Chapter 7
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
SEHUN-LUHAN SIDE
.
Luhan belum bisa memejamkan matanya. ia masih memandangi langit-langit kamar barunya dengan nyalang. Meski ia sudah bekerja seharian ini, ia belum mau menutup matanya untuk sekedar mengistirahatkan matanya yang telah terbangun seharian untuk bekerja di Istana ini.
Ya, Luhan sudah bekerja. Menjadi budak―Sehun memanggilnya, atau menjadi seorang pembantu―Yixing dan Yoona menyebutkannya begitu. Memang tidak mudah. Tentu saja pekerjaan ini melelahkan. Yah dengan ukuran bangunan yang hampir sama seperti luas setengah desanya dulu…tentu tidak mudahkan membersihkannya dan merapikannya walaupun dengan bantuan ratusan pembantu lain.
Dalam sehari ini, dia belajar banyak hal. Seperti hubungan antara pria bermata bulat yang kemarin menjemputnya di tempat pemandian dengan pria berkulit coklat―Luhan mengutip kata-kata pria itu saat bertemu dengannya di taman saat Luhan sedang menyapu daun yang gugur―ternyata lebih spesial dari yang ia duga. Yang Mulia Kai menyukai Kyungsoo yang terlalu polos untuk menyadari rasa dari Yang Mulia Kai, atau Kyungsoo sendiri yang memang sengaja tidak mau mengakuinya. Dan satu lagi yang Luhan pelajari…mereka sangat terlihat manis bersama.
Luhan terkekeh pelan.
Hal lain yang harus ia catat adalah Yixing suka sekali mengobrol. Jika Luhan lewat di depan pintu besarnya, ia akan dengan cepat membuka pintu itu dan menarik Luhan masuk ke dalam. Tidak peduli saat itu Luhan sedang ada pekerjaan atau tidak. Yixing akan terus berbicara ini itu dengan Luhan yang menganga karena sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang Yixing bicarakan. Kemudian saat Luhan mengakuinya, Yixing akan mengomel sebal dan memarahi Luhan sambil berjanji kepada dirinya sendiri untuk mulai mengajari luhan tentang 'ilmu pengetahuan umum'.
Luhan sangat menanti hal itu.
Dan lagi, Luhan segera mungkin harus belajar point penting untuk hidup di Istana megah ini. Ia harus belajar bahwa Yang Mulia Sehun sangat mencintai Yang Mulia Yoona. Dan yang dimaksud dengan sangat adalah amat sangat mencintai Yang Mulia Yoona.
Ternyata perlakuan manis Yang Mulia Sehun tunjukkan padanya kemarin bukan apa-apa dibanding apa yang Luhan lihat siang tadi. Yang Mulia Sehun yang tersenyum dengan tulus apapun yang Yang Mulia Yoona lakukan. Yang Mulia Sehun yang bermanja dan mencium Yang Mulia Yoona dimanapun mereka bersama. Yang Mulia Sehun yang selalu memancarkan sinar mata kebahagiaan dan cinta kapanpun saat Yang Mulia Yoona di sana.
Luhan tersenyum miris.
Yah, sesuai perkataan Sehun, ia hanya akan menjadi seorang budak yang kebetulan mengandung penerus kerajaan. Tidak ada perasaan dalam urusan ini. Tidak boleh melibatkan rasa apapun dalam urusan ini. Mengesampingkan fakta bahwa…ya Luhan menyukai Sehun.
Luhan menghela nafasnya lelah.
Sekarang ia memikirkan ucapannya pada Ratu Yoona sehari yang lalu.
"Tentu saja Ratuku…"
Itu yang ia katakan sehari yang lalu. Dengan niat yakin dan tulus. Dan sekarang dengan gamblangnya hati Luhan meragukan perkataannya sendiri. Katakanlah Luhan plin-plan, tidak punya pendirian, atau pecundang sekalipun… namun Luhan hanya…belum siap?
Untuk segala rasa sakitnya, mungkin? Bagaimana jika akhirnya dia mengandung? Bagaimana jika akhirnya ia melahirkan? Bagaimana jika ia nanti tidak diperbolehkan untuk menyentuh darah dagingnya? Melihatnya tumbuh dengan Eomma yang baru? Bagaimana dengan perasaannya? Adakah seseorang yang peduli di sana?
Apakah aku tidak boleh bahagia?
Entahlah…
Luhan ingin menangis sekarang.
Dan dia melakukannya.
Setetes dua tetes mulai keluar dari pelupuk matanya yang bulat.
Belum lagi ia harus menemukan adiknya Baekhyun…
Baekhyunnya hilang. Dan masih bisa-bisanya ia memikirkan lelaki lain selain adiknya. Yang entah bagaimana sekarang keadaannya. Apakah ia sehat, apakah ia makan dengan teratur,apakah ia punya tempat untuk berteduh, apakah ia berhasil melarikan diri waktu itu….
Ia memang kakak yang payah dan orang yang lemah…
Namun…
Tidak adakah seseorang yang bisa mengertinya?
