Chapter 16
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
"Sayang…"
Baekhyun menolehkan pandangannya yang semula terpaku pada buku tebal di hadapannya. Matanya yang sayu itu melengkung bagai bulan sabit dan bibirnya melengkung senang.
"Sudah pulang?" tanyanya saat suaminya mengecup pelan pelipis kirinya.
Chanyeol mengangguk kemudian berbaring di sebelah istrinya. Tangannya yang cukup besar dan berotot itu ia bawa untuk mengelus perut Baekhyun yang menggembung besar. Baekhyun yang melihat suaminya tampak kelelahan itu menyingkirkan buku tebal yang sedari tadi dipegangnya dan membawa jari-jari lentik itu untuk mengusap dan memijat kepala suaminya yang tampan itu.
Chanyeol menutup mata dalam nyaman karena perlakuan Baekhyun. Bibirnya yang cukup tepal itu membentuk senyuman tipis yang menenangkan. Baekhyun lega bisa meredakan pikiran yang dipikul suaminya saat ini, walaupun ia hanya melakukan hal-hal sederhana.
"Baek…"
Baekhyun melihat kini Chanyeol telah membuka matanya dan melihatnya dengan tatapan yang memelas.
"Hmm?" jawab Baekhyun lembut tanpa melepaskan jari-jari lentiknya dari kepala Chanyeol.
Chanyeol melihatnya dengan tatapan memelas. Seperti minta dikasihani. Baekhyun menghela nafasnya lalu tersenyum kemudian mengangguk.
"Aku mengerti Chanyeol," katanya lirih kemudian.
Tatapan yang baru saja Chanyeol tunjukkan padanya adalah tatapan yang menunjukkan bahwa Chanyeol menyesal. Ia sungguh menyesal. Baekhyun sudah seminggu ini disuguhi tatapan yang sama oleh Chanyeol. Tatapan kekecewaan dan penyesalan.
Sudah seminggu mereka mencoba mencari keberadaan kakak laki-laki Baekhyun. Sudah seminggu, dan belum mendapatkan hasil apapun. Chanyeol bahkan kadang ikut turun ke lapangan di waktu-waktu senggangnya. Membuatnya selalu kembali ke kamar mereka dalam tampang lelah dan tubuh yang serasa remuk. Baekhyun pun ingin ikut turun ke lapangan. Namun dengan tegas lelaki berkuping caplang dan tinggi diatas rata-rata itu melarangnya. Alasan keamanaan katanya. Ia tidak bisa memebiarkan Baekhyun terluka, apalagi perutnya yang semakin hari semakin membuncit itu.
Seminggu tanpa hasil memang mengecewakan. Baekhyun harus menelan bulat-bulat kesedihannya karena tidak bisa sesegera mungkin untuk bertemu dengan kakaknya. Tapi siapa juga yang bisa disalahkan? Hanya sebuah gambar saat Luhan masih kecil takkan menjadi cukup perantara untuk membawa hyungnya kembali.
Satu-satunya pihak yang patut di salahkan adalah Baekhyun sendiri.
Sudah beberapa hari ini Baekhyun mulai menyalahkan dirinya sendiri. satu-satunya orang mengenali hyungnya adalah Baekhyun. Namun ia tidak bisa berbuat banyak selalin memaparkan deskripsi hyungnya pada para pasukannya. Tidak lebih, sisanya ia hanya bisa menunggu dengan manis.
Dan sejujurnya Baekhyun bosan selalu menjadi pihak yang pasif.
"Chanyeol-ah…" panggil Baekhyun lirih.
"hmm…" Chanyeol menjawab dengan suara beratnya yang serak. Tanda ia sudah mengantuk karena tubuhnya yang kelelahan.
"Besok..um…bolehkah aku berjalan-jalan?" tanya Baekhyun pelan.
Chanyeol mengangguk. Baekhyun tersenyum menang. Ia sudah diijinkan dan saat jalan-jalan ia akan mencoba mencari hyung―
"Jika kau ingin ke taman istana tidak perlu ijin dariku Baek, cukup kau membawa beberapa pelayan untuk mengambilkanmu minum, memayungi tubuhmu, membawakan barang-barangmu, dan―"
Baekhyun sedikit terpana mendengar penjelasan suaminya. Ia memerengut kesal dan menarik telinga suaminya yang caplang itu agar lebih panjang lagi.
"―AAAHH, sa-sakit…sakit…sakit…." Chanyeol kini sudah terduduk dan matanya sudah sepenuhnya terbuka. Mulutnya kini sama-sama memberengut seperti istrinya, seolah ingin menyaingi istrinya yang juga kesal tersebut.
Baekhyun melirik suaminya tajam. Dan Chanyeol balas melirik tak kalah tajamnya dari istrinya. Dan, oh, tentu saja Baekhyun tak akan membiarkan permainan ini dikuasai Chanyeol. Maka dengan mata yang biasanya melengkung sayu itu, Baekhyun berusaha melebarkan lagi matanya agar menunjukkan jika ia tidak bisa dibantah. Tidak akan pernah terbantah.
Dan akhirnya Chanyeol mengalah.
"Baik, baik, aku tahu maksudmu bukan jalan-jalan di taman istana. kau ingin ke kota hmm?" tanyanya lembut dan hati-hati.
Baekhyun menormalkan kembali matanya kemudian tersenyum senang. Ia mengangguk kegirangan dan itu membuatnya terlihat seperti anak anjing. Chanyeol menghela nafasnya lagi.
"Apakah aku punya hak untuk menolak?"
Baekhyun menggeleng dengan senyum lebar masih menghiasi wajahnya. membuatnya sedikit agak…menyeramkan. Pikir Chanyeol.
"Baek, sebesar-besarnya aku ingin membiarkanmu ke kota, aku tidak bisa menemanimu besok, jadi―"
"aku bisa berangkat sendiri," sanggah Baekhyun cepat.
"kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendiri?" tanya Chanyeol tegas.
Baekhyun memutar bola matanya malas. Sejak kapan suaminya berubah dari anak anjing manja menjadi serigala susah dibujuk seperti ini.
"Aku akan membawa beberapa pengawal jika itu membuatmu lebih tenang,"
Chanyeol menggeleng. "AKu tidak akan mempercayakan kau pada siapapun tanpa pengawasanku,"
"Tapi aku ingin pergi," Baekhyun mulai merengek.
"Tentu…"
Baekhyun membulatkan matanya mendengar jawaban Chanyeol.
"…tapi tunggu aku menyelesaikan tugas-tugas istana Baek,"
"Tapi―"
"Tidak ada tapi. Keputusan final. Aku tahu kau kesal, tapi tolong jangan marah padaku. Kau tahu aku hanya mengkhawatirkanmu," Chanyeol mengelus rambut hitam Baekhyun dengan lembut. Ia memindahkan lagi tangannya ke perut Baekhyun yang menggembung besar itu. "dan aku juga mengkhawatirkan keadaan si kembar,"
Oh, betapa Baekhyun sangat ingin menangis sekarang. ia kesal, sangat kesal arena Chanyeol menola permintaannya. Chanyeol tidak pernah menolak permintaannya. Tapi dilain sisi Baekhyun sangat tersentuh dengan kata-kata suaminya. Chanyeol adalah pangeran yang dimanjakan. Jarang dari sisinya bertindak dewasa. Namun jika Chanyeol melakukannya, hal itu akan melelehkan benteng pertahanan Baekhyun yang keras. Seperti saat ini.
