Chapter 14

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

WARNING : AGAK GORE (?) ENTAR PAS….. .

.

.

.

.

.

Malam ini, Sang Ratu diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya, dan meninggalkan suaminya yang masih terlelap dengan nyaman di ranjang mereka. Sang ratu mengenakan jubah yang menutupi kepala dan panjangnya hingga menyapu lantai yang dipijaknya.

Tersenyum tipis, ia membuka pintu kamarnya yang besar itu dan menutupnya kembali dengan pelan. Ia berjalan dengan ringan, menimbulkan sedikit suara tapakan pada lorong yang sepi itu. berjalan terus, dan terus ia sampai pada sebuah tangga yang menuju ke bawah.

"Ratu, selamat datang," dua orang penjaga membungkukkan badan mereka menyambut kedatangan Sang Ratu yang tak biasa di rpenjara bawah tanah ini.

Dengan elegan ia mengangkat tangan untuk menyuruh dua orang penajga yang berbadan besar itu untuk mengangkat tubuh mereka. Ia kemudian maju dan mendudukkan dirinya di sebuah kursi kayu di hadapan mereka.

"Aku ingin kalian melakukan sesuatu untukku," Ratu sedikit mendongak pada mereka. Menampilkan wajahnya yang Ayu dan matanya yang cantik namun tajam itu.

"Dan apakah itu Yang Mulia?" tanya salah satu penjaga di sana.

Ratu berwajah cantik itu tersenyum. "Aku ingin kalian menyingkirkan seseorang untukku,"

"Siapa?" tanya penjaga yang lainnya.

Senyuman itu berubah menjadi seringaian tajam. "Laki-laki yang bisa mengandung itu, Luhan,"

Kedua penjaga itu mengangguk. Walaupun mereka adalah penjaga penjara bawah tanah, namun mereka sudah mendengar berita bahwa kini Raja akan memiliki keturunan dari seorang laki-lak yang bisa mengandung.

"Anda ingin menyingkirkannya seperti apa? Apakah kami harus membunuhnya?"

Ratu itu menggeleng. "tidak, tidak sampai separah itu, aku hanya ingin kalian menyingkirkannya. Jauh, jauh dari sini,"

Ratu itu menghela nafas pasrah, seolah-olah ia tidak punya pilihan lain selain ini. Seolah ia turut sedih dengan keputusan yang dibuatnya. "Aku hanya tidak ingin ia mengganggu suamiku, aku tidak salah kan?"

Kedua penjaga itu berpandangan lalu menatap rat mereka dan menggeleng pelan.

Wanita tadi tersenyum, melirik tajam dua penjaga dan menatap mereka culas. "Maka dari itu, aku ingin kalian membuangnya. Jauh. Jauh sekali dari sini, dan jangan khawatir, aku akan membayar kalian,"

Wanita itu merogoh kantung jubahnya dan mengeluarkan kantung yang cukup besar dari sana.

"di dalam situ semuanya emas,"

Kedua penjaga itu saling bertatapan. Kemudian melihat kantung emas yang tampak menggiurkan itu. mereka bisa kabur, dan bersenang-senang degan banyak wanita jika misi ini sudah berhasil dilaksanakan. Hidup bagi mereka akan mudah.

Maka dua penjaga itu melihat Ratu mereka dengan yakin.

"Kapan Yang Mulia ingin pria itu disingkirkan?"

Dan wanita itu tersenyum lebar. "Oh, dalam waktu dekat. Beberapa minggu―mungkin hari, laki-laki itu akan segera melahirkan. Aku ingin dia segera di singkirkan setelah ia melahirkan anakku. Bisa?"

Penjaga itu mengangguk mantap. "tentu kami bisa,"

Dan ratu berwajah cantikitu―Oh Yoona―lagi-lagi tersenyum lebih lebar.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan kini memandang ke arah luar jendela dengan tatapan iri. Sudah beberapa minggu ia dikurung di kamarnya dan tidak boleh keluar tanpa seijin Yixing, atau Yang Mulia Sehun. membuatnya hampir mati bosan di kamarnya. Beruntung ia sekarang sudah bisa membaca. Setidakya waktunya sebagian bisa dihabiskannya untuk membaca beberapa dongeng yang menyenangkan.

Bukan bagaimana. Tapi kandungan Luhan sudah memebesar. Dan karena pada dasarnya Luhan termasuk laki-laki yang sebenarnya lemah, ia kadang kadang bisa jatuh dan pingsan begitu saja. Terdengar tidak masuk akal. Tapi begitulah Luhan. Tanyakan bukti hal itu pada Sehun yang sudah menggendong Luhan lima kali saat Luhan tiba-tiba pingsan.

"Luhan!"

Luhan terlonjak diatas tempat tidurnya karena mendengar dobrakan di pintunya dan mendapati Yixing tersenyum lebar ke arahnya.

"Yixing, kau mengejutkanku!" Luhan mengelus dadanya dengan sabar.

Yixing hanya terkekeh dan menjatuhkan badanya ke ranjang Luhan. Tepat didepan pria bermata rusa itu.

"bagaimana kabar calon Mama hari ini?" Yixing bertanya.

Luhan tersenyum mendengarnya. Ia suka jika seseorang menyebut dirinya seorang 'Mama'.

"Baik Yixing, terimakasih sudah bertanya,"

Yixing mengangguk. "kalau kabar pangeran cilik kita bagaimana?" yixing pura-pura mendekatkan telinganya pada perut buncit Luhan.

Luhan terkekeh melihatnya. "Tentu saja baik Ahjushi," kata Luhan menirukan suara anak kecil.

"Ya, jangan panggil aku Ahjushi, panggil Hyung saja otte? Hyung tidak setua itu,"

"Tidak mau, Ahjushi tetap Ahjushi," Luhan memeletkan lidahnya pada yixing yang sudah menatapnya sebal. Luhan tertawa melihat ekspresi kesal Yixing padanya.

"Ya, Luhan-ah, bukan berarti karena kau hamil aku jadi tidak bisa memukulmu kau tahu?" ancam Yixing.

"Oh, kau mau memukulku? Akan kuadukan pada Yang Mulia," Luhan memeletkan lidahnya lagi.

Yixing mencibir kemudian tertawa. "Sekarang kau main mengadukan Lu? Hubunganmu dengan Sehun sudah membaik huh? Kau bahkan dulu sering menangis karenanya,"

Mengingat itu membuat Luhan tersenyum lembut. "yang Mulia sangat baik padaku sekarang,"

Yixing menganggukkan kepalanya lagi. Dengan senyum masih melekat di wajah berdimplenya yang manis itu, ia melihat Luhan yang kini sorot matanya sudah menampilkan kebahagiaan yang selama ini ia nanti-nanti. Raut wajahnya juga lebih ceria. Dan aura Luhan seakan bersinar.

Yixing memandang Luhan lekat. Seperti ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Ia tidak tahu apa. Katakanlah Yixing memang bisa membaca perasaan orang, atau penyakit dan bayi dalam kandungan. Tapi ia bukan Tuhan yang tahu bagaimana masa depan akan terjadi.

Luhan ikut memandang Yixing yang sekarang mengerutkan wajahnya. "yixing-ah, wae? Apakah kau marah?"

Yixing tersentak dari pikrannya. Ia kemudian tersenyum lebar. "Ya, aku marah rusa nakal. Pastikan anakmu itu besok memanggilku dengan sebutan Hyung, mengerti?"

