Chapter 5

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

Hujan masih mengguyur lapangan ini dengan deras. Namun, orang-orang yang berdiri di sana seakan tak peduli jika tetesan-tetesan keras itu menghantam tubuh mereka. Dua orang sosok yang menjadi pusat perhatian di atas podium itu seperti terkena mode henti dan hanya diam di tempat mereka masing-masing. Yang satu dengan keadaannya yang terikat erat oleh rantai-rantai penahan, dan yang satu berdiri dengan gagahnya menatap sesuatu di punggung pria itu.

Oh Sehun, pria gagah itu masih setia melekatkan manik hitamnya pada suatu objek yang kelihatannya sangat menarik. Cambuk yang sedari tadi dipegangnya kuat terjatuh begitu saja. Tangannya ia bawa menulusuri objek yang ia pandang.

"Ahh!"

Luhan, pria yang terikat tadi memekik kecil tatkala tangan Sehun mulai menyentuh punggungnya yang terluka. Luhan menggigit bibirnya kasar. Membuat lagi luka di bibirnya yang sudah berdarah. Punggungnya memang terasa mati rasa, tapi jika lukanya tiba-tiba disentuh seperti itu, rasanya akan tetap perih juga.

Sementara Sehun terus menggerakkan jarinya menelusuri motif-yang bercorak luka-luka dan darah-dari sebuah tanda di pundak kanan Luhan. Ia menghiraukan desisan sakit dari pria yang masih terikat ini.

Sehun menghela nafasnya perlahan. Ia mundur beberapa langkah dan akhirnya berbalik, kemudian turun dari podium tempat penyiksaan itu.

"Lepaskan dia dan bawa ke ruang kesehatan, obati juga lukanya," katanya pada salah satu penjaga yang ia temui.

"Dan kau," kali ini ia berbicara pada pimpinan penjara. "ikut aku,"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Penjaga yang mendengar perintah Sehun langsung memanggil penjaga lain yang ada untuk membantunya melepaskan pria yang baru saja disiksa itu. Penjaga mulai dengan melepas rantai di tangannya, kemudian kakinya.

Begitu tangan Luhan terbebas dari jeratan rantai yang sedari tadi menahannya, ia langsung ambruk jatuh dan tersungkur tepat di kaki-kaki para penjaga itu. Setelah selesai, penjaga penjaga itu hanya memandang tubuh penuh luka Luhan dalam diam. Mereka bingung bagaimana harus membawa pria terluka ini ke ruang kesehatan. Sementara itu, hujan tetap mengguyur mereka semua.

"Bagaimana kita harus membawa pria ini?" kata salah satu penjaga.

Biasanya, para tahanan masih bisa berjalan sendiri, namun karena luka yang dialami Luhan sangat parah, penjaga-penjaga yang tidak punya hati ini bahkan tidak tega untuk sekedar menyentuhnya.

"P-penjaga, biar aku yang membawanya, kumohon, aku akan menggendong Luhan hyung,"

Ya, suara itu berasal dari Jungkook yang masih berusaha menerobos barisan penjaga. Sedari tadi ia tidak berhenti menangis. Walaupun hujan sudah menghapus jejak jejak air matanya, namun mata yang merah dan sedikit membengkak itu tidak mampu membohongi siapapun.

"A-aku, juga akan membantunya Sunbae-nim," salah satu suara kembali terdengar dari bawah podium. Diikuti dua sosok yang mulai menaiki tangga menuju ke arah pria yang terluka itu.

"Hyung, tolong naikan Luhan hyung ke punggungku," Jungkook berkata pada Taehyung-ya, pria yang baru saja menawarkan bantuan adalah Taehyung. Jungkook kemudian mulai berjongkok dan Taehyung dengan hati-hati sekali, mulai mengangkat tubuh yang terluka itu untuk naik ke punggung Jungkook.

Luhan yang merasa dirinya terangkat mulai merinntih karena lukanya terasa tertarik sehingga mengakibatkan rasa perih meraba indra perasanya. Namun, karena ia tahu ia sedang ditolong-berharap ia sedang ditolong-Luhan tetap berusaha diam dan menurut. ia tidak tahu siapa yang membantunya. Matanya menolak untuk membuka.

Taehyung sudah selesai mengalungkan tangan kurus Luhan ke leher Jungkook. Jungkook segera dengan hati-hati berdiri dan mulai berjalan diikuti oleh beberapa penjaga di belakangnya. Walaupun Jungkook adalah seorang yang menawarkan bantuan, ia tetap berstatus sebagai tahanan yang perlu di awasi. Taehyung mengekor di belakang dengan sesekali menggigit bibirnya khawatir.

Luhan, kuharap kau baik-baik saja…

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Sehun duduk diam di balik meja kayu besar yang berisi perkamen yang berserakan. Ruangan yang ia tempati sekarang bercahaya temaram hanya dengan beberapa obor menyala di ruangan cukup luas. menghasilkan siluet oranye yang menawan di wajah tampannya.

Sehun terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tangannya mengusap-usap dagunya dan matanya memandang ke atas menerawang atap batu yang berwarna kusam itu.

Ya, tanda itu, tidak salah lagi…

Sehun sudah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Dan ia juga sudah menyentuh tanda itu. Pola nya sama seperti apa yang sudah ia dengar. Warnanya kecoklatan, namun sangat tipis tanda itu hampir tidak terlihat jika hanya dipandang sekilas. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin seperti tangan bayi yang menglebar?

Sehun menghela nafasnya kasar. Tangannya berpindah ke arah matanya untuk mengusapnya perlahan. Mencoba mengurangi rasa pusing yang menderanya. Bayi. Akar permasalahannya ini berakar dari kata bayi.

Jika saja Yoona tidak begitu menginginkan itu…

Pikirannya yang melayang ia fokuskan kembali pada pria itu dan tanda sayap dipundak kanannya.

Tanda yang pria itu miliki juga tidak mungkin palsu. Hujan akan dengan mudah menghapusnya jika memang itu palsu. Lagi pula untuk apa dia memalsukan tanda seperti itu?

Pikiran Sehun makin berkecamuk. Ia menghela lagi nafasnya kasar. Kali ini disertai erangan kesal yang membuat kepala penjara yang duduk di sebrangnya semakin memundurkan posisinya. Takut menuai amarah yang tidak pantas ia dapatkan.

