Annyeong haseo ~
IoriNara imnida ^^
Maaf kelamaan update hehe
BTS HyungLine Stan and NamJin, YoonJin, YoonSeok, YoonMin, VKook shipper imnidaaaaaaaaaaa ~
Bangap seumnida ~
.
.
.
.
2012, Seoul
"Vatikan?"
Seokjin menaruh cangkir biru mudanya. Sedang sang lawan bicara melakukan hal yang sebaliknya, mengangkat cangkir dari tatakan kayu, untuk menyesap dua kali cairan hangat bernama coklat panas.
"Setahuku kau tidak memiliki kenalan dekat di sana,"sambung Seokjin.
"Em, ini mengenai pekerjaanku- pekerjaan keluargaku,"Yoongi berkata dengan senyuman canggung. Entah mengapa merasa enggan memandang Seokjin yang duduk di sampingnya, lebih memilih menjatuhkan pandangan pada cangkir di tangannya.
Jemari Seokjin bermain-main pada pegangan cangkir, ia mulai mengerti. Bergumam hm panjang yang tak tahu berarti apa, setelahnya kembali meneguk minuman buatannya sendiri.
Yoongi kembali melakukan hal kebalikan, kali ini ia yang meletakkan cangkir pada tatakan kayu. Lalu ia menenggelamkan punggung pada sandaran sofa, "kurang lebih selama setahun."
Seokjin terduduk tegak, perasaannya mulai berangsur tidak nyaman. Tersisa setengah banyak, tiba-tiba Seokjin kehilangan niat untuk menghabiskan coklat panasnya itu. Mahasiswa tahun pertama bermarga Kim mendesah panjang. Lalu memilih menatap jendela yang menampilkan benda-benda putih melayang dari langit kota.
"Huwaaa! Salju pertama tahun ini!"pekik Seokjin mencoba riang, bergerak dari sofa seputih susu untuk mendekat ke jendela. Beberapa detik tersenyum lebar memanut-manut kristal es yang berjatuhan itu, namun ekspresi Seokjin perlahan menjadi sendu. Ia kemudian menutup mata, mengaitkan sepuluh jemarinya dan mulai membatinkan doa, sama seperti kebanyakan orang yang akan memanjatkan harapan ketika turun salju pertama.
Kumohon jauhkan dia dari segala keburukan. Batin Seokjin meminta, Lindungi Yoongi, Tuhan. Berikan jalan yang terbaik untuknya.
.
WINGS by IoriNara
Cast :
Kim Seokjin as Kim Seokjin (?)
Min Yoongi as Min Yoongi (Hunter)
Kim Namjoon as Mammon / Rapmon (Demon)
Jeon Jungkook as Jeon Jungkook (?)
Kim Taehyung as Kim Taehyung (?)
Park Jimin as Jimin (Devil)
Jung Hoseok as Jhope / Hoseok (Guardian)
Genre :
AU, BoysLove, Supernarutal, Fantasy
Rate :
T to M
Pair :
Not clarify yet. But refer to Namjin, YoonJin, YoonMin and VKook as center.
Happy Reading ^^
Warning! Typo(s)
.
.
Syal rajut berwarna hitam yang melilit leher Yoongi diperbaiki untuk terakhir kalinya. Sepasang tangan itu lalu perlahan turun dan kini ikut memperbaiki coat Yoongi yang berwarna hitam pula.
"Padahal kita baru saja bertemu setelah sekian lama. Ugh, kau mendatangiku ke Seoul hanya untuk sekedar 'say hei' dan 'good bye' heoh."
"Nah, mianne, Jin. Setelah pulang dari Vatikan aku akan sering menginap di tempatmu. Kita bisa menghabiskan waktu bersama."
"Un..."balas Seokjin mengiyakan namun pandangannya teralih kepada salah satu sudut keramaian bandara. Berpaling dari wajah Yoongi, menerawang jauh betapa ia masih tidak rela berpisah setelah tiga tahun tidak berjumpa.
"Aku akan bawakan oleh-oleh yang banyak,"ungkap Yoongi.
