Chapter 6

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

Tengah malam di sebuah istana, sebuah kereta kuda baru saja memasuki bangunan kokoh dan berpenjagaan ketat itu bersama beberapa pasukan berkuda lain yang mengikuti kereta besar memasuki gerbang yang terbuka. Saat gerbang sudah ditutup, kereta itu berhenti dan kusir yang memegang kendali kuda segera turun menuju pintu kereta yang ia bawa.

"Yang Mulia, kita sudah sampai," seorang prajurit membukakan pintu kereta kuda. Dan dari sana pria tinggi itu turun dengan langkah ogah-ogahan. Ia lalu menyodorkan tangannya yang diikat untuk dilepaskan. dan penjaga itu menurutinya. Toh ini sudah sampai di istana.

"Channie…"

Suara wanita yang lembut mengalihkan pandangan Chanyeol pada tangannya yang masih berusaha di lepaskan dari ikatannya. Chanyeol yang melihat wanita itu langsung mengerucutkan bibirnya. Wanita itu berjalan mendekati Chanyeol dan penjaga yang hampir selesai menguntai tali yang melilit.

"Kenapa harus diikat?" Tanya wanita itu.

"Yang Mulia mencoba kabur Ratu, kami tidak bisa menenangkannya dan kami terpaksa mengikatnya,"

Sang Ratu mengangguk mengerti. Walaupun wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran yang berlebih. Penjaga itu telah selesai menguntai tali Chanyeol, kemudian ia membungkuk yang dibalas anggukan singkat oleh Ratu lalu berlalu pergi dari sana.

Melihat penjaga itu telah pergi, Chanyeol langsung menubruk wanita itu dengan tubuhnya yang lebar. Chanyeol memeluk wanita itu dengan erat. Menumpahkan emosinya yang sedari dia tahan-tahan. Tangan wanita itu mengelus pelan punggung Chanyeol. Menenangkannya yang ternyata sudah menangis.

"Bun..da…" panggil Chanyeol di tengah isakannya yang semakin menjadi.

"Hmm? Ada apa Channie?" Sebenarnya wanita itu ingin sekali menanyakan kemana saja anaknya kenapa dia baru pulang setelah 3 hari ini dia menghilang. Mungkin juga sedikit memarahinya karena lusa adalah hari yang penting untuk anaknya. Namun semuanya itu lenyap ketika dengan sesak anaknya memeluknya dan menangis di pelukannya.

"Bunda…Channie..hiks…Baek…hiks…"

"Sshhh, tenanglah Channie, ada apa? Ceritakan pada Bunda masalahmu, jangan menangis ne…anak Bunda tidak boleh menangis…" Wanita itu―atau ibu Chanyeol melepas pelukannya dan mengelap air mata yang membasahi pipi anaknya yang masih terisak. Walaupun ia juga sedikit mengernyit mendengar kata 'Baek' keluar dari bibir anak nya. Ataukah itu nama orang?

"Channie mianhae..hiks…mianhae Baek…hyun…" Chanyeol mengusap usap matanya dengan tangannnya yang besar. Berusaha menghentikan aliran air yang tidak mau berhenti itu.

"Ssh, sekarang kita ke kamarmu dulu, ceritakan pada Bunda di sana,"

Ibu Chanyeol merangkul badan Chanyeol dan menuntunnya masuk ke kamarnya. Ibu Chanyeol sebenarnya tahu kenapa ia sampai kabur dari istana. Chanyeol adalah anak satu-satu miliknya, ia sangat manja namun juga di manjakan. Sifatnya masih kekanak-kanakan di mata wanita itu. Walaupun sikap Chanyeol yang seperti itu hanya ditujukan pada orang-orang yang dianggap Chanyeol 'istimewa' saja. Seperti ibunya, dan kadang-kadang ayahnya.

Namun tradisi tetap tradisi. Di ulang tahunnya yang ke 20 tahun mendatang, statusnya akan resmi menjadi calon pengganti Raja, dan wajahnya yang selama ini ditutupi dari public, akan mulai dikenal rakyatnya. Chanyeol tidak setuju. Ia bahkan menangis dipelukan ibunya seharian saat Ayahnya mengatakan hal itu tepat setelah makan pagi.

Dan saat ayahnya mengumumkan akan segera menikahkan Chanyeol saat mereka makan malam, Chanyeol yang suasana hatinya sudah suntuk memilih pergi dari istana. Membuat seluruh orang di dalam Istana kalang kabut mencarinya.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Luhan tak henti-hentinya mengedarkan pandangan matanya ke arah jendela di keretanya. Melihat pemandangan siang yang menakjubkan. Mereka baru saja berangkat lagi setelah rombongan ini menurunkan Taehyung dan Jungkook di panti asuhan. Ketiganya berpamitan dengan derai air mata yang direspon Sehun dengan putaran bola mata malas. Setelah selesai mengelap air mata satu sama lain akhirnya Luhan masuk kembali ke dalam kereta. Yang secara luar biasa, dibantu oleh Sehun sendiri.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, Sehun tidak turun dari kereta ini setelah Luhan berhasil duduk dengan nyaman. Sehun malah dengan santainya duduk di samping Luhan dan melipat tangannya. Luhan sempat bingung, kenapa Sehun ada di dalam kereta ini dan saat Luhan bertanya, Sehun menjawabnya dengan kalimat sederhana.

"Aku lelah,"

Dan Luhan tidak bertanya apa-apa lagi.

Sepanjang perjalanan kemarin, tentu saja Luhan bisa sedikit beristirahat, namun Sehun yang mengendarai kuda tentu tidak bisa beristirahat karena harus fokus pada jalanan yang ia lewati. Kuda Sehun mungkin sekarang di bawa salah satu dari beberapa prajurit yang ikut dalam perjalanan kali ini. Entahlah, Luhan tidak ambil pusing.

Saat menolehkan kepalanya dari jendela, Luhan melihat Sehun yang sepertinya sudah sangat mengantuk. Ia sempat tertunduk-tunduk sambil memejamkan matanya. Luhan sedikit tersenyum melihatnya.

"Tidurlah Yang Mulia, anda tampak lelah," Luhan berucap ramah.

Sehun yang mendengarnya langsung menegakkan badannya lagi. Ia kemudian mendecih kesal dan menatap nyalang Luhan yang mencoba bersikap ramah.

"Kau tidak perlu cari muka di hadapanku," ucap Sehun ketus.

