Chapter 15

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

Luhan membuka matanya dan mendapati pandangan sekelilingnya tampak mengabur. Matanya melirik kesana dan kemari walau tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Mendapati bahwa sekelilingnya sekarang ini, sama sekali bukan tempat yang ia kenali.

Menyadari kini ia sedang berbaring, Luhan menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Ia meringis kecil kala bahunya terasa nyeri saat ia menggerakkan tubuhnya. Pandangannya kini sudah berangsur jelas walau kepalanya masih berdenyut sakit.

Selain kepala, bahu, dan punggug yang agak nyeri, Luhan merasa perutnya terasa perih. Ia membawa tangannya untuk mengelus perutnya yang kini sudah rata dan datar. Tidak ada lagi perut yang besar dan menggembung. Tidak ada…

Dan seketika Luhan tersentak.

"A-anakku…anakku...H-Haowen…" katanya lirih dengan suara serak. Air mata tanpa dipanggil pun datang dan sudah menggenang di mata lebar yang selalu nampak ceria itu. menyita keceriaan yang ada dengan kesedihan mendalam.

"H-Haowen! Haowen-ah… Haowen…a-anakku…"

Luhan dengan bergegas segera bangun dari tempatnya berbaring sekarang. mengabaikan rasa sakit yang dirasakannya secara fisik. Bibirnya yang berlekuk sempurna itu terus menerus menggumamkan nama 'Haowen' dan 'anakku'.

Kakinya yang kurus itu mulai berjalan agak tertatih. Menuju pintu yang tertutup di ruangan kecil yang Luhan tempati saat ini. Namun saat tangannya yang putih itu memutar kenop, pintu itu bergeming, tidak mau terbuka. Terkunci. Tangannya yang lain kini mulai menggedor pintu kayu di hadapannya walau masih dengan lemah. Dan mulutnya masih tak berhenti menggumamkan kata-kata yang sama.

"ah…Haowen-ah…Haowen…Haowen…HAOWEN!"

Luhan kini mulai berteriak. Berharap seseorang membukakan pintu yang menghalangi ini. Dan Luhan berharap, sungguh sangat berharap, ia bisa menemui anaknya yang baru saja lahir di dunia ini.

Kenop pintu yang tak lagi Luhan genggam itu berputar pelan, Luhan tahu diluar sudah ada orang yang akan membukakan pintu ini untuknya. Dan dengan segera Luhan memundurkan langkahnya. Membiarkan kayu pipih itu terbuka lebar.

"Kami mendengar―OMO!"

Luhan mengernyit mendapati sesosok wanita tua yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Wanita tadi mendekatinya dan Luhan secara otomatis melangkahkan kakinya untuk mundur. Menjauhi wanita itu.

"Ah, kau tidak perlu takut anak muda, aku tidak akan menyakitimu, siapa namamu?" wanita tua itu berujar pelan dan lembut kala menyadari pemuda yang terluka di hadapannya ini merasa was was akan kehadirannya.

Luhan masih terdiam di tempatnya. Ia mendengar suara wanita tadi, dan merasa bahwa wanita ini bukan orang jahat. Tapi Luhan masih ragu-ragu. Maka keputusan terbaik saat ini adalah tetap diam.

Wanita tua itu mengehela napasnya lemah. Ia tahu pemuda ini ketakutan. Belum lagi luka-luka yang ada di tubuhnya yang terlihat ringkih itu. Dan kini wanita tua itu seperti merasakan pemuda ini sedang kacau pikirannya. Selain itu matanya merah. Apakah ia baru saja menangis? Wanita itu perlahan mendekati pemuda yang ia tak tahu asal usulnya itu. mendekat dengan perlahan, kemudian ia meletakkan telapak tangannya yang tak lagi halus itu ke pipi Luhan. Mengusp sisa air mata yang mongering dengan lembut.

Saat merasa tangan wanita tua ini di pipinya, Luhan ingin menepis tangan wanita tua ini. Tapi rasa nyaman dan kehangatan yang disalurkan dari usapan lembut wanita itu membuat Luhan menyandarkan pipinya agar elusan wanita itu tetap berada di sana.

