagaimana mungkin dengan keadaannya sekarang ia masih bisa menilai Raja itu tampan. Ayolah, Raja itu telah memisahkan dia dengan adiknya tersayang.

Tapi memang tampan…

Luhan tersenyum kemudian melanjutkan ayunan kapaknya membelah batu yang cukup besar ini. Sesekali telinganya menangkap gumaman gumaman dari para tahanan lain yang membicarakan Raja yang baru datang ini. Rata-rata mereka menggumamkan penampilan atau kekejaman Raja muda ini. Yang bisa dikata lain memujinya. Sampai suatu gumaman yang sialnya cukup keras membuat tubuh Luhan menegang.

"Raja keparat,"

"SIAPA YANG BERANI MENGHINA YANG MULIA OH SEHUN?!"

Luhan yang mendengar teriakan dari pimpinan penjara membalik badannya kaku.

CTAR! CTAR! CTAR!

Luhan bergidik ngeri melihat cambuk yang telah dihentakan ke tanah oleh pimpinan penjara sendiri. Sepertinya ini masalah serius.

Tentu saja bodoh! Kau pikir menghina Raja di hadapannya sendiri itu apa akibatnya!

"JIKA AKU TAK MENDAPATI PELAKUNYA SEKARANG, AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN SEMUA!"

Luhan bergerak gelisah. Kalau sudah begini, pasti tahanan lain akan mulai menyalahkan satu sama lain. Yang malah akan melindungi si pelaku itu.

"D-dia pelakunya Tuan!"

Luhan membelalakan matanya kaget. Ia menoleh ke sumber suara dari arah kirinya dan mendapati pria yang mengarahkan telunjuknya pada pria di sebelah Luhan.

Oh tidak,tidak, kumohon semoga ini tidak seperti yang aku pikirkan…

"KAU! BERANINYA!"

PLAK!

Luhan membelalakan matanya. Terkejut saat pimpinan penjara menampar pria yang ditunjuk tadi. Tanpa sadar ia meneriakan nama pria tidak bersalah yang baru saja dituduh.

"JUNGKOOK!"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Bawa dia ke tempat penghukuman!" pimpinan penjara berkata pada anak buah lainnya yang berdiri tak jauh darinya.

"Tunggu! Bukan dia pelakunya! Kumohon!" tangan Luhan menahan lengan penjaga yang akan membawa Jungkook pergi.

Jungkook yang baru sadar posisinya yang terancam mulai memberontak.

"B-bukan aku pelakunya! Kumohon! Aku tidak menghina Yang Mulia! S-suaraku berbeda dari apa yang sudah anda dengar! Kumohon Yang Mulia!" Jungkook menahan sebisanya pergerakan dua penjaga yang terus menyeretnya.

Pimpinan penjara menghela nafasnya kesal. "Yang Mulia, bagaimana menurut anda apakah suara anak ini seperti apa yang-"

"Apakah aku terlihat peduli?" Sehun memotong perkataan pimpinan penjara. Ia berjalan mendekati Jungkook yang sudah akan menangis.

"Bukankah kita hanya perlu seseorang untuk disalahkan?" Sehun berkata lirih dengan nada yang menakutkan. Ia memandang Jungkook tajam. "Bawa dia untuk dihukum," titahnya datar.

Jungkook mulai ditarik paksa sekali lagi. Ia meronta, memohon-mohon, bahkan kini air matanya sudah menetes.

"Kumohon! Bukan aku pelakunya! Kumohon! Kumohon tolong aku!"

Luhan yang baru saja di dorong jatuh oleh penjaga untuk yang ketiga kalinya bangkit lagi berdiri karena mendengar suara Jungkook yang putus asa. Ia memaksa kakinya untuk berlari. Kemudian ia menjatuhkan lagi dirinya di hadapan priayang mempunyai kekuasaan tertinggi di sini.

Oh Sehun.

"Kumohon Yang Mulia, bukan dia pelakunya, jangan hukum dia, kumohon," Luhan memegang kedua kaki Sehun.