Luhan yang mendengarnya hanya tersenyum singkat walaupun hatinya sedikit mencelos mendengar kata-kata tajam Sehun. Sungguh ia tidak ada maksud apapun. Lagipula ia tahu apa dan bagaimana posisinya di sini…

Luhan mengalihkan lagi pandangannya pada jendela yang menampilkan pemandangan yang tidak pernah Luhan lihat sebelumnya. Sehun yang melihatnya mendengus kesal. Ia memfokuskan tatapannya ke depan. Tangannya ia lipat lagi di dadanya.

Sehun sebenarnya memang sangat lelah. Sudah dua malam ia melewatkan tidur. Satu saat berangkat ke penjara, dan satunya lagi saat ia pulang tadi malam. ia mencoba menguap untuk menghilangkan kantuk sialnya. Menunduk menyembunyikan wajahnya dari pria di sebelahnya―yang tampak tidak tertarik―dan menguap dengan lebar tanpa ia tutup-tutupi.

Karena menunduk, ia malah semakin mengantuk. Sehun tanpa sadar memejamkan matanya perlahan. Dan perlahan… dan perlahan…

Duk!

"Ah!"

Kepala Sehun terantuk pinggiran jendela di sampingnya.

Luhan menoleh ke arah Sehun lagi setelah ia mendengar suara debuman dan pekikan kecil pria di sebelahnya. Sekarang ia mendapati Sehun yang sedang mengumpat kesal pada jendela yang tentu saja tidak bersalah itu.

Luhan sedikit tertawa melihatnya.

"Apa yang kau tertawakan hah?!"

Yang dibentak langsung menutup bibirnya yang sempat mengembang senyum lebar. Ia menggeleng cepat sebagai balasannya. Sehun mendengus tidak sukadan matanya kembali―berusaha―untuk menatap ke depan.

Sebenarnya, Luhan sangat kasihan melihat Sehun nampak sangat kelelahan. Baru beberapa detik matanya fokus ke depan, ia sudah menunduk dan menguap lagi. Kali ini dengan tangan yang menutupi mulutnya. Tak tahan, Luhan langsung meraih kepala Sehun dan memaksanya membaringkan kepalanya di paha Luhan.

Sehun mendelik marah.

" . ?" ucapnya ditekan-tekan.

Luhan menjawabnya dengan mengarahkan tangannya ke dahi Sehun dan mulai memijit pelipisnya pelan.

"Yang Mulia lelah, dan butuh istirahat,"

Sehun sebenarnya ingin sekali menepis tangan Luhan jika saja pijatan Luhan di pelipisnya tidak terasa sangat nyaman.

"Berhenti menyentuhku…" ucapnya setengah hati. Ayolah pijatan tadi sangat nyaman dan benar-benar membuatnya rileks!

"Sudahlah Yang Mulia tak perlu malu, istirahatlah aku tahu kau lelah,"

Sehun memicingkan matanya menatap Luhan yang sekarang sedang asik menggerakkan jarinya dipelipis Sehun. Dari sini Sehun dapat dengan jelas menelisik wajah Luhan. Matanya besar dan bulat, bulu matanya menjuntai ke bawah kemudian melengkung ke atas dengan indahnya, bibir dengan pahatan sempurna, memang dari sini Sehun bisa menilai wajah Luhan terlalu lembut untuk dikategorikan sebagai lelaki 'tulen'.

Sehun melirik ke arah perut datar Luhan. Sehun meneguk ludahnya pelan. Dari sini akan tumbuh seseorang yang akan menjadi penerusnya. Seseorang yang jauh―sangat jauh―di lubuk hatinya yang kejam juga Sehun rindukan untuk ia timang. Namun perasaan itu sepenuhnya sudah Sehun buang manakala ia menikahi Im Yoona. Gadis sempurna walaupun kurang sehat. Toh Sehun memang tidak menyukai anak-anak. Dan dia merasa hidupnya dengan Yoona sudah sangat cukup membahagiakan.

Luhan memang sedikit memajukan duduknya. Dari tadi punggungnya tidak menyadar pada senderan kursi yang ia duduki. Memang cukup pegal, namun bisa apa dia jika punggungnya itu memang sakit sekali jika tersentuh sedikit saja. Saat memakai baju putih kebesaran ini saja, ia meringis keras, dan bila sesekali kain kasar dari baju yang ia kenakan menggesek permukaan kulitnya yang terbuka ia akan menggigit bibirnya kasar untuk mengalihkan rasa sakitnya. Sudah beruntung Luhan diberi kaus baru oleh para penjaga setelah kaus usangnya disobek saat ia dihukum waktu itu. Luhan tidak boleh mengeluh.

Posisi Luhan yang sedikit maju memang mendekatkan Sehun pada perut Luhan. Dan karena pijatan Luhan memang menenangkan, Sehun lambat laun luluh dan menutup matanya, masuk kealam mimpi. Dan karena Sehun sudah tidur, ia tanpa sadar menelusukkan wajahnya ke perut Luhan dan tangannya ia rentangkan untuk memeluk perut pria itu mencari posisi yang nyaman.

Luhan yang melihatnya hanya tersenyum. Karena pria yang ia pijat sekarang tertidur dengan posisi menyamping, ia sekarang hanya mengelus surai hitam lembut milik Sehun. Sesekali bibirnya menyenandungkan nada halus untuk semakin membuat Sehun nyaman dalam tidurnya.

"Tampannya…" Luhan tersenyum saat ia mengatakannya di sela-sela senandungnya. Jarinya yang tidak membelai surai halus Sehun menelusuri bentuk bentuk wajah Sehun. Walaupun hanya dari samping, Luhan sudah bahagia bisa melihat wajah polos Sehun saat tidur. Ia terlihat seperti bayi. Jauh dari kata kejam yang selama ini mengikuti namanya. Tanpa sadar, Luhan tersenyum semakin lebar. Ia kembali bersenandung dan mengelus lembut rambut Sehun.

Entah kenapa, jauh dilubuk htai Luhan, timbul perasaan senang karena bisa membuat pria di pangkuannya ini nyaman. Senang karena pria di pangkuannya ini dapat terlelepa dengan senandungnya dan belaian tangannya di rambutnya.

Padahal, Luhan tidak sekali dua kali melakukan hal ini pada seseorang. Ia seringkali melakukan ini pada adiknya Baekhyun, dan Baekhyun juga selalu menunjukkan reaksi sama seperti Sehun. Namun Luhan hanya tersenyum lega manakala Baekhyun berhasil tidur di pangkuannya, bukan perasaan senang seperti ini…

Apakah…

Aku menyukaimu Yang Mulia…?

Memikirkan itu membuat hati Luhan sekali lagi teriris. Ia tidak boleh memikirkan hal-hal menyangkut perasaannya. Dengan jelas Sehun mengatakan bagaimana dan apa posisi Luhan di mata Sehun. Budak. Budak yang kebetulan mengandung anaknya. Sehun tidak mungkin mencintai Luhan. Pria kelas bawah seperti dia tentu tidak pantas bersanding dengan Raja semacam Sehun.