Luhan lega dengan jawaban Yixing. Ia tahu Yixing tidak benar-benar marah padanya. "Tidak mau, aku tidak mau mengajari anakku untuk berbohong,"

"Aish rusa nakal ini,"

Kali ini ketukan di pintu kembali terdengar. Kedua laki-laki di ruangan itu menoleh ke arah pintu.

"Ini aku," suara lembut itu terasa familiar di telinga Luhan. Luhan segera menegakkan duduknya sedangkan Yixing masih tetap berwajah datar.

"O-Oh, masuklah Yang Mulia," kata Luhan sedikit gugup.

Dan pintu pun terbuka. Menampilkan Yoona dalam gaunnya yang sederhana namun tetaap mewah itu. yoona tersenyum pada keduanya. Luhan memebalasnya namun Yixing masih tetap berwajah datar.

Yoona memilih mengabaikan Yixing dan duduk di kursi samping tempat tidur Luhan.

"bagaimana kabarmu?"

"Dia baik," jawab Yixing singkat. Luhan yang sudah membuka mulutnya untuk menjawab menutupnya lagi.

"Bagaimana dengan anakku?" Walaupun kini Luhan sudah merasa Yoona bersikap baik padanya. Tapi dia tetap tidak bisa menghilangkan sifatnya untuk berhenti memanggil anak yang dikandung Luhan hanya sebagai miliknya.

"Baik," jawab Luhan lirih.

"Eomma tidak sabar untuk melihatmu sayang," Yoona mengelus pelan perut Luhan yang sudah sangat membesar itu.

"Mamanya juga sudah tidak sabar melihatnya hadir, Eomma," Yixing mengatakannya dengan nada datar. Luhan memandang yixing khawatir. Meski datar, tapi dalam kalimat itu terkandung makna sindiran yang dalam.

Yoona menghilangkan senyum di wajahnya dan menarik tangannya menjauh. Ia berdehem sebentar lalu beralih ke pada Luhan.

"Kira-kira berapa hari lagi kau akan melahirkan Lu?"

Luhan cepat-cepat menjawab. "Kata Yixing sekitar 10 hari lagi Yang Mulia,"

"Oh baguslah," Yoona tersenyum senang pada Luhan. Dan lagi-lagi tangannya menuju perut Luhan dan mengelus-elus perut itu dengan sayang.

Yixing menatap tajam satu-satunya wanita di ruangan itu. merasa perasaannya makin tidak enak pada wanita di hadapannya ini. Yixing tentu mengenal baik Yoona. bahkan jauh sebelum ia mengenal sosok laki-laki manis bernama Luhan. Yixing tahu betul wanita di hadapannya ini mempunyai fisik rapuh dan penyakit yang mematikan. Namun hatinya lembut dan ia sungguh cerdas. Cintanya tulus dan ia selalu murah senyum pada siapapun.

Namun wanita itu juga sangat keras kepala. Sifat egoisnya luar biasa, sampai kadang Yoona tak segan menyembunyikan apapun yang menjadi kesayangannya. Yixing melirik Luhan. Luhan secara tak langsung merebut apa yang menyadi kesayangan Yoona―anak yang dikandungnya, dan… Sehun.

Walaupun anak yang dikandung Luhan sepenuhnya milik Luhan, namun Yoona sudah menegaskan di awal bahwa anak itu adalah miliknya. Mliknya dan Sehun. sedangkan Luhan tidak akan punya hak apa-apa untuk anak ini.

Dan Sehun… meski Sehun pada awalnya sangat membenci Luhan. Bahkan ia terkesan senang menyiksa pria manis itu, namun sekarang roda sepertinya berputar untuk Luhan. Sehun sedikit-banyak telah berubah. Dan ia jauh lebih memperhatikan kondisi Luhan.

Yixing pikir, bagi yoona hal itu akan sangat mengganggu. Ia tidak suka apa yang menjadi miliknya diambil orang. Dan ia akan melakukan apapun agar kesayangannya kembali padanya. Apapun. Bahakan termasuk menyingkirkan si pesaing.

"Apakah ada yang kau rencanakan Yoona-ya," lirih Yixing pelan. Sangat pelan hingga Luhan tak mendengarnya.

Namun Yoona mendengarnya. Bibirnya naik sedikit saat ia mendengarnya. Ia sungguh hafal betapa tajam insting milik Yixing.

Ya Yixing, kau tunggu saja permainannya.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun berjalan dengan santai menuju kamarnya. Ia membuka pintu besar itu dengan pelan dan mendapati di atas ranjangnya Yoona sedang menyeruput minuman dari cangkir keramik mahalnya. Sehun dengan pelan menuju tempat tidur dan mendudukkan diri di sana. Beringsut mendekati Yoona dan mengecup dahi istrinya sayang.

"Apa yang kau minum hmm?"

Yoona tersenyum memandang Sehun. "Hanya teh," jawabnya singkat.

Sehun mengangguk. Ia mengelus surai hitam Yoona dengan sayang. "Kau sudah minum obat?"

Yoona mengangguk. "Kau sudah mandi?"

Sehun mendengus. Ia menggeleng kemudian turun dari tempat tidurnya. "Kau ini benar-benar, sudah berapa lama kau menikah denganku sampai masih tak tahan dengan bau badanku hmm?"

Terkekeh pelan, Yoona menggeleng. "Kau akan jauh lebih segar jika sudah mandi Sehun, mandilah sekarang,"

Sehun mengangguk. Ia kemudian beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi meninggalkan Yoona bersama cangkir yang masih berisi setengahnya.

Saat menyeruput minuman itu Yoona ingin sekali memuntahkan kembali isinya. Namun ditahannya rasa mual itu dan dilanjutkannya minum. Menyeruput cairan yang sama sekali tidak terlihat seperti teh itu.

Dan beberapa saat kemudian, Sehun keluar dengan pakaian yang lebih kasual dan berjalan santai menuju ranjangnya yang lebar itu. duduk di sana, kemudian berbaring dengan cepat di samping istrinya dengan lengan yang melingkar protektif di pinggang ramping Yoona.

"Anak kita akan segera lahir…" ucap Sehun pelan. "aku sungguh tidak sabar,"

Yoona mengangguk. Tangannya mulai mengelus rambut legam Sehun.

"Kau sudah memikirkan nama?"

Sehun mengangkat bahunya. "Yixing bilang anak kita akan berjenis kelamin laki-laki, jadi…"

"Yixing tak pernah salah Sehun-ah, jadi kau sudah memikirkan nama? Aku boleh tahu?"

Sehun tersenyum memandang istrinya yang cantik itu. "tentu saja, kenapa calon Eomma tidak boleh tahu nama anaknya sendiri?"

"Katakanlah Sehun-ah, jangan buat aku penasaran," Yoona tersenyum makin lebar.

Sehun terdiam cukup lama. Bibir tipisnya mengulum senyum dan matanya menatap lurus ke dalam mata istrinya.

"Oh Haowen," kata Sehun lirih.

Yoona mengangkat alisnya. "Apa?"

"Oh Haowen, aku ingin ia akhirnya menjadi laki-laki yang baik," Sehun tersenyum.

Mengangguk paham Yoona kemudian mengelus wajah suaminya syang. "tentu, aku menyukainya, semoga anak kita akan menjadi laki-laki yang baik,"

Sehun menggenggam tangan istrinya. "Ya, laki-laki yang baik hati,"

.

.

.

.

.

.