"Arraseo…" kata Baekhyun lirih. "Tapi kau harus berjanji jika kau harus menyelesaikan pekerjaanmu dengan cepat,"
Chanyeol menatap istrinya yang masih memberengut. Kali ini bukan karena marah atau kesal, tapi karena Baekhyun harus mengalah. Istrinya itu memang tidak terlalu suka mengalah.
Dengan senyuman menghiasi bibir tebalnya, ia menarik Baekhyun untuk kembali berbaring di kasur mereka yang lebar. Chanyeol menatap wajah istrinya yang semakin berisi itu. pipi gembilnya menandakan bahwa ia sehat, dan Chanyeol senang mengetahuinya.
"Baek…"
"Hmm?" Baekhyun hanya menjawab dengan gumaman pelan.
"Aku berjanji akan menemukan hyungmu secepatnya,"
Perkataan Chanyeol membuat Baekhyun yang semula bermain-main dengan kaus suaminya itu menoleh kearah wajah Chanyeol yang masih tersenyum.
"Kau akan segera melihatnya, aku janji,"
Entah karena hormon kehamilannya masih tinggi, atau sikap dewasa Chanyeol, atau kata-kata penenang, atau mungkin karena Chanyeol terlihat 1000 kali lebih tampan malam ini, Baekhyun menangis.
Mulanya hanya isakan kecil yang lambat laun berubah menjadi tangis sesenggukkan dari calon ratu ini.
"hei, hei kenapa menangis," Chanyeol sedikit tertawa melihat Baekhyun yang berusaha mengelap pipinya yang basah dengan punggung tangannya yang kecil. Chanyeol kemudian mengusapkan ibu jarinya di ujung mata Baekhyun yang masih berair.
"jangan menangis Baek, aku tidak suka melihatmu menangis,"
Bisir Baekhyun bergetar lagi bersiap untuk mengeluarkan isakan lain saat ia mendengar suara berat dan dalam milik suaminya itu.
Chanyeol yang sadar dengan tingkah istrinya sedikit tertawa. Ia kemudian mnedekap tubh Baekhyun dalam dadanya dan memeluknya erat.
"Jangan menangis hmm…lekaslah tidur, aku hari ini sangat lelah dan besok aku harus segera bangun pagi, jangan menangis lagi, aku mencintaimu, Park Baekhyun…"
Baekhyun tersenyum tipis mendengar perkataan suaminya. Ia memejamkan matanya dan tangan mungilnya menggenggam erat kaus bagian dada milik suaminya. Seolah tidak membiarkan suami yang sangat dicintainya ini meninggalkannya.
Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
Duduk manis di kursi kayu kecil, di hadapan Luhan kini sudah tersaji nasi, lauk-pauk dan segelas teh hangat yang masih mengepul asapnya. Luhan meneguk ludahnya manakala ia memandang ikan goreng yang tersaji dan kelihatan sangat nikmat itu. Nenek yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil.
"Makanlah yang banyak Luhan, kau tak makan cukup banyak akhir-akhir ini,"
Luhan mengangguk mendengar pernyataan nenek. Saat ia melihat kakek mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, Luhan mulai mengambil mangkuk kecil berisi nasi miliknya dan mulai memakan makannannya dengan tenang.
Sudah seminggu Luhan tinggal di rumah kakek dan nenek. Dan berarti juga sudah seminggu Luhan berpisah dengan anak yang baru saja dilahirkannya ke dunia. Pada hari-hari pertama Luhan tak mampu berhenti menangis. Ia menolak makan, diobati bahkan untuk berbicara pun ia sepertinya enggan.
Episode terparah setelah mengetahui kondisi perpisahannya adalah saat nenek memergokinya akan melukai dirinya sendiri dengan sebuah gunting kain yang kebetulan ada di kamar tersebut.
Flashback
Luhan tak berhenti menangis hari-hari itu. Wajahnya putih memucat karena dehidrasi, namun ia menolak segala makanan dan minuman yang diberikan. Luhan hanya terus menggumamkan satu nama yang tak berhenti terapal seperti sebuah doa. Haowen, haowen, haowen, hanya kata itu yang terucap di sela-sela isakan hebatnya. Membuat siapapun yang melihat, pasti akan merasa sangat iba dan merasakan seberapa dalam rasa kehilangan itu untuknya.
Luhan saat itu hanya berharap untuk bisa kembali pulang. Ia ingin bertemu dengan anaknya yang sudah ia nantikan kehadirannya, namun nasib membawanya untuk memeluk perpisahan sekali lagi, bahkan sebelum ia bisa mengucapkan kata sapaan hangat selamat datang pada anaknya.
Oh betapa terukulnya Luhan saat itu. dalam pertama kalinya Luhan di hidupnya menangis sekeras itu, selama itu, dan merasa sesedih dan sehancur itu. Semangat hidupnya seperti terambil, alasan untuk terus bernafas seperti di rampas.
Beberapa saat setelah Luhan berhenti menangis, laki-laki manis itu hanya terduduk diam. Kakinya ia bawa mendekat ke badannya dan tangannya melingkar di kakinya, seolah memeluk dirinya sendiri. Luhan hanya diam, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Namun dalam pikirannya, terpikir berbagai hal terutama mengenai kejadian yang terjadi padanya saat ini.
Di pikiran Luhan terus terngiang dengan jelas kalimat kalimat yang diutarakan oleh objek pujaan Luhan dalam mimpi-mimpinya.
"Ah, dan ini yang terpenting, saat akhirnya kau mengandung, dan melahirkan, anak itu bukanlah milikmu, anak itu akan menjadi anakku dan Yoona. kau tidak boleh memilikinya, bahkan menyentuhnya, kau…tidak berhak atas anak itu, tugasmu hanya membawanya hadir di dunia ini, mudah kan?"
Yang Mulia Oh Sehun… saat itu saya mengerti, dan saya bahkan mencoba menerima perkataan anda yang kejam itu, tapi kenapa….
"Kalau kau mencintai anak ini, tidak ada salahnya anak ini juga mencintaimu kan?"
Kenapa anda memberi saya sebuah harapan yang nyatanya kosong. Apakah anda berbohong…
"Yoona akan menjadi Eomma. Dan kau akan menjadi Mama. Cukup adil. Tidak ada masalah kan mempunyai dua ibu."
Satu air mata lagi-lagi lolos begitu saja dari mata indah yang memancarkan kekecewaan mendalam.
"Kau orang buangan, kau kotor, kau tidak berpendidikan dan kau berasal dari keluarga yang entah bagaimana statusnya…"
Apakah aku masih terlalu kotor untuk menjadi ibu bagi anak-anakmu? Sehina itukah aku dimatamu Yang Mulia Oh Sehun?