"Tidak perlu,"lirih Seokjin, "aku hanya ingin kau pulang dengan selamat,"senyumnya lembut kepada Yoongi, "keluarkan kalungmu."
Yoongi menurut, mengeluarkan untaian rantai bermata salib dari balik tumpukan bajunya. Si pemuda Daegu terdiam begitu Seokjin meraih itu. Semakin termangu karena kini Seokjin menunduk dan tampak berdoa dengan khidmat. Yoongi paham apa maksud Seokjin, lalu ia bersikap tenang dan menatap teduh pada satu-satunya teman masa kecil yang dia punya itu.
"Kalung ini adalah benda suci kan,"ucap Seokjin, masih menempelkan genggaman berisi salib perak pada keningnya.
"Ne,"tutur Yoongi halus.
"Kalung ini yang menyelamatkanmu waktu itu kan."
"Ne."
"Kalung ini akan selalu menjagamu kan."
"Ne."
Barulah Seokjin mengangkat kepalanya. Melepas mata kalung dan ikut tersenyum selembut Yoongi, "kau tahu kan aku hanya ingin mendengar kabar bahwa kau baik-baik saja."
"Ne. Sudah kubilang ini hanya pelatihan."
"Tetap saja, kau pernah cerita kan bahwa terkadang dalam masa uji cobapun, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
"Well, makhluk kegelapan memang sukar untuk dikendalikan, tapi aku yakin Paman Jeon mengirimku ke tempat yang tak perlu lagi dipertanyakan. Kau tidak perlu cemas, semua akan baik-baik saja. Dan aku akan menjadi hunter yang lebih kuat."
"Un... selalu kabari aku ya."
"Em, murid yang sedang mengikuti pelatihan sepertinya tidak akan sempat-"
"Sejak kapan kau menomor duakan aku heoh."
Yoongi terkekeh. Seokjin tidak berubah, dibalik kedewasaan dan sifat lembutnya, terkadang anak tunggal keluarga Kim itu memang sesekali menunjukkan sisi manjanya.
"Well, jika kau inginnya begitu, akan aku usahakan."
"Tentu saja aku ingin! Selama di asrama kau memang begitu kan."
"Haha. Iya, iya. Nah, aku pergi dulu ya."
"Ne. Hati-hati, Yoon."
Sebelum berlalu pergi menyasak travelling bag-nya, Yoongi mendekap tubuh Seokjin cukup erat, "aku akan merindukanmu."
"Nado."
.
"Ckckckckck."
"Apaan,"pemuda pucat yang baru saja masuk ke dalam pesawat dan sedang mencari nomor kursinya itu mendesah malas merespon guardian-nya.
Hoseok menatap Yoongi dengan pandangan mengejek, "'aku akan merindukanmu'"ujarnya mengulang perkataan Yoongi beberapa saat lalu, "seharusnya bilang cinta dong, Tuan."
"Hell."
"Eits, tidak baik mengatakan hal yang berhubungan dengan kegelapan, Tuan."
"Fuck."
.
.
1st Sin : Blood, Sweat and Tears
.
.
Figur yang disemuti aura gelap namun samar, meringis nyeri walaupun luka itu bukanlah luka miliknya. Karena sayatan pada punggung hasil dari sayap yang dipaksa untuk dibuang, adalah sesuatu yang paling menyakitkan bagi penghuni neraka setelah diperdengarkan rapalan mantera suci ataupun bersentuhan dengan benda-benda perak.
"Hamba merasa takjub dengan pengorbanan anda, Sir,"ia mendekat menyampirkan jubah hitam pada atasannya, "hamba akan selalu setia mengikuti jalan anda,"ujarnya kemudian berlutut menunduk hormat.
Tidak seperti yang berkata barusan, wujud ini dikelilingi aura gelap yang begitu pekat, "jika ini berhasil, aku akan memberikanmu jabatan yang layak, Vernon,"ucapnya bangga, menjentikkan jemari lalu menatap datar sayap hitamnya yang mulai dilahap api.
