Chapter 19
.
Cast :
Xi Luhan
Xi Baekhyun
Oh Sehun
Park Chanyeol
Kim Jongin
Do Kyungsoo
And any other member of any other groups ._.
.
.
KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^
.
.
SORRY FOR TYPO *BOW*
.
.
.
Happy Reading ^^v
.
.
.
.
.
Mata yang cantik itu melirik jendela besar yang menampilkan langit biru dengan awan putih yang menggulung manis. Semilir angin tenang dan cuaca cerah yang menghangatkan itu tidak memepengaruhi aura miris seorang wanita cantik yang tampak sakit.
Kantung mata yang menghitam, bibir kering dan pucat, kulitnya yang nampak serapuh kertas, juga matanya yang memerah akibat air mata yang menggenang…
Yoona menyeka air mata yang menetes lagi dari matanya dengan kasar. Walaupun begitu, tindakannya hanya merangsang tetesan tetesan lain untuk kembali jatuh dan membasahi pipinya yang semakin tirus.
"Karena aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,"
Yoona tertawa miris di sela-sela isakkannya.
"Karena aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,"
Kata-kata itu seperti piringan hitam rusak yang terus mengulang.
"Karena aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,"
Yoona kini akhirnya mengerti. Mengerti, kenapa keadaan menjadi berbalik..
"Karena aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,"
Yoona tahu apapun yang akan dilakukannya hal itu tidak akan mengubah fakta apapun saat ini.
"Karena aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,"
…Dan aku akan membawanya pulang Yoona, baik kau suka atau tidak suka. Aku mencintainya. Bersamaku, bersama Haowen, bahkan bersamamu…dia berhak bahagia,"
Mungkinkah…mengikhlaskan memang jalan yang terbaik?
.
.
.
.
.
.
Seorang bayi mungil yang terlelap, membawa seorang lelaki yang sedari tadi diam―sambil menggoyangkan keranjang tempat bayi itu tidur dengan lembut―tersenyum tenang. Tangannya yang semula menopang kepalanya yang bersandar di tepi keranjang bayi ia bawa mengelus surai hitam bayi itu dengan lembut. Menarik senyumnya semakin lebar.
"Haowen-ah… kenapa kau selalu diam saja saat ayah berkunjung hmm?"
Bayi laki-laki itu mengalihkan tatapannya yang polos pda laki-laki dewasa dihadapannya.
"Ada apa hmm? Kenapa kau memandang ayah seperti itu?"
Diberi pertanyaan seperti itu, bayi yang hampir genap berusia 1 bulan itu memalingkan matanya yang bulat dari wajah ayahnya.
"Ooh, lihatlah, kau berpling dari ayahmu sendiri, kau ini benr-benar…" Sehun tertawa kecil melihat Haowen yang sibuk menggapai-gapai mainan yang berputar di atas kepalanya
"Kenapa kau tidak memandang ayah hmm? Apakah mainan itu lebih tampan dari ayah?"
"Sepertinya aku mendapat pemandangan bagus. Oh Sehun yang agung baru saja menerima penolakan, dari anaknya sendiri,"
Sehun memalingkan kepalanya dengan cepat. Dari arah ambang pintu, terlihatlah Kai yang berjalan dengan santai disertai senyum bodoh yang terpatri di wajahnya.
"Kai?"
Pemuda berkulit eksotis itu mengangguk. "Satu-satunya Kai di sini, Sehun. Bagaimana kabarmu?"
Sehun berdiri dan memeluk salah satu kawan lamanya itu dengan singkat. Kemudian setelah melepaskan pelukannya ia mengangguk pada Kai yang masih memasang senyumnya yang lebar.
"Baik, kapan kau sampai di sini?"
"Belum lama―dan sebelum kau memarahiku, aku sudah membersihkan diriku sebelum masuk ke ruangan ini, aku sepenuhnya higienis." Kai mengatakannya setelah melihat tatapan tajam dari Sehun.
Mendengar jawaban Ki pun Sehun mengangguk puas. Oh tentu saja ia tak akan membiarkan orang lain masuk dan menulari anaknya yang tampan dengan macam-macam penyakit.
"Dan inikah anak yang terkenal itu? Haowen huh? Kau sangat lucu anak manis," Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Haowen dan mulai menampilkan macam-macam bentuk wajah yang lucu. Memancing tawa menggemaskan dari bibir tipis bayi itu.
"Dan juga tampan." tambah Sehun tegas.
Kai menengok sebentar ke arah Sehun dan mendecih. "Oho, lihatlah…lihatlah ayahmu yang sombong itu Haowen, aku harap kau tidak seperti laki-laki dingin itu," Kai memalingkan wajahnya dan mengubah ekspresi mengejeknya yang sebelumnya ditujukan pada Sehun, menjadi Kai yang tersenyum lebar sekali lagi. "Aku harap kau seperti mamamu, hangat…dan berhati lembut, oke?"
Senyum tipis Sehun luntur sesaat saat mendengar perkataan Kai. Ia berdehem untuk menetralkan hatinya dan kembali berdiri dekat dengan keranjang bayi Haowen. Sehun memandang kawan lamanya itu yang masih sibuk bermain-main dengaan anaknya. Kai yang tersenyum, tertawa, membuat wajah dan suara-suara lucu. Lalu pandangannya beralih pada anaknya yang tertawa.