.
.
.
-o0o-
.
.
.
.
"Kau, aku ingin berbicara denganmu, ikut aku," Sehun menarik tangan Luhan yang waktu itu sedang menaruh sapu yang telah digunakannya untuk menyapu halaman.
Yang Mulia Kai, Raja Sehun dan Ratu Yoona memang tadi menikmati acara minum tehnya di taman belakang istana. Mereka terlihat bahagia dengan sesekali Kyungsoo yang mengantarkan makanan di tarik duduk oleh Yang Mulia Kai di pangkuannya. Membuat gelak tawa pecah di meja bundar itu.
Luhan juga ada di sana walaupun ia hanya bisa melihatnya dari jauh. Sambil memegang sapu dan menyapu daun yang gugur dari banyak pohon di taman belakang yang luas ini. Luhan yang melihatnya tentu merasa iri. Namun ia harus tahu derajat dan posisinya di sini sama sekali tidak setara dengan mereka.
Luhan berada jauh di bawah.
Tangan Sehun menarik Luhan dengan kasar. Luhan berusaha melepaskannya namun tatapan Sehun membuat tangannya kembali pasrah dan menurut pada tarikan kasar itu. Memang Sehun adalah Tuannya. Ia berhak melakukan apapun. Mereka berhenti di sebuah pintu kayu yang lebih kecil dibanding pintu-pintu lainnya. Sehun membukannya dan menarik Luhan masuk. Sehun menghentakkan tangannya sehingga Luhan agak terdorong ke depan. Dan Sehun menutup pintunya.
BLAM
Luhan melihat sebuah kamar dengan kasur empuk di sana. Ruangan ini tidak terlalu luas,hanya ada kasur sempit―namun bagi Luhan itu cukup luas―dan satu meja kecil serta satu almari mengisi ruangan ini. Meskipun begitu kamar ini tetap terlihat cantik dan bersih. Luhan terpana dibuatnya.
"Kau," Sehun memanggil Luhan. Luhan dengan instingnya segera berbalik menghadap Sehun.
"Ya, Yang Mulia?"
Sehun menatap lama namja di depannya ini. Kemudian ia menghela nafas berlebihan yang dibalas kernyitan dahi oleh Luhan.
"Aku ingin menjelaskan beberapa hal padamu, dan selama aku berbicara, kau tidak boleh menyela. Dan kau hanya bicara saat aku bertanya. Mengerti?"
Luhan mengangguk.
"Jawab dengan suaramu!" Sehun membentak Luhan.
Luhan sempat kaget. Sehun berbeda sekali dengan pribadi yang kemarin Luhan pangku dalam tidurnya.
"S-saya mengerti Yang Mulia,"
Sehun menyipitkan matanya. "Diam dan dengarkan,"
"Pertama, kau sudah tahu apa tujuanmu disini, dan aku juga sudah berbicara dengan Yixing mengenai…kondisimu," Sehun menatap Luhan setengah hati.
Luhan mengangguk kecil.
"Kamar ini milikmu, kau tidak mungkin tidur dengan Yixing selamanya…"
Luhan hanya membalasnya dengan belalakan mata yang lebar. Kamar yang bersih untuknya sendiri? Luhan tersenyum lebar dan jika bisa, Luhan ingin melompat ke dalam pelukan Sehun sekarang juga.
" Dan di kamar inilah, kau dan aku akan…ugh…" Sehun mengusap wajahnya kasar. Ia sedikit bergumam kata-kata kasar sebelum melanjutkan dan menatap Luhan tak suka. "…berhubungan badan."
Senyum Luhan saat itu memudar begitu saja. Luhan melihat dan mendengar, bagaimana tatapan jijik itu ditujukan padanya dan makian kasar seolah Luhan adalah orang jahat. Semua itu membuatnya rendah diri dan memilih untuk menunduk dan memandangi kakinya yang kotor. Dan tangannya bergerak gelisah memainkan ujung bajunya.
Sehun yang melihatnya ingin sekali marah. Ia tidak suka saat ia berbicara, tatapan mata lawan bicaranya tidak ada padanya. Membuatnya merasa diabaikan. Namun kali ini ia membiarkannya. Entah kenapa melihat rupa namja di hadapannya ini membuatnya ingin menghentikan semua kegilaan ini. Sehun merasa…sedikit kasihan.
"Kedua, kau tidak boleh mendekati atau berhubungan atau berbicara dengan Yoona, kau mengerti?"
Luhan mendongak. Ia merasa aneh dengan perintah ini. Yang Mulia Yoona terlihat baik-baik saja dengannya ke marin. "K-kenapa Yang Mulia?"
"Yoona adalah wanita yang baik hati, aku tidak ingin ia akhirnya hanya akan kasihan padamu dan memintaku melakukan hal-hal aneh seperti…menemanimu," Sehun bergidik ngeri. Mengabaikan pandangan sakit hati yang ditunjukkan lawan bicaranya.
