Chapter 9
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
The weeding
Part 1
.
.
Tepat seminggu sejak kejadian hari itu, dan Luhan tetap pada pendiriannya untuk menghindari Sehun. Sebisa mungkin menjaga jarak dan jika bisa tidak membuat kontak mata dengannya. Dan sepertinya hal itu juga berlaku sama bagi Sehun. Karena setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di lorong istana, Sehun akan membuang mukanya ke arah lain, atau paling nekat menatap tajam Luhan yang menundukkan kepalanya dalam.
Luhan kali ini sedang mengelap beberapa barang yang ada di lorong istana seperti guci, tempat lilin, dan lainnya. Syukurlah kali ini bagian bawah dan punggungnya sudah tidak terasa sakitnya sehingga ia bisa beraktivitas normal. Beberapa hari yang lalu, tepatnya sehari sesudah kejadian itu, Luhan terasa lumpuh dan tidak bergerak membuat Yixing terpaksa mengomelinya dan memberinya obat. Walaupun Luhan melihat betapa khawatirnya Yixing saat mengomelinya.
"Luhan, setelah ini, bisakah kau sekalian mengelap perabot yang ada di ruang tengah? Aku harus mencuci pakaian setelah ini,"
Luhan menengok ke kanan dan mendapati pelayan lain sedang membawa setumpuk kain. Luhan tersenyum dan mengangguk. Wanita tadi mengucapkan terimakasih kemudian berlalu. Luhan segera kembali menggosokkan lap yang agak kumal itu ke patung yang tadi sedang ia gosok.
Setelah selesai dengan bagian ini, ia kemudian dengan sedikit terburu berlari ke arah ruang tengah yang luas itu. Luhan segera mengelap salah satu tempat lilin kuninngan yang sengaja dipajang di sana. Dengan hai-hati dan telaten, jari mungilnya mulai mengusap permukaan halus tempat lilin tersebut.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Luhan berdiri, tepatnya di sebuah meja di pojok ruangan itu, Sehun dari tempat duduknya memperhatikan seseorang yang baru saja datang dengan sedikit berlari. Lamat-lamat Sehun memperhatikan Luhan yang sedang mengelap salah satu koleksinya dengan hati-hati.
Sepertinya namja mungil itu tidak sadar ada Sehun di sini sehingga ia bisa setenang itu, lihat saja setelah ia berbalik akan pindah ke objek lainnya dan matanya bertemu dengan sosok Sehun, ia langsung membelalak kaget dan sedang menimbang apakah ia harus pergi dari sini atau tidak. Dan ia kelihatan sangat ketakutan.
Sehun tidak menyukainya.
"Luhan!"
Luhan langsung mendongak dengan refleks yang cepat. Walaupun begitu kakinya tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri sekarang.
"Kemari!" bentak Sehun keras.
Sehun tidak bermaksud membentak Luhan yang sudah tampak pucat itu atau bahkan memanggilnya ke arahnya. Persetan, ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat Luhan sudah sampai di hadapannya. Dan tak lama pertanyaan itu datang.
"Y-ya Yang Mulia? A-apa ada yang harus saya lakukan?" Luhan kini sudah berdiri takut-takut di hadapan Sehun.
Sehun memandangi wajah Luhan yang tampak sekali tidak ingin berada di sini. Sehun hanya diam. Sejujurnya saat itu Sehun ingin sekali bertanya apakah Luhan baik-baik saja, atau apakah Luhan sakit, walaupun tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu sudah basi dan terlambat untuk dikatakan.
"Oh, lihatlah, ada tamu sepertinya,"
Suara lembut Yoona berhasil membuat lamunan Sehun buyar. Ia melihat ke arah pintu utama ruang tengah dan mendapati seorang pria membawa sebuah perkamen di tangannya. Saat sudah sampai di hadapan Sehun, pria tadi membungkuk hormat sampai Sehun mengangkat tangannya tanda ia sudah menerima kedatangan pria tadi.
Secara teratur dan tahu diri, Luhan menyingkir agak jauh dari meja bundar yang diduduki Sehun, Yoona dan Kai itu.
"Salam untuk Raja Sehun, Ratu Yoona, dan Yang Mulia Kai, dengan hormat saya akan menyampaikan pesan dari kerajaan Phoenix mengenai pernikahan Pangeran Chanyeol yang akan diadakan minggu depan, semua detailnya ada di perkamen ini Yang Mulia,"
Pria yang ternyata pembawa pesan tersebut memberikan perkamen tadi dengan hormat dan Sehun menerimanya acuh. Dengan malas ia membuka perkamen itu kemudian ia menaikan satu alisnya yang terbentuk indah itu.
Sehun menutup lagi perkamennya yang langsung disambar oleh Kai dengan brutal. Ia kemudian tertawa keras membaca perkamen itu.
"Baik, kami akan datang ke pesta itu tentu saja, sampaikan salamku dari kerajaan Wind untuk Raja dan Ratu juga Pangeran yang akan menikah itu, aku turut bahagia," Sehun mengatakannya dengan wibawa sementara Kai masih asik tertawa.
Pembawa pesan tadi membungkuk hormat tanda mengerti. Ia kemudian berbalik ke arah Kai yang masih tertawa. Mengatakan bahwa undangannya sudah diterima di kerajaannya. Kai membalasnya dengan mengibaskan tangannya tanda ia mengerti. Ia masih bertahan dengan senyum lebarnya yang tampak bodoh.
Pembawa pesan itu sekali lagi mengangguk kemudian membungkuk hormat dan membalik badannya meninggalkan kelompok kerajaan terhormat itu.
"Ahahahaha, aku tak percaya si idiot itu akhirnya menikah, dengan seorang pria pula, hahahaha," Kai masih terus tertawa.
Sehun hanya tersenyum dan Yoona menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Kai.
"Biar saja, memangnya apa ada masalah? Jika mereka saling mencintai," Yoona lalu menyesap teh dari gelas mungilnya yang cantik.
Sehun memandangi istrinya dan mengangguk setuju.