"Kau tampak sangat sedih, ada apa hmm?"

Luhan menundukkan wajahnya. Matanya tiba-tiba memanas lagi. "H-h-haowen… i-ingin b-bertemu…H-haowen… a-anakku…"

Jawaban Luhan terdengar lirih dan terbata-bata. Namun wanita tua itu dapat mendengarnya dengan jelas. Apakah pemuda di hadapannya ini baru saja terpisah dari anaknya? DanOMO!

Wanita tua itu menengok ke arah perut Luhan yang mempunyai luka irisan berbentuk vertical. Luka itu belum mengering. Wanita tua itu hanya membalut luka itu sebaik yang ia bisa saat merawat luka yang kembali membuka tadi. Perban yang kini menutupnya bahkan sedikit menunjukkan warna darah. Seketika wanita itu paham, dan dengan tatapan terkejutnya ia memandang kembali pemuda yang terlihat beribu kali lebih menyedihkan saat ia mengetahui kebenarannya.

"Oh Tuhan, kenapa nasibmu sungguh malang," wanita tua itu menghambur memeluk Luhan. Ia mengusap surai hitam pemuda itu dengan lembut. Bahkan kini wanita tua itu ikut menangis. Merasa empati atas kejadian yang menimpa pemuda yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Emosi Luhan meluap kala wanita ini memeluknya. Dengan segera air mata meluncur bebas menuruni pipinya yang pucat. Tubuh Luhan bergetar menahan kesedihan yang ia panggul sendirian. Bibir mungil itu kini mengeluarkan isakan selain kata 'ingin bertemu Haowen' yang sedari tadi mengalun bagai mantra.

Wanita tua itu membiarkan air mata Luhan membasahi bajunya. Ia hanya ingin pemuda yang berada di hadapannya ini setidaknya merasa lebih tenang. Isakan pelan kini bahkan sudah berubah menjadi raungan yang memilukan. Wanita itu tetap memeluknya. Bahkan kini lebih erat, walau ia masih hati-hati karena tidak ingin menyakiti luka yang ada di tubuh pemuda malang ini.

"―hiks…H-Haowen…anakku….Haowen…H-Haowen-ah…hiks….HAOWEN!"

Luhan memejamkan matanya erat saat teriakan nama Haowen meluncur dari bibirnya. Perasaan aneh melingkupi hatinya. Sedih, marah, kesal, semuanya bercampur menjadi satu. Luhan bersumpah, rasa kelaparan, luka, bahkan penyiksaan yang ia alami dulu tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan saat ini.

Kehilangan orang yang kita sayang, merupakan hal yang paling menyakitkan.

Dan sayangnya Luhan kini mengalaminya….

Lagi. Untuk yang ketiga kali.

Orang tuanya.

Baekhyunnya.

Dan kini…

Anaknya, yang bahkan sama sekali belum ia sentuh jemari-jemari mungilnya, atau mengecup pelan dahi dan pipinya yang gembil, bahkan setelah ia mengandungnya, merawatnya, menantinya, menyayanginya selalu…

Luhan tetap harus kehilangannya. Apakah memang Luhan tidak pantas bahagia? Ibu yang gagal?

Tidak adakah seseorang yang mau mengertinya di sini?

.

.

.

.

.

Baekhyun berjalan dengan pelan. Tangannya ia bawa untuk mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar. Setelah sampai dibukanya pintu kaca yang berhubungan langsung dengan balkon kamarnya dengan Chanyeol. Baekhyun berjalan sampai tembok pembatas dan menggenggamnya erat. Semilir angin malam yang dingin pun ia hiraukan. Matanya terus memandangi kejauhan seolah ia ingin menemukan sesuatu di sana.

"Baek…"

Baekhyun tersenyum kecil kala merasakan tangan kekar suaminya yang merangkulnya dan perut besarnya dengan lembut. Baekhyun sedikit tertawa ketika Chanyeol mengendusi lehernya seperti anak anjing yang sedang bermain-main, membuatnya sedikit kegelian.

