Chapter 12
KALAU NGGA SUKA NGGA USAH BACA ^^
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
Kyungsoo sedang mengemas gelas dan mangkuk bekas obat yang baru saja diminum Yoona. ia membawa nampan yang memuat itu semua dan berjalan pelan-pelan menuju dapur. Sampai di sana ia meletakkan nampan itu di meja. Berdiam diri sebentar dan mulai mengusap wajahnya kasar. Tak lama ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi dan menutup matanya. mencoba menghilangkan pikiran apapun yang sekarang merasukinya.
Kejadian waktu itu, juga terjadi di sini. Tepat di meja ini.
Flashback
"Soo…"
"Oh Jongin, kemarilah, aku membuat kue jahe, kesukaanmu," Kyungsoo menggenggam satu kue keringnya yang masih mengeluarkan asap itu dan eniupnya perlahan, ia membaginya sedikit kemudian menyodorkannya tepat di bibir tebal Jongin yang dengan senang hati membuka mulutnya.
"Enak?" tanya Kyungsoo yang masih tersenyum lebar.
Kai mengangguk. Ia mengelus surai hitam Kyungsoo yang tertawa senang. Jongin mengambil kue jahe yang ada di genggaman Kyungsoo kemudian memakannya.
Hening.
Kyungsoo masih mencoba mendinginkan kue-kuenya walaupun usaha itu tampak sia-sia. Jongin yang melihatnya jadi tertawa melihat Kyungsoonya yang menggemaskan.
"Hei…"
Kyungsoo mendongak mendengar Jongin. "Kau memanggilku?"
Jongin menaikan bahunya. "Kau tahu aku tak mungkin selamanya hidup di sini kan?"
Seketika senyuman lebar Kyungsoo menyempit menjadi senyuman kecil yang terlihat sangat dipaksakan. "Oh…K-kau mau pulang?"
"Rumahku bukan di sini Soo," Jongin mencoba tersenyum.
Kyungsoo mengangguk kecil dan menundukkan kepalanya. Tangannya memelintir bajunya gugup.
"Apa kau akan kembali?" tanyanya lirih. "Bisakah kau kembali?"
Jongin tersenyum mendengarnya. "Kau bisa ikut denganku Soo, pernyataan cintaku masih berlaku untukmu,"
Menggigit bibirnya pelan, Kyungsoo menggeleng.
"Tidak mau? Kau tidak mau ikut denganku?"
Kyungsoo menggeleng.
"Apakah masih alasan yang sama? Sudah kubilang Ayahku sudah tiada,"
Kyungsoo menggigit bibirnya makin keras. "Aku hanya…takut…"
"Hyung ku akan menerimamu dengan baik. Aku berani jamin,"
KYungsoo lagi-lagi menggeleng. "Apa lagi yang kau takutkan Soo? Apa kau takut aku tidak bisa membahagiakanmu? Aku―"
"Jongin," Kyungsoo memotong perkataan Jongin. "aku. Aku yang takut aku tidak bisa membahagiakanmu,"
Jongin yang masih membuka mulutnya, mengernyit heran dengan penuturan Kyungsoo. "Maaf?"
"Kau adalah putra mahkota demi Tuhan, kau akan menjadi Raja suatu saat nanti. Kau akan mempunyai kerajaan sendiri. Mungkin dengan ribuan rakyat yang melihat padamu dan aku pikir mempunyai pendamping hidup seorang pelayan bukanlah sesuatu yang menguntungkan," jelasnya panjang lebar.
Jongin menghembuskan nafasnya kasar. "Ini hanya pemikiranmu Soo, jangan berpikiran aneh karena―"
"dan aku juga bukan lelaki spesial seperti Luhan. Aku tidak akan pernah bisa memberikanmu seorang keturunan." Potongnya datar. "Yang mana sangat penting untuk kalian para penguasa,"
"Soo aku akan baik-baik saja deengan hanya kita berdua,"
Gelengan adalah jawaban yang diberikan Kyungsoo. "Tidak. Kau mungkin akan baik-baik saja sekarang. Tapi nanti, seiring waktu berjalan, kau akan menginginkannya. Hal yang tidak pernah bisa aku beri."
