Chapter 13

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

Sehun masuk ke ruangan Yixing dengan kedua tangan yang masih sibuk membawa Luhan. Ia melangkah lebih ke dalam, kemudian alisnya terangkat ketika mendapati istrinya juga ada di sini.

"Sayang? Apa yang kau lakukan di sini?" Sehun menurunkan Luhan tepat di sebelaah Yoona yang masih terduduk anis di salah satu ranjang.

Yoona menggeleng dan tersenyum. "Tidak, aku hanya sedikit pusing tadi,"

Di sebelahnya Yixing mendengus.

Sehun memperhatikan hal itu kemudian ia bertanya, "Ada apa?"

Yixing menggeleng. "Tidak penting. Ada apa kau bawa Luhan kemari?" Yixing langsung melangkahkan kakinya mendekati Luhan.

"Dia hampir pingsan." Kata Sehun datar. Sehun lalu mendekati istrinya―Yonna―dan mengelus surai panjang istrinya itu. "Benar kau tidak apa-apa kan?"

Yoona yang merasakan gesture kasih sayang Sehun pun mengangguk senang. Ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sehun, mencari kenyamanan.

Luhan yang melihat itu hanya bisa menatap nanar dan iri. Yah, sebaik apapun Yang Mulia padanya sekarang, ia tetap tidak akan pernah mampu menggantikan posisi sang Ratu. Ia hanya seorang budak―pelayan untuk istilah halusnya. Sudah berapa kali kalimat itu ditancapkan padanya. Luhan seharusnya mengingatnya dengan baik.

Dengan berat ia palingkan wajahnya dan matanya yang memanas. Yixing memandangnya dengan khawatir. Dengan lembut yixing mengelus wajah putih yang masih nampak pucat itu. pelan dan halus, agar Luhan juga merasakan kenyamanan yang sama.

"Yixing-ah, kurasa aku akan membawa Yoona kembali ke kamar, kurasa Yoona sudah lebih baik,"

Yixing memutar bola matanya malas. "Bawa saja, ia memang tidak sedang sakit," usirnya.

Sehun sebenarnya agak ganjal dengan ucapan Yixing barusan. Yoona bilang ia merasa sedikit pusing dan lemas, mengingat ini Yoona, biasanya jika Yoona merasa sakit, meski hanya sedikit, Yixing selalu menjadi yang paling khawatir.

Yoona menarik tangan Sehun untuk menopang tubuhnya. Dan tentu saja dengan sigap ia menarik yoona dalam rangkulannya dan mereka berjalan pelan pelan menuju luar ruangan.

Kembali Yixing memutar bola matanya malas.

"Yixing?"

Suara lirih Luhan menyadarkannya kembali ke tempatnya. Yixing menoleh ke arah Luhan dan mengelus pipi putih itu sekali lagi.

"Ada apa Luhan-ah?"

Luhan menggeleng. "Aku sempat hampir pingsan, dan tadi penjaga sempat mendorongku jatuh ke tanah, bisa kau periksa, di dalam sana, apakah bayiku baik-baik saja?"

Yixing mengernyit tidak suka mendengar pernyataan Luhan barusan. Bagaimana mungkin ada penjaga bodoh yang mendorong seseorang yang sedang mengandung seperti ini? Namun Yixing tetap menjulurkan tangannya untuk memeriksa.

Luhan kembali menghembuskan nafasnya lega saat Yixing mengatakan kandungannya baik-baik saja di dalam sana.

Mungkin di pandangan orang lain Luhan sudah terlihat baik-baik saja. Namun di sana, di wajah cantik yang selau tersenyum itu, Yixing masih merasakan kesedihan yang tergambar jelas.

"Luhan-ah, aku akan memberikanmu ramuan paling mujarab," katanya mencoba menarik perhatian Luhan.

"Ramuan? apakah aku sakit?" tanya Luhan polos.

Yixing tertawa. "tentu saja tidak sayang, kau hanya kelelahan. Dan aku ingin mengajakmu minum teh, kau mau? Segelas teh hangat rasanya menenangkan,"

Luhan mengangguk tanpa ragu. "tentu saja aku mau. Kue buatan Kyungsoo juga rasanya menyenangkan!"

.

.

.

.

.