"Sudah selesai mandi?" tanya Baekhyun pada suaminya.

Baekhyun merasa Chanyeol mengangguk di pundaknya. Ia memegang tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya. Menggenggamnya seolah menyuruh Chanyeol untuk tidak melepaskannya.

"Di luar sangat dingin Baek, masuklah…"

Baekhyun menggeleng. "Aku ingin di sini sebentar Chanyeol."

"Kau tidak kedinginan?"

Baekhyun menggeleng lagi. Kini ia menengok sedikit ke arah kepala suaminya yang ada di pundak kanannya kemudian tersenyum. "Kau ada di sini, jadi sudah tidak terlalu dingin,"

Chanyeol tertawa mendengar perkataan istrinya itu. ia kemudian memeluk Baekhyun lebih erat lagi. Menegakkan tubuhnya dan membuat Baekhyun bersandar di dadanya agar Baekhyun tidak terlalu lelah berdiri.

Mereka diam dalam posisi seperti itu. sibuk memandang kejauhan langit malam yang nampak seperti tanpa ujung. Atau lampu-lampu di kota yang terlihat menyaingi cahaya malam dari bintang-bintang. Chanyeol memandang wajah istrinya yang nampak sendu itu dengan khawatir. Ia menghela nafasnya panjang melihat istrinya yang selalu seperti ini setiap malam.

"Baek…jangan terlalu dipikirkan hmm? Aku yakin suatu saat hyungmu akan datang menemuimu," Chanyeol berbisik dengan lembut di telinga istrinya.

"Chanyeol….apakah aku adik yang buruk? Apakah aku jahat?" suara Baekhyun mulai terdengar serak.

"Baek…."

"Chanyeol-ah, aku adik yang paling buruk, aku bahkan hiks…aku bahkan tidak b-berusaha mencari hyungku…" Baekhyun mulai terisak pelan.

Mendengar Baekhyun mulai menangis, Chanyeol membalikkan tubuh mungil Baekhyun dan mengecup keningnya lembut. Ia juga berusaha menghentikan air mata yang mulai turun membasahi wajah pasangan hidupnya yang cantik itu.

"C-Chanyeol-ah, s-seharusnya aku tidak menuruti kata-kata hiks..h-hyung, h-harusnya aku pergi dan mencarinya…lihatlah aku b-bersenang-senang di sini, s-sedangkan aku bahkan tidak tahu..hiks…apa yang mungkin terjadi pada hyungku…s-seharusnya―"

"Baekhyun, kau hanya mencoba melakukan yang terbaik hmm? Jangan bersedih, kau membuatku ingin ikut menangis,"

Chanyeol tahu seberapa sayang Baekhyun pada hyungnya, seberapa kuat ikatan yang ada pada dua kakak beradik ini. Baekhyun sering menceritakan betapa hebat hyungnya, atau betapa cantik dan baik hati sosok yang telah membesarkan Baekhyun kecil hingga ia dewasa. Betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan sosok yang tak pernah lewat dari pembicaraan mereka sebelum tidur.

Membuat Chanyeol ingin bertemu langsung dengan sosok yang sudah berjasa dalam hidup istrinya. Yang sudah memberikan segalanya bagi istrinya. Chanyeol ingin berterimakasih secara langsung dan tulus pada kakak Baekhyun. Mempertemukan dua kakak beradik yang pasti saling merindukan ini.

Namun Chanyeol menghormati keputusan yang diambil kakak Baekhyun. Tersirat makna dalam surat yang ditulis kakak Baekhyun―Luhan jika ia sendiri yang ingin menemui Baekhyun. Dan Baekhyun pun mengerti, meski menelan kekecewaannya bulat-bulat karena keinginannya untuk bertemu hyungnya tidak tercapai, tapi Baekhyun menghormati keputusan yang sudah diambil oleh hyungnya.