"Soo…"
"Kau tahu sendiri bagaimana bahagianya Yang Mulia Sehun saat ia mendengar bahwa sebentar lagi, darah dagingnya akan lahir. dan kau juga tahu betapa dulunya, Yang Mulia Sehun meremehkan kehadiran seorang anak di istananya…"
Kyungsoo terdiam setelah penjelasan panjang lebarnya.
"Aku hanya tidak mau kau menyesal Jongin. Aku bukanlah orang yang sempurnya."
"Aku mencintaimu. Tidakkah itu cukup?"
Kyungsoo mendongak dan mendapati tatapan hangat Jongin yang ditujukan padanya.
"Aku mencintaimu apa adanya Do Kyungsoo. Aku sudah menaruh perhatianku padamu sejak dulu. Bahkan saat kau tidak pernah meresponku setitik pun. Tidakkah itu berarti sesuatu untukmu? Tidakkah ketulusanku membuktikan sesuatu untukmu?"
"Aku mencintaimu Do Kyungsoo. Sangat."
Mata Kyungsoo leleh dengan air mata yang entah kapan sudah menumpuk di sana. Jongin menggenggam tangannya yang mungil di dalam tangannya yang hangat.
"Ikutlah denganku Soo, kumohon…" lirihnya.
Kyungsoo ingin sekali menganggukkan kepalanya sekarang. Atau berteriak kata persetujuan sekeras-kerasnya. Ia ingin menghambur di pelukan Jongin dan menciumnya, kemudian mungkin mereka akan bisa hidup bahagia―
"Jika kau tidak mau ikutdenganku, aku akan ditunangkan Soo…"
Apa?
"Ikutlah denganku, sehingga aku punya alasan untuk menolak perjodohan yang sudah dirancang ayahku,"
A-apa?
Kyungsoo melepas tangan Jongin yang ada di genggamannya. Ia menatap pria yang dicintainya ini dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bertunangan? Kau sudah dijodohkan?" tanyanya lirih.
"Ya, aku butuh bantuanmu untuk―"
"Kalau begitu pergilah,"
Jongin mengernyit bingung.
"Pergilah Jongin, Ayahmu menginginkan yang terbaik darimu, turutilah beliau," Kyungsoo mencoba tersenyum.
"Aku yakin orang yang dijodohkan denganmu pasti putri yang cantik,"
"Soo, kumohon…"
"Aku turut bahagia, aku berharap kau bisa hidup bahagia dengannya," Kyungsoo berbalik memunggungi Jongin.
"Soo, ada apa?" Jongin mendekati Kyungsoo.
"Bukankah anda harus berkemas? Apa anda butuh bantuan saya?"
"Kenapa jadi seperti ini?" Jongin mencoba membalikkan tubuh Kyungsoo. Namun Kyungsoo tidak sedikitpun berniat menurut.
"Pergilah jika anda tidak punya kepentingan yang lain di sini….Yang Mulia."
Jongin mendalamkan kerutan di keningnya. Ditariknya tubuh kYungsoo agar berbalik menghadapnya. Matanya membelalak sesaat. Ia merentangkan kedua tangannya untuk merengkuh pria yang sedang terisak dalam itu. namun Kyungsoo menepisnya kasar.
"Pergilah, kumohon pergilah… tunanganmu menunggumu…"
"Aku tidak mencintainya."
"TApi dia yang terbaik untukmu."
"Aku tidak mencintainya."
"Sudahlah hentikan, ia calon yang dipilihkan sendiri oleh ayahmu,"
"Aku tidak mencintainya!" Jongin mulai meninggikan suaranya.
