Chapter 8

.

Chanyeol-Baekhyun Side

.

Part ini terjadi di malam yang sama seperti part sebelumnya

.

Malam ini adalah lusa tepat sejak hari itu. hari ini Chanyeol untuk pertama kali dalam hidupnya akan menemui rakyatnya. Chanyeol menatap lesu pemandangan di jendela kereta yang akan membawanya. Bundanya ada di sampingnya duduk di dalam kereta kuda mewah yang akan membawa keluarga itu ke alun alun, sedangkan ayahnya ada di depannya, memberikan senyum menenangkan.

Chanyeol lahir, tumbuh, dan hidup dalam keluarga impian. Ayah dan bundanya sangat menyayanginya dan ia sangat dimanja. Selain itu, Chanyeol adalah anak yang pintar. Kedua orang tuanya gembira sekali mengetahui jika putra mereka berkembang dengan baik. Membuatnya hidup dalam limpahan pujian. Orang tua Chanyeol tak pernah sekalipun mengatur hidupnya. Chanyeol tumbuh dengan bebas, namun tetap dalam batas wajar dan aman. Serta penuh pengawasan orang tua.

Ibu Chanyeol menggenggam tangan Chanyeol hangat. Mau tak mau Chanyeol menyandarkan badannya yang besar ke bundanya. Berharap kasih sayang.

"Putra Bunda kenapa lagi hmm?" Ibu Chanyeol mengelus pelan rambut anaknya yang tampak sangat rapi itu.

Chanyeol hanya menggeleng di pelukan ibunya.

Ayah Chanyeol yang melihat tingkah laku anaknya itu mendesah lelah. "Chanyeol-ah…" panggil Ayahnya.

Chanyeol tetap bertahan dalam pelukan ibunya.

"Kenapa kau tak memandang Ayahmu sayang?" perkataan ibu Chanyeol malah membuat Chanyeol mengeratkan pelukannya ke ibunya.

"Chanyeol-ah, kenapa kau tiba-tiba marah pada Ayah?"

Chanyeol diam.

"Apakah masalah kau akan menjadi raja? Tapi kau kan sudah tahu mengenai ini semua…"

Chanyeol menggeleng.

"Bukan ya?" Ayahnya mengehela nafas lagi. "Apakah masalah pernikahan itu?"

Kali ini Ayah Chanyeol melihat istrinya yang mengangguk.

"Sebelumnya Ayah ingin bertanya, Chanyeol-ah, kau mencintai seorang namja bernaama Baekhyun apakah itu benar?"

Tanpa ragu-ragu Chanyeol mengangguk.

Ayahnya mendesah frustasi. "Chanyeol-ah, kalau begitu, kau nikahi saja namja itu, kenapa kau harus marah pada Ayah?"

Chanyeol mendongakkan kepalanya sekarang. menatap ayahnya dengan pandangan serius.

"Ya! Dasar anak nakal, bukan salah ayah jika ia tidak mau menikahimu, kenapa kau menyalahkan ayahmu ini dasar anak nakal," ayahnya kemudian berpindah duduknya di sebelah kanan Chanyeol. Sedangkan istrinya masih setia berada di sebelah kiri Chanyeol.

Chanyeol melihat kedua orang tuanya yang tersenyum lebar. "A-ayah tidak marah?" cicitnya pelan.

Ayahnya tertawa. "kenapa ayah harus marah? Kau sudah dewasa dan kau berhak memilih sendiri jodohmu, seperti Ayah memilih Bunda," ayah Chanyeol mengerling mesra pada istrinya yang tersipu malu.

"T-tapi ia bukan seorang tuan putri…"

"Gwenchana sayang, kau bilang ia sangat cantik melebihi tuan putrid kan?" kali ini Ibunya berbicara.

Chanyeol mengangguk membenarkan. "Eum, Baekhyunnie sangat cantik, tapi d-dia seorang namja…"

"Aigo, anak ini, kita tidak hidup ratusan tahun lalu, sekarang namja dan namja lumrah untuk menikah," ayahnya mencubit pipi Chanyeol gemas.

"Ayah..Bunda…tidak apa-apa?"

"Kebahagiaanmu yang terpenting untuk kami, kau harus ingat itu," Ayahnya berkata bijaksana. Ibunya tersenyum manis dan mengecup pipi Chanyeol sayang.

"Aigo, anak Bunda sudah besar rupanya, sudah berani jatuh cinta…" katanya.

Chanyeol tersenyum lebar. Ia memeluk bundanya dan mencium bundanya sayang di kedua pipi dan dahi. Kemudian ia berbalik ke arah ayahnya dan menciumnya sama seperti ia mencium ibunya. Aahh…Chanyeol merasa sangat senang malam ini.

"Ayah…Bunda…aku berjanji akan memberi kalian cucu yang banyak!" katanya semangat.

"Eh?!" kedua orang tuanya malah membelalak kaget mendengar penuturan putranya.

"Kau bilang kau ingin menikahi pria dan sekarang kau menjanjikan kami cucu? Dasar anak nakal," ayahnya memukul kepala Chanyeol pelan.

Chanyeol meringis menerima pukulan pelan dari ayahnya. "Ish, Ayah, Baekhyunnie adalah salah satu namja bertanda sayap asal kau tahu saja, ia bisa memberi cucu sebanyak yang ayah dan bunda mau, lagi pula kenapa ayah memukulku? Appo…"

"Eh?!" setelah berteriak bersama, kedua orang tuanya lagi-lagi hanya melongo tidak percaya memandang anak semata wayangnya itu.

Chanyeol masih mengelus kepalanya. Namun senyum dari wajahnya tidak pernah luntur. Ia mendapatkan restu dari orang tuanya. Dan malam ini, ia harus mendapatkan Baekhyunnya juga!

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Seolah berbanding terbalik, namja berukuran pendek itu mendesah lesu untuk yang kesekian kalinya malam ini. Matanya tak henti-henti mengarah pada kilatan cahaya di sebrang sana. Tepatnya dari arah alun-alun yang menjadi tempat perhelatan acara besar malam ini. Matanya memandang rindu ke arah sana. Sedang menimbang apakah benar ia harus ada di sana, ataukah ia harus bertahan di kamarnya sekarang.

