Jungkook mengaduk es lemonnya perlahan. Sesekali ia memandang keluar. Ini masih pagi. Sabtu pagi, dimana sebagian besar orang mendapatkan libur akhir pekannya. Jungkook menikmati sarapan paginya di café kecil bergaya Perancis, Gémeaux.

"Well, garlic breads dan lemonade untuk mengawali hari, hmm unik"

Jungkook mendengus kecil,"Tidak perlu sungkan. Aku tahu nuna ingin mengatakan ini aneh"

"Yup! Memang orang waras macam apa yang memakan itu untuk sarapan. Kau beruntung punya kekasih seorang dokter. Kalau tidak, ya begitulah"

Jungkook menaikkan sebelah alis, menuntut penjelasan.

"Jangan salah paham! Kekasihmu itu lumayan terkenal di kalangan mahasiswi yang lain. Aku hanya kebetulan dengar saja. Lagian bagaimana bisa ia tidak populer? Dia masih sangat muda dan sudah menjadi seorang dokter di rumah sakit ternama, dia tampan dan dokter yang panas. Siapa yang tidak tertarik?"

"Jangan memujinya, YooA Noona!"

YooA lantas tersenyum miring,"Baiklah.. baiklah.. lalu kenapa kau meminta bertemu denganku hari ini? Kau terdengar sangat —bagaimana menyebutnya.. putus asa? Hopeless?"

"Oke, aku akan cerita sekarang karena tidak ada salahnya berbagi, bukan? Dan Noona terlihat bisa dipercaya"

YooA memutar bola matanya malas. Ia menyisir surai kopi dengan gradasi merah mudanya menggunakan jari.

"Dan, Noona tidak menyiapkan catatan atau apa? Seperti psikiater pada umumnya?"

"Kau ingin aku melakukannya? Jungkook, kau bukan pasien dan aku belum menjadi psikiater. Lagipula kau mau kesebut gila? Kau mau membayarku jika aku melakukan itu? oke, aku akan melakukannya kalau begitu"

Jungkook refleks menggeleng cepat.

"Baik, aku akan cerita. Jadi, namanya Kim Taehyung. Dia lebih tua dua tahun dariku, seumuran dengan noona. Ia sangat jenius jadi dia bisa menyelesaikan sekolahnya di Yale dan menjadi dokter profesional di umur semuda itu"

"Tunggu.. Tunggu! Aku tahu dia jenius dari yang teman-temanku katakan, tapi... itu tidak mungkin Jungkook! Dia seumuran denganku dan jangan bercanda! Yale?!"

Jungkook mengangguk pelan, meyakinkan. Memang tidak begitu masuk akal melihat peluang masuk Yale yang sangat kecil dan bisa lulus begitu cepat. Terlalu menakjubkan. Jungkook akui itu memang sangat menakjubkan, dan itu juga yang membuatnya tidak habis pikir kenapa Taehyung memilihnya yang sangat biasa ini?

"Lanjutkan" YooA berkata setelah menyesap Lattenya

"Aku tidak tahu kenapa ia memintaku jadi kekasihnya dulu, sekitar lima tahun lalu disaat kami berdua masih di sekolah tinggi. Dia sudah tingkat terakhir saat itu dan aku masih tingkat pertama. Dia datang mencariku ke kelas dan saat itu juga ia mengatakan dia tertarik padaku. Aku sempat mengira dia melakukan taruhan gila dengan teman-temannya yang tak kalah gila"

Jungkook terkekeh pelan mengingat-ingat bagaimana ekspresi datar Taehyung saat mengatakan itu padanya lima tahun. Jungkook yang saat itu tidak mengerti apa-apa, tidak kenal Taehyung selain tahu namanya saja. Jelas ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Itu terlihat lebih masuk akal.

"Dasar otak drama. Mana ada yang mau mengorbankan perasaan macam itu"

"Yahh.. dia memang tidak melakukan taruhan, kurasa. Tapi dia terlihat hanya melakukan itu karena terpaksa"

"Jangan berburuk sangka dulu, Jungkook. Lalu, kau menerimanya?"

