Chapter 18
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
Berjalan di lorong istana dengan pelan, akhirnya seorang laki-laki mungil berhenti di sebuah pintu yang agak besar. Ia masuk dan seketika beberapa pelayan yang kebetulan ada di sana membungkukkan badannya dengan hormat. Dengan cepat ia menyuruh para pelayan itu untuk berhenti membungkuk padanya.
"A-aku hanya ingin membuat teh," Laki-laki itu berucap sedikit ragu-ragu. Ia yang tidak biasa mendapat perlakuan seperti itu memang merasa sedikit risih.
"Ah kalau begitu kami akan membuatnya, Yang Mulia ingin tehnya diantarkan kemana?" jawab salah seorang pelayan.
Seketika mata laki-laki itu membola mendengar ucapan tersebut. Bukan karena pelayan menawarkan untuk membuat tehnya, namun panggilan yang sedikit menganggu di telinganya yang menjadi permasalahan.
"T-tolong jangan panggil aku Yang Mulia panggil saja aku Luhan…" Laki-laki itu―Luhan mulai berjalan sedikit masuk ke dalam dapur dan membuka beberapa rak-rak kayu untuk menemukan teh dan gulanya.
"Dan aku ingin membuat tehku sendiri, j-jika boleh…" Luhan menatap ragu-ragu para pelayan yang kini mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Tapi Yang Mulia―"
"Tolong jangan panggil aku Yang Mulia," Luhan berkata risih.
"Tapi anda adalah kakak dari Yang Mulia Baekhyun dan juga pasangan dari Yang Mulia Sehun, sudah sepantasnya kami para pelayan menyebut anda dengan panggilan Yang Mulia,"
Luhan menengok ke arah kanannya dan menemukan wanita tua yang dulu pernah bertemu dengannya saat pernikahan adiknya. Wanita yang menyuruhnya untuk memunguti pecahan piring dengan tangannya sendiri. wanita yang menghalangi dirinya untuk bertemu adiknya.
"Bibi Yong…" Luhan berkata lirih.
Wanita tua itu membungkukkan badannya pada Luhan dengan hormat.
"A-aku hanya ingin membuat teh, tapi aku akan pergi jika aku menganggu kalian, m-mafkan aku,"
Luhan membungkukkan badannya dan membuat orang-orang disana terkejut. Luhan baru akan melangkah saat tangan wanita tua itu menahannya.
"Semua bahan minuman ada di rak kedua, dan semua keramik ada di lemari kaca di sebelah sana, Yang Mulia bisa menggunakannya sesuka hati anda dan hal ini tidak menganggu kami,"
Wanita tua itu mengalihkan perhatiannya pada pelayan pelayan di sana. "Apa yang dikatakan tuanmu adalah perintah. Jika ia menginginkan untuk membuat tehnya sendiri maka kalian akan menurutinya, bahkan jika ia ingin kalian memotong jari kalian sendiri, kalian akan menurutinya, kalian dengar?!"
Luhan melihat seluruh pelayan mengangguk dengan patuh. Selanjutnya genggaman tangan wanita tua itu lepas dari tangannya kemudian dengan bungkukkan kecil, wanita itu pergi dan mengawasi krja pelayan di dapur tersebut.
Dengan lesu Luhan berjalan ke arah rak kedua dan mengambil bahan yang ia perlukan di sana. Membawanya ke sebuah meja dan mengambil keramik untuk menyeduh tehnya.
"Ah apakah seseorang bisa membawakan air anas untukku?"
"Baik Yang Mulia," jawaban dari beberapa pelayan sekaligus membuat Luhan menggelengkan kepalanya.
Oh sampai kapanpun ia tidak akan terbiasa hidup seperti ini.
Dengan seluruh orang menghormati dan menempatkan diri mereka jauh di bawah kakimu.
.
.
.
.
.
.
"Baekhyun, Chanyeol, aku membawakan teh untuk kalian,"
Baekhyun mengangkat kepalanya dari pandangannya yang sebelumnya tertanam dibuku yang sedang ia baca. Baekhyun tersenyum saat Luhan sudah menempatkan nampan teh itu di atas meja dan mulai menuangkan teh yang ia seduh sendiri ke dalam 3 cangkir keramik yang mewah.
Saat Baekhyun menyeruput tehnya, dan cairan itu masuk dalam kerongkongannya, ia mendesah menikmati rasa manis cairan itu.