Yixing menyesap tehnya dengan nikmat. Kyungsoo sedang memasukkan kue buatannya ke dalam toples kaca seperti biasanya. Dan Luhan sibuk mengambil kue yang baru saja di tata rapi oleh Kyungsoo, membuat pemuda mungil itu mendesis gemas.

"Xing?"

Yixing yang merasa dipanggil menoleh ke arah Kyungsoo. "Hmm?"

"Aku hanya mengira-ira kenapa kau bisa ada di dapur? Kau biasanya hanya akan memanggil pelayan dan mengantarkan the ke ruanganmu,"

Yixing mengedikkan bahu. "Aku hanya berusaha baik hati dan menghibur hati yang patah hati,"

Kyungsoo menaikkan satu alisnya ke atas. Ia melirik Luhan yang masihmemakan kue coklat yang baru saja ia panggang ini. Setelahnya ia berpaling ke arah Yixing lagi. "Luhan?"

Yixing teerkekeh pelan. "kau tahu? Satu-satunya orang yang tidak patah hati di sini hanya aku."

Kyungsoo mengernyit. "Aku tidak patah hati,"

"Begitukah? Hati dan pikiranmu berkata lain. Kau tidak lupa siapa aku kan?"

Menghembuskan nafasnya lelah. Kyungsoo akhirnya mengalah. "Tapi aku sedang tidak sedih." Katanya datar. Membela diri.

"Sedang? Kau masih merasa sedih sewaktu-waktu? Sudah hampir berapa minggu ini? Kandungan Luhan waktu itu masih 3 bulan dan sekarang Luhan sudah menginjak bulan ke lima. Aku bertanya-tanya kenapa undangan pernikahan tidak juga dikirimkan,"

Kyungsoo menegang mendengar ucapan Yixing. Ya, sejujurnya ia pun bertanya-tanya, kenapa pengantar berita tak juga membacakan satu lagi undangan pernikahan.

Pernikahan jongin lebih tepatnya.

"Soo…"

Genggaman tangan terasa menyelimuti tangannya yang tak terasa sudah mengepal erat. Mengendurkannya pelan-pelan dan merilekskannya. Kyungsoo memandang Luhan yang juga memandangnya dengan khawatir.

"Duduklah dulu Soo," kata Luhan hati-hati.

Kyungsoo akhirnya duduk. Ia mengambil satu kuenya untuk mengalihkan konsentrasinya yang sudah buyar.

"Kyungsoo, aku tak habis pikir denganmu, untuk apa kau menolaknya jika akhirnya kau hanya sakit hati seperti ini? Kau cukup bodoh di mataku," Yixing kembali lagi memulai pembicaraan.

"Aku tidak mencintainya," ucapnya datar.

"Benarkah?" kali ini Luhan yang bertanya.

"Ya Kyungsoo, benarkah kau tidak mencintai Kai? Kupikir sejak pertama kali melihatmu dengannya kau sudah tergila-gila padanya,"

"Aku tidak,"

"Ya tentu saja,"

Kue kering yang dipegang Kyungsoo remuk. "Yixing, aku tidak tahu apa maksudmu bertanya hal-hal seperti ini, tapi ini menggangguku, kau tidak seharusnya ikut campur!"

Yixing hanya menyeringai. "Aku tidak ikut campur. Aku hanya ingin kau mengaku,"

"Apa lagi yang harus kuakui? Apa lagi? Demi Tuhan, aku mencintainya! Kau puas? Aku mencintainya!"

Luhan menganga melihat Kyungsoo yang meledak-ledak seperti ini. Kemudian ia melirik kepada Yang Mulia Kai, yang sejak tadi memang sudah berada di dapur, dan kini berjalan mendekati Kyungsoo.

"Lalu kenapa kau meninggalkannya?"

"Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Aku tidak ingin suatu saat ia kecewa dengan keputusannya untuk memilihku,"

"Kau tahu Kai mencintaimu, kenapa kau begitu keras kepala?"

"Aku tidak keras kepala! Apakah kau tahu betapa sulit untukku meninggalkannya?! Apa kau tahu betapa hancur hatiku saat tahu dia akan bertunangan?!"

Yixing terdiam. Matanya melirik ke arah Kai sekali lagi.