"Lagi pula aku tidak ingin Yoona menyamakan stratanya denganmu, kau harus tahu bahwa posisimu itu jauh di bawah, kau tidak bisa berhubungan dengan orang-orang di atasmu, kau tentu sadar kan?"
Luhan merasa tenggorokannya sakit untuk mengeluarkan suara. Jadi ia hanya tersenyum kecut dan mengangguk.
"Yoona sangat berharga untukku, kau tidak boleh macam-macam dengannya,"
Sehun mendekati Luhan yang berdiri dengan kaku. Lalu mengamatinya dari ujung kepala hingga kakinya yang tidak beralaskan apapun.
"Kau orang buangan, kau kotor, kau tidak berpendidikan dan kau berasal dari keluarga yang entah bagaimana statusnya…aku penasaran mampukah aku merelakan diriku untuk tidur denganmu?"
Memang apa yang bisa tangan kecil dan tubuh kurus ini bisa lakukan untuk menyakiti Ratu Yoona Yang Mulia, juga berhentilah merendahkanku dan menggosokkan kekuranganku tepat di wajahku.
Luhan ingin menangis.
"Ah, dan ini yang terpenting, saat akhirnya kau mengandung, dan melahirkan, anak itu bukanlah milikmu, anak itu akan menjadi anakku dan Yoona. kau tidak boleh memilikinya, bahkan menyentuhnya, kau…tidak berhak atas anak itu, tugasmu hanya membawanya hadir di dunia ini, mudah kan?"
Sehun tersenyum miring. Tangannya ia bawa untuk menyentuh pipi mulus Luhan. Membelainya lembut. "Hmmm…kau memang cantik, anak laki-laki yang cantik…tidak heran aku sempat terbuai olehmu kemarin…"
Luhan tertegun atas tindakan Sehun. Sedikit perasaan senang menguar di hati Luhan saat Sehun menyebutnya cantik dan membelai pipinya lembut. Menjalarkan panas dan rona merah ke kedua pipinya yang putih.
Namun itu berlangsung tidak lama. Sehun tiba-tiba sudah mencengkram bagian di antara pipi dan dagu Luhan dengan keras. Membuat Luhan sedikit mengaduh.
"…namun aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi." Sehun berkata dengan dingin dan menghempaskan wajah Luhan begitu saja.
"Sekarang keluarlah dan lakukan hal berguna, kau membuatku muak, Luhan,"
Luhan mengucurkan air matanya lagi dan lagi. Semakin lama semakin deras saat ingatan tentang kejadian tadi siang terus terbayang di benaknya. Air mata Luhan membasahi bantalnya yang kecil. Luhan berusaha menutup mata dengan tangannya untuk mencoba menghentikan tangis yang tidak mau berhenti.
Ruangan yang tidak luas itu penuh dengan isakan Luhan yang mendominasi. Apakah memang harus sesakit ini? Apakah memang harus ia dihina seperti tadi? Apakah dirinya memang tidak berharga sama sekali? Apakah memang dia tidak pantas dicintai?
Tidak tahu.
Entahlah.
Tidak ada yang tahu.
Sembari menangis, Luhan hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
-o0o-
.
.
.
Sehun masih berkutat dengan air hangat di kamar mandi kamarnya yang besar dan mewah. Matanya terpejam dan hembusan nafasnya teratur. Mungkin Sehun dikira sedang tidur namun sebenarnya, ia hanya sedang berpikir. gemericik air dan udara yang lembab membuat suaasana tenang dan Sehun menyukainya.
Saat kejadian tadi siang melintas di pikirannya dahi Sehun langsung mengkerut dalam. Ia tidak menukainya sehingga dibukanyalah matanya dan tangannya kemudian memukul air dengan keras. Membuat kecipak air terdengar cukup keras.
Sehun berusaha merilekskan pikirannya lagi. Namun bayangan dirinya saat membentak Luhan dan menghinanya membuatnya pusing. Belum lagi bayangan Luhan yang ketakutan dan kelihatan seperti ingin menangis.
Oh betapa Sehun ingin sekali memeluknya kala itu.
Sehun menyerah dengan pikirannya yang tidak mau diajak bekerja sama. Ia keluar dari air hangat dan berjalan dengaan pelan untuk mengambil handuk. Sehun menatap kacayang ada di kamar mandinya dan melihatrefleksi dirinya di sana.
Sehun adalah sosok yang tampan. Semua orang mengetahuinya. Tidak ada yang cacat di tubuh dan paras Sehun. Semuanya sempurna. cacat satu-satunya yang dimilikinya dalah hatinya. Hatinya yang sekeras batu dan sangat dingin untuk didekati oleh siapapun.
Tapi bocah ini, laki-laki yang baru saja ia siksa, yang baru saja dengan beraninya membaringkan kepala Sehun di pahanya, yang selalu tersenyum pada orang-orang, yang baru saja Sehun bentak dan hina, laki-laki ini berhasil menyentuh hati Sehun yang berbenteng kuat.