"Sudah lama aku tidak minum teh buatanmu hyung, ini selalu yang terbaik,"
Tersenyum singkat pada adiknya Luhan mulai menyesap cairan dalam cangkir yang ia genggam.
"Hyung,"
Luhan mengangkat kepala yang sebelumnya ia tundukkan dan tersenyum pada adik ipar yang memanggilnya. Menyatakan ia siap mendengar apapun yang akan adik iparnya katakan.
"Aku benar-benar berterimakasih padamu karena hyung mau tinggal lebih lama dengan Baekhyun―kami, aku benar-benar berterimakasih,"
Luhan tertawa kecil mendengarnya. "Chanyeol kau sudah mengatakannya puluhan kali, dan ini bahkan sudah berlalu 3 hari, aku sudah bilang jika aku memang ingin tinggal kau tidak perlu berterimakasih,"
"Aku mengatakannya berkali-kali karena aku sangat berterimakasih Hyung, dan aku akan mengatakannya lebih lagi setiap aku punya kesempatan," ucap Chanyeol tulus.
"Aku juga berterimakasih Hyung, aku sangat merindukanmu, aku mungkin sedikit egois untuk menahanmu di sini, maafkan aku," Baekhyun berkata semakin lirih sampai di akhir kalimatnya. Kemudian dengan manja ia peluk pinggang kakak laki-lakinya yang cantik itu dan mengistirahatkan kepalanya diantara perpotongan leher kakaknya.
Chanyeol menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah istrinya yang semakin hari mendekati tanggal kelahiran putra-putra mereka, semakin manja pola kelakuannya
"Ah hyung apakah kau betah tinggal di sini sejauh ini?" tanya Chanyeol saat ketiganya terdiam cukup lama.
Baekhyun melepas pelukannya dan menjauh dari tangan hyungnya yang mengelus rambutnya dengan lembut untuk mendengar jawaban hyungnya.
"Ah tentu saja, tempat tidur nyaman, makanan yang selalu tersaji, dan adikku yang manja, sepertinya tidak ada yang kurang," Luhan mengatakan pikirannya yang membuat Baekhyun tersenyum lebar.
"Umm tapi jika aku boleh mengatakannya…" Luhan menambahkan. Membuat Chanyeol dan Baekhyun langsung meliriknya dengan minat. Oh mereka akan memperbaiki apapun itu yang membuat Luhan tidak nyaman.
"…aku tidak terlalu suka dipanggil dengan sebutan Yang Mulia dan mendapati pelayan mengerubungiku setiap saat dan bertanya padaku apakah aku membutuhkan sesuatu,"
Chanyeol dan Baekhyun menghembuskan nafas lega dan bahkan sedikit tertawa melihat Luhan mengakhiri ucapannya dengan gerutuan pelan dan bibir yang mengerucut lucu.
"Sayangnya itu hal yang tidak bisa ditolong hyung," Chanyeol berkata dengan setengah nada tawa di sana.
Luhan mendengus kesal "tetap saja…"
Baekhyun menggenggam tangan hyungnya dan memainkan jari-jarinya. "Bagaimanapun kau benar-benar seorang Yang Mulia sekarang hyung. Jika bukan karena aku, tentu saja hyung akan tetap mendapat gelar karena Sehun. Bukankah begitu? Hyung adalah istri seorang Raja,"
Luhan memandang adiknya yang uga menatapnya. Baekhyun tersenyum memandnagnya. Adiknya sudah tahu segala kisah yang Luhan alami. Bahkan pertama kali ia mendengarnya, ia bersumpah akan membunuh Sehun dengan tangannya sendiri. membuat Chanyeol kalang kabut menenangkan istrinya yang sedang hamil besar dan berpotensi melukai dirinya sendiri.
Namun saat Sehun menangis dan berjanji, bersumpah untuk berubah langsung dihadapan Baekhyun, Luhan, dan Chanyeol, Baekhyun membiarkannya pergi dengan keadaan baik-baik saja. Tanpa mengatakan apakah ia memaafkannya atau tidak. Luhan berpikir mungkinkah adiknya sudah memaafkan Sehun?
Ah memikirkan Sehun membuat Luhan bertanya-tanya, apakah laki-laki itu baik-baik saja?
Apakah ia sudah menyelesaikannya?
Apakah membiarkannya pergi adalah keputusannya yang benar?
.
.
.
.
.
3 hari yang lalu….