"Hei, hei, aku bukannya menghakimi mereka, kalian lupa aku mencintai siapa? Kyungsoo, oke? Dan kalian tentu cukup pintar untuk tahu bahwa dia adalah namja," Kai membela dirinya sendiri.
"Aku hanya tidak percaya idiot itu menikah hahaha, aku penasaran laki-laki mana yang bisa terpikat dengan idiot itu," Kai terus saja tertawa.
Luhan masih berdiri tak nyaman sambil sesekali meremas kain kumal yang ia genggam. Ia mendengar semua percakapan diantara ketiga orang terhormat itu namun ia bingung apa yang harus ia lakukan. Lagipula ia seharusnya bekerja, bukan malah menguping pembicaraan orang lain begini. Maka dengan berani ia maju beberapa langkah mendekati meja bundar itu.
"U-um…maaf Y-yang Mulia, tapi a-apakah masih ada yang b-bisa saya bantu?"
Sehun membalikkan wajahnya lagi ke arah depan dimana ada Luhan di sana. Ah, ia lupa ia memanggil Luhan kemari tadinya. Sehun hanya menatap namja yang semakin menunduk itu dengan nyalang karrena sejujurnya ia sendiri masih bingung kenapa ia harus memanggil Luhan.
"Ah, Luhan, bisakah kau bawakan teh lagi? Dan mungkin beberapa kue?" ucapan Yoona menyelamatkan Sehun.
Luhan segera mengiyakan permintaan Yoona dengan sopan. Kemudian ia membungkuk cepat membuatnya meringis sakit lalu dengan sedikit berlari ia pergi dari hadapan tiga orang terhormat itu.
Sehun menatap kepergian Luhan dengan matanya yang tajam. Ia melirik yoona yang tersenyum tipis ke arahnya sebelum meminum tehnya kembali.
"Ada apa dengan Luhan? Ia tampak sakit saat membungkuk tadi," Yoona berkata lembut.
Sehun sebenarnya juga melihatnya. Luhan yang membungkuk tadi seperti menahan sakit. Apakah ia masih kesakitan? Ini sudah seminggu. Dan Sehun tidak bermain sekasar itu. Yah, dia memang kasar, namun tidak sekasar itu untuk membuatnya lumpuh, kan?
"Mungkin lukanya masih mongering, kau tahu, anak itu mempunyai punggung dengan luka yang mengerikan," Kai bergidik ngeri membayangkannya.
Ah, ya, tentu saja lukanya baru mongering di punggungnya. Pikir Sehun baru ingat.
"Omo, benarkah? Bagaimana bisa? Yixing tentu sudah mengobatinya kan?" Yoona tampak terkejut.
"Yixing sudah mengobatinya tentu saja, tapi lukanya tidak mungkin sembuh begitu saja, dan soal kenapa, aku juga tidak tahu. Anak itu bilang ia hanya hidup di penjara sebelumnya,"
Yoona tampak sangat terkejut. Sehun memandangnya dengan sedikit khawatir.
"Omo…bagaimana bisa para penjaga memukulinya―"
"Tidak Yoona sayang―" Sehun langsung memandang Kai tajam, seangkan Kai hanya membalasnya dengan putaran bola mata malas. "―lukanya seperti luka cambuk, kau tau seperti tersayat-sayat, dan sepertinya suamimu yang posesif ini juga ingin menyayatku sekarang,"
"Ya Tuhan, malang sekali nasib Luhan. Penjaga mana yang tega mencambuknya sampai seperti itu," Yoona menggelengkan kepalanya. "Hun-ah, kau bilang kau mengunjungi penjara, kenapa waktu itu tak kau marahi penjaga penjara itu?"
"Uh…" Sehun bingung ingin menjawab apa. Penjaga yang ingin menghentikan cambukannya waktu itu saja ia malah marahi kembali.
"Permisi Yang Mulia, ini teh dan kuenya," suara Kyungsoo kini menyelamatkan Sehun. Sehun mendesah lega. Sepertinya ia sedang beruntung hari ini.
Kyungsoo mulai menuang teh dari tempat keramik itu ke arah gelas-gelas yang hampir kosong.
"Kyungsoo, mana Luhan?" Yoona memandang Kyungsoo yang sedang menuang teh ke gelasnya.
"Sebentar lagi mungkin datang, ia sedang mengambil kue, Yang―uh Yoona-ya," Kyungsoo hampir memanggil Yoona dengan sebutan Yang Mulia lagi jika saja Yoona tidak menghadiahinya dengan tatapan tajam.
Dan benar saja, Luhan tak lama datang dengan canggung membawa nampan berisi kue-kue yang masih hangat. Dengan tangan bergetar ia melirik Kyungsoo yang langsung mengkodenya dengan tatapan Taruh-saja-di-situ.
Luhan meletakkan piring-piringnya dengan gugup. Entah kenapa ia jadi merasa tidak tenang di sini. Lagi pula bagaimana bisa ia tenang jika Sehun selalu menatapnya dengan tatapan tajam dan melalui gesture tidak nyaman Sehun, Luhan tahu bahwa ia harus secepatnya pergi dari sini.
Saat Luhan sudah selesai menaruh piring terakhir, ia akan segera membungkuk untuk pergi sebelum tangan putih mencekal pergelangan tangannya dan menghentikan tindakannya.
"Duduklah Luhan, santailah sedikit," Yoona tersenyum halus padanya dan menepuk kursi disebelahnya dengan isyarat Luhan bisa duduk di situ.
Luhan menggigit bibirnya. Ia ingin menolak. I harus menolaknya.
"T-terimakasih Yang Mulia, t-tapi saya masih banyak pekerjaan…"
"Turuti ratu mu Luhan." Desis Sehun.
Dan seketika Luhan sudah mendudukkan pantatnya di kursi itu. Luhan sengaja menunduk dalam karna di depannya ada Sehun dengan tatapan tajam yang tak ingit Luhan lihat. Ia meremas kausnya karena lap kumalnya ia tinggal di meja dapur.