"LALU KENAPA? MEMANGNYA DENGAN BEGITU KAU BISA MENGUBAH KEADAAN? INI MASALAH DUA KERAJAAN! KAU PIKIR AYAHMU MENJODOHKANMU DENGAN HARAPAN KALIAN AKAN SALING MENCINTAI?! INI BUKAN MASALAH CINTA!" Kyungsoo mencibir sinis.
"AYAHMU BERHARAP BISA BEKERJA SAMA DENGAN KERAJAAN LAIN! MEMUTUSKAN PERTUNANGAN INI SAMA SAJA CARI MATI! KAU SIAP MENGORBANKAN RAKYATMU SENDIRI DEMI PEPERANGAN YANG DISEBABKAN KEEGOISANMU? JAWAB AKU! KAU SIAP?!"
Jongin terdiam. Ia tak bisa menjawab amukan Kyungsoo yang ditudingkan padanya.
"Diam? Tidak bisa menjawab? Kalau begitu pulanglah. Tunanganmu menunggu. Kerajaanmu menunggu." Kyungsoo berbalik sekali lagi. Dirinya juga ingin segera pergi dari dapur ini. Mungkin kembali ke kamarnya dan meringkuk. Menangis sepuasnya di sana.
Baru 1 langkah ia berjalan, tangan kekar Jongin sudah melingkari tubuhnya. Memeluknya dengan erat dan posesif. Kepalanya ia sandarkan di rambut Kyungsoo yang lembut. Menghirup aromanya dalam-dalam.
"Maafkan aku…maafkan aku Kyungsoo…"
Kenapa Jongin, kenapa kau harus minta maaf? Ini bukan salahmu. Ini salahku yang terlalu pengecut untuk mau berjuang bersamamu. Maafkan aku…dan erimakasih sudah mencintaiku.
.
.
.
.
.
.
Sehun berdiri memperhatikan pria mungil yang dengan rajinnya menyapu salah satu lorong istana yang luas ini. Ia memperhatikannya agak jauh, diujung lorong, dan dibalik tembok. Berusaha agar tubuhnya tak nampak oleh mata pria mungil itu.
Sehun melihat pria mungil itu kini meletakkan sapu yang telah lama dipeganggnya di tembok dekat jendela yang terbuka. Lalu ia condongkan tubuhnya sendiri ke jendela tersebut. Menikmati cahaya dan angin sore ini.
Sehun melihatnya dengan seksama. Dan saat kaki pria mungil itu mulai tidak menyentuh lantai karena badannya yang ia condongkan keluar, Sehun segera berlari keluar dari tempat persembunyiannya dan merengkuh pria mungil tadi.
Luhan yang merasakan dekapan di perutnya tampak kaget dan bingung. Kepalanya ia arahkan ke belakang dan melihat Rajanya di sana sedang mengangkatnya ke bawah.
"hati-hati," katanya singkat.
Luhan mengucapkan terimakasih dan menunduk malu. Sejujurnya ia tadi memang sengaja mencondongkan tubuhnya agak keluar. Agak membahayakan memang. Apalagi mengingat Luhan memang sedikit ceroboh. Tapi akhir-akhir ini, Sehun sepertinya selalu ada mencegahnya melakukan tindakan konyol yang mengancam nyawanya.
"Lihat saja dari sini. Memangnya kenapa harus mencondongkan tubuhmu seperti itu? Itu berbahaya,"
"M-maaf," cicitnya lirih.
Sehun menghembuskan nafasnya lirih. "Istirahatlah jika kau lelah. Kau tampak pucat. Perhatikan juga kondisimu."