Flashback

Sehun mengetuk kamar Luhan dengan amat pelan. Antara ia sebenarnya ragu-ragu untuk ingin masuk dan mengganggu tidur pria mungil itu atau pergi dan membicarakan hal ini esok pagi.

Namun kemudian suara kenop pintu yang berputar dan krietan pelan kayu yang dibuka serta Luhan yang berdiri di ambang pintu dengan wajah setengah tidurnya, mengijinkan Sehun untuk masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu.

Begitu Sehun masuk, Luhan langsung menutup pintunya dan mendudukan dirinya dengan hati-hati di ranjang tepat bersebelahan dengan Sehun.

Sehun terdiam cukup lama kemudian menengok ke arah Luhan. Ia sudah membuka mulutnya untuk berbicara namun hanya mendapati pria mungil tadi tertunduk-tunduk yang menandakan ia masih mengantuk. Dengan putaran bola mata dan helaan nafas panjang, Sehun membaringkan tubuh mungil Luhan dengan hati-hati. Setelah merasa Luhan sudah nyaman dalam tidurnya, Sehun ikut membaringkan tubuhnya dengan nyaman di samping Luhan. Menarik kain yang cukup tebal itu dan menyelimutkannya sampai batas dagu Luhan. Yang berarti hanya sampai batas dada Sehun saja.

Sehun memandang Luhan yang kini sudah nyenyak dengan nafas yang ditarik teratur dan bibir sedikit membuka. Sehun tersenyum melihatnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada atap kamar Luhan.

"Padahal aku ingin membicarakan hal penting denganmu," Sehun membuka suaranya. Seolah sedang berbicara pada orang yang nyatanya tertidur sangat pulas di sampingnya.

"Sebentar lagi anak itu akan lahir," diam sebentar. "Aku hanya bertanya-tanya nama apa yang harus kuberikan padanya,"

Sehun memandang lagi Luhan yang masih terlelap dengan mulut terbuka dan sudut bibir yang sedikit berair.

"Ck," Sehun mendengus. Walaupun disertai senyuman yang tak hilang dari bibirnya. "Kau ini benar-benar, padahal aku ingin berbicara serius,"

Sehun menghela nafasnya. Mungkin benar ia harus membicarakan hal ini esok hari. Saat ia menyamankan posisi tidurnya, kepalanya yang menengok ke kanan mendapati sebuah buku yang cukup tipis. Dan dengan lancang Sehun mengambil dan membuka isinya.

Matanya melebar dan bibirnya tersenyum mendapati beberapa huruf hangul yang tertulis di sana. Apakah pria di sampingnya ini sedang belajar menulis sekarang? Sehun tertawa melihat tulisan Luhan yang masih berantakan. Namun Sehun yakin, jika Luhan sudah terbiasa, tulisannya akan jauh lebih indah bahkan dari miliknya sendiri. Sehun memang bukan orang yang peduli benar akan kerapian.

Sehun terus membuk-buka isi buku yang tipis itu. membaca-baca kalimat sederhana yang ditulis dengan tinta di sana. Sampai Sehun menemukan sebuah tulisan yang membuat fokusnya memuncak.

'Pangeran Oh Haowen'

Sehun mengenrnyit. Siapa ini yang disebut Haowen. Sehun membaca lagi tulisan di bawahnya.

'Anakku, pangeran Oh Haowen'

Dan kemudian Sehun tersadar. Luhan telah memikirkan nama yang akan diberikan pada calon anaknya kelak. Sehun tersenyum hingga gigi putihnya itu terlihat. Ia membaca lagi baris tulisan di bawahnya.

'Pangeran laki-laki yang baik hati. Haowen, laki-laki yang baik hati'

Tulisan ini sempat beberapa kali dicorat-coret karena salah penulisan oleh Luhan. Sehun tertawa. Laki-laki yang baik hati, apakah itu arti dari nama Haowen?

"Haowen," Sehun mencoba mengucapkannya dengan bibirnya sendiri.

"Haowen," Sehun bergumam lirih. Namanya menang sedikit ganjal dengan lidahnya. Namun terasa nama itu pas dan mengalir lancar dalam lidahnya.

"Oh Haowen," Sehun bergumam lagi. Ia kemudian terkekeh singkat. Tidak keras karena tidak mau mengganggu laki-laki mungil yang sedang tidur di sampingnya ini.

Sehun kemudian berbaring menyamping. Kepalanya ia arahkan ke perut Luhan yang menggembung itu. dan tangannya sudah bergerak mengelus-elus gundukan itu. "Oh Haowen," gumamnya sekali lagi.

Sehun memajukan wajahnya dan mengecup singkat perut Luhan. "Haowen-ah, cepatlah lahir, Appa sudah tidak sabar melihatmu," satu kecupan lagi mendarat di perut Luhan. "dan tumbuhlah menjadi pria baik-baik, seperti doa Mamamu, jangan seperri Appa," Sehun tersenyum. Ia memandang wajah Luhan yang kini tersenyum dalam tidurnya. Luhan memang terlelap, tetapi saluran kasih sayang Sehun sepertinya juga menyapa Luhan, walau dalam tidurnya.

Flashback end

.

.

.

.

.

.

Baekhyun dan Chanyeol sedang bersantai di taman istana. Dan pembicaraan santai mereka kini akhirnya sampai pada topik nama bayi. Walaupun Baekhyun baru akan melahirkan sekitar satu bulan lagi, namun topik seperti ini sepertinya memang pantas dibicarakan kan?

"Apa?"

"Aku ingin saat anak kita lahir, orang tuamu lah yang memberi mereka nama,"

Chanyeol menggosok kuping caplangnya itu. "Apa aku tidak dengar?"

Baekhyun memutar bola matanya malas. Dia sudah mengulangi perkataannya setidaknya tiga kali dan Chanyeol tetap mengatakan ia tak mendengarnya cukup jelas. Demi Tuhan, Baekhyun tidak berbisik atau menggumam saat mengatakannya.

"Chanyeol berhentilah. Lagipula mereka orang tuamu apa salahnya?" Baekhyun berusaha berkata lebih lembut.

Chanyeol mengerang. "tapi ini anak kita baek. Ki―Ta. Aku ingin memberi mereka nama sendiri,"

Baekhyun hanya menghela nafasnya. "Baik, katakan nama apa yang kau pilihkan untuk si kembar?"

Ya, Baekhyun dan Chanyeol memang akan memiliki sepasang anak. Suatu anugrah yang besar. Chanyeol bahkan menangis saat mengetahui ia akan langsung mempunyai dua momongan sekaligus. Benar-benar menakjubkan.

"Chelsea dan Jesper Park. Bagaimana?" Chanyeol tersenyum lebar sekali. Selebar saat Bundanya mengijinkannya memakan seluruh persediaan kue di dalam toples.

Baekhyun menepuk wajahnya pelan. "Chanyeol-ah, itu nama yang bagus. Tapi Chelsea? anak kita laki-laki,"

Chanyeol mengangguk. "memangnya tidak ada anak laki-laki yang bernama Chelsea?"

Baekhyun mengurut kepalanya yang mulai pusing. "Turuti saja kemauanku ne? Kemauanku sama dengan kemauan anakmu, dan anakmu ingin dinamai oleh lelaki dan neneknya,"

Chanyeol sudah hampir membuka mulutnya sebelum Baekhyun mneyela.

"Aku lelah, antar aku ke kamar?"