"Lu, kau juga mau teh?" Kyungsoo yang ternyata entah bagaimana sedari tadi ada di pangkuan Kai―dan sedang memberontak itu, menghentikan aksinya dan menawarinya teh.
Luhan menggeleng. Yoona melihatnya dan menghela nafas panjang.
"Kalau begitu kau harus makan. Kue buatan Bibi Yuan sangat enak,"
Luhan kemudian melihat piring kecil di depannya dibalik dan yoona dengan serakah mengambil banyak kue dan menaruhnya di situ.
"Aigo, kau kurus sekali Luhan-ah, makan yang banyak oke?" Yoona tersenyum manis ke arahnya. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya mendekati Luhan dan berbisik, "Bagaimana kau kuat mengandung dengan tubuh sekecil ini," kemudian kembali dan terkikik geli.
Luhan hanyya tersenyum miris mendengarnya.
"Hmm, kue nya memang enak," Kai mengunyah kuenya pelan, kemudian melirik kyungsoo yang sekarang sudah duduk manis di sebelahnya dan tersenyum lebar. "tapi lebih enak kue buatan calon istriku tentu saja,"
"Omo, kau bisa memanggang kue? Kenapa tidak bilang padaku? Kau bisa mengajariku kapan-kapan Kyungsoo-ah," Yoona berkata antusias.
Dan percakapan terus berlanjut sedangkan Luhan dan segala keheningannya masih tetap ikut berlanjut. Ia hanya memakan kuenya dalam diam. Kuenya enak, setidaknya Luhan menikmatinya. Dan sesekali ia juga diam-diam tertawa jika Kyungsoo sedang digoda atau ada hal lucu lainnya. Namun selebihnya, Luhan tetap berusaha tak terlihat.
Terutama oleh mata elang di hadapannya.
Yang Mulia Oh Sehun.
"Luhan,"
Suara Yoona membuat Luhan menghentakan kepalanya ke atas. Mendapati semua orang yang ada di meja itu menatapnya.
"Kau memakan banyak kue, tidakkah kau haus?"
Dan dengan segera Kyungsoo menyambar satu gelas keramik mahal yang ada di tengah meja dan menuangkan teh untuk Luhan.
Uh, jika dipikir-pikir, ia memang sedikit haus. Kemudian dengan mengucapkan terimakasih lirih pada Kyungsoo Luhan meminum tehnya dengan nikmat.
"Luhan, apakah kau mau ikut dengan kami di pernikahan teman kami?"
Uhuk!
"Apa?!"
Sehun langsung melirik tidak suka pada istrinya. Dan disaat bersamaan Luhan tersedak teh yang sedang diminumnya.
"Kau baik-baik saja Luhan? Sehun kau mengejutkannya!" Yoona tampak memijat tengkuk Luhan dan memarahi Sehun.
"Kenapa ia harus ikut Yoona-ya? Dia bukan siapa-siapa,"
Deg!
Agak sakit hati Luhan mendengar ucapan Sehun.
Yoona menggeleng tidak percaya. "Tentu saja Luhan harus ikut, akan bagus untuk kesehatan Luhan, lagipula ia harus berlibur, hidp di penjara bisa membuatmu gila," Yoona bergidik ngeri membayangkannya.
"Dia harus bekerja, bukan berlibur," Sehun berkata tegas.
"Tapi ia juga harus memperhatikan kesehatan mentalnya, bagaimana bisa ia mengandung di saat seperti ini,"
Sehun mengerang frustasi. "ia akan mengandung, aku dan dia sudah melakukannya, kita hanya perlu menunggu hasilnya, jadi tenanglah Yoona, dan dengarkan aku."
Seluruh meja menjadi hening seketika. Luhan makin menunduk mendengar ucapan Sehun. Matanya memanas mengingat perbuatan Sehun minggu lalu padanya.
"Wow, dan kurasa kau tak perlu mengumumkannya seperti ini Sehun," Kai mengedikan bahunya acuh. Kyungsoo menatap Yoona yang sepertinya agak shock kemudian ia juga mengalihkan tatapannya pada Luhan yang sepertinya sudah ingin sekali menangis.
"O-oh, benarkah…aku tak tahu…aku…" Yoona berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan kembali ke kamar, aku…aku merasa sedikit pusing sekarang…dan Kyungsoo, jangan ikuti aku."
Kyungsoo yang semula sudah berdiri kembali duduk mendengar ucapan tegas Yoona. ia menatap Luhan yang bahu mungilnya sudah bergetar.
BRAK!
Tiba-tiba semua orang dikejutkan dengan suara gebrakan meja.
"Hei, santai saja Sehun, kau membuat kami terkejut." Kai memandang Sehun sedikit tidak suka.
"Diam Kai. Dan kau," Sehun menunjuk muka Luhan yang masih menunduk. "Tatap aku ketika aku bicara jalang!"
Kai dan Kyungsoo terlonjak kaget dengan teriakan dan makian Sehun. Luhan kemudian menaikkan wajahnya takut-takut setelah sebelumnya mengelap air mata dan ingusnya cepat dengan punggung tanganya.
"Ini semua salahmu! Kau dengar?! Ini salahmu! Sudah kubilang kau tidak boleh berbicara pada Yoona! Mau apakau, ingin meminta belas kasihan Yoona? memanfaatkannya? kau memperburuk keadaan! Jika sampai Yoona marah, aku akan memenggal kepalamu!"
Dan dengan dorongan kasar di kursinya, Sehun melenggang pergi ke arah yang sama dengan Yoona tadi pergi.
Kyungsoo yang melihat Sehun sudah pergi mulai beranjak dari kursinya dan memeluk Luhan yang sudah menangis deras.
"Ssst…sudahlah Luhan….dengar, ini bukan salahmu oke? Sudahlah Luhan, jangan lagi menangis…sst…"
Yang memanggil Luhan kemari tadi adalah Sehun sendiri. Luhan sudah ingin pergi saat tangan Luhan menahannya untuk tetap tinggal. Luhan sudah semampunya menghindar. Dan saat mereka memanggilnya mendekat, dan Sehun yang berkata-kata, tetap saja Luhanlah yang disalah-salahkan.
