Chapter 11
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
"Jadi, kau sekarang sudah pintar membaca eh?"
Luhan tersentak dari pandangannya pada buku tipis yang digenggamnya. Matanya yang semula fokus langsung berbalik arah menuju suara yang mengejutkannya.
"Yixing, kau mengejutkanku, kenapa kau tak ketuk pintu dulu," Luhan memukul pelan lengan Yixing yang menurutnya muncul secara tiba-tiba dan menakutinya.
"Hei, ini kan ruanganku, tentu saja aku boleh masuk ke sini kapanpun bahkan tanpa mengetuk pintu sekalipun," yixing terkekeh.
Luhan hanya memberengut kesal dan kembali memfokuskan pandangannya pada buku yang ia baca.
"Apa yang kau baca hari ini Lu?"
Luhan menoleh ke arah Yixing sambil tersenyum. "Masih dongeng yang kau pinjamkan kemarin Xing, ta-tapi aku sudah menyelesaikan 15 halaman hari ini," Luhan berkata dengan bangga.
Yixing tertawa dan mengasak surai hitam Luhan lembut. Luhan tersenyum lembut pada Yixing lalu melanjutkan membaca. Yixing memandang Luhan lamat-lamat.
"Sudah lama di sini?" Yixing membuka pertanyaan.
"Umm," jawab Luhan malas-malasan.
"Berhentilah membaca jika kau sudah lelah, kau bisa melanjutkan belajar membacamu esok hari,"
Luhan menggeleng. "Aku belum lelah Xing,"
"Makan jika kau belum makan,"
Gelengan lagi yang didapat Luhan. "Belum lapar," katanya kemudian.
Kriuuk
Yixing memandang perut Luhan yang berbunyi. Sedangkan Luhan malah berdehem dan bertahan masih dengan sikapnya yang pura-pura tidak tahu.
"Luhan jangan keras kepala,"
Luhan menghela nafas kasar dan menutup bukunya setelah memberi pembatas daun yang dikeringkan pada halaman yang ia tinggalkan.
"Baik-baik aku makan Xing, sebagai gantinya, bukumu aku bawa, aku sudah sampai di bagian pangeran kecil yang pergi dari istananya, sedang seru dan kau Xing, malah mengganggu, uugh, kenapa aku harus lapar pada saat-saat seperti ini sih,"
Luhan terus mengomel sambil sesekali mengelus perutnya lembut. Yixing tertawa melihat Luhan yang masih bertahan dalam omelannya saat berjalan menjauhi Yixing.
"Dasar ibu hamil," kekehnya pelan.
.
.
.
.
.
.
Luhan memasuki dapur dan mencari-cari makanan yang sekiranya bisa ia santap. Di dapur tentu saja selalu banyak hidangan, tak susah untuk Luhan yang kini sudah membawa semangkuk nasi, sayur dan sepotong daging.
"Nah, mari kita makan aegya sayang,"
Luhan memang sudah dinyatakan hamil. Sehari setelah kepulangannya dari pernikahan Chanyeol dan Baekhyun, Yixing memberinya kabar gembira ini. Luhan saat itu hanya menganga tidak percaya. pasalnya ia hanya pernah berhubungan badan sekali dan ia sudah berbuah.
Kyungsoo saat itu langsung memeluk Luhan dengan erat. Mengucapkan selamat padanya dan banyak wanti-wanti untuk menjaga berkat Tuhan itu dengan baik. Dan betapa beruntungnya Luhan sudah mengandung seorang buah hati.
Luhan hanya tersenyum kecil saat itu. Ia membalas pelukan Kyungsoo sama hangatnya. Namun di dalam hatinya ia menangis. Ia mengelus perutnya yang masih datar-datar saja.
Anak di dalam kandungannya ini…
"Luhan,"
Luhan menengok ke belakang dan mendapati ratunya tersenyum ke arahnya dengan ramah. Ia mengambil kursi di sebelah Luan dan mendudukan dirinya dengan anggun.