Luhan mengerucutkan bibirnya. Sehun dan Yoona, dan kadang-kadang Yixing atau Kungsoo memang senang sekali mengurungnya di kamar. Kamar adalah tempat paling aman untuk si ceroboh Luhan. Kata mereka
"Baik, setelaah menyelesaikan lorong ini saya akan kembali ke kamar,"
Sehun menghela nafasnya sekali lagi. Ia tahu jika sekarang Luhan kesal. Mengiranya menyuruh Luhan kembali ke kamarnya. "Kau boleh jalan-jalan diluar, atau duduk di bangku taman dan membaca, Yixing bilang kau sudah pandai membaca?"
Luhan mendongak dan tampak antusias. Ia tidak menyangka jika Yang Mulia Sehun tahu sekarang ia bisa membaca.
"E-eh, iya, maksud saya, baiklah, t-terimakasih Yang Mulia," Luhan tersenyum malu.
Sehun mengangguk dan menyimpul sedikit senyum di bibirnya. Ia memandang ke arah luar jendela. Dan melihat awan putih yang mewarnai kanvas biru itu.
Luhan yang merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan akan segera pamit undur diri. Ia membuka mulutnya untuk bermatitan, namun sebelum bisa, Sehun sudah memotong dulu kesempatannya.
"Luhan," panggilnya.
"Y-ya? Yang Mulia?" Luhan sudah gugup sendiri dipanggil seperti ini oleh orang yang menurutnya paling membencinya ini. Apakah ini pertanda baik? Atau buruk? Luhan tidak yakin masih bisa menerima takdir buruk menimpanya.
Sibuk dengan pikirannya, Luhan tidak menyadari Sehun sudah menggenggam tangan kanan Luhan. Ia menarik salah satu jari―jari manis Luhan dan melingkarkan sesuatu di ujungnya.
Luhan yang tersadar lalu melihat di jari manis kanannya, kini tersemat sebuah cincin sederhana berwarna perak.
Luhan tertegun.
Sehun memandang Luhan yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Sehun mengedikkan bahunya. "Aku suka meandai apa yang menjadi milikku," katanya.
Luhan menarik tangan kanannya mendekati wajahnya. ia mengamati cincin yang melingkar di sana. Membolak balik tangannya. Dan sesaat ia sadar, cincin itu mengukir nama Sehun di permukaannya.
Luhan adalah milik Sehun.
"Jaga benda itu baik-baik." Pesan Sehun singkat untuk Luhan.
Luhan yang bersemu merah hanya bisa mengangguk. Namun kali ini Sehun tidak marah karena Luhan tidak menjawabnya dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum singkat dan mendekat ke arah Luhan.
"Kau semakin cantik, jaga anak kita baik-baik," bisiknya singkat. Kemudian Sehun berbalik dan berjalan menjauh dari Luhan. Meninggalkan Luhan dengan serbuan kupu-kupu di perutnya.
"Ya Tuhan…ya Tuhan…." Ucap Luhan berulang-ulang. Tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang. Pipinya panas, dan mukanya mungkin sudah semerah tomat. Oh jika Luhan bisa meleleh sekarang, ia akan berubah menjadi genangan air yang sangat cair.
"I-ini nyata kan?" Luhan masih dalam euphoria kebahagiannya, tersenyum lebar. Sangat bahagia mendapati orang yang paing membencinya, yang juga ayah dari anaknya, mungkin juga bisa disebut penyelamatnya―saat di penjara dulu―sudah mau berinteraksi dengannya.
Tangan Luhan beralih ke perutnya. "Appamu menyebutmu anak kita, anak Appa dan Mama, ah Mama sangat bahagia sekarang, sayang,"
.
.
.
.
.
Im Yoona mendengarkan kata-kata yang memuakkan itu dari balik dinding tempat Sehun sebelumnya bersembunyi. Tangan lentik dan putihnya mengepal kesal dan mukanya memerah menahan marah.
"Dia bukan anakmu, dia anak ku, Sehun bukan suami mu, dia hanya suami ku, Sehun tidak boleh kau miliki, ia milikku…"
.
.
.
.
.
.