"Kautenang saja, Sehun memang emosian seperti itu, walaupun emosinya memang tidak gampang surut, hahaha,"
"Jongin! Tidak ada yang lucu,"
Kai mengerjapkan matanya. "S-Soo, kau memanggilku Jongin. K-kau, yaampun…yaampun…"
"Sudahlah tidak penting sekarang…" Kyungsoo mengalihkan wajahnya yang bersemu merah dari Kai dan mulai menatap ke arah Luhan lagi. "…lagi pula kau yang menyuruhku," lanjutnya lirih.
Luhan mengukir sedikit senyum mendengarnya. Ia kemudian mengelap lelehan air matanya dengan tangannya. Lalu ia tersenyum pada Kyungsoo.
"B-boleh aku kembali bekerja? A-aku masih harus mengelap barang-barang di sini…"
Kai tersenyum melihat Luhan yang masih setia memilin-milin bajunya di dekapan Kyungsoo. "Aigo, anak siapa ini, kenapa lucu sekali," katanya sambil mencubit pelan pipi Luhan.
"Jongin! Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo berusaha melepaskan tangan Kai.
"Eh, tidak usah cemburu sayang, lihat, aku juga mencubit pipimu kan?"
"B-bukan begitu! Hentikan…" Kyungsoo kini mencoba melepaskan genggaman Kai dipipinya yang kenyal.
Kai tertawa melihat kyungsoo yang sekarang bersemu merah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Luhan yang juga ikut tersenyum.
"Luhan?"
Luhan mendongak menatap wajah Kai. "Ya Yang Mulia?"
"Kau akan ikut ke pesta pernikahan itu,"
Luhan menggeleng lemah. "Tidak usah Yang Mulia, Yang Mulia Sehun…sepertinya tidak menginginkan saya di sana,"
"Siapa bilng kau akan ikut rombongan Sehun? Kau akan ikut keretaku. Karena saat pemberkatan pengantin hanya keluarga kerajaan saja yang diperkenankan masuk, kupikir kau akan jadi teman yang baik untuk calon ibu anak-anakku,"
"Eh? Kenapa aku juga ikut ke pesta itu?" Kyungsoo menaikkan satu alisnya.
"Kenapa? Tentu saja kau adalah pendampingku. Tapi walaupun kau pendampingku, karena kau belum resmi menjadi isteriku, kau tidak diperbolehkan masuk ke acara pemberkatan, maka dari itu, secara personal aku mengajak Luhan,"
Luhan memandang Kai yang tersenyum kearahnya. Sejujurnya, ia juga ingin pergi ke sana. Luhan tidak tahu kemana ia pergi, namun itu lebih baik sepertinya dari pada hanya melihat dinding istana. dan Luhan juga tidak pernah berpergian ke luar desanya dulu. Selain penjara tentu saja.
"Jadi, kita akan berangkat sekitar 3 hari dari sekarang. pernikahannya seminggu lagi dan kupikir perjalanannya memakan waktu sekitar satu setengah hari, sampai disana sekitar pagi hari? Kita bisa beristirahat atau berjalan-jalan dan esoknya adalah pernikahan. Kupikir itu waktu yang pas bagaimana?"
Kyungsoo yang sempat bersemu merah mendengar ucapan Kai kini menganggukkan kepalanya. Apakah ia akan ikut? Tentu saja jawabannya iya. Kyungsoo suka sekali jalan-jalan. Ia tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk pergi ke luar kota.
"Nah, kalau begitu sudah diputuskan kita akan berangkat sekitar 3 hari lagi. Persiapkan diri kalian nona nona," Kai tersenyum menggoda pada dua pria cantik di hadapannya, menowel dagu Kyungsoo lembut kemudian pergi berlalu meninggalkan dua pria itu.
"K-Kyungsoo,"
"Ya Luhan ada apa?"
Luhan menggigit bibirnya. "A-apa benar aku boleh ikut? Y-yang Mulia Sehun sepertinya tidak mengijinkan…" katanya lirih.
Kyungsoo tersenyum dan mengacak rambut hitam Luhan yang halus itu. "Tentu saja, Jongin―maksudku Yang Mulia Kai mengajakmu secara personal, tidak masalah Luhan. Kau ingin ikut?"
Luhan mengangguk pasti. Kyungsoo tertawa kecil melihat Luhan yang bertingkah sangat polos.
"Kalau begitu berkemaslah mulai sekarang, baju dan lain-lain,"
Luhan menatap Kyungsoo lucu. "Aku tidak perlu berkemas kalau begitu,"
"Kenapa?"
"Aku tidak punya pakaian dan lain-lain, pakaianku hanya ini. Eh tapi tenang saja, aku selalu mencucinya dengan teratur," katanya bangga.
Kyungsoo terdiam mendengar ucapan Luhan. Kemudian ia menghela nafas dalam dan menyuruh Luhan mengikutinya. Sepertinya ia harus memberi Luhan beberapa potong pakaiannya dan mungkin yixing juga mau sedikit berbagi. Oh jangan lupakan celana, ia juga sepertinya harus memberinya beberapa celana.
.
.
.
.
"Yoona!" Sehun mendorong pintu kamarnya dengan keras kemudian membantingnya begitu saja. Sehun memandang punggung yoona yang bergetar. Sesaat ia hanya bisa diam. Kemudian dengan langkah pelan ia menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Mianhae…jangan menangis lagi ne…"
Yoona mendapat pelukan Sehun malah terisak semakin dalam. "S-Sehun aku hanya…a-aku tidak tahu kenapa aku marah….aku yang memintamu, memintanya untuk…untuk…"
"Ssstt, sudah jangan dipikirkan lagi, kau tahu aku melakukannya terpaksa dengannya kan? Kau ingin seorang anak dan aku berusaha semampuku…"
Yoona mengangguk. Walaupun isakannya masih terdengar dan air mata masih terus mengalir.
"Apa yang kau khawatirkan sayang? Hmm?"
