Chapter 10

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

The wedding

Part 2

.

.

Baekhyun menghela nafasnya lelah saat ia sedang berjalan ke arah dapur. Ia pikir hanya mencoba pakaian saja itu bukanlah kegiatan berat. Tapi ternyata, ia disuruh berdiri dan berbolak-balik memutari Eomma dan sang perancang baju. Belum melihat Eomma yang berdebat dengan si perancang baju.

Hhhh, tak habis pikir kenapa menikah saja bisa semelelahkan ini.

Ah ya, dia lupa jika ia menikahi pangeran kerajaan.

Baekhyun tersenyum mendapati dapur istana semakin dekat dengan pandangannya. Ia sebenarnya tidak boleh berkeliaran di istana. Dan tentu saja ia bisa dengan mudah menyuruh salah seorang pelayan di sini membawakan aa yang ia perlu. Namun Baekhyun bukanlah seorang anak yang manja. Ia tidak terlalu suka dilayani ketika ia masih bisa melakukannya sendiri.

Baekhyun memasuki dapur dan melihat kesibukan yang luar biasa. Ia tersenyum kepada beberapa pelayan yang dibalas juga oleh bungkukkan hormat mereka semua. Baekhyun segera menuju tempat gelas berada dan melihat ada Bibi Yong ada di dekat rak penyimpanan gelas. Baekhyun bergidik ngeri melihat wanita yang sudah berumur dan agak gempal tersebut. Ia tidak menyukai Bibi Yong yang galak pada para pelayan di sini. Menurutnya itu sangat keterlaluan.

"Hei, tunggu," Baekhyun menahan tangan seorang pelayan yang baru saja membungkuk padanya. Ia melihat Bibi Yong marah-marah dan pandangannya seperti memperhatikan tajam sesuatu di bawah. Baekhyun tidak tahu apa yang diperhatikan oleh Bibi Yong karena objek tersebut terhalang oleh salah satu meja marmer memanjang yang ada di dapur.

"Ada yang bisa saya bantu Yang Mulia?"

"Apa yang dilakukan Bibi Yong di sana?" tanyanya.

Pelayan itu menengok ke arah Kepala Dapur dan kembali menatap Baekhyun. "Nyonya kepala sedang memarahi dan menghukum salah satu pelayan karena memecahkan piring Yang Mulia,"

Baekhyun mengernyit tak suka mendengar jawaban pelayan. Baekhyun tahu Bibi Yong bukan wanita lemah lembut yang hanya akan memarahi dan menyuruh pelayan yang diukum itu untuk membersihkan pecahannya. Bibi Yong bisa berlaku lebih buruk. Maka setelah ia mengucapkan terimakasih, ia segera berjalan menemui Bibi Yong.

"Ada apa di sini Bibi Yong?"

Baekhyun melhat Bibi Song tersentak dan segera membalik badannya. Iaterlihat gugup dan kemudian segera membungkuk.

"O-Oh..Yang Mulia Baekhyun…suatu kehormatan bisa bertemu anda di dapur ini…"

"Bibi sedang apa? Kenapa terlihat marah-marah?"

"T-tidak apa Yang Mulia, ada urusan apa Yang Mulia kemari?"

Baekhyun masih menatap curiga pada Bibi Yong. "Aku haus. Bibi sudah kubilang jangan terlalu keras―" ia melirik ke bawah sebentar dan melihat sebuah tangan―Baekhyun terkejut karena tangan itu mengeluarkan darah―menelusup mencoba menyingkirkan Bibi Yong minggir.

"Bibi Yong siapa itu?" Baekhyun menunjuk tangan yang sedang berusaha menyingkirkan Bibi Yong.

Bibi Yong tampak kaget dan secara reflek, ia mengijak tangan itu dan membuat sipemilik tangan berteriak kesakitan.

"AAH!"

"Astaga! Kenapa Bibi menginjak tangan itu?!" Baekhyun mengernyit marah melihat tindakan semena-mena dari Kepala Dapur itu. ia kemudian berjalan cepat menghampiri Bibi Yong.

Bibi Yong yang melihat tuannya berjalan cepat ke arahnya segera berbalik badan dan melihat objek dibelakangnya sedang mengaduh dan memegangi tangannya yang semakin terluka.

"Kau! Cepat pergi dari sini! Sekarang!" Tidak mau pekerjaan kotornya terungkap oleh tuannya Bibi Yong berusaha menghilangkan barang bukti. Masalahnya bukan kali ini saja ia dimarahi oleh tuan barunya itu. Baekhyun sudah beberapa kali memergoki Bibi Yong melakukan hukuman kasar pada beberapa pelayan.

Luhan yang tampak kesakitan berusaha melawan. "T-tidak! Aku mau melihat siapa itu!"

"Pergi sialan!" Bibi Yong langsung mengkode 2 orang laki-laki yang berada di dekat situ untuk menarik Luhan menyingkir dari sana.

"Lepas! Lepaskan aku!" Luhan meronta saat kedua tangannya ditarik paksa oleh 2 orang laki-laki yang disuruh kepala dapur yang kejam itu.

"Bibi Yong! Apa yang kau lakukan padanya?!" Baekhyun mencoba menyingkirkan Bibi Yong yang menghalangi jalannya sekarang. ia melihat seorang lelaki sedang diseret oleh 2 laki-laki menjauh dari tempatnya semula. Lelaki itu tampak meberontak dan betapa terkejutnya Baekhyun saat melihat tangan pemuda itu mengalirkan cairan berwarna merah…

"Ya Tuhan! Dia terluka!"

Luhan sudah diseret agak jauh dari tempatnya semula. Masih meronta mencoba melepaskan cengkraman kedua orang yang menahannya.

"Kumohon, tenanglah dan jangan buat ini bertambah sulit untuk kami, sebaiknya kau pergi, jika tidak, Nyonya Yong akan menghukum mu lagi," salah seorang laki-laki yang menahannya berbicara dengan lirih dan memohon. Luhan mengendurkan rontaannya.

Ya, untuk apa ia mencoba melepaskan diri jika orang yang di sana bukan adiknya. Dia bahkan belum memastikan siapa orang itu. hanya mendengar nama dan suaranya saja. Siapa yang tahu jika dia bukanlah Baekhyun yang selama ini dirindukannya. Berapa banyak orang yang bernama Baekhyun di Negara ini. Lagipula tampak tadi kepala dapur terlihat sangat hormat kepada Baekhyun itu, adiknya bukan siapa-siapa, hanya sama seperti dirinya….

Luhan kemudian menghela nafasnya dan mencoba berdiri. Ia berjalan dengan langkah pelan dan kepala yang ditundukkan. Sayup-sayup masih ia dengar pertengkaran antara Baekhyun itu dengan kepala dapur. Saat mencapai pintu dapur, Luhan berhenti melangkah. Dalam hatinya ia hanya ingin melihat dan memastikan untuk yang terakhir kalinya, hanya memastikan jika ia tak akan menyesal, siapa Baekhyun yang berdiri membelanya tadi.

Dan seketika matanya membelalak kaget. Di sana berdiri dengan tegap, seorang lelaki mungil yang tampak sehat, terawat, dan bersih. Wajahnya menguarkan aura cantik dan keramahan luar biasa. Walaupun dahinya mengernyit menahan marah. Ia tetap saja terlihat mempesona. Penampilannya jelas berbeda dari apa yang biasanya Luhan lihat dulu, namun tetap saja, mata teduh itu tidak mampu membohongi Luhan yang selalu tenggelam di dalamnya.

Dia di sana, adiknya…

"X-Xi…B-Baekhyun…"

.

.

"Bibi seharusnya tidak menghukum para pelayan di sini dengan semena-mena! Mereka juga manusia dan bisa merasakan sakit, tidak peduli apa status mereka saat ini! Mereka juga patut dihargai!" Baekhyun tampak mengernyit tidak suka pada wanita tua di depannya.

"Yang Mulia, mereka memecahkan barang kerajaan, mereka butuh didisiplinkan," Bibi Yong tetap berargumen.