Baekhyun mendesah sekali lagi.

Kata-kata Chanyeol untuk mengajaknya bertemu di sana, Baekhyun memikirkannya. Jujur, ia ingin ada dan hadir di sana. Sedikit banyak ia ingin tahu apa yang akan dikatakan namja berbadan tinggi itu.

Ia ingin sekali berlari ke sana.

Namun siapa yang berani jamin jika apa yang mungkin akan―atau mungkin tidak dilakukannya itu tidak berbahaya. Atau tidak berdampak buruk. Siapa yang berani jamin jika Chanyeol…

Chanyeol benar-benar mencintainya?

Baekhyun mengusap wajahnya kasar dan mendecih pelan. Ia kemudian beranjak dari jendela dan mulai menggelar kasurnya dan pergi tidur. Tidak mempedulikan teriakan batinnya untuk segera beranjak dan berlari ke alun-alun kota. Namun rasa gengsi dan egois itu lebih kuat sehingga perlahan lahan rasa kantuk menyerangnya dan matanya mulai terpejam sempurna.

.

.

.

Dan tanpa di sangka, pagi hari datang begitu saja menyapa.

Baekhyun terbangun dari tidurnya dan menggosok matanya pelan. Sudah pagi, dan malam tadi juga sudah berlalu. Baekhyun tersenyum miris dan mulai berjalan keluar untuk membuka kedai dan mulai membuka toko, jika saja kakek dan nenek datang.

Pagi ini tidak secerah biasanya. Bahkan hujan deras datang mengguyur kota ini. Dinginnya angin dan lembabnya udara sebenarnya menyiksa Baekhyun. Membuatnya ingat akan segala kenangan sedihnya di waktu lalu.

SREK!

Pintu geser dari kayu itu sudah Baekhyun buka sepenuhnya. Ia melihat hujan yang terus menghentak bumi.

"Sepertinya hujan akan berlangsung sangat lama…"

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke jalan yang nampak sepi. Tentu saja, siapa yang ingin berjalan saat hujan mengguyur. Dan saat pandangannya mengedar ke kiri dan ke kanan, di sana, di pojok emperan toko, namja yang kedinginan, basah, menangis, dan tampak sekali frustasi… seperti dirinya dulu…

Chanyeol?

Baekhyun dengan sekuat tenaga dengan kedaan yang masih shock berat atas penampilan orang di hadapannya ini, tergopoh-gopoh memboyong pria berbadan 2 kali badannya ini masuk ke dalam kedai. Ia ingin sekali membaringkan Chanyeol di kamarnya, namun apa daya tangan kecil dan tenaga yang tidak seberapa itu tidak mengijinkan Baekhyun melakukannya.

Maka dengan terpaksa, ia dudukan Chanyeol di salah satu kursi.

Baekhyun masih sibuk di dapur merebus air hangat untuk Chanyeol minum setelah ini. Ia lalu berlari ke loteng untuk mencari kain yang bisa sedikit mengeringkan Chanyeol yang basah.

Baekhyun segera saja turun dan mengasak rambut Chanyeol pelan. Sesekali tangannya menyentuh dahi Chanyeol untuk merasakan apakah pria tinggi ini demam atau tidak. Dan ditengah belaian lembut tangan Baekhyun yang hangat itu, Chanyeol terbangun. Ia memandang Baekhyun yang tampak merasa bersalah dengan matanya yang merah dan bengkak.

"Kenapa tidak datang Baek?"

"Aku menunggumu,"

"Tidakkah kau tahu aku terus menunggumu?"

Baekhyun menelan ludahnya. Walaupun dengan suara serak, dan suara yang tidak lebih dari bisikan, kata-kata Chanyeol sempat menusuk hati Baekhyun dalam. Dan masih menusuk dalam. Baekhyun hanya tersenyum kaku sebentar dan ia teruskan mengusap badan Chanyeol yang basah. Berusaha mengeringkannya.

"Kau tahu Baek? Aku menunggumu malam itu… di panggung yang megah itu aku berdiri, mencarimu..."

Baekhyun seolah tidak menghiraukan ucapan Chanyeol. Namun tidak dipungkiri, perasaannya terlukai saat mendengar Chanyeol berbicara.

"…mataku bergerak ke sana kemari, tanganku gemetar, dan mulutku terus memanggil namamu, aku bertingkah sangat konyol waktu itu kau tahu…"

Chanyeol berhenti berbicara.

"…berteriak ke sana kemari, berharap kau akan muncul dan memelukku, betapa bodohnya aku berharap…"

Berhentilah Chanyeol, kau membuatku makin bersalah.

"…kau tahu Baek, aku mempermalukan diriku sendiri, calon raja mempermalukan dirinya sendiri di depan rakyatnya..."

Chanyeol kumohon…

"…hanya untuk mendapati ternyata kau tidak hadir di sana, tidakkah itu lucu buatmu?" Chanyeol sekali lagi mengarahkan tatapannya ke arah Baekhyun. Tajam.

Chanyeol…aku menyesal…

Chanyeol tertawa meremehkan. Seolah tahu apa yang Baekhyun pikirkan, Chanyeol dengan entengnya berkata, "Aku tidak perlu penyesalanmu Baek, kau tahu…"

Baekhyun menghentikan kegiatannya saat itu juga.

"…aku kecewa padamu…"

DEG

"…dan aku membencimu."

Tidak terasa ada setumpuk air mata yang kini mulai meleleh jatuh dipipinya. Baekhyun menangis. Bukan ini yang dia harapkan. Saat ia memilih tidak datang, ia berharap urusannya dengan pangeran ini akan selesai. Tentang perasaannya, biarkan saja, Baekhyun yakin suatu saat ia akan melupakan Chanyeol dan Chanyeol akan hidup bahagia dengan putri dari negri sebelah.

Pemikiran yang bodoh bukan?

Karena semuanya salah.