Yoona menggeleng. "B-berjanjilah kau tidak akan mencintainya Sehun…aku…aku, hanya cintai aku…"
Sehun tersenyum singkat dan mengecup lembut permukaan halus leher istrinya. Menghirup aroma yang selalu membuatnya dimabuk cinta.
"Tentu saja aku hanya akan mencintaimu Yoona-ya,"
.
.
.
.
"Tentu saja aku hanya akan mencintaimu Yoona-ya,"
Yixing menutup kembali pintu yang semula agak terbuka itu. semula ia akan mendiskusikan perihal kehamilan Luhan pada Sehun yang mungkin akan terlihat tandanya sebentar lagi. Apakah 'hubungan' mereka malam itu membuahkan hasil atau tidak. Walaupun Yixing yakin 125 persen jika berhasil. Induk telur di dalam rahim laki-laki selalu siap untuk dibuahi.
Namun mendengar percakapan di dalam, yixing jadi tidak lagi mempunyai niat mengabarkan hal yang seharusnya menggembirakan itu.
Yixing mendesah panjang. Yah memang mengingat Sehun sangat keras kepala dan juga perlakuan kasar Sehun pada Luhan, memang yixing tak banyak mengharapkan akhir yang bahagia untuk hubungan Luhan dan Sehun.
"Yixing?"
Yixing menoleh dan mendapati Kyungsoo dan Luhan yang berjalan mengekori kyungsoo dari dibelakang.
"Oh, Kyung, ada apa?"
"Umm, sebenarnya aku ingin meminta beberapa pakaian dan mungkin celana darimu,"
Yixing menaikan alisnya. Seingatnya Kyungsoo mempunyai pakaian yang cukup. Mungkin bahkan melebihi dirinya.
"Bukan untukku tentu saja, tapi untuk Luhan. Ia tidak punya pakaian demi Tuhan."
Yixing menengok ke belakang dan mendapati Luhan tersenyum malu kepadanya.
Anak ini juga perlu bahagia.
"Tentu saja, ikut aku, kita akan ke pasar membeli beberapa pakaian untukmu,"
Luhan membelalakkan matanya. "Beli…? Aku tidak punya uang," adunya.
"Tentu saja kau tidak punya. Memangnya untuk apa aku dan Kyungsoo ikut?"
Kyungsoo kini yang membelalakkan matanya lebar. Jari telunjuknya menunjuk dadanya sendiri.
"Tentu saja, dan jangan bilang kau tidak punya uang. Aku tahu kau punya," kata Yixing santai.
"Baik-baik. Kita akan ke pasar. Aku juga perlu membeli bahan-bahan kue," kyungsoo mengangkat tangannya tanda menyerah. "Tunggu, aku masih harus menjaga Yang Mulia Yoona. aku tidak bisa pergi begitu saja,"
Yixing melirik sebentar pintu yang tertutup itu. memejamkan matanya kemudian suara desahan dan erangan halus serta beberapa kata cinta, masuk dalam pikirannya. Sekejap ia langsung membuka matanya. ia memandang Luhan. Ingat betul ketika ia datang dengan luka-luka baru, badan yang beraroma sperma dan wajah sembab yang tak berhenti menangis. Saat menyentuh luka Luhan, yixing langsung tahu betapa sakitnya Luhan saat itu. baik hati dan fisiknya. Berbeda sekali dengan apa yang ia 'lihat' di dalam sana.
Oh betapa Yixing kini malah merasa tidak suka pada pasangan yang ada di dalam ruangan itu.
"sudahlah kyung, kau tak perlu khawatir. Saat ini, tuan putri sedang gembira dijajah oleh serigala. Biarkan saja mereka,"
.
.
.
-o0o-
.
.
.
"BAEEEEEK….HYUUUUNNN!"
Baekhyun terkejut mendengar bisikan yang menyerupai teriakan keras diluar kamarnya. Ya saat ini Baekhyun sudah resmi tinggal di istana. setelah penjelasan panjang lebar pada kakek dan nenek yang tampak sangat terkejut, dan senyum mereka diakhir cerita yang mengatakan mereka akan sangat bahagia melihat dua cucunya menikah, Baekhyun akhirnya pindah untuk tinggal di istana.
Chanyeol mulanya sangat sennag karena akhirnya ia bisa tinggal berdekatan dengan Baekhyun. Namun setelahnya ia malah merengek tidak suka karena walaupun dekat, mereka malah tidak boleh sama sekali berkomunikasi. Bahkan bertemu tatap muka.
Baekhyun sedang dalam masa dipingit.
Bundanya bilang ini untuk tradisi. Agar nanti upacara pernikahan kalian berlangsung sakral dan hikmat. Namun apa daya, Chanyeol yang memang keras kepala dan nakal itu mencoba menerobos dinding pintu itu. tidak hanya seskali namun sudah beberapa kali yang hanya berbuah teriakan marah ibunya.
"Baaek….hyunnn….buka pintunya….aku ingin―AAAH!"
Baekhyun sempat kaget karena tiba tiba bisikan keras itu menjadi teriakan kesakitan.
"PARK Chanyeol SUDAH BERAPA KALI BUNDA BILANG PADAMU UNTUK TIDAK MENGGANGGU BAEKHYUN?!"
Baekhyun menghela nafas lega. Ternyata hanya Eomma yang sedang memarahi tunangannya.
Baekhyun tersenyum mendengar kata tunangan di pikirannya.
"Bundaa, jangan tarik telinga Chanyeol, nanti tambah panjang! AAH!" Chanyeol mengerang keras ketika bundanya malah menambah tarikannya pada telinga Chanyeol.
"Sakit…." Katanya setelah akhirnya ibunya melepaskan jewerannya. Bibirnya maju beberaa centi dan tangannya sibuk mengelus telinganya yang memerah.
Ibunya menghela nafas pelan. "kembali ke kamarmu Chan. Bunda ada sedikit perlu dengan Baekhyun,"
"Channie ikut ya?" katanya penuh harap.
"Tidak. Kembali ke kamarmu sekarang atau kau tidak jadi menikah Park Chanyeol."