Tanda sayap malaikat. Hanya ada satu sayap saja. Legenda mengatakan mereka adalah malaikat yang tidak sempurna. Sehingga mereka dibuang ke bumi yang kotor ini, namun masih dengan segala berkat dan keajaiban mereka. Namun ada yang mengatakan mereka adalah malaikat yang turun ke bumi dengan mengorbankan satu sayap mereka untuk membagikan berkat di dunia fana ini.

Tidak ada yang mengetahui mana yang lebih benar dari legenda itu. Sehun tidak peduli. Keduanya sama-sama tidak masuk akal baginya. Semuanya omong kosong baginya. Lagipula legenda dan tanda tipis itu hanya akan diketahui oleh kaum bangsawan dan kelas ningrat saja. Termasuk Oh Sehun yang notabene adalah seorang pangeran―dulu.

Karena bagaimanapun, setidak pedulinya Sehun pada pria-pria pemilik tanda itu, mereka memang meiliki sesuatu yang istimewa.

Mereka adalah seorang pembawa. Atau dengan mudahnya, mereka mempunyai rahim yang mampu mengandung keturunan. Walaupun mereka laki-laki.

Dan keturunan yang dihasilkan dari hubungan dengan pria bertanda itu, akan selalu menghasilkan keturunan yang terbaik.

Entah kekuatan, entah kepintaran, akan selalu menjadi nomor satu.

Mereka memang hanya pria-pria biasa yang entah kenapaSehun tidak peduli―mampu menghasilkan apa yang seharusnya hanya mampu dihasilkan oleh seorang wanita. Pria-pria yang mempunyai tanda seperti itu dianggap terkutuk dan menyebabkan dosa besar. Pria seharusnya dipasangkan dengan wanita, bukan dengan sesama pria. Namun karena kemunculan pria-pria aneh itu, hubungan seperti itu menjadi lazim.

Raja yang saat itu memerintah sangat kolot sehingga menyuruh mereka menghabisi seluruh pria-pria pembawa itu. Mengatakan mereka telah melanggar aturan dewa. Anak-anak setan dan pengikut dewa kematian. Dalam pembantaian itu, mereka melakukannya dengan bersih. Tidak ada lagi pria-pria yang bertanda dan semua pria yang terlibat hubungan dengan pria-pria bertanda itu ikut dibunuh. Menyisakan informasi tentang pria bertanda sayap itu hanya untuk keluarga kerajaan saja.

Walaupun sebenarnya alasan sesungguhnya adalah karena raja-raja itu takut akan keberadaan keturunan dari pria-pria bertanda yang mungkin mengancam keberadaan mereka, dan akhirnya akan berbalik menyerang mereka.

Terdengar gila? Sehun tersenyum getir. Sebelum ia melihat secara langsung tanda itu, ia bahkan menganggap ini semua omong kosong.

Lalu janjinya pada Yoona?

Ah, dengan mudah Sehun akan mengatakan bahwa ia tidak menemukan pria seperti itu dimana-mana dan menyuruh Yoona melupakan apapun itu yang mengganggu pikiranya.

Namun sekarang, Sehun menemukan pria itu. Lagipula bagaimana pria itu masih ada? Setahunya pria seperti itu sudah punah oleh pembantaian habis-habisan puluhan tahun lalu.

Sehun menganggap ini adalah sebuah dongeng lucu saat ia kecil dulu.

Tapi sekarang, ketika ia menghadapinya…

Selalu ada satu atau dua babi yang berhasil meloloskan diri saat berburu.

Sehun sekali lagi menghembuskan nafasnya panjang. Pimpinan penjara berdeham. Sudah cukup lama ia berdiam diri dan hanya menyaksikan Rajanya itu menghela nafas berulang-ulang.

"Y-yang Mulia, a-adakah-"

"Siapa pria tadi?"

Pimpinan penjara berdehem lagi "M-maksud A-anda Yang-"

"Pria yang baru saja dihukum, siapa dia,"

"P-pria yang terluka itu?"

"Berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain, kau membuat kesabaranku habis," Sehun melirik tajam pimpinan penjara.

Pimpinan penjara meneguk ludahnya kasar.

"D-dia salah satu tawanan penjara ini…"

"Kau kira aku bodoh? Jika dia bukan tawanan di sini, sedang apa dia di sini? Melakukan pekerjaan sosial?"

Bulir keringat membasahi dahi pimpinan penjara. Dan diluar masih hujan deras. Sesekali angin bertiup kencang.

"Dia adalah salah satu tawanan perang Yang Mulia,"

Sehun terdiaam sejenak mulai berpikir.

"Dari mana?"

"Uh…saya tidak tahu pastinya Yang Mulia, karena kereta tawanan tidak pernah mengatakan mereka berasal dari mana,"

Ucapan pimpinan penjara membuat Sehun mengernyit tidak suka.

"T-tapi dia adalah tawanan baru, kemungkinan dari desa yang baru saja dimenangkan,"

Sehun menganggukan kepalanya.

Ahh, desa kecil itu.

"A-ada apa Yang Mulia bertanya tentang pria itu?"

Sehun menegakkan kembali duduknya yang bersender pada sandaran kursi di sana. Ia menaruh tangannya di atas meja dan menatap pria di sebrangnya dengan nyalang. Ya selama ini, Sehunlah yang duduk di tempat yang seharusnya milik pimpinan penjara itu menyisakan pimpinan penjara duduk tidak nyaman di kursi khusus tamunya.

"Aku akan membawanya keluar dari tempat ini,"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Uuuh…"

Erangan kecil keluar dari bibir pemuda yang tidur secara tengkurap itu. Suara kecil tadi juga langsung menyiagakan dua orang yang sedari tadi duduk di samping ranjang pemuda yang sedang tiduran tersebut.

"Luhan hyung, kau sudah sadar? Apakah kau membutuhkan sesuatu? Haus? Apakah ada yang sakit hyung? Masih sakit?" Jungkook langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri wajah Luhan yang menengok ke kiri karena bagaimanapun ia yang sedang tiduran tengkurap ini masih harus menarik nafas.

"Jungkook, jangan menanyai hyung macam-macam, kau membuatnya tambah pusing!" Taehyung yang mulai beranjak untuk berdiri di samping Jungkook memarahinya karena bertanya seperti itu pada pria yang baru saja bangun dari pingsannya.