"C-Chanyeol…a-aku…a-aku…m-mian―"

"Sudahlah, semua sudah terjadi, aku kemari hanya ingin melihat wajahmu…"

Baekhyun yang semula menunduk mendongakkan wajahnya. Melihat manik Chanyeol mengamati wajahnya dengan tatapan yang Baekhyun tidak bisa artikan. Namun Baekhyun bersumpah melihat setitik rindu di sana. Untuknya…

Chanyeol memalingkan wajahnya begitu saja, kemudian bangkit dari tempatnya duduknya. Meletakkan kain yang terdapat di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya. "…melihat wajahmu untuk terakhir kalinya… Aku harap kau bahagia Baek…"

Hati Baekhyun terasa sakit sekali lagi. Chanyeol mulai berjalan keluar dan Baekyun tak punya kuasa untuk menahannya. Ia hanya berdiri di sana dan menangisi punggung lebar Chanyeol yang mulai menjauh.

Di luar terdengar masih hujan, Baekhyun mencoba menggenggam tangan Chanyeol untuk menahannya karena hujan cukup deras. Dan Baekhyun tidakingin Chanyeol kenapa-kenapa.

"Kumohon tinggalah sebentar lagi, diluar hujan,"

"Chanyeol, kau akan sakit jika memaksakan dirimu,"

"Chanyeol tinggalah…"

Namun semua itu,hanya tertahan dalam hatinya. Dan pria tinggi itu telah sampai di depan pintu membukanya perlahan dan menaikkan satu tangannya. Tangan yang tidak berhasil Baekhyun tahan.

"Aku pergi, Baekhyun…"

"Aku mencintaimu Chanyeol…"

Dan pintu kedai ditutup.

Isakan Baekhyun menjadi semakin keras. Ia tidak berharap semuanya menjadi seperti ini. Bagaimana ini, apa yang harus dilakukannya? Ia hanya bisa menangis. Menangis lagi dan menangis. Air matanya keluar banyak, napasnya putus-putus, dan kini tangisannya bertambah dengan jeritan nyaring keputus asaan.

"Chan-Chanyeol-ah…ah..ahah…ah…hiks…andwe…k-kembali…hiks…"

Jika saja waktu itu Baekhyun membuang gengsinya jauh. Jika saja waktu itu Baekhyun mendengarkan hatinya untuk pergi. Jika saja waktu itu ia menemui Chanyeol…jika saja…jika saja…

Namun mau bagaimana lagi?

Waktu tidak bisa lagi diulang. Hukum alam menyatakannya begitu.

Benarkan?

.

.

.

.

.

.

"AAH! Hah..hah…hah…hah…"

Mimpi?

Baekhyun menyentuh pipinya dan mendapati pipinya basah di sana. Ia menghela nafasnya. Sekedar menenangkan dan menetralkan perasaannya. Bangun dengan wajah pucat pasi dan nafas yang terengah-engah, baru Baekhyun alami saat ini. Seburuk-buruknya mimpinya, ia akan tetap tertidur nyenyak di pelukan hyungnya yang nyaman. Ia memandang ke arah jendela dan mendapati hari masih gelap di sana.

Malam masih berlangsung.

Baekhyun melempar selimutnya kasar dan beranjak menuju jendela, ia melihat masih ada terang di suatu sudut kota yang menandakan acara yang―mungkin―masih berlangsung. Entah ini sudah jam berapa, yang terpenting adalah acara itu masih ada, dan Chanyeol masih di sana.

Baekhyun menggigt bibirnya. Sejenak ragu atas keputusan apa yang harus diambilnya.

Jika saja mimpi itu adalah sebuah pertanda, untuknya tidak melakukan kebodohan dan mengikuti kata hatinya, bolehkah kali ini Baekhyun berharap, jika dirinya tidak terlambat sampai di sana?

Baekhyun menyambar mantel usang yang diberikan kakek padanya, dan ia berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tidak tahu jika satu kakinya menyandung kaki yang lain, dan kejadian selanjutnya adalah Baekhyun terjatuh dengan kerasnya dari tengah tangga menuju dasar lantai yang keras.

Baekhyun mengerang sakit. Badannya mungkin memar, dan kakinya jelas terkilir, namun ia bersyukur karena ia tidak melihat darah menetes di tubuhnya. Ia berusaha bangkit, menahan nafas saking sakitnya dan menghela nafasnya kemudian sesaat setelah ia berhasil berdiri.

Namun tidak ada waktu memanjakan sakitnya, ia masih berusaha berlari walau dengan gesture yang aneh dan tersendat-sendat. Ia merantai pintu kedai dengan cepat dan tangan yang bergetar. Ia diburu waktu. Entah bagaimana setelah ini, Baekhyun mempercayakan semuanya pada takdir.

Ia akan menemui Chanyeol malam ini.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Chanyeol keluar dari pintu kereta dan menginjakkan kakinya di tanah yang sama lagi seperti hari-hari lalu. Saat tangannya masih menggenggam erat tangan Baekhyun.

Chanyeol menatap panggung yang sekarang sudah dihiasi sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dan mewah. Padahal saat ia kemari, panggung itu hanya panggung biasa setinggi 1,5 meter dari beton.

Dan disinilah, ia akan bertemu kembali dengan Baekhyunnya. Sekali lagi ia akan meyakinkan pria mungil itu bahwa ia mencintainya.

Sangat.

Chanyeol benar-benar berharap pada keberuntungannya jika Baekhyun datang malam ini.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Baekhyun terus membawa kaki kecilnya berlari melewati jalanan yang cukup sepi ini. Sakit di pergelangan kakinya ia hiraukan. Itu tidak cukup penting dibanding apa yang menantinya saat ini. Ia harus sampai di sana secepat yang ia bisa. Ia tidak mau lagi terlambat.

Tidak saat ia harus menemui Chanyeol.

Dan mengatakan pada idiot itu jika ia juga mencintainya.

Sangat.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

Chanyeol kembali berbincang-bincang dengan para kolongmerat yang diundang di acara ini. Dibelakang panggung memang disiapan sebuah tenda untuk menjamu para tamu terhormat dari kalangan atas.