Sehun menggeleng. Ia tidak boleh memikirkan lelaki ini. Mau di bawa kemana perasaannya pda Yoona. pernikahan yang ia bangun selama ini. Laki-laki itu hanya pengalih. Ia hanya akan bertahan sebentar di hati Sehun kemudian pergi. Atau akan Sehun hilangkan sendiri. Sehun tidak peduli. Rasa cintanya pada Yoona sangat kuat. Sehun yakin sekali itu.
Ya, Sehun hanya harus memikirkan Yoona. Yoonanya, istrinya, belahan jiwanya.
Sehun berjalan keluar dari kamar mandi memasuki kamarnya. Ia mengernyit ketika ia mendengar suara batuk dari arah ranjangnya. Ia segera bergegas ke sana dan mendapati istrinya tengah terduduk di tepi ranjang dengan tangan yang menutupi mulutnya. Sehun mendesah pelan dan berjalan pelan menuju istrinya, dan berlutut di depannya.
"Sayang…gwenchana?"
Yoona masih berusaha menghentikan batuknya yang tak kunjung mau berhenti. Atau paling tidak meredakannya. Sehun mengelus pelan kepala Yoona dan wajahnya tak lepas dari ekspresi khawatir. Dan saat batuk Yoona mulai agak mereda, Sehun memberikan gelas berisi air putih untuk Yoona.
"Kau sudah minum obat kan?" Sehun bertanya khawatir.
Yoona mengangguk dan tersenyum. Ia kemudian mengecup singkat dahi Sehun yang masih berlutut di depannya. "Aku baik-baik saja, tidurlah, sudah malam…"
Yoona membaringkan tubuhnya dengan bantuan Sehun. Setelah selesai Sehun langsung merangkak ke atas ranjang dan memeluk istrinya itu. membelai rambutnya pelan dan penuh cinta. Dan Yoona memainkan jarinya di dada Sehun yang bidang. Lama mereka hanya bertahan dalam posisi dan kegiatan mereka sampai suara Yoona membuka mata Sehun yang sudah menutup.
"Sehun?" Yoona memanggilnya pelan.
"Hmm?"
"Kenapa kau tidur di sini? Bukankah kau seharusnya bersama Luhan?"
Diam.
Hanya itu jawaban yang mampu Sehun berikan.
"Sehun, kau…tidak perlu merasa bersalah, aku―"
"Tidurlah Yoona, sudah malam, kau perlu istirahat,"
Sehun membalik tubuhnya memunggungi Yoona. Bukan, Sehun tidak marah pada Yoona. sampai kapanpun ia tak akan mampu mengeluarkan amarah pada istrinya. Ia hanya tidak mau menanggapi pembicaraan Yoona.
Karena sebenarnya ia sudah lelah memikirkannya.
"Hun-ah,"
Yoona memanggil Sehun lagi. Kali ini dengan lebih pelan dan nada sedikit bergetar. Ia bahkan menggunakan nama panggilnya pada Sehun saat mereka masih menjalin kasih dulu.
Sehun tidak menjawabnya.
"Ah, kau sudah tidur…" Yoona tersenyum miris di balik selimut tebalnya. Ia diam memandangi punggung tegap suaminya. Orang yang sudah dinikahinya sejak 6 tahun yang lalu. Yang selalu bertahan di sisinya, yang membelanya dari apapun. Bahakan dari penyakitnya sendiri.
Betapa berat beban yang ditanggung namja di hadapannya. Negara, rakyat, pangan, bahkan urusan lukisan yang dipajang di dinding istana semua Sehun yang mengurus. Dan sebagai istrinya, sebagai Sang Ratu, Yoona tidak meringankan bebannya. Ia malah menambah pikiran Sehun dengan kondisinya yang menyedihkan ini.
Penyakitan.
Tidak mampu menghasilkan penerus kerajaan.
Dan dengan kondisinya ini, Sehun tetap terus bertahan mencintainya.
Sehun mencintainya, semua orang berkata Yoona sangat beruntung memiliki Sehun.
Namun dengan egoisnya Yoona memaksa Sehun untuk memiliki pendamping lain.
Semuanya demi keinginan Yoona untuk mendapatkan anak…
Yoona mulai terisak. Ia mulai berpikir betapa egoisnya ia. Mengorbankan perasaan Sehun. Ia bahakan tidak pernah bertanya sukakah ia pada rencananya. Sukakah ia pada namja itu. Yang ia lakukan hanya meminta…dan memaksa Sehun untuk menuruti keinginannya. Hanya memikirkan perasaannya sendiri.
Yoona merasa ia adalah beban terberat yang Sehun miliki.
"Sehun-ah…. Sehun-ah mianhae….Maaf Hun-ah…maaf karenaa kau berakhir menikahi yeoja merepotkan sepertiku..."
"A-aku…umurku tidak akan lama lagi Hun-ah…kau tak perlu khawatir…" Yoona tersenyum miris dengan air yang terus mengalir dari matanya. membasahi bantal yang ia tiduri.