Luhan sedang duduk bersantai di luar istana memandangi jari tangan kanannya yang ia bentangkan lebar ke atas agar ia dapat memandanginya dengan latar biru langit cerah. Ia terus saja mengukir senyum lebar. Benar-benar tak bisa berhenti tersenyum.
"Luhan?" Yoona berjalan mendekati Luhan yang langsung tampak kaget dan membenarkan posisi duduknya.
"O-oh, Yang Mulia, ada apa?"
Yoona menggeleng. "Tidak, aku hanya melihat kau sedang memperhatikan sesuatu di tanganmu, apa itu? boleh aku lihat?"
Luhan sebenarnya enggan memperlihatkan cincin ini pada Yoona. namun mau bagaimana lagi, Yoona sudah duduk di sebelahnya dan mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan renda cantik itu ke arahnya.
Luhan menyodorkan tangan kanannya.
Yoona menaikkan satu alisnya. Ia berharap Luhan melepas dan memberikan cincin itu padanya. Maka ia berdeham dan meminta baik-baik pada Luhan. "Kau punya cincin baru? Cantik sekali, boleh aku lihat Luhan? Kau bisa melepasnya?"
Luhan menggigit bibirnya. Dengan sangat terpaksa ia melepaskan cincin yang baru terpasang sebentar di jari manisnya itu. Yoona tersenyum ke arahnya dan mengucapkan terimakasih dengan manis.
"Wua, kau mempunyai cincin emas putih? Dan―oh, Sehun ternyata yang memberi?" tanya Yoona seolah-olah ia tidak tahu.
"I-iya Yang Mulia Sehun yang memeberi," jawabnya lirih.
Yoona mendecih. "Jangan berbangga hati dulu Luhan-ah, ini tidak berarti apa-apa kau tahu kan? Sehun dulu memberiku cincin yang berukir indah dengan berlian di tengahnya sebaagai cincin perkawinan, dan kalung emas yang bertuliskan namaku di bandulnya, untuk Yoona yang cantik, selamat hari pernikahan yang ke dua sayang katanya waktu itu, dan tentu masih banyak lagi yah―" Yoona masih terus berbicara panjang lebar mengenai banyak hadiah yang Sehun berikan padanya waktu itu.
Luhan tidak peduli.
Ia tidak sekalipun mendengarkan, matanya terfokus pada cincin yang masih enggan Yoona kembalikan padanya.
"Luhan, ah….sakit…"
Luhan tersentak dan melihat Yoona memegangi kepalanya. Ekspresinya nampak menahan sakit. Luhan seketika langsung bangkit dari duduknya.
"Y-yang Mulia tidak apa-apa? Ya Tuhan bagaimana ini…. S-saya akan panggilkan penjaga, anda tunggulah sebentar di sini…"
Yoona memandangi kepergian Luhan dan tersenyum kemudian. Ia memandangi cincin sederhana yang masih ada di tangannya. Kemudian dengan cepat, ia lepas sarung tangan kirinya dan memasangkan cincin itu masuk ke jari manisnya. Dan dengan cepat pula ia pasangkan sarung tangan berendanya di sana.
Yoona tersenyum senang. Ia melihat Luhan datang dengan dua orang penjaga. Ia segera saja pasang kembali ekspresi kesakitannya dan tangannya ia bawa untuk memegangi kepalanya.
"Yang Mulia kami akan membawa ana ke ruangan tabib Yixing," dua orang penjaga tadi memapah Yoona dengan hati-hati.
"Tunggu," Luhan menahan tangan Yoona. "d-dimana cincin saya Yang Mulia?"
Yoona tidak mempedulikannya. Ia malah menerang kesakitan sekali lagi. Mencoba megalihkan perhatian.
"Hei nak, pergilah, Yang Mulia sedang sakit!" bentak salah satu penjaga.
"tidak! Sebelum Yang Mulia kembalikan cincin saya,"
"Nak pergilah!" bentak penjaga lain.