Dan Oh Sehun sudah mempunyai istri yang sangat di cintainya.

Luhan tersenyum pahit mengingat fakta bahwa ia tidak akan pernah menjadi prioritas Sehun. Di mata Sehun ia hanya seorang pemeran pembantu. Bukan pionir utama yang akan selalu menjadi prioritas Sehun. Luhan menatap lagi ke arah Sehun yang kini bahkan sudah mendengkur dengan halus.

Meskipun sakit, ia harus menerimnaya. Walaupun Sehun tidak mencintainya, ia masih bisa berusaha memperbaiki hidupnya yang berantakan. Mungkin ia akan mencari Baekhyun? Ya ia akan pergi menemukan adiknya itu dan hidup bersamanya lagi setelah urusannya dengan Sehun selesai.

Tapi untuk sekarang…

Luhan tersenyum. Ia masih bersenandung dan jarinya masih mengusap rambut Sehun. Ia membungkukkan badannya ke bawah. Sakit. Sebetulnya sangat sakit. Baik di bagian punggungnya, atapun di hatinya ketika ia melakukan ini.

Dengan beraninya Luhan menunduk dan mencium puncak kepala Sehun.

Luhan mengangkat badannya lagi. Masih tersungging senyum yang sama di wajahnya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke samping. Matanya lambat laun mulai terpejam mengikuti alunan nada yang mulai menghilang. Sebelum tidur benar benar menguasainya, Luhan menggumamkan sesuatu dalam hatinya.

Maaf…Biarkan aku menjadi egois kali ini, hanya kali ini…

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Baekhyun sedang menata ulang mangkuk-mangkuk yang baru saja ia beli dengan tabungannya―dan tentu saja tabungan Luhan―untuk dimasukkan ke dalam lemari penyimpanan.

Setelah menceritakan kekacauan tadi malam dengan kakek dan nenek, dan usahanya yang sia-sia kala ia mencoba membersihkan kekacauan ini sendirian sebelum kakek, nenek datang, janji berkali-kali yang mengatakan ia akan mengganti semua perabot yang rusak―walaupun kakek dan nenek sudah berkali-kali juga melarangnya, melihat kedaan Baekhyun yang berantakan dan habis menangis,―dan juga menjelaskan―secara tidak jujur―kenapa Chanyeol sudah tidak ada di sini lagi.

Chanyeol.

Mengingat namanya saja sudah membuat Baekhyun sakit hati.

Tentu saja Baekhyun berpikir apakah tindakannya berlebihan. Apakah ia sudah keterlaluan. Melihat wajah Chanyeol yang menyiratkan luka malam tadi, serta apakah ia terlalu kasar, membentak Chanyeol seperti itu tanpa mau mendengar alasannya.

Apakah..apakah Chanyeol sekarang baik-baik saja?

Baekhyun mendecih. Tentu saja. Tentu saja Chanyeol baik-baik saja. Ia seorang pangeran. Demi Tuhan, ia pasti baik-baik saja sekarang. Tidur di kasur bulu angsanya. Makan dari sendok perak. Hidupnya pasti baik-baik saja. Ya, Baekhyun tidak perlu ragu. Dan tidak perlu memikirkannya.

Apakah perasaannya tidak terlukai? Chanyeol adalah pemuda yang lembut hatinya…

Baekhyun mengerang kesal pada hatinya sendiri karena memikirkan itu. Jika dipikir-pikir memang Chanyeol adalah pemuda kekanak-kanakan yang mempunyai hati sangat sensitif. Ia tidak suka dibentak, apalagi ditolak.

Dan apa yang sudah kau lakukan tadi malam Xi Baekhyun. Kau membentaknya, dan kau menolaknya. Kombinasi yang bagus.

"Baekhyun?"

Suara nenek mengalihkan pikiran Baekhyun yang semakin dirundung rasa bersalah. sebenci-bencinya ia pada keluarga kerajaan, Chanyeol…yah dia berbeda. Dalam artian yang bagus.

"Iya Nek, ada yang bisa Baekhyun lakukan?"

"Tidak, nenek lihat kau sudah selesai menata mangkuknya? Padahal kau tak perlu repot-repot,"

Baekhyun tersenyum. "Tidak apa-apa nek, Baekhyun sudah sangat merepotkan nenek dan kakek, Baekhyun tidak mau menjadi beban…"

Nenek mendekati Baekhyun dan mengasak pelan rambut Baekhyun dengan sayang. "Aigo, beban apa Baekhyun, kau sudah seperti cucu nenek dan kakek,"

Baekhyun tersenyum lebar mendengarnya. Ia sangat senang sungguh. Dianggap keluarga, mempunyai keluarga. Hhh Baekhyun jadi merindukan hyungnya…

"Ah ya Baekhyun, lusa ada perayaan di alun-alun kota,"

Lusa…alun-alun kota…

Senyum Baekhyun menghilang.

"…Pangeran akan diperkenalkan sebagai penerus untuk pertama kali kepada rakyatnya oleh Raja jadi…"

Perkataan nenek tak Baekhyun hiraukan. Baekhyun hanya mendengar bagian terpeningnya saja. Pangeran akan diperkenalkan oleh Raja. Pangeran…Chanyeol…penerus kerajaan…

Baekhyun tersenyum getir. Mau apa dia di hari penobatannya itu? Mempermalukannya? Memperjelas jarak strata antara mereka? Chanyeol ingin Baekhyun melihat betapa agungnya dia? Chanyeol bilang dia mencintainya. Apa? Ternyata dia sama saja dengan Raja-raja bodoh lain yang gila kekuasaan.

"Baekhyun? Kau mendengarkan Nenek?"

"Ah..ah ya, aku…" Baekhyun tersenyum lebar. "hehehe, nenek bilang apa tadi?"

Nenek menghela nafas panjang. "Kau ini, karena lusa ada perayaan penobatan penerus kerajaan, toko akan tutup dan semua orang akan ke alun-alun kota untuk mengikuti perayaan. Kau mau ikut atau mau di rumah saja?"

"Baek! Jika kau tidak mau mendengarkan aku sekarang, kumohon datanglah ke tempat kencan kita, lusa! Kumohon! Kau harus mendengar pernyataanku! Baek! Lusa…tempat kencan kita…"

Baekhyun tersenyum lebar. "Baekhyun akan menjaga kedai saja nek,"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Yang Mulia kita sudah sampai―oh…" Penjaga yang membukakan pintu kereta menghentikan perkataannya kembali ketika mendapati Sehun tengah tertidur di paha Luhan. Dan Luhan yang juga tertidur menyandar jendela.