"Singkirkan dia." Sehun berucap datar. Penjaga langsung berdatangan dan menarik Luhan kasar agar menjauh dari kaki Raja mereka.

"Kumohon Yang Mulia! Percayalah padanya! Bukan dia!" Luhan yang telah di seret paksa masih meronta dan mencoba menggapai kaki Sehun.

Sehun menatapnya dengan jijik.

Drama apa lagi ini?

Sehun kemudian berjongkok menghadap kepala Luhan yang tergeletak di tanah.

"Jika dia tidak bersalah, siapa yang bersalah? Apakah aku harus menghukum kalian semua? Tidak masalah untukku." katanya lirih dan tajam. Bermaksud hanya untuk Luhan dengar.

Luhan terdiam.

Sehun tersenyum miring sekali lagi. "Lihat, kau tidak bisa menunjukan siapa yang bersalah kan?"

"Tapi bukan dia pelakunya Yang Mulia, kumohon," Luhan hampir putus asa meyakinkan Sehun. Raja keras kepala ini.

"Sudah kubilang aku tidak peduli, aku hanya memerlukan pihak yang 'bersalah' untuk dihukum, tidak masalah siapapun orangnya," Sehun memamerkan kembali seringaian nya kemudian ia akan beranjak berdiri.

"Aku pelakunya,"

Sehun yang masih berjongkok menaikan satu alisnya.

"Apa?"

"Kau hanya perlu seseorang untuk disalahkan kan? Kalau begitu aku pelakunya,"

Ah, seseorang ingin menjadi pahlawan di sini.

Sehun terkekeh kecil. Kemudian kekehannya menjadi tawa yang keras. Pimpinan penjara mengelap keringat yang berada di dahinya. Semua orang terlihat gugup mendengar tawa menggelegar dari Raja yang terkenal dingin itu.

Sehun berhenti tertawa. Ia menatap Luhan tertarik. "Kau tahu apa konsekuensinya kan? Apa kau bodoh?"

Luhan meneguk ludahnya. Tentu, ia tahu apa yang akan terjadi padanya sama sekali bukan hal yang baik. Matanya beralih pada Jungkook yang masih terisak pelan.

Jungkook masih terlaalu muda untuk mengalami ini.

Ia bisa mendapat kenangan juga akan terpengaruhi.

Tidak. Jungkook adalah anak baik.

Aku harus membantunya.

Ya.

"Tentu. Aku tahu apa konsekuensinya, Yang Mulia," Luhan memberanikan diri menatap manik mata Raja di hadapannya ini dan menekan kata Yang Mulia di perkataannya.

"Kalau begitu berdirilah dan mengakulah bahwa kau pelakunya," Sehun yang merasa tertaantang oleh makhluk di hadapannya ini memandangnya tajam kemudian berdiri. Ia menengok ke bawah. Memamerkan senyum picik andalannya. Seolah mengejek dan memantang Luhan untuk segera mengakhiri permainan bodohnya.

Luhan kemudian mencoba berdiri. Namun tangan penjaga menahannya. Sehun yang melihatnya mengibaskan tangannya menyuruh dua penjaga itu melepaskan Luhan. Sedetik setelah penahannya lepas, Luhan langsung berdiri di hadapan Sehun.

"Akulah pelakunya,"

Luhan berkata dengan lantang.

Sehun tersenyum meremehkan.

Dengan gerakan lambat, ia mulai bertepuk tangan pelan.

"Heroik sekali, dasar bodoh," katanya lirih pada Luhan.

"BAWA DIA KE TEMPAT PENGHUKUMAN!"

Kali ini Sehun sendiri yang berteriak memerintah para penjaga itu. Penjaga yang menahan Jungkook mulai melepaskan pegangan mereka dan berlari ke arah Luhan. Mencengkram tangan kurus pria itu kemudian menyeretnya menuju tempat penghukuman.