"Bibi bisa memberitahunya baik-baik. Kulihat pemuda tadi berdarah. Ini sudah ketiga kalinya aku mendapati bibi seperti ini. Kejadian ini akan kulaporkan pada Ratu,"

"Tapi―"

"Jika argument Bibi masih soal barang yang pecah bukankah kita masih punya banyak? Bukankah kita mampu membelinya lagi? Bagaimana dengan laki-laki tadi? Tangan yang terluka memang bisa disembuhkan. Namun maaf kadang tidak terbeli. Bibi harus mengerti itu,"

Wanita tua itu menundukkan kepalanya. Entah menyesali perbuatannya atau hanya menggerutu kesal diam-diam pada orang yang memarahinya ini.

Baekhyun menghela nafasnya panjang. Ia sangat ingin memastikan keadaan pemuda itu baik-baik saja. Ia sangat tidak menyukai kekerasan. Dan melihat tangan pemuda yang berdarah tadi sempat membuatnya sangat merasa sesak. Ia melihat gumpalan kain yang berisi pecahan kaca yang agak ternodai darah di sana. Dan menghela nafasnya sekali lagi. Ia hendak menyuruh seseorang segera membuangnya ketika matanya mengedar mengelilingi ruangan yang cukup luas itu, dan mendapati sepasang mata cantik yang familiar di kejauhan tengah menatapnya intens.

Dan betapa terkejutnya Baekhyun…

"L-Luhan…h-hyung?"

Mendapati Hyungnya menatapnya dengan pandangan yang sama terkejutnya.

.

.

.

.

.

.

Luhan tersentak dari lamunannya sata merasa tangannya ditarik sekali lagi oleh dua pemuda yang mengantarnya keluar. Menyuruhnya untuk cepat pergi dari sana karena untung Nyonya kepala dapur masih sedang dimarahi. Luhan yang masih tampak terkejut menjadi agak linglung dan pasrah-pasrah saja dirinya ditarik oleh dua pemuda ini. Walaupun pikirannya tak mau berhenti memutar kejadian tadi.

Tadi…

Apakah dia…

Tidak mungkin…

Baekhyun-nya…

Tidak mungkin…

Pikiran Luhan berputar putar pada sepasang mata teduh yang menatpnya tadi. Bagaimana wajah itu benar-benar mirip dengan adiknya. Namun bagaimana mungkin…bagaimana…

Bisakah…bisakah Luhan berharap….

"Apa yang terjadi pada tanganmu?"

Luhan tersentak dengan suara dingin yang menyapa indra pendengarannya. Ia mendongak dan mendapati mata tajam yang seolah menelanjanginya.

Mata elang milik Oh Sehun.

"Tangannya terluka karena memunguti kaca Tuan, dan kami sedang mengantarnya ke ruang kesehatan," salah satu dari dua laki-laki tadi menjawab.

Sehun menatap kedua laki-laki yang mendekap Luhan dengan tajam. Kemudian ia berbalik dan berganti dengan melihat Luhan yang tampak pucat.

Sret!

Dengan sekali sentak, Sehun menarik Luhan masuk dalam dekapannya. "Biar aku saja yang membawanya. Dia tanggung jawabku. Tunjukkan saja di mana jalannya,"

Belum selesai pikiran dan keterkejutannya atas adiknya yang baru saja dilihatnya, sekarang orang yang notabene paling membenci dirinya malah mendekapnya dalam pelukannya. membuat jantung Luhan mempompakan lebih banyak darah ke kepalanya yang sudah semerah tomat.

Dua orang laki-laki tadi mengangguk dan menunjukkan jalan menuju ruang pengobatan. Setelah mendengarnya, Sehun segera berlalu pergi tanpa mengucapkan terimakasih pada dua laki-laki yang sudah memberitahunya.

Saat beberapa jalan melangkah, Sehun melepas dekapannya pada Luhan dan menyuruhnya berjalan sendiri. Luhan diam dan mengangguk―walaupun masih agak bingung apa yang dilakukan tuannya itu berjalan sendirian di istana ini. Dan Luhan juga sudah cukup tahu diri untuk tidak merepotkan tuannya itu.

"Yoona sedang sibuk dengan Kyungsoo dan aku sedang berjalan jalan saat melihatmu dalam masalah….lagi." ucap Sehun datar tanpa melirik Luhan yang menunduk.

"Kau memang benar-benar merepotkan." Lanjutnya. Membuat Luhan semakin larut dalam tundukannya yang dalam.

Sehun melirik sebentar tangan Luhan yang berdarah. Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengambil sapu tangan miliknya yang berwarna putih bersih.

"Lap. Menjijikan."

Luhan menerima sapu tangan itu dengan senyum getir. Sebenarnya ini adalah salah satu tindakan manis jika saja Sehun tidak membarenginya dengan ungkapan menyakitkan di akhirnya.

Mereka berjalan dalam diam. Saat sudah sampai di ruang kesehatan yang ternyata sangat sepi itu, Sehun mendengus kesal. Kemudian dengan langkah cepat ia membuka-buka lemari dan menemukan alkohol di sana. Dengan membawa satu botol kaca alkohol dan beberapa kapas, Sehun kembali berjalan ke arah Luhan yang masih berdiri tepat di posisi Sehun meninggalkannya.

"Kenapa kau berdiri saja di situ? Duduk," Sehun memberi perintah Luhan untuk duduk dengan dagunya pada salah satu kasur.

Luhan langsung bergegas berjalan menuju kasur dan mendudukan pantatnya di sana. Dan tak lama, Sehun menyusul Luhan dengan mendudukan pantatnya tepat di samping Luhan.

"Tangan." Sehun berujar kaku. Luhan dengan takut-takut menjulurkan kedua tangannya yang terluka.

"Kuperingatkan aku bukan orang yang lemah lembut." Tambah Sehun setelah selesai menuang alkohol ke dalam kapas.

Luhan meringis saat dengan santai Sehun mengusapkan kapas itu ke lukanya. dan benar saja, Sehun memang bukan orang yang lembut. Ia kadang menekan kapasnya agak kuat, atau mengusapnya dengan kasar. Membuat Luhan mati-matian menggigit bibirnya agar tidak berteriak perih. Namun Luhan tetap berusaha tenang. Masih syukur Sehun mau menyentuhnya dan bahkan mengobati lukanya.

"Tidak ada penyembuh di sini, jadi lukamu hanya kubersihkan dan kuperban."

Luhan mengangguk. "Terimakasih Yang Mulia…"

Sehun memandang Luhan sebentar kemudian mendengus tertawa mengejek. "Kenapa kau selalu terluka? Apa memang hobimu selalu menarik orang untuk melukaimu?"

Sehun tertawa kecil dengan ucapannya. Namun Luhan hanya diam. Memang benar sejak dulu Luhan selalu saja disakiti. Entah oleh teman sebayanya, tetangganya, bahkan Yang Mulia Oh Sehun sendiri. Dan sekarang di Negara yang bahkan ia tidak tahu saja ia bisa bernasib seperti ini.

Luhan kembali ingat kejadian di dapur tadi. Bagaimana kepala dapur itu menghinanya dan menyuruhnya memunguti pecahan kaca yang tajam. Juga dengan laki-laki yang datang membelanya tadi…

adiknya?

Luhan mendongakkan kepalanya menatap Sehun yang mulai memperban tangan Luhan.

"Yang Mulia…maaf bolehkah aku bertanya?"

Sehun menatap Luhan sekilas dan mengangguk.

"Jika saya boleh tahu….a-apakah Yang Mulia mengenal seseorang bernama B-Baekhyun di kerajaan ini?" Luhan bertanya gugup.

"Tentu dia adalah sang calon pengantin. Seseorang yang akan menikahi calon raja negri ini." Sehun menjawabnya dengan santai.

DEG!

Hati Luhan berdebar-debar mendengar jawaban Sehun.

"Y-yang Mulia, apakah Yang Mulia tahu siapa marga dari sang calon pengantin? Maksudku marga Yang Mulia B-Baekhyun?" tentu saja Luhan menyebutkan gelar yang pantas untuk mencebutkan calon ratu. Sekalipun itu nanti adiknya….statusnya sudah seperti bumi dan langit.

Sehun mulai mengernyit. "Kenapa kau tertarik sekali dengannya? Lagi pula siapa kau mengurusi dan ingin tahu tentang dia?"