Luhan menangis dalam diam. Ia menggigit bibirnya mnecoba untuk tidak mengeluarkan suara yang menganggu. Ia tahu bahwa selama ini ia sudah membuat dua orang yang merawatnya merasa khawatir. Demi Tuhan, Luhan tidak ingin menjadi beban lagi. Jika saja kehadirannya memang tidak diharapkan, sehingga ia harus dibuang, sehingga ia tak patut bahagia, Luhan akan pergi. Dengan ikhlas ia akan pergi.
Luhan memandang sore yang cerah itu. memandang siluet oranye yang menghiasi kanvas maha besar sang kuasa. Luhan hanya tersenyum miris. Langit pun berbahagia menampilkan keindahannya dan mengejek Luhan yang tenggelam dalam kesedihan mendalam. Tidak ada seorang pun yang mau menerimanya. Luhan tahu, maka ia akan memlih pergi, melarikan diri nampak seperti jalan yang terbaik….
Dan sore itu, sore dimana nenek menemukan Luhan tengah mencoba melukai dirinya sendiri.
Setelah melempar gunting yang baru saja akan menancap di pergelangan tangannya, setelah menampar paras pemuda yang sudah penuh dengan jejak air mata, setelah Luhan jatuh terduduk dan kembali menangis, pemuda yang berparas ayu dan berselimut kesedihan itu, nenek hanya memeluknya dengan erat. Mencoba menguatkannya. Karena ia tahu, kehilangan seorang anak bukanlah hal yang mudah. ia tahu benar perasaan itu. maka pemuda di hadapannya ini, nenek berjanji akan mengembalikan kembali pijakan hidupnya.
Flashback end.
"Sudah selesai makan?" kakek menaruh sumpitnya di atas mangkuk. Luhan yang ditanya segera menghabiskan sisa nasi terakhirnya kemudian mengangguk ketika mulutnya masih penuh dengan nasi yang dikunyahnya cepat-cepat.
"Pelan-pelan Luhan-ah, kunyahlah dulu makananmu itu," ucap nenek sambil tertawa. Luhan hanya tersenyum menanggapinya.
"Paman, pesan mi 4 mangkuk!" teriak salah satu dari segrombolan pria yang baru saja memasuki kedai. Melihat itu, Luhan dengan segera membawa peralatan makan yang tadi digunakan dan pergi ke dapur untuk mencuci piringnya. Nenek segera mengikuti Luhan untuk membuat pesanan mi yang baru saja datang.
"Luhan, bawalah ini ke pelanggan yang tadi," Nenek menyodorkan nampan yang sudah berisi 4 mangkuk besar mi yang mengepul panas. Luhan kembali mengangguk dan berjalan meninggalkan dapur dan pergi menuju meja segrombolan pria tadi.
"Permisi, ini pesanan anda," kata Luhan lirih. Luhan memang jarang berbicara akhir-akhir ini. Jika pun ia berbicara, pasti akan bersuara lirih. Seolah kehilangan kepercayaan dirinya yang dulu.
Luhan meletakkan mangkok-mangkok yang berisi mi panas itu dengan hati-hati, saat salah satu pria dari gerombolan itu mengatakan sesuatu pada kakek yang berada di belakang Luhan, mengantar pesanan yang lain.
"Paman, keponakanmu memang cantik-cantik. Baru saja keponakanmu yang cantik kemarin menjadi seorang istri calon raja, bagaimana jika yang ini mungkin, boleh kupinang tidak?"
Luhan yang mendengarnya cukup tersipu. Ia hanya membalas godaan gerombolan laki-laki itu. Namun kakek datang dan merangkul bahu Luhan dengan erat.
"Hei, dia ini keponakanku yang berharga, jika keponakanku yang satu sudah mendapat seorang calon Raja, yang cantik ini pun harus mendapatkan Raja," guyon kakek.
Luhan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ya, ia sudah mendapatkan Raja.
Raja yang membuangnya begitu saja.
Setelah mengucapkan permisi pada para pelanggan dan juga kakek, Luhan kembali ke dapur dan membawa lagi mangkuk-mangkuk mie yang mengepul panas dan siap di sajikan. Luhan selalu suka bau mi buatan ennek. Baunya gurih dan selalu membuatnya ingin makan lagi. Luhan mencium asap dari mangkuk yang di bawanya dengan khidmat.
"Luhan, kau boleh makan mi nanti, kau sepertinya ingin sekali," ucap nenek sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah pemuda mungil ini. Luhan hanya tertawa kecil dan tersipu malu karenanya.
Luhan kembali melangkah keluar dapur dan mengantarkan pesanan mi kepada pelanggan yang lain.
Sedikit demi sedikit hidup Luhan mulai kembali.
Luhan hanya bisa berharap…
Tak ada lagi yang ingin menghancurkannya….
.
.
.
.
.
Di ruangan luas dan bercahaya temaram itu, berdiri dua sosok yang sangat terlihat kontras keadaannya. Lelaki yang berdiri agak jauh dari sebuah meja kayu luas yang berisi berbagai perkamen penting dicucuri keringat dingin dan wajahnya sudah pucat pasi. Sedangkan lelaki lainnya berdiri angkuh di balik meja kayu luas itu. terlihat menakutkan dan pancaran kemarahan menyala-nyala di matanya yang tajam. Terlihat siap membunuh apapun yang tak memuaskan keinginannya saat ini.
Sehun menggebrak meja di hadapannya. Ketua pasukan terlihat berdiri takut-takut dan pandangannya mengarah ke bawah tanda ia siap menerima konsekuensi apapun dari raja yang sedang kalap beberapa hari ini.
"Kau bilang apa?"
Kepala pasukan itu menghembuskan nafasnya pasrah. "Yang Mulia, kami tidak bisa menemukan Luhan di manapun, kami―"
Sehun dengan kalap melepar botol tinta yang ada di meja kerjanya ke arah kepala pasukan. Dan tepat mengenai pelipisnya.
"Y-Yang M-Mulia k-kami sudah berusaha n-namun―"
"Apakah harus aku?" tanya Sehun dengan desisan tajam.
"M-Maaf?"
"Kau tidak bisa menemukan seorang laki-laki, apakah tugas seperti ini harus aku juga yang melakukannya? Apa kau sudah terlalu tua untuk melakukannya? Kau ingin berhenti?"
"T-t-tidak Yang Mulia, kami―"
"kalau begitu kenapa kalian tidak bisa menemukannya?" lagi-lagi perkataan kepala pasukan itu terpotong oleh desisan tajam Sehun.
Dan Kepala pasukan itu hanya diam.
"JAWAB!" Sehun menggebrak lagi meja kerjanya. Membuat kepala pasukan itu tersentak.
"DENGAR, AKU TIDAK MENTOLERIR KEGAGALAN!" Sehun melangkah meninggallkan meja kerjanya dan mendekati kepala pasukan yang sudah bergetar ngeri.