Chanyeol menutup lagi mulutnya dan memberengut lucu. Merajuk. Baekhyun yang melihatnya jadi merasa bersalah. ia kemudian mengambil tangan Chanyeol yang terlipat di atas meja.

"Chanyeol-ah, aku hanya ingin berterimakasih pada orang tuamu yang mau menerimaku. Dan karena mereka sudah sangat baik karena merestui pernikahanmu denganku. Aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Mereka sangat menantikan kehadiran cucu mereka yang pertama, jika suatu saat kita akan memiliki bayi lagi, aku akan menyerahkan seluruhnya padamu, hmm?"

Chanyeol memandang istrinya itu dengan diam. Bahkan istrinya sampai memikirkan kedua orang tuanya. Tapi Chanyeol sebagai anak kandung sendiri malah tidak memikirkan orang tuanya. Hh, Chanyeol merasa sangat buruk sekarang.

"Arraseo, jadi ke kamar Baek?" Chanyeol berkata dengan lirih. Baekhyun tersenyum dan mengangguk. Kemudian Chanyeol berdiri dan menggenggam tangan Baekhyun yang tidak memegangi perutnya yang membesar itu.

Chanyeol mengalungkan lengannya ke punggung pasangan sehidup sematinya dan menuntunnya kembali ke kamar.

.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo meremas jari tangannya dengan khawatir. Sebentar lagi ia akan menemui kakak Jongin dan secara mental ia belum siap. Entahlah. Mungkin Kyungsoo merasa ia tak akan pernah siap.

Jongin menggenggam tangan Kyungsoo dan membuat pria itu menoleh ke arahnya. Kai menatapnya dan tersenyum menenangkan. "Semua akan baik-baik saja Kyung," lirihnya.

Pintu besar itu terbuka. Kyungsoo menundukkan kepalanya dan hanya menatap lantai marmer yang ia pijak saat ini. Sedangkan Jongin dengan gagah berjalan lurus dengan pandangan mata tegas ke arah Hyungnya yang duduk di depannya. Tangannya dengan erat menggenggam tangan mungil Kyungsoo, menuntunnya berjalan.

"Hyung," sapa Jongin begitu mereka berhenti tepat di hadapan kakak laki-laki Jongin. Untuk beberapa detik Kyungsoo menengok ke depan dan mendapati wajah kakak laki-laki Jongin yang terlihat ―entahlah, kesal? Atau bosan?

Namun begitu tatapan kakak laki-laki Jongin beralih padanya, Kyungsoo menunduk sekali lagi. Semakin dalam dan genggaman pada tangan Kai semakin erat.

"Kau berani pulang? Setelah kau mengacaukan pernikahanmu kau berani pulang?" kakak laki-laki Jongin mulai mengeluarkan suara. Kyungsoo secara reflek berlindung di balik punggung Kai.

"Aku ingin memeperkenalkanmu pada seseorang," jawab Jongin mantap.

"Jongin….b-bagaimana j-jika…." Kyungsoo menggenggam lengan kemeja Jongin erat. Mencegahnya berbicara lebih lanjut.

"Dia Kyungsoo. Do Kyungsoo. Kekasihku. Satu-satunya orang yang akan kunikahi,"

Dengan perkataannya, Jongin menarik Kyungsoo ke depan. Menjajarkan tubuh mungil Kyungsoo yang gemetar bersanding dengan tubuh Jongin yang berdiri gagah. Kyungsoo mau tidak mau memandang kakak laki-laki Jongin yang menaikkan salah satu alisnya saat melihat Kyungsoo.

"Kau mengacaukan pernikahanmu, membuat masalah dengan kerajaan lain dan membuatku dalam posisi sulit hanya untuk…dia?"

Jongin mengatupkan bibirnya rapat.

"Jongin, kau sadar kan apa yang kau perbuat? Jangan bodoh,"

"Kami akan menikah," kata Jongin mantap. Menghiraukan perkataan kakaknya sebelumnya.

Lelaki di hadapan Jongin dan Kyungsoo mendengus. "Kau kembali hanya untuk mengatakan itu? Kau mau apa sebenarnya? Meminta restuku?"

Jongin mengangguk. "Ya,karena aku masih menghormati Hyung sebagai kakak dan orang yang mengurusku selama ini, tapi demi Kyungsoo aku tidak segan menolak semua perkataanmu,"

Mata Kyungsoo melebar mendengar perkataan Jongin. "Jongin-ah, i-ini tidak baik..k-kau―"

"Begitukah? Lalu apa rencanamu selanjutnya?" perkataan kakak Jongin memutus perkataan Kyungsoo yang terbata-bata.

"Aku akan menikahinya."

"Lalu? Kau pikir masalahmu selesai dengan menikahinya? Bodoh." Cibir kakak Jongin. Kini lelaki itu turun dari tempat duduknya dan mendekati Jongin. Tepatnya kini ia berada di depan Jongin. Meskipun berstatus kakak, tapi tampaknya Jongin lebih tinggi dari kakaknya ini.

"Kau menghancurkan hubungan 2 kerajaan Jongin. Kau pikir apa yang kau lakukan?" tantang kakak laki-laki Jongin.

"Hyung, kumohon, aku hanya ingin restumu,"

Kakak laki-laki Jongin menatap tajam adiknya itu. lalu dengan sigap, tangan kanannya naik ke atas kemudian dilayangkanlah tangannya yang kemudian jatuh dengan keras di pipi Jongin.

Kyungsoo memekik keras.

"Kim Jongin, aku kecewa padamu, aku kecewa karena kau tidak jujur sejak dulu padaku. Sekarang, saat semua kacau kau ingin aku merestuimu? Baik. Aku akan memberikaan restuku padamu, jika kau bisa mengembalikan hubungan baik kerajaan kita, dengan kerajaan mantan tunanganmu. Dan sebelum kau melakukannya, aku tidak ingin melihatmu di sekitarku."

Dengan itu, kakak Jongin pergi meninggalkan pasangan itu berdiri di ruangan luas yang mewah itu. Kyungsoo sedikit berjengit kaget saat mendengar suara pintu kayu itu dibanting dengan keras.

Kyungsoo mendekat ke arah Jongin yang masih terdiam. Ia berdiri di hadapan laki-laki tampan miliknya itu dan mengelus pelan pipinya yang memerah.

"Apakah sakit?" tanyanya lirih.

Jongin tersenyum. Ia mengangguk. "selama kau di sisiku, aku tak akan sakit,"

Kyungsoo hanya tersenyum kecil mendengar rayuan itu.

"Kyung…tidak usah dipikirkan hmm? Junmyeon hyung memang seperti itu,"

Mata bulat itu menatap Jongin lekat. Bibirnya tersungging senyum lemah. "Aku bahkan baru tahu nama hyungmu saat ini, bahkan setelah percakapan panjang itu,"

"Kyung…"

"Gwenchana, gwenchana Jongin-ah, mari selesaikan ini hmm? Aku, akan berjuang bersamamu,"

Jongin merengkuh tangan Kyungsoo yang masih ada di pipinya dan memebawanya ke hadapannya. Kemudian dengan sayang ia mengecup tangan putih itu dan mendekapnya.

"Mari berjuang untuk kita Kyung,"

.

.

.

.

.

.

.

Di sebuah kamar yang tak cukup luas itu, Luhan tadinya sedang duduk di atas ranjangnya dan kembali belajar menulis saat tiba-tiba, ia merasakan sakit yang amat sangat di dalam perutnya.