Luhan melirik sekilas Jungkook yang membelalakan matanya tak percaya. Saat Luhan digiring oleh dua penjaga yang menahan lengannya dan kerumunan tahanan lain mulai mengikuti arah Luhan dibawa, Jungkook mulai meneteskan lagi air matanya. Ia berlari menerobos kerumunan orang-orang untuk bisa sampai pada Luhan.

Hyungnya.

"LUHAN HYUNG!" teriaknya saat ia sampai di barisan paling depan.

Luhan yang merasa namanya diteriakan oleh seseorang menengok ke belakang dan mendapati Jungkook di sana.

"Hyung! Kenapa kau lakukan ini! Hyung! Bukan kau pelakunya! Kau tidak bersalah!" Jungkook yang mulai mendekati Luhan langsung ditahan oleh penjaga penjaga lain yang menghalangi para tahanan lain karena sekarang, Luhan sudah mulai naik ke podium penghukuman.

Di podium itu ada beberapa tiang dengan rantai di atas dan dibawahnya yang berguna untuk mengikat tangan dan kaki orang yang akan di hukum.

Luhan digiring pada salah satu tiang yang berada di tengah. Luhan dihempaskan ke tiang itu dan kini punggungnya ssudah menghadap ke arah 'penonton'. Bajunya segera disobek dengan paksa meninggalkan Luhan dengan badannya yang kotor dan penuh debu. Walaupun masih menampakkan kulitnya ynag sebenarnya putih bersih itu.

Tangan luhan segera ditarik ke atas untuk diikat ke tiang yang akan menahannya. Kakinya juga segera dirantai di bawah. Luhan sekarang hanya bisa berdoa. Apapun yang terjadi, ini adalah kemauan serta niat nya sendiri.

Kini ia tengah terikat di tiang itu tanpa bisa menggerakkan badannya sama sekali. Punggungnya juga sudah telanjang seolah siap menerima apapun yang akan terjadi.

Ayah..Ibu..bantu aku…

CTAR!

Luhan menggigit bibir bawahnya keras saat cambukan pertama dilayangkan di punggungnya. Membentuk sebuah garis diagonal yang kini tampak kemerahan.

CTAR!

"Ah!"

Luhan berteriak kecil saat cambukan kedua mengenai cambukan yang pertama. Matanya mulai berair. Giginya masih menggigit bibir bawahnya kuat. Entahlah mungkin bibirnya sudah berdarah.

CTAR!

Kau harus kuat Luhan-ah, kau harus kuat…

CTAR!

"LUHAN HYUNG! KUMOHON HENTIKAN INI SEMUA! HYUNG TIDAK BERSALAH! KUMOHON!"

CTAR!

Suara teriakan Jungkook terdengar walau tetap tenggelam karena teriakan para tahanan lain yang ternyata terhibur atas aksi ini. Mereka menyemangat ipenjaga istana yang memegang cambuk itu tinggi-tinggi. Meminta nya untuk melakukan lebih keras. Seolah tidak punya rasa belas kasihan untuk namja kurus yang terikat tanpa kesalahan di tiang mematikan itu.

CTAR!

"AHH!"

Kali ini Luhan tidak bisa menaahan teriakannya. Punggungnya sakit, seperti terbakar dan rasanya perih. Teriakannya terdengar memilukan namun hanya menimbulkan teriakan dan tawa dari para tahanan lain dan juga para penjaga penjara.

Seringaian muncul di wajah tampan raja muda itu.

"Lakukan lebih keras sepertinya teman-temannya menyukai teriakannya." Sehun berkata santai sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ia duduki. Letaknya tentu saja paling depan. Tempat terbaik untuk menyaksikan hukuman sang tawanan.

CTAR!

"AAHH! Hah..hah..hah.."

Sesuai perintah Sehun, penjaga itu mengayunkan cambuknya lebih keras dan kasar. Tubuh Luhan sampai melengkung ke depan karena reflek yang begitu menyakitkan. Tangannya bergerak gerak risau seolah meminta untuk dilepaskan. Nafasnya bahkan terengah setelah itu.

CTAR! CTAR!

"AAH! AHHH!"