"T-tolong dijawab saja Y-yang mulia, s-saya hanya ingin tahu…" jawab Luhan lirih.

Sehun memandang Luhan aneh dan tatapan mata yang tajam. "Untuk apa juga memikirkan marga laki-laki itu. ia menikahi calon raja. Tentu saja marga laki-laki itu akan mengikuti suaminya yang terhormat. Ia akan menyandang marga Park yang agung. Tapi kalau kau penasaran…."

Luhan menatap Sehun dengan pandangan mata yang berbinar memohon.

"…di dalam undangan disebutkan namanya Xi Baekhyun."

Luhan yang mendengarnya merasa lega luar biasa. Perasaan senang meningkupi hatinya. Ia bahkan saat ini sudah berkaca-kaca. Ia menemukan adiknya, adiknya yang terpisah darinya. Yang dulunya seelalu ia gandeng-gandeng kemanapun karena adik kecilnya yang tidak mau sekalipun lepas darinya.

Xi Baekhyun….

Adiknya tersayang yang akan memulai hidup baru…

Adiknya akan menikah demi Tuhan… adiknya akan menjadi seorang ratu…. Oh Tuhan…terimakasih karena Kau mengijinkan Baekhyun bahagia….

Sehun memandang Luhan yang tampak terharu dengan pandangan heran.

"Apa-apaan kau? Kenapa kau menjadi terharu seperti itu?"

Luhan hanya menggeleng dan menyeka air matanya yang sudah meleleh ke pipinya yang putih. Sehun mencibir.

"Kau ada hubungan apa kau dengannya? Kau keluarganya?" Sehun tertawa mengejek.

Luhan dengan cepat mendongakkan kepalanya ingin mengangguki pertanyaan Sehun. Namun sebelum ia melakukannya, Sehun dan tatapan tajamnya menghentikannya.

"Jangan berharap, karena pun jika itu benar, laki-laki itu tak akan mau mengakuimu." Sehun berucap dengan datar. Tidak sadar jika baru saja ia menghancurkan harapan seseorang. Dan senyum Luhan meluntur seiring ucapan Sehun.

"K-kenapa?"

Sehun tertawa meremehkan. "Kau masih tanya kenapa? Kau itu hanya budak, bodoh. Bukan siapa-siapa tidak punya gelar, tidak punya harta apa lagi kuasa. Kau pikir calon ratu mana yang punya latar belakang dan keluarga sepertimu?"

Luhan menggigit bibirnya.

"Tidak ada. Jika aku Baekhyun itu, aku lebih memilih membunuhmu daripada harus mengakuimu sebagai keluargaku."

Seperti tertusuk dengan fakta yang menyakitkan, Luhan memegang dada kirinya. setelah dipikir-pikir semua yang dikatakan tuannya ini memang benar. Ia hanya seorang pelayan, budak. Kedudukannya paling penting adalah sebagai pengandung yang bahkan setelah lahir bayinya tidak akan pernah memanggilnya Mama.

Dan adiknya…

Adiknya kini adalah seorang calon lagi ia akan naik tahta menjadi ratu bersama suaminya. memerintah ribuan rakyat dan menguasai berbagai wilayah. Baekhyun akan dipandang sebagai seorang panutan. Dan sebagai panutan ia harus selalu terlihat sempurna, tidak boleh ada cela dalam kehidupannya.

Dan cela itu adalah Luhan. Kakaknya yang miskin dan menyedihkan.

Luhan menangis dalam diam. Hanya matanya yang diam dan mulutnya tidak bersuara. Terselip rasa sesak di dadanya saat ia tahu ia tidak akan atau tidak lagi boleh bertemu dengan adiknya. Dan juga perasaan sesal yang mendalam karena ia tidak menjadi kakak yang berguna dan mengantarkan Baekhyun ke depan altar.

"Bodoh. Kau benar-benar baru sadar derajatmu?" Sehun lagi-lagi mengejek.

"Y-Yang Mulia, jika saya boleh tahu lagi, apakah calon raja adalah s-seseorang yang baik?" lirih Luhan dalam tangisnya.

Sehun mengangkat alisnya. "Kenapa kau ingin tahu?"

Aku hanya ingin memastikan apakah adikku bisa hidup bahagia….setidaknya ia tidak akan bernasib sama sepertiku.

"H-hanya ingin tahu Yang Mulia," jawab Luhan lirih. Berbohong.

Sehun mengangkat bahunya acuh. "Chanyeol laki-laki yang baik. Ia juga sangat pintar walaupun sikapnya kadang menyebalkan seperti anak-anak. Tapi secara keseluruhan ia laki-laki yang baik." Sehun menatap tajam Luhan.

"Setidaknya ia tidak kejam sepertiku." Katanya lagi dengan seringaian kecil terlukis.

Luhan meneguk ludahnya dan mengangguk. Dadanya menghangat dengan perasaan lega mendengar penuturan Sehun tentang laki-laki yang akan menikahi adiknya. Luhan bisa tersenyum sekarang mengetahui bahwa adiknya akan hidup bahagia.

Adik kecilnya yang manis…

Baekhyun tersayang…

Kakak minta maaf…

.

.

.

.

.

Pemandangan langit malam di kota ini selalu terasa nyaman. Bintang-bintang selalu ada di kala langit cerah dan siap menghibur hati Baekhyun saat sepi. Baekhyun mendongak dan menghela nafasnya panjang. Tidak ada bintang hari ini.

Baekhyun mnegusap wajahnya kasar. Ia tidak bisa melupakan wajah laki-laki yang ditemuinya tadi di dapur. Rambutnya, posturnya, matanya…

"Hyung… kau kah itu?" gumam Baekhyun lirih.

"Aku ingin berharap jika itu memang benar-benar kau hyung…"

Baekhyun terdiam sebentar.

"Hyung aku ingin bercerita…"

Pandangan mata teduh itu bertemu langit yang kanvas hitam itu seolah ia melihat wajah hyungnya yang tersenyum memandanganya antusias seperti kala mereka masih bersama dulu.

Baekhyun meneteskan air matanya.

"Hyung…aku bertemu dengan seorang laki-laki. Ia tinggi, baik, tapi agak bodoh. Dan hyung tahu? Ia sangat tampan,"

Di sana Baekhyun melihat hyungnya tertawa. Dengan mata yang menyempit seperti bulan sabit.

"Namanya Park Chanyeol, dan dia besuk akan menjadi suamiku. Hyung tidak percaya bukan?"

Baekhyun sedikit mengelap pipinya yang terasa sangat banyak oleh lelehan air mata.

"Aish, seharusnya aku tidak boleh menangis malam ini, besuk adalah hari pernikahanku hyung, aku harus terlihat luar biasa benar kan?"

Dengan air mata yang masih terus terjatuh, Baekhyun tersenyum.

"Apa hyung tidak mau datang? apa hyung tidak akan menggenggam tanganku menuju altar? Melihatku mengucapkan janji suci dan melepas adik kesayanganmu ini?"

Tangan yang semula terkulai lemas itu memegang erat tembok pembatas balkon kamarnya itu. kemudian tanpa ditahan-tahan lagi Baekhyun terjatuh berlutut dengan lemas. Tangisnya belum berhenti. Badannya bergetar dan isakannya semakin keras.

"Hyung…hyung…a-aku…aku mohon datanglah….b-besuk…k-kumohon…"

.

.

.

.

.

.

"Luhan!"

Kyungsoo menggoyangkan badan Luhan beberapa kali bermaksud membangunkan pria mungil yang tidur seperti orang mati itu.

Kyungsoo sebenarnya juga tidak enak hati membangunkan Luhan. Pasalnya saat malam ia kembali ke kamar Kyungsoo terkejut melihat Luhan datang dengan air mata yang membanjiri wajahnya. dan saat ditanya ada apa, ia hanya menggeleng dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

"Hhh, benar-benar kau ini Lu…"

Dan tanpa diduga, Luhan mulai menggerakkan badannya dan sedikit menggeliat sebelum ia mulai membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali.

"Aigoo, lihatkan Lu, matamu jadi bengkak seperti itu. kau ini benar-benar…" Kyungsoo duduk dan mengusap lembt mata Luhan. Luhan yang mendapat perlakuan seperti itu tersenyum sekilas dan menyingkirkan tangan Kyungsoo dari wajahnya.