"A-ahh…agghhh…" Luhan merintih pelan. Pena yang di genggamnya lama terjatuh. Kini ia hanya memegangi perutnya yang terasa teremas dengan kuat itu.

"T-tolong….u-ughh….t-tolong…." Luhan berusaha berdiri meskipun kakinya kini terasa seperti jeli, dan keadaan perutnya yang sakit itu seakan menambah beban tubuh yang harus ditanggungnya.

Luhan terjatuh tepat dipintu kamarnya. Ia menengok ke arah lantai saat merasa ada sesuatu yang mengalir di kakinya. Matanya yang cantik itu melebar karena terkejut. Air ketubannya paru saja pecah. Ini berarti saat yang ditunggu akhirnya tiba.

Dengan cepat Luhan bereaksi dengan menggedor pintu kamarnya. Kakinya tak mmapu ia bawa untuk menopang dirinya. Dengan lemah tangan yang sekurus ranting itu mencoba membuat bunyi yang bisa menarik perhatian.

"T-tolong…ughh….t-tolong…"

Perutnya terasa amat sakit saat ini. Seperti ada sesuatu yang mendesak di dalam sana. Air mata Luhan juga sudah beberapa saat menetes. Tak kuasa menahan sakit yang ia rasa. Tangannya bahkan kini sudah terkulai lemas mencengkram perutnya yang membulat itu, berhenti membuat suara yang menarik perhatian.

Tak lama kemudian yang terasa seperti berjam jam kemudian bagi Luhan, terdengar suara dari luar kamarnya. "Saya mendengar suara dari kamar anda, apakah anda baik-baik saja?"

Luhan bersyukur ada penjaga yang mendengarnya. Dengan cepat ia menjawab pertanyaan penjaga itu. "A-aku akan…hhhh…m-melahir―Aaahhh!"

Penjaga yang berada di luar kamar Luhan dengan segera membuka pintu kayu yang menghalangi mereka. Dan saat terbuka di dapati mereka, Luhan yang meringkuk dengan tangan mencengkram perutnya dan sesuatu yang mengalir di kakinya.

Penjaga itu masih sempatnya untuk terpaku memandang Luhan. Setelah ia mendengar lagi rintihan Luhan barulah ia tersadar dan dengan segera mencoba membuat Luhan berdiri.

Usahanya sia-sia tentu saja, Luhan sudah tak mampu lagi berdiri. Penjaga itu kemudian berteriak-teriak meminta tolong. Luhan hanya mampu bernafas dengan berat. Matanya seolah lelah dan pandangannya mengabur dan berputar. Suara-suara yang ada di sekitarnya pun seolah olah menggema dan tidak jelas. Rasa sakit di perutnya semakin terasa. Luhan seperti melihat seorang laki-laki berkulit pucat yang familiar yang menyuruhnya untuk tetap terjaga. Sehun? batinnya. Sehunnya sudah ada di sini, dan ia pikir semua kini akan baik-baik saja. Namun akhirnya ia kalah dan menyerah pada rasa sakitnya. Dan akhirnya pandangannya menggelap.

.

.

.

.

.

Sehun sedang akan berjalan ke ruangan Luhan ketika ia mendengar teriakan-teriakan minta tolong dari arah yang menjadi tujuannya. Sehun mengernyit sebelum ia bawa kaki jenjangnya untuk melaju ke arah yang sebelumnya sudah sangat ia hafal itu.

Ia berhenti dengan cepat di depan pintu yang biasanya tak terbuka lebar itu. mendapati Luhan yang terbarng lemah di pangkuan seorang penjaga.

"Y-Yang Mulia, L-Luhan―"

"Aku tahu." Sehun memotong perkataan penjaga itu dan langsung menempatkan dirinya di samping Luhan. Ia lega ketika mendapati Luhan masih membuka matanya walau hanya seperempat dari biasanya dua bola mata itu terbuka. Sehun mendengar nafas Luhan yang berat dan kening Luhan yang kini sudah dipenuhi bulir bulir keringat.

Sehun menyuruh penjaga itu untuk memberi kabar pada Yixing bahwa Luhan akan melahirkan supaya Yixing segera menyiapkan apa yang ia perlukan dan juga panggil penjaga lain untuk membantunya membawa Luhan pada yixing. Penjaga itu mengangguk menerima perintah dari Sehun dan segera ia berlari melaksanakannya.

Sehun segera mengalihkan pandangannya lagi pada Luhan. Ia menepuk nepuk pipi Luhan yang sudah tak merona dengan merah itu dengan lembut.

"Luhan…Luhan bertahanlah….jangan pingsan…jangan―"

Mata Luhan tertutup sempurna.

Sehun seperti tidak bisa bernafas saat itu. dengan kalap ia lalu menggendong Luhan dan membawanya segera kepada yixing. Entah kekuatan dari mana pun ia tidak tahu. Berat Luhan bertambah banyak dan Luhan tidak lagi seringan bulu sekarang. Tapi kini itu semua tidak berarti apa-apa bagi Sehun. yang menjadi fokus utamanya saat ini hanya membawa Luhan pada yixing.

Karena ia tidak mau apapun terjadi pada Luhan.

Luhannya dan anaknya.

.

.

.

.

.

.

.

"YIXING!"

Sehun masuk ke ruangan rawat yang pintunya sudah terbuka lebar. Yixing kemudian datang menghampiri Sehun dengan sedikit tergesa-gesa.

"Sehun! Baringkan Luhan di sana! Cepat!" Yixing dengan berusaha tetap tenang―walaupun ia sendiri sudah merasa panik―mengarahkan Sehun yang masih menggendong Luhan ke sebuah ranjang putih yang sudah dikerubungi oleh beberapa pelayan yang akan membantu persalinan. Saat Sehun membaringkan Luhan, dilihatnya meja samping yang sudah penuh dengan benda-benda tajam. Sehun bahkan tidak mau membayangkan apa dan bagaimana kegunaan benda-benda menyakitkan tersebut.

Yixing dengan segera membuka pakaian yang dikenakan Luhan, dan mengambil salah satu dari sekian banyak pisau yang ada di sana. Namun sebelum pisau itu mendarat di perut menggembung Luhan, Sehun menahannya.

"Yixing, Luhan pingsan, apakah―apakah―"

Yixing langsung menepis tangan Sehun. sembari ia mulai menancapkan pisau itu di perut Luhan dan membawawa pisau yang menancap di perut buncit itu secara vertical, dalam kata lain, membelahnya. Sehun mendesis perih melihatnya. Matanya beralih pada wajah Luhan yang pucat pasi.

"Aku tidak bisa mengatakan jika pingsan merupakan hal yang buruk. Bersyukurlah setidaknya Luhan tidak merasakan sakitnya, namu juga berharaplah tidak ada kejadian buruk karena ia pingsan Sehun." kata Yixing menjelaskan. "Semoga Luhan sadar di akhir proses, berharaplah,"

Sehun melihat wajah yixing yang menyiratkan keseriusan dan…kecemasan. Sehun mengangguk. Ia hanya bisa berharap yang terbaik saat ini. Tangannya yang lebar ia bawa pada tangan Luhan yang terkulai lemas di sisi tubuhnya. Saat mengangkat tangannya ia merasa tangannya sekali betapa cemas, gugup, dan khawatirnya Sehun saat ini.