"C-Chanyeol…Chanyeol aku merindukan hyungku….." air mata masih mengalir di wajah mungil Baekhyun. Membuatnya terlihat menyedihkan. Dan Chanyeol tidak tahu apa yang ia harus lakukan selain membisikkan kata-kata penenang dan pelukan hangat untuk istrinya.

Baekhyun terisak beberapa saat kemudian membalikkan badannya lagi. Ia mendekat ke arah pagar pembatas dan sekali lagi mencengram tembok bercat putih itu. kali ini lebih erat dari sebelumnya.

"S-Semalam aku bermimpi…"

Perkataan lirih Baekhyun mmebawa Chanyeol melangkah mendekat dan berdiri di samping pasangan hidupnya yang terlihat sangat rapuh saat ini. Tangan kekarnya ia bawa untuk memeluk pemuda mungil ini mencoba memeberi kekuatan untuk menceritakan apa yang mengganjal di pikirannya.

"a-aku bermimpi jika aku melihat hyung…d-dia nampak kesakitan, seseorang melukainya… dan a-aku…a-aku hanya diam seperti orang bodoh dan t-tidak menyelamatkannya…"

Baekhyun terdiam sebentar.

"A-aku seperti bisa merasakan sakitnya saat itu, b-bagaimana p-perut hyungku tersobek, b-bagaimana seseorang menamparnya…k-kemudian h-hyungku yang terjatuh…."

"Aku t-tidak tahu lagi…a-adik macam apa aku ini. Adik macam apa yang diam saja membiarkan hyungnya terluka!"

Chanyeol mengeratkan rangkulannya pada pundak sempit yang terlihat semakin rapuh itu.

"Chanyeol-ah, a-aku ingin melihat hyungku…a-aku ingin memastikan jika ia baik-baik saja…jika ia sehat…aku i-ingin melihatnya tersenyum padaku…aku ingin merasakan pelukannya seperti dulu…aku ingin memeperkenalkannya pada Eomma dan Appa, a-aku ingin kau bertemu dengan hyungku…aku ingin suatu saat ia bisa dengan bangga menggendong dua keponakannya…a-aku ingin hyung memanggi namaku dengan lembut…a-aku hanya ingin kita bertemu…aku…aku merindukannya….sangat…."

Air mata dan kesedihan yang Baekhyun rasakan membuat Chanyeol ikut menitikkan air matanya. tak tahu apa yang bisa ia tanggapi, ia bergerak dan sekali lagi dengan lembut ia memeluk pemuda mungil yang ia cintai itu.

"A-aku tidak tahan lagi Chanyeol…b-bisakah kita mencarinya? Kumohon…"

Chanyeol mengangguk pasti mendengar lirihan permintaan dari Baekhyun. Ia menutup matanya berusaha menahan air mata yang akan jatuh. Ia tahu seberapa dalam keinginan Baekhyun utuk bertemu dengan hyungnya, ia pun begitu ingin bertemu dengan Luhan.

Dan soal keputusan Luhan yang ia hormati…

Chanyeol berjanji akan minta maaf pada kakak iparnya karena melanggarnya.

Tapi yang terpenting…

Ia ingin memastikan semua orang untuk bahagia…

Entah Baekhyun…ataupun Luhan.

"Aku akan mengirim pasukan untuk mencaari hyungmu….jangan menangis hmmm…jangan menangis…dewa hujan tidak suka melihatmu menangis Baek…jangan menangis lagi…."

.

.

.

.

.

Sehun duduk terdiam di sebuah kasur di kamar berukuran sedang yang kini tidak lagi punya pemilik. Dengan tangan masih menggenggam kertas yang terlihat usang dan berisi sebuah pesan singkat itu. mata yang bisa menatap tajam itu kini kosong dan tidak terlihat hidup.

Flashback

Setelah mendapati kamar rawat yang seharusnya dihuni oleh laki-laki yang baru saja melahirkan anaknya itu kosong, setelaah membaca pesan singkat yang ditulis di sebuah kertas usang sialan itu…

Sehun merasa seperti dirinya akan meledak dalam kemarahan.