"Aku tidak apa-apa," katanya serak.

Kyungsoo hanya menghela nafas pasrah. Luhan memang benar-benar tidak mau merepotkan orang lain.

"Kyung…"

"Hmm?"

"Kau tahu di mana gereja tempat pemberkatan akan dilangsungkan?"

Kyungsoo melirik Luhan sekilas.

"Ada apa kau bertanya? Kau tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kan Lu?"

Luhan tertawa. Ia menggeleng. "Kyung…aku…bolehkah aku menceritakan sesuatu padamu? Dan kumohon beritahu aku apa yang harus kulakukan setelah kau mendengarnnya…"

Mengernyit sebentar, Kyungsoo menganggukkan kepalanya walaupun dengan sedikit keraguan di sana. Luhan mengucapkan terimakasih secara lirih. Dan Luhan pun mulai bercerita….

.

.

"ASTAGA! Astaga! Astaga! Kau ini bodoh atau apa Lu? Tentu saja Baekhyun ingin bertemu denganmu! Demi Tuhan!" Kyungsoo menyeka air mata dengan tangan kanannya sedangkan kini tangan kirinya sibuk memukul lengan Luhan karena kesal.

"Kau terlalu termakan omongan Yang Mulia! Kau pikir adik mana yang tidak ingin menemui kakaknya?!"

Luhan hanya memandang kyungsoo yang berekasi berlebihan dengan matanya yang sayu. "Jadi aku harus bagaimana Kyung?"

"Tentu saja menemui adikmu! Kenapa kau masih Tanya?!"

Luhan tersenyum. "Sekarang beritahu aku di mana gerejanya Kyung,"

Kyungsoo mengangguk. "Gereja yang paling besar di kota ini. kau akan mudah menemukannya karena bangunannya yang menjulang tinggi, walaupun cukup jauh…"

Luhan mengangguk. "Baiklah terimakasih Kyung,"

"Tak masalah,aku benar-benar terharu dengan perjuanganmu Lu. Tapi maaf Jongin…m-maksudku Yang Mulia Kai tiba-tiba bersikeras mengajakku ikut pemberkatan. Ia tidak ingin ditinggal sendirian dengan kakaknya dan istrinya…"

"Tak apa Kyung. Aku juga sebenarnya ingin melakukan ini sendiri, terimakasih Kyung,"

Kyungsoo mengangguk. "Aku harus pergi dulu menemui Yang Mulia Yoona, kau kutinggal Lu, tak apa kan?"

Luhan mengangguk. Kyungsoo beranjak dari duduknya dan memeluk Luhan sekilas. Lalu ia berjalan ke arah pintu dan pergi melaluinya. Menemui Yoona yang berdandan sangat cantik dan elegan. Setelah memastikan Yoona memminum obatnya dan aman dalam genggaman erat tangan Sehun, Kyungsoo meninggalkan mereka berdua dan berjalan ke kamar Kai.

Kai tersenyum mendapati Kyungsoo yang mengetuk pintunya. Ia lalu mempersilahkan lengan Kyungsoo mengapit lengannya yang sudah siap sedia. Kyungsoo tersipu malu dibuatnya. Kai terlihat sangat tampan dengan jas biru tuanya.

Dengan segera, mereka menaiki kereta kuda Kai menuju gereja yang lumayan jauh itu. Beberapa belokan setelah berjalan sebentar, Kyungsoo yang semula tenang langsung tersentak dengan pikirannya sendiri.

"Tunggu dulu… acara pemberkatan sangat terbatas hanya dapat dihadiri oleh tamu-tamu kerajaan, bagaimana Luhan bisa masuk ke sana?"

Kyungsoo menggigit bibirnya. "Apakah anak itu sudah memikirkan hal ini? Bisakah penjaga mempercayainya?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Aish, semoga ia tidak membuat masalah yang menyulitkan dirinya. Hhh, Tuhan memberkati perjuanganmu Lu,"

.

.

.

.

.

.

Luhan berlari keluar dari istana seperti kesetanan, kemudian ia berputar ke segala arah dan mulai mencari bangunan yang menyerupai gereja. Dan di sana, dia arah timur terdapat bangunan cukup besar yang terlihat megah. Agak cukup jauh dari sini. Luhan berharap bisa sampai tepat waktu ke sana.

Dengan nafas yang tersenggal karena buru-buru dan juga beberapa kali menabrak bahu orang-orang yang lewat, Luhan tetap berusaha memacu kakinya untuk berlari.

"Tunggu Hyung, Baekhyun-ah…tunggulah sebentar lagi…"

.

.

.

.

.

.

"Baeekhyun-ah,"

Baekhyun menengok ke arah pintu yang baru saja terbuka. Ia melihat kedua orang tua―atau yang sudah ia anggap orang tua itu masuk dengan senyum terkembang lebar di wajah mereka.

"Aigo, cantiknya menantu Eomma…" Baekhyun tersenyum saat merasakan Eommanya memeluknya. Ia membalas pelukan itu dengan senyum yang tak kalah lebar.

"Sudah siap untuk menjadi anggota seorang Park, Baekhyun-ah?" kini ayahnya yang berbicara.

Baekhyun memajukan bibirnya dan menggeleng. Membuatnya mendapat cubitan gemas dari eommanya.

"Sayangnya kau harus siap Baekhyun-ah, Chanyeol sendiri bisa menghancurkan gereja ini jika tiba-tiba kau tidak muncul,"

Baekhyun tertawa. Oh ia sangat yakin calon suaminya benar-benar akan melakukannya jika tiba-tiba ia mengucapkan 'aku belum siap menikah denganmu,'

"Aku hanya bercanda Appa,"

"Tentu saja, kau akan sangat mencintai Chanyeol. Kalian sama-sama tidak sabar untuk segera menikah,"

Ucapan Appa memebuat Eomma tertawa dan Baekhyun yang langsung menutup wajahnya karena malu.

"Ah, Eomma akan segera kembali ke tempat duduk Eomma, karena waktunya sebentar lagi tiba," Sang Ratu maju dan memeluk calon menantunya itu. "Jangan gugup ne, kami menyayangimu,"

Baekhyun mengangguk di pelukan Eommanya. Ia tersenyum memandang Eommanya pergi keluar dari pintu besar itu. kini ia menatap Appanya yang tersenyum lebar.

"Sudah siap Baekhyun-ah?"

Baekhyun mengangguk. Baru akan berdiri ia merasa sedikit tertahan.

"Appa…"

"Ya?"

"Bisakah kita menunggu beberapa saat lagi? Hanya sebentar..."

.

.

.

.

.

Luhan dengan nafas putus-putus dan kaki yang serasa ingin patah karena lelah akhirnya sampai di depan pintu megah yang dijaga puluhan penjaga berbadan tegap. Belum lagi kerumunan orang-orang yang memenuhi area depan gereja.

Luhan menggigit bibirnya sembari berfikir. Ia tidak akan bisa menyelinap melalui pintu depan. Maka dengan segera, dibaliknya arah dan dengan cepat menuju pintu belakang gereja itu.

Sampai dipintu belakang, ternyata pintu yang ada tetap di jaga oleh beberapa penjaga walaupun tidak sebanyak di pintu utama. Luhan meneguk ludahnya kasar. Matanya melirik ke sana kemari mencari jalan agar ia bisa menyelinap ke dalam.

Dan disana, seseorang baru saja membuka jendela lantai dua. Jendela yang tepat bersebelahan dengan sebuah pohon yang menjulang tinggi.

Ini, atau tidak sama sekali.

Luhan menelan mentah-mentah ketakutannya terhadap ketinggian.

.

.

.

.

.

"Baekhyun-ah, ini sudah terlambat, bagaimana kalau sekarang saja?" Appanya menghampiri Baekhyun yang masih terdiam memandang jendela.

Baekhyun menunduk kemudian mengangguk. Ia berdiri dengan pelan. Menghampiri Appanya yang tersenyum lembut padanya.

Mereka berjalan beriringan keluar dan turun menuju ruangan utama. Pelayan dan penjaga yang berpapasan dengan mereka tak lupa membungkuk memberi hormat.