Tidak sedikit para kolongmerat itu menawarkan putra-putrinya seperti barang dagangan pada Chanyeol. Berharap mereka bisa berbesan dan Chanyeol mau menikahi putra atau putri mereka.

Chanyeol tentu saja menolaknya.

Ia sudah punya pilihan hati sendiri.

Baekhyun.

.

.

.

.

.

Baekhyun dengan badannya yang mungil mencoba menerobos lautan manusia yang memenuhi alun-alun ini. Tujuannya hanya panggung megah yang ada di depan sana. Yang sekarang masih menampilkan music-musik yang sama sekali tidak dipedulikan Baekhyun.

Terengah-engah dan sejuta kata maaf dan permisi ia selalu ucapkan pada orang-orang yang berhasil di lewatinya.

Baekhyun sangat lelah. Dan jangan lupakan kakinya yang sakit kini terasa ingin patah. Ingin sekali baekhyun istirahat, atau paling tidak pingsan saat itu juga. Namun sepertinya hal itu masih harus ditunda, tatkala ia dengar si pemandu acara menyampaikan bahwa acara utama akan dimulai saat itu juga.

Pengumuman calon Raja.

Baekhyun yang mulai panik segera berlari menerobos orang-orang yang juga berdesakan ingin ke depan. Mereka tentu saja ingin melihat bagaimana calon raja mereka kelak. Namun Baekhyun berdesakan bukan untuk melihat raja. Ia hanya ingin melihat Chanyeol. Dan mengatakan perasaannya.

Dengan tubuh kecilnya Baekhyun berhasil menuju barisan tengah. Sulit sekali menerobos barisan depan karena orang-orang sudah berdesakan ingin ke depan. Baekhyun menggigit bibirnya bingung. Ia tidak mungkin terlihat diantara ribuan orang yang berkumpul di tempat ini jika ia tidak berlari ke depan.

Dan saat matanya melirik panggung yang cukup besar itu, ia melihat 3 orang mulai naik bersama para pengawal istana yang mendampingi.

Raja, Ratu, dan sang Pangeran.

Baekhyun memandang Chanyeol yang tampak sangat tampan malam itu. tubuhnya berbalut kain sutra yang terlihat megah sekali di badannya. Ia terlihat tegas dan berwibawa, berbeda sekali dengan Chanyeol manja yang selalu menempel padanya. Di kepalanya tersemat mahkota yang walaupun tidak terlalu besar, sudah cukup membuat para pencuri ingin sekali mengambilnya.

Baekhyun tersenyum memandang Chanyeol yang kini berdiri tegap di tengah panggung bersama ayahnya. Sang Raja.

Gemuruh teriakan dan tepuk tangan mulai bergema. Dan kerumunan orang makin berdesak-desakan sehingga sangat sulit untuk Baekhyun menerobosnya sekarang. bahkan ia kini sudah terdorong-dorong oleh kerumunan orang yang ingin maju ke depan.

Saat terdorong, Baekhyun sempat terjatuh ke tanah. Namun karena ramainya orang ia sangat sulit berdiri. Telapak tangannya tak sengaja berkali-kali terinjak dan tubuh kakinya beberapa kali tertendang oleh orang-orang sebelum Baekhyun akhirnya bisa berdiri lagi.

Setelah ia berdiri, ternyata tempatnya berpijak semakin jauh dari panggung tempat Chanyeol berdiri. Baekhyun tersenyum miris. Ia lelah. Tubuhnya sakit. Kakinya terasa mati rasa. Dan kini ia mendapati perjuangannya sia-sia?

Baekhyun menangis.

Kali ini air mata itu tidak ditahan-tahan lagi. Ia mengeluarkannya sambil terisak keras. Tidak peduli jika orang-orang menganggapnya aneh. Toh sepertinya teriakan putus asanya tidak akan terdengar di tengah keramaian seperti ini.

Baekhyun menunduk dan akhirnya ia jatuh. Masih menangis dan dengan hati yang hancur ia terduduk dan memeluk dirinya sendiri. Suara gemuruh orang-orang mulai tidak terdengar. Ia masih sibuk mengasihani dirinya sendiri. Sibuk meratapi nasibnya yang tidak begitu beruntung. Dan perjuangannya yang runtuh.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol memandang kearah kerumunan orang dibawahnya yang melambaikan tangan dan tepuk tangan. Ayahnya sedang berbincang dengan rakyatnya. Berpidato selayaknya raja ia. Mata Chanyeol masih menari-cari di banyak kerumunan orang di sana. Namun hasilnya nihil. Ia tidak mendapati namja mungilnya di sini.

Cahnyeol menggeleng. Ia harus berpikiran positif.

Ia hanya belum menemukan Baekhyunnya di sini.

Saat ayahnya menyuruhnya maju dan menyampaikan beberapa patah kata, Chanyeol dengan tergesa maju dan menatap orang-orang yang menatapnya penuh harap. ia telah mempersiapkan pidatonya lama sebelum saat ini, ia harusnya bisa lancar saat mengucapkannya, namun nyatanya, tenggorokannya kelu dan sulit sekali ia berucap.

Maka saat riuh para rakyat berhenti, satu kata yang memenuhi pikirannya lah yang terucap.

"Baekhyun…"

Rakyat menatapnya bingung. Chanyeol masih mengedarkan matanya mencari. Saat tak mendapati, ia mulai frustasi. Dan dengan segenap hatinya ia berteriak…

"BAEKHYUN!"

.

.

.

.

.

"Baekhyun!"

Baekhyun mengangkat kepalanya dari lututnya. Ia mendengar namanya di panggil.

"Baekhyun! Apakah kau di sini?!"

Lagi, ia mengenal suara berat itu dimana-mana. Baekhyun mulai berdiri. Ia melirik ke arah panggung dan mendapati Chanyeol ditengah panggung yang luas itu. Tengah berteriak ke sembarang arah.

"Baekhyun!"

Kali ini Baekhyun mendengar suaranya dipanggil lebih keras. Raja dan Ratu hanya memandang putra mereka dengan khawatir. Dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.