Chanyeol mengerucutkan bibirnya semakin maju dan brjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya. Sang Ratu hanya melihat anaknya pergi sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya. dalam beberapa hari lagi anaknya menikah dan akan membangun keluarganya sendiri, namun sikapnya masih saja seperti ini…
Cklek!
"Eomma, apa Channie sudah pergi? Masuklah Eomma,"
Wanita yang dipanggil Eomma oleh Baekhyun tadi mengembangkan senyumnya dan mengangguk. Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan luas dengan berbagai perbaot mewah dan kasur luas yang sangat empuk.
Baekhyun mendudukkan dirinya di salah satu kursi di ruangan itu dan menutup buku yang masih terbuka di depannya. Ratu hanya tersenyum mendapati setumpuk buku ada di meja di hadapan kursi itu. beberapa tertutup dan beberapa masih terbuka. Sejak Baekhyun diajarkan dan akhirnya bisa membaca, ia langsung jatuh hati dengan berbagai macam buku terutama novel-novel yang bahkan sebelumnya ia tidak pernah tahu ada.
"Eomma ingin membicarakan sesuatu? Ada apa Eomma?" Baekhyun memulai percakapan setelah ia selesai membereskan buku-bukunya.
"Hmm, Eomma hanya ingin menjengukmu saja. Bagaimana perasaanmu sudah sedikit tenang kan?"
Baekhyun tersenyum dan hanya membalasnya dengan anggukan. Beberapa hari yang lalu Baekhyun sempat mengalami panick attack karena sejujurnya ia tak pernah berpikir bahwa menikah dengan Chanyeol berarti menikah dengan calon raja yang berarti pula ia kemudian akan menjadi seorang ratu.
Dan oh, jangan lupakan bagaimana susahnya tanggung jawab seorang ratu itu.
Namun beberapa hari ini pikirannya sudah mulai tenang. Dengan ceritra-cerita dari Eommanya bahwa ia dulunya juga sepanik itu namun akhirnya ia masih bisa belajar dengan seiring waktu.
"Baekhyun?"
Baekhyun tersadar dari lamunannya. "Ya Eomma?"
"Kau masih memikirkannya?"
Senyum Baekhyun melemah dan kepalanya ia tundukan. Mengangguk singkat sebagai jawaban.
Ratu hanya mendesah pelan dan menghampirinya. Memeluknya dari samping. "Oh sayang…jangan terlalu sedih oke?"
Baekhyun menggeleng. "Aku hanya ingin orang terpenting dihidupku hadir dan melepasku di depan altar…"
"…aku ingin hyung ada dan tahu bahwa aku sudah bahagia, dan memastikan kalau…kalau hyung juga akan selalu bahagia…"
"Baekhyun-ah…."
"Eomma… aku merindukan hyung…"
Ratu mengelus kepala menantu yang sudah ia anggap anak kandung itu dengan sayang. Jika mampu, ia ingin mempertemukan dua kakak beradik ynag sangat saling menyayangi ini. Namun bagaimana caranya, kehidupan tawanan perang tidaklah mudah. Bisa saja ia sudah dibuang, atau abhkan mati, tidak ada yang tahu bagaimana nasibnya.
Untuk saat ini, Ratu hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan berharap yang terbaik untuk dua orang yang saling merindukan ini.
.
.
.
.
.
.
.
"Woah!"
"Luhan untuk kesekian kalinya berhenti mengeluarkan kepalamu dari jendela, kau bisa jatuh demi Tuhan!"
Kyungsoo menarik baju berwarna biru milik Luhan yang baru saja ia dan Yixing beli beberapa hari yang lalu. Luhan berkali-kali membungkuk―yang langsung dimarahi Yixing karena punggungnya belum sembuh benar―terimakasih pada dua teman barunya itu yang ditanggapi Yixing dengan usapan sayang dikepala dan senyuman hati milik Kyungsoo.
Kai dari tempat duduknya disebrang hanya tertawa lucu melihat Kyungsoo memarahi Luhan yang tampak merasa sangat tidak bersalah.
"Lihat Kyungie! Banyak sekali toko-toko dan bangunan! Bahkan hampir tidak ada pohon! Dan sudah banyak kereta-kereta kuda di sini, pejalan kaki hanya sedikit. Oh lihat! Ada air mancur!"
"Tentu saja Lu, Phoenix adalah salah satu kota modern. Yah memang tidak seluas kerajaan Sehun tapi Phoenix jelas adalah kerajaan yang maju," Kai menimpali.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju istana kerajaan Phoenix saat ini setelah melewati perjalanan semalam dan amukan Sehun tentu saja.
Sehun yang saat itu melihat Luhan dengan riang membawa tas sedang dan keluar dari istana langsung menghentikannya dan memarahinya habis-habisan. Luhan sampai ketakutan dan menangis sesaat sebelum Kai datang dan menyetop amukan Sehun dan berbalik membela Luhan. Mengatakan bahwa Kai secara personal mengajak Luhan dan Luhan tidak akan menjadi sampah yang memenuhi kereta Sehun karena ia akan berada di dalam kereta Kai.
Kyungsoo yang juga ikut dalam kereta kai sibuk mewanti-wanti Yoona untuk selalu meminum obatnya dan memperhatikan kondisinya.
Setelah semuanya selesai, rombongan kai berangkat terlebih dahulu karena Kai masih jengkel dengan Sehun yang memarahi Luhan tanpa alasan yang jelas.
"Yang Mulia, kita sudah sampai di istana kerajaan Phoenix. Yang Mulia Raja Suho sudah menunggu anda di dalam,"
Kai mengangguk mengerti saat nama kakak laki-lakinya disebut. "Hei Soo, aku sudah ditunggu hyung didalam, kau masuk saja dulu bersama Luhan dan omong-omong kalian sekamar, tidak apa kan?"
Kyungsoo mengangguk mengiyakan diikuti oleh Luhan setelah Kyungsoo setuju.