"Tentu saja"

"Dan apa yang terjadi setelahnya?"

"Dia meminta nomor ponselku setelah itu dia pergi tanpa berkata apa-apa lagi"

YooA mengangguk kecil. Jujur saja, ia tertarik dengan Kim Taehyung itu. Bukan tertarik dalam artian seperti itu, astaga. Hanya, ia tertarik dengan kepribadian manusia macam itu.

"Apa yang sudah ia lakukan padamu?"

"Dia memelukku, menciumku, mengajakku bermain?"

Jungkook terlihat ragu mengatakannya. Dan itu mengundang curiga dari gadis itu. Ia mengangkat kedua alisnya tinggi.

"Kau yakin tidak ingin mengatakan semua?"

"U-Uhm.. dia marah jika aku melakukan sedikit kesalahan. Dia memukulku jika aku terlambat dari waktu perjanjian, dan dia tidak suka aku bertanya atau mengganggu sedikit dari pekerjaannya"

"Memukul?" YooA mengerutkan keningnya, sedikt tidak percaya.

"Dia kekasihmu, Jungkook. Itu tidak mungkin! Bagaimana dengan bercinta?"

"Mungkin saja noona. Kami melakukannya sekali, minggu lalu"

"Se—Jungkook jangan berbohong! Lima tahun dan hanya sekali?!"

"Kenapa? Noona tidak percaya?"

YooA menyandarkan punggungnya di kursi lalu mengeluarkan catatan kecil dari tasnya.

"Jungkook, ini lebih serius dari yang kubayangkan"

YooA menggoreskan penanya dengan cekatan lalu sesekali melirik Jungkook.

"Memangnya kenapa? Kenapa noona sekarang malah mencatatnya?"

YooA menghela napas pelan,"Jungkook, kekasihmu ini gila. Kau mengerti maksudku? Aku yakin dia sangat jarang mengatakan cinta padamu. Dia marah kau mengganggu pekerjaannya, memukulmu, dan Jungkook, kau kekasihnya atau budaknya?"

Oke, Jungkook sedikit tersinggung dengan pilihan kalimat itu. Tapi ia tidak bisa marah karena itu memang benar adanya.

"Tapi dia tidak pernah mengatakan ingin berpisah. Itu artinya dia memang menyukaiku, bukan?"

YooA mengetuk pelan kening Jungkook dengan penanya.

"Dasar naif. Itu bisa saja karena dia butuh pelampiasan. Dan kau, kau pernah marah padanya?"

Jungkook menggeleng pelan.

"Gotcha!" YooA lalu kembali menulis di buku kecilnya.

"Apa lagi yang ia lakukan?"

"Dia... punya beberapa kekasih lagi di luar sana.."

"Kau tahu?"

YooA memberi tatapan nyalang saat Jungkook mengangguk pelan.

"Dan kau membiarkannya?"

"Noona.. aku menyayangi TaeTae hyung"

"Jangan tersinggung Jungkook. Kau hanya terlihat maskot saja di kehidupan Kim Taehyung ini. Dia tidak waras! Kenapa tidak memutuskannya saja? Masih banyak yang jauh lebih baik dari dia. Pria atau wanita banyak lebih menarik dari dia Jungkook. Kenapa kau malah bersikeras menyiksa dirimu di dalam sana?" YooA menunduk dada kiri Jungkook dengan ujung pena-nya.

"Apa yang terjadi empat hari yang lalu?"