"Tidak menyapu halaman belakang Luhan?"
Uhuk!
Luhan tersedak mengingat tugasnya yang belum dilaksanakan itu. "M-maaf Yang Mulia, s-saya tadi teledor dan―"
"Sudahlah tidak apa-apa Luhan," Yoona tersenyum manis padanya. "Kau juga sebenarnya tidak boleh terlalu keras bekerja mengerti? Kalau bukan kau yang memaksa mungkin aku sudah mengurungmu di kamar untuk istirahat sepanjang waktu,"
Luhan hanya tersenyum singkat menanggapinya.
"Makanlah yang banyak Luhan-ah," Yoona menggerakkan tangannya yang lentik menuju perut Luhan yang mulai sedikit menggembung.
"Kau harus menjaga anak ku dengan baik," Yoona masih tersenyum. Sedangkan Luhan sudah terlihat kehilangan nafsu makannya.
"Sudah tiga bulan, aku tak sabar menanti anak ku lahir," Yoona terus mengelus sayang perut Luhan. "Kau tentu juga tak sabar melihat putra mahkota kan Luhan? Ah atau seorang putri juga bagus, aku akan mendadaninya dengan cantik saat ia besar nanti,"
Mendengar itu semua, Luhan hanya bisa mencibir pada nasibnya. Memang bisa apa ia selain pasrah? selain menelan bulat-bulat kepahitannya?
"Yoona-ya,"
Sehun mendekat ke arah Yoona dan Luhan duduk. Tangannya dilipat ke depan saat sudah sampai di hadapan mereka berdua.
"Kau bilang hanya ke dapur sebentar sayang," katanya pada Yoona. tentu saja, Sehun tidak akan berkata selembut itu pada Luhan. Apalagi ditambah embel-embel sayang.
Yoona tertawa. Ia kemudian memanggil salah satu pelayan di sana dan meminta segelas air. Dan segera meminumnya setelah gelas berisi air itu sampai di hadapannya.
"Ayo Sehun," yoona sudah berdiri dan mengamit lengan kekar Sehun manis dalam genggaman tangannya.
"Kau."
Luhan mendongak. Sehun berbicara padanya sekarang. Tentu saja. Sehun tidak pernah menggunakan nada sedingin itu pada Yoona.
"Ya Yang Mulia?" jawabnya lirih.
"Selesaikan makanmu dan berdiamlah di kamarmu."
"Saya masih harus menyapu hal―"
"Aku sudah menyuruh pelayan lain mengerjakannya Luhan, kau istirahatlah sekarang, kami tidak mau anak kami kenapa-napa mengertilah Luhan," Yoona berkata lembut.
Selembut apapun perkataan itu diucapkan, namun isinya tetap menyakitkan bagi Luhan.
"Baik Yang Mulia,"
Yoona mengangguk. Ia dan Sehun lalu melangkahkan kaki mereka keluar dari dapur ini. Tangan Sehun kini sudah tidak diapit oleh tangan Yoona karena ia memilih melingkarnya lengannya pada pinggang ramping milik Yoona.
"Aegya, kau tadi merasakan kehadiran mereka? Yang tampan adalah Appamu, dan wanita cantik itu…" Luhan meneguk ludahnya kasar. Menelan rasa pahit itu sendiri.
Anak yang dikandungnya ini…
"Ia adalah Eommamu,"
Luhan tak punya hak apapun pada anak yang dikandungnya ini.
.
.
.
.
.
"Hei aegya, apakah kau baik-baik saja di sana?"
Luhan memandang langit-langit kamarnya dan mengelus pelan dan lembut perutnya yang agak membuncit kecil itu. Ia tadi sudah menuruti perintah 'tuannya' untuk segera ke kamar dan beristirahat. Namun setelah lama berbaring, ia sepertinya belum bisa lelap.
"Hmm, apa kau tidak bosan seharian di dalam sana?" Luhan terus berbicara walaupun tidak ada suara yang menjawabnya.