"Kau…bisakah kau buka jendela itu?" Baekhyun menunjuk salah satu jendela yang baru saja ia lewati.

"Eh?" pelayan itu terlihat kikuk.

"Buka saja, aku hanya ingin udara segar,"

Appanya merangkulnya erat. "Gugup eoh?"

Baekhyun tersenyum tipis dan mengangguk. "Mungkin?"

Dan saat pelayan tadi membuka jendela yang Baekhyun tunjuk, ia melihat hijaunya daun dan kokohnya batang memenuhi pandangannya. Dan entah kenapa itu membuatnya dipenuhi rasa senang.

"Ayo Appa,"

.

.

.

.

.

.

Luhan memanjat diam-diam pohon itu dengan lihai. Bagaimanapun sebelumnya ia anak desa. Memanjat pohon bukan hal yang begitu menyulitkan baginya.

Hanya saja, tingginya….

Luhan sesekali memastikan tidak ada orang yang melihat hal ini. Sepertinya para penjaga malah sibuk bercakap-cakap karena pintu belakang gereja memang sangat sepi dari orang-orang. Luhan sangat bersyukur karenanya.

Hup!

Dan sampailah ia pada dahan yang menuju langsung pada jendela. Jantung Luhan berdebar tak karuan. Ia merangkak pelan pelan menuju jendela yang terbuka itu. daun-daun sedikit banyak menyamarkan keberadaannya dari orang-orang.

"ugh…sedikit lagi…bertahanlah Luhan….demi Baekhyun…"

Beberapa jengkal lagi dan Luhan segera melompat ke sebuah lorong yang untungnya saja terlihat sepi itu. diberkatilah penyelundupan Luhan kali ini.

Tangan Luhan seketika mendingin dan berkeringat. Betapa gugupnya ia sebentar lagi akan menyaksikan adik kesayangannya menikah. Tak sadar Luhan mengembangkan senyumnya dengan lebar.

Segera ia melangkah dengan pelan menuju arah kanan saat suara di belakangnya seketika membuat jantungnya serasa lepas.

"Tunggu, siapa di sana?"

Sial!

.

.

.

.

.

.

Baekhyun menarik nafasnya panjang saat ia dihadapkan pada pintu besar penuh ukiran rumit yang menjulang. Ia menutup matanya dan menghembuskan nafasnya pelan dan teratur.

Tangan Appanya sudah mengamit lengannya yang kurus dengan mantab. Baekhyun membuka matanya dan tersenyum manis.

"Sekarang?" tanya Appanya lembut.

"Tentu saja Appa, ayo kita temui Chanyeol,"

.

.

.

.

.

"Tunggu, siapa di sana?"

Luhan mematung. Dirasa penjaga itu semakin mendekat ke arahnya. Dan tanpa berpikir, sebelum tangan besar pnjaga itu menyentuh pundaknya, Luhan berlari dengan kncang ke sembarang arah.

"Tunggu!" penjaga tadi berteriak agak keras. Ia lalu dengan buru-buru ikut mengjar Luhan yang sudah mulai menjauh.

Luhan memperhatikan sekeliling dan melihat ada satu ruangan yang terbuka di sana. Ia masuk dan menutup pintunya rapat. Beruntung di dalamnya ada kunci sehingga Luhan langsung menguncinya dengan buru-buru.

"Sial kemana laki-laki tadi pergi?!" Luhan mendengar gerutuan dari luar tempat persembunyiannya.

"Hei ada apa?" kali ini suara baru.

"Ada penyusup! Kurasa ia masuk dari jendela yang terbuka!"

"Benarkah?! Kalau begitu akan kukabari penjaga lain! Bagaimana cirri-cirinya?"

Jantung Luhan terpompa sangat cepat kala ia mendengar cirri-cirinya disebutkan penjaga tadi.

"...ia terlihat seperti pengemis…"

Luhan tersenyum kecut saat mendengarnya. Melihat ke pakaiannya ia tersenyum pahit.

Kakak macam apa aku ini, datang ke pernikahan adiknya dengan terlihat seperti pengemis…

Luhan menunggu kedua penjaga itu selesai dengan percakapannya dan melangkah pergi. Mengintip dari lubang kunci, ia melihat sudah tidak ada orang disana. Maka dngan pelan diputarnya kunci ruangan itu dan membuka pintunya untuk keluar.

Dengan hati-hati, ia melangkah cepat menuju loteng. Ya, Luhan tidak akan menuju ruang utama. Ia hanya ingin mengintip prosesi pernikahan adiknya dan mendoakannya dari tempat tertutup.

Ia tidak ingin Baekhyun melihatnya.

Setidaknya dengan kondisinya sekarang.

"Ah! Itu dia! Kejar!" salah satu penjaga berteriak dari kejauhan.

Luhan menghela nafasnya kasar. Ia harus cepat.

Karena baru saja, ia mendengar music pengiring pengantin sudah dimainkan.

.

.

.

.

.

Pintu besr itu terbuka dengan agung. Tamu-tamu undangan seketika berdiri dan menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka itu. menampilkan sosok mungil dengan senyumnya yang manis menghiasi wajahnya yang cantik. Di damping dengan yang tak lain dan tak bukan Raja negri ini sendiri.

Baekhyun tersenyum memandang semua tamunya. Ia mulai melangkah dengan pelan. Wajahnya tertunduk malu dengan tatapan kagum para tamu terhadap dirinya. Namun tak lama, ia mulai menegakkan wajahnya. dan disana tepat di hadapannya, berdiri seorang tampan yang selalu ada menantinya.

Chanyeol terlihat sangat tampan dengan setelan putihnya yang mewah.

Chanyeol tersenyum lebar mendapati Baekhyun akhirnya menatapnya. Telinganya yang panjang memerah karena malu. Sejujurnya, Chanyeol sendiri juga gugup. Namun mendapati Baekhyun―Baekhyunnya tersenyum dengan manis dalam genggaman ayahnya membuatnya sadar.

Inilah hidupnya.

Jika saja ini bukan upacara agung yang harus melalui prosedur, Chanyeol pasti sudah berlari dan mendekap erat sosok cantik yang berjalan sangat lambat itu. walaupun itu hanya persepsi Chanyeol seorang.

Dan saat Baekhyun sudah berdiri di hadapannya, Chanyeol seperti menahan nafasnya. Calon pendamping hidupnya ini terlihat sungguh menawan…

Ayahnya memberi tanda untuk Chanyeol segera mengambil tangan Baekhyun ke dalam tangannya. Chanyeol dengan gugup menulurkan tangannya yang bergetar dan dingin dengan kaku. Menggenggam jemari lentik Baekhyun dengan lembut.

Dan rasanya hangat.

Chanyeol menghembuskan nafasnya dengan lega setelah tangan itu ada dalam genggamannya. Ia tersenyum dan Baekhyun juga tersenyum.

"gugup?" bisik Chanyeol kecil.

Baekhyun mengangguk.

"Tenang saja, ada aku di sini,"

Baekhyun mengulum senyumnya makin lebar. Dan mengangguk sebagai responnya.

Saat pendeta memulai upacara pernikahannya. Untuk sebentar, Baekhyun menutup matanya.

"Ayah…Ibu…Hyung…doakan aku…"

.

.

.

.

.

.

Luhan terengah-engah saat dirinya sudah tiba di loteng sebelah kanan. Gereja ini mempunyai atap berbentuk kubah. Namun di kanan dan kirinya terdapat sebuah loteng yang ditutupi oleh kaca-kaca. Dan Luhan melihat semuanya dari sisi ini.

Sebelumnya ia sudah hampir tertangkap 3 kali oleh para penjaga. Beruntung tubuhnya kecil dan kurus, sehingga walaupun ia tak mampu melawan, ia bisa meloloskan diri dengan mudah. Luhan tahu cepat atau lambat ia akan ditemukan oleh para penjaga lagi.

Ia hanya mampu berharap untuk tidak ditemukan sebelum upacara pernikahan ini selesai.

Luhan menyandarkan tubuhnya pada salah satu kaca dan melihat ke bawah. Di sana banyak sekali orang yang bertepuk tangan saat tangan mungil Baekhyun sudah digenggam Chanyeol. Luhan tersenyum lebar melihatnya.

