.

.

.

.


2ND CHAPTER OF FAKE

.

.

.

Matcha Quinn


"Stop it, Tae!"

Jungkook mendorong Taehyung sedikit lebih kuat. Membuat pemuda bersurai jerami yang tak lain adalah kekasihnya mendelik tajam. Ia menghentikan kegiatannya secara otomatis. Jungkook bersandar di pintu dengan napas sedikit memburu. Taehyung kembali mendekat kemudian merentangkan tangannya, menarik Jungkook ke dalam dekapannya.

Jungkook tanpa ragu membalas pelukan Taehyung. Dengan senyum kecil ia mengelus surai jerami kekasihnya dengan sayang. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Taehyung yang seperti ini.

"Aku merindukanmu, Baby"

"Aku tahu hyung. Tapi kita bertemu beberapa jam yang lalu"

"Tidak. Kau menghabiskan waktu dengan menyanyi daripada bermain denganku. Apa aku harus selalu mengancammu untuk membuatmu mau menemaniku? Bermain denganku? Apa harus begitu?"

"Maafkan aku. Hyung—"

"Sshhh.."

Taehyung menempelkan telunjuknya di bibir Jungkook. Ia mengulas senyum miring yang tipis. Dan itu membuat Jungkook kembali waspada. Senyuman seperti itu bukan pertanda baik.

"Jadi permainan apa yang akan kita mainkan? Hyung bilang ada begitu banyak"

"Ya, ada banyak. Dan aku ingin bermain hide and seek"

Jungkook mengerutkan keningnya—lagi. Taehyung menarik lengannya setelah mengunci pintu. Ia menarik Jungkook menuju ruangan paling ujung di lantai dua. Taehyung menggenggam jemarinya dengan lembut. Jungkook hanya tidak menyadarinya karena sibuk menenangkan dirinya sendiri. Permainan macam apa yang akan mereka mainkan kali ini? Semua permainan yang telah mereka lakukan tidak ada yang normal bagi Jungkook.

Taehyung mengatakan bermain playstation, namun nyatanya Taehyung mengajaknya membobol sistem keamanan kantor polisi. Taehyung mengajukan berlomba. Jika Jungkook menolak, hukuman akan menantinya. Sekali lagi, hukuman itu tidak ada yang menyenangkan.

Taehyung mengajaknya bermain tembak-tembakan. Jungkook mengira mereka akan bermain di game centre, nyatanya itu tidak pernah sesuai nalar manusia normal. Dan bagian yang paling mengerikan, Taehyung memberinya senjata asli. Senjata yang ia ambil dari kantor ayahnya. Ayahnya berprofesi sebagai polisi ngomong-ngomong. Polisi dengan jabatan tinggi, entahlah apa namanya, Jungkook juga tidak begitu paham urusan kepolisian. Saat itu Jungkook menolak dan Taehyung benar-benar menghukumnya. Akibatnya Jungkook tidak bisa berjalan dengan benar dan absen menyanyi selama beberapa hari, ia bahkan tidak mengikuti kelas di kampus. Jangan berpikiran kotor. Jika Taehyung melakukan 'itu', Jungkook tidak akan protes. Taehyung benar-benar menghukum dirinya, dan kakinya benar-benar terluka parah dan suaranya berantakan karena berteriak kesakitan. Taehyung memang mengucap maaf tapi tatapan mata sedingin esnya tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.

Jungkook mencintai Taehyung sampai ke tulang sumsumnya sekalipun. Ia tidak menyukai sifat kasar Taehyung tapi ia terlalu mencintai pemuda itu. Jungkook gila. Jungkook masokis. Jungkook tidak akan menolak sebutan semacam itu jika Taehyunglah psycho nya.