"Baiklah, aku masuk dulu, hyungku itu sangat khawatiran sehingga ia akan menyangka aku tersesat jika tidak cepat sampai di sana, istirahat yang benar ya manis," Kai membelai surai hitam Kyungsoo dengan halus. Ia menolehkan kepalanya masih tersenyum, "kau juga Lu, aku pergi dulu,"
Luhan segera membungkuk untuk mengantar kepergian Kai sedangkan Kyungsoo hanya melambaikan tangannya singkat sambil tersenyum memandang punggung lelaki tegap yang sedang dekat dengannya itu.
"Lu ayo kita―ASTAGA! Kenapa kau membawa tas-tas itu sendirian?!" Kyungsoo setengah berteriak langsung berlari ke arah Luhan yang berdiri dengan tas yang menggantung, dan menumpuk di dekapan tangannya.
"Bagaimana kau berhasil menumpuk tas-tas ini huh? Kau ini benar-benar!" Kyungsoo dengan agak kesal mengambil beberapa tas.
"Tidak apa Kyung, sudah pekerjaanku…"
Kyungsoo malah mendelik ke arah Luhan. "Tugas apa? Kita ini teman! Tidak ada yang namanya pekerjaan di antara teman!"
Kyungsoo mencoba menetralkan nafasnya yang berhembus keras-keras karena kesal. Ia menatap Luhan yang menunduk.
"Sudahlah Lu, aku tahu kau hanya berusaha membantu. Maaf karena membentakmu. Aku tidak bermaksud…aku hanya…khawatir karena punggungmu belum sehat betul. Kau memaafkanku kan?"
Luhan mengangguk. Kyungsoo tersenyum lega dan mengasak rambut Luhan pelan―setelah sedikit berjinjit tentu saja. Ia lalu menarik tangan Luhan lembut dan mengiringnya masuk ke dalam istana.
Mereka melangkah dalam diam setelah bertanya di mana kamar khusus untuk pelayan istana―Kyungsoo sadar diri untuk tidak meminta kamar tamu tentu saja. Sampai di sebuah pintu kayu, kyungsoo membukanya dengan perlahan dan menengok ke dalam sebentar. Setelah ia rasa aman, ia kemudian masuk dengan diikuti Luhan.
"Fiuh syukurlah kosong," kata Kyungsoo lega sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku.
"Eh, memangnya kau tidak tahu sebelumnya jika kamar ini kosong?"
Kyungsoo mendecak dan menggeleng. "Penjaga sialan itu hanya memberitahu dimana kamar untuk pelayan istana. kasar sekali dia bahkan membentakku tadi, mentang-mentang aku hanya pelayan. Dasar, awas saja jika ini kuadukan pada Yang Mulia Kai."
Luhan hanya mengangguk-angguk mengerti. Pasalnya tadi Kyungsoo memaksa bertanya sendirian dan menyuruh Luhan untuk tetap berdiri di tempat mereka semula.
"Ah ya, Lu, kau istirahat duluan saja, aku lupa jika masih harus menunggu rombongan Yang Mulia Sehun untuk memastikan jika Ratu meminum obatnya dengan benar dan juga urusan lain mengenai Ratu, kau tak apa kutinggal sendiri?"
"Ya tentu saja, akan kubereskan kamar ini sementara kau pergi,"
"benar tidak apa kau bereskan sendiri? Kau tidak lelah?"
"Umm, aku sudah biasa bekerja keras Kyung. Tidak apa,"
Kyungsoo terdiam sejenak. "Baiklah. Tapi jika lelah, kau istirahatlah, Yixing mengancam akan membunuhku jika sesuatu terjadi padamu, dan percayalah itu bukan hanya sekedar ancaman, kau jaga diri mengerti?"
"Iya Kyung," Luhan tersenyum manis menanggapi ocehan Kyungsoo.
"Baik, aku pergi dulu Lu, menurut perkiraanku rombongan Raja Sehun akan sampai….sekarang, aku harus bersiap-siap, aku tinggal oke?"
Luhan melambai singkat pada Kyungsoo dan tertawa melihat temannya itu terburu-buru. Ia lalu mulai membereskan pakaian dan Teman… Luhan bahkan dulu tidak pernah beraani mengharapkan satu. Ya dia punya. Paman pemilik ladang yang baik hati, atau Bibi Jung yang suka memberinya beras setelah ia mengangkut karung-karung beras masuk dalam tokoknya, tapi ia tidak pernah punya teman sebaya. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja.
Demi mengisi perutnya dan adiknya dan bertahan hidup. Tapi kini ia punya Yixing…dan Kyungsoo. Juga Taehyung dan Jungkook yang sudah ia pastikan akan baik-baik saja di panti asuhan itu. walaupun hidupnya masih kadang diliputi kesedihan jika mengingat-ingat tentang perjanjiannya dengan Yang Mulia Oh Sehun dan juga perlakuan kasarnya pada Luhan…tetap saja, Luhan merasa di hidupnya sudah sedikit lebih baik.
Ah, hanya saja satu lubang di hatinya masih terasa sangat hampa.
"Baekhyun-ah, kau dimana…."
.
.
.
.
"Baekhyun-ah, kau dimana…."
Deg
Baekhyun seperti tersentak saat mendengarnya. Hatinya menghangat dan firasatnya bergetar. Ia langsung mendongak dari tempatnya mencuci muka tadi. Dengan cepat ia mengeringkan wajahnya dengan handuk lembut dan sedikit berlari keluar dari kamar mandi.
"Baekhyun-ah?"
Baekhyun berhenti berlari. "Oh…E-eomma, ada apa?"
Eommanya mengernyit. "Kau kenapa sangat terkejut seperti itu?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak apa-apa Eomma…" mungkin hanya salah dengar. Ya. Efek dari sangat merindukan hyung.
"Benar? Kau tampak sangat panik tadi?"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Baiklah jika kau baik-baik saja, Eomma hanya ingin mengajakmu untuk melihat baju pernikahanmu, dan mencobanya untuk terakhir kali. Eomma ingin yang terbaik untuk anak Eomma. Bagaimana?"
Baekhyun mengangguk. "tentu saja Eomma. Biar Baekhyun ganti baju sebentar…"
.