Baekhyun menyadari dua hal,

Ia tidak berjuang sendirian.

Dan ini semua belum berakhir.

Entah mendapat tenaga dari mana, Baekhyun mulai berlari ke arah panggung. Orang-orang yang tadinya tenang mulai berbisik bisik ribut mendengar pangeran mereka meneriakkan nama seseorang dengan kalap.

Baekhyun berlari dengan cepat. Ia menubruk orang-orang dan menelusupkkan badannya diantara celah-celah sempit yang ada.

"K-kumohon biarkan aku lewat…permisi…k-kumhon…" kata-kata it uterus Baekhyun gumamkan pada orang-orang disekitarnya. Sambil air mata terus menggenang di pelupuk matanya dan rasa taut ia tidak akan pernah terlihat oleh Chanyeol.

.

.

.

.

"BAEKHYUN!"

Chanyeol sendiri sudah nampak frustasi. Ia mengedarkan bola matanya memandang ribuan orang yang saling berdesak-desakan. Mencari sosok mungilnya yang mungkin saja salah satu dari mereka.

Mata Chanyeol memanas saat ia tidak bisa menemukan Baekhyunnya. Ia sudah hampir putus asa. Apakah Baekhyunnya tidak datang? apakah ia masih belum bisa memaafkan Chanyeol?

"Sayang…" tepukan lembut di pundak Chanyeol dari Bundanya membuat Chanyeol kembali berteriak kencang.

"BAEKHYUN-AH! BAEKHYUN-AH! KAU DI MANA?!"

.

.

.

Baekhyun terus berusaha menerobos keramaian ini. Mulutnya ini menggumamkan nama Chanyeol terus menerus.

"Chanyeol…"

"Chanyeol…aku di sini…"

"CHANYEOL!"

.

.

.

Chanyeol terperangah ketika ia mendengar suara yang ia rindukan memanggil namanya. Dengan sigap ia kembalikan matanya mencari sosok mungil yang ia nantikan. Chanyeol mencoba memanggil namanya lagi.

"BAEKHYUN!"

Dan ia mendengarnya lagi.

"CHANYEOL! CHANYEOL-AH!"

Walaupun hanya samar karna masih banyak suara-suara yang mengalahkan teriakan keduanya. Walaupun masih banyak orang yang membuat mereka tidak bisa melihat satu sama lain.

Dan di sana.

Chanyeol melihat Baekhyunnya.

Terlihat mungil dan terdesak dengan orang-orang yang menghalanginya maju ke depan.

Chanyeol ingin menangis saking senangnya.

Tanpa pikir panjang, ia melompat turun dari panggung dan berlari menuju pria mungil tadi. Membuat para penjaga, raja dan ratu terperangah atas tindakan pangeran mereka. Namun tak lama para penjaga segera berlari menghampiri Pangeran mereka dan menahannya melangkah lebih jauh. Tindakan itu bisa dikatakan cukup nekat, dan tindakan itu bisa saja membahayakan nyawanya.

Namun Chanyeol tak pedui. Ia harus mengejar nyawanya. Baekhyun. Maka ia berontak di dekapan para penjaga yang emnghalangi jalannya.

Mulutnya tak berhenti menggumamkan nama Baekhyun.

"Baek…Baekhyun…BAEKHYUN!"

.

.

.

Baekhyun melihat Chanyeol melompat turun dari panggung. Ia tersenyum lebar dan terus melangkahkan kakinya ke depan. Berharap ia bisa bertemu dengan Chanyeol secepatnya, apalagi saat ia melihat Chanyeol ditahan oleh para penjaga istana itu.

Seperti dejavu lusa kemarin.

Orang-orang mulai heran melihat tingkah Baekhyun yang dari tadi ingin menerobos keramaian ini.

"Hei nak, apakah kau orang yang bernama Baekhyun?" Tanya seorang pria yang tidak sengaja mendengar gumaman Baekhyun terus menerus.

Baekhyun mengangguk. "B-bisakah anda bantu s-saya ke depan? Saya ingin bertemu dengan Chanyeol―m-maksud saya Pangeran…"

Pria tadi tampak kaget dan setelahnya ia tersenyum lebar. Ia menepuk punggung Baekhyun dan mulai berteriak kepada orang-orang.

"HEY! BERI ANAK INI JALAN! DIA ADALAH ORANG YANG DICARI YANG MULIA PANGERAN! BAEKHYUN DI SINI! HEI BERI JALAN!"

.

.

.

Bak romansa drama, orang-orang kini mulai saling memperingatkan pada yang lain untuk memberi jalan bagi Baekhyun. Kini tampak jalan yang mengantarkannya langsung pada Chanyeol. Chanyeolnya yang juga tersenyum dengan senyum idiotnya di sana.

Baekhyun menunduk dan menangis. Kemudian ia berkali-kali membungkuk pada orang-orang dan berlari ke arah Chanyeol.

Chanyeol yang masih dalam dekapan para pengawal langsung menghentakkan tangan mereka dan meloloskan dirinya dari jeratan para pengawal sialan itu. Chanyeol juga berlari ke arah Baekhyun. Saat dirasa sudah dekat jarak antara mereka berdua, Chanyeol membuka tangannya lebar…

Dan dalam jarak yang sangat tepat, Baekhyun melompat ke arah Chanyeol…

Dan mendarat tepat pada pelukan pria itu…

Chanyeol mendekap Baekhyun dengan kuat. Ia memutar tubuh Baekhyun yang ada dalam pelukannya.

Baekhyun bersandar kuat pada dada Chanyeol dan tangannya yang menikat kuat pada leher Chanyeol, Baekhyun seperti diterbangkan ke angkasa.

Baekhyun menangis, lagi. Tapi kali ini bukan perasaan sedih yang memaksa air mata itu untuk jatuh. Namun perasaan senang dan kelegaan yang membuncah yang menyebabkan lagi-lagi air matanya jatuh. Namun Baekhyun tetap membiarkannya jatuh. Biar saja, karna kali ini ada bahu untuknya bersandar saat ia sedang jatuh dan menangis.

"Aku mencintaimu idiot….sangat…" bisik Baekhyun disela-sela tangisannya.