Jika dilihat sekilas, garis wajah Haowen memang sepenuhnya milik Sehun. namun jika diperhatikan dengan seksama, ada bagian yang bukan milik Sehun di wajah anak itu. Bagian yang selalu membuat hati Sehun menghangat.
Haowen memiliki mata ibunya.
Seklise itu. sesederhana itu. Namun setiap kali bola mata Sehun yang dingin itu jatuh dalam bola mata coklat yang berkilauan milik Haowen, Sehun akan tenggelam dalam hangatnya mata yang teduh milik anaknya.
Seperti saat ini. Seperti detik ini.
"Sehun-ah,"
Sehun memalingkan tatapannya dari mata Haowen yang membuatnya hanyut. Ia mengalihkannya pada Kai yang tersenyum padanya. Bukan senyum jenaka seperti tadi. Senyum yang menunjukkan jika Kai bersimpati.
Ia mengerti keadaan Sehun yang hancur.
"Aku sudah mendengar semuanya. Tentang Luhan. Tentang Yoona. Tentang keadaanmu sekarang…"
Sehun mendengarkan dengan seksama.
"Kupikir kau membuat keputusan yang tepat, dengan meninggalkan Luhan di kerajaan Chanyeol dan kembali kemari dengan keputusan untuk meyakinkan Yoona tentang Luhan. Kupikir itu merupakan hal yang tepat Sehun,"
Mata Sehun melebar mendengarnya, senyumnya mulai tertarik ke atas. Apakah ia membuat keputusan yang tepat selama ini…
"B-benarkah?" Sehun bertanya dengan ragu.
Kai tertawa kecil. "Ya, tapi semuanya itu, tetap hanya kupikir, benar kan?"
Senyum Sehun luntur, dan matanya kini mengernyit bingung.
"Tadinya kupikir, kau melakukan tindakan benar. Dan apapun yang kau lakukan adalah solusi terbaik dalam hubungan mu dengan Luhan maupun Yona. Tapi, aku akan mengutip perkataan seseorang dalam hal ini Sehun, kau tidak bisa mencintai kedua orang itu secara bersamaan. Tidak tanpa salah satu akan merasa tersakiti…"
Ucapan Kai terasa menusuk perasaan Sehun.
"Dengar Sehun, kau berpikir jika kau berbicara dengan Yoona, semuanya akan selesai. Kau tahu kenapa? Karena kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya mempertimbangkan jika kau sudah berbicara dengan Yoona, kau mempunyai hak untuk membawa Luhan kembali,"
Sehun terdiam mendengar ucapan Kai. Ia hanya terdiam. Dan ia merasa seperti tahanan bersalah yang menunggu dijatuhi hukuman mati.
"Dan ketika kau berbicara dengan Luhan, kau tidak mempertimbangkan betapa sakit perasaannya saat ia hanya akan selalu, menjadi yang kedua untukmu…"
"Kai…bukan maksudku―"
"Sehun, semuanya ini bukan hanya tentangmu. Kau harus memikirkannya. Karena kau tidak bisa memilih antara Yoona dan Luhan. Kau tidak bisa memilih Yoona tanpa menyakiti Luhan. dan kau tidak bisa memilih Luhan tanpa membuat Yoona merasa sakit, kau harus tahu Sehun, cinta tidak terbagi…"
Sehun menunduk. Ia memejamkan matanya erat. Ia merasa marah, sekaligus kesal atas ucapan Kai yang seolah mengadilinya. Tapi ia juga merasa bersalah…ia merasa bersalah pada dua orang yang tanpa ia tahu, telah ia sakiti selama ini.
"Lalu…aku harus bagaimana? Katakan apa yang harus aku lakukan…." Katanya lirih.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan Sehun. Tidak ada,"
Kai berjalan ke hadapan Sehun. menepuk pundak Sehun yang lebar namun entah kenapa terlihat sangat rapuh saat ini,
"Karena hal seperti ini memang tidak seharusnya kau lakukan," ucap Kai lirih. "Namun apa sudah terjadi tidak sepatutnya selalu disesali kan? Tidak saat ada berkat tersendiri dibalik kekacauan yang kau timbulkan," Kai melirik bayi mungil yang kini sibuk menggapai-gapai mainan berputarnya karena Kai tidak lagi bermain dengannya.
"Satu-satunya yang kau punya adalah harapan Sehun, harapan atas dua orang yang kau cintai, untuk tidak jatuh,"
Sehun hanya diam. Ia memandang Kai yang tersenyum padanya. Laki-laki itu menepuk bahu Sehun dua kali dan berpamitan akan menemui kekasihnya yang mungkin saat ini sedang bersama Yoona, kemudian keluar dari ruangan itu setelah sebelumnya melambai pada Haowen.
Sehun sekarang berdiri dalam diam di ruangan cukup luas itu. Matanya menatap dinding dengan kosong. Pikirannya penuh oleh berbagai kemungkinan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Sehun berjalan pelan menghampiri kursi tempat ia duduk sebelum Kai datang. Ia duduk dan kembali diam. Matanya melirik ke bawah melihat anaknya yang masih bermain dengan mainan berputar di atas kepalanya.
"Haowen-ah…ayah…ayah harus bagaimana…"
.
.
.
.
.
.