Sehun yang mendengar suara orang lain langsung terbangun dengan cepat. Ia langsung memandang penjaga yang membukakan pintunya itu dan mendelik padanya. Dan itu cukup untuk membuat penjaga tadi pergi setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Rajanya.

Sehun menegok ke belakang dan mendapati pria itu―atau Luhan masih tertidur pulas. Bibirnya sedikit membuka dan deru nafasnya teratur. Tampak nyenyak sekali.

"Hei, bangunlah…hei…" Sehun menggoyang lengan Luhan agak kencang. Luhan yang marasa terusik mulai membuka matanya perlahan. Secara reflek ia langsung menutup mulutnya kemudian meregangkan lengannya kemudian menguap lagi. Matanya masih setengah terbuka. Ia menggosok matanya dengan kepalan tangannya yang kecil.

"Sudah sampai?" Luhan bertanya dengan suara serak. Satu tangannya amsih menggosok mata kirinya dengan pelan.

Manisnya…

Sehun berdehem. Ia segera membuang pikiran itu. Dan mengangguk kemudian. Ia menyuruh Luhan mengikutinya turun dengan gerakan tangannya. Memimpin jalan pemuda itu masuk ke dalam kastil.

Luhan hanya memandang kagum pada lorong yang ia masuki sekarang. Penuh dengan lukisan yang indah dan warnanya sangat menarik. Dan saat mereka tiba di aula utama, mulut Luhan menganga. Ruangan yang luas, kaki telanjang Luhan menapak lantai marbel yang terasa dingin di kakinya. Dan tepat di atas kepalanya terdapat lampu Kristal yang mungkin bisa untuk menaruh 500 lilin atau lebih? Entahlah. Dan di sepanjang langit-langit ini masih banyk lampu-lampu mewah seperti yang ada di atasnya.

Dindingnya penuh dengan giasan dan lukisan yang lebih mewah dari pa ayang dia lihat di lorong. Di dinding sebelah kanan atas, terdapat lukisan raja dari masa ke masa dan Luhan melihat Sehun di sana. Berdiri dengan gagah dan tampan dengan seorang wanita yang duduk di sampingnya.

Luhan memandang lukisan itu takjub. Takjub karena lukisan itu tampak seperti aslinya, takjub karena betapa serasinya kedua orang yang ada dilukisan besar ini.

"Wanita cantik itu adalah Yoona, istriku, Ratumu yang baru,"

Sehun sudah sedari tadi memperhatikan Luhan yang tampak terpesona dengan segala benda yang terdapat di sini. Dasar kampungan. Sehun melihat Luhan memperhatikan lukisannya dengan Yoona, ia berjalan mendekati Luhan dan berdiri di sampingnya memperkenalkan Yoona pada Luhan.

Luhan menengok ke kanan dan mendapati Sehun di sana. Memandangi lukisan itu dengan senyum yang menawan dan pandangan kekaguman yang sama dengan Luhan. Tak mengira bahwa hal itu sudah cukup menggores hati Luhan.

"Ratu sangat cantik Yang Mulia…"

"Tentu saja, aku memiliki selera tinggi dan Yoona adalah yang terbaik," Sehun berkata acuh. Namun senyum dan pandangannya dari lukisan itutak surut barang sedikitpun. Luhan yang melihatnya hanya tersenyum miris.

Setelah cukup lama mereka berdiri memandangi lukisan itu, Sehun menyuruh Luhan untuk mengikutinya. Luhan hanya menuruti Sehun walaupun ia tidak tahu akan di bawa kemana ia. Dan setelah melewati lorong dan beberapa belokan, sampailah ia di sebuah kamar mandi besar. Luhan tertegun melihatnya. Bahakn kamar mandi ini lebih besar dari rumahnyayang dulu.

"Ini kamar mandi para budak di sini, jangan salah paham, walaupun budak, aku ingin mereka tetap bersih,"

Luhan mengangguk mengerti. Matanya masih mengedar ke segala penjuru ruangan ini.

"Tidak ada yang sedang mandi," Sehun bergumam pada dirinya sendiri. Ia lalu menengok ke belakang di mana Luhan dengan tatapan kagumnya masih menelanjangi ruangan luas ini.

Bagaimana reaksi anak kampung itu saat melihat kamar mandiku jika ia melihat seperti ini saja tidak mau lepas. Sehun berkata dalam hatinya.

Eh, tunggu, kenapa pula aku harus mengajaknya ke kamar mandiku?

Sehun berdeham untuk sekali lagi, menghilangkan pikirannya dari namja di hadapannya ini. "Kau…tentu tahu caranya mandi kan?"

Luhan mengalihkan pandangannya pada Sehun yang baru saja berbicara. Ia mengangguk semangat. Bibirnya melengkungkan senyum dan matanya berbinar. Sudah lama Luhan tidak menyentuh air. Tentu saja ia senang bisa membersihkan dirinya dan membutnya tampak layak. Luhan sudah bersiap-siap akan melepas bajunya ketikateriakan Sehun menghentikan aksinya.

"YAK! Apa yang kau lakukan!" Sehun mendekat ke arah Luhan yang sekarang terdapat kaus di setengah badannya.

"Se-setidaknya tunggu sampai aku keluar! Kau tidak punya malu ya?!" Sehun mengucapkannya dengan terbata. Entah kenapa ia merasa gugup.

"Kenapa? Yang Mulia adalah namja dan aku juga, kita punya apa yang dimiliki satu sama lain," jawab Luhan dengan nada polos. Sehun hanya mendengus kesal sebelum kakinya mulai melangkah menjauh. Namun belum sempat kakinya menginjak ambang pintu, suara Luhan sudah menghentikannya lagi.

"Uh…Yang Mulia, p-punggung saya masih sakit jika bergesekan dengan kain, b-bisa bantu saya melepaskan ini?"

Sehun membalikan badannya. Luhan memangtampak kesusahan melepas pakaiannya karena setiap kali pakaian itu bergesekan dengan kulitnya, dia akan mendesis sakit. Sehun bisa saja langsung melangkah keluar dan mengabaikan Luhan. Seperti Sehun yang biasanya. Namun kali ini, melihat wajah kepayahan Luhan, Sehun mulai melangkahkan kembali kakinya ke tempat Luhan.

Luhan sempat terkejut melihat Sehun sudah ada di hadapannya. Ia sebenarnya tak terlalu mengharapkan bantuan Sehun. Apalagi mengingat jika Yang Mulia satu ini tidak menyukainya. Namun Sehun dengan telaten menggenggam ujung pakian lusuh Luhan dan mengangkatnya dengan hati-hati. Sebisa mungkin tidak bergesekan dengan kulit punggung Luhan yang masih Nampak mengerikan.