"Aku memberimu waktu seminggu, seminggu dan kau tidak menemukan hasil apapun. Kau seharusnya sudah mengenal baik diriku untuk tahu jika aku bukan orang yang cukup sabar," senyum sinis menghiasi wajah datar Sehun di akhir kalimatnya.
"Y-Yang M-Mulia, kami curiga j-jika Luhan sudah pergi keluar dari k-kerajaan ini," kepala pasukan itu mencoba menjelaskan.
Sehun mengangkat alisnya. "lalu?"
"U-uh..L-Luhan k-keluar dari k-kerajaan―" kepala pasukan itu tampak ragu-ragu mengulangi jawabannya.
"KAU PIKIR AKU TULI? AKU MENDENGARNYA DAN JIKA KALIAN TAHU BAHWA IA SUDAH PERGI DARI KERAJAAN INI KENAPA KALIAN TIDAK MEMULAI MENCARINYA DILUAR KERAAN INI?!"
Sehun menatap tajam kepala pasukannya. Ia mendekatkan jarak dan menatap langsung mata yang memancarkan ketakutan kentara.
"Temukan dia, dimanapun, dalam keadaan apapun."
.
.
.
.
.
.
Diujung ruangan lain di istana yang sama, seorang wanita tengah menggendong sayang makhluk yang baru saja dikirimkan ke dunia ini dengan sayang. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah cherry itu mengulum senyum lebar dan suaranya menyenandungkan lagu kecil yang mennenangkan.
Yoona menatap anak laki-lakinya yang sedang menyusu untuk memuaskan rasa lapar dari perutnya yang kecil itu. Setelah Haowen selesai, Yoona segera membaringkan kembali Haowen di kasur kecilnya yang mewah. Yoona memang sudah menyiapkan yang terbaik bagi anaknya, apapun yang ada di ruangan anaknya ini ia pastikan adalah barang yang terbaik dari yang terbaik.
Memandang Haowen yang tertidur membuat hati Yoona tenang. Ia menggenggam jemari-jemari mungil itu dalam tangannya yang lebih besar. namun tiba-tiba, rasa sakit melanda kepalanya dan rasa ingin mutah melanda perutnya.
Segera berlari ke kamar mandi di dalam ruangan cukup luas itu, Yoona segera memutahkan apa yang ingin ia mutahkan dan betapa terkejutnya ia, ketika mendapati darah segar keluar dari bibirnya yang terbentuk sempurna.
"Tidak…" lirihnya.
"Ramuan ini memang bisa membuatmu menyusui anakmu sendiri, namun ramuan ini juga sangat berbahaya, ramuan ini akan bekerja memakan zat-zat penting di dalam tubuhmu dan membentuknya menjadi air susu. Intinya, ramuan ini akan memakan hidupmu. Dan dengan keadaanmu sekarang, aku tak yakin kau akan bertahan lama jika meminumnya. Aku tidak bisa mengijinkanmu meminum ini Yoona-ya, kau harus tahu jika kesehatanmulah yang terpenting,"
Ini adalah perkataan Yixing padanya sejak dulu ketika ia tahu bahwa Luhan sudah hamil. Yang yixing tidak ketahui adalah jika ia diam-diam mengambil dan meminum ramuan itu setiap malam sebelum ia tidur demi impiannya untuk memberi anaknya air susu seperti ibu-ibu pada umumnya. Yoona ingin anaknya mendapat yang terbaik, sedikit berkorban tak akan menjadi masalah. Kan?
"Jangan sekarang…kumohon…hiks…jangan sekarang…."
Yoona menangisi keadaan waktunya yang menipis. Ia baru saja mendapatkan kebahagiaannya. Dan sekarang kenyataan bahwa ia tak bisa menikmatinya lebih lama membuatnya kecewa.
Karena roda kebahagiaan akan terus berputar..
Seseorang akan menggelinding naik ke atas…
Dan seseorang akan menggelinding ke bawah…
Kemudian terlindas.
.
.
.
.
.
Kyungsoo melirik ke arah Jongin yang masih memandang keluar kereta. Mereka tengah melakukan berbagai perjalanan ke kerajaan-kerajaan lain. Tujuannya adalah memastikan jika kerajaan lain masih tetap bekerja sama dengan kerajaan Jongin dan kakaknya. Sekaligus meminta restu jika ia akan meminang Kyungsoo secepatnya. Dan juga meminta bantuan jika saja, kerajaan mantan calon istrinya menuntut balas atas apa yang dilakukan Jongin pada putri mereka.
Sejauh ini kerajaan lain masih setia pada kerajaan Jongin. Meski kerjasama antara kerajaan Jongin dan mantan calon istrinya gagal, namun mereka masih tetap meninginkan kerjasama antar kerajaan mereka. Jongin bersyukur karenanya.
Kyungsoo menghela nafasnya melihat Jongin yang tampak kelelahan. Ia menepuk bahu tegap Jongin dan Jongin segera menoleh ke arah kekasihnya itu.
"Hmm?" tanya Jongin pelan.
"Tidurlah Jongin, aku tahu kau lelah, tidurlah,"
Jongin mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pundak sempit Kyungsoo. Tangan yang tidak terlalu panjang itu berusaha meraup punggung lebar Jongin dan mengelusnya pelan.
"Soo,"
"Hmm?"
"Aku mencintaimu,"
Kyungsoo tersenyum mendengarnya. "Aku tahu," jawabnya sederhana.
Jongin mengerucutkan bibirnya. "Jawab Soo,"
Kyungsoo tersenyum lebar menampakkan belah bibirnya yang berbentuk hati. "Aku juga mencintaimu Pabo, jadi cepat selesaikan ini dan nikahi aku,"
Jongin tertawa mendengar ucapan Kyungsoo yang terkesan blak-blakan. Ia bangun sebentar dari sandarannya untuk mengecup bibir hati yang masih terasa sama manisnya ketika ia pertama kali mencicipinya.
"Aku akan menikahimu secepatnya, aku janji,"
Kyungsoo tersenyum manis kemudian mengangguk mendengar ucapan Jongin.
Kuda terus berlari dan roda kereta terus berputar. Tujuan selanjutnya adalah kerajaan Chanyeol. Ini adalah kunjungan yang terakhir. Jongin tahu bahwa sahabatnya pasti tidak akan memutuskan kerja sama dua kerajaan. Namun Jongin hanya ingin memastikan dan melakukan kunjungan resmi. Sudah terlalu lama semenjak Jongin melihat sahabatnya yang kekanak-kanakan itu.
"Jongin-ah,"
"hmm?"
"Aku lapar, tidak bisakah kita berhenti sebentar?"
Jongin mengangguk mengerti. Terakhir kali mereka makan adalah kemarin malam ketika masih berada di salah satu kerajaan kunjungan. Jongin merasa perutnya juga sudah kosong. Tidak ada salahnya mereka mampir sebentar dan makan. Ia yakin pasukan yang mendampinginya juga sudah kelelahan. Jongin menyuruh kusir kereta kudanya berhenti di salah satu kedai makanan di kota milik sahabatnya itu. sang kusir dengan senang hati mengangguk. Jongin yakin pria tua yang menjadi kusirnya itu juga pasti sudah kelelahan.