Yang dimarahi hanya mengerucutkan bibirnya sedikit. Seolah merajuk karena ia yang khawatir ini malah mendapat amarah dari pria di sebelahnya ini. Kondisi mereka seolah mereka melupakan posisi mereka sebagai tawanan dan penjaga penjara.

Luhan sedikit tertawa karenanya.

Walaupun kemudian ia meringis kesakitan.

"Hyung, gwenchana? Apakah kau baik-baik saja?" Jungkook langsung mengecek keadaan Luhan.

Luhan berusaha untuk duduk, namun usahanya sia-sia karena sedikit saja tubuhnya bergerak, rasanya kulit punggungnya akan hancur.

"Tidurlah hyung, jangan bergerak atau berbuat macam-macam," Taehyung terdengar khawatir sesaat setelah ia melihat tindakan Luhan.

"J-Jungkook-ah…" Luhan berkata lemah.

"Ne hyung, apakah hyung membutuhkan sesuatu?" Jungkook langsung berlari ke arah Luhan. Ia berlutut sehingga wajahnya bisa setara dengan wajah Hyungnya ini.

"A-apakah kau baik-baik saja? Mereka tidak melukaimu kan?"

Jungkook menggigit bibirnya dan menahan air mata yang nampaknya sudah akan meleleh itu. Di saat kondisinya seperti ini, kenapa masih Hyungnya ini masih bisa memikirkan keadaan orang lain. Taehyun yang melihatnya tersenyum kemudian menghampiri Jungkook dan mengelus punggungnya membisikan "Gwenchana," berulang-ulang.

"N-ne, gwenchana Hyung," Jungkook menjawab dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.

Luhan tersenyum. "Syukurlah…"

Dan satu air mata leleh dari mata Jungkook.

"M-maafkan aku Hyung…gara-gara a-aku, hyung―"

"Itu bukan salahmu Jungkook-ah," Luhan memotong ucapan Jungkook dengan suaranya yang serak dan lemah.

"Hyung tidak apa-apa…dan jangan menangis, kau membuat Hyung merasa bersalah karena membuatmu menangis," Luhan tertawa pelan. Tangannya yang bergetar mencoba meraih puncak kepala Jungkook dan mengelusnya. Namun kata-kata dan gestur itu justru membuat Jungkook semakin meneteskan air matanya.

"A-apakah…s-sakit sekali Hyung?" disela isakannya Jungkook bertanya.

"Hmm, tapi sekarang sudah tidak," Luhan kembali tersenyum.

Taehyung yang sedari tadi diam mulai mengeluarkan suara. "Tadi ada tabib yang mengobati Hyung…hyung masih pingsan jadi Hyung tidak merasakan perihnya obat itu…"

"Aah, begitukah? Sepertinya Hyung beruntung," Luhan masih mengelus surai hitam Jungkook yang masih menangis dan menggumamkan kata maaf berulang-ulang. Walaupun Luhan sudah mengatakan bahwa ini semua sama sekali bukan salah Jungkook.

"Apakah kalian sudah selesai? Aku ingin bicara dengan pria itu berdua."

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Sehun berjalan dengan langkah lebar dan cepat ke arah orang pengobatan. Setelah kata-kata terakhirnya pada pimpinan penjara ia langsung keluar untuk mencari pria itu. Toh ia tidak membutuhkan ijin apapun jika ingin membawa orang dari sini. Semua yang ada disini adalah miliknya termasuk para budak-budak tawanan tidak berguna itu. Sehun ingin urusannya dengan pria itu selesai sekarang juga. Tanpa mengetuk pintu kayu itu ia membukanya dan mendapati tiga orang di sana.

Langkah Sehun mulai mendekati ketiga pria yang ada di dalam ruangan itu. Salah satunya tertidur dan sedang mengelus surai pria yang berlutut di hadapannya dan pria terakhir hanya berdiri di belakang pria yang berlutut itu dan memandang pria yang berbaring dengan sendu.

Sehun merasa ingin muntah melihatnya.

"Apakah kalian sudah selesai? Aku ingin bicara dengan pria itu berdua."

Suara Sehun mengaggetkan ketiga pria di sana. Mereka langsung mengarahkan mata mereka ke arah sumber suara dan seketika mata mereka membulat mendapati Raja berdiri di belakang mereka.

"Kalian berdua―" Sehun menunjuk Jungkook dan Taehyung. "―keluar dari sini." Perintahnya datar.

Pandangan Sehun turun ke bawah. Mendapati Luhan yang terbaring di kasur kerasnya.

"Dan kau, duduk. Aku ingin bicara padamu,"

"Y-Yang M-mulia, Luhan Hyung b-belum b-bisa du―"

"Apakah aku bicara padamu? Bukankah aku bilang kalian harus keluar?" ucapan Sehun memotong perkataan Taehyung. Pandangannya tetap terarah pada Luhan yang masih tidur dengan posisi tengkurapnya.

Luhan yang mendengar ucapan Sehun mengendus tanda bahaya jika ia tidak menuruti ucapan pria ini. Luhan mencoba bangun dengan susah payah. Ia mencoba menahan beban tubuhnya di tangannya untuk―setidaknya―mampu bangun dari tidurnya.

Taehyung dan Jungkook yang belum keluar menggigit bibir mereka kasar sebelum keduanya melangkah lagi ke dekat ranjang Luhan dan mulai membantu namja rusa itu untuk duduk. Sesuai perintah Sehun.

Melihat kejadian itu, Sehun memutar bola matanya malas.

Setelah Luhan terduduk di tepi ranjang, dan mengucapkan terimakasih pada Taehyung dan Jungkook lirih, Taehyung dan Jungkook mulai melangkah keluar walaupun masih dalam keadaan yang sangat was-was.

Setelah pintu sempurna tertutup kembali, Sehun melangkahkan kakinya mendekati namja yang tampak tertunduk itu.

"Kau…"

Sehun tepat berdiri di depan namja itu sekarang. Namja itu masih tidak memakai baju. Dan di punggungnya terdapat seperti bekas bekas ramuan berwarna oranye.

"Tatap aku ketika aku berbicara,"

Luhan tetap tidak bergeming dari posisinya yang menunduk. Ia memandangi jarinya yang saling bertaut di pangkuannya.