Masih banyak hal gila yang Taehyung lakukan. Taehyung itu jenius, terlalu jenius. Taehyung selalu menduduki peringkat pertama mahasiswa paling cerdas dulu. Ia bahkan lulus dengan nilai mengagumkan dari Yale. Dan bekerja sebagai seorang dokter di usianya yang bahkan hanya dua tahun di atas Jungkook. Jungkook masih tidak bisa memahami cara berpikir pemuda itu dan apa yang sebenarnya yang ia inginkan. Mereka sudah mengenal sejak sekolah menengah. Jungkook tidak begitu paham dengan cinta pada saat itu. Ia menerima Taehyung tanpa banyak berpikir, ia tidak tahu bagaimana Taehyung. Yang ia tahu, Taehyung yang pada saat itu berada di tingkat terakhir sangatlah tampan dan baik, begitu yang dikatakan orang-orang.

Mereka sudah bersama selama kurang lebih lima tahun. Dan Jungkook sangat paham sekarang jika ia sangat membutuhkan Taehyung di setiap hembusan karbondioksida di mulutnya dan hirupan oksigen dari hidungnya. Ia hanya belum paham kenapa Taehyung melakukan ini semua dan kenapa harus Jungkook. Sebenarnya apa yang ada di pikiran pemuda bersurai jerami itu? Apa baginya menyenangkan selalu bermain seperti ini? Apa Jungkook hanyalah sekedar mainan baginya. Mainan yang akan ia buang jika sudah bosan? Jungkook tidak bodoh untuk tahu apa yang selalu Taehyung lakukan dengan gadis-gadis seksi dan pria manis di luar sana. Ia hanya diam selama ini. Sungguh menggelikan.

"Hanya ada kita berdua di rumah ini"

Jungkook kembali tersadar oleh suara rendah itu. Jungkook mengangguk kecil membenarkan. Ia berdoa semoga Taehyung tidak mengusulkan hal aneh lagi. Yah, walaupun Jungkook tidak yakin jika doanya akan didengarkan apalagi dikabulkan mengingat ia adalah orang yang berdosa, menyalahi kodratnya, melakukan hal berdosa lainnya.

"Kita akan bermain. Hanya kita berdua"

"Bagaimana aturannya?"

Taehyung mendudukkan dirinya diatas ranjang yang dibalut seprai putih bersih. Taehyung selalu punya aturan mainnya sendiri dan Jungkook hanya menurut seperti anjing yang baik. Lucu sekali.

Taehyung menepuk pahanya. Jungkook paham apa maksudnya itu. Ia naik ke atas pangkuan Taehyung. Duduk di atas paha pemuda itu sementara kakinya melingkar memeluk pinggang Taehyung dan lengannya mengalung dengan indah di leher yang lebih tua.

Taehyung menyeringai menunjukkan gigi dan gusinya. Tampan dan seksi secara bersamaan.

Taehyung memeluk pinggang Jungkook dengan lengan kirinya sementara lengan kanannya sudah menemukan tempatnya di pipi Jungkook.

Jarak mereka sungguh sangat dekat. Jungkook memejamkan matanya merasakan jemari Taehyung bergerak mengusap permukaan pipinya. Dari jarak seperti ini, Jungkook bisa merasakan aroma wine di setiap hembusan napas kekasihnya. Jungkook tidak pernah tahan dengan segala jenis minuman yang mengandung alkohol. Tapi ia tidak mempermasalahkannya jika itu adalah hyungnya. Kekasihnya yang begitu memabukkan.

"Buka matamu, sayang"

Jungkook menurut. Ia membuka kelopak matanya dan kembali. Dirinya terpaku dengan iris biru itu. Taehyung tidak memakai lensa apapun. Itu memang warna matanya yang asli. Taehyung bilang itu ia dapatkan dari Ibunya, seorang yang berdarah Inggris. Dan Jungkook merasakan sedikit iri di dalam dirinya. Kenapa semua yang indah diberi kepada Taehyung?

"Tidak ada aturan. Kita hanya bermain saja"

"Bukankah selama ini kita selalu bermain itu hyung? Hide and seek? Bersembunyi dan menemukan?"

Taehyung mengangkat sebelah alisnya. Entah kenapa, Jungkook tiba-tiba merasa emosi membuncah dalam dirinya.