"Maaf Hun-ah, aku belum bisa…belum bisa mengabulkan mimpimu untuk menimang seorang anak…a-aku hiks….maaf Sehun-ah…"
Sehun yang memang sedari tadi tidak menutup matanya. dan ia mendengar semua perkataan Yoona. Tangis memilukan dari istrinya. Dan tanpa sadar dari matanya juga sudah mengalir butiran bening itu.
Sehun menangis. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi seorang Raja.
Sehun segera berbalik dan merengkuh Yoona dalam dekapan eratnya. Sehun mencium pucuk kepala Yoona berulang kali. Yoona masih menangis di dada Sehun.
"Jangan menangis sayang…ini bukan salahmu kau mengerti….jangan memangis…ku mohon jangan menangis…"
Yoona mencengkram pakaian tidur Sehun. "A-aku egois Sehun-ah, a-aku…aku hanya―"
"Sshh…sshh… jangan menangis Yoona-ya, apapun itu dirimu, bagaimanapun kamu, aku mencintaimu…kau dengar? Aku mencintaimu…jangan menangis, kau membuatku sedih…jangan menangis…"
Sehun terus mengelus kepala Yoona pelan sembari menggumamkan kata-kata penenang untuk istrinya. Ia terus melakukannya sampai akhirnya isakan Yoona mulai pelan-pelan terhenti digantian suara deru nafas teratur. Sehun melirik istrinya dan mendapati mata indah itu telah tertutup sempurna.
Sehun mendesah lega. Ia kemudian turunkan wajahnya hingga bibirnya mengecup bibir lembut Yoona pelan. Lama ia menempelkan bibirnya sebelum akhirnya ia melepaskannya dan mengecup singkat puncak kepala istrinya yang terlelap itu.
Sehun lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia pelan-pelan berjalan ke pintu keluar dan membukanya sepelan mungkin kemudian menutupnya perlahan saat ia sudah berada di luar. Sehun melangkah dengan pasti ke tempat tujuannya singgah malam ini. Tentu saja.
Kamar Luhan.
Sejujurnya, Sehun belum ingin melakukannya sekarang. ia masih tidak bisa mengendalikan perasaannya terhadap namja yang ia bawa. Kemarin ia bersikap halus dan pengertian. Lalu tadi siang ia seolah marah pada namja itu dan membentaknya. Entahlah, Sehun juga tak habis pikir kenapa namja itu bisa mengacak-acak pikirannya.
Tapi Yoona… Sehun tahu bagaimana Yoona sangat menginginkan seorang anak. Hanya saja penyakitnya sangat menghalanginya, bahkan untuk memiliki satu. Sehun harus segera menyelesaikan masalah ini. Apapun caranya, Sehun akan berusaha memenuhi permintaan Yoona.
Sehun mulai kembali sibuk dengan pikirannya. Bagaimana ia harus bersikap terhadap Luhan itu? Apakah ia harus bersikap lembut? Layaknya ia pada Yoona? karena bagaimanapun Luhan adalah namja yang akan mengandung darah dagingnya sendiri. Anaknya kelak.
Sehun menggeleng. Tidak. Tidak bisa. Sehun memegang prinsip teguh bahwa istrinya hanya Yoona seorang. Ia mencintai perempuan itu melebihi apapun. Dan jika ia bersikap lembut pada Luhan itu sama saja dengan mengkhianati istrinya. Ia tidak bisa menganggap Luhan sama seperti ia menganggap Yoona.
Luhan jauh berada di bawah.
Seperti apa yang ia bilang tadi siang.
Sehun memantapkan hatinya. Ya. Ia tidak akan segan-segan pada namja itu. Luhan juga sudah setuju tentang kesepakatan mereka. Dan Sehun sudah berkali kali mengingatkan namja itu tentang statusnya di sini.
Bukan siapa-siapa.
Hanya seorang budak.
Sehun melangkah ringan menuju kamar budak barunya. Ia memang menaruh kamar itu tidak jauh dari kamarnya. Walaupun kamar para budak sebenrnya diletakkan jauh di bangunan lain, namun Sehun secara khusus menyiapkan satu kamar yang tidak luas itu untuk Luhan. Lihat, betapa baiknya Sehun pada namja itu kan?
Tak lama, Sehun sampai pada pintu kecil yang tidak ada istimewanya sama sekali. Ia kemudian mengangkat tangan untuk mengetuk pintu kayu itu namun ia urungkan niatnya itu. Ingat, Sehun tidak boleh bersikap lembut pada budaknya. Salah-salah budaknya bisa berbalik melawannya karena terlalu di manjakan. Itu yang Sehun perkirakan dan pikirkan.
Ia kemudian dengan sekali hentak membuka pintu itu dengan kasar. Menampilkan sosok luhan yang langsung terduduk bangun dan tampak ekspresi kaget di sana. Sehun tanpa aba-aba berjalan cepat ke arah Luhan dan menarik rambut Luhan agar wajahnya mendekat ke wajah Sehun. Pekik sakit dari Luhan Sehun abaikan begitu saja.