Setelah meletakkan anaknya yang baru saja lahir di ranjang bayinya, Sehun segera berlari keluar menemui kepala pasukannya, yang saat itu sedang berlatih bersama prajurit lain dan memukulnya telak di depan bawahannya.

Bukan hanya sampai di situ saja, Sehun kemudian memukul, menendang, dan mencaci kepala pasukan yang sudah setia padanya bertahun-tahun. Prajurit yang berusaha menahannya ikut dipukulunya. Sehun kalap. Entahlah. Ia tidak berpikir macam-macam saat itu. Luhan hilang. Ia pergi. Lelaki mungilnya meninggalkannya.

Sehun begitu kesal mendapati Luhan pergi dari sisinya. Apa, apa yang kurang ia berikan pada pemuda mungil itu? kenapa ia seenaknya pergi tanpa seijin Sehun yang membolehkanya. Sehun berpikir Luhan adalah pemuda bodoh dan licik yang pernah ia temui. Bagaimana mungkin ia kabur saat anaknya baru saja lahir.

Budak brengsek

Menjijikkan

Jalang

Dan Sehun melimpahkan kekesalannya karena tidak bisa menjaga istana sehingga Luhan bisa pergi semudah itu.

Sehun tidak berhenti memukul kepala pasukan dan prajurit yang berani mendekat. Wajahnya memerah karena emosi yang memuncak. Tangannya terkepal erat. Sehun seperti kembali pada Sehun yang tidak mengenal belas kasih.

Sampai tangan seseorang menariknya, kemudian menamparnya dengan keras tepat di pipinya.

Dan seluruh orang yang menyaksikan, yang ada di lapangan itu tertegun melihat sosok penyembuh mereka yang berdiri tak takut dengan tangan yang masih sedikit melayang akibat tamparan yang baru saja ia berikan pada rajanya.

Sehun menatap sengit Yixing yang juga balas menatap Sehun tajam. Bahkan lebih sengit dari Sehun.

"Dasar bodoh." Umpatnya datar pada Sehun.

"Kau percaya begitu saja bahwa Luhan sudah pergi? Apa kau gila?"

Sehun diam.

"Dan kini kau melimpahkan kekesalanmu pada mereka?"

Sehun tetap diam.

Yixing meju selangkah. Kemudian ia mengelus pipi Sehun yang basah dengan air mata. berusaha menghapus sisa-sisa air mata yang bertahan.

Sehun sendiri terkejut saat yixing melakukannya. Ia bahkan tidak sadar dirinya telah menangis sedari tadi. Ia tidak sadar bahwa luapan emosinya membawanya pada titik dimana ia harus mengeluarkan air matanya.

"Sudah lama aku tidak melihatmu menangis…" yixing berucap lirih. "Terakhir adalah saat ibumu meninggalkanmu pada usiamu yang ke sepuluh…"

Sehun terdiam mendengar perkataan yixing. Ia tidak mampu mengucapkan appaun saat itu.

"Kau terlihat menyedihkan Sehun…" yixing melepaskan tangannya dari pipi Sehun. ia kemudian merangkul Sehun dan membawanya menjauh dari lapangan yang dipenuhi dengan prajurit yangmenatap raja yang terkenal angkuh itu dengan iba.

"Tapi aku senang…Luhan mampu mengubahmu menjadi lebih manusiawi…"

Flashback end.

Dan kini Sehun sudah duduk berjam-jam di kasur yang dulunya ditempati pemuda mungil yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat sata ia berkunjung ke kamar ini. Sehun dulu senang datang ke kamar ini. Bahkan ia merasa jika kamar ini lebih hangat dari kamar utamanya yang luas dan mewah. Namun kini melihat sekelilingnya, Sehun merasa kamar ini terlihat dingin dan mati. Mungkin karena tidak adanya sosok pemuda rusa yang menghidupkan dan menghangatkan kamar ini.

Sehun melirik kertas yang ada di genggamannya. Ia kemudian melihat kesebuah buku tipis yang ada di sebelahnya. Buku itu terbuka sama seperti saat keadaan pemiliknya meninggalkan buku itu. Sehun mengambilnya.