Penjaga mencambuknya dua kali berturut-turut. Keduanya sama kerasnya. Tubuh Luhan sudah lelah. Tangannya hampir tidak mampu menahan tubuhnya yang terasa hancur. Punggungya terasa perih. Tentu saja. Jika kita lihat sekarang tercetak garis-garis horizontal yang tidak rata bentuknya. Beberapa bagiannya bahkan ada yang mengeluarkan darah.

Luhan mendengar penjaga itu menarik nafas panjang. Luhan mengepalkan tangannya yang dirantai diatas kepalanya. Matanya terpejam erat. Mencoba mempersiapkan dirinya.

CTAR! CTAR! CTAR!

Dan runtuhlah bendungan yang sengaja ia tahan-tahan sejak tadi. Ia mengeluarkan air matanya. kakinya seolah lemas. Jika bukan karena tangannya yang ditahan rantai sialan ini, Luhan mungkin sudah terjatuh dan tersungkur di tanah.

Penjaga yang memegang cambuk itu tersenyum melihat punggung Luhan yang merah dan robek di sana-sini. Darah yang mengucur seolah menambah keindahannya. Penjaga itu hendak turun namun sebuah suara dingin menghentikan langkahnya.

"Mau kemana kau? Hukumannya belum selesai,"

Oh Sehun.

Penjaga itu kaget. "Ta-tapi Yang Mulia, kita sudah memberinya 10 cambukan, 12 malah jika saya tidak salah hitung,"

"Lalu?" Sehun mulai beranjak dari kursinya. Ia mendekati penjaga itu.

"B-bukan kah itu cukup, Yang Mulia?"

Sehun yang sudah berdiri di hadapan penjaga itu menengok pemandangan di balik tubuh penjaga yang mulai kelihatan ketakutan itu.

"Punggungnya belum cukup merah untukku,"

Penjaga itu membelalakkan matanya. ia hanya membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi terlalu takut.

Sehun mendecih kesal lalu merebut cambuk yang masih dipegang penjaga itu. Ia berjalan pelan-pelan ke arah tiang tengah podium yang kini ia pijaki. Sesekali diayunnya cambuk yang cukup panjang itu untuk hiburannya begitu ia sampai di hadapan punggung pria yang terikat di sana…

CTAR!

Suara cambuk yang mengenai punggung pemuda itu terdengar lebih keras dari sebelum-sebelumnya. Begitupun hasil dari cambukan itu yang langsung mengeluarkan darah. Sehun tersenyum puas. Apalagi saat korbannya mengeluarkan teriakan yang memilukan.

"AKKHHHH!"

Sehun berjalan ke arah samping tiang dan mencoba menatap wajah pria yang terikat ini. Senyumnya tidak hilang. Ia bahkan tertawa kecil saat tahu wajah pria ini basah dengan air yang terus mengucur dari matanya.

"Kau lihat hasil tindakan sok heroikmu? Apakah menyenangkan?"

Luhan mendengar suara lirih dan dingin milik orang di sampingnya ini. Namun ia tidak menggubrisnya. Ia menundukkan kepalanya. Bahkan tidak mau menatap.

"Kau tahu, kau itu bodoh. Bodoh karena saat kau bisa menghindari masalah, kau malah menawarkan diri padanya." Sehun menarik dagu Luhan ke atas. Memaksa Luhan untuk menatapnya saat ia bicara.

"A..aku..h-hanya berusaha menolong Jungkook," Luhan berkata kemudian. Walaupun agak terengah karena punggungnya yang perih dan sakit.

Sehun tertawa kecil lagi. Jungkook. Siapa lagi itu? Apakah bocah pertama yang akan di eksekusi tadi? Lagi pula, menolong? Apa itu kata tolong di dunia ini?

Cih.

Sehun tidak peduli.

"Nah sekarang, coba lihat hasil 'menolongmu' apakah kau merasa diuntungkan? Apakah sekarang kau baik-baik saja?"

Luhan menggeleng. "Ti..tidak apa…Jungkook baik-baik saja…itu yang terpenting…"

Sehun terdiam. Kali ini ia mengernyitkan dahinya.