"Jangan membuatku mengulang perintah dua kali,"

Luhan tetap menunduk.

Sehun yang jengah dengan lawan bicaranya ini menarik rambuty Luhan kebelakang sehingga kepalanya kini mendongak. Memperlihatkan kulit pucat pasi dan wajah kesakitannya pada Sehun.

"Sakit?"

Pertanyaan Sehun hanya dijawab erangan dari Luhan tatkala Sehun mempererat tarikan di rambutnya.

"Inilah yang kau dapat ketika melawanku,"

Sehun melepas tarikannya kasar dan mendengus ketika melihat Luhan mengusap usap bagian kepalanya yang tertarik tadi. Luhan tidak lagi menunduk. Matanya yang lebar itu kini menatap Sehun dengan berkaca-kaca dan pasrah.

Sehun sedetik memandang mata yang menatapnya dengan penuh ketakutan itu. Merasa sejenak terpaku pada dua bola mata itu. Seakan ingin menghapus ketakutan yang menutupi keindahan dua bola mata itu sebenarnya.

Sehun menggeleng kasar.

Tidak.

Ia tidak boleh larut pada namja rendahan seperti ini.

"Siapa namamu?"

"L-Luhan. Xi Luhan…"

Luhan…

Sehun mengulang nama itu di hatinya.

"Apakah kau tahu siapa kau?"

Luhan mengerutkan dahinya. Ia lalu menggeleng lemah. Tidak tahu apa sebenarnya maksud Sehun menanyakan hal seperti itu padanya.

Memangnya aku siapa, kenapa Yang Mulia bertanya seperti itu padaku?

Sehun diam saja melihat gelengan Luhan. Ia sedikit menengok ke pundak kanan Luhan dan mendapati tanda tipi situ masih di sana. Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan bicaranya.

"Kau akan ikut denganku, keluar dari tempat ini,"

Luhan membulatkan matanya lebar. Mendengar ucapan Yang Mulia tentu saja membuatnya senang. Ia bisa keluar dari penjara ini demi Tuhan! Namun, setelah apa yang Yang Mulia perbuat padanya, sepertinya Luhan tidak terlalu yakin lagi.

"K-kenapa?" Tanya Luhan terbata.

Sehun meliriknya tajam. "Kau tidak mau?"

Luhan menggigit bibirnya takut-takut. Ia ingin keluar dari sini. Mungkin pergi untuk mencari adiknya walau ia tidak tahu harus mencari ke mana.

"H-hanya bertanya Y-Yang Mulia…"

Sehun memandang pria yang ada di hadapannya ini. Tubuhnya kurus, tinggi yang tidak seberapa, kulit yang putih―walau tertutup kotoran debu dan bekas siksaannya, rambut yang hitam dan terlihat halus…

Dan wajahnya yang cantik…

Tidak buruk

Sehun menepis kasar pikiran itu. Sudah berapa kali ini pikirannya teralihkan oleh pria ini. Sehun menatap pria di hadapannya tepat di manik matanya. Ia lalu mendekatkan wajahnya hingga hanya bersisa sedikit jarak antara wajahnya dan lawan bicaranya ini.

Menambah ketegangan yang sebenarnya sudah Luhan rasakan sejak tadi.

"Karna kau adalah namja yang akan mengandung anakku."

A-apa?

.

.

.

-o0o-

.

.

.

DUK! DUK! DUK!

Baekhyun membuka matanya perlahan. Belum sepenuhnya mata itu terbuka, ketukan―atau lebih bisa disebut dengan dobrakan di pintu kedai mi itu bertambah keras.

DUK! DUK! DUK!

"CEPAT BUKA PINTU INI!"

Kali ini ketukan itu bertambah dengan suara teriakan. Baekhyun mengerang pelan kemudian ia bangun dan duduk sambil mengusap matanya pelan. Ia memandang jendela dan melihat bulan dan bintang masih di sana. Mungkin sekitar dini hari? Entahlah.

Baekhyun menengok ke kanan dan mendapati Chanyeol masih tertidur dengan lelapnya. Ia tersenyum lalu menyibakan selimut tipisnya dan melangkah keluar menuju pintu.

Siapa yang mengetuk malam-malam seperti ini? Sudah tahu toko tutup masih saja

"CEPAT BUKA PINTU INI!"

Baekhyun mendengus mendengar ucapan pria di luar. Ia mempercepat langkahnya dan ketika tangannya hendak menggeser pintu itu, ia terdiam.

Bagaimana kalau orang jahat? Perampok? Aish aku harus bagaimana?

"CEPAT BUKA ATAU KEDAI INI AKAN DIHANCURKAN!"

Baekhyun menelan ludahnya.

Dari perkataannya sepertinya bukan orang baik…

DUK! DUK! BRAK!

Baekhyun berjengit kaget saat ia mendengar suara orang mencoba merusak pintu kedai ini. Memaksa masuk. Dengan segera Baekhyun menarik kancing kayu yang terpasang di atas pintu dan mulai menggeser pintu itu untuk kemudian terbuka.

Menampakkan beberapa prajurit istana bermuka masam di sana.

"A-ada ap―"

"Simpan bicaramu, kau tahu orang ini kan?"

Baekhyun melihat kertas yang disodorkan salah satu prajurit terdepan. Dan seketika matanya terbelalak melihat siapa orang yang ada di foto tersebut.

Chanyeol? B-bagaimana bisa…a-apakah dia buronan?

"Cepat katakan! Kau tahu kan dimana dia berada?!"

Baekhyun menatap prajurit di depannya. Kemudian menggeleng.

"T-tidak tahu, a-aku tidak tahu siapa dia,"

"Kau jangan berbohong anak ingusan! Dia ada di sini kan?!"

"A-aku tidak tahu sungguh! K-kalian lebih baik segera pergi dari tempat ini! Kalian menggangguku!"

Baekhyun baru saja akan menutup pintunya ketika tangan seorang prajurit menahan pintunya. Salah seorang prajurit mengkode teman-temannya untuk segera masuk ke kedai yang pintunya masih Baekhyun usahakan untuk tutup.

Saat masuk, mereka mendorong tubuh kecil Baekhyun hingga ia terjatuh dan terduduk di lantai dekat pintu. Para prajurit yang sudah masuk mulai menggeledah dengan kasar kedai kecil itu. Membuat kursi dan meja yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan lagi.