Sehun mengamati wajah Luhan yang kini dipenuhi rasa takut. Dan juga ia mengamati mata Luhan yang tampa memerah dan bengkak. Seperti baru saja namja ini…menangis? Tapi kenapa? Di pipinya juga terdapat jejak air yang mengalir.
Sehun mencengkram rambut Luhan lebih kuat. Ia hampir saja melepaskannya karena kasihan pada namja itu tapi ia harus memegang prinsipnya bahwa tidak ada belas kasihan di dunia ini. Dan ia mempertahankan prinsipnya dengan mencengkran rambut Luhan lebih kuat, yang dibalas Luhan dengan teriakan tertahan.
.
.
.
-o0o-
.
.
.
(WARNING! ADA ADEGANNYA / )
"Hei budak…" Sehun menatap tajam mata yang sudah berkaca-kaca itu. ia memajukan wajahnya hingga hanya bersisa jarak setengah kelingking dari wajah lawan bicaranya kini. Ia merasakan hembusan nafas Luhan yang tidak teratur. Pertanda ia sedang takut dan cemas.
Sehun hanya tersenyum miring. Matanya tak lepas dari Luhan.
"Aku menginginkanmu."
Dan Sehun langsung menubrukkan bibirnya kasar pada bibir Luhan. Sedetik bibir itu menempel, Sehun langsung menggigitnya, memaksa bibir itu untuk membuka.
"Ah!"
Dan tentu saja seperti perhitungan Sehun si empunya bibir mengerang sakit dan membuka bibirnya memberi jalan masuk bagi lidah Sehun untuk menelusuri lebih dalam mulut Luhan.
"Ngh.." desahan Luhan mulai terdengar merdu di telingan Sehun dan Sehun tak lagi segan-segan sekarang.
Sehun memainkan lidahnya di dalam mulut Luhan. Menelisik giginya satu persatu dan memainkan Lidah Luhan yang terasa sekali gerakan kakunya. Mungkin bingung harus melaakukan apa ia dengan lidahnya itu. dan secara tidak langsung membiarkan Sehun mendominasi permainan mereka.
Cengkraman rambut Sehun bertambah seiring dengan permainan mereka yang memanas. Luhan sudah beberapa kali mengerang tanpa ia sadari sepenuhnya. Membuat Sehun menyeringai dan mulai meningkatkan permainan ini ke level yang lebih tinggi.
Tangan Sehun mulai menelusup masuk ke dalam baju Luhan dan mulai memelintir-lintir pelan puting Luhan yang mulai mengeras. Sesekali Sehun mencubitnya dan menariknya. Dan Luhan akan sedikit berteria karena kelakuan Sehun itu.
"Ah! Sa…kit…"
Luhan merintih sakit saat Sehun menggigit putingnya keras. Entah kapan bajunya mulai terlepas. Serta pagutan Sehun mulai berpindah. Semuanya tampak tidak jelas dan sedikit blur di mata Luhan.
Sehun memindahkan tangannya yang memelintir putting Luhan sebelah kanan menuju ke bawah. Terus melewati perut rata Luhan secara pelan-pelan. Luhan melenguh pasrah saat tangan Sehun yang besar mulai mengelus benda di balik celana Luhan secara teratur. Naik…turun… hanya mengelus, namun Luhan sudah terasa terbang sekarang.
"Ah…j-jangan…ah!"
Sehun tiba-tiba mencengkram gundukan yang tidak terlalu besar itu dan meremasnya.
"Jangan eh? Kau mendesah seperti pelacur murahan dan kau bilang jangan?"
"Ah! Ah! K-kumohon…"
"Kau memang pelacur."
Dan dengan sekali hentak, Sehun sudah melepas celana katun Luhan. Entah Sehun menurunkannya atau merobeknya, Luhan tidak peduli. Yang menjadi pusatnya kali ini ada di kejantanannya yang teracung tegak dan sudah mengeluarkan precum tang membuat miliknya mengkilat.
Di pandangannya yang agak kabur, Luhan membayangkan dirinya kini telanjang. Ia mengangkang untuk orang yang sama sekali tidak menginginkannya. Ia menyerahkan seluruhnya pada namja yang berlaku kasar padanya. Dan semua itu ia lakukan dengan mudah.
Luhan merasa seperti pelacur. Seperti yang Sehun ucapkan padanya.
Pelacur murahan.
Seketika itu Luhan langsung menutup kedua kakinya dan mundur dengan tergesa ke ujung kasur. Membuat punggungnya menabrak sandaran kasur. Luhan meringis sakit saat lukanya mengenai permukaan kayu itu.
Sehun mengernyit tidak suka. Kenapa tiba-tiba namja yang tadi mendesah-desah itu kini berbalik tidak menginginkannya seperti ini. Ia mau melawannya eh? Mau membangkang? Sehun merasa tidak terima.
Segera Sehun beranjak dari kasur itu dan berjalan mendekati Luhan. Ia langsung menarik kasar tangan Luhan yang menutupi wajahnya. hanya untuk mendapati wajah cantik itu kini telah basah dengan air mata.