"Apakah kau tahu? Kau beruntung sekali mempunyai Appa yang sangat sangat tampan, walaupun perilakunya kasar, aku yakin ia akan menyayangimu," Luhan tersenyum.
"Ia adalah seorang raja yang paling ditakuti, ia suka menghukum orang-orang, kasar tidak berperi kemanusian, namun ada seseorang yang mampu menghentikannya, dia…" Luhan tersenyum lirih.
"Eommamu."
Luhan mengelus lagi perutnya. "Eommamu cantik. Sangat cantik. Ia wanita anggun yang baik hati, dan pastinya Appamu sangat mencintai Eommamu,"
"Berbeda sekali denganku," Luhan menunduk. "Yah, mau bagaimana lagi, aku juga bukan siapa-siapa di sini,"
"Tapi Appamu sekarang memperlakukanku sedikit lebih baik, Appamu jadi sedikit lebih perhatian,"
"Mungkin ini karena aegya," Luhan tersenyum senang.
"Hey aegya, bolehkah aku menyebut diriku Mama saat berbicara denganmu sekarang? Aku juga ingin dipanggil Mama,"
"Tentu saja Mama," kata Luhan menirukan suara anak-anak. Dan kemudian Luhan tertawa.
"Tapi jangan mengadu pada Appa atau Eommamu, mereka bisa marah sayang," tak henti-hentinya tangan itu mengelus perutnya.
"Mama sangat mencintaimu kau tahu? Walaupun Appamu memperlakukan Mama kasar malam itu, Mama tetap bersyukur bisa membuahkanmu," tersenyum kecil, Luhan meletakkan tangannya di mulutnya, mengecup kecil dan ditempelkan lagi tangan itu ke perutnya.
"Mama akan menyayangimu, lepas dari esok kau hanya akan memperlakukan mama sebagai pelayan, Mama akan tetap menyayangimu,"
Luhan tersenyum manis sekali dan matanya kembali menerawang ke langit-langit kamarnya.
"Bahkan jika Mama boleh memilih, Mama memilih untuk mengandungmu selamanya, agar kau bisa terus tetap bersama Mama,"
"Bolehkah sayang, bolehkah Mama berharap?"
.
.
.
.
.
.
Oh Sehun berdiri mematung di depan pintu kayu yang tidak terlalu besar itu. tangannya terhenti di kenop pintu dan wajahnya ia tundukkan, menyandar di pintu kayu tua itu.
Ia mendengar semuanya. Semuanya.
Ia tadi berharap bisa mengecek keadaannya. Sekadar melihatnya. Karena jujur, Sehun sedikit banyak mengkhawatirkannya.
Ia mengusap wajahnya kasar. Hari sudah larut, Yoona sudah tidur begitupula seharusnya dirinya. Dan mungkin juga pria dibalik pintu kayu tersebut.
Hari di mana Sehun mendengar kabar bahwa pria ini mengandung anaknya, Sehun mulai bersikap berbeda.
Ya, ia masih Sehun yang kejam, yang suka membentak, namun ia sudah tidak pernah berbuat kasar padanya. Setidaknya ia tak lagi main tangan padanya.
Apakah pengaruh anaknya?
Sehun menggeleng. Ia tidak tahu.
Sehun memang mengatakan bahwa ia baik-baik saja jika tidak mempunyai anak. Ia memang tidak menyukai anak kecil. Sehun yakin jika istrinya mampu mengisi kebahagiaannya seutuhnya.
Namun saat Yixing memberitahunya mengenai Luhan yang mengandung anaknya, hatinya seperti memercikkan rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bahagia. Senang. Yang membuncah sampai ke ubun-ubun.
Itulah perasaan Sehun saat itu.
Dan kemudian, tanpa ia sadari dan secara naluri, ia menumbuhkan rasa ingin melindungi pria mungil yang mengandung anaknya itu.
Apalagi jika pria mungil itu memang selalu ceroboh.