"Berhenti! Apa yang kalian lakukan brengsek! Kubilang berhenti!"

Baekhyun yang notabene ditahan oleh salah satu pengawal hanya bisa meronta meminta kebebasan untuk menyelamatkan kedai kecil milik kakek dan nenek yang sudah berbaik hati merawatnya. Bahkan tak terasa sedari tadi ia sudah menangis melihat kedai yang sudah ia cintai ini dirusak oleh prajurit prajurit brengsek itu.

Mereka terus saja berlaku seenaknya menggeledah―atau dalam pandangan Baekhyun merusak―kedai mi untuk mencari sesuatu. Teriakan dan rontaan Baekhyun sama sekali tak mereka pedulikan. Baekhyun yang sudah terlepas dari tahanan salah seorang penjaga mencoba menghentikan para prajurit itu dengan tenaganya yang tak seberapa itu.

Tidak menghasilkan apa-apa, usaha Baekhyun. Tubuhnya hanya terhempas beberapa kali ke lantai akibat dorongan para prajurit tidak manusiawi itu.

"Baek, aku mendengar keributan…"

Semua yang di dalam ruangan itu menolehkan kepala mereka ke arah tangga di samping kedai dan mendapati seorang pemuda tinggi yang sedang menggosok matanya pelan.

"Ada ap―" Belum sempat Cahnyeol melanjutkan omongannya, ia dibuat bungkam oleh pemandangan yang tersaji di hadapannya. Bangku-bangu yang berserakan. Pecahan mangkuk. Para prajurit istana…dan Baekhyun yang jatuh terduduk dan…menangis?

Chanyeol tidak mepedulikan hal lain. Ia langsung berlari ke arah Baekhyun dan langsung membantu namja yang lebih pendek itu untuk berdiri. Saat Chanyeol mengangkat tubuhnya, Baekhyun tetap terisak.

"K-kenapa kau turun..hiks..bodoh…"

Chanyeol mengusap punggung baekhyun pelan sesaat setelah ia memeluk Baekhyun.

"K-kau buronan? K-kenapa..hiks..mereka mencarimu?" Baekhyun berusaha mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya.

Chanyeol hanya diam saja. Para prajurit mulai mendekat ke arah dua orang itu.

"Y-Yeol, m-mereka mengincarmu, k-kau harus kabur cepat!"

Baekhyun masih berusaha mendorong tubuh Chanyeol agar segera pergi dari para prajurit yang sudah mulai mendekat itu.

Chanyeol menghela nafas frustasi saat salah satu prajurit menahan salah satu lengannya.

"Akhirnya kami menemukan anda…pangeran…"

Baekhyun membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Baekhyun menatap para prajurit yang sekarang tampak serius dan hormat. Tidak seperti tadi saat mereka bermuka masam.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang tertunduk. Baekhyun tersenyum miris saat mendapati Chanyeol tak berusaha membantah ucapan prajurit itu.

"Yeol…k-kau adalah pangeran? A-anggota kerajaan?" Baekhyun menahan suaranya agar tidak bergetar. Walaupun air mata kini malah semakin menumpuk di pelupuk matanya yang sudah memerah.

Chanyeol mengangkat wajahnya. Mendapati Baekhyun dengan mata merah dan raut kekecewaan.

"Baek…a-aku―"

"Kau berbohong padaku? Pada nenek dan kakek…kau berbohong…"

Baekhyun mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Menjauhkan dirinya dari Chanyeol.

"Baekhyun, dengarkan aku dulu…"

Baekhyun menggeleng.

"K-kau anggota kerajaan…kau berbohong…kau pembohong!" Baekhyun berteriak di akhir kalimatnya. Air matanya mulai mengalir lagi.

"Baekhyun..kumohon…" Chanyeol hendak mendekati Baekhyun yang semakin beringsut jauh darinya, namun cekalan tangan prajurit itu menahannya untuk bergerak tidak lebih jauh dari selangkah dari tempatnya berdiri sekarang.

"Apa tujuanmu sebenarnya? Kau menyamar? Ingin menangkap para pendatang gelap sepertiku?"

Penjaga yang mendengar ucapan Baekhyun ingin bergerak setelah mendengar kata pendatang gelap yang diucapkan Baekhyun.

"Jangan sentuh dia!" Cahnyeol mengucapkannya tegas. Para prajurit yang sudah mulai melangkah itu kembali ke tempatnya.

"Kenapa? Apa kalian ingin memenjarakanku? Bawa saja aku! Aku tidak peduli! Malah kemungkinan aku bisa bertemu Hyungku yang sudah kalian ambil! Kalian memang orang-orang yang tidak punya hati dan perasaan!"

Chanyeol sudah tidak tahan. Ia melepaskan genggaman prajurit itu dengan menghentakan tangannya kasar dan berjalan ke arah Baekhyun dan merusaha merengkuhnya.

Baekhyun menghindar.

"Mau apa kau?"

Chanyeol menatap Baekhyun dengan sedih.

"Kau pembohong brengsek, anggota kerajaan memang selalu saja brengsek!"

"Maaf… kumohon, dengarkan penjelasanku Baek…"

"Pergi…"

Chanyeol berusaha meraih tangan Baekhyun. Saat teraih, Baekhyunlah yang menepis kasar tangan Chanyeol.

"Pergi. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."

Chanyeol menjadi lemas seketika. Satu air matanya lolos dan tangannya yang tadi terulur kini sudah jatuh kesamping badannya.

Para prajurit yang melihat itu segera menahan tangan Chanyeol di belakang tubuhnya agar pemuda itu tidak lagi kabur.

"Lepaskan aku!"

Kini giliran Chanyeol yang meronta dari cengkraman para prajurit itu. Baekhyun menatap kejadian itu dengan datar. Seolah tidak terjadi apa-apa.

"Baek! Kumohon! A-aku mencintaimu dengarkan penjelasanku dulu!"

Deg.

Baekhyun yang mendengar teriakan Chanyeol yang mulai diseret keluar oleh para penjaga itu merasa hatinya membuncah senang. Namun ada semacam duri yang seperti menyayat juga di hatinya menghalangi kebahagiaan itu untuk membuka lebih lebar.

"Baekhyun, kau dengar! Aku mencintaimu―Lepaskan aku brengsek! Baekhyun!"

