Chapter 17

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

Kereta kuda itu sampai pada pelataran istana yang luas. Kuda-kuda terus berlari hingga mereka sampai langsung di depan pintu utama istana yang megah. Seorang pengawal tak lama kemudian dengan sigap berlari ke arah pintu kereta dan membukanya dengan cepat namun tetap sopan.

Untuk orang pertama yang turun, seorang lelaki tinggi tegap keluar dari dalam kereta tersebut. Saat kakinya yang jenjang telah menapaki tanah ia mengulurkan tangannya kembali ke dalam.

"Baek, turunlah dengan hati-hati," kata lelaki tampan itu dengan lembut.

Chanyeol menggenggam erat tangan lentik milik pasangan hidup yang kini tersenyum manis ke arahnya, dan membantu pasangannya turun dengan hati-hati dari kereta yang cukup tinggi itu.

Saat kaki Baekhyun sudah menginjak tanah, tangan yang sedari tadi menggenggam suaminya terlepas kemudian terulur lagi ke dalam kereta. Seperti mneggapai-gapai ke dalamnya. Menyuruh orang lain di dalam sana untuk segera turun dan keluar.

"Luhan hyung, cepatlah turun," katanya dengan manja.

Seorang itu kini turun dari kereta. Kakinya yang kecil dan tubuhnya yang sepertinya ringkih itu kini sudah berdiri di depan Baekhyun yang menggembung besar perutnya. Tangan yang tadinya menggapai-gapai kini sekali lagi melingkar nyaman di pinggang ramping pemuda yang baru saja turun dari kereta itu. memeluknya posesif.

Luhan tertawa melihat tingkah adiknya tersayang.

"Ayo masuk hyung," Baekhyun berkata di sela-sela pelukannya yang rapat pada kakaknya.

Chanyeol yang melihatnya hanya bisa menggeleng dan mendesah pasrah. Lihat saja dua pemuda mungil cantik yang saling memeluk itu, mereka melupakan keberadaan Chanyeol dan langsung melangkahkan kaki pendek mereka masuk ke dalam istana.

Oh Chanyeol tidak iri. Yah mungkin sedikit. Ia merasa diabaikan oleh pasangan hidupnya yang manis itu. Namun bagaimanapun ia senang kakak beradik yang saling merindukan itu akhirnya kini dipertemukan. Bibirnya mengulum senyum ketika mendengar tawa merdu dari dua pemuda yang terus melangkah masuk ke dalam.

Saat kaki panjang itu hendak melangkah menyusul, salah seorang penjaga menghentikannya. Penjaga itu mnegisyaratkan agar tuannya menunduk untuk membisikkan sesuatu padanya. Chanyeol menunduk sesuai isyarat yang diberikan kemudian pengawal tadi menyampaikan pesan yang harus ia sampaikan.

Dahi Chanyeol sedikit mengkerut mendengar apa yang pengawalnya sampaikan. Ia kemudian mengangguk mengerti setelah pesan itu selesai disampaikan. Kakinya kembali ia gerakkan melangkah masuk ke dalam istana. Matanya mengawasi istri dan kakak dari istrinya―yang kini tentu saja juga merupakan kakak darinya―yang kini sedang pelan pelan menaiki tangga menuju lantai kedua. Mungkin akan menuju kamar Baekhyun dan Chanyeol.

Saat sampai di depan tangga, kaki Chanyeol segera berbelok menuju samping kiri, tidak menaiki tangga dan menyusul dua pemuda mungil itu namun berjalan lagi menyusuri sebuah lorong yang panjang. Kakinya terus melangkah hingga mengantarkannya menuju sebuah taman.

"Sehun…"

Lelaki yang sedari tadi terdiam memandang sebuah kolam buatan dengan air mancur yang mengucur indah itu segera berbalik saat namanya tersebut. Matanya yang terlihat tajam memandang Chanyeol dengan lelah.