Sehun bukan pria baik hati yang ingin saja melindungi orang yang tidak penting baginya. Ia bisa saja membunuh beribu orang dalam satu hari dan masih tidak merasa berssalah karenanya. Ia adalah raja yang kejam. Raja yang tidak mengenal kasih. Apa lagi cinta.
Sehun menghela nafasnya. Ia memejamkan matanya sebentar dengan kepala yang masih menyandar pada pintu kayu itu. Ia masih mendengar suara dan beberapa tawa dari balik pintu itu.
Pria mungil itu masih belum tidur.
Sehun sendiri bingung dengan perasaannya. Gengsi menyuruhnya untuk menjauh dan tetap memperlakukannya layaknya budak yang Sehun bawa dari penjara. Egonya menyuruhnya untuk kembali menyiksa pria mungil tidak bersalah itu. memakinya dengan kata-kata kasar agar mata yang penuh binary itu leleh dengan air mata. Lagi.
Tapi hatinya….
Hatinya yang semula seluruhnya untuk Yoona, mulai sedikit terambil olehnya.
Oh betapa Sehun tidak ingin mengucapkan namanya.
Dengan satu tarikan nafas panjang, ia lepaskan sandarannya dari pintu dan melangkah menjauh. Kembali ke kamarnya.
Namun sebelum ia berbalik, terucap kata manis lirih dari bibir tipis yang biasa digunakan untuk memaki itu.
"Jaljayo…Luhan.."
.
.
.
.
.
.
"Kyung?"
Luhan terbangun karena adanya tarikan selimut dan kasurnya yang bergerak. Kepala Luhan berbalik ke kanan dan ia melihat Kyungsoo yang malam ini lagi-lagi menulusup masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tidak bisa tidur Lu…." Rengeknya.
Luhan tertawa sebentar dan menaikkan selimutnya sampai menutupi mereka berdua. Ia juga menggeser tubuhnya menepi sehingga Kyungsoo setidaknya mendapat tempat untuk membaringkan tubuhnya yang mungil itu.
"Kenapa kau akhir-akhir ini tidak bisa tidur hmm?" tanya Luhan.
Kyungsoo menggeleng.
"Tidak tahu? Apakah karena kepergian Yang Mulia Kai? Aku mulai curiga Kyung,"
Kyungsoo menarik selimutnya sampai menutupi mukanya yang memerah.
Luhan tertaawa lagi. "Kau ini, kenapa kau tidak ikut saja dengan Yang Mulia kalau begitu? Seingatku ia menawarimu untuk ikut serta dengannya?"
Kyungsoo menurunkan selimutnya. Luhan kini melihat bibir hati milik Kyungsoo sudah mengerucut ke atas.
"Aku tidak bisa Lu…"
"Kenapa?"
"Aku harus menjaga Yang Mulia Yoona?"
Luhan mendengus. "Jangan berbohong. Aku sudah melihat sendiri berapa kali Yang Mulia Yoona mencoba kabur darimu yang selalu memanjakannya. Lagipula…" Luhan tersenyum lirih. "ia mempunyai Yang Mulia Raja untuk selalu menjaganya kan?"
Kyungsoo menengok ke arah Luhan yang masih tersenyum. "Lu…" katanya sedikit merasa bersalah.
"Tak apa, memang kenyataannya kan? Lagi pula Yang Mulia sudah memperlakukanku sedikit lebih baik akhir-akhir ini, iyakan aegya?" Luhan mengelus lagi perutnya.
Kyungsoo yang melihatnya jadi ikut mengelus perut Luhan yang membuncit.
"Kyung.."
"Hmm?"
"Jadi kenaapa?"
Elusan tangan Kyungsoo berhenti saat itu juga. Ia kemudian merebahkan agi badanya di kasurr dan memandang langit-langit.
"Keluarganya…mereka tidak menyukaiku Lu, kau tahu aku hanya pelayan. Sedangkan Jongin…yah, kau tahu ia adalah putra mahkota. Walaupun hanya yang kedua, saat ia siap nanti, ia akan memimpin kerajaannya sendiri…sedangkan aku…"
Luhan mengusap wajahnya kasar. Kenapa harta dan tahta selalu menjadi masalah.