Baekhyun terbangun dengan rasa sakit dipunggungnya. Ia meraba-raba sisi tempat tidur yang lain dan mengenyit tidak senang saat tak didapatinya tubuh hangat di sana. Dengan pelan ia mencoba menopang tubuh dengan tangannya yang memeganggi perutnya yang menggembung, dengan perlahan bangun dari tempat tidur yang berukuran luas itu. Telapak kakinya yang baru-baru ini sudah tidak terlihat lagi oleh matanya sendiri karena terhalang oleh perutnya yang membola besar, ia tapakkan pada lantai marbel yang dingin.
Baekhyun pelan-pelan melangkahkan kaki mungilnya ke arah kamar kecil. Membuka pintunya perlahan, kemudian masuk dan menguncinya. Setelah selesai melakukan urusannya, ia pergi ke arah keran air dan mulai mencuci tangannya. Sambil membersihkan tangannya, ia melirik kaca di hadapannya dan bercermin. Melihat wajahnya yang semakin hari semakin berisi.
Dan saat ia berbalik akan meninggalkan kamar kecil itu, Baekhyun tak menyadari lantai yang dipijaknya basah dan sedikit licin. Ia oleng dan hampir saja terjatuh jika saja tangannya tak sigap memegang meja marmer yang di hadapanya.
Walaupun tak sempat terjatuh, mata Baekhyun sudah membola dan degup jantungnya sudah berdebum tak beraturan. Ia terkejut. Ia hampir saja terjatuh. Baekhyun berdiri pelan-pelan dengan tangan masih mencengkram erat pinggiran meja marbel yang dijadikan penopang olehnya.
Kali ini ia mencoba keluar dari kamar mandi dengan tangan menggenggam apapun yang bisa diraihnya. Entah dinding atau meja. Perutnya terasa sedikit sakit kali ini. Mungkin karena keterkejutannya tadi? Atau…bayinya akan lahir? Baekhyun mnegingat-ingat perkataan penyembuh istana yang memperkirakan jika bayinya akan lahir dalam waktu dekat. Mungkinkah sekarang? Entahlah. Tapi yang ada di pikiran Baekhyun saat ini adalah Chanyeol.
Ia harus menemukan suaminya.
Setelah berganti dengan pakaian yang lebih pantas dari pada baju yang dipakainya untuk tidur, Baekhyun berjalan keluar. Ia berjalan pelan dengan tangan berada di depan perutnya seolah bersikap defensif. Beberapa kali ia berhenti untuk menyapa para pelayan dan prajurit yang menawarkan untuk membantu atau mengantarkan. Namun Baekhyun hanya menggeleng dan menanyakan dimana keberadaan suaminya.
"Baekhyun?"
Belum cukup jauh Baekhyun melangkah menuju aula ruang rapat dewan di mana suaminya berada sekarang sebuah suara familiar menghentikannya berjalan. Baekhyun berbalik dan tersenyum pada orang yang memanggilnya.
"Hyung, ada apa?"
Luhan berjalan mendekati adiknya dan memegang pipi Baekhyun yang berisi. "kau tampak pucat, apa kau baik-baik saja?"
"hmm, aku baik, hyung tidak usah khawatir," Baekhyun tersenyum menenangkan hyungnya yang terlihat mengernyit ragu.
"benarkah? Lalu mau kemana kau berjalan seperti ini hmm?"
"Aku ingin menemui Chanyeol, hyung, aku pikr aku hanya…umm… menginginkan berada di dekatnya?" Baekhyun sedikit tertawa akan perkataannya sendiri. Itu benar. Baekhyun seolah ingin selalu berada di dekat suaminya yang tinggi itu sekarang. Seolah hal itu adalah satu-satunya hal yang perlu di khawatirkan.
"Chanyeol berada di ruangan yang cukup jauh dari sini, aku bertemu dengannya sekitar 2 jam yang lalu. Dia mengatakan akan rapat atau sesuatu, hyung tidak begitu mengerti," Luhan mengerucutkan bibirnya saat mengingat-ingat. "Hyung baru saja akan ke kamarmu dan menemanimu, tapi kau sudah di sini,"
Tertawa kecil melihat kekecewaan di wajah kakaknya, Baekhyun menggenggam tangan Luhan dan menariknya untuk ikut berjalan bersmanya. "kalau begitu temani aku menemui Chanyeol? Bagaimana?"
Luhan mengangguk-angguk setuju. "Tidak kau minta pun hyung akan menemanimu berjalan, kau terlihat pucat kau tahu, hyung sedikit khawatir pada adik hyung yang cerewet ini," Luhan mencubit pelan hidung Baekhyun. Membuat dua bersaudara itu tertawa bersama.
Agak lama berjalan, Baekhyun mulai merasa lelah. Ia sedikit pusing dan nafasnya mulai berderu pelan. Ia mulai mengatupkan bibirnya rapat dan memilih diam walaupun kakaknya tetap mengajaknya berbicara dan mengocehkan banyak hal tentang kehidupannya di istana Sehun.
Sebentar lagi sampai. Bertahan sebentar lagi.
"…hyung tidak mengerti apa yang dibicarakan Yixing waktu itu dan―Baekhyun kau tidak apa-apa?" Luhan melihat adiknya sedikit sempoyongan, wajahnya mulai terlihat putih dan pucat, bulir-bulir keringat, juga tangan dalam genggamannya mulai terasa sedikit basah.
"Baekhyun kau sangat pucat dan kau berkeringat―BAEKHYUN!"
Luhan dengan cepat menahan tubuh Baekhyun yang limbung ke depan. Ia terkejut bukan main saat adiknya tiba-tiba akan ambruk jatuh ke bawah.