Begitu selesai, Sehun langsung membuang kaus lusuh itu ke sembarang arah. "Kotor sekali, buang kain itu cepat dan ambil pakaian baru di almari besar di sana. Pakaian di sana memang dikhususkan untuk budak-budak di sini,"

Setelah itu, barulah Sehun pergi. Meninggalkan Luhan yang masih berdiri dengan senyum di wajahnya. Luhan setelah melepas semua pakaiannya mulai menggosok badannya yang penuh debu itu sebelum berendam. Agar air di dalam bak tidak kotor nantinya. Ia mengguyur badannya dengan air dingin. Sesekali ia masih mendesah kesakitan saat air mengaliri luka-lukanya. walaupun begitu, sedari tadi senyum tak hilang dari wajahnya. Mungkin benar,kehidupannya akan lebih baik di sini.

Benar kan?

.

.

.

Sehun keluar ruangan dan menghembuskan nafasnya panjang. Entah lega, entah menyesal dia melakukan hal seperti itu pada Luhan. Langkahnya ia buat panjang dan cepat. Seolah ia ingin segera pergi dari sana.

Yah karena aku sendiri yang menciptakan luka-luka itu?

Sepatutnya kan aku membantunya?

Bukan berarti aku peduli pada budak itu kan?

Benarkan?

Sehun mengerang frustasi. Ia lelah pikirannya terus dihantui pemuda yang baru saja ditemuinya kurang dari seminggu. Sehun adalah lelaki dengan seorang istri. Tidak mungkin kan jika tiba-tiba ia merasa harus peduli dengan orang lain?

"Aku harus bertemu Yoona…"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Sayang…"

Sehun memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Senyuman mengembang manakala ia melihat sosok punggung istrinya yang sedang menyisir rambutnya di meja rias. Sehun dengan hati-hati meletakkan tangannya di pundak wanita yang amat ia cintai itu dan mengarahkan bibirnya ke puncak kepalanya. Menciumnya dengan lembut dan menghirup aroma rambut yang sangat ia rindukan.

"Aku merindukanmu," bisiknya lembut saat ia sudah menyenderkan wajahnya ke pundak wanitanya.

Yoona tersenyum mendengar penuturan Sehun. Ia mencium dahi Sehun dan mengusap rambutnya sayang. Sehun tersenyum dan mengangkat wajahnya dari bahu Yoona. Membalikan tubuh istrinya perlahan dan mencium bibir tipis istrinya itu lama. Seolah hidupnya tergantung dari hal ini.

"Ehem…" deham Kyungsoo sedari tadi berdiri terabaikan di samping kiri Yoona. Sehun dan Yoona mengakhiri ciuman mereka setelah merasa ada yang terganggu di sini―atau Yoona yang mengakhiri, karena Sehun tidak peduli sekalipun itu ada kebakaran di istana ini. Yoona hanya tersenyum meminta maaf dan Sehun mendelik kesal pada Kyungsoo.

"Aku ingin istirahat," Sehun merajuk pada Yoona yang sekarang sedang asik berbincang dengan Kyungsoo.

Yoona yang mendengarnya mendecak kesal. Hanya bercanda karena akhirnya ia beranjak juga dari tempat duduknya dan mengikuti suaminya ke ranjang besar di tengah ruangan itu. Kyungsoo yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat pasangan yang sudah biasa ia lihat kemesraannya itu. Ia membungkuk kilat kemudian melangkahkan kaki yang tak terlalu panjang itu menuju pintu.

"Ah, Kyungsoo temuliah namja yang mandi di pemandian bawah dan antarka dia ke tempat Yixing. Aku sudah mengatakan pada Yixing apa saja yang harus ia perbuat pada namja itu. Tinggal kau antarkan saja,"

Suara Sehun menghentikan langkah Kyungsoo sebentar. Kyungsoo mengangguk mendengar perintah Sehun. Kemudian ia membungkuk lagi untuk kemudian pergi ke pemandian bawah―pemandian para budak.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Kyungsoo memandang pria yang berjalan di sampingnya ini dari sudut matanya. setelah menjempuptnya yang berbuah bentakan untuk segera keluar dari bak mandi, lebaran mata dan mulut yang menganga saat menatap punggung pria yang hancur dan perkenalan singkat, Kyungsoo mulai tahu bahwa nama pria ini adalah Luhan. Dan dia adalah orang yang akan mengandung anak Yang Mulia Sehun.

Ahh betapa Kyungsoo ingin tertawa mendengarnya.

"Jadi…kau bisa menghasilkan anak?"

Luhan memandang Kyungsoo dengan senyum terpatri di wajahnya yang semakin putih karena sudah dibersihkan. Sebenarnya Kyungsoo sudah berulang kali menanyakan hal yang sama sejak mereka keluar dari pemandian.

"Entahlah," Luhan kemudian tertawa. "Yang Mulia berkata soal tanda-tanda di punggungku? Aku juga tidak terlalu mengerti…"

Kyungsoo tidak mengatakan apa-apa. Mereka terus berjalan dengan Luhan yang tak henti-hentinya memperhatikan sekelilingnya. Sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu besar dengan ukiran-ukiran rumit di permukaannya.

Kyungsoo menghela nafas pelan sebelum mengetuk pintu itu tiga kali. Dan kemudian tanpa aba-aba ijin dari pemiliknya, Kyungsoo membuka pintu kayu yang tampak berat itu. Kyungsoo menyuruh Luhan yang masih melongo di luar untuk masuk ke dalam dengan gerakan tangannya.

Luhan mengikuti Kyungsoo masuk ke dalam ruangan yang sedikit gelap itu. Ia melihat banyak sekali rak-rak yang berisi buku dan botol botol dengan cairan aneh di sini. Bau ruangan ini juga aneh. Cahaya yang menerangi ruangan ini hanya berasal dari jendela besar yang terletak jauh di atas.

"Yixing…" Kyungsoo memanggil si pemilik ruangan ini. Luhan hanya menunggu dengan was-was. Kyungsoo yang segera tidak mendapat sahutan mencoba melangkah lebih jauh ke dalam ruangan itu. Dan pantas saja ia tidak mendapat sahutan apa-apa, karena pemilik ruangan ini masih sibuk dengan buku yang dibacanya.

"Yixing!" Kyungsoo berteriak sambil merebut buku yang digenggam erat-erat oleh seorang pria berkulit putih dengan jubah yang nampak kebesaran di tubuhnya itu. Yang direbut bukunya langsung tampak gelagapan karena pusat konsenrtasinya hilang. Namun lalu tatapannya menangkap sosok mungil yang berada di belakang bahu Kyungsoo yang sempit itu.