"Dia membawaku ke tempat kerjanya. Aku hanya diam. Jangan mengganggu katanya. Dan yang bisa kulakukan hanya duduk, diam, dan mengamati dirinya yang sibuk bekerja. Semua berjalan lancar sampai saat seorang wanita cantik dan seksi datang. Namanya Hyojin. Dia mengusik pekerjaan Tae-hyung, tapi Taehyung tidak marah, ia hanya tersenyum. Mereka berencana makan siang bersama, sedangkan aku tidak diingat Taehyung sedikitpun. Melirik saja tidak. Aku pergi tapi Taehyung tidak menyusulku ataupun mengirim pesan untuk menjelaskan hari itu. Setidaknya aku berharap dia mengatakan itu salah paham walaupun aku yakin itu memang hanya omong kosong. Tapi dia tidak memberi kabar selama empat hari penuh. Mungkin benar, aku tidak pernah masuk di dalamnya"

YooA bungkam. Jemari lentiknya sudah berhenti menulis sedari tadi saat Jungkook menjadi sulit berbicara. Dan itu menjadi sangat jelas saat ia mengangkat kepalanya. Kedua bola mata Jungkook berkaca dan beberapa sepertinya sudah jatuh menuruni pipinya. Jungkook mengusap pipinya kasar lalu tertawa sumbang. Dan itulah yang membuat YooA mengeratkan pegangannya pada pena.

"Astaga! Bagaimana bisa aku seperti ini.. Aku— aku seorang pria.."

"Jungkook, kau oke? Kita hentikan saja sampai disini?"

Jungkook menggeleng lemah lalu mengulas senyum keci.

"Tidak, Noona. Aku seorang pria dan ini tidak ada apa-apanya bagiku"

YooA menghela napas pelan.

"Baiklah, lanjutkan kalau begitu"

"Uhm... Aku tahu semua yang Taehyung suka dan tidak suka, tapi sepertinya dia tidak tahu satupun yang aku suka. Atau mungkin dia bahkan tidak tahu alasan aku mengambil jurusan seni."

"Jung—"

"Noona benar. Mungkin aku hanya pelampiasan saja"

"Jungkook, aku tidak bermaksud begitu"

"Tidak! Itu benar! Saat aku datang di hari kelulusannya, ia sedang bersama teman wanitanya, tertawa lepas, tidak menolak saat mereka memberinya ciuman. Saat dia melihatku, hanya ada tatapan dingin di iris birunya. Seakan dia tidak menginginkanku disana. Aku menunggu. Dan dia benar-benar marah saat menemuiku. Padahal aku sudah berusaha menekan pengeluaranku dan menabung untuk membeli tiket ke New Haven"

Cukup sudah. YooA meletakkan bukunya di atas meja dengan kasar hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung. Mereka kembali pada dunia mereka sendiri setelah ditatap tajam oleh YooA.

YooA berdiri dan mengambil tempat di samping Jungkook. Ia mengusap punggung Jungkook dengan lembut. Setelah itu ia menarik pemuda itu ke dalam pelukan hangatnya. Ia merasa seperti punya adik. Bagaimana bisa Kim Taehyung menyia-nyiakan pemuda sebaik ini? Kim Taehyung itu benar-benar bukan manusia.

Jungkook membalas melingkarkan lengannya pada YooA, dan tidak menyerah, ia kembali melanjutkan ceritanya.

"Rasanya sangat sakit saat melihat dia berciuman dengan orang lain di depanku. Dia sadar aku melihatnya dan ia tidak peduli. Aku lelah, Noona. Ini terlalu berat. Aku ingin menyudahinya tapi aku tidak bisa. Aku sangat mencintai Taehyung. Sangat."

YooA mengusap rambut Jungkook perlahan.

"Kalau kau menangis, menangis saja Jungkook. Tidak ada yang akan dengar"

Setelah berkata begitu, Jungkook benar menumpahkan semuanya di dalam pelukan YooA. Mengeratkan pelukannya dan menahan isakannya di bahu sempit gadis itu.

" . .Ini"

YooA menyadari itu. Tubuh Jungkook mendadak menegang seiring pelukannya yang semakin melemah. YooA tersenyum miring.

"T-Tae H-Hyu-Hyung.."

~oOo~

Jungkook meneguk salivanya susah payah. Ia hendak berdiri dan menjelaskan semuanya pada Taehyung yang terlihat begitu marah. Iris birunya benar-benar mengintimidasi, lebih dari biasanya.