Dan saat tangannya berhasil menggapai tangan Luhan yang lebih kecil, ia merasa bebannya sedikit terangkat. Sebenarnya Sehun ingin menggenggam tangan Luhan untuk memberi rasa aman bagi Luhan, namun ternyata, perlakuan itu lebih berlaku untuknya. Tangan Luhan memberi kenyamanan padanya.

BRAK!

Pintu ruangan Yixing di dobrak keras oleh seseorang yang langsung tergesa-gesa masuk. Sehun menoleh ke belakang dan mendapati istrinya kini berjalan dengan buru-buru ke arah mereka. Sedangkan yixing hanya mnedesis marah saat konsentrasinya dibuyarkan oleh suara dobrakan pintu.

"Luhan sudah melahirkan? Kenapa tidak seorangpun memberitahuku?!"

"Yoona tenanglah…" Yixing memeperingatkan.

"Tidak! Anakku akan lahir dan tidak ada seorangpun―"

"DIAM!"

Seketika yoona mengatupkan lagi bibir tipisnya itu. Yixing menggertaknya sambil menodongkan pisau yang berlumuran darah. Membuat yoona menelan lagi kata-katanya dan kini hanya berdiri tenang agak jauh dari ranjang tempat Luhan berbaring.

"Enghh…sshh…"

Sehun dan Yixing langsung menengok ke arah Luhan yang kini mulai sedikit demi sedikit membuka matanya.

"S-sakit…s-sakit…."

Yixing yang sadar ia sudah kehilangan fokusnya langsung meneruskan pekerjaannya. Dengan sebentar ia melirik Sehun dan mengisyaratkan sesuatu yang dibalas dengan anggukan dari Sehun.

"Tenangkan Luhan, Sehun."

Sehun kini menggenggam tangan Luhan dengan lebih erat. Berusaha memberi rasa nyaman dan aman yang memang sejak pertama ia tawarkan.

Tangannya yang satu ia bawa untuk mengelus surai Luhan yang mulai basah karena keringat. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut Luhan yang mulai tertempel di dahinya dan berpotensi menusuk matanya. setelah semua ini selesai, Sehun harus memotong rambut Luhan yang mulai panjang ini.

"S-sakit…sakit sekali…hiks…h-hentikan…"

"T-tenanglah Luhan…t-tenanglah…" suara Sehun terdengar tidak yakin. Ia sendiri cemas dan khawatir. Debaran jantungnya kini bertambah cepat. Apalagi kini Luhan tengah menangis. Demi Tuhan, Sehun ingin semua ini segera berakhir.

"S-Sehun…h-hentikan…X-xing s-sakit…hiks…s-sakit…."

Sehun tidak tahu apalagi yang harus ia perbuat. Tangan Luhan kini seperti sedikit terkulai lemas di tangan Sehun. Sehun menggigit bibirnya hingga ia merasa sedikit asin memnyapa indra pengecapnya. Bibirnya kini berdarah. Parahnya kini matanya ikut memanas seolah bendungan air mata yang tak pernah sekalipun terjadi sebelumnya itu kini tiba-tiba ingin mencair.

"Sehun! Pastikan Luhan terjaga! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia pingsan lagi!" Yixing berteriak. Pisau yang sedari tadi ia pegang itu kini ia letakkan. "Aku akan mulai mengeluarkan bayinya sekarang…"

Sehun kini berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Sebisa mungkin ia ingin membantu. Jika ia harus menjaga agar Luhan tetap terjaga, maka ia akan melakukannya.

"L-Luhan…Luhan lihatlah ke arahku…jangan, jangan pedulikan sakitnya hmm? H-Haowen akan segera lahir,"

"H-hao..w-wen…"

Sehun mengangguk. "Hmm, Haowen akan segera bersama-sama dengan kita, berjuanglah Luhan, berjuanglah hmm?" Sehun membawa tangan Luhan yang ia genggam dan mengecupnya berualang kali. "Berjuanglah…berjuanglah…Luhan…"

"T-tapi…s-sakit…Sehun…s-sa―AAAAAGHHHHHH!"

Luhan berteriak keras. Sehun terlihat panik. Ia melihat ke arah yixing yang kini juga menengok ke arahnya dengan senyum lega. Di genggamannya ada seorang bayi yang kini tengah menangis.

Bayinya….

Anaknya…

Haowen…

Sehun menitikkan air matanya saat itu juga.

Beralih ke arah Luhan, Sehun segera mengecup dahi Luhan. Ia mengecup pipi Luhan kemudian. Bahkan hidung Luhan yang mungil itu. Ia berhenti sejenak. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti meter saja dari Luhan.

"L-Luhan-ah….Luhan-ah, anak kita…H-Haowen sudah lahir…." kemudian Sehun mengecup bibir Luhan yang tersenyum itu dengan pelan.

Saat Sehun melepaskan kecupannya, ia memandangi Luhan yang terlihat pucat pasi. Luhan seperti akan menutup matanya lagi. Sehun dengan cepat langsung menangkup pipinya. Menepuknya pelan. "Luhan…s-sadarlah…Luhan…."

"Sehun…biarkan…biarkan Luhan istirahat…"

Yixing kini telah selesai menjahit kembali perut Luhan. Kemudian Yixing tak lupa menutupnya dengan perban. "Kita hanya bisa berharap, Luhan akan bangun secepatnya,"

yixing memandang Sehun yang tampak khawatir. Kemudian ia tersenyum menenangkan. "Luhan akan bangun, ia orang yang kuat Sehun,"

Sehun hanya mengangguk. Ia sekali lagi mengecup pelan dahi, hidung, dan terakhir bibir Luhan.

Melihatnya, yixing mendengus. "Kenapa tak seklaian kau memakan wajahnya?" Sehun hanya balas tersenyum mendengarnya.

"Temuilah anakmu, aku masih akan mengurusi Luhan,"

Sehun mendongak dari tatapannya yang semula terarah pada wajah Luhan.

"Bolehkah?"

Yixing mengangguk. "Hmm, tentu saja, para pelayan sudah memotong arid an membersihkannya saat ini, temuilah putramu Sehun, dan…"

Sehun menaikkan alisnya pada ucapan yixing yang menggantung.

"…selamat karena sudah menjadi seorang ayah, Sehun-ah,"

Sehun tersenyum. Tulus, dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Bahkan matanya yang tajam itu melengkung membentuk bulan sabit yang indah.

"Terimakasih atas ucapannya Yixing, aku harus berterimakasih pada pria mungil ini saat ia sadar karena memberiku kesempatan menjadi seorang ayah," Sehun mengecup lagi bibir Luhan yang sedikit terbuka. "Terimakasih, Luhan…"

Dan dengan sedikit berlari dan tengokan terakhir ke arah Luhan, Sehun berlari ke luar ruangan untuk menemui putranya yang baru saja bergabung di dunia ini.

Yixing memandangi kepergian Sehun dengan senyum. Ia beralih ke arah pria yang kini sedang terbaring dan tak sadarkan diri. Sejujurnya yixing tak tahu apa yang akan terjadi nantinya pada Luhan. Fakta bahwa Luhan masih bernafas sesungguhnya melegakan perasaan yixing yang khawatir.

Wajah Luhan pucat pasi. Kulitnya kini bahkan lebih putih dari yang seharusnya. Yixing tahu Luhan kehilangan banyak darah. Yixing membuka sebuah botol yang telah lama ia siapkan dan meminumkannya ke Luhan. Ia memang sudah membuat ramuan obat yang sekiranya bisa membantu. Ramuan berwarna hijau pekat itu ia tegukkan ke dalam mulut Luhan.