"Lu, kau harus pulang… Haowen, kau harus melihat anakmu…"
Saat menengok ke belakang tepatnya ke wajah yang selama ini menjadi mimpi buruknya dan pada mata yang biasanya menujukkan tatapan tajam padanya, di sana di pupil hitam itu, Luhan melihat segala keputus asaan, dan kesedihan, serta kilauan kaca dari air yang siap tumpah dari bendungannya.
"Sehun…" lirihnya. Ia tidak biasa melihat laki-laki kuat itu seperti ini. Saat matanya teralihkan ke depan ia melihat adiknya, adiknya yang selama ini ia rindukan, tujuannya dulu untuk segera bebas dari tempat terkutuk ysaat ia ditahan, menangis untuk memintanya tinggal. Juga pada adik iparnya, yang baru saja ia temui, namun sudah ia sayangi seperti milik sendiri.
Luhan menggigit bibirnya. Bingung terhadap situasi yang ia hadapi saat ini. Batinyya berkonflik akan siapa yang harus ia pilih. Siapa yang harus ia genggam tangannya saat ini. Keduanya memegang peran yang penting di kehidupan Luhan. keduanya amat Luhan sayangi.
Luhan menggenggam tangan Sehun dengan erat.
Baekhyun dan Chanyeol terkesiap melihatnya. Dan Sehun menatap Luhan dengan penuh harap
"Maaf saya tidak bisa ikut denganmu Yang Mulia," Luhan berkata lirih.
Tetes air mata Sehun jatuh saat itu juga.
"Luhan k-kenapa kau memanggilku seperti itu? A-aku Sehun, hanya Sehun untukmu dan t-tidakkah kau ingin bertemu a-anak mu? Anak kita? H-Haowen?" kata Sehun terbata-bata.
"Saya belum bisa Yang Mulia, maafkan saya," Luhan menundukkan kepalanya.
"Luhan..kumohon…" pinta Sehun.
Luhan menggeleng. "Tidak Yang Mulia, ini belum saatnya…"
Sehun dengan tergesa menggenggam erat tangan yang sebelumnya menggenggam tangannya. Air matanya jatuh begitu saja dan kepanikan jelas terpancar disana. "Ikutlah denganku Luhan,"
"Yang Mulia saya―"
"Berhenti memanggilku Yang Mulia!"
Sehun tanpa sadar meluapkan emosinya dan membentak laki-laki yang kini hanya memandangnya dengan tatapan sedih.
"Kau akan selalu menjadi Raja untukku, kau adalah Yang Mulia, bukankah tidak pantas seorang Raa bersanding dengan budaknya?"
Baekhyun yang sudah berdiri dengan Chanyeol yang terus memegang erat bahu dan pinggangnya. Menahannya yang bisa jatuh kapan saja dari luapan emosi yang terdapat di ruangan ini.
"A-apa maksudmu hyung? K-kupikir laki-laki ini a-adalah pasangan hidupmu Chanyeol mengatakan i-itu padaku…"
Luhan tersenyum miris mendengarnya. "Aku adalah seorang budak dari kerajaan Yang Mulia Sehun. Yang diambil dan dibawa ke dalm istananya untuk melahirkan seorang putra yang kelak akan menjadi penerus kerajaan. Dan juga…untuk memenuhi hasrat dari Ratu yang menginginkan seorang anak untuk ditimang. Seseorang yang tidak berarti apa-apa untuk Yang Mulia Sehun. Itulah hyung mu Baekhyun…"
Terkesiap, Baekhyun membawa tangannya untuk menutupi isakan yang keluar dari mulutnya. Walaupun Chanyeol telah mendnegar cerita ini bahkan dalam versi yang lebih lengkap dari Sehun tetap membuat hatinya nyeri mengetahui fakta menyakitkan ini.
Sedangkan Sehun…
Sehun menunduk dalam saat mendengar ucapan Luhan. sakit? Sedih? Malu? Mungkin itu yang dirasakan Sehun saat ini. Ia tahu perbuatannya sungguh tak terpuji dimata siapapun. Terlebih dimata korban yang selama ini ia sakiti
"Tapi hyung mu ini…" Luhan melanjutkan.
"…adalah orang bodoh yang walaupun sudah berkali-kali dibuang diabaikan bahkan di sakiti oleh orang yang sama setiap kalinya…" air mata Luhan sendiri sudah mulai mentes dan membasahi pipinya yang putih.