"Hyung selalu bersembunyi dan aku yang akan mencari. Tapi aku tidak pernah menemukan hyung. Aku tidak pernah menyentuh hyung seujung kukupun. Aku harus menemukan hyung dimana lagi? Kemana lagi? Aku lelah selalu berlari namun tidak ada artinya"

Itu benar. Mereka sudah terlalu sering bermain. Dan permainan kali ini selalu mereka lakukan. Kenapa Jungkook baru menyadarinya? Permainan itu sangat cocok dengan dirinya sekarang. Ia tidak pernah tahu dimana Taehyung. Ia tidak pernah tahu apa Taehyung inginkan. Ia selalu mengejar Taehyung yang bersembunyi darinya. Taehyung tidak pernah membiarkan dirinya terlihat. Jungkook lelah. Kapan permainan ini berakhir.

Taehyung mengusap kedua sisi pipinya dengan ibu jarinya. Tidak. Jungkook tidak menangis. Demi apapun ia tidak menangis.

"Kau menolak?"

Taehyung mengeraskan rahangnya. Sorot matanya semakin tajam dan dingin.

Jungkook menunduk dalam. Taehyung tidak akan pernah mengerti.

"Kau tidak mau bermain, Jeon Jungkook?"

Taehyung menyebut namanya dengan lengkap. Ini bukan pertanda baik. Jungkook menutup matanya dengan erat. Bersiap kalau kalau Taehyung kembali melayangkan pukulan sebagai hukuman.

Namun alih alih merasa sakit, ia malah merasakan hangat menyerap ke pembuluh darahnya dan membuat peredaran darahnya berjalan lebih cepat dari yang seharusnya.

Taehyung menciumnya?

Jungkook kembali mengangkat kepalanya. Dan ia menyesal. Melihat senyum lebar Taehyung bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Karena senyum seperti itu jauh lebih mengerikan daripada seringaian yang biasa menyapanya.

Taehyung mengangkat dagu Jungkook dengan telunjuk dan ibu jarinya.

"Hei, apa aku menyakitimu?"

Suara dalam Taehyung mengalun bagai nyanyian kematian dari neraka. Katakanlah Jungkook terlalu hiperbola. Taehyung yang berucap dengan begitu lembut padanya hanya terjadi beberapa kali sejak mereka memutuskan berada dalam satu ikatan seperti ini. Jungkook jelas mempertanyakan rencana apa kali iini yang dicetuskan pemuda itu.

Satu gerakan dari Taehyung menghancurkan segalanya. Taehyung menyatukan keduanya. Bibir Taehyung menempel sempurna dengan bibir plum Jungkook. Mereka tetap dalam posis seperti itu dalam beberapa detik. Dan Taehyung mengambil inisiatif untuk bergerak.

Jungkook menutup kelopak matanya. Terlalu terhanyut dalam kelembutan yang diberi Taehyung. Ia semakin mengeratkan pelukannya di leher pemuda tan itu. Jemarinya membentuk pola abstrak di surai jerami kekasihnya, tak jarang menarik pelan surai itu, membuatnya berantakan, melampiaskan perasaannya yang mendidih.

Taehyung menghisap belah bibir Jungkook bergantian. Ia melakukannya dengan begitu lembut dan perlahan. Bahkan lebih hati-hati daripada saat ia menyesap nikmatnya Gin and Sin yang ia nikmati tadi malam. Bibir plum Jungkook bagaikan dosa paling nikmat yang pernah ia sentuh.

Taehyung menjulurkan lidah hangatnya menyapa bibir kekasihnya sebelum memberikan gigitan kecil disana. Jungkook membuka mulutnya perlahan, membiarkan lidah Taehyung menemukan pasangannya dan mengajaknya menari bersama di dalam dosa mereka.