"Kenapa aku harus menemuimu di sini? Kau bisa saja langsung masuk melalui pintu utama," Chanyeol menghampiri Sehun dan memeluknya singkat. Sehun tetap diam tidak membalas gesture ramah dari Chanyeol.

Chanyeol menepuk punggung temannya itu dua kali sebelum akhirnya ia melepas pelukannya. "Aku dengar kau sudah memeiliki seorang putra? Selamat," kata Chanyeol tulus.

Sehun tertawa meremehkan. "Tentu saja, aku sudah memiliki seorang putra yang sangat tampan,"

Chanyeol mengangguk. "Jadi untuk apa kau kemari?" tidak ingin berbasa basi lagi.

Sehun menaikkan alisnya. "Kau tidak mau tahu ceritaku mendapatkan seorang putra? Kau tahu benar jika Yoona tidak bisa mengandung,"

Mata bulat milik Chanyeol mengawasi laki-laki dihadapannya ini dengan awas. Chanyeol tahu Sehun tidak akan kemari tanpa urusan apapun. Lelaki ini sangat sibuk, tidak suka perkejaan yang bertele-tele dan juga temperamental. Melihat gesture dan mendengar nada bicara lelaki bermata tajam ini, sesuatu sedang tidak beres.

Chanyeol tidak tahu apa, tapi ia merasa sesuatu akan berbuah buruk.

Mengangkat bahunya, Chanyeol kemudian menundukkan kepalanya. "Sehun untuk apa kau kemari? Aku senang mendengar kau mempunyai seorang putra tapi―"

"Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria kumuh, seorang tahanan penjara," Sehun memotong perkataan laki-laki tinggi di depannya dengan nada datar. "Lucunya adalah setelah kusiksa pria itu, setelah kusakiti berkali-kali, ternyata ia adalah pria yang kubutuhkan. Aku membutuhkannya. Untuk mengandung seorang anak. Dia adalah pria yang bisa mengandung. Seperti istrimu. Lucu bukan?"

Chanyeol terdiam memandang Sehun yang tampak berantakan dan juga kelelahan. Sedikit semburat kesedihan tertanam dalam mata yang biasanya memancarkan kematian kejam. Telinganya dengan seksama mendengarkan cerita dari lelaki yang sudah ia anggap sebagai sahabat baik ini.

"Permintaan Yoona untuk memiliki anak, aku tidak bisa menolak bukan?" Sehun tertawa tanpa emosi kegembiraan di dalam tawanya. "Lalu aku membawanya masuk ke dalam istana, dan suatu malam, aku menidurinya. Kau tentu tahu apa yang terjadi Chanyeol. Kau pintar bukan?"

"Dia mengandung," jawab Chanyeol agak was-was, ia tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan Sehun saat ini, entahlah, atau mungkin ia tidak mau memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

Sehun kembali tertawa ringan. "Sebelumnya aku selalu memperlakukan pria itu dengan kasar. Membentaknya, menghinanya, tak jarang aku memukulnya dengan tanganku sendiri,"

"Sehun…" Chanyeol menyela lirih.

"Tapi kau tahu Chanyeol, semuanya hancur begitu saja. Tembok pembatas yang kubangun diantara pria itu denganku seolah runtuh begitu Yixing memberitahuku, bahwa pria itu sedang mengandung anakku,"

"Pria itu perlahan mengubah perspektifku padanya. Aku mulai bersikap baik padanya. Memanjakannya. Pria itu membuatku perlahan lahan jatuh padanya,"

"Dan kali ini, tindakanku itu membuat kesalahan besar,"

Sehun berbalik lagi memandang kolam dengan air yang tenang dan ikan yang berenang-renang di kolam itu dengan cepat.

"Sehun aku tidak mengerti, kau sudah menuruti keinginan Yoona, kau juga sudah berubah dan memperlakukan pria itu dengan baik, tidak ada yang salah dan aku berpikir jika―"

"Yoona…." Sehun kembali memotong perkataan Chanyeol. Tanpa bberbalik ia berkata dengan lirih.