"Tolong jaga adikku baik-baik…" katanya berandai-andai seolah-olah ia di sana menyerahkan tangan adiknya kepada Chanyeol.

Saat pendeta memulai prosesi pernikahan, dan semua hadirin sudah dipersilahkan duduk kembali, Luhan merasa kini jantungnya berdetak cepat lagi. Senyumnya lebar dan airmata mulai tergenang.

"Apakah anda, Park Chanyeol mengakui di hadapan Tuhan dan jemaatNya bahwa anda bersedia dan mau menerima Xi Baekhyun sebagai pendamping hidup anda satu-satunya, dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun senang, dalam sakit maupun sehat dan hidup bersama-sama seumur hidup anda?"

Luhan menitikkan air matanya ketika ia dengar suara lantang Chanyeol.

"Ya, saya bersedia,"

Kini pendeta mengalihkan tatapnya pada Baekhyun.

"Apakah anda, Xi Baekhyun mengakui di hadapan Tuhan dan jemaatNya bahwa anda bersedia dan mau menerima Park Chanyeol sebagai pendamping hidup anda satu-satunya, dalam suka maupun duka, dalam sedih maupun senang, dalam sakit maupun sehat dan hidup bersama-sama seumur hidup anda?"

"Ya, saya bersedia," uacap Baekhyun lembut.

Luhan menatap adiknya dengan tatapan haru. Rasa senang membuncah di hatinya. Ia menangis dan menangis. Adik kecil yang dulu senang sekali merengek padanya kini akan membina sebuah keluarganya sendiri. Menjadi seorang pendamping hidup, membesarkan anak-anaknya sendiri…

Saat prosesi pertukaran cincin, Chanyeol tersenyum menatap Baekhyun yang sudah hampir menangis. Ia memasangkan cincin sederhana bermata berlian kecil―yang merupakan permintaan Baekhyun sendiri―di jari manis milik Baekhyun.

Setelah selesai, Baekhyun kini mengambil cincin yang sama persis dengan miliknya, hanya ukurannya yang lebih besarlah yang membedakannya. Ia mengambil cincin itu dengan tangan bergetar. Memasangkannya di jari manis Chanyeol yang sudah mengulurkan tangannya.

"Kini pasangan ini sudah resmi menjadi suami dan istri―"

Seiring ucapan pendeta, Chanyeol langsung bergerak maju dan menangkup wajah pasangan hidupnya itu untuk kemudian menautkan bibirnya pada bibir tipis milik Baekhyun.

Para hadirin tersenyum dan bertepuk tangan melihat tindakan Chanyeol yang bahkan mencium pasangannya sebelum pendeta mempersilahkannya. Termasuk Luhan, di tempat sempit itu ia tertawa dan ikut bertepuk tangan melihat tingkah konyol suami adiknya itu.

Luhan senang karena melihat Chanyeol benar-benar mencintai dan menyayangi Baekhyun.

"Di sana kau rupanya!"

Luhan menengok ke belakang dan melihat beberapa penjaga sekaligus menghampiri dirinya yang terpojok. Kini matanya bergerak-gerak takut. ia menengok ke bawah dan melihat adiknya yang masih bertampang kaget dengan tindakan nekat suaminya.

Tidak…aku ingin melihat Baekhyun lebih lama…kumohon…i

Luhan beringsut mundur. Punggungnya kini sudah menempel pada kaca di belakangnya.

"K-kumohon biarkan aku di sini sebentar lagi…a-aku tidak akan mengacau…" lirih Luhan.

"Cih kau pikir kau siapa? Banyak orang di luar sana juga ingin melihat pernikahan ini! Sudahlah! Ikat dia agar ia tidak lagi kabur! Dasar pengemis!" penjaga itu dengan kasar menghempaskan kepala Luhan ke bawah hingga mebentur lantai.

Dan saat tubuhnya sudah terbaring, penjaga lainnya mengambil tangan Luhan dan mengikatnya menjadi satu dibelakang. Luhan berusaha bergerak menuju kaca sekali lagi. Walaupun susah, namun sepintas kini ia masih bisa melihat keadaan di bawah.

Adiknya sedang berjalan beriringan dengan suaminya. Sedangkan tamu-tamu sibuk bertepuk tangan sebagai tanda selamat kepada dua pasanagn baru itu.

"Hei! Kau melihat kemana pengemis bodoh?!"

Luhan merasa rambutnya ditarik ke atas. Penjaga bermaksud menyuruhnya berdiri. Dan sesaat sesudah ia berdiri, salah satu penjaga menamparnya dengan kasar. Luhan merasa sudut bibirnya berdarah.

"Apa motif mu untuk mengacau di pernikahan agung ini?!"

Luhan menggeleng. "A-akutidak bermaksud apa-apa, aku hanya i-ingin melihat…" melihat pernikahan adikku.

"Siapa kau sebenarnya?! Kami masih tidak percaya padamu!"

Luhan menundukkan kepalanya. "Aku h-hanya seorang pelayan, sungguh…a-aku tidak bermaksud mengacau,"

"Kau bukan pelayan kerajaan ini kan?! Katakan siapa tuanmu dan kami akan melaporkanmu padanya!"

Luhan membelalak takut. ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "J-jangan panggil, kumohon, aku melakukan ini atas kemauanku sendiri, j-jangan panggil…." Luhan memohon dengan sangat.

PLAK!

Kini sebuah tamparan lain menghiasi pipinya yang lain.

"JAWAB!" penjaga itu mulai kesal.

Luhan menangis. Ia menggeleng dan merasa rambutnya dtarik dengan kasar. "Jawab budak bodoh!"

Luhan meneguk ludahnya kasar.

"Y-Yang Mulia O-Oh Sehun…"

Penjaga itu tersenyum licik. Ia menyuruh penjaga lainnya untuk mengabarkan hal ini pada Raja yang terkenal kejam itu.

Oh ini akan menarik

Kemudian dengan kasar, Luhan didorong untuk melangkah mengikuti penjaga yang menamparnya tadi. Diliriknya sebentar jendela itu dan melihat kini adiknya sedang digendong oleh suaminya dengan protektif. Baekhyunnya terstawa bahagia bersama-sama dengan suaminya.

Hyung harap kau akan selalu bahagia Baekhyun-ah…hyung menyayangimu…

.

.

.

.

.

Sehun terlihat sangat marah saat ini. Langkahnya cepat dan lebar. Ia terus mengumpat sepanjang perjalanannya setelah seorang penjaga menghampirinya yang sedang mengobrol bersama Kai beberapa saat yang lalu.

Kini dihadapannya ia mendapati budaknya diikat dan duduk berlutut dibawah penjaga-penjaga itu. dengan rahang yang mengeras, Sehun menghampiri mereka.

PLAK!

Sehun merasa semakin marah saat dirasa tangannya ikut memanas seiring tamparan yang ia layangkan dengan sekuat tenaga.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" katanya tajam dan dingin.

PLAK!

Tamparan itu kini menghiasi juga pipi yang lain. Penjaga melihatnya dengan senyuman miring yang menjijikan.

"Kau mau mepermalukanku dan Yoona?"

PLAK!

"JAWAB!"

PLAK!

Luhan sudah benar-benar menangis sekarang. kini bagian dalam mulutnya ikut berdarah dan pipinya terasa sangat sakit sekali.

DUAK!

Luhan terbatuk saat ia merasakan tendangan di dadanya. Ia membungkuk untuk menahan sakitnya. Seolah ia bersujud meminta ampun pada Sehun.

"Kau mempermalukanku! Dasar budak menjijikan!"

Sehun menginjak punggung Luhan. Membuatnya semakin dalam pada sujudannya.

"M-maaf…" hanya itu yang bisa Luhan katakan saat ini.

"Maaf kau bilang?! Kau pikir maafmu itu ada artinya?!" Sehun hampir mnginjak lagi punggung Luhan saat tangan Kai menahannya.

"Sudahlah Sehun…"

Kai berujar lirih. Sehun dengan decihan kesal menjauh dari Luhan yang langsung meringkuk kesakitan. Kyungsoo yang mnegikuti Kai langsung memeluk Luhan yang tampak kesakitan.