Sejujurnya ia sedikit terkejut Taehyung berdiri di depannya dengan setelas kasualnya. Dan karenanya mereka menjadi pusat perhatian sekarang. Terlepas dari aura gelap Taehyung, penampilan pemuda itu memang sangat memikat.

Yooa menahan pergelangan tangan Jungkook dan tersenyum miring pada Taehyung. Si bajingan itu. Taehyung melihatnya dan menggeram tertahan. Dia tidak suka.

"Lepaskan tanganmu dari kekasihku"

Tajam. Itu sebuah ancaman. Lalu kalian pikir Yooa gentar? Tidak sama sekali. Ia malah tertawa mengejek.

"Kekasih? Siapa kekasihmu, Tuan Kim?"

Taehyung mengernyit tak suka. Ia melirik Jungkook yang hanya diam menunduk di belakang YooA. Taehyung mengepalkan jemarinya kuat. Moodnya benar-benar hancur. Jungkook itu kekasihnya, bukan? Lalu kenapa dia hanya diam?

"Kau ingin mengatakan Jungkook kekasihmu? Well, kau seorang dokter. Kau jenius. Kau tampan dan disukai banyak orang. Awalnya aku begitu mengagumimu, dan sekarang aku sangat ingin menginjak wajahmu di bawah kakiku, Tuan Kim. Apa Yale tidak sedang mabuk karena membiarkan orang sepertimu masuk dan lulus dengan nilai sempurna? Jika tidak, harusnya kau sadar bagaimana kau memperlakukan kekasihmu selama ini, Jenius. Cangkangmu indah sekali, tetapi dirimu di dalam sana tak lebih dari sekedar kotoran!"

Jungkook mencengkeram lengan YooA, menahannya berbicara lebih jauh. Karena sungguh, YooA sepertinya punya masalah dalam menyaring kata-katanya.

Taehyung terlihat tidak peduli. Ia hanya memberi tatapan berbahaya pada Jungkook hingga membuat pemuda itu kembali menunduk takut.

"Jeon Jungkook. Kau mencoba untuk bermain di belakangku? Dengan perempuan tidak tahu sopan santun ini?"

PLAK

Jungkook membulatkan matanya terkejut bukan main. Taehyung berdecih pelan dan menatap YooA nyalang. Siapa gadis itu sampai berani menamparnya.

"Lihat siapa yang berbicara. Kau sepertinya butuh lebih banyak cermin, Taehyung-ssi. Kau menuduh Jungkook tanpa alasan kuat sedangkan kau... apa yang sudah kau lakukan selama ini? Jika kau bisa, lalu kenapa kau marah jika Jungkook juga berkeinginan melakukannya? Dimana urat malumu, ha?!"

Ini bukan pertanda baik. Jungkook dengan cepat maju dan melindungi YooA di belakangnya.

"Hyung... kumohon.. hentikan.."

"Menyingkir, Jungkook!"

Jungkook menggeleng kuat.

"Ayo kita bicara. Tapi tidak disini. Kumohon?"

Taehyung tampak berpikir sejenak lalu melangkah keluar. Jungkook berbalik lalu menyentuh kedua bahu YooA, dan dibalas senyum manis oleh YooA.

"Pergilah, selesaikan masalahmu Jungkook. Jangan menekan dirimu lagi"

"Terima kasih, Noona. Aku akan menghubungimu nanti"

Setelah berkata begitu, Jungkook ikut menyusul Taehyung dengan langkah tergesa. YooA menghela napas pelan.

"Astaga mata Kim Taehyung itu mengerikan sekali. Yahh.. semoga semua selesai dengan baik. Ya, semoga"

.

.

.

.

[note kali ini aku post disini karena emang ngga banyak]

Aku update lebih cepat dari biasanya karena lagi bernapsu nyelesaian cerita ini secepat mungkin. Cuma tinggal satu atau dua chapter lagi yeaaayyy!

Terima kasih banget buat iKON dan SEVENTEEN atas comebacknya dan lagunya yang luar biasa jadi moodboaster ehehehe

Dan buat yang berpuasa, sukses yaahh!