Yoona yang melihat Luhan tidak akan melepaskannya begitu saja langsung berbalik. Menatap Luhan dengan sayu.
"e-entahlah, tadi aku sangat pusing, pandanganku berputar-putar, aku sepertinya menjatuhkannya, m-maaf Luhan,"
Luhan memebelalakkan matanya lebar. "D-dimana anda menjatuhkannya? Kumohon beritahu aku,"
Yoona tiba-tiba mengerang sakit lagi. Penjaga itu langsung memapah Yoona pergi dari tempat itu. tidak mempedulikan Luhan yang memanggil-manggil dan menarik-narik lengan penjaga atau tangan Yoona.
Tak tahan dengan gangguan Luhan, penjaga itu mendorong Luhan hingga ia terjatuh. Tidak keras memang. Setidaknya hanya membuat sakit, tidak sampai menggugurkan kandungan yang dibawanya.
"Sssh…" Luhan mendesis sakit merasakan sakit di pantatnya dan guncangan pelan di perutnya.
"Kau cari saja di sekitar sini juga pasti ada! Yang Mulia sedang sakit!"
Dengan itu dua penjaga serta Yoona yang diam-diam sudah tersenyum meninggalkan Luhan yang masih terduduk di tanah. Luhan memandang mereka dengan nanar. Oh betapa sekarang ia ingin menangis.
Luhan langsung bangkit dengan mata yang berkaca-kaca. Ia segera berjalan ke arah bangku tempat ia duduk tadi dan mulai berlutut untuk mengais rerumputan di sana.
"Di mana…ku mohon, di mana… hiks… di mana cincinnya…hiks…" Luhan mulai terisak pelan. Baru beberapa menit ia mengais rerumputan, tangannya sudah kotor karena tanah.
Luhan sudah berulang kali menelusuri sekitar bangku itu, namun tidak menemukan cincinnya di manapun. Ia mulai merangkak ke tempat lain. Bahkan ia sudah mengais agak jauh dari tempatnya semula. Panas terik matahari mulai berdampak pada Luhan yang mulai berkeringat. Ia mengelap peluh yang menetes di dahinya dan mengais tanah kembali.
Sudah agak lama Luhan mencari. Dan cincinnya tidak juga ia temukan. Andai Luhan tahu, mencari di seluruh halaman ini pun ia tidak akan menemukan benda yang ia cari.
Luhan berhenti merangkak dan berlutut memandang sekitarnya. ia usap lagi peluh yang mulai membentuk. "aku harus mencari kemana lagi…" lirihnya.
Luhan kembali merangkak ke lain arah. Namun kini pandangannya sedikit berkunang-kunang. Ia tepis rasa itu dan melanjutkan acara pencariannya. Tapi tak bisa di lawan, tubuh Luhan juga sudah lelah. Ia harusnya tidak berada di terik matahari merangkak ke sana kemari.
"Hah…hah…" nafas Luhan mulai sedikit berat. Ia mencoba berdiri dan mungkin beristirahat sebentar di bawah teduhnya pohon. Baru sedikit ia berdiri, pandangannya berputar dan semakin menggelap.
"LUHAN!" Luhan mendengar teriakan sebelum titik-titik hitam itu mengumpul menutupi pandangannya. Ia merasa tubuhnya direngkuh seseorang.
"Kau pucat sekali, dan tanganmu dingin, apa yang kubilang padamu untuk beristirahat Luhan?!" marah orang itu.
"Cincin… aku mencari cincin…" lirihnya.
Sehun segera melihat tangan kanan Luhan yang ia genggam. Tidak ada cincin melingkar di sana…
"Kau benar-benar ceroboh!" bentaknya kesal.
"M-maaf Yang Mulia…"
Sehun mendengus. Ia memang kesal cincin yang baru saja ia beri hilang begitu saja. Tapi ia tidak marah. Toh pria mungil ini memang ceroboh. Ia bisa memesan lagi cincin itu kapanpun.