"Tindakanku membuat Yoona melakukan kesalahan terbesar,"

Chanyeol mengernyitkan dahinya.

"Seharusnya aku lebih tahu, seharusnya aku tahu jika aku tidak boleh membagi hatiku pada siapapun selain Yoona. seharusnya aku tidak memperlakukan priaa itu dengan baik, atau mungkin seharusnya aku lebih baik tidak pernah sekalipun menuruti permintaan Yoona,"

"Sehun apa yang kau maksud dengan berbicara―" mata Chanyeol terbelalak lebar menyaksikan kini, salah satu sahabatnya itu, yang terkenal dengan kekejamannya, yang bahkan jarang untuk mengekspresikan perasaannya, menangis dengan air mata yang turun bagaikan air mancur di belakan tubuhnya. Sehun yang selalu nampak kuat itu kini terlihat lemah. Pria kuat itu terlihat rapuh dan dapat hancur kapan saja.

"Y-Yoona membuang i-ibu dari anakku yang baru saja lahir…." dengan lirih Sehun melanjutkan. Matanya yang bengkak dan memerah karena air mata yang tak kunjung berhenti menetes itu memandang mata bulat Chanyeol yang menampakkan belas kasihan.

"Sehun…"

"A-aku begitu frustasi saat harus mencarinya. Keberadaannya tidak diketahui…dan aku tidak bisa bertanya pada Yoona begitu saja, aku tidak ingin membuatnya sedih…."

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu, dan pencarian tampaknya terasa sia-sia, tapi aku ingin bertemu dengannya, aku ingin ibu dari anakku memeluk anaknya yang baru saja lahir….Haowen…Haowen membutuhkan ibunya…."

"Dan aku ingin…aku ingin ia kembali pulang…"

Chanyeol menghembuskan nafasnya yang sedari tadi seperti ia tahan saat mendengarkan cerita Sehun. ia menepuk bahu lebar yang kini tampak melemah dan memandang sahabatnya dengan senyum tulus.

"Sehun, aku senang mendengar seseorang telah melelahkan hatimu yang sekeras batu itu," Chanyeol tersenyum. "dan aku akan membantumu mencari pria yang ingin kau temui,"

Sehun menggeleng. "Chanyeol aku tidak membutuhkan bantuan yang kau tawarkan saat ini,"

Senyum Chanyeol yang semula terpatri perlahan menyurut.

"Aku kemari hanya ingin mengambil apa yang kumiliki,"

Dahi Chanyeol kembali mengernyit tak mengerti.

"Pria yang menjadi tokoh utama dalam ceritaku, adalah Luhan,"

Chanyeol melebarkan matanya kaget.

"Aku kemari untuk membawa Luhan pulang,"

.

.

.

.

.

.

Baekhyun membawa Luhan ke salah satu kamar tamu terbaik di istana. setelah tentu saja Baekhyun membawa kakaknya menemui dua orang yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri, ayah dan ibu Chanyeol, mertuanya.

Saat Baekhyun mengatakan jika Luhan adalah kakaknya, dengan hangat raja dan ratu yang sudah berumur itu terkejut dan memeluknya. Bahkan tak segan mengatakan jika mereka adalah orang tua juga untuk Luhan. dan saat itu Luhan tahu, bahwa adiknya selama ini berada di tangan yang tepat. Dikelilingi banyak cinta dan kehangatan keluarga.

Setidaknya hidup adiknya tidak semiris hidupnya.

Baekhyun tak berhenti-berhentinya mengoceh. Ia memperkenalkan kamar yang baru saja mereka masuki sebagai kamar baru kakak tersayangnya. Berbicara panjang lebar bagaimana kasur di kamar ini sangat empuk, dan juga pemandangan yang bagus, terlebih kamar ini adalah kamar yang paling dekat dengan kamar miliknya dan Chanyeol. Semuanya semata-mata agar Luhan mau dan betah tinggal di istana ini bersama nya.

Luhan menggeleng dan tertawa melihat tingkah adiknya yang tengah mengandung besar itu.