Sesaat, hanya sesaat ia merasa kasihan pada namja ini. Namun sudah berulang kali Sehun menegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak memberi namja ini belas kasihan. Alih-alih menenangkannya, Sehun menahan dua tangan itu dengan satu tangannya tepat di atas kepala Luhan. Sedangkan satu tangan yang lain sibuk melepaskan celananya.
"kau tahu? Tidak ada gunanya kau membangkang."
Sehun menekan dua kaki Luhan untuk membuka dengan lututnya. Kaki Luhan dengan seketika membuka. Memperlihatkan lagi bagian bawah Luhan yang seharusnya tertutupi rapat.
"Kau hanya akan mempersulit keadaanmu sendiri."
Satu tangannya yang tadi berusaha melepaskan celananya kini berpindah ke dagu Luhan. Mencengkramnya kuat.
"Kau milikku malam ini." Sehun berbisik di telinga Luhan kemudian menciumnya pelan.
"Dan aku akan melakukannya dengan semauku. Kasar, dan cepat, nikmati malammu, pelacur."
Memposisikan miliknya tepat di luabng Luhan yang masih terlihat sekali sempitnya, Sehun terus mendorong kejantanannya masuk ke lubang Luhan. Tak menyangka ternyata Luhan juga mampu menghasilkan lendir di lubangnya seperti yang wanita lakukan. Pria ini memang spesial.
"AAAAHHH! Berhenti! Berhenti!"
Sehun menulikan pendengarannya dari teriakan Luhan. Ia langsung saja menghentakkan semua miliknya yang berukuran besar itu masuk ke dalam lubang Luhan yang masih perawan.
"AAAHHHH! SAKIT! SAKIT! K-KELUARKAN!"
Sehun melihat miliknya sudah tertanam sempurna di sana. Cairan putih tadi kini sudah bercampur dengan darah yang keluar dari dinding lubang Luhan yang terluka. Sehun menyeringai dan memajukan tubuhnya hingga kini ia menghadap Luhan yang masih setia dengan air matanya.
"Kau akan menyukai ini budakku, nikmatilah." Dan dengan itu Sehun langsung mengeluaran miliknya dan memasukkannya lagi dengan kasar. Berulang kali dengan cepat.
Tak disangka Sehun cukup terbakar nafsu juga. Tubuhnya terasa panas dan bergairah. Teriakan Luhan seakan menjadi motivasi untuknya. Ia ingin mendengar teriakan itu lagi dan lagi. Sehingga tak jarang tangan Sehun yang sudah tidak menahan tangan Luhan itu menggerayangi putting Luhan dan mencubitnya kuat. Atau tangannya bergerak liar dii punggung kasar Luhan dan mulai menancapkan kukunya di satu dari banyak luka di sana.
"Ahh..hah…ah…t-tidak lagi…kumohon…ah! J-jangan…s-sakit…"
Sehun terus menyeringai dan ia kembali menghentakan miliknya kasar. Bahkan lebih kasar dari sebelumnya. Dan kini yang terdengar di ruangan itu hanya suara kulit yang beradu dengan kulit dan desahan Luhan.
"Kau…akan kupastikan kau mengandung malam ini juga!"
.
.
.
.
Mata Luhan benar-benar sudah tidak lagi fokus. Tangannya ada di kedua sisi badannya dan terasa sangat lemas. Tubuh bagian bawahnya sangat terasa sakit. Sehun memasukkan miliknya tanpa persiapan apa-apa. Ia tak menunggu Luhan terbiasa dengan ukurannya yang lumayan besar. Sakit tentu saja, namun Luhan bukan pembohong yang tidak mau mengakui ada sedikit kenikmatan di sana.
Dengan penglihatan yang kabur, Luhan memandang Sehun yang terlihat sangat serius dan emosi. Bibirnya tak kunjung berhenti melontarkan makian dan kata-kata kotor. Tentang betapa murahannya Luhan atau bagaimana Luhan biasa menerima kejantanan laki-laki lain.
Luhan hanya diam. Ia tidak membalas semua perkataan Sehun. Tubuh bagian bawahnya sakit, jangan bayangkan punggungnya mungkin kini sudah berdarah lagi akibat gesekan antara tembok atau kuku Sehun yang bermain di punggungnya. Atau sakit di kepalanya karena tak jarang Sehun menjambak Luhan untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun kemudian menciumnya dengan kasar.
Sakit, sangat, namun kini hati dan perasaannya jauh lebih sakit. Dengan mulut Sehun yang tak mau diam dan berhenti menghinanya. Dan perlakuan Sehun yang menganggapnya pelacur.
Ada salah apakah sebenarnya aku dengan mu Yang Mulia?
Kenapa kau membenciku?
Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?
.
.
.
Sehun terus memaju mundurkan kejantanannya di lubang Luhan. Tidak peduli pada desahan dan teriakan Luhan, atau ritmenya yang tidak teratur. Atau bahkan air mata Luhan yang seakan tidak mau mengering.