Sehun lebih marah ketika mendapati pria ini hampir pingsan. Dengan bibir sepucat kertas.
"Bertahanlah, aku akan membawamu pada Yixing."
Luhan mengangguk. Sehun membopong Luhan di depan. Seperti pengantin baru. Sehun melangkah agak cepat,bahkan ia sedikitberlari. Namun harus tetap hati-hati karena ia tidak mau melukai bayi dan pria mungilnya ini.
"m-maaf, sekali lagi saya minta maaf…" lirihnya berulang-ulang.
"Diam."
Ucapan singkat Sehun Luhan anggap sebagai pernyataan bahwa Sehun marah padanya. Ia menenggelamkan kepalanya di dada ayah dari anaknya ini. "maaf…cincinnya…maaf…"
"Berhenti mengkhawatirkan cincin bodoh itu." Luhan mendongak menatap Sehun dengan sayu. Sehun menunduk dan menatap Luhan juga tepat di mata sayunya dengan mata tajamnya yang sedikit menyeramkan.
"Karena aku lebih mengkhawatirkanmu bodoh."
.
.
.
.
.
.
"Chanyeol! Kau sudah makan pie yang kuminta kan? Kenapa―" Baekhyun mendobrak keras pintu kamar mereka dan mendapati Chanyeol sedang berbaring di sana. Ia mendengus kesal dan mendatangi suaminya yang tidur seperti orang mati itu.
"Bangun Chanyeol-ah! Kau harus makan dulu! Baru boleh tidur!"
Semenjak Baekhyun tahu ia hamil, tentu saja ia mulai mengidam macam-macam. Namun anehnya, segala jenis makanan yang diidamkan Baekhyun langsung masuk ke perut Chanyeol. Ya, karena chnayeol lah yang harus menanggung dan memakan semua pesanan aneh-aneh istrinya. Jika tidak, Baekhyun yang sedang dalam mode sensitive detiap saat itu akan mengamuk pada Chanyeol karena ia merasa perutnya tidak enak jika Chanyeol belum makan makanan yang ia pesan.
Permintaan bayi katanya. Harus dituruti katanya.
Baekhyun masih menggoyang-goyang tubuh besar suaminya. Chanyeol yang akhirnya marasa sangat terganggu mengerang tanda ketidak nyamanan.
"Ah kau sudah bangun, segeralah ke dapur―owh!"
Chanyeol menarik Baekhyun menuju kasur besar mereka kemudian memeluk Baekhyun sayang dan erat. Berusaha menahan nafsu Baekhyun untuk lagi-lagi menyuruh Chanyeol memakan hal-hal aneh.
"Tidurlah Baek…kau lelah,"
"Aku tidak lelah, aku hanya ingin kau makan―"
"Tidurlah sayang… oke?"
Baekhyun berbalik dan mendapati Chanyeol sudah terlelap lagi. Ia menepuk-nepuk pipi suaminya. Chanyeol mengernyit dan membuka matanya. menampakan matanya yang merah menahan kantuk yang teramat.
"Hmm?" katanya memastikan.
Baekhyun menganga. Ia jadi tidak enak pada suaminya. Memang saat malam, Baekhyun sering mengganggu tidurnya dan menyuruhnya mengambil makanan atau minuman dari dapur yang jaraknya agak jauh dari kamar mereka.
"Ada apa? Kau ingin susu lagi? Apa harus dicampurbuah tertentu seperti biasanya?" tanya Chanyeol setengah terpejam setengah terjaga.
Baekhyun menggeleng. Namun melihat keadaan suaminya yang antara sadar dan tidak ia kemudian bergumam lirih. "Tidak…tidurlah sayang…"
Chanyeol kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa. Biar aku ambilkan untukmu, tapi setelah itu kita tidur ya?" cahnyeol sudah bersiap-siap bangun. Namun Baekhyun memekik tertahan dan menahan lengan suaminya untuk bangkit.