Baekhyun ingin merengkuh Chanyeol yag sudah berada di ambang pintu kedai ini. Namun Baekhyun hanya diam. Ia bahakan memunggungi Chanyeol. Seolah tidak mau melihat wajah pemuda tampan yang sudah mencuri perhatiannya ini.

"Baek! Jika kau tidak mau mendengarkan aku sekarang, kumohon datanglah ke tempat kencan kita, lusa! Kumohon! Kau harus mendengar pernyataanku! Baek! Lusa…tempat kencan kita…"

Suara Chanyeol perlahan-lahan hilang. Begitu pula dengan orang yang memiliki suaraberat itu.

Baekhyun ambruk dari tempatnya berdiri. Ia kemudian memeluk lututnya dan menyandarkan kepalanya di atas lengannya yang terlipat rapi di atas lututnya. Terisak pelan yang berganti cepat dengan derai air mata yang terus saja mengalir deras.

Chanyeol mencintainya…

Pria idiot yang baru saja Baekhyun kenal itu mencintainya…

Pria tinggi dan tampan itu mencintainya…

Pria manja yang bisa berubah tegas dalam sekejap itu mencintainya…

Pria yang mampu menenangkannya saat menangis itu mencintainya…

Pria yang ternyata juga sudah ia cintai itu…mencintainya…

Chanyeol juga mencintainya…

.

.

.

-o0o-

.

.

.

A-apa?

Luhan mengerjapkan matanya bingung.

"M-mengandung a-anak?"

Sehun mengangguk. Ia memundurkan langkahnya menjauh dari Luhan.

"Kau kebetulan adalah namja yang istimewa, dan kebetulan juga aku membutuhkanmu, jadi kau akan ikut denganku,"

Luhan memandangpria yang berhadapan dengannya ini. Dari pertama kali Luhan melihatnya, sejujurnya mungkin Luhan sudah menyukainya. Perawakannya teagas dan berwibawa. Dan wajahnya tampan. Sempurna. Walaupun dengan sifat yang sangat kasar dan hampir tidak berperi kemanusiaan.

Tapi mengandung?

Luhan membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun kemudian ia tutup lagi. Setelahnya ia buka mulutnya lagi dan menutupnya lagi. Sehun yang melihat Luhan seperti itu mengernyitkan dahinya.

"Kau kenapa?"

Luhan tampak kaget mendengar suara Sehun. Ia terlihat menimbang apakah ia jadi mengatakannya atau tidak. Matanya bergerak gelisah.

"Bicaralah!"

"Aku namja! Tidak bisa mengandung!"

Luhan tanpa sadar ikut berteriak saat Sehun berteriak padanya. Ia reflek kaget karena Sehun menginterupsi pikirannya. Sebenarnya Luhan ingin menjelaskan baik-baik pada Sehun, namun sepertinya Sehun memang tidak sabaran.

Namun Sehun malah tertawa.

Tawa mendesis yang mengerikan menurut Luhan.

"Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku bodoh?"

Luhan sebenarnya ingin sekali mengangguk.

"Pundak kananmu…"

Luhan reflek menyentuh pundak kanannya. Kemudian ia mengerang pelan ketika tangannya tak sengaja menyentuh luka yang baru saja diobati itu.

"Bodoh…" Sehun memutar matanya melihat tindakan Luhan.

"Kau memiliki tanda yang istimewa, kau bisa mengandung dan kau bisa menyelesaikan masalahku,"

Luhan sebenarnya masih bingung dengan pembicaraan pria tampan di hadapannya ini. Apakah yang ia bicarakan adalah tanda lahirnya? Yang berbentuk sayap itu? Tapi itu kan hanya tanda lahir? Lagi pula mengandung? Bagaimana mungkin…?

"Kau tidak usah banyak berpikir, kau akan bebas dari sini, bukankah itu menyenangkan?"

Luhan mengangguk.

"Kalau begitu, ikutlah denganku," Sehun mengulurkan lengannya pada Luhan.

Luhan menatap tangan yang terulur itu. Tak lama ia menyambut dan menggenggamnya. Hangat.

Sehun manrik satu sudut bibirnya ke atas. "Bagus, kau akan tinggal di istana dan mengandung anakku,"

Pipi Luhan memanas mendengar kata-kata manis Sehun. Tinggal di istana, mengandung anaknya…mungkinkah…

"A-apakah Y-yang Mulia a-akan menjadikan ku istri?"

Sehun menatap Luhan setelah ia mendengar kata-kata Luhan. Kedua sudut bibirnya kini terangkat sempurna. Senyuman yang manis menurut Luhan, membuat Luhan mau tak mau menyunggingkan senyumnya juga.

Namun Sehun malah tertawa keras.

"Istri kau bilang? Jangan bercanda, bagaimana mungkin seorang Raja menikahi namja buangan sepertimu?"

DEG

Seketika senyum Luhan menghilang. Sehun masih tertawa walau tidak sekeras tadi.

"L-lalu aku ini apa? K-kenapa aku harus mengandung anakmu?"

Sehun tampak berpikir sejenak. "Kau…hmmm…budak?"

Luhan melebarkan matanya yang entah kenapa sudah membendung air mata lagi.

"Kau hanya budak yang kebetulan mengandung anakku," Sehun berkata acuh. Kemudian matanya memandang Luhan nyalang. "Tidak lebih."

Luhan menundukkan kepalanya. Sehina itukah aku…

"Yah..setidaknya kehidupanmu akan lebih baik. Tidak hidup di penjara, kau mungkin akan bekerja di istana, setidaknya di sana kau tidak akan kelaparan."

Sehun mendekati Luhan yang tertunduk. "Bagaimana? Aku bisa saja mengatakan pada istriku jika kau tidak menemukan namja seperti kau,"

Luhan terbelalak.

"Y-Yang M-mulia mempunyai istri?"

Sehun mengangguk. "Tentu saja, dan aku sangat mencintainya. Kau pikir kenapa aku sampai mau repot repot mencari orang sepertimu?"

"Ah, sebelum kau tanya lebih lanjut, istriku tidak bisa mengandung, dan istriku menginginkan bayi. Dan kau adalah solusiku,"

Kalau begitu bukankah aku akan menjadi yang kedua? Ah…tentu saja tidak. Aku bahakn bukan yang kedua. Karna aku tidak pernah akan masuk hitungan.