Kini keduanya hanya berbaring di kasur besar yang nyaman. Berbaring dengan berdekatan. Masih terlihat posesif antara satu sama lain.

"Baek…" Luhan memanggil adiknya yang sedari tadi memainkan jari-jarinya yang lentik.

"hmm?" jawabnya lembut. Pandangannya kini teralihkan sepenuhnya pada wajah hyungnya yang sempurna.

"Selamat atas kehamilanmu, hyung belum mengucapkannya secara resmi," Luhan tersenyum pada adiknya. Tangannya ia bawa mengelus perut Baekhyun yang membesar. Mengusapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Ouch," tiba-tiba Baekhyun mengeluh sakit saat bayinya menendang spot yang sama yang baru saja dielus oleh Luhan. Baekhyun tersenyum saat merasakannya, walaupun memang sakit, namun ia senang saat bayinya mmeutuskan untuk berinteraksi dengannya. Sedangkan Luhan sendiri tampak kaget saat adiknya mengeluh kesakitan seperti tadi.

"A-ada apa? Apakah hyung menyakitimu?M-maaf―"

"Hyung…." Baekhyun menggenggam tangan kakak laki-lakinya yang ditarik dengan cepat oleh pemiliknya karena takut akan menyakiti Baekhyun jika ia berlama-lama meletakkan tangannya di sana. "gwenchana…"

Luhan masih tampak ragu-ragu. Namun melihat senyuman tulus adiknya, ia meletakkan lagi tangannya di perut adiknya. Mengikuti gerakan adiknya yang membimbing tangannya, Luhan merasakan tendangan dari dalam perut Baekhyun.

"D-dia m-menendang, B-Baek, d-dia menendang!" Luhan tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya merasakan pergerakan keponakannya di dalam sana.

Sedangkan Baekhyun kembali tertawa melihat hyungnya tersenyum sangat lebar dan kembali mengelus elus perutnya dengan lembut.

"Kurasa keponakanku menyukaiku Baek," Luhan tertawa kecil mendengar penuturannya yang merasa percaya diri.

"Mereka tentu saja akan menyukai pamannya yang cantik, atau bibi?" Baekhyun terkikik di akhir kalimatnya.

"Aish, kenapa bibi? Tentu saja mereka―tunggu mereka?"

Tawa Baekhyun kembali menyeruak saat melihat wajah hyung nya yang mendadak seperti kebingungan.

"Apakah aku belum memberi tahu hyung jika aku dan Chanyeol menanti kedatangan si kembar?"

Dan seketika mata boneka milik Luhan melebar. Senyumnya mengembang lagi bahkan kini lebih lebar. Tarikan di pipinya membuat matanya kini terbentuk bulan sabit yang indah dan memancarkan kebahagiaan murni. Tawanya yang merdu memenuhi ruangan yang cukup luas itu

"Oh, hyung benar-benar tidak sabar melihat dua keponakan yang sebentar lagi akan lahir,"

Baekhyun tersenyum lagi melihat kebahagiaan terpancar di wajah hyungnya. Saat perjalanan di kereta, apa yang ia lihat hanyalah tatapan kesenduan dan senyum yang dipaksakan. Namun kini ia dapat bernafas sedikit lebih tenang karena sekali lagi senyum tulus bisa terpancar dari wajah hyungnya yang cantik.

"Tinggalah hyung,"

"hmm?" Luhan menengok dari perut Baekhyun dan kini memandang adiknya yang mulai bermimik muka serius.

"Tinggalah untuk melihat dua keponakanmu lahir, tinggalah di sini dan melihat dua keponakanmu tumbuh, kau bisa membantuku saat mengurus si kembar, tinggalah Hyung bersamaku, kumohon?" lirih Baekhyun di akhir kalimatnya.

Luhan sedikit tertegun mendengar ucapan adiknya padanya. Ia kemudian menggeleng pelan dan menundukkan wajahnya.

"Baekhyun…aku…aku tidak bisa…" lirihnya halus.