"Baekhyun-ah kau harus ke tempat penyembuh sekarang." Luhan berkata tegas pada Baekhyun. Ia melingkarkan tangan Baekhyun ke pundaknya berniat membantu Baekhyun sampai di ruangan penyembuh.
"A-ani, C-Chanyeol…hyung…Chanyeol…" dengan suara lirih dan nafas yang memburu Baekhyun berkata.
Sedangkan Luhan menatap mata adiknya yang terlihat sayu itu dengan tegas. "Baekhyun kau harus menemui penyembuh sekarang dan memeriksa keadaanmu, dan setelah sampai di sana, hyung berjanji akan membawa Chanyeol langsung ke hadapanmu, hyung berjanji,"
"A-ani, Chanyeol…hyung a-aku..chanyeol…" Baekhyun melepaskan rangkulan tangannya dari pundak hyungnya dan mulai berjalan kembali dengan pelan.
Luhan yang melihatnya menggeleng tidak percaya. Menghela nafas panjang, ia mulai berjalan dan menyusul adiknya. Mensejajarkan langkahnya dengan Baekhyun, Luhan mulai merangkul tubuh Baekhyun untuk membantu dan menopangnya berjalan.
"Kenapa kau keras kepala sekali? Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu?"
Sedangkan Baekhyun hanya menggeleng. "A-aku butuh Chanyeol sekarang hyung…"
Luhan berpikir sejenak sambil terus berjalan dan merangkul adiknya yang telihat lemah. "Bagaimana kau tunggu di sini, dan hyung akan memanggilkan Chanyeol untukmu?" tawar Luhan.
Sebuah gelengan kecil adalah jawaban Baekhyun. "Akan terlalu lama," bisiknya.
Luhan mendesah kesal. Ia menggigit bibirnya dalam gusar. Adiknya terlihat tak berdaya. Ia harus di bawa ke ruang penyembuh sekarang. Luhan tidak tahu mengapa adiknya saat ini benar-benar keras kepala.
"hyung…" panggilnya lemah.
Luhan menolehkan pandangannya ke arah Baekhyun. Melihat adiknya kini tersenyum lebar padanya.
"Kupikir anakku akan segera lahir,"
Luhan menaikkan alisnya. "Kau membuatku ingin menggendongmu ke ruang penyembuh sekarang juga Xi Baekhyun,"
Dan Baekhyun tertawa mendengar respon kakaknya. Ia melihat pintu kayu besar yang sudah berada di depan matanya. beberapa langkah lagi. Ia akan mencapai pintu itu.
Namun sepertinya mereka harus berhenti.
Karena…
"Hyung…sepertinya air ketubanku pecah,"
Dan tanpa perintah ataupun kata-kata lain, Luhan segera berlari menuju pintu kayu di hadapannya. Ia membuka pintu itu dengan dobrakan dan menghasilkan debuman yang keras. Bibirnya yang tipis meneriakkan satu nama dengan kalap.
"PARK CHANYEOL!"
.
.
.
.
.
.
Chanyeol bergerak-gerak gelisah di atas tempat duduknya yang nyaman di samping ayahnya. Ia merasa tidak tenang meninggalkan istrinya tertidur sendirian di dalam kamar mereka. Oh ia tidak pernah tenang meninggalkan Baekhyun sendirian di manapun tanpa dirinya. Itu membuatnya khawatir. Dan ditambah hari-hari yang semakin dekat dengan kelahiran putra-putra mereka, membuat rasa khawatir Chanyeol berlipat lipat lipat lebih dari biasanya.
"…dan pada musim ini hasil yang diperoleh dari pajak…."
Semua perkataan tetua-tetua yang ada di sini membuat Chanyeol pusing dan ingin muntah. Ia membiarkan perkataan-perkataan itu lalu begitu saja karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Baekhyun. Baekhyun. Dan Baekhyun. Karena sejujurnya, Chanyeol merasa sedikit perasaan janggal ketika meninggalkan istrinya sendirian di kamar pagi tadi.
BRAK!
"PARK CHANYEOL!"
Tidak hanya orang dengan nama yang tersebut yang menengok ke arah sumber suara yang dianggap sangat mengganggu itu. Seluruh tetua-tetua menatap tidak suka pada laki-laki mungil yang terlihat panik dan kalap saat ini.
"Luhan Hyung?" Chanyeol mengernyit melihat laki-laki yang kini berjalan dengan cepat ke arahnya. Dan tak lama tangannya telah ditarik paksa untuk berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Demi Tuhan! Apa-apaan lelaki itu?! Ia tidak mengerti sopan santun! Kami sedang mengadakan rapat anak muda!" salah satu tetua mulai berbicara dengan lantang dan nada yang marah.
Chanyeol melirik tetua itu dengan ragu dan melepaskan tangannya dari cengkraman Luhan dan berbicara pada kakak laki-laki Baekhyun itu dengan lembut. "Hyung kami sedang mengadakan rapat―"
"Baekhyun," satu nama itu menghentikan ucapan apapun yang akan keluar dari bibir Chanyeol. "Air ketuban Baekhyun sudah pecah. Chanyeol, ia akan segera melahirkan," ucap Luhan dalam satu tarikan nafas.
Chanyeol dalam keadaan tidak sadar segera berlari keluar dari ruangan tersebut. Dan betapa terkejutnya ia mendapati istrinya berada di depan ruangan, meringkuk memeganggi perutnya dengan cairan yang membasahi sekitar kakinya.