Setelah agak lama kereta berjalan, akhirnya kereta berhenti dan sang kusir membukakan pintu dengan hormat. Kyungsoo menggeleng melihat lelaki yang sudah cukup umur itu membungkuk. Ia merasa berlebihan karena setiap kali pria tua itu membuka pintu, ia selalu membungkukkan badannya yang sudah ringkih itu.
"Soo?"
"Hmm?"
"Kita makan saja di kedai itu? bagaimana?"
Kyungsoo melihat salah satu kedai yang tampak ramai oleh pengunjung. Mata bolanya melihat tempat yang sepertinya menjual makanan berkuah yang hangat. Ia mengangguk. Kyungsoo sedang ingin memakan makanan yang pedas, mungkin mereka menjual mie pedas kesukaan Kyungsoo.
Jongin menggeser pintu kayu kedai itu dan bel berbunyi. Seorang lelaki datang dan menyambut kedatangan mereka. Seketika mata bulat yang sudah besar itu semakin memebesar.
"Paman Han?!"
Lelaki tua itu sedikit terkejut sebelum matanya yang sudah agak rabun ikut melebar. Menyadari betul ia mengenal pria mungil bermata bulat dan berbibir hati ini. "K-Kyungsoo? S-si kecil Kyungsoo? Ya Tuhan…"
Kyungsoo melepaskan genggamannya dari Jongin yang menatap heran. Kyungsoo memeluk lelaki tua yang ia panggil Paman Han dengan erat.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu Paman. Aku kehilangan kabar kalian setelah kalian memutuskan meninggalkan Mansion Im. Ah aku sangat merindukan mie daging pedas buatan Bibi!"
Dulu saat Kyungsoo dan ayahnya menjadi pelayan di Mansion Im, Paman Han dan istrinya adalah juru masak di Mansion itu. Menurut Kyungsoo masaka mereka sangat enak. Dan Bibi Han lah yang mengajarinya membuat kue kering yang lezat.
"Paman, kami akan membayar," suara dari seorang laki-laki memutus pelukan Kyungsoo dan Paman Han.
"Sebentar ya, Paman akan melayani pelanggan lain,"
"Woah, siapa lagi dia Paman?" kata salah satu lelaki dari gerombolan itu.
"Dia?" paman Han melirik Kyungsoo yang kini berpelukan dengan istrinya dan berjalan ke arahnya. "Dia keponakan Paman,"
"Benarkah? Kenapa keponakan Paman selalu cantik-cantik,"
Jongin yang tak sengaja mendengarnya melirik tajam pemuda yang beraani-beraninya mengatakan Kyungsoonya cantik. Ya tentu saja ia tahu jika kekasihnya itu cantik, namun ia tidak suka jika ada seorang lelaki memuji Kyungsoo karena ia menginginkan Kyungsoo.
"Ya, kau―"
Ucapan marah Jongin dipotong dengan tarikan tangan Kyungsoo dan gelengan kepala yang menandakan jika Jongin tak perlu marah pada pemuda tadi. Dengan dengusan kesal, Jongin kembali menggandeng tangan Kyungsoo dan kini ia menggenggamnya lebih erat. Dan saat para gerombolan lelaki tadi berjalan melewati mereka, Jongin tak lupa memberi lirikan tajam gratis pada gerombolan itu.
"Ah, apa kau kekasihnya?" tanya nenek ramah. "Kau terlihat sangat protektif pada si kecil Kyungsoo,"
"Bibi, berhentilah memanggilku seperti itu, aku sudah tidak kecil lagi," Kyungsoo berpura-pura mengerang kesal.
Jongin tertawa melihat kekasihnya bertingkah aegyo pada wanita tua yang ia panggil Bibi han ini.
"Duduklah kalian, aku akan menyiapkan mie daging pedas kesukaan Kyungsoo untuk kalian,"
Jongin menggandeng tangan Kyungsoo dan membawanya ke salah satu meja yang kosong.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mereka lagi," Kyungsoo tak bisa menyembunyikan senyumnya yang lebar. Dan Jongin tak bisa memungkiri melihat Kyungsoo tersenyum juga bagian dari kebahagiaannya. Ia suka melihat kekasihnya itu tersenyum lebar seperti sekarang.
Waktu menunggu mereka habiskan dengan mengobrol tentang masa lalu Kyungsoo saat masih berada di Mansin Im. Sesekali Jongin membuat guyonan yang membuat malaikat kecilnya tertawa senang dan mata bulat lebar itu membentuk lengkungan kebahagiaan.
"Permisi, ini pesanan kalian…"
Kyungsoo mengangguk mantap melihat mie daging pedas kesukaannya sudah tersaji di hadapannya. Ia sudah bersiap mengambil sumpit, namun sebelumnya ia tak lupa menengokkan kepalanya ke arah pelayan yang kini membungkuk hormat dan mengucapkan selamat menikmati dengan lirih.
Oh dan ketika pelayan tadi menegakkan badannya dan menampakkan wajahnya, mata Kyungsoo seakan ingin keluar dari wadahnya, lagi.
"LUHAN?!"
.
.
.
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Luhan. Penjelasan yang sesungguhnya sangat menyayat hatinya, cerita kesedihan Luhan yang seprti tak ada habisnya, Kyungsoo hanya bisa memeluk sahabatnya itu erat. Dibiarkannya Luhan menangis dan membasahi bajunya. Ia tidak keberatan, bajunya tidak sebanding dengan penderitaan yang harus Luhan pikul seorang diri.
"K-Kumohon…j-jangan b-beritahu Yang M-Mulia S-Sehun…a-aku, a-aku―"
"Luhan, aku yakin Yang Mulia tidak akan melakukan itu, tidakkkah kau berpikir jika ia mulai menyukai keberadaanmu?"
Luhan menggeleng. "I-ia membuangku Kyung…Y-Yang Mulia tidak menginginkanku, i-ia memisahkanku d-dari…d-dari…"
"Oh Luhan….." Kyungsoo memeluk lagi sosok pemuda yang nampak sangat rapuh itu. "Gwenchana, Luhan, gwenchana…." Kyungsoo menglus punggung yang sempit itu dan membisikkan kata-kata penenang di telinganya.
Dalam hati, Kyungsoo memeinta maaf pada laki-laki muda berparas indah yang sekarang masih menangis di pelukannya. Kyungsoo yakin ada yang tidak beres di sini, jadi dengan pertimbangan mantap, Kyungsoo memutuskan bahwa Sehun berhak tahu, dimana keberadaan Luhan saat ini.
Karena Luhan juga berhak bertemu dengan anak yang baru saja dilahirkannya.
.
.
.
.
Sehun melirik seorang lelaki yang baru saja tiba di hadapannya dengan minat yang serius.
"Jadi kau bilang Luhan sedang berada di Phoenix?"