Ia membaca-baca lagi buku yang dulunya sudah pernah ia lihat itu. bagaimana perkembangan tulisan tangan Luhan dari waktu ke waktu. Sehun juga tidak melewatkan tulisan nama anaknya yang terukir di atas kertas murah itu. membuat Sehun tersenyum tipis membacanya.

Sehun membolak-balik buku tipis itu dan mengernyit mendapati halaman belakang dari buku itu telah terisi dengan kata-kata.

31 Oktober 1815

Sehunnie sekarang sangat baik pada Luhannie, Luhannie senang..

Sehun tersenyum membacanya. Agaknya ia juga sedikit bangga jika ia terlihat baik dimata Luhan.

11 November 1815

Sehunnie memberi Luhan cincin…Luhannie sangat menyukainya…

Tapi Luhannie lebih suka Sehunnie…

Ah, insiden cincin itu. Sehun tidak bermaksud apa-apa saat itu. Tapi tindakan kecil itu memberikan kesan yang dalam pada Luhan. Dan jika Sehun tidak salah baca, Luhan bilang ia menyukai Sehun. Sehun tertawa kecil memikirkannya.

16 Desember 1815

Sehunnie terlihat lebih suka pada Yoona, bagaimana dengan Luhannie? Luhannie sayang pada Sehunnie :(

Sehun terdiam membacanya. Jika dipikir-pikir, ia memang selalu mendahulukan kepentingan Yoona di atas kepentingan Luhan. Yoona, Yoona dan selalu Yoona. sehun berpikir tentu saja karena yoona adalah istrinya. Namun Luhan juga orang yang telah mengandung anaknya.

Apakah selama ini ia tidak bersikap adil pada Luhan?

14 Febuari 1816

Tidak sabar menunggu kelahiran pangeran kecil, Haowen-ah, Mama mencintaimu

Sehun mengernyit semakin dalam. Apa ini? Ini baru saja ditulis kemarin. Tanggal yang ditulis Luhan adalah tanggal hari kemarin. Sehun membalik halaman sebelumnya. Tulisan Luhan pada hari kemarin jauh lebih baik dari tulisan pada tanggal-tanggal sebelumnya. Tulisan Luhan yang terakhir….

Sehun mengamatinya dalam dalam. Ia melirik kertas usang yang tadi diletakkannya begitu saja dan membukanya. Lalu ia membandingkannya.

Sehun tertegun.

"Luhan-ah…aku tahu kau takkan pernah meninggalkan tempat ini… Aku tahu kau tidak akan begitu saja meningglkan Haowen… Tenaanglah Luhan…aku akan membawamu kembali pada Haowen…"

Sehun menutup kembali butu tipi situ dan menaruhnya di atas meja. Ia menggumpalkan lagi kertas kecil yang berisi pesan singkat dan melemparkannya asal. Kemudian dengan mantap ia berjalan keluar dan menutup pintu itu dengan pelan.

"Aku akan membawamu pulang…Luhan."

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai, ketemu lagi, cepet ga sih updatenya hahahahahahahaha *ditimpuk sandal*

Btw itu penjelasan dari sisi baek buat kalian yg selalu bertanya tanya, kenapa bbh ga cari lulu :"

Anyway, walaupun telat, selamat ya buat kalian yang nonton exoluxion, bisa ketemu oppa oppa~~~

Gue kagak nonton sedih :"

Btw gue mau ngadain voting.

KALIAN MAU LUHAN KETEMU BAEKHYUN DULU ATAU SEHUN DULU?

Salah satu aje ye, kagak dua duanya, hehehe

Soooo, see you next chap!

p.s : ada yang minat ngobrol-ngobrol selain via pm? I mean kayak medsos gitugue ini kagak ngebet eksis ya, tapi mungkin kalian bisa bantu buat cari ide buat kelanjutan ff ini :"

line? Bbm? Fb (gue udah kagak main fb tapi hehe) ? tapi ini akun pribadi entar kalian kaget liat muka gue huahahahahaha, *apaan sih kayak ada yang mau aja*