"Aku merasa sakit! Dan aku menyimpannya sendiri, berharap suatu saat sakit ini akan membaik dengan waktu! Dan lihatlah kau sekarang Xing, kau membuka, bahkan seolah kau mengoyak luka lama ku!"

Kyungsoo mengelap air matanya yang menetes tanpa ia sadari. "Aku―"

"Kyung,"

Mata Kyungsoo seketika melebar. Panggilan lirih itu…

"Hentikan Kyung, hentikan tindakanmu saat kau merasa sakit,"

Dengan cepat ia membalik badannya. Menghadapi Jongin di sana, tampilannya memang tidak serapi biasanya walau ia tampak mengagumkan selalu di mata Kyungsoo.

"Aku meninggalkanmu…berharap kau akan bahagia setelahnya. Dan di sini aku mendapati kau juga sama hancurnya denganku,"

Air mata Kyungsoo tanpa bisa ditahan menetes kembali. Jongin mendekat. Ia kemudian berlutut di hadapan Kyungsoo. Menggenggam tangannya, kemudian menciumnya pelan, dan lembut.

"Kau tahu aku sangat mencintaimu, Yixing benar, berhentilah keras kepala Kyung, genggam tanganku, dan mari kita berjuang bersama," jongin berkata lirih.

"Aku membutuhkanmu, sama―mungkin kupikir lebih dari kau membutuhkanku. Kita bisa meyakinkan Hyungku bersama,"

Kyusoo menggumam lirih, "lalu bagaimana dengan pertunanganmu?"

"Persetan dengan hal itu,"

"Jongin…"

"Aku membutuhkan peranmu di sini, aku membutuhkanmu untuk berjuang bersamaku, dan kita akan hidup bersama, bahagia, seperti dongeng-dongeng yang sering Luhan baca, kau dan aku,"

Kyungsoo terenyuh dengan ucapan jongin. Begitu pula Luhan. Ia merasa tindakan Kai di sini sungguh menggambarkan tokoh-tokoh impian Luhan di buku dongeng.

Jongin berdiri. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kyungsoo. "Kyung berjuanglah bersamaku, aku mebutuhkanmu…"

Kyungsoo tampak masih ragu-ragu. Luhan tiba-tiba menggenggam bahunya. Meremasnya lembut tapi tetap mantap, berusaha meyakinkan. Ia melirik yixing yang tersenyum ke arahya. Mengangguk meyakinkan.

Kyungsoo mengulurkan tangan mungilnya. Tapi sebelum menyetuh tangan kekar jongin, ia berhenti.

"Jongin, berjanjilah kau tak akan menyesali hal ini suatu saat,"

Jongin tersenyum. Ia menggerakkan tangannya untuk menarik tangan Kyungsoo ke dalam genggamannya. Ia kemudian menarik tubuh mungil Kyungsoo, jatuh dalam pelukannya.

"Aku berjanji, terimakasih Kyungsoo…terimakasih karena kau mau memberiku kesempatan,"

Jongin menitikkan air matanya dan jatuh dalam pundak kecil Kyungsoo. Sedangkan air mata Kyungsoo sendiri sudah membasahi dada Jongin.

Yixing tersenyum melihat keduanya. Ia melirik Luhan yang tampak berkaca-kaca. Ia kemudian merogoh kantung bajunya dan menyodorkan sapu tangannya pada Luhan. Luhan mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.

"Ah Yixing, kau tahu dimana Sehun? Aku harus meminta izinnya untuk membawa Kyungsoo selama beberapa waktu,"

Jongin berkata setelah dua pasangan itu melepaskan pelukan panjang mereka.

Yixing mengangguk. "Kau bisa menemukannya di kamarnya sekarang,"

Jongin mengangguk. Ia kemudian mengucapkan terimakasih dan berlalu dengan Kyungsoo masih ada di genggamannya.

Luhan melihat mereka pergi dengan senyuman lebar di wajahnya. jujur ia sedikit iri tentu saja. Namun ia bahagia―sangat―untuk mereka berdua.

"Luhan?"

"Hmm?" Luhan sedikit tersentak dari lamunannya.

"Kau iri?"