Baekhyun menarik Chanyeol kembali tidur. Dan ia mengecup dua kelopak mata Chanyeol yang setengah terbuka itu agar menutup seutuhnya.
"Kau lelah, maafkan aku yang tidak mengerti, tidurlah…" katanya manis.
Chanyeol yang merasa nyaman langsung mengangguk dan mulai terlelap lagi.
Baekhyun mengelus muka suaminya lembut dan mendekat untuk mengecup mulutnya yang terbuka itu. ia tertawa singkat kemudian memejamkan matanya, ikut masuk ke dunia mimpi bersama suaminya.
"simpan energimu sayang, karena setelah bangun, kau harus makan yang banyak untuk kami," kekeh Baekhyun kejam.
Dan oh, Chanyeol mengernyit dalam tidurnya, seperti mendapat firasat buruk….
Sabarlah Park Chanyeol, menjadi seorang ayah memang tidak mudah.
.
.
.
.
.
TBC
Thankyou for reading, jangan lupa review juga ya, terimakasih :)
Btw, kalo mau ngritik boleh lho, tapi tolong bahasanya yang halus ya, makasih :)
Buat this unwanted guest,
Type your review here. Gk ush sok2an mood buruk, emg dr chaptr awl tulsany bruk. Ups!
Ini mlh buat gw sbg penikmat exo jd ilfil skrg. Karna ngebayangn sifat yg dijabrn di sini, yg bkn enek. Baekhyun yg dibuat kyk banci, si chanyeol yg dbkn absurd, woy! Secara dia tokoh pangeran, mana ada putra mahkota abrurd begt, blm lg luhan dan tokoh exo, kasihan! Byk2 cari referensi kalo mau nulis cerita begini, even ini cuma fantasi kamu doang, gk bs jg kamu bkn mereka seenak jidat, berdasrkan mood bruk, sama bc tuh buku eyd. Cm saran,dan kritikan pedas.
Kalo misalnya tulisannha udah buruk kenapa diterusin baca sampe chap 11? Tutup aja tabnya waktu masih chap 1. Baekhyun kan uke, banci gimana? Saya ngga suka kamu sebutinnya kayak gini. Tolong lebih sopan. Dan untuk Park Chanyeol, saya cuma pengen menunjukkan bahwa di sini tokohnya tidak melulu jahat. Kalo dipikiran saya, ya Chanyeol itu tokoh yang membawa kebahagiaan. Buat referensi saya sudah cari, untuk lampu saya masih pakai lilin di sini. Kalau foto karena sudah terlanjur dari chap 1 yaudah saya terusin. Eyd eyd itu, kayaknya kamu lebih perlu deh, tolong ya, ngga ada eyd yang disingkat singkat gitu. Guru bahasa Indonesianya tolong diperhatikan ya. Dan kalau mau ngritik bahasanya yang sopan ya. Ngga perlu pujian atau gimana, saya terima kritik. Dulu yg foto dll itu juga dikritik, tapi semuanya menggunakan bahasa yang sopan. Kalau kamu bisa nih nulis yang pedes kayak gini, kenapa ga nulis dengan bahasa yang halus sekalian. Penting buat ngehargain orang lain. Sebenernya saya juga ga mau umbar umbar di sini, tapi kamu pakai 'guest' sih, jadi kita engga bisa ngobrol berdua kan.
Jujur, ini sempet bikin down banget. Ya namanya juga ff perdana haha. Terimakasih semuanya yang bertahan sampai chap ini. Yang koment maupun yg engga, yg fav follow, you all don't know how wide you made me smile. You're da best lah :"
Update karena gue ga mau ada pm "update kapaaaan" soalnya bentar lagi gue uts, doain :""))
Thankyou guyssss, love ya so much, see you next chap~