Tangan Taehyung tidak tinggal diam. Ia menarik tali overall Jungkook menuruni bahunya hingga tergantung di sisi tubuhnya. Salah satu tangannya menarik kaos putih Jungkook keatas dan menyapa kulit punggung Jungkook yang hangat. Jemari dingin Taehyung yang menyapa kulitnya membuat Jungkook berjengit dan refleks melengkungkan tubuhnya kedepan.

Tangan Taehyung yang lain menekan tengkuk Jungkook, memperdalam ciuman mereka.

Jungkook melenguh tertahan dan tanpa sadar menggigit lidah Taehyung yang masih berada di mulutnya. Taehyung tidak begitu mempedulikannya. Ia menghisap lidah Jungkook kemudian melepas tautan mereka membuat jembatan saliva diantara keduanya. Taehyung mengusap sudut bibir Jungkook hingga dagunya. Seberantakan itukan ciuman mereka?

Jungkook menatapnya sayu dengan rona samar di pipi. Taehyung memberikan kecupan di kedua pipi yang lebih muda.

Jungkook mencengkeram erat kemeja hitam Taehyung. Kemeja yang sama dengan yang pemuda itu pakai kemarin malam.

"Kau tau aturannya, Baby"

"Eung... Daddy? Fuck me, please?"

Senyum miring kembali tersungging di bibir Taehyung. Ia mendekatkan wajahnya di perpotongan leher Jungkook. Mengendus aroma kulit seputih susu tanpa noda layaknya seekor anjing yang hendak menyantap tulang kesukaannya. Kecupan seringan sayap kupu-kupu ia berikan disana.

Jungkook mendongak, memberikan akses penuh bagi Taehyung untuk mengotori lehernya. Tanpa sadar ia mengigit bibir bawahnya hingga meninggalkan luka disana. Taehyung menjulurkan lidahnya, membuat pola tidak beraturan disana, menghisap dan menggigit. Keningnya sedikit berkerut.

"Mendesah untukku, Baby. Or i'll stop until here"

Jungkook mendengar dengan jelas suara berat Taehyung.

"Daddyshhh more.. umhhh.."

Jungkook mengutuk dirinya sendiri karena terlihat begitu jalang dan kotor.

Taehyung memberikan kecupan singkat sebelum mengulum telinganya, memberikan godaan kecil bagi titik sensitif pemuda di pangkuannya. Jungkook mencengkeram kuat bahu Taehyung. Tubuhnya merespon begitu baik dan membuat Jungkook menjadi tidak tenang.

Desahan laknat keluar melalui mulutnya dengan memanggil nama kekasihnya diikuti dengan 'daddy' di belakangnya. Jungkook menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Taehyung tanpa membuat Taehyung kehilangan akses.

Jungkook melampiaskan rasa gelisahnya dengan gigitan pelan disana ketika Tehyung dengan kurang ajarnya memberikan napas hangatnya. Taehyung melakukan hal yang sama di sekujur kulit leher Jungkook. tangannya tidak ingin menganggur tentu saja. Taehyung memasukkan tangan kirinya melalui sobekan di bagian kiri celana Jungkook. Jungkook terlihat sangat siap kali ini.

Taehyung mengelus paha dalam Jungkook dengan pelan. Jungkook merespon begitu cepat. Alih-alih ingin merapatkan pahanya malah membuatnya semakin mendekat dengan Taehyung.

Satu detik kemudian, Taehyung membalik posisi mereka hingga kini Jungkook yang berada di bawahnya walaupun kaki pemuda kelinci itu masih menggantung di ujung ranjang.

Jungkook mengerjabkan matanya pelan. Taehyung menumpu tubuhnya dengan siku sehingga tidak benar-benar menindih tubuh montok Jungkook. salah satu kakinya berada di antara paha Jungkook.

Iris birunya terpaku pada bibir Jungkook yang sedikit membengkak dan mengkilat terkena cahaya matahari yang mengintip dibalik tirai yang belum ia buka. Taehyung mengusap bibir bawah Jungkook kemudian melumatnya dengan kasar terkesan terburu-buru. Tangannya bergerak menurunkan celana Jungkook. Tidak butuh waktu yang banyak mengingat pakaian Jungkook yang memang sangat mudah di tanggalkan.