.
.
.
.
.
"Luhan! Cuci ini terlebih dahulu!"
Luhan yang sudah menyelesaikan membereskan kamarnya dengan Kyungsoo memutuskan jika ia tidak boleh berdiam diri saja. Temannya sedang bekerja, Yang Mulia Kai juga sedang ada pertemuan. Ia tidak boleh hanya bersantai seorang diri.
Maka disinilah Luhan. Menjadi seorang tukan cuci dadakan di dapur istana yang super sibuk menyiapkan makan malam besar untuk para tamu undangan yang sudah mulai berdatangan.
Luhan menyeka keringat yang mengumpul di dahinya dan kembali menggerakkan tangannya cepat pada alat masak yang sedang digosoknya.
"Kau ini! Sudah kubilang cuci yang ini dulu!"
"M-maaf…"
"Luhan! Cepat cuci yang ini!"
"M-maaf…"
"Kenapa kerjamu lamban sekali?!"
"M-maaf…"
"Luhan!"
PRANG!
Tiba-tiba suasana dapur yang tadinya ramai langsung menghening seketika. Luhan menatap piring keramik yang tadi dipegangnya dengan tatapan takut. Dan kini di depannya sudah ada kepala dapur. Wanita tua yang tadi memarahinya saat ia datang ke dapur untuk membantu.
Mungkin Luhan dikira salah satu pelayan yang datang terlambat ke dapur sehingga ia diberi pekerjaan yang paling berat di sini.
"Kau! Sudah datang terlambat dan sekarang memecahkan barang?! Kau pikir berapa harga piring yang kau pecahkan itu?! Kau benar-benar!"
PLAK!
Luhan merasa pipinya memanas.
"Berlutu! Punguti pecahan itu dengan tanganmu dan gunakan bajumu sebagai tempat kau menaruh kacanya. Terlalu lama untuk mengambil sapu dan serok. Cepat!"
Luhan dengan bergetar mulai berlutut dan memunguti pecahan kaca yang sudah terbelah menjadi serpihan kecil. Ia kemudian membuka bajunya dengan takut. mengekspos punggungnya yang masih penuh denagan luka. Menghasilkan beberapa bisikan dari para pekerja lain.
"kembali bekerja! Apa yang kalian lihat?!" mendengar teriakan kepala dapur, para pekerja mulai kembali ke pekerjaan lainnya. Mengabaikan Luhan dan keramik pecah seolah itu tidak pernah terjadi.
"Ssh!" Jari Luhan mulai tergores ujung keramik tajam yang ia pegang.
"Lukamu tidak menghentikan hukumanmu!"
Dengan tangan terluka yang meneteskan darah, Luhan kembali memunguti pecahan kaca yang ia jatuhkan kembali.
"Ingat kau juga harus membersihkan darahmu yang mengotori lantai dapur ini." Kata wanita tua itu dingin.
"Y-ya, saya mengerti…"
Setelah selesai mengambil pecahan kaca yang besar, Luhan kini harus mengambil serpihan kaca yang lebih kecil. Luhan hendak beranjak untuk mengambil sapu.
"Apa yang akan kau pikir lakukan? Mengambil sapu? Sudah kubilang gunakan tanganmu. Sapu menggunakan tanganmu."
Mendengarnya, dengan takut Luhan segera menjulurkan tangannya yang berdarah dan juga bajunya yang kini sudah penuh oleh kaca. Disapukannya dengan pelan mengumpulkan kaca-kaca kecil yang bercecer.
"sshh…" Luhan menahan perih tangannya yang sepertinya kembali terluka. Ia seperti menyapukan darahnya di lantai karena kaca-kaca itu seperti terus memahat luka di tangan Luhan.
Setelah selesai, Luhan mendongak dan mendapati kepaala dapur itu tersenyum puas. "Sekarang bersihkan darahmu yang menjijikan itu."
Luhan sekarang tahu ia tidak boleh beranjak dari tempatnya berlutut saat ini. Ia membungkus kaca itu dengan bajunya dan mulai mengelapkan bajunya ke lantai yang ternodai darahnya.
Tangannya yang masih perih kembali harus berhadapan dengan kaca tajam yang menonjol dari bajunya. Walaupun Luhan bersyukur tidak sesakit saat ia menyentuh langsung kaca itu.
"Ada apa di sini Bibi Yong?"
Saat ia sedang mengelap noda darahnya, suara seorang laki-laki mengaggetkannya dan juga menyentak kepala dapur yang langsung berbalik dan membungkuk hormat dengan cepat.
"O-Oh..Yang Mulia Baekhyun…suatu kehormatan bisa bertemu anda di dapur ini…"
Luhan mendengar suara kepala dapur yang mencicit tinggi dan terdengar sangat menjilat. Berbeda sekali dengan saat wanita itu berbicara dengannya.
Luhan menghentikan kegiatannya saat ia menyadari sesuatu.
Tunggu, Baekhyun?
.
.
.
.
.
.
.
TBC
YANG PENGEN LUBAEK KETEMU MANA SUARANYAAAAA
Yap, sebelumnya mau minta maaf karena ngilang selama beberapa minggu…sebenernya ini dulu banget udah selesai setengah tapi….beberapa hari kemudian anjingku mati dan yah, it brought my mood down to the deepest hell. Dan setelah itu aku juga masih kudu ospek dan yaaahh baru update sekarang hehe
THANKYOU SO MUCH BUAT KALIAN YANG REVIEW DAN NUNGGUIN FF INI! Duh terharu―sama ngerasa bersalah ngga update update―setiap baca review dari kalian :""
Chap ini sebenernya part 1 dari chanbaek weeding. So part 2 nya aku usahain as soon as possible deh hehe
Keep reviewing guysss, love ya so much ^^
p.s no bonus dulu yaaa, dan anyway, ada yg notice kalau covernya diganti? Ahaha, itu lubaek chibi, tadi baru aja digambar waktu bosen nulis lol.
Semoga suka chap ini semuanyaaaa, see you next chap!