Luhan mengangguk malu-malu. Tidak perlu berbohong. Ia berbicara pada yixing lagi pula. "Mereka terlihat sangat manis,"

Yixing kemudian berdiri. Ia mengulurkan tangannya ke arah Luhan. "Kau boleh menggenggam tanganku kalau begitu,"

Luhan tertawa. Lepas. Ia kemudian tersenyum dan menggenggam tangan Yixing.

"Luhan kau perlu tahu, aku tidak akan membawamu ke kebahagian dalam artian milik Kai tadi, tapi aku akan membawamu pada kebahagiaan ilmu pengetahuan, kita akan belajar!" katanya bersemangat.

Dan Luhan kembali tertawa.

.

.

.

.

.

.

Sehun kembali memaasuki kamarnya sesaat setelah ia menemui Kai. Ia berjalan ke arah istrinya yang sedaang menyisir rambutnya pelan. Kemudian Sehun dengan santai memeluk istrinya itu dan mendaratkan ciumannya di leher istrinya.

"kau wangi," ucapnya.

"Tentu saja, aku baru saja mandi,"

Sehun melihat rambut istrinya yang sedang disisir. Ia kemudian tersenyum. "Kau bertemu Luhan siang ini?"

Yoona menaikkan alisnya yang terbentuk indah itu. "Tidak, memang kenapa?"

"Begitukah?" Sehun sekali lagi memastikan.

Yoona berbalik menatap suaminya. Diletakkannya tangannya di pipi Sehun dengan sayang. "Tidak sayang, memang kenapa?"

Sehun tersenyum. Ia menggenngam kembali tangan istrinya dan melepasnya dari pipinya. Ia mengambil tangan kiri istrinya dan menyentuh benda melingkar yang bertengger manis di jari istrinya itu.

"Begitukah sayang? Aku tidak ingat pernah memberimu cincin ini?" tanyanya manis.

Yoona juga tampak terkejut. Ia menggigit bibirnya dalam. "Sehun…"

"Kenapa kau mengambilnya hmm? Benda ini bukan milikmu," Sehun melepas cincin itu dan mengambilnya.

"Aku…"

Sehun menaikkkan alisnya. Menunggu.

"Aku tidak suka kau terllau baik padanya…" kata Yoona lirih.

Sehun menghembuskan nafasnya lelah. "Luhan mengandung anakku, bagaimana mungkin aku bersikap kasar padanya?"

Yoona terdiam.

"Dulu kau menyuruhku untuk bisa dekat dengannya, sekarang saat aku dekat dengannya kau malah bertingkah, ada apa hmm?"

Yoona menunduk dalam.

"Apa kau cemburu?" Sehun menaikkan wajah istrinya agar kembali menatapnya.

Saat sudah menatap Sehun, Yoona malah mengalihkan matanya ke arah lain.

"Aku mencintaimu dan kau tahu itu, apa lagi Yoona-ya?"

Yoona kembali menunduk.

"Kau tahu Luhan hampir pingsan mencari benda kecil ini. Aku minta maaf jika tindakanku membuatmu merasa sakit hati, tapi tidak seharusnya juga kau berbuat seperti ini yoona-ya, kau seharusnya tahu itu,"

Yoona mendongakkan kepalanya. Matanya dipenuhi air yang menggenang. "Aku takut kau akan jatuh cinta padanya…."

Sehun kembali mendesah. Kini lebih panjang dan kasar. "Yoona-ya, dia sedang mengandung demi Tuhan! Dan kau juga yang menyurhnya, berhenti bersikap kekanakan,"

Dengan itu, Sehun berjalan keluar dari kamarnya dengan Yoona. meninggalkan Yoona yang mulai terisak pelan.

"Kenapa kau membentakku Sehun-ah? Apa karena laki-laki itu?"

Yoona mengusap air matanya dengan kasar. Ia kemudian berbalik ke arah kaca dan mulai menyisiri rambutnya lagi.

"Apa yang sebaiknya aku lakukan padamu Xi Luhan…"

.

.

.

.

.

.

Pria mungil itu sedang berjalan menyisiri lorong untuk kembali ke kamarnya. Tangannya mengelus perutnya yang agak membesar itu. sesekali ia bersenandung pelan. Saat melewati jendela, ia akan menceritakan pemandangan yang ia lihat.

Saat tangannya baru saja menyentuh kenap pintu, sebuah suara memanggilnya.