"Jungkook…ia masih remaja…a..akan sulit baginya nanti…biar aku saja…tidak apa-apa…"

Ucapan Luhan sebenarnya seperti tidak membentuk suatu kalimat utuh yang mudah dipahami. Namun Sehun mengerti.

"Kau bodoh. Dan kau akan menyesali ini."

Luhan hanya menggeleng. Ia masih menatap lawan bicaranya walau dagunya sudah dilepas sedari tadi. Dan Luhan memberikan senyumannya.

"Kau..tidak pernah akan menyesal…menolong orang lain, Yang Mulia…"

Untuk sedetik itu. Hanya detik itu…

Sehun tersentuh akan ucapan Luhan yang begitu tulus.

Sehun yang dibesarkan dengan tangan dingin ayahnya. Yang sudah melihat berbagai perkelahian, perang, bahkan pembunuhan sejak ia masih kecil. Yang sudah mengenal apa itu kekuasaan dan keserakahan bahkan menjadi korbannya.

Tidak.

Hidupku tidak dipenuhi dengan bunga dan gulali.

Tidak ada tolong menolong.

Tidak ada.

Semuanya harus bersaing di dunia ini.

Dan kau harus menang untuk bertahan.

"Kau, orang-tidak, budak bodoh, akan menyesali ini semua," Sehun mendekatkan wajahnya. Mencoba menakuti Luhan dengan menilik langsung tajam ke dalam bola mata Luhan.

"Dan aku sendiri yang akan memastikannya…"

Dengan itu, Sehun berjalan lagi untuk menghadap punggung Luhan yang sudah penuh Luka. Sehun mengulum senyum miringnya sekali lagi dan kali ini ia mengayunkan tinggi-tinggi cambuknya hanya untuk menghempaskannya lagi dengan cepat.

CTAR!

"AAAHHHH!"

Sakit.

Sakit sekali.

Ayah…

Ibu…

Baekhyun-ah…

Kuatkan aku..

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Akh,"

Chanyeol menghentikan langkahnya mendengar Baekhyun yang baru saja mengeluarkan desahan kesakitan.

"Kenapa?"

Baekhyun yang mendengar suara Chanyeol menolehkan kepalanya dan menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa…jariku hanya tergores batang gulali," Baekhyun menekan nekaan jarinya yang berdarah.

Chanyeol yang melihatnya langsung merebut jari Baekhyun dan memasukkannya ke mulutnya. Berusaha menghisap darah Baekhyun agar tidak keluar lebih banyak lagi.

"Jangan di tekan-tekan lagi, nanti darah yang keluar tambah banyak, mengerti?" Chanyeol mengecup singkat jari Baekhyun kemudian tersenyum.

"Perawatan jarimu sudah selesai Baekhyun-ah," katanya ceria.

"Ah..ne..g-gomawo,"

Pipi Baekhyun bersemu merah. Ia memegang jarinya yang baru saja terluka dan mendekatkannya ke dadanya.

Kenapa ini, kenapa mukaku rasanya panas sekali, Luhan hyung sering melakukan itu padaku jika jariku terluka, tapi kenapa saat Chanyeol melakukannya…terasa berbeda…

"Baekhyun-ah, sepertinya akan turun hujan,"

Baekhyun kemudian menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat awan gelap mulai menggulung-gulung.

Mendung.

Baekhyun segera mengembalikan kepalanya ke arah semula dan menghela nafas kasar. Perasaannya menjadi tidak enak saat tadi ia menatap langit yang mendung.

Ah, Luhan Hyung…

Apakah ia baik-baik saja sekarang?

Semoga saja begitu…

"Baekhyun-ah, ayo," ternyata Baekhyun terlalu banyaak melamun sehingga Chanyeol sudah berjalan di depannya sekarang. Chanyeol bahkan melambai-lambaikan tangannya bodoh ke udara. Membuat Baekhyun mau tak mau mendengus lucu karena tingkah pria tinggi satu ini.