"Baekhyun…" Chanyeol tertahan oleh keterkejutannya hanya bisa berdiri diam dan mematung. ia segera sadar setelah Luhan yang kini sudah berada di samping tubuh adiknya yang meringkih kesakitan itu meneriakkan namanya berkali-kali.
"CHANYEOL CEPATLAH KEMARI! BAWA BAEKHYUN KE RUANG PENYEMBUH!"
Chanyeol dengan segera berlari ke arah dua kakak beradik itu dan meraup tubuh mungil Baekhyun masuk dalam gendongannya. Tangan kanannya menopang punggung Baekhyun dan tangan kirinya berada di lutut Baekhyun. Chanyeol membopong Baekhyun dengan hati-hati sedangkan Baekhyun sendiri sudah berdesis miris menahan sakit di antara dada Chanyeol.
Luhan mengikuti dari arah belakang. Melihat Chanyeol berjalan dengan cepat menuju ruang penyembuh yang sayangnya cukup jauh dari bagian istana ini.
Hati Luhan ngilu mendengar rintihan sakit adiknya yang setelah ini tetap harus berjuang lebih untuk kelahiran kedua putranya.
Ya Tuhan, aku harap Baekhyun akan baik-baik saja…
.
.
.
.
.
.
Baekhyun merasakan sakit yang teramat di perutnya. Terasa seseorang menarik-narik isi bagian dalam perutnya yang membesar.
Sedangkan Chanyeol yang panik terus mempercepat langkahnya melewati lorong-lorong istana untuk sampai pada ruangan penyembuh.
Banyak perawat yang terkejut, segera setelah pasangan itu sampai memasuki ruangan penyembuh. Perawat-perawat tersebut dengan siaga menggiring Chanyeol yang dalam keadaan kalap ke dalam sebuah bilik rawat.
"Tolong baringkan Yang Mulia di sini," seorang perawat meminta Chanyeol membaringkan Baekhyunnya yang terlihat dalam kedaan sangat kesakitan.
"T-Tolong, B-Baekhyun..d-dia…"
"Kami tahu Yang Mulia, penyembuh akan segera kemari, anda tidak perlu khawatir…"
"Anda bisa menggenggam tangan Yang Mulia Baekhyun, hal itu bisa memberi rasa nyaman terhadap yang Mulia Baekhyun selama persalinan berlangsung,"
Chanyeol segera mengambil tangan Baekhyun yang lentik dan menggenggammnya erat. Sesekali ia akan membawa tangan itu dekat ke mulutnya dan menciumnya. Kemudian tangan yang lain ia bawa mengelus surai istrinya yang kini telah basah oleh keringat.
Sedangkan Luhan, ia berdiri di belakang Chanyeol. Sama khawatirnya dengan Chanyeol. Namun ia tahu, saat ini Baekhyun lebih membutuhkan suaminya.
Penyembuh segera datang dan menyapa Chanyeol singkat dengan anggukkan. Perawat sudah menyobek pakaian yang dikenakan Baekhyun dan kini perut Baekhyun yang menggembung besar telah terlihat jelas.
"Yang Mulia, kami akan memulai prosesnya, saya harap anda bisa menenangkan yang Mulia Baekhyun,"
Luhan melihat Chanyeol mengangguk. Dan Baekhyun yang masih merintih kesakitan. Lalu matanya beralih pada penyembuh yang telah menggenggam sebuah pisau. Dan pisau itu diarahkan mengiris perut Baekhyun dengan dalam.
"AAAAAAAHHHHHHHHHHHH!"
Teriakan Baekhyun memenuhi seluruh ruangan itu. Bahkan mungkin seluruh istana. teriakan kesakitan yang memilukan terdengar dari adiknya yang tampak lemas tak berdaya. Luhan melihat penyembuh istana mulai merogoh ke dalam perut Baekhyun. Luhan merasa mual melihatnya. Ia menggenggam perutnya dan tidak menyangka ia juga pernah melalui proses ini sebelumnya.
Sedangkan Chanyeol sudah ingin pingsan semenjak penyembuh mulai mengiris perut Baekhyun dan darah mengalir dengan deras. Chanyeol tidak menyukai darah. Bahkan sekarang ia tengah menangis dengan keras. Namun, untuk istrinya, untuk orang yang dicintainya, Chanyeol membutakan matanya dan berusaha tetap ada untuk Baekhyun. Untuk bisa diandalkan istrinya itu.
Baekhyun sendiri merasakan perih yang panas di sekitar perutnya. Ia tidak tahu lagi apakah ia akan bisa bertahan. Baekhyun melirik ke samping dan mendapati wajah suaminya yang dipenuhi air mata dan raut khawatir. Baekhyun mencoba fokus dengan kata-kata Chanyeol dan melupakan rasa sakitnya.
"B-Baekhyun-ah…si kembar akan segera lahir…"
"K-Kau harus kuat Baekhyun-ah…"
"Kumohon bertahanlah…"
"Bertahanlah…"
Dan tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan sempit tersebut.
"Bayi pertama telah lahir," penyembuh memberikan bayi tersebut pada seorang perawat untuk dibersihkan.
Chanyeol hampir saja ambruk jika Luhan tidak memegang bahunya untuk menguatkan. Chanyeol melirik ke atas dan mendapati wajah Luhan juga telah dipenuhi air mata. Baekhyun sendiri mulai tersenyum walau wajahnya masih terlihat kesakitan.