Celana itu ia biarkan menggantung di kaki Jungkook sementar jemari panjangnya beralih menyapa gundukan di bawah pusat tubuh Jungkook. Sesuatu disana sudah mengembung di balik celana dalam abu-abu yang termuda. Ah, jangan lupakan bagian itu juga sudah begitu basah.

"Too fast, Baby Bunny?"

Wajah Jungkook sudah benar-benar merah padam. Ia mengangkat lengannya menuju wajahnya dan menutup matanya. Menolak bersibobrok dengan dalamnya samudera yang terperangkap di iris pemuda yang berada di atasnya.

Taehyung mengangkat sudut bibirnya. Jungkook terlalu menggemaskan untuk dilepas begitu saja.

"Ukhhh"

Jungkook refleks menggigit pipi dalamnya begitu kuat saat merasakan tekanan di area privasinya. Rasa anyir karat besi menyapa lidahnya. Jungkook menahan dirinya untuk tidak melihat apa yang dilakukan Taehyung disana.

Karena tanpa melihatpun ia sudah tahu apa yang Taehyung lakukan.

Dadanya naik turun mengatur kadar oksigen yang masuk ke paru-parunya.

Taehyung menghentikan tekanan lututnya di area vital Jungkook. Ekspresi tersiksa Jungkook sungguh membuat hormonnya kembali mendidih. Dan, oh, lihat itu.

Taehyung iseng menyentuh penis Jungkook yang masih terbungkus sepotong kain dengan jemari telunjuknya. Hanya iseng. Ia terlalu penasaran melihat reaksi Jungkook.

Dan benar saja, Jungkook mengangkat sebelah kakinya —berusaha menghindarkan tangan Taehyung dari sana—. Taehyung mengangkat wajahnya, ia sedikit kecewa tidak bisa melihat ekspresi Jungkook. Jungkook masih menyembunyikan wajahnya di balik perlindungan jemari panjang dan besarnya.

Taehyung menahan tubuhnya dengan salah satu lengannya sedang lengan satunya menyentuh rambut Jungkook yang lembab oleh keringat. Ia mengusap kening Jungkook menggunakan punggung tangannya kemudian mendaratkan kecupan lembut di sana.

Jungkook perlahan menurunkan telapak tangannya dan pupil cokelatnya langsung bersibobobrok dengan milik Taehyung. Jungkook merekam penuh bagaimana binar iris biru yang sangat jarang ia lihat di anatomi orang Korea pada umumnya. Bulu matanya yang panjang dan lekukan tegas alisnya, beserta hidung mancungnya yang bahkan ujungnya sudah menempel dengan hidung Jungkook.

Taehyung memiringkan wajahnya dan menekan bibir Jungkook dengan bibirnya. Tidak ada lumatan, Taehyung hanya menempelkannya kemudian melepaskannya begitu saja.

Lengan kuat Taehyung merobek kaos putih Jungkook hingga terlepas dari tubuhnya. Nafas Jungkook memburu. Taehyung menurunkan pandangangannya berulang kali di tubuh Jungkook yang hanya tertutup sepotong kain di bawah sana. Abs yang mulai terbentuk menarik perhatiannya. Jangan lupakan bagaimana nipple cokelat mudanya sedikit mengerut dan dadanya naik turun tidak teratur.

"Jangan lihat aku seperti itu"

"Kau memerintahku, Baby?"

Taehyung meremas pelan penis Jungkook sembari menyeringai. Jungkook menekan kepalanya ke bantal membuat leher jenjangnya terekspos jelas, jemarinya meremat kuat seprai Taehyung.