"Kalau begitu kemasi barangmu, ah, kau tidak punya barang ya?" Sehun menyunggingkan senyum miringnya.

Luhan sebenarnya masih memikirkan bagaimana nasibnya ini. Orang di hadapannya menjanjikan kehidupan yang lebih baik dari di sini. Namun pria yang menjanjikan itu adalah pria yang sudah menorehkan luka yang sangat sakit ditubuhnya tanpa alasan khusus. Benarkah Luhan bisa mempercayakan kehidupannya di tangan pria ini?

"Kau sudah setuju, dan aku tidak menerima penolakan," desis Sehun.

Luhan menghela nafasnya berat.

"Baiklah…tapi bolehkah aku meminta beberapa hal padamu Yang Mulia?"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Hyung, kita mau kemana? Kenapa mereka membawa kita?"

Luhan yang sedang mengikuti beberapa penjaga penjara dengan Jungkook yang setia memapah tubuhnya yang lemah.

"Benar hyung, ke-kenapa mereka membawamu, dan Jungkook?" Taehyung yang ikut menggandeng tangan Luhan mengedarkan pandangannya pada para penjaga di samping kanan dan kirinya.

Luhan tersenyum menatap dua orang yang sanagt dekat dengannya di tempat menyeramkan seperti ini. Jika memang Luhan akan dijanjikan kehidupan yang lebih baik, meskipun Luhan tidak tahu ia akan benar-benar mendapat kehidupan yang lebih baik atau tidak dengan menjadi budak yang mengandung anak Raja, Luhan tidak ingin menyimpan berkat itu sendirian.

Jika Luhan mampu, ia ingin mengeluarkan setiap orang tidak bersalah yang ada di penjara ini. Namun Sehun berkata Luhan sudah cukup beruntung Luhan mampu membujuk Sehun untuk mengeluarkan Jungkook dan juga Taehyung dari tempat ini.

Luhan menghela nafasnya panjang. Sehun memang bukan orang yang menyenangkan untuk diajak tawar menawar. Butuh puluhan kata mohon dari Luhan sebelum Sehun jengah dan mengabulkan permintaan Luhan.

"Jungkook-ah, kau akan keluar dari tempat ini, Taehyung akan ikut bersamamu. Mungkin kalian akan hidup dip anti asuhan, tapi setidaknya itu lebih baik kan? Lagi pula kau masih anak di bawah umur," Luhan tersenyum pada Jungkook yang matanya sudah melebar.

"Dan Taehyung, sudah pernah ku katakana kau tidak pantas bekerja di penjara. Kau terlalu lembut. Mungkin bekerja dip anti asuhan? Kau bisa menjaga Jungkook untukku kan?" kini Taehyung yang membelalakkan matanya.

Dua orang yang ada di samping kiri dan kanan Luhan ini reflek memeluk Luhan yang kemudian mengerang sakit sambil tertawa. Mereka kemudian melepaskan pelukannya dan meminta maaf sambil sesekali terisak. Keduanya ternyata sudah menangis. Luhan tertawa. Ia senang bisa memberi kebahagiaan pada dua orang yang dia sayangi ini.

"Kalau kalian sudah selesai melakukan hal menjijikkan itu, segeralah naik ke kereta." Sehun yang sudah berada di aats kuda dan siap berangkat itu mendesis tajam pada ketiga orang di bawahnya.

"Kenapa tidak pakai kuda Yang Mulia?" Luhan bertanya pada Sehun.

Sehun melirik Luhan sekilas kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi ke depan. "Kau belum bisa naik kuda, punggungmu masih sakit kan? Cepat masuk ke dalam kereta, kita akan segera berangkat,"

Luhan tersenyum manis mendengar jawaban Sehun. Ternyata walaupun Sehun tidak sadar, Sehun masih mengkhawatirkan Luhan. Segera saja Luhan, dibantu Sehun dan Taehyung untuk segera memasuki kereta yang ditarik dengan kuda itu.

Kereta initidak seperti kereta yang pertama kali luhan naiki saat datang ke tempat ini. Jauh lebih bagus, namun tidak sebagus kereta-kereta kerajaan yang Luhan lihat di jalan rumahnya dulu saat Raja datang berkunjung. Kereta ini hanya kereta kayu berbentuk segi empat, namun di dalamnya ada kursi yang beralaskan busa yang empuk. Cukup nyaman.

Taehyung dan Jungkook duduk di samping Luhan. Mereka tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih dan senyum untuk Luhan. Luhan membalasnya dengan senyum yang tak kalah cerah dari mereka.

Memang kau tidak akan pernah menyesal telah menolong orang…

Dan kereta kuda itu pun mulai berjalan keluar dari tempat gelap yang telah menjadi rumah Luhan beberapa hari terakhir. Dan saat akhirnya Luhan mampu melihat pemandangan diluar tembok tebal itu, senyum Luhan mengembang lebar.

Baekhyun…hyung harap kita sudah semakin dekat…hyung akan temukan cara menemukanmu, atau kau bisa menemukan hyung mungkin?

Mata Luhan terpejam dengan senyum yang tidak lepas dari wajah ayunya itu.

.

.

.

.

.

.

.

Hai, ^^ maaf ngilang dan ngga update update hehehe, been bussy ^^" (tapi tep mampir sana sini baca ff /plak lol) dan…maaf banget kalo chap ini ngga dapet feelnya, bahasanya kurang baku,alurnya lambat apa gimanah-gimanah, pokoknya aku bener-bener kasih yang terbaik waktu buat ff ini, ^^

Thanks buat yang udah kasih saran, hehe, diusahain secepetnya Luhan hamil ^^" (puasa nih, NC nya akyaknya di skip aja kali ya –"), btw kayaknya ni ff bakal berlangsung lama deh, mungkin, mungkin loh ya, chapnya banyak, soalnya alurnya aku emang bikin lambat buat bangun feelingnya juga *alesan* hehe, semoga kalian ga bosen yaa, aku usahain yang terbaik d^^b

Yang reviewnya engga aku bales, maaf ya, karena waktu itu Cuma pake computer ayah dikantor, dan ini update juga pake tathering mama, *lagi miskin* maaf banget ya *deep bow*

And ofc big big thanks and love to :