Dan tak lama…
"Bayi kedua telah lahir, selamat Yang Mulia, dua anak laki-laki yang sehat,"
Penyembuh yang menangani persalinan Baekhyun tersenyum memberikan selamat dan mulai menjahit luka di perut Baekhyun dengan cermat.
Chanyeol kembali menangis. Kali ini dengan isakan yang cukup keras. Berkali-kali dikecupnya tangan mungil yang ia genggam sekarang. berkali-kali ia ucapkan kata-kata terimakasih dan aku mencintaimu kepada pasangan sehidup sematinya itu. Chanyeol tidak tahu harus mengatakan apa, atau melakukan apa untuk menujukkan bahwa ia sangat bersyukur sekarang. Bahwa ia bersyukur memiliki dan mencintai Baekhyun. Apapun itu, perasaannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Luhan memandang adiknya yang kini tengah tersenyum lemah dengan bangga. Bangga karena ia mempunyai adik yang kuat. Dan bangga karena ia kini adalah paman―atau bibi―dari dua orang pangeran yang tampan.
Dokter yang selesai menjahit perut Baekhyun segera menyuruh dua orang perawat untuk memindahkan Baekhyun ke kasur yang lebih bersih. Ia mengajak Chanyeol untuk memotong ari kedua putranya. Yang dianggukki Chanyeol dengan antusias.
Dan kini, Baekhyun yang tengah terbaring di sebuah ranjang ruang penyembuhan, yang menolak untuk tidur meski perawat dan Luhan telah meyakinkannya untuk beristirahat, namun tetap menolak sebelum bertemu dengan dua anaknya…kini laki-laki itu tersenyum lemah. Matanya sesekali meneteskan air mata kebahagiaan. Rasa sakit yang sempat dideritanya kini hilang terganti dengan kebahagiaan yang menghangati hatinya. Melihat dua bayinya yang telah terbungkus dengan kain biru yang cantik. Tertidur dengan nyaman dan hangat dalam dekapan ayahnya yang tersenyum lebar, Baekhyun tahu ia tidak bisa lebih bahagia dari saat ini. Saat ia memanggil nama kedua anaknya dengan lembut.
"Park Seojun, Park Seoeon, ini ibu sayang…"
.
.
.
.
.
.
Yoona tersenyum ke arah sahabat kecilnya yang tengah menyiapkan minuman hangat untuknya.
"Ya, Kyungsoo-ya, seharusnya aku yang menyiapkan minuman untukmu kau tahu," Yoona berkata dengan suaranya yang sedikit serak.
Laki-laki bermata bulat itu hanya mendecih meremehkan dan menyerahkan secangkir teh untuk Yoona minum. "Ini memang tugasku jika Yang Mulia lupa," kata Kyungsoo tenang.
"bagaimana mungkin istri sahabatku menyiapkan teh untukku? Itu bukan tugasmu Kyungsoo,"
Kali ini, ucapan Yoona berhasil membuat Kyungsoo sedikit tersedak. "Yah, aku bukan istri Yang Mulia Jongin,"
Wanita berkulit pucat itu kini tertawa. "Hanya belum, bersabarlah Kai pasti akan segera menikahimu, jika tidak, aku sendiri yang akan menyeret kalian berdua ke depan altar pernikahan,"
Mengerang kesal, Kyungsoo membiarkan Yoona tertawa atas perkataannya. Biarpun kesal, namun ia juga tak memungkiri pipinya menghangat karena ucapan wanita di hadapannya ini.
Setelah lama keduanya larut dalam keheningan dan sibuk dnegan masing-masing cangkirnya, Kyungsoo membuka percakapan kembali.
"yang Mulia?"
"Hmm?" jawab Yoona lembut.
"Aku ingin bercakap-cakap denganmu sebagai seorang teman, kawan lama bolehkah?"
Yoona tersenyum lebar. "tentu saja, aku selalu menyuruhmu memperlakukanku sebagai teman, kau saja yang keras kepala"
Kyungsoo tersenyum kecil mendengarnya. "Jadi, bagaimana keadaanmu?"
Yoona mengerutkan hidungnya, namun bibirnya masih tersenyum jenaka. "tidak terlalu baik," ucapnya ringan. "Mungkin waktuku tinggal sebentar lagi,"
Kyungsoo melebarkan bola matanya dan menatap ratu sekaligus kawan lamanya dengan keterkejutan yang kentara. "A-apa?"
Yoona tertawa melihat Kyungsoo. "Yah, berhenti menatap orang lain dengan tatapan seperti itu, kau menakutiku tahu. Dan…kau tidak perlu terlalu terkejut, keadaanku memang tidak terlalu menguntungkan dari awal. Dan sekarang semuanya bertambah buruk. Itu saja,"
Kyungsoo berdecak tak senang. "bagaimana kau bisa berbicara seperti itu dengan ringan? Dasar rusa betina!" Kyungsoo memukul pelan lengan Yoona. hal itu malah membuat Yoona tersenyum lebar karena tidak biasanya Kyungsoo bersikap seperti ini. Dimatanya, Kyungsoo adalah sosok yang tenang dan teratur. ia pandai menjaga emosi. Melihatnya bertingkah kekanakan membuat Yoona ingin tertawa.
Namun melihat kilauan bening dari mata bulat yang biasa menatapnya dengan lembut itu sekita menghentikan tawa Yoona.
"hei, hei, tidak perlu menangis Kyungsoo-ya, kenapa kau menangis?"