Taehyung mengecup kulit leher Jungkook sebelum memberikan kecupan dan hisapan hingga meninggalkan tanda merah tua disana. Ia menjulurkan lidah panasnya, menyusuri kulit leher Jungkook hingga berhenti di dadanya. Ia mengulum nipple kanan Jungkook dan membuat gerakan melingkar menggunakan lidahnya, tangan kanannya memilin kuat nipple Jungkook satunya, sedang tangannya yang lain kembali memanjakan penis Jungkook, menyusur masuk ke dalam celana dalam Jungkook, mengusap penis Jungkook yang sudah menegang sedari tadi. Meremas pelan lalu mengocok dengan gerakan tak beraturan. Semua perlakuannya membuat Jungkook tidak bisa berhenti mendesah penuh nikmat. Cengkeramannya pada seprai semakin kuat bahkan jemari kakinya menekuk, menandakan betapa ia menikmati permainan mereka kali ini.

Taehyung mengisap nipple Jungkook bergantian. Tak jarang ia memberikan gigitan kecil disana. Ia lalu beralih mengecup paha dalam Jungkook dan kocokannya pada penis Jungkook semakin cepat. Jungkook melenguh keras.

"Da-Daddy.. I-I'm uhh—"

Taehyung tertawa kecil penuh celaan. Ia bisa merasakan penis Jungkook yang mulai berkedut. Sigap, Taehyung menutup lubangnya dengan ibu jarinya.

"Tidak"

"Daddy.. hhh pleasesshh—"

Taehyung tersenyum puas melihat wajah tersiksa Jungkook. matanya sayu dan wajahnya memerah. Jungkook mulai bergerak tak nyaman dan ekspresi tersiksa sangat kentara di wajahnya. Bulu matanya terlihat basah karena air matanya tanpa bisa ia tahan turun menyusuri sudut matanya. Rasanya sangat menyiksa saat ia tidak menuntaskan hasrat itu.

Taehyung's phone ringing—

Taehyung mengangkat sebelah alisnya kemudian meraih ponselnya di atas nakas. Ia lalu memutar bola matanya jengah.

"Yeah asshole"

"..."

"Sial. Bukankah sudah kukatakan, aku akan cuti. Dan itu dimulai dari hari ini sampai minggu depan. Jadi, jangan mencekcokiku dengan segala macam pekerjaan apapu itu, Jung fucker Hoseok"

"..."

Taehyung melirik Jungkook yang juga tengah menatapnya bingung. Taehyung mendesah pelan kemudian mematikan ponselnya.

Ia lalu berjongkook di samping ranjangnya berusaha meraih kotak kecil yang ia sembunyikan di bawah sana. Jungkook tidak bisa melihat dengan jelas. Tubuhnya sudah lelah.

Jungkook semakin mengernyit bingung saat Taehyung meletakkan beberapa benda aneh di atas perutnya. Taehyung lalu melepas semua pakaian yang masih melekat di tubuh Jungkook. jungkook sudah fullnaked sekarang. Tidak ada waktu untuk merona malu bagi Jungkook saat Taehyung menyentil pelan penisnya.

"Baby, Daddy harus menyelesaikan beberapa urusan. Untuk itu kau bisa bermain sendiri sembari menunggu"

Jungkook kemudian bangkit dan melipat kakinya kebelakang dan menumpu tubuhnya dengan kedua lengannya. Menghadap Taehyung dengan mata sayu dan bibir yang sedikit mengerucut. Cantik sekali.

"Daddy ingin meninggalkan Kookie?"

Taehyung tidak kuasa untuk tidak menggigit pipi berisi kekasihnya.

"Of course not, Baby. Daddy akan menyelesaikan urusan ini terlebih dulu. Atau Kookie mau si Kuda terus menganggu?"

Jungkook menggeleng lucu. Taehyung kemudian mendekat membuat ranjangnya sedikit berderit. Taehyung mendorong pelan bahu Jungkook hingga kembali terlentang. Ia meraih salah satu benda disana.