"Oooh! Kau pasti Luhan! Kemarilah! Aku baru saja mempelajari tentang tanda-tanda yang kau miliki di buku itu …" Pria yang dipanggil Yixing oleh Kyungsoo ini segera menghampiri Luhan dengan mulutnya yang terus saja menggumamkan kata-kata secara cepat. Ia langsung menarik Luhan yang masih tampak blank dengan situasi yang dihadapinya kemudian mendudukannya di meja tempat ia menaruh buku-buku dengan sebelumnya secara kasar ia mendorong buku-buku itu jatuh untuk memberi ruang Luhan duduk.

"… Ooh, kau tidak tahu betapa senangnya aku bisa melihat langsung pria-pria yang memiliki keturunan bertanda itu …" Yixing terus saja mengoceh.

"Ahh!"

"Yixing hati-hati punggungnya…!"

Suara pekikan Luhan dan peringatan Kyungsoo membarengi tindakan Yixing yang baru saja membuka paksa kaus Luhan. Setelah tindakan itu, ruangan yang tadinya ramai karena celotehan Yixing menjadi sunyi karena sepertinya Yixing juga cukup syok melihat luka di punggung Luhan.

"Hei, ada apa ini?"

Dan suara Kai berhasil memecah keheningan di ruangan itu.

Kyungsoo tampak tersentak saat melihat Kai―yang hidungnya sudah diberi plester perban―sudah berdiri di sampingnya. Jangan lupakan tangannya yang sudah melingkar manis di pundak dan lehernya itu. Menciptakan tempelan di bahunya pada dada bidang Kai. Saat mata Kyungsoo yang bulat bertemu mata Kai yang memabukan, Kai hanya tersenyum miring.

"Hey, belahan jiwaku,"

BLUSH

Kyungsoo menundukkan wajahnya yang memerah.

Yixing memutar malas kelakuan kedua tamunya yang lain itu. kai memang sejak tadi di sini karena entah-bagaimana-caranya ia bisa datang dengan hidung yang berdarah dan senyum konyolnya yang merekah. Kai mungkin berjalan-jalan di sekitar rak-rak buku karena tadi Yixing mengabaikannya dan memilih membaca buku. Kemudian datang lagi karena mendengar keributan.

Luhan yang bingung atas tingkah laku dua orang di depannya memilih untuk memperhatikan Yixing yang kini sedang mengambil alat untuk meramu dan beberapa bahan ramuan di raknya yang besar itu. Menumbuk beberapa daun dan mencampur beberapa cairan. Entahlah Luhan juga tidak begitu paham.

Setelah selesai, Yixing menghampiri Luhan dan mulai mengoleskan hasil tumbukannya dengan hati-hati ke punggung Luhan.

"Haish, bagaimana bisa kau mendapat luka seperti ini huh?" Yixing mengomel sembari tangannya mengoles pelan pelan ramuan berwarna hijau itu dengan lembut. Kyungsoo―dan diikuti Kai―berdiri di sebelah Yixing untuk melihat.

Luhan sesekali meringis tertahan. "Uuh…aku hidup di penjara sebelumnya," jawab Luhan seolah ia menyelesaikan pertanyaan Yixing.

Yixing tidak menjawab. Matanya tetap terfokus pada punggung Luhan dan lukanya. Dan saat matanya mendarat di pundak kanan Luhan, ia tersenyum senang. Hampir ia lupa akan tujuan Luhan datang kemari. Dan sekarang ia bisa melihatnya dengan jelas. Tanda satu sayap yang langka itu. Yixing mengelusnya pelan. Dan senyumnya makin melebar manakala ia yakin bahwa tanda itu memang benar asli.

Setelah selesai menutupi luka-luka Luhan dengan ramuan hijau itu, Yixing segera berlari ke hadapan Luhan dan tersenyum memandang pria cantik yang kini memanjakan matanya.

"Cantiknya…kau memang terlalu cantik, pantas Sehun memilihmu," Yixing mengusap pelan wajah Luhan yang terbalut senyum tipis dan rona merah akibat pujian Yixing. Yixing memang tidak memanggil Sehun dengan embel-embel apapun karena mereka teman. Atau Yixing yang beranggapan begitu. Namun Sehun juga tidak keberatan. Toh mereka memang sudah kenal cukup lama. Sejak Yixing berumur 7 tahun mungkin?

Yixing mulai berpindah keperut datar Luhan. Ia mengusap usapnya pelan. Luhan agak kegelian dibuatnya hingga ia mengeluarkan kekehan kecil yang Yixing balas dengan usapan sayang di rambut Luhan. Baru Yixing mengenal Luhan beberapa menit yang lalu, namun nampaknya Yixing sudah sangat menyukai Luhan.

"Hmm…hmmm," Yixing memejamkan matanya. dan tak lama ia membukanya kembali dengan senyum hangat terlukis indah di wajahnya yang ramah. "Menurut penglihatanku kau memang memiliki rahim untuk mengandung, tanda yang bagus anak manis dan…ah sebelum kau bertanya, ya aku memang seorang yang biasa disebut penyihir, tapi aku lebih suka dipanggil penyembuh,"

Luhan menganga. Memang sebenarnya dia bertanya Tanya siapa pria ini, kenapa ia bisa uhm…membaca perutnya dan juga pikirannya barusan? Atauapapun itu. padahal ia hanya mengusap-usapnya pelan.

"Luhan benarkan?" Luhan mengangguk. "Karena kau memang memiliki rahim, dan sepertinya Sehun menginginkan hasil dari rahimmu itu, yah setidaknya kalian bisa segera melakukan hubungan setelah kau siap umur tentu saja,"

Kai yang tentu saja masih di sana malah tertawa dibuatnya. "Hahaha, jadi si beruang putih itu akhirnya menginginkan anak? Tidak bisa dipercaya! dia akan dibunuh Yoona sebentar lagi, aku tidak sabar! Hahahaha,"

Ketiga pria yang berada di ruangan itu tampak tidak tertarik dengan topic yang ditertawakan Kai. Sebenarnya apa yang harus ditertawakan, itu bahakan tidak lucu.

"Itu keinginan Yoona Yixing, istriku tidak akan membunuhku,"

Suara Sehun menghentikan tawa Kai yang membahana. Kyungsoo langsung membungkuk sopan. Sedangkan Kai dan Yixing hanya diam saja di tempat.

"Sehun! Woah, lama tidak bertemu, kau semakin putih eh?" Kai beranjak ke depan dan merangkul Sehun erat. Sehun membalas rangkulan itu walaupun ogah-ogahan.