Kyungsoo berhenti memukuli lengan Yoona dan menarik tangannya untuk menyeka air mata yang mengalir deras entah kapan tanpa ia sadari sebelumnya. Kyungsoo memalingkan wajahnya dan mengelap pipi dan matanya dengan kasar.
"Aku tidak menangis! Mataku terkena debu! Kamar ini banyak debu! Apakah tidak ada pelayan yang membersihkannya selama aku pergi?!"
Yoona hanya tersenyum maklum mendengar alasan klasik milik Kyungsoo. Ia terdiam cukup lama dan hanya melihat sahabatnya terisak dan menyeka lagi air mata yang terus turun.
"Kyungsoo-ya…"
"hmm.." jawab Kyungsoo singkat. Ia masih terisak dan ia tidak mau berbicara dengan isakan keluar disela-sela kata-katanya.
"Kau adalah orang yang paling tahu keadaanku, dari kecil sampai sekarang, kau adalah orang yang lebih tahu. Bahkan dari Yixing sekalipun. Kau tahu bahwa sejak dulu, aku tidak mungkin baik-baik saja,"
Kyungsoo memejamkan matanya dan menggeleng pelan. "Kumohon, jangan percakapan ini…"
"sejak kecil penyakitku…mengambil sebagian besar hidupku. Aku tidak bisa berada di bawah sinar matahari dan tidak bisa bermain, ayah yang mengurungku di kamar dalam sebagian besar waktuku, dan bahkan saat aku dewasa…saat aku menikah dan ingin memeiliki keluarga kecil yang bahagia…penyakit ini terus merusak hidupku, aku tidak bisa memiliki seorang anak…"
"Yoona-ya, hentikan…"
"kau tahu impianku Kyungsoo. Kau tahu impian terbesar dalam hidupku. Hanya kau, aku hanya memberitahumu, bisa kau sebutkan?"
"Yoona-ya, kumohon.."
"Wae? Apa kau lupa? Ah sahabatku sendiri melupakannya," Yoona masih berbicara dengan ringan. Sangat ringan. Seolah percakapan berat yang sedang ia mainkan bersama Kyungsoo ini tidak berarti apa-apa.
"Yoona-ya, hentikan. Percakapan ini, aku tidak menyukainya dan―"
"Baik-baik, aku akan mengatakan impian terbesarku sekali lagi karena kulihat sahabatku melupakannya," yoona menyentil pelan dahi kyungoo. Ia mendekatkan wajahnya dan tersenyum lebar. Bebas. Dan ringan.
"Aku ingin terbebas dari penyakit ini,"
Kyungsoo menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Ia tidak akan melupakannya. Impian sahabat kecilnya. Ia tak akan pernah melupakannya…
"Dan aku akan melakukan apapun untuk itu, meskipun jalan satu-satunya adalah kematian,"
…dan juga kata-kata setelah impian itu disebutkan.
"Yoona-ya, kumohon, pasti ada cara lain, kau―"
Wanita itu menggeleng lemah. "Aku tidak punya jalan lain Kyungsoo, waktuku habis, dan aku sendiri yang membuatnya berjalan dengan cepat,"
Kyungsoo terdiam. Ia sudah tahu semua cerita tentang masalah yoona. juga tentang wanita itu yang meminum sebuah ramuan untuk membuatnya bisa menyusui Haowen.
"Aku tidak menyesalinya Kyungsoo. Aku tidak pernah menyesalinya," Yoona berkata dengan senyum tak lepas dari bibirnya yang tipis. "merupakan impian mengenai hal yang ingin kulakukan sebelum aku mati untuk menyusi anakku. Itu perasaan yang menyenangkan, aku merasa menjadi seorang ibu,"
"Namun sepertinya akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu. Dan seketika membuatku menyesalinya, kau pasti tahu apa itu Kyungsoo,"
Kyungsoo terdiam.
"Ayolah, sedari tadi aku seolah berbicara pada diriku sendiri, katakan padaku, kau pasti sudah mendengar banyak rumor yang beredar kan?"
Kyungsoo masih terdiam. Namun melihat wajah Yoona yang berharap ia akhirnya berkata lirih. "Luhan,"
Yoona mengangguk. "Ya, kau benar, Luhan…"
"Aku ingat pertama kali aku menemui laki-laki manis itu, aku langsung memohon padanya seorang anak, dan dia menyetujuinya. Dengan senyum ramah terpatri diwajahnya. Lalu aku mulai meliahtnya dekat dengan Sehun. dan di sana mulai timbul rasa tidak senang melihat Sehun mendekati orang lain selain aku. Saat Sehun sudah menidurinya, aku merasa kesal dan hancur, bukankah aku bodoh? Aku memintanya untuk mengandung, tapi aku tidak mau melihatnya tidur dengan suamiku,"
Yoona terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan. "lalu rasa tidak senang berkembang menjadi rasa ingin melukai. Aku tidak tahu sejak kapan sifat mengerikan itu timbul dalam hatiku. Aku tidak tahu kenapa saat itu aku dibutakan oleh kecemburuan besar terhadap suamiku. Aku bahkan tidak memikirkan perasaan pemuda manis yang telah mengabulkan permintaanku…"
Hening sesaat. Keduanya terdiam denganpikiran yang memenuhi isi kepala mereka masing-masing.