Bekhyun kemudian berlari ke arah Chanyeol kemudian mengamit lengan Chanyeol untuk ikut berlari bersamanya. Chanyeol yang awalnya kaget bahkan hampir terjatuh. Setelah bisa menyeimbangkan dirinya ia hanya bis atersenyum saat mendapati Baekhyun yang ikut tersenyum lebar.

Hidup seperti ini sangat menyenangkan…

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Seorang pemuda yang cukup tampan sedang mengendap-endap memasuki pintu taman yang menghubungkannya dengan ruangan di dalam istana. Pemuda itu menggunakan jubah dan kerudung yang juga menutupi wajahnya. Dan saat kepalanya menilik ke dalam ruangan tanpa mendapati siappun di sana, ia tersenyum senang.

Sekaraang ia diam-diam menapaki lantai yang cukup luas. tujuannya adalah lorong yang berada di sebrang ruangan ini. Lsekitar 10 langkah lagi, pemuda itu memamerkan giginya dan tersenyum lebar.

"Kai, apa yang kau lakukan di sini?"

"AAH!"

Pemuda yang berkerudung itu berteriak kencang tanda keterkejutannya. Ia sempat jatuh secara tidak elit juga namun segera cepat-cepat bangun dan berdiri. Ia kemudian membalikan badannya tak lupa memamerkan senyumnya yang lebar dan ceria.

"Yoona! Tetap cantik seperti biasa, oppa merindukanmu," pria yang dipanggil Kai tadi langsung memluk wanita yang baru saja hampir membuatnya jantungan. Saat melepas pelukannya, Kai langsung memajukan bibirnya dan mencium kedua pipi wanita cantik itu.

"Iiih, Kai! Sehun bisa membunuhmu tahu, lagi pula oppa? Sejak kapan aku memanggilmu oppa," Yoona mengelap pipinya dengan punggung tangannya. Sambil menatap kesal pria dihadapannya ini.

"Hah? Si Beruang putih dingin itu ada di sini? Kupikir ia sedang pergi?"

Yoona menghela nafasnya. "Ya kau benar, suamiku itu sibuk sekali, tidak seperti kau yang malas-malasan di sini," cibir Yoona amsih mengelapi pipinya.

"Ck, aku disini sedang tidak malas-malasan tahu, lagipula apa itu, kenapa kau masih mengelap pipimu? Aku ini tampan tahu, banyak yang mengingini ciumanku,"

"Kau kan tahu aku tidak pernah suka pria berkulit gelap," Cibir Yoona.

"Yah! Sudah berapaa kali kubilang? Aku ini sexy, kulitku coklat tidak gelap!"

"Arraso, arraso, kau mau apa di sini? Kau kan tahu Sehun pergi, untuk apa ke sini?"

Kai yang semula memberengut kesal langsung menampilkan lagi senyum lebarnya saat ia ingat tujuannya datang ke mari.

"Aku sedang menjalankan misi tahu," ucapnya sok misterius.

Yoona yang mendengarnya hanya mendengus meremehkan. "Kau mau mendekati Kyungsoo lagi? Tidak kapok disiram bubuk merica?"

"Y-ya, bagaimana kau tahu aku ke sini untuk bertemu Kyungsoo?"

Yoona memutar bola matanya kesal. "Kau selalu kesini karena ingin bertemu Kyungsoo, dasar,"

Kai hanya melebarkan cengirannya.

"Di dapur…" Yoona berkata kemudian.

"Kyungsoo sedang menyiapkan makan siang, kau temuilah dia di dapur,"

Kai langsung mengangguk bersemangat. Ia langsung berbalik dan berjalan ke arah lorong yang ditujunya tadi. Semula ia ingin menyambangi kamar pujaan hatinya, tapi karena ia tahu di mana Kyungsoo sekarang, ia akan langsung segera menyusulnya.

"Kai-ah, jauhkan Kyungsoo dari bubuk merica kalau kau ingin bicara dengannya!"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

CTAR!

CTAR!

CTAR!