"Mulai sekarang jangan pernah menemuiku lagi jika tidak terdesak,"tambahnya.
"Yes, Sir."
"Ugh, bauku sudah mulai terasa menjijikkan. Human memang makhluk lemah dan tak berdaya,"decaknya tak suka dan menyeringai remeh, "wah, wah. Bagaimana ini, darahku akan berwarna merah. Dan aku juga akan memiliki keringat serta air mata."
"Tubuh human memang tercipta sebagai wadah ruh yang paling rapuh, Sir."
"Benar, benar. Ck, andai aku bisa menjadi hunter. Nah, Vernon."
"Ye, Sir?"
"Sebaiknya pekerjaanku sebagai human apa ya? Dokter? Pengacara?"
"Em..."
"Oh! Atau Idol? Mereka memiliki banyak pemuja kan."
### ###
"Tidak harus dipuja secara langsung, kekuatan Iblis tetap akan menguat ketika para penghuni earthlife semakin melakukan banyak dosa,"pria berperawakan mungil itu memperbaiki letak kacamatanya, "dosa memanglah hal,"sambungnya mulai mengelilingi kelas, memandang bergantian satu persatu muridnya, "yang akan menjerat pelakunya tidak hanya di dunia dan neraka, tapi dosa juga merupakan sumber kekuatan para Iblis-"
"Kesombongan akan menguatkan Lucifer, ketamakan akan menguatkan Mammon-"
Pria mungil mengerut heran karena omongannya tiba-tiba dipotong, oleh salah satu murid yang duduk paling belakang.
-dan bla bla bla,"desah si murid kurang sopan, "Sir, setahuku semua orang di sini sudah lulus dari Baxam (Basic Exam). Kenapa anda membuat kami masih berkutat pada teori dasar."
"Name please,"tegur sang guru dengan tenang namun sarat akan ketegasan.
"Yoongi, Sir. Min Yoongi."
Tepat setelah kata 'Min' terucap dari mulut Yoongi, seisi kelas tampak terkejut kemudian mulai sibuk berkasak kusuk. Bisikan mereka jelas-jelas mengenai seorang Min Yoongi, tapi pemilik nama itu hanya menarik bibir bersikap acuh.
"Ekhm!"
Deheman dari sang guru cukup menghentikan bisingan kelas, meski beberapa orang sepertinya masih ingin tetap bergosip, tapi setidaknya suasana kembali tenang seperti semula. Kacamata ia perbaiki kembali, setelah sempat merasa kaget juga seperti murid-muridnya, pengajar bernama lengkap Yang Yoseob itu tersenyum kepada Yoongi.
"Apa anda tidak tahu yang namanya 'pengenalan' ataupun 'pembuka' ataupun 'pendahuluan' Yoongisshi?"ucap Yoseob mengubah English-nya menjadi bahasa negara asalnya. Ia tahu benar, muridnya yang satu itu berasal dan selama ini tinggal di Korea. Bukan seperti dirinya yang sudah sepuluh tahun menetap di Vatikan.
Langsung saja Yoongi merutuk akan tindakan konyolnya barusan. Lalu memilih diam menggaruk tengkuknya.
Sedang Yoseob tersenyum simpul, "benar kata Junhyung, anda adalah orang yang tak sabaran ya."
"Hha?"
"Nah, semuanya,"perhatian Yoseob kembali lagi ke semua muridnya, kembali menggunakan English-nya, "mungkin ada juga yang berpikiran sama dengan Yoongi. Perlu saya ingatkan, dalam pelatihan ini, di kelas manapun juga, kalian belum melakukan apa-apa pada pertemuan pertama. Praktek baru akan diadakan pada pertemuan berikutnya atau berikutnya lagi. Tergantung siapa pengajarnya tapi yang jelas belum mengarah kepada 'praktek' untuk hari pertama. Mengerti?"
"Yes, Sir."