Lelaki itu mengangguk. "Yang Mulia Kai dan Tuan Kyungsoo menyuruh saya menyampaikan hal ini, namun perlu anda ketahui Ynag Mulia, sebenarnya tuan Luhan tidak menginginkan anda tahu keberadaannya karena ia menganggap bahwa andalah yang membuang tuan Luhan,"
"Apa? Tapi aku tak melakukannya!"
Lelaki itu menunduk lagi, mulai gentar dengan suara Sehun yang terdengar marah. "Maka dari itu, tuan Kyungsoo mengirim saya kemari untuk memberitahu anda mengenai keberadaan tuan Luhan agar anda bisa memberitahu tuan Luhan yang sebenarnya,"
Sehun terdiam cukup lama mendengar perkataan pemuda di hadapannya ini. Ini adalah pesan yang sangat berharga dan penting. Ia kini telah tahu dimana keberadaan lelaki mungilnya, dan ia ingin segera menyusul dan membawanya pulang. Pulang kembali ke pelukannya dan anaknya.
"Siapkan kudaku, aku sendiri yang akan berangkat ke Phoenix malam ini juga." Sehun memerintahkan pasukan yang berada di belakangnya. Ia beralih ke pemuda di hadapannya. "Kau boleh tinggal di sini dan diperlakukan sebagai tamu ataupun kau bisakembali pada Kai ataupun Kyungsoo, tapi kau perlu tahu jika aku tidak akan menunggumu di dalam perjalanan, aku harus sampai ke Phoenix secepatnya,"
Pemuda tadi mengangguk. Ia akan memilih untuk tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan. Selanjutnya ia bisa menyusul kembali rombongan asalnya yang akan pulang ke kerajaan asal.
BRAK!
"Yang Mulia, Yang Mulia Yoona kembali pingsan dan―"
"Aku harus pergi, panggil Yixing untuk merawat Yoona," jawab Sehun datar.
"tapi―"
"Apa aku harus mengulang perintahku?"
"T-Tidak Yang Mulia, m-maafkan s-saya,"
"Bagus, aku harus pergi, sampaikan pamitku pada Yoona ketika ia sudah sadar, aku akan ke kamar anakku sebelum aku pergi,"
Seluruh pelayan dan penjaga membungkuk hormat saat Sehun melintas dengan gagah di depan mereka. Sampai pada pintu kayu cukup besar, Sehun membuka handel pintu dengan mudah.
"Haowen-ah,"
Sehun mendekat ke arah ranjang mungil dimana bayinya tertidur dengan damai, ia mengelus pipinya yang gembil dan mengecup dahinya yang putih. Sayang matanya sedang terpejam, sehingga ia tidak bisa melihat binary rusa jenaka yang selalu terpancar dari matanya yang berbinar. Mirip Mamanya.
"Appa akan membawa pulang Mama,"
.
.
.
.
.
.
.
Malam, pagi, siang, sore berlalu begitu saja. Menghapus waktu dan membiarkan hari-hari berlalu. Sudah terhitung lima hari sejak Chanyeol menjanjikan akan membawa Baekhyun berjalan-jalan di kotanya. Baekhyun hanya diijinkan untuk berjalan-jalan, dan pencarian Hyungnya tetap diserahkan kepada para pasukan kerajaan.
Awalnya Baekhyun mengeluarkan tantrum saat mendengar keputusan Chanyeol, namun karena Chanyeol juga berusaha bersikap tegas pada istrinya itu, maka setelah teriakan marah dan tangis berjam-jam, Baekhyun setuju untuk 'berjalan-jalan' di kota.
Walaupun di dalam pikirannya, ia tetap berusaha untuk bertemu dengan hyungnya.
Baekhyun tahu, kemungkinan kecil hyungnya ada di sini, di kota ini, di tanah yang sama dengan yang Baekhyun pijak saat ini. Namun ia tidak akan berhenti berharap, bahkan pada kemungkinan sekecil apapun. Ia akan bertemu dengan hyungnya. Itu adalah keinginan terbesar Baekhyun saat ini.
Dengan kereta kuda yang berjalan sangat lambat―karena Chanyeol tidak ingin Baekhyun merasa tidak nyaman dengan jalan yang tidak rata―Baekhyun menelusuri keadaan kota yang sedang tidak ramai itu. orang-orang yang tampak memandang barang-barang di luar toko, pasangan-pasangan muda yang bergandengan tangan, anak-anak perempuan yang sedang bermain-main dengan masing-masing rambut temannya, anak-anak laki-laki yang bermain kejar-kejaran, atapun seorang pengantar makanan yang terlihat buru-buru memenuhi pemandangannya sedari tadi. Namun jika hanya memperhatikan dari jendela kereta itu membuat Baekhyun bosan setengah mati.
"Chanyeol-ah aku bosan jika kita hanya di dalam kereta, tidak bisakah kita keluar dan berjalan layaknya pasangan biasa?"
Chanyeol menggigit bibirnya gugup mendengar perkataan istrinya. Ia menggeleng pelan tanda tidak mengijikan hal itu terjadi. Dan Baekhyun mengerang kesal melihat suaminya lagi-lagi menggeleng atas permintaannya.
"Baekhyun-ah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di luar sana, kau bisa saja tersandung kerikil dan melukai kandunganmu, atau ada bola yang tiba-tiba menghantam perutmu―"
Baekhyun meletakkan telunjuknya di bibir suaminya yang mulai cerewet. "Antarkan aku ke tempat nenek dan kakek. Aku ingin makan mie sekarang, boleh?"
Kali ini, tanpa banya bicara Chanyeol mengangguk. Lagi pula hanya bertemu dengan kakek dan nenek, itu bukan masalah yang besar. lagi pula tidak aka nada hal-hal mengejutkan dan membahayakan di sana.
.
.
.
"KAKEK, NENEK!" Baekhyun berteriak begitu saja ketika dirinya masuk ke dalam kedai yang cukup ramai itu. semua orang hendak bangun dan membungkuk ke arah mereka ketika tangan Baekhyun memberi gesture untuk tidak perlu repot-repot melakukan itu. semua orang tampak tersenyum canggung walau mereka akhirnya kembali sibuk dengan kegiattan mereka masing-masing.
"Baekhyun-ah! Kau datang!" nenek dengan tergesa berlari dari dapur menuju pintu utama kedai. Perut Baekhyun yang membesar agak menghalangi pelukannya, namun nenek tetap mengalungkan tangannya yang kurus ke pundak Baekhyun. Setelahnya, nenek dengansigap menarik Chanyeol agar membungkuk sehingga ia juga bisa memberi makhluk tinggi ini sebuah pelukan hangat.
"Wah, wah, ada angin apa sehingga keponakanku datang kemari?" kakek pun ikut menghampiri dan menepuk bahu Chanyeol pelan.
"memang Baekhyun tidak boleh berkunjung?" tanya Baekhyun manja.
"tentu saja boleh, tapi bisnis kakek bisa bangkrut jika ka uterus-terusan memakan mie gratis," canda sang kakek.
"Arraseo, kali ini Chanyeol yang akan membayar semua mangkuk mie yang akan kuhabiskan, kan sayang?" Baekhyun melirik suaminya. Chanyeol menghela nafasnya dan mengangguk pasrah.