"Aahh!"
Luhan keluar lagi untuk yang kedua kalinya. saat Sehun bahkan belum mengeluarkan benihnya untuk yang pertama.
"Keluar lagi eh? Nikmati selagi bisa budak!"
Sehun terus mengejar nafsu dan puncaknya. Mungkin beberapa tusukan lagi dan dia kan sampai.
Sebentar lagi.
.
.
.
"Aaah…ah..ah…c-cukup…berhenti…ah…"
Lemas. Lelah. Dan semua terlihat buram. Kepala Luhan terasa melayang dan Sehun belum mau berhenti.
Tusukan Sehun mulai keluar dari ritmenya dan semakin terasa cepat. Luhan merasa kejantanan Sehun semakin membesar dan berkedut-kedut di dalam sana. Luhan hanya berharap bahwa Sehun sudah dekat. Ia tidak tahu lagi jika tiba-tiba ia pingsan saat ini juga.
"Kau…tatap aku Luhan, lihatlah orang yang sedang menyetubuhimu…"
Luhan menggerakkan kepalanya pelan. Ia menatap Sehun dengan mata sayunya.
"kau lihat, kau sudah keluar dua kali…kau menikmatinya namja sialan? kau laki-laki murahan! Sudah berapa kali lubangmu itu disetubuhi?"
Sehun hanya ingin menghinanya. Luhan tahu benar akan hal itu. Sehun melihat sendiri darah keluar dari lubangnya menandakan ia masih murni.
"Ugh…kau akan hamil malam ini juga! Kau harus! Kau tidak boleh mengecewakan kami!"
Sehun merasakan sebentar lagi ia akan keluar. Maka dari itu, ia terus memacu kejantanannya.
"Ugh…ah…aku sudah dekat…ketatkan lubangmu dasar bodoh!"
Luhan bingung dia harus melakukan apa. Bagaimana caranya ia mengetatkan lubangnya. Sementara ia sudah sangat lemas seperti ini.
Namun sepertinya Luhan tidak perlu repot-repot memikirkannya karena selanjutnya yang terdengar di ruangan itu adalah erangan nikmat dari Oh Sehun.
"Aaaahhh! Hah…hah…hah…"
Dan Luhan merasa lubangnya sangat penuh sekarang dengan banyaknya cairan yang masuk.
Sehun dengan kuat mengangkat kaki Luhan sehingga saat ini bagian bawah Luhan terangkat dan memudahkan benih Sehun masuk ke dalam dengan kejantanan Sehun masih tertanam di dalam lubang Luhan, menghalangi benih-benih itu untuk keluar barang setetespun. Luhan hanya bisa pasrah dan menatap sayu Sehun.
Setelah dirasa cukup lama, Sehun menghempaskan begitu saja tubuh Luhan menimbulkan suara debuman yang cukup keras di kasur itu. Sehun mencabut kejantanannya dan mulai beranjak dari kasur sempit itu dan memakai celananya yang ada di lantai.
Sehun yang telah berpakaian kini melihat hasil perbuatannya yang masih terengah-engah di ranjang. Sehun mendecih lalu pergi meninggalkan Luhan yang masih telanjang bulat dengan bau sperma memenuhi ruangan itu. Meninggalkan Luhan yang diam-diam melihat Sehun pergi dengan linangan air mata, dengan bantingan pintu kasar.
.
.
.
-o0o-
.
.
.
BRAK!
Luhan mendengar pintunya dibanting. Ia kemudian merosot untuk berbaring di kasurnya.
"Aah…" sedikit mengerang ketika punggungnya yang berdarah lagi menyentuh kasur yang sedikit kasar dank eras. Luhan mencatat ia harus mencuci spreinya besuk jika ia ingin tidur dengan sprei yang bebas dari noda darah, cairannya, dan bau sperma yang melekat.
Namun untuk sekarang, ia hanya ingin tidur. Mengistirahatkan raga dan jiwanya yang lelah. Ia sudah banyak sekali menangis malam ini, namun tetap saja ia kembali meneteskan air matanya lagi lagi dan lagi.
Tangan Luhan ia gerakkan untuk mengambil selimut kemudian ia menyelimuti tubuhnya yang terluka sampai menutupi seluruh badannya. Di dalam selimut, tubuh kecil itu meringkuk seperti bayi dengan tangan yang memeluk dirinya sendiri. Berusaha mencari kenyamanan dan perlindungan.
"Hiks…jangan m-menangis…hiks…Luhan jangan menangis…k-kau tidak mau dewa hujan marah kan…hiks…jangan menangis…"
Namja itu masih setia mengisi kamarnya dengan isakan. Dan lama kemudian, isakan itu berhenti dan namja itu pun tertidur. Lengkap dengan wajah yang ternodai air mata, tubuh yang terluka, dan hati yang patah…
.
.
.
.
.
TBC
.
But feel free to press the next button, next will be Chanbaek side ;)