"Lagi pula akulah yang menagajak Luhan kesini, jadi dia adalah tanggung jawabku," kai berujar dengan tenang.

"jadi apa yang sudah Luhan lakukan pada kalian?"

"ia menyelinap dan mengganggu upacara pernikahan Yang Mulia,"

Kai mengangguk-angguk. "Aku pikir ia tidak benar-benar menyelinap dalam upacara pernikahan? Apa aku benar? Aku tidak melihatnya di dalam ruangan utama,"

"Ia mengintip dari loteng gereja Yang Mulia,"

"Kalau begitu, Luhan tidak menganggu upacara pernikahannya kan? Kupikir ia juga tidak bermaksud mengacaukan pernikahan ini. Lagipula pernikahan ini sudah selesai dengan baik. Bahkan Chanyeol dan Baekhyun sedang kembali pulang ke istana dengan bahagia," Kai menyatakan pendapatnya.

"Kupikir tidak pantas kalian mengikatnya begitu. Soo, bisakah kau lepaskan Luhan?"

Kyungsoo mengangguk cepat dan mulai melepas ikatan di tangan Luhan.

"tapi jika kalian benar-benar mempermasalahkannya, aku minta maaf," Kai membungkuk ke hadapan para penjaga itu. membuat para penjaga jadi tidak enak hati dibuatnya. "Aku akan minta maaf pada Chanyeol juga jika kalian ingin aku melakukannya,"

"E-Ehm, t-tidak perlu Yang Mulia, kami..eh..k-kami…"

"Kalau begitu masalah ini selesai kan? Aku akan membawa Luhan pulang," kai menghampiri Kyungsoo yang masih memeluk Luhan protektif. Ia kemudian ikut memapah Luhan yang tampak lemas. Mereka bertiga berjalan beriringan meninggalkan tempat itu. dan dengan sengaja, Kai menyenggol bahu Sehun.

Sehun mengepalkan tangannya dengan kesal dan ikut berbalik menjauh dari sana.

.

.

.

.

.

"A-ah…" Luhan meringis kecil saat Kyungsoo mencoba mengelap luka di sudut bibir Luhan dengan kain basah.

Kai juga ada di dana dan ikut meringis kecil melihat setiap luka Luhan dibersihkan oleh Kyungsoo.

"Aw, pasti sakit sekali kan Lu?" Kai meringis lagi saat mendengar Luhan mendesis kecil.

Luhan memandang Kai kemudian menunduk. "Y-Yang Mulia…aku minta maaf…k-karena saya anda…"

"Sudahlah Lu, kita kan teman, lagipula memang kau kan tanggung jawabku,"

Kai menghampiri Kyungsoo dan Luhan yang terduduk di kasur. "tapi aku penasaran, kenapa kau memaksa ingin melihat upacara pernikahannya?"

"Ah itu karena…"

Luhan membekap mulut Kyungsoo dengan tangannya. Ia mengkode Kyungsoo agar diam. Kai yang melihatnya mendengus geli. "Baik-baik, rahasia para gadis, aku mengerti. Ah, aku akan menemui Hyungku sebentar. Aku akan kembali, jangan merindukanku oke?" ucap Kai percaya diri.

Kai meninggalkan Luhan dan Kyungsoo di kamar mereka. Setelah yakin Kai pergi, Luhan melepaskan dekapan tangannya pada bibir hati milik Kyungsoo.

"ish Lu, kenapa kau menahanku tadi? Siapa tahu kan Jongin―maksudku yang mulia Kai bisa membantumu,"

Luhan tertawa saat mendapati Kyungsoo cemberut kesal. "Aku hanya belum siap Kyung,"

"belum siap apa maksudmu?"

"Aku tidak ingin membebani pernikahan adikku dengan kehadiranku," ucapnya tenang.

"Maksudmu bagaimana? Beban apa? Memang―"

"Kyung, dengan kedaanku sekarang, apa yang mungkin akan Baekhyun lakukan?"

"mengajakmu tinggal bersamanya? Tentu saja kau kan Hyungnya,"

"Kau benar. Maka dari itu, aku tidak mau Baekhyun menambah beban pikirannya dengan kehadiranku di sekitarnya. adikku sedang bahagia, biarkan ia berbahagia,"

"Lu…" Kyungsoo merajuk.

"Aku juga ingin mengejar kebahagiaanku Kyung, tidak bergantung pada adikku, aku ingin Baekhyun tersenyum melihatku bahagia, sama seperti hari ini ketika aku tahu bahwa adikku akan bersama orang yang mencintainya seumur hidupnya…"

Kyungsoo terdiam. Ia melihat Luhan yang kini tersenyum tulus padanya. Ia kemudian menghela nafasnya pasrah. Jika ini yang Luhan mau…

"Ah Kyung, aku sebenarnya ingin sedikit minta tolong padamu,"

Kyungsoo mendongak.

"Apakah kita akan pulang malam ini?"

Kyungsoo mengangguk.

"Dan apakah kau bisa menulis?"

Kyungsoo mengernyit.

.

.

.

.

.

.

.

Malam setelah perayaan selesai, dan para tamu sudah beranjak pulang untuk kembali ke kerajaan masing-masing, Baekhyun sedang bergelut manja dengan selimutnya.

Chanyeol baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kasur yang lebar beroaroma vanila itu. wangi istrinya.

"kau tahu, aku begitu ingin masuk kamar ini sebelum kita menikah dulu, dibiarkan tidak menemuimu sama saja membunuhku,"

Baekhyun tertawa mendnegar ucapan suaminya. Ia memandang Chanyeol yang masih mengenakan jubah mandi.

"hei, cepat berpakaian," katanya malu-malu.

Chanyeol tersenyum jahil pada Baekhyun. "memangnya kenapa? Buannya sebentar lagi kita akan telanjang bersama-sama?"

Mendengarnya, Baekhyun segera menutup wajahnya dengan selimut tebalnya. Chanyeol terkikik melihatnya. Dipeluknya tubuh mungil berbungkus selimut itu dengan sayang.

"Yeobo, kau tidak mau bermanja-manja padaku di malam pertama kita?" Chanyeo, berkata lembut dan seduktif. Ugh, dengan suara bassnya yang berat itu, Baekhyun seakan meleleh dibuatnya.

"Apa kau tidak ingin sesegera mungkin menimang bayi dalam dekapanmu? Bayi yang memiliki mata yang secantik dirimu namun tetap tampan sepertiku?"

Baekhyun tetap tidak bergerak dari sarang selimutnya.

"kenapa kau terus di dalam selimut? Apa kau kedinginan di malam ini? Mau aku hangatkan yeobo?"

Rayuan Chanyeol membuat Baekhyun memerah. Dengan cepat ia singkap selimutnya dan menatap Chanyeol garang.

"Hentikan Park Chanyeol!" katanya sengit.

"Kenapa-kenapa? Kau marah eoh Nyonya Park?"

Baekhyun memerah lagi mendengarnya. Ia kemudian menutup matanya erat.

"Hentikan Park Chanyeol…." Katanya lirih. "…dan segera lakukan jika kau memang ingin…"

Chanyeol menganga tak percaya. "E-eh, tapi kalau kau belum siap Baekhyun, kita bisa menundanya, aku tadi eh, hanya menggodamu saja, aku tahu kau lelah hari ini dan―"

Baekhyun menarik kerah bathrobe suaminya kebawah dan meraup bibir suaminya dengan ganas. "aku menginginkannya,"

Chanyeol tersenyum miring mendengarnya. Ia kemudian kembali meraup bibir Baekhyun dengan lebih ganas. Kemudian ia berpindah ke leher putih Baekhyun dan meninggalkan beberapa jejak di sana.

"A-ah..Chanyeol..Ah!" erangan Baekhyun seolah menjadi tenaga bagi Chanyeol untuk terus maju. Dengan kasar ia merobek baju tidur tipis milik Baekhyun. Menampakkan kedua tonjolan kecil berwarna merah muda di sana.

"Uuh…Aah…C-Chanyeol-ah…"

Chanyeol dengan ahli memutar-mutar ujung lidahnya di ujung nipple Baekhyun. Membuat Baekhyun mengerang dan bergetar dalam nikmat.