"Well, sampai di mana tadi,"Yoseob lalu melanjutkan lagi penjelasannya mengenai perihal dosa, tujuh iblis terkuat dan lainnya setelah sempat mengerling untuk Yoongi seraya menggerakkan mulutnya tanpa suara 'temui saya setelah dinner time'.
.
.
"Ck ck ck, anda tahu, Tuan?"Hoseok geleng-geleng kepala memandangi Yoongi yang sedang ogah-ogahan melahap burgernya.
Tak ada niatan menggubris dari yang ditanya, jadi Hoseok melanjutkan, "anda bukanlah tipikal yang ingin terlihat mencolok kan. Kenapa tiba-tiba menyela segala sih, dan selaan anda itu benar-benar terlihat konyol. Ditambah lagi menyebutkan marga anda yang sebenarnya, para guardian bahkan ikut terkejut begitu mendengar nama anda. "
Seperti biasa, kadang Yoongi memang hanya diam membalas omongan Hoseok. Tapi dari bahasa matanya jelas-jelas ia merasa jengkel, sisi cerewet Hoseok termasuk hal yang paling tidak disukainya.
"Dan ada yang tersenyum iba kepada saya, Tuan,"sambung Hoseok, "seolah-olah menjadi guardian-mu adalah hal yang merepotkan."
"Memang benar kan,"gerutu Yoongi, membentuk bola dari bungkusan burgernya dan melempar itu ke tong sampah, "menjadi guardian seorang Min Yoongi adalah hal yang sangat menyusahkan."
"Ani yo! Bukan begitu, Tuan."
"Huh, mengaku saja."
"Percayalah, terlepas dari takdir yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, hamba senang berada di sisi, Tuan."
Tampak raut Yoongi masih terlihat tak senang, ia bergumam datar mempercayai pengakuan Hoseok sekenanya saja. Tapi Hoseok tersenyum lembut dan merangkul bahu Yoongi dengan semangat, "aigooo~ susah sekali untuk jujur heoh!"
"Fuck!"
"Hahaha. O, ya. Yang Yoseob meminta anda untuk menemuinya kan."
"Em,"Yoongi bergerak bangkit dari rerumputan seraya mengusap-usap jins belakangnya, "nah, apa aku akan dicerimahi, Hoseok-a,"desahnya mulai berjalan meninggalkan halaman katedral megah yang telah berumur beberapa abad.
.
.
Begitu Yoongi memasuki ruangan, ia dihadapkan pada tumpukan-tumpukan buku yang menjulang lebih tinggi dari tubuhnya.
"Annyeong Haseo, Sir!"salamnya sedikit berteriak sembari menelusuri jalur yang tercipta dari bangunan buku.
"Oh! Min Yoongi?"
Terdengar balasan entah dari mana, Yoongi belum bisa memastikannya. Karena sungguh, meski sudah melangkah cukup jauh hanya buku yang Yoongi temukan. Suara itu pun terdengar sedikit samar, seolah tenggelam oleh jutaan buku yang memenuhi ruangan.
"Yes, Sir! Ini saya, Min Yoongi!"
"Sebentar- WAAA!"
BRAK
Yoongi kemudian dihadapkan pada beberapa bangunan buku yang roboh secara berantai, membentuk gundukan tinggi yang cukup menenggelamkan pria dewasa, Yoseob contohnya. Terdapat sebuah tangan yang mencuat dari gunungan buku tersebut.
"Em, can you help me... please,"begitu yang dikatakan si pemilik tangan, membuat Yoongi memutar bola mata dan segera menarik tangan itu, memunculkan Yoseob yang tentunya dengan rambut dan pakaian yang sudah berantakan. Serta kacamata yang berusaha dicarinya.
"Nah, Yoongisshi,"Yoseob mencoba merapikan surai gelapnya, setelah Yoongi membantu menemukan kacamatanya, "mohon maaf atas pemberitahuan yang mendadak ini, karena Paman Jeon baru membalas pesanku tadi sore."
"Ne?"
"Kemasi barang-barangmu sekarang, karena mulai malam ini kau tidak lagi tinggal di camp pelatihan."
.
.
Setelah berbicara panjang lebar kepada penanggung jawab camp, dengan Mini Cooper putihnya Yoseob membawa Yoongi ke daerah pinggiran Roma.
Menuju sebuah rumah mungil yang memiliki halaman asri dan terawat baik.
Meski tidak terletak di pusat kota, bangunan bergaya mediterian itu memiliki banyak tetangga di setiap sisi jalan. Pemukiman yang cukup padat namun bernuansa tenang dan sangat nyaman.
Yoseob mendesah panjang sehabis menelpon seseorang sepanjang perjalanan. Mobil sudah terparkir di garase, sembari masuk ke dalam rumah akhirnya Yoseob mulai berbicara pada Yoongi yang sedari tadi diam menunggu penjelasan, "begini, Yoongisshi,"ucapnya penuh penyesalan, "maaf, ya. Paman Jeon baru membalas pesanku tadi sore. Dan seperti yang kau lihat, beliau baru bisa aku telpon tadi."
Mobil dikunci setelah Yoongi keluar dengan travelling bag-nya, kini Yoseob merogoh anak tas mengeluarkan kunci rumah, "astaga, mereka itu... haaah, kau mungkin belum mengenal Junhyung tapi tahu benar kan bagaimana sifat Paman Jeon. Sungguh, mereka berdua benar-benar ayah dan anak. Apa ceroboh, pelupa dan tidak peduli itu turun temurun heoh. Nah-"
Dua daun pintu berbahan kayu ek Yoseob buka lebar-lebar dan tersenyum penuh keramahan seolah Yoongi merupakan tamu kehormatan, "Yoongisshi, aku harap kau akan nyaman di sini. Karena ini akan menjadi tempat tinggalmu enam bulan kedepan."
Tak jauh berbeda dari ruangan milik Yoseob di kapel pribadinya, dua langkah memasuki hunian sederhana itu Yoongi langsung mencium bau buku yang cukup kentara.
Rak buku setinggi pria dewasa ada di mana-mana, namun tak satupun dijadikan sekat antar ruangan. Mereka ditata menempel di beberapa sisi dinding. Membuat dapur, ruang makan dan ruang perapian terkesan lebih lapang.
Yoongi disuguhi teh herbal racikan Yoseob sendiri, mereka menyesap itu di meja makan setelah berbenah sebentar.
"Kau mungkin menangkap pembicaraanku selama di telpon,"Yoseob menyodorkan piring berisi cookies ke hadapan Yoongi.
"Ne,"angguk Yoongi meraih sekeping kue bertabur chococips sebesar telapak tangan itu.
"Paman Jeon salah memberimu ticket pass. Tujuanmu ke Vatikan adalah dibimbing oleh Junhyung, bukan menjalani pelatihan di katedral pusat. Dan seharusnya Junhyung menjemputmu di bandara kemarin. Apa dari Seoul kau mengurus semuanya sendirian?"
"Ne. Aku tak sempat bertemu Paman Jeon. Dia hanya mengirimiku pesan dan paket berisi surat-surat yang aku butuhkan."
"Haaah, maaf ya. Apa kau mengalami kesulitan?"
"Ani yo. Aku sudah biasa melakukan semuanya sendiri. Buktinya hari pertamaku berjalan cukup lancar."
"Nah, apa Paman Jeon tidak pernah menyinggung hal ini sebelumnya, hanya excorsist dan cenayang yang menjalani pelatihan. Hunter bukanlah tipikal yang bisa dididik secara formal, mereka hanya butuh pelatihan oleh keluarga mereka sendiri."
"Eh? Aku belum pernah mendengar itu."
"Kau tahu surat-surat itu merujuk pada Seungchol kan."
"Em, kupikir Paman Jeon sengaja menyembunyikan identitasku."
"Ani yo. Astaga, semoga Tuhan memberikan kemudahan akan sifat cerobohnya. Dia memang salah Yoongisshi."
"Ou.. begitu."
"Ne. Em, apa aku boleh menanyakan perihal kutukan-mu Yoongsshi?"tanya Yoseob hati-hati, karena ia pikir bahasan ini akan membuat Yoongi merasa tidak enak. Namun tidak seperti perkiraannya, Yoongi langsung mengangguk dengan ekspresi santai.
"Bisa kau ceritakan apa kutukan-mu?"
"Well, aku bisa berhubungan dengan guardian-ku. Aku bisa melihatnya, aku bisa berkomunikasi dengannya bahkan kami bisa saling bersentuhan."
"Jinjja yo?"
"Yup."
"Huwaaa."
Tampak mata Yoseob berbinar-binar. Meskipun dia seorang cenayang, guardian bukanlah makhluk yang bisa dilihat. Hanya Tuhan dan makhluk gaib tertentu yang bisa merasakan dan melihat mereka. Tentu perihal kutukan Yoongi ini menggelitik rasa ingin tahunya yang -kekasihnya katakan- kelewat batas.
"Bagaimana rupa mereka? Ani, apa mereka berwujud? Ah! Apa mereka bisa bicara? Atau atau apa mereka-"Yoseob bahkan tak bisa merangkai pertanyaannya dengan baik, terlalu menggebu-gebu hingga semua berdesakan tak menentu. Ia kemudian disela oleh Yoongi yang mendengus lucu, "eh?"herannya merasa Yoongi sedang menertawakannya.
"Ani... Reaksi-mu mengingatkanku pada seseorang, Sir."
"Hm?"
"Well, dia berwujud seperti kita,"jelas Yoongi, "tapi dia memiliki sayap putih dan berpakaian- emmm sedikit banyak seperti stola. Wajahnya jelek- Aw!"
"Anda tidak boleh berbohong, Tuan,"tutur Hoseok sok berwibawa setelah menjitak pucuk kepala Yoongi. Bibir Tuan-nya itu mencebik.
"Iya, iya. Ganteng, tampan. Dia sangaaaat good looking sekali,"lanjut Yoongi sok-sok memuji.
"Ish!"geram Hoseok.
Yoseob hanya tercengang, "huwaaa, apa kalian se-akrab itu Yoongisshi?"
"Hha? Tidak ah."
"Tuan!"
"Siapa yang mau akrab dengan makhluk yang bisanya hanya mengomel seperti nenek-nenek."
"Heol! Kudoakan Kim Seokjin memiliki kekasih selama kau di sini."
"Ya!"
Tepat ketika Yooseob menahan tawa melihat Yoongi yang ia simpulkan sedang cekcok dengan guardian-nya sendiri, terdengar pintu depan terbuka. Sontak saja pandangannya berubah, lalu memburu langkah ke sumber suara.
PLAK
Tamparan kesal Yoseob layangkan pada kepala itu, "YA! UNTUNG SAJA AKU INGAT DENGAN MIN YOONGI! Kalau tidak, dia sudah tersesat sebagai hunter di pelatihan!"
Kekasih Yoseob itu yang semula ingin protes, karena tidak mendapatkan sambutan pulang yang manis seperti biasa kini mengangguk-angguk sambil cengengesan. Ia menangkap kehadiran seorang pemuda di meja makan, lalu mengabaikan Yoseob yang masih mengomel dan beranjak ke sana.
"Min Yoongi kan ya?"
"Ne. Min Yoongi imnida. Em-"
"Junhyung. Jeon Junhyung. Panggil aku 'Hyung' saja."
"Ne, Hyung."
"Berbeda dengan Jungkook dan Seungchol, aku ini hunter lho."
"Oh."
Junhyung menepuk sekali bahu Yoongi sambil tersenyum lebar, "dan kau akan segera tahu, kenapa aku termasuk pemegang kunci holy gate di Vatikan."
Yoongi bukanlah seseorang yang mudah akrab dengan orang lain. Ia adalah tipikal yang memang tidak ingin berteman dan menambah kenalan. Namun entah mengapa, kesan pertama akan sosok di hadapannya ini membuat batinnya merasa bahwa ia akan memiliki seseorang yang bisa dijadikannya panutan sekaligus sahabat yang memberikan rasa nyaman.
"Mohon bantuannya,"bungkuk Yoongi hormat tersenyum senang.
Kontras dengan Hoseok, guardian itu mendesah lesu menangkap gelagat dan raut sesama guardian di hadapannya.
.
.
.
.
2016, Seoul
"Tuan, jaga kecepatan anda!"
"Shup up, Hoseok-a!"
"Jika anda kecelakaan sama saja-"
"Bisa-bisanya kau masih memusingkan itu hha!?"
"Tapi, Tuan-"
"Kau sendiri tahu kan! Firasat burukku selalu benar!"
Hoseok memilih diam. Ia yang terbang berdampingan dengan mobil Yoongi memutuskan untuk tidak membuat Tuan-nya lebih emosi lagi, dan sebenarnya ingin membenarkan bahwa selama ini firasat buruk seorang Min Yoongi memang tidak pernah meleset.
Tapi tentu saja kekhawatirannya masih ada, terakhir kali Yoongi mengebut nyaris mengalami kecelakaan, tapi Yoongi yang ingin secepatnya sampai di apartemen Seokjin sampai-sampai tidak mempedulikan lagi keselamatannya sendiri hanya bisa membuat Hoseok berusaha untuk mengunci mulutnya dan bersikap tenang.
Karena setidaknya bisikan Sang Azrael belum datang kepadanya.
.
.
"Kim Seokjin!"
Panggil Yoongi panik setelah mendobrak pintu.
"Kim Seokjin!"
Teriaknya menyusuri apartemen Seokjin, "KIM- Oh, shit!"
Jantung Yoongi semakin diuji mendapati sosok Seokjin yang tak sadarkan diri di lantai kamar mandi. Ia langsung mengendongnya dan membawanya menuju tempat tidur.
Setelah Yoongi membaringkannya hati-hati, berusaha menenangkan diri dengan cekatan dia memeriksa apakah ada luka pada tubuh Seokjin.
Tak ada luka yang parah. Napas Seokjin pun teratur dan lumrah seperti seseorang yang sedang tertidur lelap. Namun ada satu hal yang membuat Yoongi belum merasa lega.
Jejak samar yang ada di ceruk leher Seokjin.
Yoongi cukup dewasa untuk tahu bahwa itu bukanlah lebam, melainkan sebuah kissmark. Ia langsung menoleh kepada Hoseok, seolah ingin membagi kebingunannya.
.
.
TBC
.
.
Gamsahamnidaaaa yang udah baca sampai sini ^^
And manhi manhi manhi manhi thank you untuk followers and rerviewers ^^
Nah, how?
Em, untuk pertama ini, author's lumayan panjang ya hehe
Jadi, bisa diliat, chapter2 di ff ini brdasarkan track list album wings hehe aku usahain untuk nyocokinnya. Dan itu bisa dijadiin clue lho hoho contohnya, berarti next chapter Begin kan ya, nah berarti itu ttg Kookie atau sudut pandang Kookie atau pokoknya yang berhubungan sama Kookie atau porsi Kookie lebih besar dari tokohnya lainnya. So, bisa dibilang tokoh utamanya memang Yoongi and Seokjin, but tokoh lain ga kalah pentingnya.
Pairing... hmhmhmhm sejauh ini (bah! baru satu chapter kkkkk) emang YoonJin, tapi NamJin, YoonMin dan VKook bakal nyusul dan pairing2 itu sama porsinya di ff ini. Semuanya bakal jadi center, ga cuman satu ya. Dan Hoseok... dia sama aku aja! Kyaaa! Hahaha ntar dibilang kok kenapa Hoseok ga terlibat dalam percintaan fufu ~
Nah, mengenai siapa mereka, kaya hunter, guardian, demon, devil, exorcist dan lainnya, akan dijelaskan melalui cerita, tapi kalo ada yang nanya2 ttg itu dan udah bisa aku jawab, bakal aku tulisin di author's note. Sip?
Em, apa-apa yang ada di ff ini brdasarkan khayalan aku aja, memang trinspirasi dari berbagai sumber, tapi sumber2 itu ga bisa pembaca jadiin panutan untuk ff ini sepenuhnya. Sepenuhnya ya, kalo beberapa sih emang sesuai dgn sumber yang ada, selebihnya aku rombak dan ciptain sendiri hehe
Okay! See you next chapter!
Sekali lagi, manhi manhi manhi manhi manhi thank you very much ^^
BALASAN REVIEW :
Kim Hyomi : Dialognya agak bikin bingung, em, bagian prologue udah aku perbaiki dan ulpoad ulang, dan chapter ini gimana? Apa masih agak membingungkan? Udah aku usahain agar tidak membingungkan. Nah, udah aku lanjuuuutttt XD Gimana? Kalo pairing udah aku jelasin di atas ^^
dewiaisyah : Salam kenal ^^ Hwaiting!
Nam0SuPD : Mommy Jin and Rapmon, hmhmhmhm mereka bakal terjebak dalam hubungan yang cukup rumit hmhmhmhmhm
Kyunie : Ne, gamsahamnida. How?
esazame : Fighting!
shienya : Iyaaaaaa~ Ini dilanjut ~ How?
bunnymonster : Jimin Seme? Well, sorry... aku penganut paham Jin and Jimin ultimate uke hehe MV? Bener bgt! Aku dapet ide gegara liat MV Blood, Sweat and Tears ituuuuuu hehe Fighting!
VhyJisoo : Ne, gamsahamnida ^^
cluekey6800 : Masih ngeraba2, nah, aku bikin prologue memang sekedar pengenalan doang hehe jadi memang masih belum trlalu jelas, dan chapter ini masih belum terlalu jelas juga ya? Well, kisah sebenarnya dimulai dari chapter Begin X) Yoongi and Seokjin itu temen sepermainan, mereka deket bgt, gmn perasaan mereka thdp satu sama lain? Ditunggu yaaaaa fufu ~
Wings : Sebelumnya aku bener2 mau bilang terima kasih karna udah review sepanjang ini, reviewnya juga membangun bgt, aku suka! Gamsahamnida ^^ Pengambaran suasana, karna prologue aku pikir ga papa ga terlalu jelas hehe tapi udah aku perbaiki dan upload ulang. Dan chapter satu ini gimana? Apa masih ga jelas? Pembatas scene, em, aku ngetik pake WordPad, dan aku ini gaptek bgt, belum nemu pembatas scene dan yang aku pake jadinya 'titik-titik', mian, nah, dichapter ini aku pake 'pagar' how? YoonJin? nanti akan diketahui hoho tapi, dichapter satu ini udah mulai keliatan kan ya. Devils, Angel, Guardian, Demons? akan dijelaskan melalui cerita ^^ Em, Jimin devil tapi Namjoon itu Demon, bedanya? Nanti ya, Taetae juga nanti ya hehe Sekali lagi, gamsahamnida ^^
Mr J : Huwaaaaaa! Gamsahamnida ^^ Em, mian, mungkin ga terlalu fast, soalnya ff ini memang belum diketik haha masih coretan inti2nya aja Tapi! Bakal aku usahain! Fighting!
Nnavishiper : N VIXX? Iyaaaaa, bener kok. Emang dia hehe
merryistanti : Gamsahamnida ^^
sugarydelight : YoonJin? Mian ne, aku suka YoonJin soalnya khe khe khe semoga masih bisa menikmati, apalagi awal chapter ini YoonJin banget kan ya fufu~ tapi, mulai besok udah mulai diliatin pair yang lain kok, semoga masih berkenan membacanya ^^
justfangirlbangtan : Udah aku lanjut XD
hanashiro kim : Kyaaaa! Gmsahamnida ^^ Masih dag dig dug ga?
livanna shin : Next ~
AmaliaSalm : Neee. Ini aku lanjutin jadinyuaaaaaa hehe
.
.
IoriNara, 27 Oktober 2016