"Luhan,"

Luhan melihat Sehun berdiri dengan pakaian kasulanya. Dengan salah satu tangannya masuk ke dalam kantung celananya, ia terlihat seperti patung malaikat di pancuran depan istana yang selalu Luhan kagumi.

"Y-ya Yang Mulia?"

"Boleh aku bicara denganmu?"

Luhan mengangguk. Ia membuka kamarnya. "D-di dalam saja Yang Mulia?"

Sehun mengangguk. Ia masuk mengikuti Luhan dan menutup pintunya. Kemudian dengan pelan ia mendudukkan dirinya di samping Luhan yang sudah duduk bersila di kasurnya.

"A-ada apa anda kemari Y-yang Mulia?"

Sehun menatap Luhan. "Kenapa kau selaalu tergagap saat bicara denganku?"

"T-tidak, s-saya h-hanya―"

"Berhenti!" perintahnya.

Luhan seketika langsung diam.

Sehun kemudian memberikan aba-aba dengan tangannya. "Bicaralah pelan-pelan, tarik nfasmu dulu, kemudian bicara,"

Luhan melakukannya sama seperti yang Sehun katakan. "Ada apa yang mulia kemari?" katanya. Berhasil tanpa tergagap, walaupun suaranya masih lirih.

Sehun tersenyum. Luhan sampai tertegun dibuatnya. "Begitu lebih baik,"

Sehun kini menaarik tangan kanan Luhan. Ia menggenggamnya cukup erat, kemudian merogoh kembali sesuatu di sakunya. Dan dengan mulus, benda bulat itu melingkar indah sekali lagi di jemari Luhan.

Luhan kaget melihat benda itu bisa berada pada Sehun.

"Aku minta maaf atas nama Yoona untukmu, aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat itu,"

Luhan kemudian mengerti. Ternyata Yang Mulia Yoonalah yang telah mengambil cincinya. Membuatnya kepanasan untuk mencari-cari dan juga hampir pingsan.

Tapi Luhan tetap Luhan. Maka dengan tulus, ia berkata "Tidak apa-apa, saya sudah memaafkan yang Mulia Yoona, lagipula cincinnya baik-baik saja,"

Sehun kembali tersenyum melihat Luhan yang kini sudah tersenyum lebar memandangi sekali lagi cincin sederhana yang ia beri. Juga pada perut Luhan yang mulai menggembung agak besar itu.

Tangan Sehun dengan cepat terulur untuk mengelus-elus perut Luhan dengan lembut. "Aigo, uri aegy sudah tumbuh besar ne? kenapa kau tidak menendang-nendang lagi? Appa sudah tidak sabar melihatmu,"

Sekali lagi Luhan mematung melihat tindakan Sehun padanya―atau bisa dikatakan pada anaknya. "Y-Yang Mulia?"

Sehun menatap Luhan sebentar. "Aegya lihatlah Mama mu, sudah Appa ajarkan untuk tidak tergagap, masih saja seperti itu, benar-benar…"

Luhan tidak tahu harus mengucapkan apa sekarang. bahakan sekarang pikirannya kosong. Hanya ada satu kata yang memenuhi system kerja otaknya. Mama?

Aku, Mama anak ini?

"Luhan?"

Luhan masih sibuk dengan pikirannya.

"Luhan?"

Ia masih menghiraukan panggilan itu.

Sehun mendesah menyerah. Ia langsung saja mengusap air mata yang turun di pipi Luhan dengan ibu jarinya.

Luhan agak tersentak mendapat perlakukan seperti itu. ia langsung beringsut mundur. Dan mengelap air mata yang tak disadarinya telah turun.

"Kenapa kau menangis?" tanya Sehun.

Luhan menggeleng. Air matanya seolah tak mau berhenti.

"Luhan katakan kenapa kau menangis,"

Luhan masih menggeleng.

"katakan!" bentak Sehun. Entah kenapa ia tidak lagi suka melihat pria mungil di depannya ini menangis.

Agak sedikit terkejut, Luhan menjawab dengan―tanpa bisa dihalangi―terbata-bata. "A-anda menyebutku M-mama d-dan s-saya…M-mama…"

Ah, Sehun mulai mengerti. Perjanjian yang ia sebutkan dulu, bahwa Luhan tidak boleh mmeiliki anak yang dikandungnya.