Baekhyun hampir saja langsung menangis mendengar jawaban yang keluar dari bibir yang biasa menyanyikannya lagu tidur saat kecil dahulu. Walaupun tak menyangkal, matanya kini sudah dipenuhi oleh genangan air mata yang menggumpal di sudut matanya.

"kenapa?"

Luhan memandang adiknya yang nampak jelas terluka. Sungguh bukan maksud hati ia ingin melukai adik kesayangannya.

"Baekhyun…hyung…hyung, punya urusan yang harus hyung selesaikan…"

"Apa?"

Luhan terdiam mendengar pertanyaan yang Baekhyun ajukan padanya.

"Hyung tidak ingin mengatakannya padamu, maaf…." Jawabnya ambigu.

Baekhyun memicingkan matanya mendengar jawaban tersebut. "Kenapa hyung tak bisa mengatakannya padaku? Bukankah kita bersaudara? Seharusnya tidak boleh ada rahasia yang tersimpan,"

Luhan menghela nafasnya pasrah. "Baekhyun-ah, hyung pikir ini masalah pribadi,"

Mendecakkan bibirnya kesal, Baekhyun menggenggam tangan hyungnya dan memainkan jarinya. "Aku hanya ingin kau berbagi masalahmu denganku, karena jika aku bisa membantu, aku pasti akan membantumu hyung,"

Luhan sedikit tersenyum mendengarnya. "Tidak perlu, kau akan tahu suatu saat nanti jika―"

"―jika kakakmu ini sudah memiliki seorang putra. Maaf menganggu tapi boleh aku berbicara dengan kakakmu sebentar?"

Dan sontak mata Luhan melebar awas, kala ia tahu siapa yang memutuskan untuk menganggu percakapannya dengan adiknya.

.

.

.

.

.

Chanyeol dengan raut muka yang sedikit tegang membuka perlahan salah satu pintu kayu terbaik di lantai itu. tahu benar dengan pasti, istri dan kakaknya sedang di dalam ruangan yang akan segera ia masuki. Namun baru sejengkal pintu itu terbuka, tangan putih Sehun menghentikannya.

"…tinggalah Hyung bersamaku, kumohon?"

Chanyeol yang mendengar permohonan istrinya hanya bisa menggeleng pasrah. ia tahu jika permintaan Baekhyun tidak akan terpenuhi.

"Baekhyun…aku…aku tidak bisa…"

Sedikit kaget, Sehun menaikkan alisnya, ia pikir luhan dengan cepat akan menerima janji kehidupan yang lebih baik yang ditawarkan adiknya.

"kenapa?"

"Baekhyun…hyung…hyung, punya urusan yang harus hyung selesaikan…"

Sehun mengeraskaan rahangnya. 'Urusan'? Jadi perlihal anakmu dan aku hanyalah sebuah 'urusan' Luhan?

"Apa?"

"Hyung tidak ingin mengatakannya padamu, maaf…."

Kenapa kau tak ingin mengatakannya? Tidakkah kau ingin bertemu Haowen Luhan? bertemu dengan anak yang baru saja kau lahirkan?

"Kenapa hyung tak bisa mengatakannya padaku? Bukankah kita bersaudara? Seharusnya tidak boleh ada rahasia yang tersimpan,"

"Baekhyun-ah, hyung pikir ini masalah pribadi,"

Masalah? Kau berpikir ini adalah sebuah masalah? Dengan tangan yang terkepal erat, Sehun melangkah dan membuka lebar pintu kayu itu dengan pelan, dan berjalan masuk tanpa suara mendekati ranjang yang diatasnya terdapat dua orang yang tak sedikitpun menyadari keberadaannya.

"Aku hanya ingin kau berbagi masalahmu denganku, karena jika aku bisa membantu, aku pasti akan membantumu hyung,"

Sehun berjalan semakin dekat, dan saat langkahnya sudah mendekati ranjang…

"Tidak perlu, kau akan tahu suatu saat nanti jika"

"―jika kakakmu ini sudah memiliki seorang putra. Maaf menganggu tapi boleh aku berbicara dengan istriku sebentar?"