Chanyeol tersenyum mendengarnya. Matanya terpejam dan setetes air mata jatuh. Ia mencium pucuk kepala Baekhyun dengan sayang. Lama bibirnya bertahan di sana. Ia kemudian menurunkan Baekhyun dengan tangannya masih melingkar ditubuh ramping Baekhyun.

Ia menatap Baekhyun lama. Kemudian ia terkekeh pelan saat menghapus air mata yang tersisa di pipinya.

"Baekhyunnie, terimakasih karena kau sudah mengatakannya…."

Chanyeol mengecup kening Baekhyun singkat.

"Dan aku juga mencintaimu…sangat…"

Dan Chanyeol mendaratkan bibirnya di bibir Baekhyun secara tiba-tiba. Dan Baekhyun masih membuka matanya lebar-lebar.

Orang-orang mulai bertepuk tangan melihat kejadian itu. Mereka bersorak-sorai dan bersiul ramai. Mereka mengerubungi pasangan itu dan menyudutkan pasangan baru itu dalam sebuah lingkaran kecil ditengah-tengan alun-alun yang luas itu.

Baekhyun tersenyum di sela-sela lumatan bibir Chanyeol. Ia kemudian menutup matanya pelan dan mempererat lingkaran tangannya di leher Chanyeol. Memaksa Chanyeol untuk mendekat lebih lagi ke arahnya. Dan menambah intensitas sorak-sorai yang mereka terima.

Sementara itu di panggung…

"Lihat…lihat, kau membesarkan anak kita menjadi seorang penggoda wanita," Raja mencibir anaknya yang kini tengah menjadi pusat perhatian.

Ratu memandang suaminya dan terkekeh dengan pelan. "Buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya sayang,"

"Kau mengejekku ya?"

"Siapa yang bilang? Aku memujimu tahu. Ouh lihatlah anak manja itu, sangat romantis sekali," ratu terkekeh saat Chanyeol sekali lagi memeluk Baekhyun dan memutarnya.

"Jadi aku romantis?" raja tersenyum lebar.

"Sudah tidak, ingat umur," ratu terkekeh pelan.

Raja mendengus sebentar sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah ananya yang sepertinya terlihat bahagia sekali. Ia melirik istrinya yang masih tersenyum lebar memandangi anak dan calon menantunya itu. Raja itu merasa sedikit iri pada momen anaknya, maka dengan cepat…

CUP!

Raja mencium bibir ratu cepat. Sekitar 3-4 detik kemudian, ia lepas bibirnya dan tersenyum ke arah istrinya yang masih saja cantik itu. tak lama sorak sorai kembali terdengar. Lebih keras dari sebelumnya. Dan saat Raja dan Ratu itu menoleh, ternyata rakyatnya kini menyoraki mereka berdua. Bahkan anak mereka Chanyeol―dengan Baekhyun masih setia di rangkulannya―ikut menyorai mereka.

"Bunda dan Ayah aku mencintai kalian!"

.

.

.

-o0o-

.

.

.

"Annyeonghaseyo, nama saya Xi Baekhyun, biasa dipanggil Baekhyun Yang Mulia," Baekhyun sedang memperkenalkan diri kepada Raja dan Ratu dengan sangat sopan. Jika saja ia bisa membungkuk, ia pasti akan membungkuk 90 derajat penuh secara berulang-ulang, namun karena sekarang posisinya di dalam kereta, ia hanya bisa menganggukan kepalanya kecil.

Yap, mereka sedang dalam perjalanan mengantar Baekhyun kembali ke kedai mi. Chanyeol sudah memaksa Baekhyun untuk ikut dengannya ke istana. namun Baekhyun bersikeras tidak mau membuat nenek dan kakek khawatir.

Maka dengan terpaksa, Chanyeol mengalah.

Dan sepertinya Chanyeol masih marah.

"Ck, kenapa Baekhyunnie sangat sopan kepada orang tuaku? Kau tidak selembut itu saat berbicara denganku,"

Kedua orang tua Chanyeol tersenyum lebar. Tahu jika anak mereka sedang merajuk.

Baekhyun hanya tersenyum canggung mendengar perkataan seperti itu dari Chanyeol. Tapi tangannya bergerak untuk mencubit perut datar Chanyeol. Membuat Chanyeol mengaduh kesakitan selanjutnya.

"Baekhyun-ah, apa kau hanya tinggal dengan kakek nenekmu? Kemana orang tuamu?"

"Eh, s-sejujurnya mereka juga bukan kakek dan nenek kandung saya Yang Mulia, saya…pelarian perang…"

Kedua orang tua Chanyeol mengkerutkan dahinya.

"…uuh kedua orang tua saya meninggal sejak saya masih kecil, keluarga kandung saya hanya hyung saya saja Yang Mulia…"

"Lalu, di mana hyungmu? Kenapa kau tida tinggal dengannya? Apakah dia membuangmu?" Ayah Chanyeol bertanya.

Dengan cepat Baekhyun menggeleng tegas. "Tidak bukan begitu! Saya tidak tahu hyung di mana, dan kami berpisah karena…hyung menyelamatkan saya saat desa kami diserang dan aku―" Baekhyun menundukkan kepalanya.

Ratu mendekap mulutnya tida percaya. ia kemudian menyuruh Chanyeol yang duduk dengan Baekhyun pindah ke tempat duduknya dengan suaminya. Chanyeol awalnya menolak. Namun melihat tatapan ibunya yang tajam, ia langsung menurut dan pindah tempat duduk.

"Baekhyun-ah, gwenchana?" kata ibu Chanyeol dengan nada yang lembut. Jujur Baekhyun selalu mengharapkan kata-kata seperti ini dapat selalu ia dengar dari orang yang ia panggil ibu…

"Ne…g-gwenchana…"

"Siapa nama Hyung mu Baekhyun-ah?"

"L-Luhan, xi Luhan…"

Ibu Chanyeol tersenyum. "Nama yang cantik, aku yakin ia lebih cantik dari namanya?"