"Kau saja yang sejak dulu hitam," balasnya setelah pelukan mereka lepas. Kai hanya mendengus kesal dan beranjak lagi ke samping Kyungsoo-nya.

"Jadi, siapa ini?" Yoona berkata lembut sembari menghampiri Luhan yang masih duduk manis. Luhan terlihat ragu-ragu. Namun kemudian bibirnya bergerak dan menjawab pertanyaan Yoona dengan menyebutkan namanya lirih.

"Luhan eh? Kau sangat cantik dan manis, aku menyukai bentuk wajahmu yang kecil," Yoona terkekeh. "Jadi…untuk melakukan suatu hubungan tentu kau harus siap umur, berapa umurmu Luhan?"

"U-uhh 21?"

"APA?" teriakan tadi berasal dari Yixing.

"Kupikir kau masih berumur 16 tahun!" yixing masih berteriak heboh. "Jika aku tahu umurmu yang sebenarnya, aku tak perlu repot-repot melarangmu, kau bisa melakukannya nanti malam Sehun, atau sekarang, terserah padamu,"

Sehun memutar bola matanya mendengar ucapan Yixing. Sedangkan Kai malah tertawa lagi. Dan Kyungsoo masih bertahan dengan eksperi seolah tidak tahu apa-apa nya.

Yoona tertawa mendengar celotehan Yixing. Ia lalu meraih tangan Luhan untuk ia genggam. "Luhan…aku minta maaf…tapi kami benar-benar butuh bantuanmu, kau bersedia kan?"

Luhan tidak pernah menyangka istri Yang Mulia selembut ini, seanggun ini, secantik ini. Luhan menyangka ia akan mendapat paling tidak makian. Atau pukulan entahlah. Namun tidak. Luhan mendapat senyuman hangat. Kata-kata minta tolong dengan tulus. Bahkan permintaan maaf.

Luhan memandang mata Yoona yang nampak memancarkan kehangatan dan ketulusan yang mendalam. Dan tanpa sadar bibir Luhan terangkat dan kepalanya terasa mengangguk.

"Tentu Ratuku…"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Chanyeol memandang gelapnya malam dari balkon kamarnya. Di hadapannya banyak cahaya kuning yang mungkin berasal dariu rumah-rumah penduduk yang tinggal di kerajaan ini. Chanyeol bertanya-tanya, yang mana kemungkinan kedai mi milik kakek dan nenek yang menyembunyikan Baekhyun-nya.

Baekhyun-nya pasti marah mengenai aksi bohongnya. Chanyeol harusnya lebih tahu dari siapapun bahwa Baekhyun-nya sangat tidak menyukai Raja dan segala embel-embelnya. Bahkan pangeran sekalipun. Baekhyun bahkan menangis karena mereka. Dan aksi bohongnya sama sekali tidak mempermudah situasi ini.

Chanyeol menghela nafasnya lelah. Memikirkan namanya saja membuat Chanyeol merasa sesak. Ia baru saja selesai bercerita dengan Bundanya tentang siapa itu Baekhyun. Pria yang berhasil mengikat hatinya hanya dalam tempo tiga hari.

Chanyeol tersenyum mengingat kenangannya yang sedikit itu bersama Baekhyun. Segala memori tentangnya. Senyumnya. Tawanya. Tangisnya. Matanya yang membentuk bulan ketika tersenyum bahagia. Bibirnya yang mengerucut. Omelannya. Badannya yang pendek. Jarinya yang lentik. Semua.

Chanyeol bertanya-tanya apakah Baekhyun di sana juga memikirkannya… merindukannya…

Dan Chanyeol juga bertanya-tanya masih bolehkah ia berharap, jika ia dapat membuat kenangan itu menjadi lebih banyak lagi…

.

.

.

.

Baekhyun memandangi bangunan besar itu dari jendela yang sama tiga hari lalu. Bedanya kali ini ia melakukannya sendiri. Baekhyun memandang bangunan itu dengan tatapan nanar. Di sana terdapat seorang idiot bodoh yang meninggalkannya tepat semalam yang lalu dengan kebohongan yang masih membekas di hati rapuh Baekhyun.

Baekhyun tersenyum miris manakala ingatannya kembali lagi ke pria itu. Lagi. Lagi. Dan lagi. Segala tentangnya. Tinggi badannya yang abnormal. Telinganya yang aneh. Suaranya yang berat. Manjanya. Egoisnya. Senyumnya. Tawanya…

Baekhyun rindu…

Ia merindukan pria itu…

Baekhyun menghela nafasnya dengan panjang. Ia bertanya-tanya kenapa ia harus merindukan dan memikirkan pria yang terhitung sudah menyakitinya itu. dan lagi pula…ia jadi bertanya-tanya lagi…

Apakah mungkin di sana…Chanyeol memikirkannya… merindukannya…

Segala tentang Baekhyun. Mungkin kenangan mereka. Saat-saat pendek di mana mereka habiskan dengan keberadaan satu sama lain yang setia menemani…. Baekhyun tersenyum dibuatnya. Kali ini senyum tulus yang terpatri di wajahnya. kenangan bahagia selalu membawa dampak yang bahagia pula…

Jadi… Mungkinkah… Baekhyun dianggap egois jika ia menginginkan ia dapat membuat kenangan itu menjadi lebih banyak lagi…

.

.

.

.

.

.

.

Fiuh akhirnya selesai hehe, ga banyak kata-kata, maaf jika bagian akhir-akhir agak gimana gitu, ini ngetiknya sambil nangis lol, masalah pribadi kok tenang aja lol

Yang Tanya mamah papahnya luhan baekhyun kemanah, mereka udah kesurga yah, dan maaf bangettt buat pairing vkook ga dijelasin lebih lanjut karena dari awal petualangan (?) mereka Cuma bisa sampe sini aja ^^

SO LANGSUNG SAY THANKS A LOT AJAH BUAT YANG TERKASIH :

.