…Sehun memotong perkataan Luhan dengan datar. Sehun melirik ke arah Luhan yang masih berbaring. Pria mungilnya sepertinya kaget dengan kemunculan tiba-tibanya. Ia melihat bahu sempit milik Luhan yang tampak menegang awas.

"Umm…maaf tapi siapa anda?" mata Sehun melirik ke arah pemilik suara yang baru saja berbicara dengannya.

"Aku? Bisa dibilang aku adalah pemilik pria yang berbaring di sebelahmu ini,"

Sehun bisa melihat Luhan sedikit terperanjat kaget, atau takut, dengan pernyataan yang ia utarakan.

"Apa maksud―"

"Baek," Chanyeol berjalan dengan cepat ke arah istrinya, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Baekhyun. Saat Chanyeol selesai membisikkan pesannya, Baekhyun tampak enggan dan ragu-ragu mengikuti arah mata Chanyeol yang mengisyaratkan agar mereka keluar dari ruangan tersebut. Dengan sedikit tarikan dari Chanyeol dan lirikkan cemas untuk Luhan yang menunjukkan raut muka ketakutan, Baekhyun akhirnya setuju untuk meninggalkan ruangan itu. untuk memberikan kesempatan kepada hyungnya, meneyelesaikan apapun yang terjadi antara ia dan orang itu.

Blam!

Setelah pintu tertutup, Sehun berjalan memutari tempat tidur yang cukup besar dan mewah itu. sampai di sisi yang bersebrangan dengan tempatnya berdiri tadi, ia kini menatap pria yang menatapnya balik dengan ketakutan yang amat kentara di sudut matanya yang jernih. Dengan satu gerakan mulus, Sehun kini sudah terbaring di tempat yang dipakai Baekhyun untuk berbaring tadinya.

Di sisi Luhan.

Membuat pria rusa ini semakin bergetar dalam takut dan tangis yang tertahan.

"Aku tahu jika kau tidak menyukai saat aku berbaring di sini. Tapi aku juga tahu jika kau tidak akan menatapku, bahkan jika aku menyuruh kan?" Sehun mulai berkata dalam nada datar dan lirih.

"Luhan…" panggil Sehun lembut.

Mata Luhan yang melebar kini mulai meneteskan air mata.

Dan Sehun tertawa kecil karenanya. "kenapa kau mennagis?" tanyanya. "Kenapa kau menangis saat aku mempunyai hak untuk marah padamu?"

Luhan menggigit bibirnya kuat. Ia tidak mengerti apa yang lelaki di hadapannya ini bicarakan.

"Dengar Luhan, jangan memainkan kartu tidak bersalah padaku. Kau menghilang bahkan saat mata Haowen belum menatap mata mamanya, kau menghilang bahkan saat tubuh mungil Haowen belum menerima pelukan hangat mamanya, kau menghilang saat Haowen membuka matanya untuk yang pertama, kau menghilang saat Haowen berteriak dan memangis, kau menghilang begitu saja, dan aku bahkan tidak mengerti kenapa…."

Luhan menggeleng mendengar penuturan Sehun. mendengar nama Haowen berulang kali disebut membuat hatinya ngilu. Ia sungguh ingin berada di samping anaknya. Bahkan jika bisa setiap detik dan setiap tarikan nafas Haowen, Luhan berada di sampingnya.

"M-mafkan a-aku…hiks…m-maaf-maaf…" pinta Luhan dalam sesak tangisnya.

"Luhan, aku membencimu karena kau menghilang begitu saja dari hadapanku,"

Luhan tersentak kecil mendengarnya. Ia menggeleng lemah. "M-Maafkan aku Y-Yang Muli―"

Namun, permintaan maaf Luhan langsung dipotong seluruhnya oleh Sehun.

Dengan satu kecupan singkat yang manis dari Sehun.