"Baby, ini namanya cock ring"

Taehyung memasangkan cock ring di penis Jungkook. Jungkook diam mendengarkan Taehyung. Ia mengabaikan sedikit rasa sakit pada penisnya yang ditekan cincin itu. Taehyung meraih botol kecil kemudian mengngkat salah satu kaki Jungkook lalu mengoleskan isinya di hole Jungkook. jungkook sedikit berjengit merasakan dingin dari cairan sedikit kental itu.

Jungkook membulatkan matanya saat Taehyung menunjukkan satu benda yang jujur saja membuatnya tersentak.

"Da—Daddy?"

"Hum?"

Taehyung sedikit melesakkan benda itu di bibir anal Jungkook. Jungkook meneguk salivanya susah payah.

"This is, vibrator"

Jungkook memekik keras saat Taehyung mendorong benda itu memasuki tubuhnya tanpa peringatan. Jungkook memejamkan matanya kuat, berusaha menetralkan rasa pedih dan sakit di lubang analnya. Tubuhnya serasa terbelah dua. Taehyung mengusap pipinya yang dialiri jalur air mata kecil.

"First time?"

Jungkook mengangguk susah payah.

"Maafkan Daddy, sayang. Kau akan terbiasa. Daddy tidak akan menambah lagi"

Saat dirasa Jungkook sudah bisa terbiasa dengan benda itu, Taehyung mengatur set ke tingkat tertinggi. Katakanlah Taehyung gila. Ia tahu ini yang pertama kalinya bagi Jungkook namun ia malah melakukan hal itu.

Jungkook memekik sakit awalnya namun ia lalu meracau nikmat dengan aktivitas benda itu di tubuhnya. Taehyung kemudian melangkah ke meja kerjanya di sudut ruangan kamarnya. Membuka laptopnya tidak sabaran kemudian mengetik dan mengirim file-file yang diinginkan si Bangsat Hoseok dengan penuh emosi mengebu. Telinganya terganggu dengan desahan Jungkook di belakangnya. Penisnya sendiri bahkan sudah ikut mengeras hanya dengan mendengar desahan erotis kekasih manisnya.

O—

Hanya butuh waktu lima belas menit untuk menyelesaikan pekerjaannya. Taehyung melangkah cepat menghampiri Jungkook. jungkook terlihat sangat kacau. Berntakan. Nakal. Seksi. Dan menggairahkan.

"Da—ahh eunghh—"

"Kau terlihat seperti jalang kotor, Sayang."

Taehyung mengusap kepala penis Jungkook yang mengeluarkan cairan precumnya. Sepertinya ereksi Jungkook tertahan karena adanya cincin disana. Taehyung melepaskan cock ring dan menarik vibrator dari anal Jungkook membuat Jungkook melenguh pelan.

Entah karena apa, setelah Taehyung melepaskan benda itu dari tubuhnya, Jungkook lalu menarik kuat kemeja hitam Taehyung dan menghempaskan Taehyung di atas ranjang. Jungkook mengangkat pantatnya, menduduki perut Taehyung. Jungkook merendahkan tubuhnya kemudian mengecup rahang tegas Taehyung.

"Daddy V, i want you~"

"Tunjukkan apa yang bisa dilakukan this lil baby slut, hum?"

"Sure, my Daddy~"

Taehyung menaikkan tubuhnya hingga bersandar di kepala ranjang dan Jungkook yang mengangkang di pangkuannya. Jungkook melepas satu persatu kancing kemeja hitam Taehyung kemudian ia menekan tengkuk Taehyung mendekat padanya, mengecup dan sesekali menggunakan lidahnya untuk menggoda Taehyung. Jungkook tak henti-hentinya mengecup dan mengulum adam's apple Taehyung yang selalu ia perhatikan selama ini.

Jungkook menggesekkan bokongnya pada penis Taehyung yang masih terbungkus celana. Jungkook mendesah kecil saat penis Taehyung menekan lubangnya. Taehyung juga terlihat begitu menyukai permainan mereka kali ini.