"Aku tahu mungkin ini terdengar egois, ini terdengar tidak masuk akal dan akan terlihat palsu. Tapi aku benar-benar menyesal. Aku benar-benar menyesal karena aku telah melukai pemuda sebaik Luhan. ia memberikan segalanya untuk orang lain. Dan ia selalu tersenyum dengan segala tingkah konyol dan menjijikkan ku padanya," yoona tertawa miris terhadap kata-katanya sendiri.
"Semua perlakuan orang lain terhadapku membuatku sadar. Sehun mengacuhkanku. Para pelayan yang mulai menatap sinis padaku… kupikir karma berhasil membalikkan panah yang ingin kutancapkan pada Luhan, dan aku menerimanya. Aku membiarkan panah itu menusukku…"
"Yoona-ya, apa maksudmu?"
Yoona menggeleng lagi. "Kau tahu Kyungsoo, aku berharap jika aku mampu menyampaikan permintaan maafku langsung pada pemuda manis itu. Kepada Luhan. aku ingin meminta maaf, dan membiarkannya hidup bersama Haowen, dan tentu saja Sehun. seperti titah sang raja… karena dia berhak bahagia…"
Kyungsoo terdiam.
"Apa kau pikir ia akan memaafkanku Kyungsoo?" tanya Yoona.
Tanpa ragu Kyungsoo mengangguk mendengar pertanyyan tersebut. "Ya dia akan memaafkanmu. Dan aku yakin ia sudah memaafkanmu…"
Semburat kebahgiaan dan kelegaan tampak di mata Yoona yang semula tampak kosong. "Benarkah?" Yoona tersenyum. "bukankah pemuda itu sangat baik hati?"
Kyungsoo mengangguk. "Luhan memang seperti itu,"
"tapi aku benar-benar ingin meminta maaf padanya. Bisakah kau lakukan itu untukku Kyungsoo?"
Kyungsoo melirik Yoona tajam. "kenapa tak kau lakukan sendiri?"
Yoona mengedikkan bahunya. "entahlah kupikir aku tidak akan punya kesempatan, katakan padanya aku menyesal oke? Dan pastikan ia hidup bahagia, bersama Sehun dan haowen,"
Wanita yang semula duduk itu mulai membaringkan tubuh kurusnya kembali ke bantal yang empuk. "Bukankah mereka terlihat cocok saat bersama? Sehun dan Luhan? Sehun yang dingin dan Luhan yang baik hati,"
Sudut mata Kyungsoo melirik Yoona yang belum melepaskan senyumannya. "Mungkin?" jawab Kyungsoo asal.
"Kupikir mereka akan terlihat sempurna saat bersama,"
Kyungsoo menggenggam tangan Yoona erat. "Dengar, mereka mungkin terlihat sempurna saat bersama. Mungkin…mungkin saja Luhan adalah cinta Sehun saat ini. Tapi kau…kau adalah cinta pertama Sehun. kau adalah seseorang yang sampai saat ini, memegang peran penting dalam hati Sehun. Jangan terlalu rendah memikirkan dirimu yoona. kau berharga di mataku, kau berharga di mata Sehun. kau adalah wanita cantik, yang membuat Sehun yang agung menekuk lututnya ditanah dan melamarku untuk menikah. kau adalah orang yang berarti untuk Sehun… Kumohon, jangan lupakan itu,"
Dengan lemah yoona menggenggam erat kembali tangan Kyungsoo. "Terimakasih Kyungsoo…. Kau… kau adalah orang yang paling berarti… terimakasih karena mau mengertiku… terimakasih karena kau mau bertahan untukku…"
"Kapanpun…kapanpun Yoona-ya, kapanpun…."
Untuk terakhir kalinya Yoona tersenyum singkat pada pemuda bermata bulat di hadapannya ini. Ia meneliti wajah teman kecilnya yang tidak berubah. Selalu terlihat kosong dan bingung, namun di dalamnya, memeliki rasa peduli yang tinggi dan pemikiran yang kuat. Yoona berharap sahabatnya ini akan sellau berbahagia. Seperti dirinya yang sebentar lagi akan mengejar kebahagiaan dan juga impiannya…
"Aku ingin istirahat…bisakah kau tinggalkan aku sendiri?" yoona berkata lirih.
Kyungsoo mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan rapuh milik Yoona. ia mengelus surai hitam milik yoona dan mengecup singkat dahi sahabatnya. Lalu ia mendekatkan bibirnya pada telinga Yoona dan membisikkan sesuatu di sana.
"Jaljayo, Yoona-ya…"
Kyungsoo berbalik dan berjalan meninggalkan ranjang besar itu. ia membuka pintu perlahan seolah takut menganggu istirahat kawan lamanya. Kemudian dengan pelan pula ia menutup kembali pintu yang hanya ia buka dengan sempit.
Dan kemudian tubuh mungil laki-laki itu ambruk dan ia larut dalam isakan yang panjang. Tangannya yang bergetar ia bawa untuk menutupi isakan yang keluar dari mulutnya. Membiarkan matanya mengeluarkan air mata dengan bebas.
Mimpi indah…Yoona-ya….
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YAAA ^^
.
.
Anyway semoga chapter ini memuaskan dan menjawab kehausan (?) kalian, wehee,
Terus, buat yg review, favorit, follow, gue ga nyangka bakal sebanyak ini, q terharu gaes ;A; dang a ada yg bisa diucapkan selain thankyou, thankyou so so so muchhh, I love you all like really~~~~ :*
SEE YOU NEXT CHAPTER!
