Jungkook menopang dagunya dengan wajah mengantuk. Matanya bahkan sudah mulai memerah dengan kelopak yang hampir menutup seluruhnya. Sungguh, menahan kantuk itu sangat menyebalkan.

Jungkook menyesap cokelat panasnya perlahan, Ah, itu tidak bisa disebut cokelat panas lagi. Sepenuhnya sudah dingin.

Jungkook mendesah pelan lalu menghempaskan kepalanya di sandaran sofa cokelat muda di ruangan serba putih itu. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Seseorang di depan sana terlihat tidak peduli sama sekali. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya sedari tadi. Setumpuk kertas di depannya sepertinya lebih menarik bagi orang itu daripada eksistensi Jungkook yang bahkan sudah mulai berpikir, mati akan jauh lebih menyenangkan.

Masih dalam hitungan jam sejak saat Taehyung menjemputnya tadi. Jungkook hanya tersenyum kecil menghampiri Taehyung, tidak menanggapi serius delikan dari wanita-wanita jalang yang meraba-raba tubuh kekasihnya.

What the fucking hell! Yang harusnya marah itu Jungkook!

Jungkook pura-pura menyibukkan diri dengan kertas proposalnya saat di dalam mobil. Taehyung sepertinya juga sama. Ia bahkan tidak menoleh Jungkook sedikitpun. Ia hanya mengatur stir sembari berbicara dengan seseorang di seberang sana lewat earpiece nya.

Itulah awal mulanya sampai Jungkook berada di dalam ruangan ini bersama dokter muda beriris samudera yang kebetulan adalah kekasihnya. Itu juga kalau mereka memang masih pantas disebut kekasih. Sial.

Jungkook meraih ponsel di sakunya kemudian melekatkan earphone di sana. Jungkook melipat kakinya di atas sofa tanpa melepas sepatunya. dengan santai ia meletakkan setoples cookie di pangkuannya. Masa bodo jika itu tidak sopan. Lagipula itu salah Taehyung yang tidak mengantarnya pulang, malah membawanya ke ruang memuakkan ini. Jungkook hanya ingin menghibur diri dengan menonton film dari ponsel pintarnya.

Satu jam..

Dua jam..

Jungkook sedikit melirik dari ekor matanya saat suara pintu diketuk terdengar. Jungkook bersyukur punya pendengaran yang cukup bagus walaupun suara film masih mengalir ke telinganya.

HOLY SHIT!

Jungkook tidak bisa tidak tercengang sekarang. Seorang wanita muda melangkah anggun setelah Taehyung mempersilahkannya masuk. Heels merah maroonnya terdengar begitu bersemangat melewati lantai menuju Taehyung. Coat cokelat mudanya menjuntai mencapai sekitar beberapa belas senti di atas lututnya. Perkiraan Jungkook pakaian wanita itu hanya mencapai pahanya saja. Dinilai dari penampilannya, Jungkook sangat yakin dia bukanlah perawat atau bahkan dokter biasa. Profesor. Wanita itu pasti Profesor di rumah sakit ini.

Jungkook benar-benar mengabaikan ponselnya sekarang. Tidak memutar film lagi, namun ia belum juga melepas earphonenya. Berniat menguping,huh? Jeon Jungkook?

"Taehyung-ah~"

Sial. Bisakah Jungkook melempar wanita itu dengan toples cookie nya sekarang juga? apa-apaan dengan panggilan itu? Sebenarnya tidak begitu salah, kalau saja tidak diikuti desahan di belakangnya. Wanita itu merapatkan tubuhnya. Yah, bersyukur saja ada meja sebagai penghalang keduanya. Seperti tidak punya malu, wanita ia menurunkan tubuhnyaseperti membungkuk, hampir menyentuh permukaan meja.

Taehyung sepertinya mulai terganggu. Ia lalu mengangkat kepalanya yang semula menunduk. Dengan santai ia tersenyum miring sesekali melirik dada wanita itu.

Jungkook tersentak.

Taehyung tidak pernah melakukan itu padanya. Maksudku, Taehyung selalu memberikan tatapan tajam jika ia mendekat tanpa ijin, sedikit mengganggu, tapi ia melakukannya hanya saat Taehyung sedang tidak sibuk. Lalu ini apa?

"Profesor Lee"

"Aishh.. bukankah sudah kukatakan? Jangan memanggilku seformal itu. Bukankah kita jauh lebih dekat dari itu? Panggil aku Noona. Hyojin Noona!"

"Noona"

"Asa! Itu lebih baik," wanita itu mengangkat lengan kirinya—

"Makan siang? Sudah waktunya. Kita akan makan bersama lagi kan?"

A—APA?

LAGI?

Jadi Taehyung selalu bersama wanita itu setiap kali bekerja? Lalu Jungkook itu apa? Apa Jungkook hanya patung pajangan disini?

Terburu, Jungkook merapikan kembali barang-barangnya. Ia kembali menyampirkan tali ranselnya di bahu lalu berdiri dengan cepat. Gerakannya jelas mengundang perhatian kedua orang disana. Terutama wanita itu. Ah, pantas saja. Wanita itu sangat cantik dan seksi. Taehyung pasti sangat menyukainya.

Jungkook membungkuk cepat pada keduanya.

"Eumm... Taehyung-ssi.. terima kasih atas bantuannya hari ini. Saya akan kesehatan saya mulai hari ini. Dan maaf, kalau saya mengganggu waktu Anda dengan kekasih Anda. Nikmati makan siang Anda. Saya permisi"

Jungkook berbicara tanpa memberi kesempatan orang lain menyela ucapannya. Dengan langkah cepat ia meninggalkan ruangan itu. Rumah sakit itu.

Bantuan apa?

Kesehatan apa? Jungkook bahkan sangat sehat. Pengecualian dengan psikologisnya.

Dan... kekasih apanya?

Ah, sepertinya memang benar. Taehyung tidak pernah menganggapnya seperti itu. Jungkook hanya pelampiasan saja. Lihat, Taehyung bahkan tidak menyusulnya. Atau setidaknya mengirim pesan singkat untuknya.

Dan itu sudah empat hari berlalu..

Lucu sekali!

"Halo.. Shiah noona! Bisa kita bertemu?

.

.

.

.

.

.