"Chanyeol?"
Laki-laki yang merasa namanya terpanggil pun menengok ke arah laki-laki yang baru saja memanggilnya, matanya membulat tak percaya.
"kai? Sedang apa kau di sini?" Chanyeol menghampiri kawan lamanya itu dan memeluknya singkat.
"Aku juga seharusnya bertanya hal yang sama padamu, kau mengenal Paman dan Bibi han? Dan oh―kau membawa istrimu yang cantik bersamamu, dan woah, sedang hamil besar rupanya, aku tak menyangka kau bisa menghamili seseorang Pabo," kai tertawa ringan di akhir ucapannya.
"Kau mempermalukanku," desis Chanyeol yang mukanya memerah. Kai hanya tertawa, begitu pula Baekhyun dan kakek, nenek.
"Jongin aku menyuruhmu untuk membawa―oh, ada tamu?"
Kyungsoo muncul dari arah dapur masih memebawa sendok sayur ditangannya dan memakai kain putih yang dililitkan dipinggangnya.
"B-Bukankan a-anda Y-yang Mulia Chanyeol?" tanya Kyungsoo sambil menunjuk Chanyeol dengan sendok sayurnya.
"Kyung, kau berbahaya jika sedang memegang sesuatu, ini bisa saja berakhir melayang di wajah seseorang, jadi ini aku ambil oke?" Jongin mengambil sendok sayur yang menunjuk wajah Chanyeol. Kyungsoo mengangguk dan tertunduk malu karena ucapan kekasihnya itu.
"Chanyeol, perkenalkan, calon istriku, Do Kyungsoo, yang sebentar lagi akan menjadi Kim Kyungsoo,"
Chanyeol mengangguk dan tersenyum melihat Kyungsoo memukul Jongin karena memperkenalkannya sefrontal itu pada anggota kerajaan.
"Ah ya, aku Park Chanyeol dan ini istriku Park Baekhyun," kata Chanyeol ikut memperkenalkan diri. Kyungsoo membungkuk hormat dan dibalas bungkukkan hormat yang sama dengan Chanyeol namun Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya karena ia tidak bisa membungkuk dikarenakan perutnya yang membesar.
Saat memandang wajah Baekhyun, Kyungsoo terkesiap kaget karena ia mengingat seuatu. Tangannya ia bawa menutupi mulutnya yang etrbuka dan matanya lagi-lagi memebola dan seperti ingin keluar dari soketnya.
"K-Kau…X-Xi B-Baekhyun kan….?" Tanyanya tergagap. Baekhyun agak mengernyit karena Kyungsoo tahu marga aslinya. Hanya sedikit orang yang tahu marga asli Baekhyun karena ia bukanlah berasal dari kalangan orang terpandang dan terkenal sebelumnya.
"Ah ya, nama asliku Xi Baekhyun―"
"Aku pulang, maaf aku terlambat aku sedikit bingung mengenai arah menuju rumah Tuan Jung,"
Luhan masih membawa kotakan kayu yang ia pakai untuk membawa mi yang ia antarkan tadi, berjalan dengan pelan menuju segerombolan orang yang kini menatapnya dengan tajam. Luhan melirik kakek dan nenek yang memandnagnya dengan tatapan bingung, Kai yang mengernyitkan dahinya, Kyungsoo yang menatapnya seolah-olah ia terkejut akan sesuatu, lalu Luhan beralih pada dua orang asing yang baru saja ia lihat, seorang yang tinggi menatapnya tanpa berkedip dan sama terkejutnya seperti Kyungsoo dan yang terakhir…
Kini giliran Luhan yang melebarkan matanya karena terkejut.
Sungguh. Sangat. Terkejut.
Luhan menjatuhkan begitu saja kotakan yang ia bawa. Menimbulkan suara debuman yang cukup keras pada lantai kayu kedai itu. Luhan memandang seseorang yang telah lama hilang dari pandangannya. Dan orang itu pun membalas pandangan Luhan dengan emosi yang sama yang dipancarkan oleh Luhan.
"X-Xi B-Baek…hyun…." Lirih Luhan dengan terbata.
"Nde, hyung…." Balas Baekhyun dengan lirihan yang sama.
Bagai gerakan slow motion, Baekhyun berjalan dengan pelan ke arah hyungnya yang hanya mampu terpaku memandang ke arahnya. Air mata Baekhyun tergenang sempurna di pelupuk matanya. memburamkan pandangannya dan siap membasahi pipinya kapanpun. Setiap langkah yang ia ambil membuat jantungnya berdebar lebih cepat, membuat nafasnya seperti tercekat, dan membuat pipinya semakin basah karena air mata. namun perasaan hangat mengalir langsung melaui jarinya, ketika ia sudah tiba di hadapan hyungnya dan menyentuh wajah yang telah dibanjiri oleh aliran Kristal bening yang sama dari matanya yang berbinar cantik.
"Hyung cantik…Luhannie hyung yang cantik…" gumam Baekhyun di depan Luhan. Jarinya mengelus pipi Luhan yang basah. Berusaha menghilangkan air mata yang seakan tak bisa berhenti menetes.
Luhan mendekat ke wajah adiknya itu dan mengecup dahinya lembut. "Baekhyunnie yang manis….adik kecil hyung yang manis…"
Dan kemudian keduanya pecah dalam tangis yang keras. Kini bukan hanya kakek, nenek, Kai, Kyungsoo, maupun Chanyeol yang memandang meraka saja. Namun pengunjung kedai pun mulai memperhatikan interaksi dua orang yang kini saling memeluk dan menangis.
"H-Hyung…h-hyung mi-mianhae…mianhae karena meninggalkan hyung waktu itu…B-Baekhyun―"
"Ssst, gwenchana….gwenchana Baekhyun-ah, hyung snagat senang melihatmu sehat sekarang, hmm, jangan menangis…."
Baekhyun terus terisak keras. Ia memandang wajah hyungnya yang terpahat dengan keindahan alami yang mamukau itu. dalam isakan yang masih belum terhenti, hyungnya tersenyum, senyum tulus dan menenangkan yang sudah lama ia rindukan keindahannya. Baekhyun memeluk hyungnya lebih erat.
"H-hyung…B-Baekhyun rindu…j-jangan pergi…k-kumohon j-jangan pergi lagi…."
Luhan membalas pelukan adiknya yang telah lama hilang dari pandangannya. Wajah adiknya yang tidak berubah. Ia masih Baekhyun kecilnya yang cantik dan manis. Baekhyun kecilnya yang lucu kini terlihat lebih gemuk. Luhan menyukai fakta bahwa adiknya hidup sehat dan berbahagia. Bahkan kini ia tengah menanti kehadiran buah hati terlihat dari perutnya yang membesar.
Luhan meneteskan air mata kebahagiaannya.