Baekhyun mulai tersenyum dan mengangguk semangat. "Eum, Hyung sangat cantik, kulitnya putih, bibirnya merah dan matanya, matanya selalu bersinar…..aku…aku merindukannya,"

Dan tanpa diminta, ibu Chanyeol langsung memeluk Baekhyun erat. Menggumamkan kata-kata penenang dan usapan lembut pada punggung Baekhyun yang sempit. Baekhyun ingin sekali tidak menangis. Ia sudah cukup menangis malam ini, namun seperti yang sudah ia katakan, Hyungnya adalah topic yang sangat sensitif bagi Baekhyun. Membicarakan hyungnya selalu membuat moodnya jatuh dan sedih.

"Gwenchana Baekhyun-ah…gwenchana…kau akan bertemu Hyungmu lagi suatu saat…dan selama itu, kau tidak perlu khawatir karena kau mempunyai kami…"

"Umm, Baekhyunnie tidak usah khawatir, kau punya aku, aku siap menjagamu!" seru Chanyeol semangat. Ia tak ingin baekhyunnya sedih, apalagi menangis…

"Ya, kau bisa memanggilku Ayah seperti Chanyeol, atau Appa, atau Baba kau bisa menganggapku ayahmu," Raja tersenyum lebar.

Baekhyun mendongakkan kepalanya dari pelukan ratu. Ratu tersenyum memandang wajah Baekhyun yang menyerupai anak anjing itu. "Dan kau bisa memanggilku Bunda seperti Chanyeol yang manja itu, atau Eomma, atau Mama, dan kau juga bisa menganggapku ibumu,"

"Eomma…? Appa…?" lirih Baekhyun.

"Ya Baekhyunnie?" seru kedua orang tua Chanyeol bersamaan.

Baekhyun tertegun. Begitu banyak orang-orang bersikap baik padanya. Ia kembali tersenyum dan memeluk lagi Eommanya yang baru.

Hyung, aku berharap semuanya juga dalam keadaan baik untukmu…aku merindukanmu…

"Nah, jadi kapan pernikahannya dilaksanakan?" seru ayah Chanyeol tiba-tiba.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yup, double update because I'm awesome lol, engga sebenernya ini pertamanya masih jadi satu chap dan aku pusing bacanya karena jalan cerita mereka beda banget –" but akhirnya selesai juga ni chap ehehehe

Dan kirain ini bakal jadi pendek-pendek karna dibagi jadi 2 chap but noooo, this chap choose to be 8.790 words monster lol

And I'm glad for the review, you guys are amazing like seriously, I love you all, tapi….maaf maaf bangettt, karena aku ga bisa nulis nama kalian satu satu di sini karna lagi sibuk banget nyiapin lebaran dll nya… I love you guys so much, keep review yah, aku suka baca review kalian walaupun cuma "next" ehehe seneng aja ada yg nunggu ff ini,

Last…

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI UNTUK UMAT MUSLIM SELURUH DUNIA, MAAF LAHIR BATIN SEMUANYA

*bow*

See you guys next chap!

p.s : sorry ga ada kaisoo T.T

.

.

.

.

Bohong hehe,bonus kaisoo for you guys :*

.

.

.

Kyungsoo sedang tersenyum sembari berjongkok melihat rotinya yang terdapat dalam pemanggang itu. sesekali diperiksanya api di bawah pemanggang itu apah kurang besar atau kebesaran.

Ia tersenyum memandang kuenya yang sepertinya sebentar lagi matang.

"Sedang apa kau?"

Kyungsoo terlonjak kaget. Ia kaget sehingga terjungkal ke belakang dan jatuh terduduk dengan pantatnya yang sakit.

"Uuh..kenapa Yang Mulia ada di sini?"

Kyungsoo wajar bertanya seperti itu. hari ini sudah malam. mungkin hampir tengah malam. dan Kai tiba-tiba muncul di dapur. Ada kepentingan apa Kai di sini? Haus? Bukankah di setiap kamar tamu atau kamar raja selalu tersedia air?

Kai mengangkat bahunya lalu ikut mendudukan dirinya di samping Kyungsoo. "Kau sendiri sedang apa tengah malam di sini?"

Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari kai dan memandang pemanggang kuenya. "Eh, s-saya memanggang kue kering yang Mulia…"

Kai memukul dahi Kyungsoo pelan. Menyebabkan mata yang bulat itu tambah melebar. "Kau ini, sudah berapa kali kubilang panggil aku Jongin. Hanya kau dan ibuku tahu yang kuijinkan emanggilku dengan nama asliku, kau harusnya bangga!" Kai tertawa kemudian.

Kyungsoo mengusap dahinya pelan. Bukan karena sakit, tentu saja Kai tidak akan memukulnya dengan keras. Namun tiba-tiba saja, kulit yang tersentuh oleh tangan Jongin tiba-tiba menimbulkan rasa hangat yang nyaman…

Kyungsoo kembali menatap pemanggangnya dengan kaki yang ditekuk di dadanya dan tangan yang melingkari kakinya. Kai duduk bersila di sebelahnya tampak santai hanya dengan kaus dan celana biasa. Bukan dengan pakaian sutra megah seperti biasanya yang selalu membuat Kyungsoo rendah diri.

"Kyungsoo-ah…"

Kyungsoo menoleh ke arah Kai. Ia memandang pemuda di sebelahnya lekat-lekat. Wajahnya tampan. Sangat. Walau hanya dari samping seperti ini. Apalagi aura bersahabat dan hangat yang selalu Kai tunjukkan.

"Kenapa kau selalu menolakku?" ujar Kai akhirnya.

Kyungsoo menundukkan kepalanya. Ia menggeleng. Dan memilih diam. Tidak mau menjawab pertanyaan yang sama, lagi.

Kai menengok ke arah Kyungsoo. "Tidak mau menjawab? Apakah masih alasan yang sama? Demi wajahku yang semakin seksi, Kyungsoo-ah, sudah kubilang aku tidak peduli,"

"…"

"Aku tidak peduli pada statusmu yang hanya seorang pelayan. Kau tahu aku menyukaimu dan aku juga sudah mencintaimu bahkan mungkin sekarang aku sedang tergila-gila padamu,"

"…"

Kai mengerang frustasi saat Kyungsoo tak menjawab lagi perkataannya. Kai lalu memilih diam. Menanti Kyungsoo yang memulai percakapan. Walaupun Kai tak yakin Kyungsoo akan melakukannya.