"Luhan…."
"Ya Kyung?"
"Bolehkah aku jujur?"
"Tentu, kau bisa percaya padaku,"
Kyungsoo terdiam selama beberapa saat. Lalu bibir kecil itu bergerak pelan. Mengeluarkan suara yang selama ini ditunggu-tunggu oleh seseorang.
"Aku juga mencintai Jongin,"
Kyungsoo lagi-lagi terdiam. "Tapi suatu hari, ada pria tua menyebalkan yang mengatakan padaku untuk menjauhi Jongin. Dan betapa tidak tahu malunya aku berani menaruh perasaan pada seorang putra mahkota. Dia menyebutku dengan banyak nama yang aku tidak ingin ingat lagi. Yah kau tahu, seperti murahan, pelacur…"
Luhan kini sudah melihat ada genangan air yang sudah menumpuk di pelupuk mata Kyungsoo yang lebar.
"…dan sialnya pria tua itu adalah ayah kandung Jongin sendiri,"
Luhan terdiaam. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk membuat Kyungsoo lebih baik. Tapi Luhan juga sebenarnya tahu bahwa apa yang kyungsoo butuhkan saat ini bukan seribu kata-kata manis, namun hanya pendengar yang mau mendengarnya berkeluh kesah.
"Lalu setelah itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mulai menjauhi dan tidak lagi memperhatikan Jongin, namun apa dikata, ternyata pria itu sendiri yang malah mendekatiku," Kyungsoo tertawa. Luhan juga ikut tersenyum mendengarnya.
"Entah kenapa pria itu cepat sekali mengatakan jatuh hati padaku, membuatku sekali lagi jatuh padanya,"
"Jongin bilang kini ayahnya sudah tiada, dan tidak ada lagi yang akan menentang hubungan kami. Dan ia bilang Hyungnya akan dengan senang hati menerimaku. Tapi siapa yang tahu? Ia hanya berpikir demikian…kejadian yang dulu mungkin bisa saja terjadi lagi kan?" Kyungsoo kini tersenyum. Walau senyuman itu malah menambah pedih di hati Luhan.
"Aku tidak lagi mau sakit hati Lu…"
"…tapi aku mencintainya…"
Luhan mengelus surai hitam Kyungsoo yang lembut itu. "Kyungsoo-ah, jangan seperti itu, lakukan apa yang menurutmu benar. Yang Mulia Kai mencintaimu dan kalian harusnya berjuang bersama, tidakkah kau kasihan pada Yang Mulia ia sudah mencintaimu sangat lama…"
Kyungsoo terkekeh pelan. "benar, ia sudah mencintaiku cukup lama. Yah setidaknya cukup lama untuk akhirnya ia menyerah.."
Luhan mengernyit heran. "Apa maksudmu?"
Mata Kyungsoo kembali memanas. Dan kini tak tanggung-tanggung bendungan itu langsung runtuh dan megalirkaan setetes dua tetes air ke pipinya yang putih.
"Tidak tahukah kau Lu…alasan kepulangan Jongin….ia akan bertunangan dengan gadis pilihan almarhum ayahnya sebelum meninggal…"
.
.
.
.
.
.
"Chanyeol! Berhenti makan buah-buahanku!"
Baekhyun merebut paksa piring kecil yang sedang digenggam Chanyeol. Namun karena Baekhyun menariknya cukup keras, dan Chanyeol yang keras kepala, piring itu jatuh dengan sukses di lantai yang keras iitu. Menimbulkan bunyi kelontang yang cukup keras. Namun yang terpenting adalah buah-buahannya yang kini berhamburan ke bawah.
Baekhyun memandang buah-buahannya yang sengaja ia hemat-hemat itu dengan nanar.
"Kau…"
Chanyeol meneguk ludahnya kasar.
Mulai lagi….
"Kau! Huweeee! Eomma! Eomma!" Baekhyun langsung berjongkok dan menutup wajahnya dengaan dua tangannya yang lentik.