msluhan87, azizozo, AnggieChannieYL, Re-Pnda68, Maple Fujoshi2309, Panda Qingdao, , Yohannaemerald, younlaycious, leedongsun3, isachichan, Summer Mei, oshbaek, tetsuya kurosaki, NoonaLu, hunhan addict, 50, DEERHUN794, ohseluxipcy, annablackjack2, sukhyu, SunChaBae2211, bebebekkk, khalidasalsa, LisnaOhLu120, S.E.P 1220, , WindaHunHanYeol, ohandeer, ruixi1, viiyoung, Kuminosuki, vietrona chan, Aria F, BabyWolf Jonginnie'Kim, Fenny030502, livyfanfan, bebbyndyaaaa, Majey Jannah 97, ThehunLuhanieYehet, FairyFaith, BB137, firaamalia25, Ririn Ayu, exindira, daebaektaeluv, viohunhan, distysandra, SFA30, lolamoet, KiranMelodi, hanhyewon357, ziich88, aquariusbaby06, Nurfadillah, sania, karina, zohun35an, Wu-Akai-odult, Okta HunHan, ara choi, Guest, Guest, sehunhan, Guest, Oh je rim, ifhunhan, Amelia Xiaooh, Kim Jung Sun11, YVRA REAL, Oh Zhiyulu Fujoshi, Guest, unnamed, Fa, Guest, Azzhr, Phoenix92, byun baeby, males login, kimyori95, hunhun, PurpleCat07, Salsabiela94, PriskaAD, Bora234, dims, HyunnieSong, abecede345, avs1105, Oh Lana, .58, Viyomi, Long, Bangabanga98, Celusta, himawari, Haruka Kanose, AceFanFan, karmilia, thayahunhan, Oh Luwind, guest, Nataskuuk

.

Makasih kesayangan semuaaa, tanpa kalian aku butiran debu ((peluk cium satu-satu)) :*

.

.

DAN BUAT AKUN INSTAGRAM CHANBAEK_INA ^^, makasih banget buat kakak kakaknya karena udah bilang ff ini manis ((peluk)) waktu itu lagi nyecroll instagram dan kaget banget waktu ada sc nya, haha, p.s : aku waktu itu kirim fan art (if it can be said so lol) prince chan and noodle boy baek lewat dm insta hehe, ga ada maksud apa-apa kok, Cuma kebetulan suka gambar dan aku excited banget waktu tau ff ku yang kurang sana-sini ini di sc, , makasih yah kak sekali lagi *bow*

.

.

.

Maaf updatenya lama hehe, see you next chap ^^

.

.

p.s : yg kepikiran " momen chanbaeknya manaaaaa?!" keliatannya chap depan banyakan chanbaeknya deh, hehe tunggu aja yaah ^^

p.s.s : ada yg protes Chanyeol manggil eommanya bunda? Hehe, karna Chanyeol emang deket bgt sama eommanya dan manjaaa…jadi…bunda…yap…heheh

.

.

BONUS! Lagi demen ngasih bonus! Huehehehe ((sebenernya buat salam perpisahannya Vkook))

.

.

Setelah Taehyung dan Jungkook menemui bagian kepla panti asuhan ini yang ternyata adalah seorang nenek dengan senyum hangat dan sifat ramah itu, mereka digiring menuju kamar mereka yang baru oleh salah seorang pekerja lain di sini.

"Ini kamar kalian Taehyung-ssi, Jungkook-ssi, aah, di dalam ada sekitar 3 anak lain, kuharap kalian bisa berbarur dengan mereka," laki-laki yang sudah cukup berumur ini tersenyum sambil membuka pintu. Taehyung yang mendengarnya tersenyum lebar. Ia sangat suka anak-anak baginya tak aka nada masalah.

Dan begitu pintu dibuka tampaklah kasur tingkat yang berjejer rapi sebanyak 2 buah dan satu tempat tidur single di pojok ruangan. Paman yang mengantar segera meninggalkan Taehyung dan Jungkook untuk mereka mempunyai waktu membersihkan diri atau mengurus barang-barang mereka.

Taehyung segera menghempaskan dirinya di ranjang single bed di pojok ruangan. Jungkook tersenyum memaklumi jika Hyungnya itu akan tidur sendiri. Toh ia yang paling tua di sini.

"Jungkook-ah,"

"Ne Hyung?"

"Kuharap hidup kita benar-benar akan lebih baik,"

Jungkook tersenyum manis mendengar ucapan Taehyung. "Tentu Hyung…"

Taehyung membaringkan badannya santai dan Jungkook masih sibuk memandangi kamar ini sampai kehadiran tiga sosok anak kecil diambang pintu diabaikan oleh mereka berdua.

"Oppa?"

Suara anak perempuan menusuk pendengaran Jungkook. Tunggu dulu. Ia hafal betul suara perempuan ini. Yang melengking seperti mencicit. Yang setiap hari selalu memanggilnya penuh sayang. Dulu…

"J-jimin?"

Jungkook sebenarnya tidak berani berharap. Namun saat ia berbalik dan mendapati anak perempuan yang mungkin hanya setinggi pinggangnya itu menatapnya dengan berkaca-kaca, ia hanya membawa tangannya untuk menutupi mulutnya yang menganga. Langsung ia berjongkok dan meraup anak perempuan itu dalam pelukannya yang hangat.

"Yaampun Jimin…Oppa sangat merindukanmu…" Jungkook mengusap kepala Jimin dengan sayang. Matanya mengeluarkan air dengan deras. Taehyung yang melihatnya ssedikit terkejut. Namun saat ia menghampiri kedua insane itu, hatinya ikut luluh. Ia merengkuh dua anak laki-laki lain yang diam di sana dan memeluk mereka.

Setelah keadaan agak tenang, taehyung mencoba bertanya. "Adikmu?" tembaknya langsung. Jungkook mengangguk.

"Cantik…mirip seperti…"

"Luhan Hyung, Jimin mirip sekali dengan Luhan hyung…" Jungkook tertawa dengan matanya yang masih memerah. Tangannya ia gunakan untuk menghapus air mata Jimin yang meleleh.

"Itulah kenapa…aku bisa dekat sekali dengan Luhan Hyung…" Jungkook tersenyum ke arah taehyung yang tersenyum. "Aku harap Luhan Hyung akan selalu baik-baik saja…"

"Tentu Jungkook-ah, kita doakan agar Luhan Hyung juga mendapat kebahagiaannya… selalu, sepanjang hidupnya…"

Jimin memandang Oppanya dan Oppa satunya lagi dengan matanya yang lebar dan nampak bengkak memerah.

"Oppa siapa?" tanyanya pada Taehyung.

Taehyung mengacak rambut Jimin pelan. "Aku? Umm…suami masa depan Oppamu mungkin?" taehyung tertawa kemudian melihat Jungkook yang langsung membelalakkan matanya.

Mungkin saja Taehyung memang bercanda saat mengucapkannya. Mungkin saja itu memang hanya guyonana. Mungkin saja itu adalah hal lucu untuk saat ini. Namun masa depan…siapa yang akan mengetahui masa depan…

Ungkapan itu…bisa jadi adalah kunci masa depan mereka…

.

.

.

Maaf bonusnya panjang banget ((bow)) dan kurang bagus apa gimanah ((bow bow))