Sehun menelan ludahnya yang entah kenapa terasa sedikit pahit.

"Apa kau mencintai anak yang kau kandung?"

Luhan mendongak. Dan anpa ragu-ragu ia mengangguk. "T-tentu saja saya mencintainya, w-walaupun s-saya tidak akan m-memiliki aegya ini s-seutuhnya…"

"Kalau kau mencintai anak ini," Sehun meletakkan tangannya diperut Luhan. Menyebarkan sensasi hangat di sana. "Tidak ada salahnya anak ini juga mencintaimu kan?"

Luhan seperti ingin menangis sekali lagi. "T-tapi Y-Yang Mulia Y-Yona?"

Sehun tersenyum. "Yoona akan menjadi Eomma. Dan kau akan menjadi Mama. Cukup adil. Tidak ada masalah kan mempunyai dua ibu."

Dan Luhan kembali menangis. Kali ini tidak ia tahan-tahan. Ia menangis dengan suara yang cukup keras. Tangannya ia bawa untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah. Sungguh. Demi apapun. Ia sangat bahagia saat ini.

Dengan cepat, ia beringsut maju. Mendekati Sehun. Kemudian memeluknya erat. Sangat erat. Ia berusaha menyalurkan rasa bersyukurnya pada Sehun.

"Terimakasih Yang Mulia…terimakasih….hiks…terimakasih…" ucap Luhan seperti mantra.

Sehun agaknya juga sedikit terkejut. Namun ia biarkan Luhan seperti ini. Kemudian tangannya ia bawa ke punggung Luhan, mencoba menenangkannya.

"S-sudahlah, tak apa…b-berhenti menangis Luhan.." kata Sehun sedikit gugup.

Luhan kemudian melepas pelukannya. Ia masih sedikit banyak mengeluarkan air mata.

"Hei?" Sehun bertanya pada Luhan yang sesenggukkan.

"Y-Ya yang Mulia?"

"Apakah aegy tidak pernah merindukan Appanya?"

Luhan membulatkan matanya lebar. "M-maaf?"

"Kau ingin kutemani tidur?" tembak Sehun langsung.

Dan Luhan tidak tahu harus menjawab apa lagi selain rona merah yang memenuhi seluruh wajahnya. bahkan menjalar sampai telinganya!

.

.

.

.

.

.

Yoona tersenyum miris dibalik pintu kayu sederhana itu. matanya menerawang ka atas. Bibir tipisnya menggumamkan kata-kata pelan.

"Sepertinya aku harus tidur sendirian malam ini…"

Kemudian ia berbalik dan menatap Sehun yang sedang sekali lagi menenagkan Luhan. "Dan sepertinya aku harus menyingkirkanmu Xi Luhan…."

.

.

.

.

.

.

"BAEKHYUN!"

Chanyeol menggebrak pintu ruang penyembuh di istana dan segara berlari tergopoh-gopoh ke arah ranjang yang dipenuhi seorang penyembuh, 2 pelayannya, dan juga ratu serta raja.

Begitu dirinya mendekati ranjang, ayahnya dengan segera menahan Chanyeol mendekat. Ayahnya hanya takut, Chanyeol tiba-tiba langsung menerjang Baekhyun yang keadaannya sedang lemah.

"A-appa, apa yang terjadi pada Baekhyun?"

Ayahnya yang memeluk Chanyeol hanya bisa mengelus punggung anaknya sayang. Melihat itu, ibunya berinisiatif mendekat dan menjelaskan semuanya.

"Baekhyun tadi sempat merasa pusing, dan saat ia ingin menemuimu di lapangan tempat kau berlatih, ia terjatuh Chanyeol-ah,"

Chanyeol menatap ibunya tak percaya.

"Baekhyun kaan baik-baik saja Chanyeol-ah," kata ayahnya menenangkan.

Penyembuh yang sudah selesai akhirnya menghampiri ketiga anggota kerajaan itu.

"Maaf Yang Mulia, tapi Yang Mulia Baekhyun sudah sadar, dan―"

Chanyeol tanpa mau mendengar penjelasan lain langsung berlari ke arah pasangannya itu.