"B-Baek…sayang…sssttt diam dulu, j-jangan panggil Bunda…" Chanyeol langsung berjongkok menyamakan tingginya dengan Baekhyun. Ia terlihat sangat bingung sekarang. sudah beberapa hari ini Baekhyunmenjadi sangat sensitive dan pelit berbagi apapun dengannya.
"A-aku kan hanya minta sedikit Baek…" Chanyeol semakin bingung. Ia melihat Baekhyun tidak juga tenang. Istrinya itu malah menangis makin keras. Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, Chanyeol melakukan satu hal yang menurutnya benar.
Chanyeol akhirnya ikut menangis.
"Bunda…!"
"Baekhyun! Chanyeol! OMO! Kenapa kalian menangis seperti itu?" ibu Chanyeol masuk dengan tergesa-gesa diikuti suaminya yang mengekor di belakangnya.
"Chanyeol mencuri buah-buahannku!" adu Baekhyun dipelukan Eommanya.
"Baekhyun tidak mau memaafkan Channie! Channie sudah minta maaf Appa!" adu Chanyeol dipelukan ayahnnya.
Kedua orang tua itu saling berpandangan dan mulai mengelus surai anak-anak mereka dengan lembut.
"Chanyeol-ah…mulai sekarang, bersabarlah pada Baekhyun, dan Appa mohon berhenti merebut makanan Baekhyun, kau bisa minta pada pelayan oke?" Appanya mulai berbicara lembut padanya.
"Baekhyun-ah, berhenti marah-marah dan hati-hatilah sayang dalam bertindak. Jangan tiba-tiba berjongkok seperti ini oke?" kini Eommanya yang memberi tahu Baekhyun.
Baekhyun melihat Eommanya dengan mata anak anjing yang masih dipenuhi air mata itu. membuatnya 100 kali lebih menggemaskan.
"Baekhyun mengandung sayang, kalian akan segera jadi orang tua," Sang Ratu kini mengumumkan hal itu pada dua anak kesayangannya ini.
"APA?" teriak Baekhyun dan Chanyeol bersamaan. Merekaa berpandangan sebentar lalu mulai terisak-isak lagi. Dan tak lama isakan itu menjadi tangisan keras dari dua laki-laki dewasa yang saling mencintai ini.
Walaupun kini tangisan bahagia yang melingkupi mereka…
Tapi tetap saja…
"haish, bagaimana dua anak ini bisa menjadi orang tua untuk seorang anak jika mereka saja masih bersikap seperti anak-anak yeobbo.." kata ayah Chanyeol pada istrinya yang juga mengangguk membenarkan pernyataan suaminya itu.
Duh… dasar pasangan muda ini
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Okay, mau bilang sebelumnya, maaf banget karena aku ga bisa lagi buat chapter panjang-panjang, ya bisa sih, tapi entar akhirnya aku updatenya juga makin lama. Soalnya aku biasanya nulis bentar, terus ga mood, nulis lagi pas mood. Ya gitu. Tapi ini aku usahain at least 2000 words. Haha
So jangan koment : "kok pendek banget sih" wkwkwkw
Lagipula udah pada bosen yekan, sama konflik yang gini gini aja lol.
Jadi gini, 10 chap kemarin, aku anggep konfliknya baek-Luhan bersambung dulu, jadi kagak lagi sering-sering dibahas kayak chap-chap sebelumnya, SAMPAI MEREKA KETEMU LAGI.
Yang mana mungkin engga lama lagi jugaan. Beberapa chap mungkin.
Oke sekian dan terimakasih sudah mengikuti ff ini dari awal sampai sekarang, dan juga buat kalian yang fav, follow, review ff ini, sayang kamuuu :*
See you next chap!
p.s : chap ini diketik karena mood gue yang bagus banget liat banyak ff hunhan bertebaran gara gara event hunhan give away T.T semangat update ya yang ikutttt, ceritanya bagus-bagus serius T.T