"…akan tetap memaafkan orang yang telah menyakitinya. Akan menemukan dirinya kembali merangkak untuk bisa dekat dengannya…." Luhan menelan ludahnya.
"Karena hyungmu ini mencintainya. Ia mencintai pria yang telah menyakitinya. Ayah dari anak yang dikandungnya,"
Sehun dengan wajah basah penuh air mata miliknya menatap Luhan yang juga ikut membasahi wajahnya dengan air mata miliknya.
"Luhan…" lirih Sehun sembari tangannya ia angkat untuk menyeka air mata yang kembali mengalir.
Luhan menggenggam tangan yang ada di pipinya. "Mungkin keputusanku untuk tidak ikut dengan pria yang kucintai dan menemui anakku ini, adalah sebuah keputusan yang egois,"
Sehun mengerutkan keningnya.
"Tapi untuk sekali ini, aku berharap seseorang bisa menegrtiku, karena aku…aku hanya lelah dengan semua rasa sakit ini…aku…aku ingin hidup dengan bahagia…"
Sehun terdiam. Ia menunggu Luhan untuk melanjutkan kata-katanya.
"Yang Mulia Sehun, aku tahu betapa anda sangat mencintai Yang Mulia Yoona. betapa wanita cantik itu akan selamanya menjadi seseorang yang berarti lebih di hati dan mata anda. Tapi karenaku semuanya menjadi berantakan dan berjalan tidak semestinya,"
"Luhan kau bukan penyebab semua ini, kau―"
Luhan menggeleng. Menghentikan racauan Sehun. "maka dari itu aku ingin anda menyelesaikan ini dengan Yang Mulia Yoona. aku tidak meminta lebih dengan menyuruh anda memilih antara saya dengan Yang Mulia Yoona, atau untuk anda menghukum Yang Mulia Yoona atas apa yang ia perbuat kepada saya, karena saya tahu betapa berartinya Yang Mulia Yoona untuk anda…"
"Luhan kumohon…"
"Tidak Yang Mulia, saya mohon kepada Yang Mulia Sehun, untuk memberikan sedikit pengertian kepada Yang Mulia Yoona. tolong katakan kepadanya jika saya bukanlah ancaman, dan saya tidak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengannya…" Luhan tersenyum sembari mengatakannya.
"Saya tidak bisa kembali sekarang, bukan berarti saya tidak ingin bertemu dengan anak saya―Haowen…." Luhan menelan sedikit kegetiran saat menyebut nama anak yang dirindukannya.
"Tapi saya hanya berharap, ketika kembali tidak ada lagi masalah, tidak ada lagi seseorang yang ingin menyakiti saya ataupun Haowen,"
Luhan menundukkan kepalanya dalam. "Saya tahu saya mulai bersikap serakah dan egois…"
"Tapi untuk sekali ini saja, saya ingin hidup dengan bahagia…"
Hati Sehun terasa teriris mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki mungil di hadapannya. Laki-laki ini tidak meminta pundi-pundi koin emas. Ia tidak meminta gelar dan jabatan. Ia tidak meminta hukuman adil pada orang yang menyakitinya. Bahkan ia tidak berani untuk meminta cinta yang sepatutnya sudah Sehun berikan sejak dulu.
Ia hanya ingin hidup bahagia. Sesuatu sederhana yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Sehun dengan tangan yang bergetar, menangkup pipi putih itu dalam genggaman hangat. Ia kemudian mendekatkan keplanya dan mencium dahi kecil itu dengan lembut. Lama dan dengan perasaan yang meluap-luap.
Chanyeol dan Baekhyun menyaksikan dua pasangan itu dengan hati yang tidak bisa dideskripsikan perasaannya. Mereka terdiam, dan sibuk dengan masing-masing pikiran yang sedang bergelut di dalam kepala mereka.
"Aku berjanji―tidak, aku bersumpah Luhan, aku akan membuat semuanya baik-baik saja. Aku akan memperbaiki semuanya, untuk mu kembali dan pulang dengan rasa aman dan dalam kebahagiaan. Aku bersumpah akan menjagamu, aku bersumpah akan selalu membuatmu tersenyum, dan..dan walaupun kau tidak menginginkannya…aku…aku bersumpah untuk menghujanimu dengan cinta. Untukmu, dan Haowen…"
Luhan merapatkan matanya yang kini terasa basah sekali lagi mendengar ucapan Sehun. membuat satu lagi air mata jatuh dengan mulus ke pipinya.