Hujan yang sudah mengguyur tak menghentikan ayunan cambuk dari pria yang sejak tadi memegangnya. Ia terus menerus menghempaskan cambuk itu ke punggung pria yang sekarang sudah tampak menerikan.

Sekarang, hanya suara hujan dan desisan cambuk yang memenuhi lapangan luas ini. Tidak ada lagi sorak-sorai dari penonton. Bahkan sekarang mereka tampak merasa iba pada pria yang sedang dihukum itu. Mereka seperti ingin pergi karena guyuran hujan membasahi mereka. Namun tak ada satu orang pun yang berani beranjak dari tempatnya atau mereka akan membuat raja yang sedang kalap itu marah lagi.

Luhan sudah tidak mampu mengeluarkan teriakan. Tenggorokannya kelu karena ia sudah terlalu banyak berteriak. Lagi pula ia sudah menghabiskan tenaganya untuk menahannya tetap berdiri. Tidak ada lagi tenaga tersisa walau hanya sekedar berteriak.

Sehun yang sudah mulai kelelahan menghentikan sejenak aksinya. Badannya sudah basah. Namun ia seperti belum mau menghentikan tindakan kejinya ini. Dipandanginya hasil karya mengerikan yang ia torehkan di punggung pria kurus ini. Diagonal, silang, luka sobek dan berdarah…

Entahlah, Sehun hanya merasa marah sekali pada pria ini karena aksi heroiknya. Ia ingin pria ini sadar bahwa tak ada belas kasihan di dunia ini. Ia ingin pria ini menyesal.

"Kau menyesal?"

Luhan mendengarnya. Ia memejamkan matanya. kemudian dengan tegas ia menggeleng. Gelengan Luhan membuat Sehun terbawa emosinya lagi.

CTAR!

"Sshh.." Kali ini luhan mengeluarkan desisan perlahan.

Sehun menatap karyanya sekali lagi. Punggung itu sudah terlalu penuh untuk torehan luka baru. Sehun butuh kanvas baru…

Dengan sigap, ia berjalan ke depan dan melepaskan satu tangan Luhan yang terikat rantai. Tangannya lalu berpindah ke pundak kanan pria itu untuk membalikkan badannya ke depan. Namun sebelum tangannya menyentuh pundak yang berdarah itu, matanya sudah terbelalak nyalang.

Tanda itu…

"Jangan lupakan janjimu,"

"Janji?"

"Untuk menemukan laki-laki yang bisa mengandung Sehun-ah,"

Sehun menurunkan tangannya yang hendak menyentuh pundak kanan pemuda itu. Hujan menghapus sebagian darah yang mengalir dari luka-luka yang Sehun torehkan. Sehun maju selangkah untuk dapat dengan jelas objek perhatiannya.

Tanda berbentuk sayap…

Tipis, tentu, tanda ini tidak seharusnya terlihat…

Laki-laki ini adalah seorang pembawa…

Sehun menelusuri bentuk satu sayap sederhana itu dengan tangannya.

Tidak salah lagi…

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Dua pemuda yang sedang bertelanjang dada itu saling mengusap rambut mereka yang basah. Atau bisa dibilang, pria yang berukuran lebih pendek itu sedang mengusap rambut pria yang lebih tinggi sambil sesekali mengusap rambutnya yang juga basah. Mereka berada di loteng sebuah kedai mie, atau bisa dibilang, kamar Baekhyun.

"Kita tetap kehujanan," Chanyeol memajukan bibirnya kesal. Ia sedang duduk karena jika ia berdiri, Baekhyun tak kan mampu menjangkau rambut Chanyeol.

"Diamlah, aku sedang mengeringkan rambutmu,"

Chanyeol yang mendengar itu langsung berdiri. Ia merebut kain yang ada di kepala Baekhyun. "Aku juga mau mengeringkan rambut Baekhyunnie,"

Lalu ia mulai menggosok-gosokkan kain itu seperti apa yang dilakukan Baekhyun ke kepalanya tadi. Chanyeol melakukannya dengan riang. Sesekali matanya turun untuk memandang punggung mulus pria di bawahnya ini.