"Berhenti meminta maaf… Kau sama sekali tidak bersalah..." Kata Sehun lirih saat ia melepaskan bibirnya dari bibir Luhan.

"Karena seharusnya aku…aku yang meminta maaf padamu Luhan…"

"maaf karena aku tidak bisa melindungimu…."

"maafkan aku…."

Kalimat-kalimat Sehun membuat hati Luhan menghangat. Ia tidak percaya ia akan disambut seperti ini oleh orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Bibirnya sedikit mengoles senyum pada wajah yang ternodai jejak air mata miliknya.

Namun tetap saja satu hal menggajanjal di pikiran Luhan.

"L-lalu k-kenapa..kenapa a-anda membuang s-saya jika…j-jika―"

Sehun tertawa miris mendengarnya. "Kau berpikir aku yang melakukannya? Membuangmu hmm? Ibu dari anakku?"

Luhan menunduk dan mengangkat bahunya.

"Luhan aku tahu jika pertemuan kita, atau hari-hari yang kau lalui bersamaku, bukanlah hari terindah yang bisa kau kenang," Sehun mengangkat dagu Luhan agar mata rusa itu bertemu dengan maniknya yang tajam.

"Aku bukanlah pria dengan sejuta kata-kata manis. Tapi aku berani mengatakan jika bersyukur mengenalmu, kau membuat hariku menampilkan warna yang lain, yang sebelumnya bahkan tidak pernah berani kubayangkan, dan ini bukan hanya sekedar bualan…"

Sehun sedikit tersenyum melihat bayangan kemerahan di kedua pipi Luhan. bersemu indah di pipi yang menirus itu.

"Tapi kupikir aku melakukan kesalahan dengan membiarkan warna-warna itu membutakanku, dan membuatmu jatuh dalam posisi yang tidak menguntungkan…"

Luhan sedikit tidak mengerti pada perkataan Sehun yang terakhir. "A-apa maksud anda?"

"Sepertinya aku terlalu terbuai hingga aku mungkin atau mungkin juga tidak, sedikit melupakan Yoona…dan Luhan, dia―Yoona yang membuangmu,"

Luhan terhenyak dan melebarkan kedua bola matanya."T-tapi, s-saya tidak mengerti…a-apa yang sudah saya lakukan s-sehingga…s-sehingga Yang Mulia Yoona m-membuang saya…"

"Yoona…tidak terlalu suka berbagi, baik aku maupun haowen, ia anggap sebagai miliknya seutuhnya. Dan ketika kau datang…ia menganggapmu sebagai ancaman. Saat aku berlaku kasar padamu, ia menganggap semua masih berjalan dengan normal, tapi ketika kau mulai bersikap sedikit lebih baik padamu…ia mulai terancam…maka dari itu, aku meminta maaf Luhan, aku membuatmu dalam posisi yang sulit,"

Luhan menggeleng lemah. "I-itu bukan salah Y-Yang Mulia, m-maafkan s-saya yang tidak tahu diri mendekati anda..."

Sehun tersenyum. "Sekali lagi kutegaskan itu bukan salahmu, mungkin aku memang jatuh dalam pesonamu,"

Pipi Luhan kembali memerah kali ini lebih gelap dari semburat pertama.

"Aku merindukanmu…" Sehun berujar lirih. "Kuharap kau merindukanku,"

Luhan menatap dalam mata tajam yang biasanya memberi efek ketakutan pada dirinya. Kini tidak ada yang lain kecuali rasa nyaman yang menghangat kala ia tenggelam dalam manik hitam dalam tatapan tajam yang kini terasa lembut itu.

"Aku juga merindukanmu," ucap Luhan tanpa sadar. Ia bahkan tidak menggunakan sapaan, atau bahasa yang formal antara tuan dan bawahan, namun Luhan berbicara tulus dari hatinya, kepada seseorang yang ia rindukan keberadaannya.

Sehun tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu kita pulang hmm?"

BRAK!

"Baekhyun, tunggu!"