Nisaramaidah28, Yohannaemerald, younlaycious88, Wu-Akai-odult, NoonaLu, kimyori95, sehunhanLisnaOhLu120, tetsuya kurosaki, ruixi 1, .58, DEERHUN794, Jung Eunhee, hunexohan, Krasivyybaek, KiranMelodi, zoldyk, ohandeer, oshbaek, SFA30, Nurfadillah, beng beng max, , WindaHunHanYeol, winter park chanchan, bebbyndyaaaa, khalidasalsa, HunHanCherry 1220, sukhyu, hunhanminute, Maple Fujoshi2309, Ryou Han, Viyomi, chanbyun99, .35, egatoti, minami Kz, , 50, SebutLuhan3x, viiyoung, jiaeraa15, exindira, My jeje, bebebekkk, Ririn Ayu, Kim Jung Sun11, Aria F, beobblecruz, msluhan87, karina, han-tu, Guest, Guest, Guest, Cherry blosoom, OKTA HunHan, handy, Guest, R, Long, Elisye Sihombing, Annisa Youling L Han, Namemartasari, hunhanloveyouchu, hunhan, hunhan1220, Guest, shireshei94, Guest, Sen, Sitinurafifah 12, AnggiChannieYL, Fida483, viiyoung, Cupide, Oh je rim, The Greatest Archer, Nataskuuk, ChagiLu, anon, niaexolu, ara choi, xohun35an, HyunniExo-L, Chie Atsuko, AceFanFan, YVRA REAL, novi, ludeer, luhan90rinda, .71271, miyah oh, manlylittledeer, BubbleePororo, kitablabla, chanbaeky, narahunhan1027, Re-Panda68, levy95, viohunhan, cl

.

.

KEEP REVIEW YA GUYS, LOVE YA ^^

.

.

Buat siders, aku gatau mau ngomong apa lagi sama kalian, selain review juseyo :*

.

.

Bonus Kaisoo (karna update lama dan ga ada Kaisoo di sini ^^)

.

.

Kai yang baru saja memasuki dapur dengan semangat. Di antara banyak pelayan lain, Kai selalu bisa mengenali sosok yang mempunyai punggung sempit dan tubuh yang kecil itu dimanapun. Kai tersenyum senang saat ia tahu Kyungsoo sedang tidak membawa bubuk merica atau dekat-dekat dengan bumbu-bumbu lain yang mungkin saja akan membahayakannya.

Kai mendekat ke arah Kyungsoo dan berdiri di belakang pria yang jauh lebih pendek darinya itu. Kai melingkarkan tangannya ke pinggang ramping namja itu dan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kyungsoo.

"Aku merindukanmu," bisiknya sensual.

"KYAAAA!"

DUONG!

"AAH!"

Kyungsoo yang mendengar bisikan sensual dari Kai langsung merinding dibuatnya. Dia lansungberbalik ke belakang dan dengan reflek yang luar biasa, ia menamparkan wajan yang sedang ia pegang ke wajah orang di hadapannya sembari berteriak keras. Pukulannya telak mengenai wajah si pemilik suara sensual tadi. Juga menimbulkan teriakan perih dari si pemilik wajah.

"Aaah! Wajahku…wajahku yang tampan…!"

Kyungsoo memperhatikan pria itu dengan takut-takut sambil terus menyembunyikan setengah wajahnya di balik wajan yang menyelamatkannya. Saat matanya menangkap wajah yang cukup familiar, matanya melebar lebih lagi hingga mungkin dua bola mata itu akan keluar dari tempatnya.

"A-astaga! Yang Mulia Kai! Tuhan…bagaimana ini…" Kyungsoo segera saja meletakkan wajan di meja belakangnya dan menghampiri Kai yang masih mengaduh. Melihat Kyungsoo mendekat ke arahnya, Kai mendongak.

"Astagaaa! Hidung anda berdarah!"

Kyungsoo dengan cekatan membersihkan darah di hidung Kai dengan sapu tangan yang selalu ia simpan di saku belakang celananya.

"M-maafkan s-saya… saya benar-benar tidak sengaja…a-anda mengejutkan saya..s-sehingga…aduuuh, bagaimana ini…saya minta maaf…saya minta maaf…" Kyungsoo terus menggumamkan kata-kata saat mengelap hidung Kai dengan lembut dan hati-hati.

Kai bahkan tidak mendengarkan ucapan Kyungsoo. Yang ia pikirkan saat ini adalah, betapa lembut dan hangat tangan Kyungsoo yang bertengger manis di pipinya, dan betapa manisnya wajah Kyungsoo jika dilihat sedekat ini…

"S-setidaknya, darahnya sudah b-berhenti…m-mungkin anda ingin pergi ke tabib Yixing?" Kyungsoo berjalan mundur. Namun Kai lebih cepat menariknya lagi mendekat.

"Kau ini…pertama kali bertemu kau melemparku dengan sendok kayu, pertemuan kedua kau menyiramku dengan air, pertemuan ketiga kau membutakanku dengan bubuk merica, dan sekarang kau mencoba mematahkan hidungku? Kau ada dendam apa denganku?"

"M-maafkan saya Yang Mulia…s-saya hanya terkejut kare―"

CUP!

Kai memotong perkataan Kyungsoo dengan menempelkan bibir ranumnya di bibir Kyungsoo yang sedikit terbuka itu. Menciptakan lekukan yang pas dengan bibir Kai untuk menyatu dengan milik Kyungsoo.

Manis.

Kai tersenyum setelah ia melepaskan ciumannya dari bibir Kyungsoo. Mata Kyungsoo belum berhenti melebar dan pipinya kini tampak lebih merah dari sebelumnya.

"Aigo, kau sangat manis sekali, lain kali, sambutlah aku dengan cara seperti itu, kau mengerti?" Kai tersenyum lebih lebar dan mengasak rambut Kyungsoo pelan sebelum pergi dengan senandung kecil menghiasi langkahnya. Meninggalkan Kyungsoo yang masih terpaku di tempat.

Kyungsoo menarik tangannya untuk menyentuh bibirnya. Dan saat jari mungilnya menyentuh bibir itu, pipi Kyungsoo kembali memerah dan sudut bibirnya tertarik ke atas. Menampakkan bibir hati yang menawan.

Rasanya manis sekali…

.

.

.

Apa ini, kenapa ditambah bonus chapter jadi panjang gini /