Jungkook kemudian turun dari pangkuan Taehyung. Ia lalu membuka jesper celana Taehyung dan menurunkan celananya kemudian mengeluarkan adik kecil Taehyung yang sudah menegang. Dengan posisi menungging, Jungkook mengecup penis Taehyung dari pangkal hingga ujungnya. Ia lalu menggunakan lidahnya membentuk gerakan melingkar di kepala penis Taehyung sebelum mengulumnya di dalam mulut hangatnya. Ia sedikit tersenyum di sela kegiatannya melihat Taehyung yang memejamkan matanya dan sedikit membuka mulutnya.

Jungkook menaikturunkan kepalanya dan menghisap penuh penis Taehyung. Jemarinya meremas pelan testis Taehyung.

"Shit! Stop it!"

Taehyung menarik penisnya dari mulut Jungkook dan seketika mencium bibir basah Jungkook frustasi. Rasa sedikit asin menyeruak di sela ciuman mereka. Jungkook kembali berada di pangkuan Taehyung. Taehyung mencengkeram pinggul Jungkook sementara Jungkook berpegangan pada bahu lebarnya tanpa melepaskan tautan keduanya.

Taehyung mengocok penis kemudian memposisikannya tepat di depan lubang anal Jungkook. Ia perlahan menurunkan tubuh Jungkook. Jungkook tanpa sengaja menggigit lidah Taehyung saat merasa benda asing yang merapat dengan lubangnya. Taehyung menenangkan Jungkook dengan usapan di pinggungnya.

Dengan sekali hentakan Taehyung menurunkan tubuh Jungkook. Jungkook refleks menekan bahu Taehyung dengan kuku-kukunya. Taehyung memejamkan matanya, mendesah pelan merasakan dinding rektum Jungkook yang menjepit penisnya. Jungkook menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Taehyung.

"Ukhh... hiks—"

Ia terisak pelan. Demi apapun, milik Taehyung lebih besar dari vibrator yang sebelumnya mengisi tubuhnya. Taehyung mendiamkan dirinya menunggu Jungkook terbiasa dengan penisnya.

"Daddy... move"

Taehyung memaju mundurkan pinggulnya dengan gerakan pelan. Jungkook yang mulai terbiasa mengikuti Taehyung menggerakkan tubuhnya kearah berlawanan hingga lubangnya menelan habis penis Taehyung. Jungkook mengerang dan meracau memanggil nama Taehyung di setiap helaan nafasnya. Ia tidak pernah merasakan kenikmatan yang seperti ini seumur hidupnya.

Jungkook sudah berkali-kali mengeluarkan spermanya hingga membasahi dada dan perutnya juga Taehyung. Sedangkan Taehyung belum sekalipun.

Taehyung mengangkat tubuh Jungkook hingga terlentang. Ia lalu mengangkat sebelah kaki Jungkook ke bahunya. Dan ia kembali memajukan pinggulnya, gerakannya semakin leluasa membuat Jungkook semakin mendesah kuat.

Taehyung merasakan penisnya mulai berkedut. Ia semakin mempercepat temponya kemudian melenguh pelan saat spermanya keluar menyusuri batang penisnya dan paha dalam Jungkook. terlalu banyak.

Jungkook terengah dengan mata sayu yang hampir menutup.

"D—Daddy~"

Taehyung mengusap keringat di kening Jungkook.

"Thanks for the breakfast, Baby"

"Daddy? Ap—apakah m-mereka—"

"shhh.. Istirahatlah—"

Seperti sihir, Jungkook memejamkan matanya memasuki dunia fana karena lelah. Bagaimanapun juga ia baru beristirahat selama beberapa jam.

"—maafkan aku, Aku mencintaimu, Jungkook"

.

.

.

.

.


.

.

ARGGGHHHHHHHH!

What is this?! Aduh butuh berhari-hari buat ini. Mungkin lime nya kurang hot, yahh ini juga baru pertama kali nulis yang full mature scene gini, shit!

Untung aja, aku punya temen-temen cowok di kelas yang bisa dijadiin objek khayalan. Almost all of em had gay side. Damn!

Review ditunggu sayang :*