Saat diam menjadi percakapan keduanya, Kyungsoo tiba-tiba beranjak dari duduknya dan menuju sebuah meja untuk mengambil kain. Ia menyingkirkan kayu-kayu yang terbakar kemudian mencelupkannya pada seember air yang sudah disiapkan. Kyungsoo lalu membuka pemanggang itu dan mengeluarkan nampan yang berbau sangat sedap. Dengan cepat ia membawa nampan panas itu ke meja tempat ia bersandar dengan Kai tadi.

"Uhh…panas…panas…" Kyungsoo segera melepas kain dan meniup niup jarinya. Kebiasaan yang tak akan hilang dari namja ini.

Kai yang sudah ikut berdiri kini memandangi Kyungsoo yang mulai meniup-niup salah satu kue keringnya. Dan tanpa ia duga, Kyungsoo menyodorkannya pada Kai. Ia membuat gesture membuka mulutnya seolah menyuruh Kai ikut membuka mulutnya.

Kai membuka mulutnya. Dan kemudian ia merasa sesuatu yang hangat menggelitik lidahnya. Manis…

Kyungsoo tersenyum puas saat mendapati kai mengunyah kue keringnya. Ia kemudian meniup-niup satu lagi kue keringnya dan akan memasukkannya ke mulutnya, namun sepertinya Kai lebih dulu melahap kuenya. Ia merebutnya saat Kuenya sudah akan masuk ke mulut Kyungsoo membuat bibirnya dan bibir Kyungsoo sedikit bergesekkan.

Muka Kyungsoo memerah.

"Rasanya enak, kau suka membuat kue?" Tanya Kai yang tersenyum lebar.

Kyungsoo mengangguk.

"kenapa harus tengah malam? kau bisa membuatnya siang hari kan?"

Kyungsoo menggeleng. "Uuh, siang hari saya harus menemani Yang Mulia Yoona, satu-satunya waktu yang luang adalah malam hari saat semuanya sudah tidur," Kyungsoo terkekeh.

"Lagi pula ini hanya hobi, dan biasanya saya sendiri yang memakannya,"

"Apakah aku yang pertama?" Kai bertanya.

"Eh?"

"Memakan kuemu, apakah aku orang pertama yang bisa mencicipinya?"

Entah kenapa muka Kyungsoo bertambah merah. "B-begitulah…"

Mendengar jawaban Kyungsoo, Kai mendekatkan mukanya dengan muka Kyungsoo. "Kalau kau mau menikah denganku, kau bisa membuat kue kapanpun kau mau, dan aku dengan senang hati akan menjadi orang yang terus mencicipi kue buatan istriku sendiri, tidakkah itu menyenangkan?"

Kyungsoo matia-matian menahan degup jantungnya yang memburu. "T-tapi…tapi…."

"Kau mau menolakku lagi? Kau tidak suka padaku ya?"

"B-bukan begitu… aku―"

"Kalau begitu kau menyukaiku kan?"

"Uuh…" Kyungsoo menutup mukanya yang memanas dengan tangannya.

"Kalau begitu menikahlah denganku, aku sudah lama menunggumu untuk mengatakan 'Iya aku bersedia' dengan manis dan tersipu-sipu,"

"B-bukan begitu…T-tapi Ayah anda…"

Seketika senyum Kai memudar. Ayahnya…

"Jadi karena ayahku? Kau menolakku karena ayahku?"

Kyungsoo diam saja dan menunduk. Kyungsoo tahu Kai marah. Nada yang ia gunakan tidak seramah tadi. "A-ayah anda pernah mengatakan sesuatu pada saya…"

"Apa?" balas Kai singkat.

"Saya…tidak pantas untuk anda…" Kyungsoo menunduk makin dalam. "Dan saya rasa hal itu memang benar…"

Kai mendesah lelah. Tangannya menjambak rambutnya kasar. "dengar Soo, aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh Ayahku. Dan kau tahu bahwa ayahku sudah tiada, dan tidak ada lagi yang menentang hubungan kita, kau dengar, tidak ada. Hyungku akan senang hati menerimamu,"

Kyungsoo tetap menunduk. Kai mendesah kecewa dengan sikap Kyungsoo. Sekarang ia tahu alasan Kyungsoo selalu menolaknya. Ternyata ayahnya. Ya, Kai memang tidak pernah dekat dengan ayahnya. Bisa dibilang ia membencinya. Dan fakta bahwa ia mengatakan hal itu pada Kyungsoonya….hhh Kai tidak tahu lagi.

"Pikirkanlah tawaranku Kyungsoo, aku menunggumu, ingat itu,"

Kai mengambil lagi beberapa kue yang masih ada di nampan itu dan meletakkannya di telapak tangannya yang lebar.

"Kau tahu, aku selalu ingin memilik istri yang bisa membuat kue, aku suka makanan manis,"

Kai memasukkan satu potong kue dalam mulutnya.

"Dan aku berharap suatu saat kau bisa memanggangkan lagi kue untukku.." Kai tersenyum jahil pada Kyungsoo dan mencium bibirnya singkat. Hanya kecupan tidak lebih. "…sebagai istriku, selamat tidur tulang rusukku,"

Kai berjalan dan membuat fly kiss beberapa kali ke arah Kyungsoo yang hanya mematung melihat kepergian Kai dan tingkah lakunya yang konyol.

Setelah kai menghilang dari balik pintu yang lebar itu, Kyungsoo menoleh ke arah kuenya yang mulai agak dingin. Ia mengambil satu dan menyuapkannya ke mulutnya.

Manis…

Dan Kyungsoo tersenyum sambil memegang bibirnya yang berbentuk hati itu.

.

.

.

Yup, bayangin aja kuenya kastengel (?) soalnya suka banget aku sama tuh roti kering lol