"Untuk Yoona…aku…aku akan memberinya pengertian bahwa ia, bahwa ia kini bukanlah lagi satu-satunya, aku akan membuatnya mengeri Luhan…aku bersumpah…"
Sehun melepaskan pelukannya pada Luhan dan menatap Luhan dengan penuh kelembutan. Membuat Luhan tersenyum dan mengangguk mengerti akan perkataan yang dikatakan Sehun. ia tidak menyangkal jika hatinya juga sedikit teriris jika ia memang bukanlah satu-satunya dari awal. Bahwa ia memang harus berbagi. Tapi ia mengerti. Ia akan mencoba mengerti.
Sehun memandang dua orang yang sedari tadi masih berdiri dan berdiam diri. Matanya jatuh pada Chanyeol yang menghembuskan nafasnya dan mengangguk. Lalu Sehun beralih pada Baekhyun yang menatapnya dengan tajam. Tidak seperti suaminya, laki-laki mungil itu tidak akan mudah membiarkan Sehun pergi begitu saja.
"Park Baekhyun…" panggil Sehun.
"Kau kini sedang berhadapan dengan Xi Baekhyun. Adik dari orang yang kau sakiti selama ini!" desis Baekhyun tajam. Chanyeol mencoba menenangkan istrinya dengan membuat pola lingkaran di punggungnya namun hal itu tidak berarti karena saat ini Baekhyun sedang diliputi kemarahan yang besar.
"Dengar, Raja atau bukan, fakta bahwa kau telah menyakiti kakakku, bukanlah sesuatu yang menguntungkan,"
"Baekhyun…" kini Luhan mencoba menenangkan.
"Diamlah Hyung!" teriakkan Baekhyun membuat orang-orang yang ada di sana terkejut. Sehun memang mengekspektasi jika Baekhyun akan berteriak padanya. Namun pada Luhan? ia tidak mengira Baekhyun akan melakukannya.
"Kau!" tunjuknya pada Sehun."Kau tidak tahu betapa aku sangat ingin bertemu dengan kakak laki-lakiku. Betapa aku ingin memeluknya, dan memastikan bahwa ia sehat, selamat dan tersenyum bahagia. Betapa aku berharap untuk menemuinya, berharap untuk sekali lagi, berharap untuk mengetahui, bahwa setidaknya setidaknya kakak laki-lakiku hidup dengan baik-baik saja!"
Baekhyun melepaskan dekapan erat Chanyeol dan berjalan ke arah Sehun. kemudian dengan cepat,, tangannya yang lentik bertemu dengan pipi tirus Sehun.
"Baekhyun!" Luhan dan Chanyeol berteriak bersamaan.
"Tapi saat kau mendapatkan kesempatan, untuk bertemu, bahkan melihat kakakku berkali-kali setiap harinya, kau malah menyakitinya, dank au membiarkan orang-orang diseklilinya juga menyakitinya…." Baekhyun berkata dengan isakan yang terkadang menyertainya.
"dan dengan seenaknya sekarang kau datang dan berharap maaf? Sangat rendah, sangat rendah darimu Yang Mulia Sehun,"
"Baekhyun…." Luhan mencoba menggenggam tangan adiknya yang bergetar. Dalam genggamannya terasa tangan Baekhyun yang dingin. Luhan tahu betapa marah dan terpukulnya Baekhyun saat ini.
"Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Kau mendengar hyungku mencintaimu kan? Ia akan selalu memaafkanmu. Tapi disini, aku tidak akan bertindak semudah itu…"
Sehun memandang Baekhyun yang menghujaninya dengan tatapan tajam. "Buktikan bahwa kau berharga untuk hyungku. Selesaikan masalahmu. Baru kau boleh membawanya pergi dari dekapanku. Tapi jika kau gagal atau kau menyakiti hyungku sekali lagi, hanya sekali lagi…"
Baekhyun menelan ludahnya. "…Raja terkuat atau pengemis, aku akan memburumu, dan membunuhmu dengan tanganku sendiri…"
Setelah Sehun mengangguk mengerti. Baekhyun menyuruh Sehun meninggalkan istananya. Dan bahwa ia tidak akan diterima di istana ini sekarang sampai ia menyelesaikan masalahnya dengan Yoona.