Dengan hati-hati, yixing dan beberapa orang yang bertugas sebagai pelayan, mengangkat tubuh Luhan dan memindahkannya ke ranjang yang lebih bersih kemudian menyelimutinya.

"Semoga semua akan baik-baik saja…" lirih Yixing.

.

.

.

.

.

.

"Yoona?"

Yoona segera menengok ke belakang. Mendapati suaminya kini berjalan dengan pelan ke arahnya. Yoona tersenyum lebar. Memamerkan anak laki-laki yang berada dalam gendongannya.

"Sehun-ah, kemarilah,"

Sehun mengernyit ketika ia telah mendekat dan mendapati anaknya meminum asi dari istrinya.

"B-bagaimana―"

"Yixing memberiku ramuan agar aku bisa menyusui Sehun-ah, kau tak berpikir untuk memberi anak kita susu sapi kan?" Yoona tersenyum menenangkan.

"Ah, begitu…" Sehun beralih memandang anak yang kini sudah berhenti menyusu itu. Semakin memandangnya, senyum Sehun terlihat semakin lebar. Tampak binar bahagia di matanya yang biasanya kelam itu.

"Dia mirip sekali denganmu," kata Yoona sembari tersenyum manis.

Sehun memandang lekat bayinya. Ya tampaknya keseluruhannya merupakan copy dari dirinya. Sampai si jabang bayi membuka matanya dan tampaklah binary coklat di sana.

"Ah, ia mendapatkan mata Luhan," ucap Sehun masih tersenyum lebar. "Matanya seolah berkilau," Sehun tertawa.

Kata-kata Sehun langsung menghapus senyum di bibir Yoona. namun Yoona juga ikut tertawa kemudian. Meski palsu, namun aktingnya terlihat bagus. Dalam hati ia berdoa, semoga rencananya berjalan baik, dan Luhan segera pergi.

Pergi jauh dari segala miliknya.

.

.

.

.

.

.

Tengah malam, dua orang berbadan besar memasuki ruang rawat dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin. Salah satunya berjaga di depan pintu, dan seorang lagi berjalan mendekati salah satu ranjang.

Penjaga itu sudah sampai di depan ranjang yang di atasnya terbaring lelaki mungil yang tampak tak berdaya. Penjaga itu agak mengernyit ketika mendapati perut korban yang akan dibawanya sedang diperban.

"Song In! Dia terluka!" bisiknya agak keras agar rekan pria yang bertugas berjaga itu mendengarnya.

"Kita tak punya waktu banyak Ki Won! Sudahlah! Ikat dia dan bawa dia! Bukan urusan kita jika dia terluka!" jawab penjaga yang bernama Song In itu.

Penjaga yang bernawa Ki Won itu dengan sedikit tak tega mengangkat tubuh Luhan yang masih tampak tak mau bangun itu. Kemudian dengan cekatan, ia mengikat tangan Luhan ke belakang tubuhnya, serta mengikat kakinya menjadi satu. Menghentikan akses pergerakan apapun dari Luhan. Untuk jaga-jaga, Ki Won menutup mulut Luhan dengan kain yang ia ikatkan di mulutnya. Setelah selesai, ia rogoh kantung celananya dan mengambil segumpal kertas yang ada di sana kemudian menaruhnya di atasbantal yang tadi ditiduri oleh Luhan.

"Cepatlah! Waktu kita tak banyak!" Songin berteriak dari arah pintu. Ki Won mengangguk, kemudian ia menggendong Luhan dan membawanya ke arah rekannya itu.

"Penjaga akan mulai berpatroli di bagian istana ini sebentar lagi. Kita harus berlari cepat menuju halaman belakang istana. Di sana sudah kusiapkan kereta kuda dibalik semak-semak tinggi dan penjaga seharusnya sudah selesai berpatroli di sana, mengerti?"

Sekali lagi Ki Won mengangguk dan mulai mengikuti rekannya keluar dari ruang rawat itu. mereka berlari dengan cepat dan sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara. Hingga sampai di halaman belakang istana, mereka tak sekalipun ditemukan oleh penjaga. Ki Won dengan Luhan segera masuk ke dalam kereta. Kemudian Song In segera membenahi penampilannya agar mirip dengan seorang pedagang. Setelah selesai dengan cepat ia duduk di atas tempat duduk kusir dan mulai menjalankan keretanya. Menjauh dari halaman istana.

Luhan saat itu dibaringkan begitu saja di lantai kayu kereta kuda itu. Ki Won masih berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Jalan yang dilalui kereta itu agak lama kemudian mulai tidak rata. Membuat kereta berguncang beberapa kali.

Wajah Luhan yang semula datar kini mulai mengernyit. Tak lama mata yang berhias bulu mata lentik itu terbuka. Perlahan. Menampilkan manik matanya yang coklat berkilauan.

Luhan mencoba berbicara. Namun sesuatu menghalanginya. Ia mencoba bergerak namun sesuatu juga seperti menahannya. Apa yang terjadi? Pikirnya. Ia kembali mencoba berbicara. Bahkan berteriak. Namun hanya gumaman yang ia dengar. Kemudian ia sadar jika mulutnya sedang disumpal dengan sesuatu. Juga tangan dan kakinya yang diikat dengan tali.

"Diamlah!"

Suara seseorang menyadarkan Luhan yang kemudian mendongak. Ia kemudian mendapati wajah seorang laki-laki yang tak dikenalnya. Mendapati itu, Luhan makin kehilangan control emosinya dan berteriak semakin keras. Laki-laki yang berbicara tadi kini mulai menenangkan Luhan. Menyuruhnya diam, namun walau begitu, Luhan tak berhenti melakukan perlawanannya.

Tiba-tiba kereta kuda ini terhenti. Luhan seketika ikut berheti berteriak dan meronta karena terkejut. Namun saat didapatinya ada seorang laki pria berbadan besar, Luhan semakin keras berteriak dan meronta.

Pria yang baru saja masuk ke dalam kereta itu mendekati Luhan kemudian menjambak rambutnya agar Luhan mendongak. Dan dengan kasar menampar pipi Luhan dengan cukup keras.

PLAK!

"Diamlah dasar sampah!"Song In berteriak tepat di hadapan Luhan.

Luhan yang memang sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, dan juga tubuhnya yang sakit, serta fakta bahwa ia kini sedang dibawa entah kemana membuatnya ingin menangis.

Juga anaknya yang baru saja ia lahirkan…

Luhan semakin keras menangis. Ia tidak akan bertemu dengan anaknya. Bahkan melihatnya secara langsung pun ia belum sempat. Ingatan satu-satunya tentang anaknya hanya saat ia melihat Yixing mengangkat anaknya. Pandangannya agak kabur dan tidak jelas saat itu. Dan hanya itu.

Haowen….

Ki Won yang melihat itu agak sedikit tidak tega. "Sudahlah Song In, jangan bersikap kasar padanya, dia terluka,"

Songin yang mendengarnya mendecih. Kemudian ia hempaskan tubuh Luhan ke lantai. "Diam dan nikmati perjalananmu," kemudian ia meninggalkan rekannya dan Luhan yang masih menangis begitu saja. Kembali ke kursinya dan kereta mulai berjalan lagi.