Saat tangan Chanyeol turun ke bawah dan mendapati Baekhyun kecil yang sudah mengeras, dengan tiba-tiba Baekhyun menghentikannya.

"C-Chanyeol…" kata Baekhyun dengan nafas yang terengah-engah dengan kenikmatan.

"hmm? Ada apa sayang?"

Baekhyun lagi-lagi memerah mendengarnya. "L-lakukan dengan lembut…a-aku…ini pengalaman pertamaku…"

Chanyeol tersenyum. Ia naik lagi dan mencium bibir Baekhyun dengan lembut. "tentu saja ratuku, aku akan membuatmu melayang dan terus melayang tinggi sampai puncakmu, dan yang perlu kau lakukan hanyalah mendesahkan namaku, Arraseo?"

Chanyeol sedikit meremas lembut milik Baekhyun. "A-ah, Chanyeol-ah…ah…"

"Ya seperti itu sayang…"

Dan malam itu suara-suara erangan kenikmatan memenuhi ruangan luas itu dengan kadang diselingi teriakan kecil tanda puncak yang sudah dicapai.

Dan teriakan kecil itu tidak berhenti bahkan saat teriakan ke 5 sudah terdengar.

.

.

.

.

.

.

Sinar pagi datang lagi hari ini. Baekhyun membuka matanya yang silau terkena mentari yang sudah memanggil. Dengan perlahan ia lepaskan pelukannya pada pria yang juga memeluknya semalam suntuk.

Mukanya memerah menahan malu saat mendapati dada suaminya yang bidang sebagai pemandangan paginya. Ia kemudian bangun dan sedikit meringis mendapati bagian bawahnya perih dan sakit. Namun dengan hati-hati ia mencoba bangun dan berjalan ke arah kamar mandi.

Mungkin karena Chanyeol benar-benar memperlakukannya lembut malam tadi, ia masih bisa berjalan sendiri ke kamar mandi.

Setelah selesai ia mandi dan berpakaian, ia hendak keluar dari kamar dan mungkin menyiapkan sarapan buatannya untuk suaminya. Ia berjalan ke arah pintu saat kakinya menginjak sesuatu.

"Oh, apa ini?"

Untuk Xi Baekhyun

Baekhyun mengangkat alisnya. Apakah dari Appa dan eomma? Ia mengedikkan bahunya dan membukanya. Dengan lamat ia baca kata perkata yang ada dalam surat itu. baru mencapai beberapa kata, air matanya sudah tergenang dan siap menetes. Setelah selesai ia membaca suart itu, ia sudah terduduk lemas dan menangis.

Chanyeol yang mendengar suara tangisan Baekhyun segera menghampiri istrinya itu. dengan sebelumnya buru-buru memakai bathrobenya yang semalam terlepas karena kegiatan panasnya.

"hei… ada apa? Kenapa menangis hmm?" Chanyeol berlutut dan memeluk Baekhyun dengan erat. Ia mengelus punggung kecil Baekhyun dan membriarkan Baekhyun menangis di dadanya.

"C-Chanyeol-ah..A-aku hiks…aku…"

"Ssst…ceritakan pelan-pelan oke? Jangan menangis sayang…"

Baekhyun menyodorkan surat yang digenggamnya pada Chanyeol. Segera Chanyeol mengambilnya dan membacanya. Matanya juga ikut terbelalak membaca tulisan itu.

Untuk Xi Baekhyun

Dari Hyung mu, Xi Luhan

"Baekhyun-ah jangan menangis lagi ne? jangan menangis sayang… Hyungmu akan sedih melihatmu mennagis sekarang, jangan menangis karena dewa hujan akan marah melihatmu menghabiskan airnya…"

Baekhyun tersenyum saat tahu Chanyeol mengingat ucapan itu. Ia melepas pelukan Chanyeol. "A-aku hiks..ingin bertemu hyung…"

"Aku tahu, aku tahu...tapi hyung mu ingin ia yang menemuimu," Chanyeol berkata sabar.

"Aku ingin bertemu Hyung Chanyeol…Hyung…"

"Ssst, sudah tidak apa-apa, kalian pasti akan bertemu suatu saat nanti, dan sekarang kau harus menuruti Hyungmu dan berbahagialah Baekhyun…"

Baekhyun yang masih sesenggukan akhirnya mengangguk. Ia mendekap suart itu dalam dadanya.

"hyung…Baekhyun juga menyayangimu, adik kecilmu ini akan selalu menyayangimu,"

Chanyeol tersenyum lirih melihat istrinya itu. ia tahu seberapa besar keinginan Baekhyun untuk bertemu Hyungnya. Namun bagaimanapun takdir tidak begitu menyayangi mereka berdua. Sehingga mungkin hanya waktu yang mungkin berbaik hati menyatukan dua kakak beradik ini.

Ia mendekap tubuh mungil Baekhyun dalam dadanya yang lebar.

"Dan aku park Chanyeol, berjanji akan membahagiakan adikmu,"

.

.

.

.

.

.

Untuk Xi Baekhyun

Dari Hyungmu, Xi Luhan

Baekhyun-ah, adik kecil hyung yang manis. Hyung menulis surat untukmu karena hyung ingin mengucapkan selamat padamu. Selamat atas pernikahanmu, dan hyung harap kau akan berbahagia selamanya.

Baekhyun-ah, hyung sangat bahagia bisa melihatmu kembali. Walaupun hanya dari jauh dan kau tidak menatap hyung kembali, hyung sudah sangat senang.

Ah, hyung juga ingin berterimakasih karena sudah membela hyung di dapur waktu itu. tidak usah khawatir, tangan hyung baik-baik saja. Lagi pula, hyung sangat bangga melihat Baekhyun kecil yang selalu merengek pada hyung kini berbalik membela hyungnya.

Terimakasih Baekhyun-ah..

Dan maaf, karena hyung lancang masuk kamarmu waktu itu. Aku hanya sedang berjalan-jalan dan mendengar suaramu menangis. Secara naluri aku masuk dan ingin memelukmu waktu itu, namun hyung merasa belum pantas untuk berada di sampingmu. Maka hyung berhenti dan hanya mendengarmu menangis malam itu.

Hyung minta maaf.

Hyung juga ingin minta maaf karena sudah menjadi kakak yang buruk untukmu. Maaf karena belum ada yang bisa kau banggakan dari suart ini ditulis oleh teman hyung karena hyung tidak bisa menulis. Namun melihat kamarmu malam itu, hyung tersenyum senang karena melihat buku-buku berjejer rapi dalam rak. Adik hyung pintar ne? hyung bangga pada Baekhyun.

Dan Hyung minta maaf masih menjadi kakak yang bodoh untukmu.

Dan.. Maaf karena hyung hanya berani bersembunyi darimu. Hanya bernani memandang senyummu melalui jarak. Tidak menjadi seseorang yang selalu ada untukmu, bahkan di saat terpentingmu…Namun melihatmu sangat bahagia saat di gereja…hyung merasa hyung melakukan tindakan yang benar untuk tidak menjadi bebanmu…

Hyung minta maaf karena menjadi seorang pengecut.

Tapi hyung merasa lega karena adik hyung yang manja sudah menemukan penjaganya. Terimakasih untuk Park Chanyeol sudah mencintai adik hyung yang sedikit keras kepala ini. Terimakasih telah menorehkan senyumnya bahkan saat aku tak bisa lagi melakukannya. Teruslah mencintai Baekhyun,dan berjanjilah kau akan terus membahagiakannya.

Terimakasih Park Chanyeol.

Hyung sangat menyayangimu Baekhyun-ah, sangat dan sangat menyayangimu. Tidak ada waktu yang terlewat tanpa hyung memikirkan adik hyung yang akan merindukanmu namun jangan merindukan Hyung. Kau harus bahagia. Memulai hidup baru tanpa cela yang menodai. Jadilah ratu yang bijaksana dan cintai suamimu sepenuh hati. Teruslah tersenyum, Baekhyun kecil yang manis.

Hyung menyayangimu. Selalu.

Sekarang, dan selamanya

Dengan cinta dan rindu

Xi Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC