"Hyung.."
Jungkook menarik ujung kaus Taehyung. Tidak kuat. Memangnya Jungkook berani menariknya kuat? jawabannya sudah pasti tidak. Lagipula ia tidak mau menyakiti Taehyung.
Taehyung meliriknya sekilas melalui ekor matanya. Rahangnya masih mengeras. Terlihat sekali amarahnya belum reda sedikitpun. Taehyung mencengkeram kuat tangan Jungkook yang semula menarik ujung kausnya. Tidak peduli pemuda dua tahun di bawahnya itu meringis pelan walau tetap mengikuti kemana Taehyung membawanya.
Taehyung menekan tubuh Jungkook pada body mobilnya. Taehyung sadar Jungkook kesakitan. Lalu, memangnya sejak kapan dia peduli pada Jungkook? Hal-hal seperti itulah yang disimpulkan Jungkook pada dirinya.
Memang benar. Ia sakit tapi ia sendiri tidak mau sembuh. Terlalu klasik jika ini semua karena Jungkook yang terlalu menyukai pemuda Kim itu.
Jungkook abai sekarang. Jikapun nanti bahunya hancur dicengkeram begitu kuat, setidaknya itu lebih baik. Dirinya sudah hancur di dalam sana dan dihancurkan pula dari luar itu bukan apa-apa lagi sekarang.
"kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"
Jungkook menggigit pipi dalamnya, memandang tepat di iris biru Taehyung.
"Apakah jika aku jelaskan, hyung akan percaya?"
Beku. Taehyung membeku hanya dengan pertanyaan sederhana yang keluar dari mulut Jungkook. tidak ada hal yang istimewa dari pernyataan itu, namun itu menjadi tamparan telak baginya.
Taehyung melepaskan cengkeramannya walau tidak melepas tangannya dari bahu Jungkook. Ia mengangkat kepalanya kearah langit musim panas yang cerah. Ia kembali menaruh atensi pada Jungkook setelah diam beberapa saat lamanya.
"Akan kudengarkan"
Jungkook menarik napas pelan.
"YooA Noona hanya temanku. Tidak lebih dan tidak kurang. Ia berbicara sedikit padaku waktu Hyung menjemputku beberapa hari yang lalu"
—saat hyung asik dengan perempuan-perempuan itu.
Jungkook melanjutkannya dalam hati. Bagaimanapun juga ia tidak bisa melupakan sedikitpun hal-hal yang melibatkan Taehyung di dalamnya. Sejujurnya ia tidak ingin mengungkitnya lagi, tapi mau tidak mau ia harus melakukannya. Setidaknya dengan begini Taehyung dan dia bisa berpisah secara baik-baik.
"Aku bercerita padanya dan YooA noona mau mendengarkan. Sampai saat ini hanya ia sendiri yang mau berbagi denganku, dan aku percaya padanya."
Jungkook menyindir Taehyung. Sangat jelas. Namun objek sindiran sepertinya tidak paham maksud itu. iris birunya malah berkilat tanda emosi yang naik kembali.
"Kau mengatakan hubungan kita padanya? Kau sudah berjanji tidak akan mengungkapkan hubungan kita pada siapapun!"
"Kita? Hubungan kita? Memangnya hubungan kita apa?"
Jungkook menepis tangan Taehyung di bahunya. Jika Taehyung berencana beradu panas dengannya, dengan senang hati Jungkook akan meladeninya kali ini. Mengesampingkan tujuan utamanya berbicara baik-baik dengan Taehyung. Tidak ada gunanya lagi jika ia dingin sedangkan Taehyung panas. Ia hanya akan habis luruh. Melawan api dengan api jauh lebih masuk akal.
"Jeon Jungkook kau membuatku marah"
"Lalu apa? Kau akan memukulku lagi? Aku tanya, memangnya hubungan kita apa, Brengsek?!"
Taehyung mengangkat lengan kanannya, menekan leher putih Jungkook hingga pemuda itu kesulitan bernapas. Tenggorokannya ditekan begitu kuat hingga ia kesulitan menggapai oksigen. Jungkook belum melunturkan tatapan menantang walaupun jika dilihat lebih lekat ada begitu banyak rasa sakit dan kecewa menyelubungi iris cokelat gelapnya.
Jungkook meremas ujung kamejanya sebagai pelampiasan. Ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya berada di ujung hidup hanya tinggal beberapa menit lagi ia tidak akan melihat langit biru lagi, hiruk pikuk kota Seoul, tidak juga dengan bajingan di depannya. Karena ia tidak akan berada di dunia ini lagi.
Namun harapan itu pupus seketika saat Taehyung melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba. Jungkook terbatuk keras sembari membungkuk. Wajahnya pucat pasi dengan bekas kemerahan di leher putihnya.
"Wae? Kau—ukh tidak jadi membunuhku? Bukankah perjanjian kita, siapapun yang membeberkan hubungan kita harus mati? Aku ingat semua, Kim Taehyung"
Taehyung tersentak kuat. Ulu hatinya seakan dihantam berkali-kali melihat bagaimana iris gelap Jungkook menatapnya terluka.
Taehyung memukul kuat kaca mobil tepat di samping Jungkook. Jungkook memejamkan matanya kuat. Bohong jika ia tidak takut sekarang. nyalinya seketika menciut. Ia merasa kecil ditatap demikian intens oleh iris es Taehyung.
"Kau ingin aku membunuhmu? Kenapa?"
Jungkook menjilat bibirnya yang terasa kering. Ia mengangkat wajahnya dan bertemu dengan wajah Taehyung yang hanya berjarak sejengkal darinya. Jungkook menenangkan dirinya diam-diam. Menyusun setidaknya satu kalimat saja untuk diberikan dengan lancar tanpa ada kesan gugup disana..
"Karena pada dasarnya aku tidak pernah hidup. Bukankah bagimu aku hanya boneka mati yang bisa dimainkan kapanpun kau mau dan membuangnya ketika kau bosan?"
Taehyung marah. Jungkook bisa melihat kilatan itu di matanya. Tapi kenapa? Kenapa Taehyung harus marah? Semua yang Jungkook katakan benar adanya. Taehyung hanya memperlakukannya sebatas itu. tidak kurang dan tidak akan pernah lebih.
Taehyung terseyum miring. Itu dia. Senyuman yang jujur saja sangat Jungkook inginkan tidak muncul di saat seperti ini. Karena itu tidak pernah berdampak baik bagaimanapun juga.
Jungkook memejamkan matanya kuat saat ujung jemari hangat Taehyung menyusuri kulit wajahnya. Cengkeraman Taehyung mungkin bisa menyadarkannya bahwa ini memang sudah berakhir, namun ia tidak mendapatinya. Taehyung tidak melakukan itu. Secara tak terduga Taehyung malah menariknya ke dalam pelukan hangat. Sangat erat namun entah mengapa rasanya kali ini bukan paksaan.
Kedua lengan Jungkook terkulai lemah di sisi tubuhnya. Tidak punya untuk sekedar membalas singkat pelukan itu. Semuanya terasa begitu membingungkan.
"Jangan.. jangan katakan itu" Taehyung berucap lirih di perpotongan leher Jungkook.
Rasanya geli saat helai kecoklatan Taehyung menggelitik kulit wajahnya saat sang pemilik bergerak sedikit saja. Tapi ini bukan saatnya untuk menghiraukan hal itu. Jungkook berusaha melepas diri namun Taehyung mengikatnya begitu kuat.
"Jangan katakan hal buruk tentangmu, Jungkook"
Jungkook jelas bingung. Ia tidak akan kaget kalau Taehyung punya kepribadian ganda—itu juga kalau memang benar. Namun nyatanya Taehyung itu sangat 'sehat'. Jungkook yakin seratus persen kalau Taehyung tidak sakit dalam artian sebenarnya. Tapi apa ini? Taehyung jelas bukan pujangga yang pandai memutar kata, tapi untuk kali ini Jungkook tidak paham arti kata-kata yang Taehyung keluarkan walau terdengar sangat sederhana.
"Ap—"
"Aku tidak akan mengijinkan jika kau memutuskan untuk berpisah denganku"
Apa sejelas itu? Jungkook bahkan belum mengatakan apa-apa perihal itu. Walau diucap begitu dingin namun Jungkook bisa menyadarkan hal yang berbeda dari penuturan Taehyung kali ini. Hal yang membuat Jungkook ingin mendengar lagi, lagi, dan lagi.
"Aku tidak pernah bermain boneka, Jungkook. Tidak pernah. Terutama denganmu"
—pendusta..
Siapapun pasti setuju mengatakan itu. Kim Taehyung seorang pendusta. Bagaimana bisa ia mengatakan itu semua setelah apa yang ia lakukan selama ini? Dimana Kim Taehyung selama ini? Apa ia ingin menyangkal jika selama ini bukanlah dia? Bodoh.
Jungkook semakin kuat memberontak. Ia mendorong bahu Taehyung walau jemarinya bahkan sudah bergetar hebat. Semakin kuat ia menolak, semakin kuat pula Taehyung menekannya hingga ia kembali merasakan punggungnya bersentuhan dengan badan mobil metalik Taehyung.
Jungkook menyerah. Ia sudah lelah.
"Taehyung-ie... kenapa harus aku? Aku tidak pernah bermain di belakangmu. Aku tidak pernah melakukan omong kosong padamu. Siapa yang mengatakan hal seperti itu hingga kau melakukan ini padaku? Kau tidak pernah benar-benar memahamiku dan apa yang kuinginkan. Kau tidak pernah memberikan waktumu barang sedikit saja untukku. Sebenarnya kita ini apa? Kau menganggapku apa? Mengapa aku hanya merasa aku hanya bermain saja denganmu? Tidakkah kau pernah memikirkan itu?"
Jungkook menunduk di tengah kungkungan lengan kokoh Taehyung. Menolak menunjukkan wajahnya dan takut melihat wajah Taehyung, takut jika ia melakukan itu, ia hanya akan terluka semakin dalam. Ia tidak siap menerima tatapan menghujam dari sepasang manik sedalam laut itu.
Jungkook mengepalkan kedua tangannya, menahan dirinya yang siap hancur kapan saja. Benar, Jeon Jungkook itu manusia. Dia bukan binatang. Dia bukan mainan. Dia punya perasaan dan sebatas mana ia menekan perasaannya. Ini saatnya untuk menyerah. Ia sudah sampai pada batasnya.
"Jungkook, aku tidak pernah melakukan itu"
Tertawa. Jungkook benar-benar tertawa sekarang. Menertawakan dirinya yang begitu menyedihkan. Sejak awal Taehyung memang begitu, yang ia lakukan benar. Jungkook salah. Jungkook hanya sudah terlalu hanyut dalam permainan ini. Jungkook hanyalah pion kecil yang sudah kalah diantara pion-pion lain di dunia seorang Kim Taehyung. Lihat betapa bodohnya Jeon Jungkook selama ini.
"Kau benar— Ahh... kenapa kau harus repot melakukan itu. Aku hanya terlalu berlebihan. Jadi—karena aku sudah lelah terus menerus kalah, bisakah aku memohon padamu untuk menghentikan permainan ini? Kumohon..."
Jungkook tidak menangis adalah sebuah hal yang patut diapresiasi. Mata bulatnya hanya memerah dan terlihat redup saat memohon pada Taehyung.
Taehyung melonggarkan cengkeramannya dan menarik lengan Jungkook. Mendekap begitu erat. Jungkook tidak membalas. Siapa dia yang berani mengangkap tangannya, membalas pelukan hangat yang ia rindukan ini?
"Jangan lanjutkan.. hentikan.."
"Kau jahat. Kau menyakitiku, hyung. Aku ingin membencimu"
Jungkook berucap lirih dibalik bahu Taehyung.