"Hyung tidak akan pergi….jangan menangis Baekhyun-ah, jangan menangis…dewa hujan tidak suka melihatmu menangis…jangan menangis…"
Dan kini semua terasa benar. Segala tindakan, pelukan, gesture, kata-kata yang telah lama hilang kini telah kembali. Hyungnya telah kembali. Dan Baekhyun kecilnya telah ditemukan.
Riuh rendah perkataan para pengunjung tidak mereka pedulikan. Kyungsoo yang kini sudah menangis memeluk bibi han yang juga menangis, Kai yang ikut tersenyum bahagia untuk mereka, Chanyeol yang diam-diam sudah mengelap air matanya yang menetes, dan kakek yang tersenyum dengan bangga pada dua orang yang sudah dianggapnya keponakan itu, semua bukan hal yang penting sekarang.
Dua kakak beradik tu seperti mempunyai dunia mereka sendiri. yang tidak bisa diganggu orang lain.
Keduanya menangis, keduanya larut dalam euphoria kerinduan yang mendalam
Pelukannya erat, seolah tidak ada seorang pun yang rela melepaskan genggamannya
Saling menyalurkan rasa senang yang membuncah karena pada akhirnya, mereka diberi kesempatan
Untuk bertemu kembali, utuk bersatu sekali lagi
Ah, biarkanlah mereka berbahagia, karena segala perjuangan yang telah tertempuh tidak akan pernah sia-sia.
Dan biarkan sepasang mata setajam elang yang sedari tadi memperhatikan adegan itu menggeser pintu dengan pelan dan menutupnya lagi. Seolah tidak ingin menjadi pengganggu atau perusak momen berharga itu.
.
.
.
.
.
Sehun turun dari kuda hitamnya dan mengikatkan kudanya pada salah satu kayu yang disediakan. Sehun memutar pandangannya dan mencari sebuah kedai mi yang disebutkan oleh pemuda yang beberapa hari yang lalu datang menemuinya.
Dengan langkah pasti Sehun berjalan menelusuri dan melihat ada sebuah kedai mi yang cukup ramai. Sehun melangkahkan kakinya ke sana. Namun betapa beruntungnya ia, karena objek yang ia cari kini ada di hadapan matanya langsung.
Terlihat Luhan membawa kotakan kayu berjalan tergesa memasuki kedai itu. Sehun yang melihatnya tersenyum lebar dan berusaha mengejar langkah sempit Luhan. Sehun berlari tanpa mempedulikan sekelilingnya. Hampir ia ditabrak oleh kereta kuda, atau menyenggol orang-orang yang ia lalui dan mendapat sumpah serampah karenanya. Pada keadaan biasa, Sehun akan emmenggal siapapun yang berani menyumpahinya. Namun kini hal itu terasa tidak penting dan ia hanya ingin segera menggenggam tangan mungil pemuda yang kini telah memasuki pintu kedai yang lebar.
Dengan terengah-engah Sehun sampai pada pintu kedai itu dan berusaha membukanya. Baru tergeser sedikit pintu itu, Sehun melihat dengan matanya bagaimana pria mungilnya dipeluk oleh namja lain, yang ia ketahui adalah istri dari sahabatnya yang pernikahannya ia hadiri setahun yang lalu.
"Baekhyunnie yang manis….adik kecil hyung yang manis…"
Sehun mendengar pria mungilnya berbicara pada istri sahabatnya itu dengan sayang dan lembut. Meski lirih Sehun dapat mendengar dengan jelas suara yang dikeluarkan oleh pria mungilnya. Seolah telinganya memang diciptakan untuk selalu mendengar apa yang pria mungil itu katakan.
Sehun mengernyit ketika mencerna kata-kata yang Luhan ucapkan. Adik?
"Jika saya boleh tahu….a-apakah Yang Mulia mengenal seseorang bernama B-Baekhyun di kerajaan ini?"
"Y-yang Mulia, apakah Yang Mulia tahu siapa marga dari sang calon pengantin? Maksudku marga Yang Mulia B-Baekhyun?"
Sehun mengingat percakapannya dengan Luhan saat pernikahan sahabatnya Chanyeol. Bagaimana Luhan terus bertanya mengenai calon pengantin, dan apakah Chanyeol adalah orang yang baik. Jadi waktu itu ia bertanya karena sang calon pengantin adalah
Adiknya?
"Jika aku Baekhyun itu, aku lebih memilih membunuhmu daripada harus mengakuimu sebagai keluargaku."
Oh, Sehun juga ingat bagaimana ia berbicara sangat kasar pada Luhan. Ia tak menyangka jika semuanya ternyata mempunyai ujung seperti ini. Hati Sehun seperti tertusuk sakit manakala ia mengingat apa yang ia lakukan ketika menemukan Luhan tertangkap penjaga saat pemberkatan di gereja.
Ia menamparnya berulang kali, mengatainya kata-kata kasar, menendang dadanya, semuanya itu diterima Luhan dengan lapang dada karena ia hanya ingin melihat pernikahan…adiknya…
Sehun kini merasa seperti sampah.
Diliriknya ke dalam kini dua kakak beradik itu sedang berpelukan. Baekhyun tak henti-hentinya menangis, dan Sehun pun juga tahu jika Luhan menangis. Terlihat dari punggungnya yang bergetar menahan haru yang membuncah ruah.
Sehun melihat pertemuan itu dan merasa jika ia harus berhenti untuk menjadi egois sejenak. Sehun menutup lagi pintu yang sedikit terbuka itu dengan pelan. Takut menganggu moment mengharukan yang terjadi di dalam sana. Kemudian ia pergi melangkah kembali menuju kuda hitamnya, dan memutuskan untuk menunggu di sana. Sehun tidak pernah suka untuk menunggu. Dalam hal apapun. Tapi sekarang, Sehun bersedia untuk menunggu.
Menunggu pria mungilnya selesai dengan urusannya.
Agar ia bisa menyelesaikan urusannya dengan pria mungilnya.
Luhan…
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
OKE INI PANJANG 6200+ WORDS, DAN GUE UPDATENYA CEPET! :" *terharu*
DAN LUBAEK AKHIRNYA KETEMU! HUNHAN JUGA KETEMU, SO JANGAN PROTES PLEASE ;A;
GUE NINGGALIN TUGAS YANG MENUMPUK DAN SEMAKIN BERANAK PINAK DEMI KALIAN, :"
ANYWAY, THANKYOU BUAT PARA PEMBERI IDE, PARA ADDERS BBM DAN LINE, ATAU VIA PM, ATAU VIA KOMEN, POKOKNYA I LOVE YOU, CHAPTER INI TIDAK AKAN TERJADI TANPA BANTUAN KALIAN, SERIUS, YOU'RE DA REAL MVP :"
PARA REVIEWERS ATAS SEGALA KRITIK SARAN, POKOKNYA KALIAN THE BEST LAH :"
KEKNYA PUM BENTAR LAGI TAMAT, MUNGKIN +- 5 CHAPTER LAGI *ini mah banyak lol*
So, buat kalian yang puny aide, pengen gimana gimana, please tell me, itu masukan banget buat gue, jadi gue punya arah tujuan pas nulis :"
Thankyou so so so much, love you, :*