"Baekhyun-ah, gwenchana?" katanya cepat dan khawatir.

"C-Chanyeol-ah?"

"Nde sayang, aku di sini, apa kau membutuhkan sesuatu? Hmm?" tangan besar Chanyeol langsung menggenggam milik Baekhyun yang mungil. Sedangkan tangannya yang satu mengelus rambut Baekhyun sayang.

Baekhyun menggeleng.

"Baekhyun?" menengok ke depan, di dapatinya Eomma dan Appanya.

"A-apa aegy baik-baik saja?" tanyanya lirih.

Chanyeol melirik kedua orang tuanya. Kemudian orang tuanya mendekat ke arah Baekhyun.

"Baekhyun-ah, jika suatu saat kau pusing, ataupun merasa tidak enak badan, kau harus mengatakannya hmm? Kau tahu hal ini bisa membahayakanmu dan aegy,"

"J-jadi apakah a-anakku―"

"Kalian baik-baik saja Baekhyun-ah," potong sang Appa.

Baekhyun menghembuskan nafasnya lega. Diikuti dengan Chanyeol yang langsung mengecup sayang dahi pasangan hidup semati nya itu.

"Lain kali kau harus bilang dulu padaku jika ingin mneyusulku, aku akan menggendongmu sampai lapangan," Chanyeol berkata tegas.

Baekhyun hanya bisa mengangguk. "Tadi aku hanya merasa sedikit pusing,"

Chanyeol menggeleng. "Kau tetap harus bilang padaku, kau mengerti?"

Baekhyun kembali mengangguk. "Arraseo,"

"Lagi pula ada apa kau tiba-tiba ingin menyusul Chanyeol Baekhyun-ah?" tanya Eooma dengan lembut.

Baekhyun tiba-tiba saja teringat. Dan dengan segera, ia membawa tangan Chanyeol untuk diarahkan ke perutnya.

"Baekhyun ada apa?" tanya Chanyeol khawatir.

"Ssst, tunggu saja," katanya.

Dan tak berapa lama, ia merasakan suatu pergerakan di tangannya. Mata Chanyeol melebar. Ia menatap Baekhyun yang sedikit meringis kesakitan.

"A-aegya, a-aegya kita m-menendang…"

Baekhyun mengangguk. Ia tersenyum menatap suaminya. "Chanyeol-ah, aegya ingin mengucapkan 'annyeong' pada Appanya,"

Chanyeol menatap Baekhyun dengan haru. Ia kemudian mengecupi seluruh wajah Baekhyun dengan sayang dan lembut.

"Terimakasih Baekhyun-ah…terimakasih…"

Kedua orang tua yang ikut menyaksikan pun tak ayal ikut meletakkan tangan mereka di perut Baekhyun. Mencoba merasakan tendangan dari cucu yang mereka nanti-nantikan.

Aegya bagai menuruti para orang yang sudah menantinya pun menendang lagi. Dan kembali Baekhyun harus meringis karenanya. Hal itu tak luput dari perhatian Chanyeol. Kemudian ia bergerak ke perut Baekhyun yang membuncit dan menciumnya.

"Aegya ini Appa, Appa senang kalian sudah bisa mengucapkan 'annyeong', tapi jangan mengucapkannya terlalu sering, jika kalian tidak ingin menyakiti Eomma kalian yang cantik,"

Kemudian tangannya mengelus permukaan perut Baekhyun, mencoba menenangkan anaknya di dalam sana.

Baekhyun yang melihatnya masih tersenyum. Ia merasa diberkati dengan Tuhan memberi keluarga yang menyayanginya. Dan juga aegya yang akan lahir.

Chanyeol mendekati Baekhyun lagi. Mengecup dahinya pelan.

"Aku tak sabar menanti kelahiran aegya kita,"

Baekhyun tersenyum. "Nado Chanyeol-ah, nado…"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

And omg, sorry for the lack of updates I'm so lame

Thankyou for all the reviews and support hehehehe, ga nyangka jebol sampe segini reviewnya. Thankyou thankyou thankyouuuuu~~~~

p.s : kaisoo gue anggep selesai dulu, mueheheheh

p.s.s : Luhan kayaknya chap depan lairan deh *kabur

Review juseyoooo *bow* :)