"Oh,"

Chanyeol berhenti mengasak rambut Baekhyun kemudian ia ikut duduk. Posisinya masih tetap di belakang Baekhyun.

"Kenapa?" Tanya Baekhyun karena ia merasa gosokan di rambutnya terhenti.

"Baekhyun-ah, apakah kau menggambar ini?" Chanyeol menelusuri bentuk tanda di pundak kanan Baekhyun.

"Gambar? Ah tanda itu? Itu tanda lahir tahu, Hyung dan aku memilikinya sejak lahir, bagus kan? Bentuknya seperti sayap-sayap, haha,"

"Oh, kau dan Hyung mu memilikinya?"

"Ya, memang tipis sih, tapi kami dari lahir sudah memilikinya, hanya ada satu sayap, seolah aku dan hyung harus selalu bersama jika ingin terbang," Baekhyun tersenyum di akhir penuturannya.

"Memang harusnya hanya ada satu sayap saja," ucap Chanyeol tanpa sadar.

"Kau mengatakan sesuatu?" Baekhyun membalikkan badannya. Sekarang, wajahnya bertemu dengan wajah Chanyeol yang tampak serius.

Chanyeol yang ditatap langsung mengulum senyum lebarnya lagi. Ia lalu berlutut untuk sekali lagi menggosok rambut Baekhyun. Membuat Baekhyun harus berhadapan dengan dada bidang Chanyeol. Hal itu langsung membuat telinganya panas dan muka nya merah padam. Dan saat matanya turun, ia malah meneguk ludah kasar karena melihat perut Chanyeol yang rata dan berbentuk itu.

Kenapa badan tiang ini bagus sekali sih?

Chanyeol menengok ke bawah untuk melihat Baekhyun kini menutupi wajahnya dengan dua tangannya.

"Baekhyun-ah wae? Kau terpesona pada tubuhku ya?"

SKAK MAT.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai hai, hehe ^^/ Ketemu lagi di chapter 4, di chap ini hunhan udah ketemu, chanbaek udah mulai bersemi (?), kai bahkan nongol bentar, tokohnya satu-satu keluar ._.

Dan buat kalian yang nebak Chanyeol itu siapa…yup, Chanyeol itu orang penting di istana, buat apa-apanya lagi, chap depan yah hehe ^^

Buat kalian yang entar bingung hunhan ketemuan tapi kok begini (?) ditunggu aja, entar juga mereka bahagia, bahagia kan butuh proses hehe ^^"

Dan buat yang bosen sama moment nya Yoona-Sehun, di chap ini ga ada kok yay! wkwkwk

Buat tanda segala macem itu murni imajinasi yaa hehe, oh iya, buat Luhan ngelahirin, aku sih rencananya bikin tep Caesar tapi tanpa obat bius, kekejaman ga? Minta saran yaa, *bow* kemarin ada yang nyaranin buat bikin vagina di atas penisnya Luhan, menurut kalian gimana? ._.

And as always, big thanks to :

bebbyndyaaaa, LisnaOhLu120, winter park chan chan, Shierashie94, beng beng max, tjabaeky, JYHyunho, Kuminosuki, .58, SFA30, , Majey Jannah 97, DEERHUN794, hunhanminute, ruixi 1, khalidasalsa, kimyori95, sukhyu, HunHanCherry 1220, egatoti, msluhan87, , FairyFaith, xandKaiXoo24, 50, younlaycious88, ainindya13, viiyoung, Kim Jung Sun 11, han-tu, Charry Blosoom, AnggiChannieYL, dims, Guest 1, Guest 2, Guest 3, amiami1223, .35, tetsuya kurosaki, Guest 4, Guest 5, hunhan 1120, YVRA REAL, karina, saniasp, momo chan, Vita Williona Venus, Viyomi, Elisye Sihombing, ara choi, chanbaeky

.

Love you guys :*

.

AND FOR EVERY SILENT RIDERS, KOMENT LAH KALI KALI BISA KAN -.-

.

SEE YOU NEXT CHAP!