"Aku tidak akan bisa jika kau menjauh. Jeon Jungkook hanya untuk Kim Taehyung"
"Kau tidak memberiku tempat di dekatmu, hyung"
"Aku ti—"
"Kau lebih sering menghabiskan dengan kekasihmu di luar sana. Kau marah saat aku sedikit mengusikmu. Jika orang lain melakukan hal yang sama, kau malah tersenyum begitu manis. Bullshit,Kim"
Yang Jungkook maksud adalah wanita yang di rumah sakit hari itu. Itu masih salah satunya.
"Kau memaksaku melakukan hal yang aku tidak suka. Hal yang kutakuti. Kau tahu itu, tapi kenapa kau tetap menyuruhku melakukannya? Apa kau begitu senang melihatku terluka?"
"Disaat aku mengunjungimu di hari kelulusan itu, kau menghujamku, membunuhku di detik yang sama. Kau marah. Kenapa? Apa salah jika aku ingin memberi kejutan padamu?"
"Kau tidak datang di hari ulang tahunku, kau bahkan tidak tahu mengapa aku menyukai musik dan memutuskan fokus pada bidang itu. Kau tidak tahu. Apakah kau akan mati jika bertanya padaku tentang itu? Apa suaramu terlalu berharga untuk didengar manusia hina sepertiku?"
"Kenapa kau diam saja?"
Taehyung mengambil napas dalam. Suara Jungkook serak. Taehyung berhasil menghancurkan Jungkook—meski bukan itu yang ia inginkan.
"Aku menyukaimu, Jungkook. Sangat menyukaimu. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk mengungkapkan itu. Aku suka kau mendekat jika aku memanggilmu. Aku dekat dengan mereka karena aku ingin melakukannya yang terbaik untukmu. Aku tidak ingin kau repot datang jauh-jauh hanya untuk kelulusanku. Aku tidak tahu kalau itu semua salah. Aku hanya tidak ingin kau lelah Jungkook. Aku sungguh tidak bermaksud."
"Pembohong! Kau jahat Taehyung! Aku benci padamu!"
Tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Taehyung. Tidak Jungkook, tidak juga orang lain. Hanya Taehyung dan Tuhan yang tahu. Dan Jungkook benci itu. Ingin. Ia sangat ingin jika yang dikatakan Taehyung benar adanya, tapi ia juga tidak bisa menampik rasa takut itu.
Taehyung melonggarkan pelukannya. Sebelah tangannya mengusap pipi Jungkook. Jungkook diam. Tidak menolak tidak juga memberi respon yang baik.
Matanya membola saat Taehyung mendaratkan kecupan lembut di pucuk hidungnya. Kaget? Itu sudah pasti.
"Jungkook. Jeon Jungkook. Kau tahu aku melakukan begitu banyak kesalahan, begitu banyak melukaimu. Menurutku ini waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Jungkook, aku mencintaimu. Sangat. Lebih dari apapun. Jika aku memberikan semuanya padamu, apa kau mau tetap tinggal denganku? Jangan pergi. Aku tidak ingin meninggalkan ini semua. Jungkook, aku sangat mencintaimu..."
.
.
.
.
.
FIN
.
.
.
.
Gantung? Iya tahu ini emang gantung. Jangan terror aku. Terror Melanie aja. Ini bukan salahku. Salahin Mel yang buat lagunya juga gantung #eh
Aku Cuma ngikut alur lagunya. Ini songfic yang panjang dan ini... drama banget
Kalau boleh jujur aku juga emang pengen nyelesaian semua fic yang ada as soon as possible. Disaat ide lagi stuck buat fic di my stories —kecualikan untuk CIEL dan The Strongest F— ide buat fic lain nongol dengan ngga tau dirinya #shit
Dan untuk Obsessed, aku udah ngehapus next ficnya cuz im totally changed the plot. Semua yang udah dirancang jauh-jauh hari, aku buang karena itu Cuma bakal buat cerita makin panjang ngga jelas.
Jadi kalau berkenan silahkan tunggu... #ayyeee