Dan Sehun pergi. Meninggalkan sekali lagi permata yang di carinya.
Tapi ia berjanji―bersumpah untuk kembali dan mengambil permata yang selama ini ia tunggu keberadaannya.
.
.
.
.
.
.
Kai memeluk Kyungsoo yang sedari tadi terdiam dalam kereta perjalan pulang ke kerajaan Kai. Tidak biasanya pria mungil dalam dekapannya setenang ini. Dalam keadaan biasanya, ia akan menemukan apapun untuk dijadikan bahan omelannya pada Kai.
"Kyungsoo-ah,apa yang kau pikirkan?" tanya Kai lembut.
Kyungsoo menggeleng. Ia mendongak hingga kini mata bulat besarnya menatap Kai dengan intens.
Kai tertawa kemudian mengecup dahi Kyungsoo yang terdongak. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Mendapat kecupan tiba-tiba, bibir hati milik Kyungsoo melebar dan menampakkan sederetan gigidan tawa halus.
"Jongin-ah," panggil Kyungsoo.
"Hmm?"
"Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Yang Mulia Sehun ataupun Luhan…"
Keduanya baru saja pulang dari kerajaan milik Chanyeol. Mereka tentu saja telah mendengar seluruh cerita dari Chanyeol mengenai keadaan Sehun dan Luhan.
"Memangnya apa yang kau pikirkan hmm?"
Kyungsoo mengangkat bahunya. "Entahlah, tidakkah kau berpikir bahwa Yang Mulia Sehun juga berada dalam posisi yang sulit? Maksudku, ia tidak mungkin membuang Yang Mulia Yoona begitu saja, namun ia juga tidak bisa mengabaikan Luhan,"
Jongin mengangguk mengerti. "Tapi tidakkah Sehun berkata ia akan membuat Yoona mengerti jika ia juga memilik Luhan? bahwa ia akan berbagi dengannya?"
Kyungsoo mengangguk menyetujui jawaban Kai. "Aku tahu, tapi tetap saja, cinta untuk orang yang kau kasihi seharusnya tidak terbagi Jongin. Yang Mulia Sehun tidak bisa mencintai kedua orang itu secara bersamaan. Tidak tanpa salah satu akan merasa tersakiti…"
Ucapan Kyungsoo membuat Kai berpikir ulang mengenai keputusan Sehun. pada awalnya ia pikir keputusan Sehun sudah baik. Bahwa ia akan memperlakukan Luhan layaknya ia memperlakukan Yoona. sebagai salah satu istrinya. Walaupun hanya yang kedua.
Namun ucapan Kyungsoo menyadarkannya bahwa ya, cinta memang tidak bisa terbagi tanpa kau menyakiti salah satunya.
Pada akhirnya kau akan tetap harus memilih. Dan pilihan itu akan meyakiti pihak yang lain.
"Kyungsoo-ah,"
"Hmm?" Kyungsoo kembali mendongak memandang kekasihnya.
"Aku baru menyadari jika cinta terkadang bisa menimbulkan hal-hal yang mengerikan,"
Kyungsoo tersenyum mendengarnya. "Ya, tentu saja, selama kau tidak bermain-main dengannya, kau akan baik-baik saja,"
"Aku tidak akan pernah bermain-main denganmu," Kai berkata yakin dan tulus.
"benarkah?"
Kai tersenyum memandang Kyungsoo yang melihatnya dengan tatapan meremehkan. "Bagaimana jika aku buktikan saja huh? Di depan altar pernikahan kita?"
Dan derai tawa Kyungsoo kini terdengar setelah perkataan Kai yang tiba-tiba.
"kenapa kau tertawa? Tidak mau menikah denganku huh? Anak nakal…" kai kini menggoda Kyungsoo dengan menciumi sebagian tengkuk dan lehernya. Tidak bermaksud menggoda, hanya membuat Kyungsoo sekedar merasa geli.
"Ya Kim Jongin,"
"Ada apa anak nakal?"
Kyungsoo terdiam menatap kekasihnya. Lalu mulutnya terbuka untuk mengutarakan sesuatu. "Bisakah kita kembali ke istana Yang Mulia Sehun? Aku…aku sedikit merindukan Yang Mulia Yoona, dan aku ingin memastikan apakah ia baik-baik saja,"
Kai, walaupun tidak langsung, akhirnya mengangguk mengiyakan. "baiklah, tapi hanya sebentar? Kita masih mempunyai pernikahan untuk dilaksanakkan. Mengerti?"