Seorang pemuda mungil dengan langkah tegap dan mantap berjalan cepat ke dekat ranjang yang masih ditiduri oleh 2 orang pria. Setelah tangannya mampu menjangkau, ia segera raih tangan kurus milik hyungnya dan membalikkannya ke arahnya. Menatap wajahnya yang dipenuhi air mata.

"B-Baekhyun, kenapa menangis…?" Luhan berujar lembut. Tiba-tiba mata Luhan terbelalak kaget saat melihat kini adiknya turun dan berlutut di hadapan Luhan. sambil tangannya dengan lemas meremas tangan milik hyungnya.

"Baekhyun!" Chanyeol segera menghampiri istrinya dan merangkulnya. Mengajaknya berdiri namun Baekhyun tetap bergeming. Bertahan dalam posisinya.

"Baekhyun, bangunlah, apa yang kau lakukan?" Luhan langsung bangun dan berusaha menarik Baekhyun untuk berdiri.

"H-Hyung….k-kumohon…kumohon jangan tinggalkan Baekhyun lagi…j-jangan pergi...hiks…j-jangan pergi…." Baekhyun berucap dengan nada yang merajuk. Mengingatkan Luhan akan masa kecil mereka dulu ketika Baekhyun selalu meminta sesuatu pada Luhan.

"Baekhyun…"

"H-hyung… L-Luhan h-hyung…. kumohon…. t-tinggalah… t-tinggallah… kumohon…. s-setidaknya… s-setidaknya…sampai dua keponakanmu lahir…"

"Jangan seperti ini Baek, bangunlah…" Chanyeol yang sedari tadi ikut berlutut bersama istrinya berusaha menarik Baekhyun untuk berdiri. Tampak sekali raut khawatir, dan sedih, terpancar jelas di muka Chanyeol yang biasanya berseri.

"TIdak! Aku tidak akan bangun sampai Luhan Hyung mengatakan akan tinggal!" Baekhyun kini seperti histeris dan sudah menangis lebih keras. Chanyeol sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa dan ia sudah khawatir setengah mati padabaekhyun. Ditatapnya kakak ipar yang baru saja ia temui. Ia kemudian menundukkan kepalanya dan berujar lirih.

"Luhan hyung, kumohon tinggalah dan temani Baekhyun di sini…walau hanya untuk waktu yang sebentar, tapi… kumohon, Baekhyun sudah sangat merindukanmu sejak lama, dan tinggal bersama hyungnya adalah impiannya…aku tahu ini terdengar egois… tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Baekhyun jika kau meninggalkannya,"

Luhan menggigit bibirnya. Ia tidak tahu harus bersikap apa pada dua orang yang kini berlutut di hadapannya meminta padanya. Yang pertama adiknya, dan kini calaon raja kerajaan yang ia pijaki tanah dan istananya berlutut dan memohon padanya.

Kini sebuah tepukan di bahunya membuat pikiran Luhan buyar. Ia menengok ke belakang dan melihat Sehun di sana. Melihatnya dengan tatapan yang sama memohonnya.

"Lu, kau harus pulang… Haowen, kau harus melihat anakmu…"

.

.

.

.

.

.

TBC

Hello… it's me… *dilemparin swallow*

Lol, yang nanya gue sibuk apaan, gue sibuk kuliah, di phpin dosen, dan sibuk nggarap tugas yang ga ada ujungnya hahahahahahahahaha :"""""(

Cie, Baekhyun apa Haowen tuh cie Luhan galaw… tapi jujur, gue sendiri bakalan bingung kalo jadi Luhan, menurut kalian gimanah? haha

Gue masih nrima saran apapun itu buat ff ini hihihihi, kritik juga pokoknya review review yang membangun akan diterima dengan senang hati :)

Last, thankyou buat para reviewers buat followers, favoriters (?) PUM dari awal sampe chap ini, keep review ya hihihihi

See you next chapter! *SMOOCH*

p.s : yang minta id line jangan kirimin gue iklan game please, ntar ke block soalnya, temen gue sendiri aja gue block gara gara spam iklan hehe, sorry