Sepanjang perjalanan dihabiskan Luhan dengan berpikir tentang anaknya. Bagaimana ia menyesal tidak sempat melihatnya, ataupun menggendongnya. Luhan menangis, dan menangis. Kenapa seolah takdir tak pernah berpihak kepadanya. Atau keberuntungan yang enggan berada terlalu lama di sisinya.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi-pagi sekali, Sehun diam-diam masuk ke dalam ruang rawat bermaksud menengok dan mengejutkan Luhan. Ia membawa Haowen dalam gendongannya walaupun nampak sekali ia belum terbiasa dengan hal ini. Sehun melangkah dengan pelan dan tanpa suara. Ia berjalan mendekati ranjang Luhan, berharap menemukan tubuh mungil yang masih tertidur lelap di sana.

"Lu―"

Namun ranjang yang dimaksud kini hanya menampilkan gumpalan kertas kecil.

"―han…"

Sehun mengernyit mendapati kertas itu. ia mengedarkan pandangannya ke ruangan luas itu dan mendapati tidak ada lagi ranjang yang di tempati. Sehun memungut gumpalan kertas kecil itu dan membukanya perlahan. Membaca tiap huruf yang ditulis agak berantakan itu, Sehun seperti mengenal siapa pemilik tulisan ini. Dan…sepertinya dugaannya benar. Tertulis jelas di sana siapa pemilik tulisan ini bersama pesan yang ingin di tinggalkan.

Aku ingin bebas. Jangan mencariku.

Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

"Ki Won! Bangunlah, kita harus memberi beberapa perlengkapan,"

Pintu kereta dibuka dan Luhan yang sudah terbiasa dengan kegelapan di dalam kereta sedikit mengernyitkan matanya yang membengkak karena sinar matahari. Ternyata sudah pagi.

Ketika dua orang itu mengecek keadaannya, Luhan segera berpura-pura tidur. Mengelabui dua orang laki-laki berbadan besar itu.

Melihat Luhan masih terlelap, pria yang bernama Ki Won itu langsung turun dan menutup lagi pintunya. Lalu terdengar langkah kaki menjauh dari kereta tempat dimana Luhan disekap. Bagus. Luhan tahu pintu kereta ini tidak mereka kunci. Itu berarti ini adalah kesempatan Luhan untuk melarikan diri.

Luhan menyeret tubuhnya mendekati pintu. Ia kemudian sedikit mendobrak pintu itu dengan pundaknya. Dan benar saja, pintu kayu itu terbuka dengan mudah. Luhan memandang ke bawah. Jarak kereta ini dengan tanah di bawahnya cukup tinggi. Akan sakit jika ia menjatuhkan diri ke bawah, namun pilihan apa yang Luhan miliki saat ini?

Dengan mantap Luhan memiringkan tubuhnya ke samping kemudian menjatuhkan dirinya, tubuh yang masih terluka itu, begitu saja ke tanah.

Brak!

"Mmh…" Luhan mengerang sakit. Walaupun hanya gumaman tertahan yang terdengar.

Kini ia sudah berada di luar kereta. Matanya mengedar ke berbagai arah. Untung saja dua orang itu memarkirkan kereta kuda tepat di tengah kota. Banyak pemukiman di sini, jika ia berteriak, mungkin saja seseorang akan membantunya, namun hal itu juga terlalu beresiko karena dua orang yang menyekapnya juga bisa mendengarnya. Lagipula karena ini masih pagi sekali, jalanan ini tampak sepi dan rumah rumah masih tertutup rapat.

Luhan mencoba peruntungan dengan menyeret tubuhnya yang terikat itu menuju salah satu bangunan kayu yang terdekat. Setelah lama ia merangkak, sampai juga akhirnya pada sebuah pintu kayu yang cukup lebar. Ia kemudian menghentakkan tubuhnya pada pintu kayu itu. juga sedikit berteriak agar pemilik bangunan ini mau membantunya.

"Hei!"

Tiba-tiba Luhan mendengar lagi teriakan pria yang kemarin menamparnya. Luhan semakin menghentakkan tubuhnya ke pintu kayu itu. ia mulai panic dan matanya memanas lagi. Teriakan tertahannya juga makin kencang. Namun usahanya seperti sia-sia, pemilik bangunan ini tidak membukakan pintunya untuk Luhan.

Song In sudah sampai di hadapan Luhan yang kini terlihat ketakutan dan menyedihkan.

"Dasar sampah menyusahkan!" ucapnya kasar. Ia kemudian menarik kaki Luhan dan menyeretnya dari pintu bangunan itu. Luhan kembali berteriak karena kini tubuhnya bergesekkan dengan kasarnya batu dan kerikil. Luhan kembali merasa perutnya berdarah.

"Siapa di sana?!"

Luhan melihat tiba-tiba muncul seseorang dari rumah di sebelah bangunan yang ia datangi sebelumnya. Seseorang itu hanya lelaki tua, namun ia membawa seperti tongkat pemukul. Pandangan matanya bertemu dengan Luhan yang menyedihkan. Segera saja ia berteriak-teriak minta tolong dan kini banyak orang-orang mulai berdatangan.

Song In terlihat gugup karena kini bermunculan banyak orang. ia kemudian berusaha mengangkat Luhan agar lebih cepat membawanya ke kereta. Namun lelaki tua yang yang berasal dari rumah di sebelah bangunan yang Luhan datangi itu bertindak lebih cepat dengan memukul Song In menggunakan tongkat pemukul yang ia bawa.

Song In yang saat itu panic langsung berlari begitu saja meninggalkan Luhan yang terkapar di tanah. Ia berlari ke arah kereta dan menjalankan keretanya. Ki Won sudah sedari tadi berada di dalam kereta dan meneriaki Song In agar segera bergegas.

Orang-orang mulai berdatangan ke arah lelaki tua dan juga Luhan. Mereka bertanya-tanya ada apa dan secara rinci lelaki tua itu menjelaskan. Orang-orang mulai mengangguk mengerti dan mulai mengangkat Luhan menuju rumah lelaki tua tersebut atas permintaan lelaki itu sendiri.

Mereka meletakkan Luhan yang mengerang kesakitan di kursi kayu yang ada. Istri lelaki tua itu datang dan terkejut melihat keadaan Luhan yang terluka dans egera berlari lagi ke belakang dan mengambil perban dan air guna membersihkan luka yang ada di tubuh Luhan. Kerumunan orang itu mulai pergi setelah lelaki itu menjelaskan akan merawat Luhan.

"Yeobo, bagaimana bisa ini terjadi?"

Lelaki tua itu menggeleng. "Ceritanya panjang," jawabnya pada istrinya.

Wanita itu mengangguk mengerti. Ia kemudian melanjutkan membersihkan luka Luhan dengan handuk kecil yang dibasahi.

Luhan sendiri sedari tadi sudah memejamkan matanya. entah karena kelelahan, entah karena sakit yang ada ditubuhnya. Mengingat semalam ia sama sekali tidak tidur karena terlalu lama menangis.

Lelaki tua itu tertegun memandang wajah tidur Luhan. "Tidakkah wajahnya mengingatkanmu pada seseorang?" tanyanya.

Sang istri tersenyum dan mengangguk. "hmm, dia mengingatkanku pada Baekhyun,"

Lelaki tua itu mengangguk. "Mungkin hanya kebetulan. Baekhyun dan anak ini sama-sama terdampar di depan kedai kita," lelaki itu tertawa pelan.

Apakah takdir, mulai ingin menyapa Luhan dengan ramah?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Hai? He he he he *ketawa awkward*