Kyungsoo tersenyum. "Aku mengerti pria hitam,"
.
.
.
.
.
.
Saat kuda hitam itu melaju kencang melewati pagar istana yang terbuka lebar, seluruh pengawal istana membungkuk hormat kepada penunggangnya yang tak lain adalah raja mereka.
Sehun segera turun dari kudanya saat ia sudah sampai di depan pintu istana yang mewah menyerahkan kudanya kepada salah satu pengawalnya untuk dibawa ke kandang. Dengan langkah tegap dan pasti, ia menaiki undak-undakkan yang panjang masuk ke dalam pintu besar dan mewah yang terbuka lebar untuknya. Alisnya mengkerut menandai matanya yang tajam.
Berjalan dengan pasti dan dengan tempo yang cepat, Sehun menaiki tangga, melewati lorong-lorong yang sudah ia hafal di luar kepala, menuju satu kamar yang sangat familiar untuknya…
"Yoona,"
…dan mendapati salah satu istrinya terbaring di sebuah kasur mewah dengan pandangan yang tak lepas dari jendela besar yang menghiasi kamar itu.
Saat suara Sehun menggema dlam ruangan besar itu, kepala Yoona tertoleh dari jendela besar dan menatap Sehun dengan senyum singkat yang terpatri di wajah cantiknya yang terlihat pucat pasi.
Terlalu pucat untuk ukuran manusia yang masih hidup.
"Selamat datang Sehun-ah," Yoona berkata dengan lirih dan serak.
Dengan sigap Sehun berjalan cepat dan naik ke atas ranjang mereka. Ia menangkup wajah Yoona dan mencium bibirnya dengan lembut. Kemudian ia bawa wanitanya itu masuk dalam dekapan dadanya yang hangat. Mengistirahatkan kepala dengan wajah cantik sang istri dengan tumpuan dadanya yang bidang.
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat," lirih Sehun dengan khawatir.
Yoona tersenyum mendengar penuturan laki-laki yang ia cintai.
"Aku kurang sehat akhir-akhir ini, tapi melihatmu di sini membuatku seketika merasa jauh lebih baik,"
Sehun mengangguk mendengar jawab Yoona. Ia sebelumnya datang untuk berbicara panjang lebar mengenai Luhan. tapi melihat wajah istrinya yang pucat pasi. Ia menjadi ragu-ragu dan khawatir akan kesehatan wanitanya yang cantik ini. Ia tidak tahu, harus mulai dari mana pembicaraan yang akan ia lakukan ini.
"Yoona-ya," panggil Sehun pelan.
"hmm?"
"Aku…aku ingin berbicara…"
"Katakan saja Sehunnie,"
"Aku ingin berbicara tentang…tentang Luhan…"
Yoona terdiam mendengar nama yang sedang tidak ingin ia dengar.
"Aku akan membawanya pulang, pulang ke tempat ini, dan membiarkannya merawat Haowen,"
Walau terdiam cukup lama, akhirnya Yoona angkat bicara. "Itu bukan bagian dari kesepakatan yang kita buat terdahulu,"
"Aku tahu..Aku tahu…" Sehun menjawab frustasi.
"tapi aku..aku tidak bisa membiarkannya hidup seperti itu Yoona-ya, aku…aku ingin ia bahagia…"
Yoona sekali lagi terdiam. Ia tidak tahu kenapa suaminya yang dingin dan terkesan kejam kini bersikeras untuk membuat hidup seorang budak bahagia. Ia tidakk tahu kenapa. Dan ia butuh alasan yang kuat.
"Kenapa?"
Sehun menelan ludahnya dan menutup matanya. Ia siap dengan reaksi apapun yang akan yoona berikan setelah ia mengatakan kenapa. Dengan satu tarikan nafas panjang, Sehun mengucapkannya,
"Karena aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Huehehehehehe, kembali lagi dengan gue wkwkwkw,
Gue udah selesai ujian *yay* doain ya biar inspirasi cepet dateng biar bisa update cepet ehehehe,
Pokoknya gue ga bakalan bosen bosen bilang makasih buat kalian yang fav, follow, dan review PUM, keep review yaa, gue suka banget baca review an kalian walaupun gue juga minta maaf ga bisa update secepet author lain ;A; *deep bow*
Pokoknya I love you to the moon and back dah *smooch*
See you next chap~~~
